"Tunggu dulu. Jangan sampai Opa melihatnya!"

Naruto menganga. "Apaan sih Teme? Sok bikin kaget deh." gerutu Naruto.

Sasuke tak menghiraukannya. Ia pun berdiri dan hendak meninggalkan Naruto sampai tangan kekar Naruto menahannya.

"Tunggu dulu! Kau belum lihat fotonya Hinata!" kata Naruto.

Sasuke menggeram. Ia pun menghempaskan tangan Naruto dengan kasar. "Jangan kekanak-kanakkan baka! Apa pentingnya aku melihat foto Hinata? Hah?" teriak Sasuke tepat di depan wajah Naruto.

Naruto menutup hidungnya. "Teme, ganteng-ganteng kok mulutnya bau." ujar Naruto tanpa rasa bersalah dengan suaranya yang bindeng karena menjepit hidungnya.

Sasuke mendengus. "Aku tak ada waktu main-main, Naruto-Dobe-Baka!" geramnya.

Naruto pun nyengir. "Lihat dulu deh foto Hinata!"

Sasuke mendengus makin keras sampai ia pelototi anak kecil yang tak sengaja lewat di sampingnya yang lalu berlari terbirit-birit ke pelukan ibunya karena tatapan Sasuke. Ehm, dan Sasuke tahu, Naruto tidak mungkin menunjukkan foto Hinata secara cuma-cuma. Ada udang di balik batu.

Naruto yang menahan kencang tangan kanan Sasuke kembali segera mengambil sebuah foto dari dompetnya.

Bingo, Sasuke bisa melihat sebuah foto yang di dalamnya terdapat 2 insan manusia berlainan jenis. Yang laki-laki berambut jabrik, berkulit agak cokelat, dan bermata biru sapphire. Sedangkan yang perempuan berambut indigo, berkulit putih pucat, dan bermata lavender. Hn, pastinya Naruto dan Hinata dan bagusnya mereka sedang berpelukan dengan gaya norak—atau hanya Naruto?.

Hn, pasti Naruto ingin pamer.

"Teme! Lihatlah! Kami mesra semesra Kau dan Itac—"

Sasuke langsung meninggalkan Naruto setelah ia melempar asal foto Naruto dan Hinata tadi. Dan tentu saja Naruto tak mungkin memilih mengejar Sasuke daripada menyelamatkan foto mesranya yang terbawa angin entah kemana.

Dan kini Sasuke tengah berlari menuju kamar rawat Madara. Oke, yang ia tahu pasti dari sifat Opanya adalah egois, suka memaksa, dan akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai. Ini tak boleh dibiarkan. Madara tidak boleh…mengacaukan hidup gadis polos yang tak tahu apa-apa.

Sebentar lagi ia akan sampai di kamar rawat Madara. 'Akan sampai' jika saja ia tak sengaja menabrakkan bahunya dengan bahu seseorang dengan keras sehingga menimbulkan benturan yang sangat menyakitkan. Dan ini, tentu saja menghambat perjalanannya.

"Maaf," kata Sasuke sambil meringis dan memegangi bahunya. Ia melirik orang yang tak sengaja ia tabrak bahunya. Pasti sakit, makanya seorang Uchiha mau minta maaf.

"Aa." Sosok laki-laki berambut cokelat panjang yang bahunya bertabrakkan dengan bahu Sasuke menggumam pelan. Lalu ia menepuk-nepuk bahunya. Wajahnya terlihat sinis, dan…tak asing…

Tunggu! Sasuke! Ingatlah tujuan awalmu!

Sasuke menepuk jidatnya. "Oh, iya! Opa!" dan ia pun meninggalkan laki-laki itu.

.

Apa yang membuat Sasuke merasa tak asing dengan laki-laki itu? Tentu saja,

.

karena matanya.

.

.

.

Young Newly-Married

Disclaimer : kalo punyaku, aku udah kaya dari dulu dong! *digantung Masashi Kishimoto*

Rated : T

Genre : Romance, Family, Drama, terserah readers lah!

Pair : SasuSakuNeji slight other pair.

WARNING : AU, OOC, Gaje, abal, misstypo (maybe), dll.

.

IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ PLEASE

but…

HAPPY READING!


Chapter 3 : I Will Do Everything

Madara sedang tersenyum lemah di hadapan Tsunade. Kini ia berada di ruangan Tsunade. Sebenarnya masalahnya sepele, konsultasi.

"Jadi, apa ada hal lagi yang mau kau sampaikan setelah memanggilku kemari?"

"Hm, sebenarnya tidak ada lagi. Aku sudah memeriksa keadaanmu. Kau baik-baik saja." jawab Tsunade. Ia sedikit menaikkan alis melihat Madara malah menunduk.

Baik-baik saja?

Pastikan sampai kapan Madara akan baik-baik saja. Tentu saja ia takkan baik-baik saja karena mengingkari sumpah. Dengar? S-U-M-P-A-H. Sumpah. Kau berani main-main dengan sumpah?

"Ada apa? Kau merasa sakit?" tanya Tsunade ketika matanya menangkap sosok Madara yang sepertinya sedang tersenyum pasrah.

"Ya…hanya memikirkan tentang 'adik kelas'ku yang ternyata awet muda." jawab Madara asal.

Tsunade mendengus. "Kau menghinaku? Jangan harap aku akan memanggilmu 'senpai' seperti dulu. Jadi, apa kau baik-baik saja?"

