Sasuke duduk terdiam di sisi ranjangnya. Entahlah, pandangannya kosong. Sekarang sudah pukul 00.30 a.m tapi sedikit pun ia tak merasakan sebuah rasa kantuk menjalari matanya. Ia pandangi sebuah tas punggung di atas meja belajar kayu. Sebuah tas berwarna hitam yang nantinya akan ia bawa ke sekolah barunya. Sasuke menunduk dan menggigit bibir. Matanya menjadi sayu dan berkaca-kaca. Sesekali ia remas bed cover biru tuanya lalu memukulnya. Karpet berwarna biru tua yang menjadi pijakan kakinya yang tak beralaskan pun menjadi sedikit basah.
TES
.
.
.
Sasuke menangis.
Ia menangis.
Seorang Uchiha seperti dia menangis.
Dan perlahan tangan Sasuke memegang dada kirinya. Sebuah rasa sakit menjalari tubuhnya saat ini. Sejak tadi ia terus mencoba tidak menghiraukan sebuah suara yang berkecamuk di hati dan telinganya. Sebuah suara yang mengingatkannya pada kata-katanya ketika ia masih seorang anak polos yang suka mengimitasikan gaya idolanya. Seorang anak polos yang masih suka bermimpi.
.
"Ibu mau tanya Sasuke. Kalau Sasuke jadi aktor, Sasuke ingin mendapat peran apa?"
"Yang jelas aku tidak mau jadi pemeran antagonis yang suka merebut semuanya dari pemeran protagonis. Aku tidak mau jadi orang jahat. Aku akan jadi pemeran protagonisnya!"
.
Sasuke tersenyum lemah lalu ia menatap sebuah foto berbingkai perak yang ada di dinding di hadapannya. Tepatnya ia memandang seseorang bernama Uchiha Madara. Butiran air mata yang turun membasahi pipinya pun menjadi semakin deras.
"Sekarang mungkin aku akan jadi pemeran antagonisnya."
.
.
.
Young Newly-Married
Disclaimer : kalo punyaku, aku udah kaya dari dulu dong! *digantung Masashi Kishimoto*
Rated : T
Genre : Romance, Family, Drama, terserah readers lah!
Pair : SasuSakuNeji slight other pair.
WARNING : AU, OOC, Gaje, abal, misstypo (maybe), dll.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ PLEASE
but…
HAPPY READING!
Chapter 4 : Girlfriend Complex
Sakura tidak bisa tidur malam ini. Setiap kali ia ingin memejamkan mata pasti ia merasa posisi tidurnya salah dan itu membuatnya jadi gerah sendiri. Akhirnya Sakura pun memilih duduk dan berfikir lagi tentang kejadian dimana kakek-kakek yang sudah ia kenali ternyata bernama Uchiha Madara pingsan. Sejak itu Grannynya—Tsunade tidak berbicara banyak padanya. Dan tentu saja itu membuatnya sedikit merasa aneh karena biasanya Grannynya akan cerewet jika ia ajak bicara.
Sakura pun melirik jam weker yang berdiri tegak di atas meja di samping ranjangnya. Sudah pukul 00.30 a.m lalu Sakura menyalakan lampu kamarnya dan kembali merenung.
Drrt…drrt…
Sakura berjengit melihat ponsel yang ia letakkan di samping jam weker bergetar. Siapa juga yang menghubunginya malam-malam begini? Dan itu tidak penting, yang penting adalah ia harus segera meraih ponselnya, barangkali penting.
Neji-koi is calling
Tanpa basa-basi pun Sakura segera membuka flap ponselnya. "Moshi-moshi?"
"Jadi kau memang belum tidur." kata Neji di seberang sana. "Ada apa?"
Sakura tersenyum lalu memilin rambutnya. "Hm, kau tahu juga. Kita seperti punya hubungan telepati. Entahlah, aku hanya tidak bisa tidur."
"Kalau begitu tidurlah."
"Hah? Kau menyuruhku tidur? Lalu untuk apa kau meneleponku?
"Untuk memastikan kalau kau sudah tidur."
Sakura mengerutkan dahi lalu ia mematikan lampu kamarnya kembali. "Bagaimana kalau aku sudah tidur dan suara dering ponselku membuatku bangun karena kau menelepon?"
Tidak ada balasan dari Neji. "Setidaknya aku menelepon ketika kau dalam keadaan sadar."