Madara tersenyum kecil. "Jadi, apa akhirnya kau dengan Jiraiya si mesum itu?" tanya Madara ketika matanya menangkap sebuah foto yang menggantung di belakang atas Tsunade. Dan itu membuatnya harus mendongak. "sepertinya kalian sudah punya anak, bahkan cucu, eh? Tidak kusangka kalian yang suka bertengkar itu bisa sampai kesini." Madara sedikit mengenang masa lalu. Tentu saja ia menebak kalau Tsunade menikah dengan Jiraiya karena di foto itu, Tsunade berdiri di samping seorang laki-laki bertubuh besar berambut putih jabrik lebat—ditambah tatapan mesum—yang sedang menggendong seorang bayi. Di bawah Tsunade dan Jiraiya yang berdiri, duduklah seorang laki-laki berambut putih bermata hazel dan seorang perempuan berambut merah bermata emerald.

Tsunade mendengus kesal. "Kau tak tahu apa-apa tentang si bodoh mesum itu."

"Jadi, kau memang sudah jadi nenek-nenek 'kan? Masa kau punya anak 3 jika yang digendong Jiraiya itu adalah anakmu?"

"Yang digendong Jiraiya adalah cucuku, bukan anakku. Aku cuma punya 1 anak."

Madara pun meneliti kembali foto keluarga Tsunade. "Yang pasti yang laki-laki. Rambutnya mirip Jiraiya dan matanya mirip kau."

"Ya, kau benar. Dan jangan mengalihkan topik pembicaraan. Aku yakin ada sesuatu yang kau pendam sehingga wajahmu terlihat kusut begitu."

Madara menunduk kembali. Ia menghela nafas berat. Pandangannya menerawang jauh. "Mungkin sebentar lagi kau akan melihat makamku."

"Hah?" Tsunade menaikkan alisnya bingung. Tadi ia periksa Madara, dan keadaannya baik-baik saja. Lalu? "Apa maksudmu?"

Madara tersenyum pasrah lalu ia menatap Tsunade lekat. "Kau pasti bingung karena kau periksa, aku baik-baik saja. Tapi…" Madara menggantung kalimatnya.

"Apa?"

"Kau bukan Kami-sama. Kau tak akan tahu apa penyebab kematianku. Biar kuberitahu. Aku akan mati karena aku tak bisa menepati sumpahku untuk menikahkan Sasuke dengan gadis berambut—"

GRAAAAK

"GRANNY! AKU DATANG!"

-o0o-

Sasuke terus berlari menuju kamar rawat Madara. Ia benar-benar merasakan firasat buruk sampai bulir-bulir keringat menetes di dahinya. "OPA!" teriak Sasuke sambil membuka pintu dengan kasar.

"Apa?"

Sasuke mengerutkan dahi. Kalian tahu siapa yang menjawab 'apa'?. Dia Itachi. Kenapa? Karena di ruangan itu hanya ada Itachi yang sedang membaca majalah sedangkan ranjang Madara kosong. KOSONG. Sasuke pun mendekati Itachi.

Itachi tidak akan salting karena Sasuke menatapnya dengan tatapan kau-akan-mati-di-tanganku. "Apaan sih, Sasu-chan?" tanya Itachi setenang mungkin dengan nada dibuat tersipu malu.

"Dimana ruangan ?" tanya Sasuke to the point sambil melotot ke Itachi. Ia tahu kalau Opanya akan konsultasi ke dokter setelah sadar dan pastinya, Opanya akan keluar ruangan, dan artinya… ADA KEMUNGKINAN MADARA BERTEMU SAKURA! Itulah yang membuat Sasuke harus secepatnya menahan Madara sampai ia pastikan Sakura sudah tak berkeliaran di Rumah Sakit.

Itachi meneguk ludahnya. Menyedihkan. Menggelikan. Kakak takut dengan adiknya? Cih. Yang benar saja. Tapi itu memang benar sih, sedikit. "Di ujung koridor kanan, turun tangga, belok kanan, lurus, lalu di pojok korodor sebelah kirimu."

Sasuke pun langsung meninggalkan ruangan itu dan untuk kesekian kalinya, Itachi mencoba mencari nafasnya yang sempat ia tahan.

'Semoga Opa tidak berkeliaran jauh.' batin Sasuke takut.

Tidak berkeliaran jauh? Ya, Madara memang hanya ke ruangan Tsunade. Tapi masalahnya bukan itu. Madara tak perlu mencari 'orang' yang akan menyelamatkan hidupnya karena 'orang' itu akan datang padanya.

-o0o-

"Eh… aduh, ada orang. Maaf aku tidak sopan berteriak-teriak."

Madara membalikkan badan untuk melihat siapa yang membuka pintu tiba-tiba dan membuat gendang telinganya sedikit bergetar heboh.

"Sakura, Granny sudah bilang 'kan? Ketuk pintu dulu sebelum masuk!"

Madara terdiam memandang Sakura. Dunia seakan berhenti berotasi ketika Madara melihat wajah asing yang memiliki rambut pink. 'Wajah asing' berarti Madara tak melihat sosok yang dipandangnya saat ini ketika Itachi memperkenalkan orang-orang suruhannya tadi pagi. Sudah jelas, Madara yakin Sakura bukanlah orang suruhan Itachi.

Pink.

Pink.

Pink.

Mata Madara tak bisa memandang objek selain Sakura. Matanya terus memandang Sakura sampai Sakura sadar sepertinya ia telah membuat pasien neneknya marah.

"Ng, kalau begitu aku akan kembali setelah—" Sakura yang mulai membalikkan badannya terkejut mendengar suara Madara—sepertinya memanggilnya.

"Tunggu."

Baik Sakura maupun Tsunade mengangkat sebelah alisnya bingung. Bahkan Tsunade sempat berfikir Madara terkena gangguan jiwa karena sifatnya yang bisa mendadak aneh.

Sakura menatap Madara polos. Dan ia menautkan alis melihat Madara berdiri dari duduknya dan berjalan pelan menghampirinya. Entah apa yang membuat Madara menghampiri Sakura, tubuhnya seperti digerakkan.

"Kau cucu Tsunade?"

Sakura terdiam melihat Madara yang kini tepat berada di hadapannya. "Ya…" jawabnya.

Madara membelai rambut Sakura sehingga membuat Sakura dan Tsunade melongo.

'Apa sih maksudnya si kakek sok akrab denganku? Pakai belai-belai segala lagi!' batinnya sebal karena merasa risih. Ia pun hanya tersenyum dipaksakan. "WADAWWW! APA SIH MAKSUD KAKEK?" teriak Sakura ketika tangan Madara yang semula membelai rambutnya malah sekarang menjambaknya.

Tsunade mendelik melihat Madara menjambak rambut Sakura. Ia tutup mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangannya.

Mata Madara mulai mandapatkan kembali kejernihannya. Ia berbinar senang. "Itu bukan wig? Kau bukan suruhan Itachi?"

Sakura menggertakan gigi kesal. Hari ini 2 orang sudah membicarakan rambutnya!. 'Kakek peyot ini bilang aku pakai wig? He?'. Sakura pun dengan sabar tersenyum. "Kek, ini rambutku. Bukan wig. Dan aku tidak tahu apa yang Kakek bicarakan tentang Itachi (Itachi=musang). Aku tahu warna rambutku ini tidak lazim. Tapi Kakek jangan menghinaku karena warna jelek rambutku ini!"

Mata Madara membulat sempurna. Perlahan senyuman terukir di wajahnya yang tua.

Kami-sama, jikalau Engkau membuat Mikoto bangun hari ini juga, aku akan menikahkanSasuke dengan gadis berambut pink saat ia 15 tahun.

Kepingan masa lalu berputar di otak Madara dengan cepat.

Ah, Sasuke, sudahlah. Di dunia ini mana ada gadis yang rambutnya pink. Kau tenang saja.

Dan tanpa Madara sadari, bulir-bulir air suci telah jatuh dari pipinya dan membasahi pipinya yang tak kencang itu. Anak Tsunade yang berambut putih menikah dengan perempuan berambut merah. Jika keduanya menikah dan menghasilkan anak, tidak aneh jika anak mereka berambut pink, bukan?. Matanya berbinar.

Kami-sama takkan membuang nyawa ciptaannya dengan sia-sia. Jika nyawa ciptaannya mati karena sumpah yang tidak mungkin bisa ditepati, bukankah itu berarti sia-sia membuang nyawa ciptaannya? Ya, dan tentu saja. Jika Kami-sama berkehendak, sumpah yang tidak mungkin bisa ditepati, akan menjadi mungkin untuk ditepati.

"Ada apa dengan cucuku?"

"Hei, Tsunade, kau ingat sumpahku yang tadi kuceritakan?" tanya Madara yang membuat Tsunade mengerutkan dahinya bingung. "Intinya, aku tak jadi mati. Aku takkan memesan makam."

"Apa maksud—"

Tiba-tiba Madara memeluk Sakura erat. Ia membiarkan dirinya menangis di bahu Sakura. Ia sampai tak percaya kalau ternyata takdir Kami-sama untuknya seperti ini… "K-kau malaikatku nak… kau penyelamat hidupku…" isak Madara, "mulai besok kau akan jadi menan—"

"OPAAAAAAAAA!"

BRAAAAAKKKKK

Sasuke membuka pintu yang baru terbuka setengah—karena sudah dibuka Sakura tadi—dengan kasar sehingga terbuka selebar-lebarnya. Nafasnya terengah-engah. Tapi itu tak membuatnya lupa tujuan, reflek, matanya langsung manangkap sosok Opanya. Ok, Opanya ada di ruangan itu. Tapi, Opanya sedang memeluk seseorang berambut pink. Dan…

"Uchiha-san?"

"Haruno-san?"

Hening sejenak.

.

.

.

Sasuke manjadi lemas lalu tersenyum aneh.

"Oh, hai Sasuke." sapa Madara.

"TIDAAAAAAAKKKKKK!" Sasuke langsung menerjang Madara dan menarik Sakura terlepas dari pelukan Madara dan segera mendorong Sakura menuju pintu. "Tadi Naruto bilang ingin bertemu denganmu di dekat pancuran singa. Cepat, katanya penting sekali!"

Sakura menatap Sasuke bingung, "Aku…"

"Cepat!"

"I-iya!" Sakura pun langsung menghilang dari hadapan Sasuke.

Sasuke langsung menutup pintu dan menghampiri Madara dengan berapi-api. "OPA JANGAN BERFIKIR UNTUK MENIKAHKAN AKU DENGANNYA!"

Madara mengerutkan dahi. "Apa maksudmu? Tentu saja 'akan', kau ingin Opa mati muda?"

"OPA SUDAH TUA DAN KUMOHON KALI INI SAJA OPA JANGAN EGOIS! JANGAN NIKAHKAN AKU DENGANNYA!"