Sakura terdiam. "Neji-kun,"
"Hm, ayo cepat tidur."
"Aku mencintaimu."
Neji tak menjawab lagi. Lalu terdengar desahan nafas di seberang sana. "Aku sangat mencintaimu."
Dan tubuh Sakura pun langsung terhempas di kasurnya. Ia menarik selimutnya yang berwarna merah mawar sampai bahunya.
"Sakura…"
"Ya?"
"Jangan pernah tinggalkan aku."
Sakura memejamkan mata. Mendengarkan suara Neji membuatnya damai. Senyuman kecil pun tersungging di bibir pucatnya. "Tidak akan."
-o0o-
TOK TOK TOK
Sasuke mendelik mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Ia pun segera menghapus air mata yang tersisa di sudut mata dan pipinya. Lalu segera saja Sasuke menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan asal.
"Apa sih? Pura-pura tidur! Buka pintunya baka!"
Sasuke memejamkan mata. Itu suara Itachi. Tapi tenang sajalah. Ia sudah mengunci pintunya. Rasakan. Dan suara Itachi pun tak terdengar lagi.
CEKREK
Sasuke mendelik. Suara apa itu? Tentu saja saking kagetnya ia segera bangun dan memandang ke arah pintu kamar. Ok, pintu kamar terbuka dan berdirilah Itachi di ambangnya sambil nyengir menunjukkan sebuah jepit rambut di tangan kanannya. Huh, pasti orang sejenius Itachi bisa membuka pintu hanya dengan menggunakan jepit rambut. Kenapa Itachi membawa jepit rambut? Tentu saja untuk menjepit rambut emonya karena ia sedang memakai masker kecantikan.
Sasuke melirik Itachi sedikit lalu mengarahkan pandangannya ke arah lain. "Mau apa?"
"Aku sudah lihat Sakura-chan. Dia manis sekali. Kau tak tertarik?"
Sasuke terdiam dan ia bisa merasakan lantai kayu kamarnya mengeluarkan bunyi teratur pijakan kaki. Itachi menghampirinya. "Bukan masalah tertarik atau tidak. Sakura sudah punya kehidupan sendiri."
"Ya, kau benar. lalu kenapa kau tidak mencoba memasukinya, eh?"
Sasuke menatap Itachi tajam. "Bagaimana jika kau ada di posisiku? Apa yang akan kau lakukan? Menikah tanpa cinta di usia dini lalu pasanganmu akan membencimu karena memisahkannya dengan pacarnya? Begitu? Jangan membual."
Itachi terdiam. Lalu ia tertawa kecil. "Kedengarannya seperti orang jahat."
Dua bersaudara itu terdiam dan menciptakan keheningan. Mereka sama sekali tak ada yang berniat menggetarkan pita suara sekarang. Paling tidak sampai sebuah suara yang feminim memecahkan keheningan disana.
"Kalian belum tidur? Itachi, kembali ke kamarmu. Ibu ingin bicara dengan Sasuke."
Itachi menolehkan wajahnya ke arah pintu. Terlihat Mikoto sedang bersandar di daun pintu sambil menekuk lutut kaki kanannya. "Yaa," lalu Itachi melirik Sasuke. "lakukan apa yang menurutmu benar, Baka-Otouto." Lalu ia berjalan menuju pintu.
Mikoto menaikkan alis saat ia dan Itachi berpapasan. "Itachi, apa yang kau lakukan dengan wajahmu? Copot itu!"
Itachi pun ngacir. "Biar kulitku kencang, Bu!"
Mikoto menghela nafas melihat kelakuan anak sulungnya. Hm, bisa dibilang wajah Fugaku diwariskan ke Itachi dan wajahnya diwariskan ke Sasuke sedangkan sifat Fugaku diwariskan ke Sasuke dan sifatnya diwariskan ke Itachi. Mikoto pun segera menutup pintu dan menghampiri Sasuke.
"Mau bicara apa?"
Mikoto tersenyum kecil. Sifat Sasuke benar-benar mirip Fugaku. "Yah… kau pasti sudah tahu tentang apa." Mikoto mendudukkan dirinya di sisi ranjang Sasuke.