Madara terdiam. "Kau benci Opa sehingga kau ingin Opa cepat mati?" tanya Madara sedih dibuat-buat. "Lagipula kau tahu ada gadis berambut pink tapi tidak memberitahu Opa. Tadi kau dan Sakura-chan sudah saling mengenal 'kan?" tuntut Madara.

"Opa… Sasuke mohon…"

"Apa masalahmu Sasuke?"

"Apa masalahmu Madara?" tanya Tsunade memotong perkataan Madara. "Apa maksudmu tentang semua yang barusan kau lakukan? Menikah? Siapa yang menikah? Apa hubungannya dengan Sakura?"

Madara membalikkan badannya. Ia sampai lupa dengan keberadaan Tsunade. Lalu ia tersenyum senang. "Oh, soal itu…"

-o0o-

Langit bernuansa biru muda diiringi gumpalan awan putih yang terlihat transparan terlihat menjadi latar bagi burung-burung gereja untuk terbang. Matahari terlihat masih malu dan bersembunyi di balik awan atau terkadang menyembul dan bersinar sebentar. Udara yang sejuk dan hangat. Namun sejuk dan hangatnya udara tidak sama dengan perasaan seorang gadis yang kini mati kutu di dekat pancuran singa yang berada di taman belakang sebuah Rumah Sakit Swasta di Konoha. Sakura terdiam memandangi pancuran singa di depannya. Tidak ada Naruto disana seperti yang dikatakan Sasuke tadi. Ia sendiri baru menyadari sesuatu yang membuatnya berfikir kalau ia bodoh. Dan itu membuat tangan Sakura mengepal sendiri dan ia menggeram kesal. "Sialan… berani-beraninya… baru bertemu sudah berani membohongiku… AYAM SIALANNNN!"

"Ayam siapa?"

Sakura sontak membalikkan tubuhnya mendengar suara baritone itu. Tiba-tiba kekesalan di raut wajahnya menghilang dan digantikan dengan raut wajah gembira.

Di depan Sakura kini berdiri seorang laki-laki berambut cokelat panjang, berkulit putih pucat, dan bermata lavender tajam. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum kecil. Seorang laki-laki yang memakai kaos putih dengan motif 3 garis vertikal berwarna biru di kaos bagian kirinya yang menjulur dari kerah sampai ujung. Ia memakai celana cokelat tua panjang dan sepatu olahraga berwarna putih.

"Neji-kun!" reflek Sakura pun menghambur ke pelukan lelaki di depannya, Hyuuga Neji. "Aku 'kan sudah bilang akan menyusul…"

Neji mengelus rambut Sakura lembut. "Kau lama, bodoh…"

"Ukh…" Sakura menenggelamkan kepalanya di dada Neji sambil menggerutu tidak jelas karena Neji mengatainya 'bodoh'. "Neji-kun yang bodoh. Neji-kun yang bodoh." Setidaknya itulah kalimat yang tertangkap kecil di indera pendengaran Neji.

Neji tersenyum kecil melihat kelakuan Sakura yang kelewat kekanakkan. Ia jadi memikirkan bagaimana masa depannya nanti memiliki istri yang manjanya sama dengan anaknya. Hah, ia jadi geli sendiri memikirkannya. "Kau sudah makan?"

Sakura mendongak dan menatap wajah Neji. "Kau tampan sekali." pujinya tiba-tiba.

Neji mendengus. "Aku tidak tanya 'apakah wajahku tampan' padamu. Kau sudah makan belum?"

Sakura nyengir lebar. "Hehe, belum."

Neji memandangi wajah Sakura yang nyengir. "Berhenti nyengir begitu. Kau membuatku mengingat 'si bodoh jabrik' itu." kata Neji sambil melepas pelukan Sakura dan membalikkan badannya ke belakang. Hm, sebenarnya ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang blushing karena melihat wajah Sakura nyengir tadi.

"Ah…Neji-kun kok gitu sih—" Sakura pun memegang bahu Neji dan ia terlonjak ketika Neji malah mengaduh kesakitan.

"Auwkh!"

Sakura mengerjap. "Hah? Ada apa?" ia pandangi bahu Neji dengan cemas. "Bahumu sakit?"

Neji pun menatap Sakura. "Ah, tadi hanya bertabrakkan dengan—" kata-katanya terputus ketika Sakura sudah menarik tangannya duluan. Ia pun hanya bisa menghela nafas lalu tersenyum kecil. Ia suka saat-saat ketika ia akan dimanja oleh Sakura. Ya, karena Sakura pasti akan membawanya ke suatu tempat untuk mengobatinya jika ia terluka.

Sakura membawanya ke sebuah ruangan khusus di sebelah ruangan Tsunade. Sakura terus menuntun Neji cemas. Kadang Neji agak kesal juga melihat cemasnya Sakura itu terlalu over. Tapi, justru itulah yang membuat Neji bisa melihat sosok Haruno Sakura.

Sesampainya Sakura di sebelah ruangan Tsunade, tiba-tiba ada sebuah niatan di hati Sakura untuk menghajar Uchiha Sasuke yang sudah membohonginya tadi ketika mendengar ada 'sedikit' suara ribut-ribut di ruangan neneknya. Pasti Uchiha ayam itu masih ada di situ. Grrrrrrrrr

"Sakura?" suara Neji pun membuyarkan Sakura yang begitu inginnya menghajar Sasuke yang ia pikir telah mempermainkannya.

"Eh, iya!" Sakura pun membuka pintu untuk Neji. Hm, setidaknya Neji lebih penting dibandingkan mengurusi orang tidak tahu diuntung seperti Sasuke. Sakura menuntun Neji ke sebuah ranjang pasien yang ada di ruangan itu.

Neji mengerutkan dahinya ketika samar-samar telinganya masih mendengar suara ribut-ribut di ruangan sebelah. "Ruangan sebelah bukankah ruangan Tsunade-baasan?"

Sakura yang sedang menaruh tas selempangan abu-abunya di meja pun menoleh ke Neji. "Ya, kau benar. Kau juga mendengarnya—suara ribut-ribut itu?"

"Ya, ribut sekali. Memang ada apa?"

Sakura menghela nafas lalu ia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan di balik tirai hijau. Dan beberapa saat kemudian terdengarlah suara berantakan barang seperti BRAK, TRANG, CRING. "Tadi ada orang-orang aneh di ruangan Granny. Salah satunya adalah seorang yang kukenal sebagai BFF Naruto dan yang satunya—entahlah, Kakek tua kurang waras yang suka memeluk orang tiba-tiba." ujar Sakura.

Neji menekuk bibirnya mendengar nama Naruto terucap dari mulut Sakura. Kebanyakan orang-orang di sekeliling Naruto tidak pernah beres—minus Sakura makanya Neji agak khawatir mengingat adik sepupu yang disayanginya malah menjadi pacar Naruto. Ukh, damn.

"Aku sudah bertemu BFFnya Naruto itu." Tiba-tiba Sakura sudah keluar dari balik tirau hijau. Kini di tangannya terdapat sebuah wadah obat berbentuk tabung ukuran sekitar 3-4 cm. "Awalnya kupikir dia yang wajahnya sangat tampan adalah orang baik. Ternyata dia menyebalkan." gerutu Sakura sambil menghampiri Neji. 'Menyebalkan sekali sudah berani membohongi wanita yang baru dikenalnya.' batin Sakura.

Raut wajah Neji pun berubah menurut dengan perasaannya. Perasaannya ketika mendengar ada laki-laki lain yang dipuji sangat tampan selain dirinya.

Melihat perubahan raut di wajah Neji, Sakura yang sadar terkikik geli. Ia pun duduk di samping Neji yang duduk di sisi ranjang di ruangan itu. "Neji-kun tetap yang paling tampan." cengirnya. Lalu ia memegang bahu kanan Neji yang sakit. "Ano…"

"Ya, aku tahu." Neji pun berdiri dan membuka kaos putih yang dipakainya. Dan tentu saja hal itu membuat Sakura mengerjapkan mata sambil menahan nafsu remajanya yang membara melihat badan Neji yang telanjang terlihat six pack. "Ada apa? Hm?" tanya Neji sambil menyeringai melihat wajah Sakura.

Sakura tersentak dan segera menggeleng cepat. "Ayo duduk!" perintahnya sambil membuka balsem lavender yang diambilnya tadi.

"Sebenarnya cuma nyeri sedikit." kata Neji ketika Sakura mulai mengoleskan balsem ke bahunya pelan-pelan.

Sakura menggeleng. "No! No! Walau nyeri sedikit pasti tetap mengganggu."

Neji terdiam. Ia menghirup nafas pelan dan mulai menikmati sentuhan jari-jari Sakura di bahunya. Aroma lavender ini membuatnya rileks. Dan senyum manis pun tersungging di bibir pucatnya. "Hei, Sakura." panggil Neji sambil mengarahkan badannya untuk berhadapan dengan Sakura.

"Eh? Apa?"

Neji terdiam dan memandang Sakura lekat. Mata lavendernya menelusuri tiap lekuk wajah Sakura. Mulai dari dahi, alis, mata, hidung,…dan berhenti di bibirnya. Neji pun tersenyum lalu memegang pipi Sakura. "Kau manis sekali."

-o0o-

"APA? MENIKAH DENGAN GADIS BERAMBUT PINK? SAKURA?"

"OPAAAA! HENTIKAN! JANGAN BICARA LAGI!"

"SASUKE! DIAMLAH!"

Tsunade terdiam memandangi dua keluarga Uchiha yang sedang bertengkar di depannya. Mereka sedang duduk di sofa yang saling berhadapan yang ada di ruangan Tsunade itu. "Bagaimana mungkin aku menikahkan Sakura? Dia masih anak-anak. Kau bercanda?"

"Kau lihat raut wajaku? Apa aku terlihat sedang bercanda?"

"Opa…"

"Sasuke! Diamlah!"

Sasuke pun mendengus. Madara telah menceritakan semuanya ke Tsunade lengkap dengan izinnya untuk Sasuke melamar Sakura. Dan bodohnya, Sasuke tidak bisa mencegah Madara menutup mulutnya untuk berbicara.

Tsunade menatap Madara lekat. "Kau sudah gila."

"Memang." jawab Sasuke.

"Sasuke!" bentak Madara.

"Iya, iya." Sasuke pun menghempaskan badannya di sandaran sofa. Ia malah jadi memikirkan Sakura. 'Bagaimana nasibnya kubohongi ya?'

"Jadi Tsunade, bagaimana? Kau mengizinkan Sakura untuk—"

"Opa! Sudahlah!" Sasuke yang mendengar Madara mulai membicarakan pernikahan lagi mulai kesal.

"Aku sih, tidak keberatan, tergantung Sakura… karena…"

"Sakura sudah punya pacar." kata Sasuke memotong perkataan Tsunade. "Ia cinta mati dengan pacarnya."