Sasuke menunduk. "Bu, aku tidak mau menikah. Sakura sudah punya kehidupannya. Teman, sekolah, dan…pacar…"
"Hm, Ibu tahu. Tapi, biar Ibu beritahu sesuatu yang bagus."
Sasuke pun menolehkan wajah tampannya ke Mikoto. Ia sedikit tertarik dengan kata-kata Mikoto tadi.
"Opa sangat menyayangimu. Ia selalu berkorban untukmu."
"Oh ya? Berkorban untukku atau mengorbankanku?"
Mikoto mengelus rambut Sasuke yang cepat sekali naik darah. "Opa selalu menjagamu, saat Ayah sibuk bekerja dan Ibu sedang mengantar Itachi mendaftar playgroup, waktu itu kau masih bayi… Opa pernah kecelakaan."
Sasuke menaikkan alis. Ia tak pernah dengar cerita begituan. Opanya kecelakaan lalu apa hubungannya dengannya?
"Ia kecelakaan karena menyelamatkan kereta dorong berisi dirimu yang tergelincir ke jalan raya."
Sasuke membulatkan matanya kaget. Opanya…
"Ia sangat menyayangimu…" Mikoto mulai berkaca-kaca. "Ia sampai memecat langsung 23 orang yang ia tugaskan menjaga dirimu waktu itu saat Opa siuman dari kecelakaan." Mikoto pun tersenyum tulus. "Opa sayang padamu walaupun pada awalnya ia sayang karena mengira kau perempuan karena wajahmu cantik dan mirip Ibu." Mikoto terkikik kecil.
Sasuke sweatdrop. Sialan…
"Tapi intinya, Opamu tak pernah segan-segan mempertaruhkan nyawanya demi kamu. Dan sekarang pun… ia melakukan ini—pernikahanmu karena ingin melihatmu bahagia."
"Lalu Ibu ingin aku bagaimana? Mendatangi rumah Sakura dan tiba-tiba berteriak 'Sakura! Menikahlah denganku dan tinggalkan pacarmu!' begitu?"
Mikoto tersenyum dan menepuk bahu Sasuke. "Ibu hanya ingin kau tidak membantah dan menuruti apa yang akan Opamu lakukan. Jangan mencoba menggagalkan usaha Opamu yang hanya ingin tetap hidup demi melihat cucunya bahagia. Opamu… hanya ingin hidup… untuk melihat kita bahagia…" Mikoto pun meneteskan air mata yang sedari ditahannya. "Dia… hanya orang tua yang masih ingin hidup lebih lama demi melihat cucunya bahagia... jangan bunuh dia… karena keegoisanmu…"
Sasuke menunduk dan tak berkata apa-apa lagi. Ia menggigit bibir. Ia berusaha untuk tidak tumbang mendengar penuturan ibunya. Ia terus menggigit bibir sampai ia merasakan tangan halus merengkuhnya ke dalam pelukan hangat.
"Jangan menyesal jika Opamu telah tiada…"
Sasuke melingkarkan tangannya di punggung ibunya. "Ya…" dan ia pun menjatuhkan segala perasaanya yang sedari ia tahan dalam bentuk air mata.
-o0o-
Sebuah limousine hitam dengan gaya abad pertengahan berhenti tepat di depan gerbang sebuah sekolah swasta,
Shippu Konohagakuen Den.
Beberapa orang yang melewati gerbang pun mendecakkan lidah mereka kagum akan mobil yang terlihat sangat-sangat langka itu. Ini masih pagi, pukul 07.00 a.m. Setidaknya harus menunggu 1 jam lagi agar siswa-siswa disini dapat berinteraksi dengan guru mata pelajaran di kelas mereka.
Hn, dari mobil yang pintu belakangnya telah dibuka oleh seseorang berjas hitam, pertama-tama muncullah sebuah sepatu sport biru donker. Lalu sepatu itu mengawali membawa tubuh seseorang untuk keluar dari mobil. Seorang laki-laki yang memakai celana kotak-kotak cokelat muda dengan blazer berwarna cokelat yang serupa menutupi kemeja putih yang dikenakannya. Sebuah dasi kotak-kotak berwarna cokelat yang agak tua bertengger manis dan melingkari kerah kemeja. Logo sekolah terpasang di blazer bagian dada sebelah kiri sedangkan bed nama terletak di sebelah kanan. Kita lihat namanya,
Uchiha Sasuke.
Yap, laki-laki berambut unik itu memakai kaca mata hitam yang semakin menghiasi wajah putihnya yang tampan. Ia yang keluar dari mobil dengan gaya bak seorang model pun segera menarik perhatian para kaum hawa yang tak sengaja melintas di tempat itu. Begitu pula dengan seorang murid perempuan yang sedang menyandarkan tubuhnya di gerbang—terlihat menunggu sesuatu—yang langsung memasang matanya baik-baik melihat Sasuke. Seorang gadis ponytail berambut blonde yang dikuncir kuda dan bermata aquamarine langsung mengerjapkan mata tak percaya.
"Oh, God… mimpi apa aku semalam…" ia pun beranjak dari tempatnya. "Ada yang tampannya seperti Sai-kun…" dan perempuan bernama Yamanaka Ino itu pun segera mengambil ancang-ancang untuk berlari. "SAKURAAAAAAAAAA!"
DEG
Sasuke diam di tempat. Hn, sepertinya nama 'Sakura' berdengung di telinganya. Sial, ia tak bisa melupakan gadis pink itu sedetik pun. Gadis itu bisa menghantui pikirannya dimana-mana. Damn.
"Sasuke? Ayo cepat." suara berat Madara membangunkan Sasuke dari lamunannya. Madara yang memakai tuxedo hitam dengan dasi abu-abu itu akan menemaninya ke ruang kepala sekolah.
-o0o-
"Jadi…kau sudah mengerti?" tanya seorang laki-laki berambut kuning jabrik bermata biru sapphire dan sangat tampan kepada seorang laki-laki berambut keperakkan yang bentuknya melawan gravitasi bumi, memakai masker hitam dan bermata onyx yang terlihat acuh tak acuh. Namikaze Minato berbicara dengan Hatake Kakashi. Dan sesekali Minato mengerlingkan matanya ke Madara yang sedari tadi duduk di sofa sambil tersenyum.
"Ya, aku mengerti." jawab Kakashi. Ia pun melirik Sasuke yang sedang duduk di sebelah Madara. "Tapi…soal memakai kaca mata hitam itu…bukankah murid dilarang?"
Minato menghela nafas. "Biarkan saja. Kau juga memakai masker, bukan? Lagipula jangan sampai kau berurusan dengan Uchiha Madara."
Kakashi mengangguk. Lalu ia menyuruh Sasuke keluar. Begitu sampai di depan ruangan…
"BAKA-BAKA-BAKA!"
"SIALAN! KEMBALIKAN MAKANAN AKAMARU!"
"GUK GUK"
"TIDAK BISAAAA!"
Sasuke berjengit. Dua murid laki-laki yang berambut jabrik yang satu pirang dan yang satunya cokelat sedang kejar-kejaran. Dan saat mereka melewati Kakashi, tentu saja Kakashi langsung menjewer telinga mereka.
"Sedang apa kalian? Naruto? Kiba? Cepat masuk kelas! Kalian tidak mendengar suara bel?"
Naruto meringis kemudian shappirenya melihat sosok Sasuke. "Lo? Teme? Kau sekolah disini? Pelit sekali tidak cerita-cerita! Oh iya, soal kemarin—"
"Hn."
"Sudah sana!" Kakashi pun menendang bokong Naruto dan Kiba. Lalu ia melirik Sasuke malas. "Ayo."
.
.
"Ingat, Uchiha Sasuke akan menjadi murid bimbinganmu. Dan jangan lupa, nanti tempat duduknya di sebelah Haruno Sakura. Jadi…kau sudah mengerti?"
.
.
Kakashi pun memikirkan perkataan Minato tadi. 'Kenapa harus di sebelah Sakura?'
-o0o-
"Gila! Gila! Aku lihat laki-laki yang kayak Dewa!" Ino berteriak ke seisi kelas. Sudah lebih dari 1 jam ia berbicara itu terus.
Sakura mendengus. "Playgirl macam apa dia? Kasihan sekali si Sai punya pacar kayak dia." Emeraldnya meratapi Ino yang gembar-gembor tidak jelas.
"Ino-chan sangat bersemangat…" ujar Hinata. Ia duduk di sebelah Sakura sekarang, sebenarnya bangkunya ada di depan Sakura. Lalu mata lavendernya melirik Sakura. "Ng, Sakura-chan…"
"Ya?"