Madara menatap Sasuke bingung. "Opa tidak peduli."

"OPA JANGAN EGOIS!"

"KAU YANG EGOIS! KAU INGIN OPA CEPAT MATI 'KAN?"

"BUKAN BEGITU OPA!"

"SUDAHLAH! OPA AKAN MENYURUH FUGAKU DAN MIKOTO KESINI!"

"OPA! JANGAN!"

Tsunade memijit pelipisnya. Mendadak kepalanya jadi pusing melihat pertengkaran kakek-cucu di depannya. "Hah, mereka pasti bercanda…". Ia geleng-geleng kepala sendiri melihat Sasuke rebutan ponsel dengan Madara.

"Moshi-moshi…"

"OPAAA!" Sasuke mencoba meraih ponsel Madara.

Madara menahan wajah Sasuke. Otomatis Sasuke tak dapat mendekat lebih jauh. "Oh Fugaku, aku punya berita—"

"OPAAA! SAKURA SUDAH PUNYA PACAAAR!" Sasuke tetap gigih ingin merebut ponsel Madara. Ia sampai turun dari sofa dan pindah ke sisi kanan Madara karena ia letakkan ponsel di telinga kanannya. Namun, setua-tuanya Madara, ia masih memiliki otak jenius yang masih berjalan. Madara pun mengganti posisi ponselnya di telinga sebelah kiri. "pokoknya kau dan Mikoto harus datang ke Rumah Sakit."

"Opa…"

Madara menutup sambungan teleponnya. "Apa? Kau mau bilang apa? Kenapa mendadak sifatmu jadi seperti Itachi sih!" (Itachi yang sedang membaca majalah langsung bersin.)

"Kalau begitu silahkan Opa tanya Sakura sendiri! Sakura sudah punya… Hosh…hosh…" kata Sasuke yang kelelahan berdebat dengan Opanya.

"Opa tidak peduli soal pacar atau apalah."

"OPA JANGAN EGOIS KENAPA SIH?" Sasuke pun menarik tangan Madara agar berdiri dari duduknya. Lau ia menarik Madara menuju pintu.

"Hei, kalian mau kemana?" tegur Tsunade melihat dua orang sedarah yang dengan tidak sopannya malah pergi.

"Tsunade. Nanti kau kuhubungi." kata Madara sebelum sosoknya menghilang di balik pintu.

Sasuke menarik Madara ke luar ruangan karena ia merasa tidak enak dengan Tsunade. "Opa…" desah Sasuke.

"Apa?"

"Kita pulang saja ke Kiri." Sasuke pun menarik pergelangan tangan kanan Madara.

"Enak saja." Madara pun menarik tangannya yang ditarik Sasuke.

Sasuke menggertakan giginya. Ia mengutuk nasibnya kenapa bisa punya Opa seperti ini. "Jangan ganggu kehidupan Sakura, Opa. Dia itu sudah punya kekasih sendiri…"

"Tahu apa kau Sasuke? Jangan sok tahu."

Sasuke mendecakkan lidahnya. Mulai dari ia bertemu Sakura tadi ia seperti kehilangan image Uchiha yang susah payah dibangunnya. "Aku tahu—"

"Kau manis sekali."

HAH?

"Apa?" ucap Sasuke dan Madara bersamaan. Mereka saling memandang lalu menggelengkan kepala.

"Hm, memang begitu 'kan?"

Baik Madara maupun Sasuke mengernyit. Mereka sangat kenal dengan suara itu.

Suara Sakura.

Madara memandang Sasuke dan sebaliknya. Sampai Sasuke menunjuk sebuah ruangan di sebelah ruangan Tsunade. Sasuke menatap Madara dengan tatapan sepertinya-asal-suara-tadi-dari-situ. Madara mengangguk dan mengikuti Sasuke mengintip.

Tunggu dulu.

Apa yang sedang dilakukan 'Uchiha' yang memiliki image seabreg itu? Mengintip? OOC sekali. Mereka bisa saja membuang imagenya tanpa sadar ketika mereka memiliki perasaan yang dinamakan 'penasaran'. Dan mereka penasaran dengan pendengaran mereka yang sepertinya mendengar suara orang yang baru saja mereka bicarakan. Sasuke dan Madara mengintip apa yang terjadi di ruangan itu melalui sebuah kaca yang ada di pintu.

Dan mata mereka membulat melihat apa yang terpantul di mata onyx mereka.

Seorang laki-laki berambut cokelat panjang sedang memegang pipi Sakura sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura yang memejamkan matanya. Hidung mereka bersentuhan. Laki-laki itu sedikit memiringkan wajahnya.

Sasuke terus memandang pemandangan di depannya. Ia terlalu kaku untuk pergi dari situ. Batinnya terus berkecamuk. Itukah Hyuuga Neji?

Sementara Madara?

Lihatlah kedua matanya yang membulat sempurna dan tangannya yang meremas baju bagian dada kirinya.

Sasuke baru bisa bergerak ketika ia sadar kalau ada sesuatu yang berat menyentuh kakinya. Madara pingsan di tempat.

"OPAAAA!"

DEG!

Neji menjauhkan wajahnya dari Sakura mendengar pekikan 'Opa'. Sakura pun langsung membuka matanya. Mata emerald Sakura memandang ke pintu. Dan matanya melihat di kaca pintu ada sebuah kepala yang membelakangi pintu lalu dengan helai-helai rambut berwarna biru donker bermodel mencuat ke belakang. Sakura yang sadar siapa itu segera berlari menuju pintu sementara Neji memakai kaosnya kembali.