"Ano…terima kasih sudah menjenguk…" Hinata menunduk malu-malu. "Aku sangat senang…"
Sakura pun tersenyum. Kapan ya saat-saat dimana ia akan menjadi kakak ipar Hinata? "Hm, sama-sama. Suatu saat aku pasti akan bertemu denganmu setiap hari jika Si Bodoh Naruto tidak membawamu pergi."
Hinata tersenyum kecil. "Kita masih SMA Sakura-chan…" Tiba-tiba Hinata berjengit. "Oh, iya. Tadi pagi Neji-nii berpesan..." Hinata pun menggerogoh saku blazernya. "Ini…" dan ia menyerahkan sepucuk surat pada Sakura.
"Ah, terima kas—"
"WOI! KAKASHI-SENSEI DATENG WOI!" Suara toa Naruto yang baru masuk kelas membuat seisi kelas heboh. Ada yang mondar-mandir tidak jelas. Ada yang bangun dari tidurnya. Ada juga yang yang buru-buru kembali ke tempat duduknya seperti yang dilakukan Ino. Ia segera menarik tangan Hinata dan duduk di bangku sebelah Sakura. Yap, bangku Sakura dan Ino bersebelahan. Sementara Hinata kembali ke tempatnya. Hinata duduk di dekat Naruto. Saat Naruto kembali ke tempatnya, ia nyengir ke Hinata sambil mengedipkan mata dan berkata 'muach…muach…'. Hinata menunduk blushing sedangkan Sakura dan Ino yang ada di belakang mereka bergumam 'norak'.
GRAAK. Pintu terbuka dan menampilkan sosok seorang guru dengan mata malas-malasannya. "Jangan bertanya dalam hati kalian kenapa aku terlambat 'hanya' 10 menit karena kita kedatangan murid baru dan kau murid baru silahkan masuk." ucap Kakashi tanpa titik dan koma.
Semua mata di kelas itu melirik murid baru yang masuk ke kelas mereka.
Kakashi menutup telinganya.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA."
"ITU LAKI-LAKI YANG KUBICARAKAN TADI!"
"TADI AKU LIHAT DIA DI GERBANG!"
"DIA 'KAN YANG PAKAI LIMOUSINE! KAWAIIIIIIII"
Kakashi menghela nafas. "Harap tenang karena murid barunya akan memperkenalkan diri."
Dan kelas itu kembali tenang. Hampir semua murid perempuan memasang mata dan telinga mereka baik-baik. Terkecuali beberapa yang sudah setia sekali dengan pacar mereka seperti Hinata dan juga… seorang lagi yang memiliki rambut pink.
Sakura melotot melihat seorang Sasuke ada di kelasnya. Entah kenapa firasatnya buruk. "Kenapa orang itu muncul lagi sih?"
"Uchiha Sasuke. Salam kenal."
"KYAAAAAAAAAAAA."
Sasuke terdiam dan tak menutup telinganya. Hn, yang seperti ini sih sudah biasa. Dan dari balik kaca mata hitamnya, Sasuke bisa melihat seorang gadis berambut pink duduk di bangku baris ketiga di dekat jendela. Matanya membulat sempurna, namun tak ada yang tahu karena matanya tertutup kaca mata. Badannya gemetaran melihat Sakura yang sedang tersenyum—atau menyeringai sambil bertopang dagu di meja. 'Ini gila. Dia bersekolah disini. Opa sengaja!'
"Nah, Yamanaka Ino." kata Kakashi.
Ino terlihat antusias lalu melirik Sakura dan menatapnya dengan tatapan Sakura-jidat-aku-berhasil. "Ya, sensei."
"Kau pindah dari tempatmu." kata Kakashi enteng.
Ino terlonjak. "HAH? Kenapa sensei? Aku mau berdekatan dengan Sakura dan Hinata! Lagian aku harus duduk dimana?" protesnya.
"Ya pokoknya cari tempat lain selain disitu. Sudahlah."
Ino menaikkan alisnya bingung dan matanya menangkap sebuah bangku kosong yang letaknya agak jauh dari Sakura dan Hinata dan bangku kosong di sebelah Kiba. Hn, bangku untuk tidur Akamaru. Dan Kiba menatapnya memelas. Ino seperti tahu kalau Kiba ingin bilang, 'Jangan usir Akamaru dari tempatnya.'. Ino pun mendengus. Ya, Kiba membawa anjing ke sekolah, dan bangku kosong itu jadi bangku Akamaru sehari-hari. Jika ada guru berkeliling, Akamaru akan bersembunyi di laci meja—Akamaru waktu ukuran kecil. Ino segera menghampiri Naruto dan menarik Naruto dengan kasar sehingga Naruto jatuh terjengkang.
"H-hei! Apa-apaan kau?" protes Naruto sambil mengelus punggungnya.
"Kau minggirlah. Aku mau duduk di sebelah Hinata."
"H-heiiii!" belum sempat Naruto memberontak, suara Kakashi memotongnya.
"Naruto, kau pindah di sebelah Kiba. Jangan membangkang atau kau akan kuhukum lari lapangan 100 kali seperti seminggu yang lalu."
Naruto mendelik dan bergidik ngeri lalu mengambil tasnya dan mendeathglare Ino. Tak lupa ia memberikan tatapan sedih pada Hinata. "Bye Hinata, I love You…" lirihnya.
Ino mendengus lalu menatap Hinata. "Boleh, ya Hinata…aku duduk disini…aku ingin di dekatmu…" kata Ino dengan puppy eyesnya.
"I-iya…" Hinata menunduk. Sebenarnya ia senang juga sedih. Senang karena jujur saja Naruto yang sangat mengganggu konsentrasi belajarnya pindah tempat dan sedih karena tentu saja! Naruto itu pacarnya!
Naruto pun segera menyingkirkan Akamaru dan duduk di sebelah bangku Kiba. Tepat di belakang bangku yang nantinya akan diduduki Sasuke.
"Uchiha Sasuke, silahkan duduk di tempatmu yang berada di sebelah Haruno Sakura."
Sakura yang masih bingung dengan perubahan mendadak ini pun segera mengangkat tangannya setelah mendengar namanya dipanggil.
Dan Sasuke pun berjalan menuju bangkunya. Dalam hati ia mengumpat, 'Sialan, Opa sudah merencanakan semua ini!'
-o0o-
Kakashi sudah memberikan puluhan soal matematika logaritma di papan tulis dan guru tidak teladan itu malah meninggalkan ruangan. Ckck, tapi hal itu adalah kesempatan bagi sebagian murid.
Sakura melirik Sasuke di sebelahnya yang sedang sibuk menyalin soal dari papan tulis. "Hei, kenapa aku bertemu denganmu lagi sih?"
Merasa ada yang mengajaknya bicara, Sasuke pun angkat suara. "Siapa yang mau bertemu denganmu?"
Sakura mendengus melihat Sasuke yang kembali menulis. Ia pun memperhatikan kaca mata Sasuke. "Aku belum bisa memaafkanmu soal yang kemarin."
"Hn."
Urat-urat kemarahan pun muncul di dahi Sakura. "Kau menyebalkan sekali sih! Lalu apa-apaan gayamu itu? Kenapa sensei tidak menghukummu karena pakai kaca mata hitam di kelas sih!" teriak Sakura yang membuat seisi kelas mendeathglarenya. Yap, kelas unggulan seperti ini pasti selalu mengerjakan tugas yang diberikan sampai selesai, tapi suara berisik Sakura mengganggu mereka. "Hehe, maaf, silahkan dilanjutkan." Semua mendengus lalu kembali berkutat dengan buku mereka. Sakura melirik Sasuke. "Menyebalkan."
"Hn."
Mendengar jawaban Sasuke yang hanya 'hn-hn' membuat Sakura naik darah. "Kau sok sekali sih!" gerutunya dengan suara dibuat pelan. Sakura pun menarik kaca mata hitam Sasuke dengan paksa.
Sasuke yang terkejut buru-buru merebut kaca matanya dan memakainya kembali. Lalu wajahnya ia tolehkan ke Sakura. "Kau bodoh atau apa?" desisnya.
Sakura mengerjapkan matanya tak percaya. "K-kau memakai kaca mata karena matamu sembab ya? Kau habis menangis?"
Sasuke mendengus lalu kembali menulis. "Terserah." Ya, Sasuke bukannya ingin eksis memakai kaca mata hitam. Ia memakainya untuk menutupi matanya yang sembab karena habis menangis semalaman bersama Ibunya. Dan sebenarnya ia sangat malu dipergoki Sakura ketahuan habis menangis. Tapi apa boleh buat. Satu kata. Sial.