"K-kau!" pekik Sakura melihat Sasuke sedang panik sambil mengipasi Madara yang pingsan. "Beraninya kau membohongiku! Aku tidak terima!" ia hendak melayangkan pukulan ke Sasuke sebelum tangan Neji menahannya.

"Orang tua itu sedang pingsan?"

-o0o-

Semua gelap. Entahlah sudah berapa lama matanya hanya bisa menangkap warna hitam gulita. Apa lagi ini?

Ah, bukan.

Lihatlah, ada setitik warna merah muda di ujung sana. Raihlah itu. Emerald itu menyerukan sesuatu padamu.

Ah, tidak.

Warna cokelat itu memudarkan semuanya. Warna lavender itu menghancurkan semuanya.

Kau…

.

.

.

"SAKURAAAAAAA!"

"Tidak ada Sakura disini." Kata Fugaku melihat Madara yang baru sadar dari pingsannya langsung menyerukan 'Sakura'.

Madara memandang sekeliling dengan nafas terengah-engah. Sebuah ruangan besar dengan wallpaper bermotif kipas merah-putih berwarna cokelat muda. Sebuah ranjang berada di belakang ruangan dengan sebuah karpet berwarna kuning cerah di bawahnya. Sebuah chandelier menggantung di langit-langit yang memiliki ukiran sulur dan corak khas bangunan Yunani. Meja cokelat panjang mengkilap tertata di sepanjang dinding sebelah kanan. Di atas meja yang dihiasi ukiran-ukiran Jawa itu terdapat puluhan barang antik dan juga foto-foto keluarga. Sementara dinding sebelah kanan adalah pintu kaca yang ditutup korden berwarna cokelat tua menuju balkon. Di bagian depan sendiri adalah sebuah pintu kaca yang menjadi pembatas antara ruangan untuk ranjang tidur dan ruangan untuk sofa. Jadi sesungguhnya kamar Madara terbagi menjadi 2 ruangan.

"Ini pukul berapa?" tanya Madara.

"Ini pukul 00.10 a.m" jawab Fugaku.

Madara pun mengangguk kecil. "Ganti semua warna cokelat yang ada di kamarku dengan warna putih."

Fugaku menaikkan alis. "Kenapa?"

"Turuti saja kemauanku. Kuharap besok semua sudah menjadi putih."

Fugaku pun mengangguk.

Madara menghela nafas berat. Lalu ia menunduk. Tentu saja ia ingat semuanya. Seharusnya ia berada di Rumah Sakit sebelum kesadarannya hilang karena melihat 'sesuatu' yang membuat matanya sakit. Begitu bangun ia sudah ada di kamarnya yang ada di Uchiha Mansion Konoha. "Kau sudah bertemu Sakura?"

"Ya. Tadi dia ikut membantu membawa tubuh Ayah yang pingsan."

"Bagaimana pendapatmu tentang dia?"

"Seorang gadis biasa yang memiliki rambut tidak biasa."

"Kau pasti juga tahu siapa orang yang berada di dekatnya bukan? Lelaki berambut cokelat."

Fugaku terdiam. Ia menghela nafas. Sekarang jawaban yang akan keluar dari mulutnya adalah penentu semuanya. Memberitahu Madara dan Madara akan membuat banyak orang terluka, atau tidak memberitahu Madara dan Madara akan segera mati lalu para petinggi keluarga akan menyalahkannya. Tapi, walau Fugaku menyembunyikannya sekalipun, ujungnya Madara pasti akan mengetahui semuanya. "Ya, putra dari Hyuuga Hizashi. Hyuuga Neji."

Madara menautkan alisnya. Lalu matanya menatap tajam Fugaku. "Hyuuga?"

"Ya."

Madara tersenyum. Kau tahu sifat Madara? Egois, suka memaksa, dan akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai. Dan mungkin ia akan melakukannya, memisahkan Haruno Sakura dengan Hyuuga Neji.

T-B-C


A/N

Konbanwa gozaimasu…

Hoshi Yamashita disini…

*lari sebelum dihajar readers* Maafkan saya jika ceritanya semakin rumit dan tidak jelas. Dan juga minta maaf sebesar-besarnya kepada readers yang request SasuSaku Romance. Kali ini bagiannya Nejisaku walau little! Hehehe, karena memang seperti itulah jalan ceritanya, karena setelah SasuSaku bersatu, romance buat mereka cukup banyak jadi…bikin SakuNeji juga adil 'kan?. Ada yang menganggap kalau Sasuke sangat sial memiliki Opa seperti Madara? Memang seperti itulah image Madara di fic ini. Orang yang egois, suka memaksa, dan akan melakukan apapun agar keinginannya tercapai. Dan chap depan akan berisi tentang perjuangan Madara dan mungkin ada kejutan buat SasuSaku fans! Soal gimana cara Madara bikin Sasuke mau menikahi Sakura dan sebaliknya, mungkin akan ada di chap depan juga! Jadi chap depan mungkin akan jadi chap yang panjang. Dan A/N sendiri buat chap depan bakal dikit, hehe.

Oh iya, jangan tanya kenapa nama marga Sakura dan Tsunade berbeda, Haruno dan Senju. Sakura memiliki masa lalu sendiri untuk itu dan juga bagaimana ia bisa bersama Neji.