Sakura terdiam dan menatap bukunya kosong. Baru pertama kali ia memergoki laki-laki habis menangis. Bahkan ia tak pernah melihat Neji menangis. Ia pun memalingkan wajah ke luar jendela. 'Mungkin Sasuke sedang sedih karena kakeknya sedang sekarat.' batinnya.
-o0o-
Dengan berbekal sepucuk surat, Sakura berlari dengan riang menuju pintu kelas saat bel istirahat dibunyikan. Dan itu mengundang hasrat Ino untuk bertanya, "Hoi Sakura! Mau kemana? Kau tak makan siang bersama kami?"
Sakura nyengir. "Besok saja ya…" lalu sosoknya menghilang dari balik pintu.
Ino menghela nafas dan melirik Hinata yang sudah membuka bekal makan siangnya. "Sudah 3 kali Sakura tidak makan siang bersama kita. Pokoknya besok tidak ada alasan lagi!"
Hinata tersenyum melihat kelakuan sahabatnya yang satu ini. "Iya…"
"Padahal Hinata sendiri juga dibela-belain nggak makan sama Naruto ya?" ia pun menatap Hinata memelas.
Hinata mengangguk lalu tersenyum. "Ya…"
"Awas saja kalau Sai-kun sudah kembali dari luar negeri! Huh!"
Sementara itu, langkah kaki mungil Sakura telah membawanya ke depan pintu kelas Neji. Ia pun membuka pintu kelas. Matanya mengerling ke seluruh penjuru kelas itu. Tapi…
"Hei Sakura-chan! Kau ke kelasku! Mau mencariku ya?" tanya Lee heboh sambil berlari mendekati Sakura di pintu masuk. Namun perjalanannya terhambat oleh Neji yang memberikannya jitakan hebat dan juga deathglare mematikan. "Iya, iya, dia pacarmu Neji." gerutu Lee lalu ia kembali duduk di bangkunya.
Neji pun berjalan menghampiri Sakura. Ia tersenyum tipis lalu mengacak rambut Sakura. "Kau datang juga."
Sakura pun nyengir dan memegang tangan Neji yang mengacak rambutnya. "Lain kali kau yang ke kelasku…" tuntut Sakura.
Neji terdiam lalu menatap Sakura dalam. "Ya, akan kulakukan kalau saja tak ada Naruto di kelasmu." dengusnya.
Sakura terkikik geli lalu angkat suara, "Kau masih kesal dengannya ya? Dia itu orangnya baik lo."
"Ya, untukmu. Tidak, untukku."
Sakura terkikik lagi lalu ia menggandeng tangan Neji. "Kau itu... Ng, kita ke kantin dulu ya, aku ingin membeli jus tomat."
Neji mengikuti Sakura berjalan sambil menaikkan sebelah alisnya. "Tumben jus tomat."
Sakura mengangkat bahu. "Entahlah, hanya ingin saja."
-o0o-
Sasuke membawa nampan berisikan jus tomat, roti sandwich extra tomat, dan juga kentang goreng saus tomat. Naruto yang melihatnya berdecak kagum.
"Wow…Tomato Boy…"
Sasuke pun menjitak kepala Naruto.
"Iya,iya." Naruto mendengus dan segera menghampiri teman-teman yang biasa ngumpul dengannya di pojok kantin.
"Yo Naruto, Sasuke." sapa Shikamaru sambil menidurkan kepalanya di meja kantin. Di sebelahnya ada Chouji yang sedang asyik makan keripik. Di sebelah Chouji ada Kiba yang sibuk memberi makan Akamaru diam-diam. Dan di hadapan Kiba ada Shino yang sedang duduk tenang sambil makan.
Naruto mengambil tempat di sebelah Shino dan Sasuke di sebelah Naruto. "Hehe," Naruto nyengir.
Shikamaru mengangkat kepalanya dan melihat isi nampan Sasuke yang berada di hadapannya. "Suka tomat, eh?"
"Begitulah." Sasuke pun mulai membuka bungkus sandwichnya.
"Kenapa pakai kaca mata hitam?" tanya Chouji dengan mulut penuh makanan.
"Bukankah temanmu yang di ujung sana juga?" jawab Sasuke sambil menunjuk ke arah Shino dengan kepalanya.