By the way *sok Inggris*, saya update kilat 'kan? Hehe, sebenarnya acara OSIS diadakan di bulan Februari, tapi rapatnya di bulan Januari. Dan waktu saya dengar rapatnya diundur, SAYA SENANG SEKALI! Saya bisa cepat-cepat update! Tapi… saya malah harus latihan nari dan itu cukup menyita waktu untuk membuat fic. T.T

Oh iya, khusus buat Hikari Shinju yang review fic saya yang Haru no Hana, saya nangis darah bacanya! T.T, hiksuhiksuhiksu. Tapi bagaimanapun, saya tetap mempercayai apa keyakinan saya. Saya percaya kalau Naruto tidak akan menarik kata-katanya yang akan melindungi Konoha dan menghentikan Sasuke tanpa membunuhnya. Lagian, itu janjinya ma Itachi lo… oh… dan juga, soal Lee… ingat waktu di hutan kematian? Waktu Lee mencar sama kelompoknya, pas di pohon-pohon, Lee bilang, "Daun yang jatuh 20 lembar… Kalau aku bisa menangkap semuanya sebelum sampai ke tanah… Sakura akan menyukaiku! Tapi… kalau ada satu saja yang lolos…! Selamanya akan bertepuk sebelah tangan selain itu,dia akan mengataiku 'alis tebal'." Nah, waktu itu Lee gagal ngambil daun terakhir karena menyelamatkan tupai. Jadi, tahu maksudnya 'kan? Hehe,

Hm, semoga saja chap ini cukup memuaskan, kurang lebihnya saya mohon maaf karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata (?) do'akan saya ya agar bisa mengupdate chap 4 dengan kilat tanpa gangguan apapun. Hehe, *readers : melotot ke author, siapa juga yang mau baca!* T.T

Special thanks to:

Nay Hatake, Maya, w, Hikari Meiko EunJo, Thia2rh, senayuki-chan, Yuuki d'phantom Girl, Namikaze Sakura, Kurosaki Naruto-nichan, ss cholich, So-chand cii Mio imutZ, Deni, StLgirlZ, DEVIL'D, Hikari Shinju, Michi-chan Phantomhive626, rchrt, Fae-chan, Shadow, shiroianakbaik, Mieko luna-chan sasori, Inori chan, 4ntk4-ch4n, CherryBlossom Sasuke, hiru no akuma, Erina Uchiha, Risuki Taka, Putri Luna, Nakamura Kumiko-chan, Matsumoto Rika

Balas review ga login (yang login saya balas lewat PM ya…walau ada yang gak bisa T.T, kok ada yang gak bisa diPM sih?) :

Maya : Makasih banyak. Kamu suka hurt/comfort? XD. Oh iya, maaf kalau chap ni kurang panjang, hehe. RnR lagi ya…

w : Makasih banyak. Ya begitulah nasib Sakura. RnR lagi ya…

Namikaze Sakura : Makasih banyak. Wah, Sakura tergila-gila sama Sasuke? Kalo gitu entar Nejinya gimana?. Oh iya, bolehkah tanya? Dilihat dari namanya…kamu suka NaruSaku ya? Hehe, RnR lagi ya…

ss cholich : Makasih banyak. Wah, ada aja caranya lo… nanti juga tahu, hehe#BUAGH. RnR lagi ya…

Deni : Makasih banyak. Hm, tahu saja pikiran saya. Ini chap cukup panjang ga buat kamu? Hm, RnR lagi ya…

DEVIL'D : Makasih banyak. Wah, kalau rambut kamu pink, entar Sasuke mendua dong, hehe… RnR lagi ya…

Hikari Shinju : Makasih banyak. Neji selingkuh? Boleh juga, tapi kita lihat saja nanti, kekeke *ktawa nista*. Hm, SasuSaku romancenya nanti pasti ada. Hehe, RnR lagi ya…

rchrt : Makasih banyak. Ini sudah update, RnR lagi ya…

Fae-chan : Makasih banyak. Benarkah keren? Terharu saya. Hiksu… Hm, denger cerita kamu, jadi takut bikin fic humor *pundung*. Wah, Sasu dapet 22 nya wis XD. Makasih juga doanya, RnR lagi ya…

Shadow : Makasih banyak. *ancang-ancang* kamu bisa baca pikiran ya? Nah, reaksi Madara lihat Saku ya seperti di atas… eh, yang bikin saya sibuk tuh guru saya lo,hoho, jujur saya ngakak baca review kamu, kalo bisa, beresin guru saya dong, hehe… *dipenggal guru* becanda kok. Makasih juga atas doanya, RnR lagi ya…

Inori chan : Makasih banyak. Ya pokoknya Hinata sakit lah, RnR lagi ya…

Hiru no akuma : Makasih banyak. Yokai, Sakura ketemu Madara, btw, kamu dah jadi hantu ya? Pake menghantui… serem ah, RnR lagi ya…

Matsumoto Rika : Makasih banyak. Saya lanjutkan kok ceritanya…, yokai! Ganbarimasu! Ni dah update, RnR lagi ya…

Akhir kata,

Kritik, saran, pujian *ngarep*, masukan, sepatah dua patah kata penyemangat, atau apa saja yang termasuk kategori REVIEW (terkecuali flame), sangat saya harapkan! ^.^

.

Dan saya perjelas lagi, tidak menerima flame dalam bentuk apapun karena saya yakin para flamer cukup cerdas untuk mengetahui arti kalimat "Don't like? Don't read"

.

Hehe, REVIEWnya please…