"Aku sudah mendapat izin dari kepala sekolah kalau aku mempunyai penyakit khusus yang mengharuskanku memakai kaca mata hitam." kata Shino.
Lalu semua terdiam dan sibuk dengan makanan masing-masing sampai Kiba angkat suara. "Hm, seperti biasa. Sakura dan si Hyuuga itu bermesraan lagi."
Yang lainnya pun memandang Kiba lalu memandang ke arah pandangan Kiba.
"Mereka sering bermesraan?" tanya Sasuke.
"Mendokusai…aku saja tidak pernah selengket mereka." dengus Shikamaru. Di otaknya kini membayangkan wajah seorang gadis berambut pirang dan dikuncir 4. Mau lengket bagaimana? Pacarnya Shikamaru 'kan di Suna.
"Hampir setiap hari mereka begitu. Sejak Sakura-chan dan Neji-nii pacaran ketika waktu SMP kelas 2, aku dicampakkan." komentar Naruto sambil menggulung mie ramennya di sumpit.
"Hyuuga Neji itu kelas berapa?" tanya Sasuke entah pada siapa.
"Kelas 2-1, dia satu tahun di atas kita." jawab Shino. Ia pun memakan makanannya kembali.
Sasuke mengangguk. Lalu ia melirik Sakura yang sedang mengapit lengan Neji sambil tertawa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Bisa dibilang Neji itu girlfriend complex." tutur Kiba tiba-tiba. "Ambil ini Akamaru." ujarnya sambil memberikan sepotong roti ke mulut Akamaru.
Sasuke menaikkan alis matanya bingung mendengar penuturan Kiba. "Apa maksudnya?"
"Ya maksudnya, Neji-nii itu terlalu 'gimana gitu' sama Sakura-chan." timpal Naruto sambil menyeruput kuah ramennya. "Jangan harap kau akan pulang ke rumah dengan selamat kalau berani mengganggu Sakura-chan di depan Neji-nii."
Sasuke mendelik. Apaan tuh?
"Makanya tidak ada laki-laki yang berani mendekati Sakura jika berada di dekat Neji. Walau begitu, kau juga jangan mengganggu Sakura jika tak ada Neji. Bisa-bisa Sakura mengadu dan…BLAM." kata Chouji.
Sasuke terdiam dan memandangi Sakura dan Neji yang berjalan ke luar kantin. Yang ia tahu adalah Sakura sangat menyukai Neji dan Neji sangat menyukai Sakura. Lalu ia datang begitu saja dan menghancurkan semuanya? Demi Kami-sama… Ia akan benar-benar menjadi antagonis dalam cerita ini.
-o0o-
"Sakura…jalan-jalan yuk…" pinta Ino dengan puppy eyes no jutsunya.
Sakura mendecakkan lidah lalu ia memasukkan buku terakhirnya ke dalam tas. "Tidak bisa, aku ada janji dengan Neji-kun ke bioskop malam ini."
Ino menekuk bibirnya ke bawah. Ia pun melirik Sasuke yang masih sibuk membereskan buku-buku. "Oh, ayolah…aku ingin membeli aksesoris untuk tebar pesona besok…lagipula, 'kan kau akan pergi 'malam' ini, aku 'kan ngajaknya 'siang' ini…please…"
Sakura menghela nafas. "Mau ditaruh dimana Sai-mu itu?" ia pun melangkahi Ino dan berjalan ke luar kelas.
Ino memandang sedih kepergian sahabat baiknya. Hinata sudah pulang…dan ia sendirian. Bagus sekali. Ia pun melirik Sasuke, Sasuke sedang berdiri dari tempat duduknya dan hendak berjalan menuju pintu. "Eits, Sasuke-san."
Sasuke menaikkan kaca mata hitamnya. Ia memandang Ino buru-buru. "Hn, apa?"
Ino pun tersenyum semanis mungkin. "Ng, itu…anu…kau tampan sekali lo…"
Sasuke mendengus lalu meninggalkan Ino. Dan beberapa detik kemudian terdengar suara menggelegar yang berasal dari kelas itu.
"SAAAAAAAI-KUUUUUN! AKU RINDU PADAMUUUUUUUU!"
-o0o-
Sasuke berjalan dengan cepat menuju pintu masuk rumahnya. Ia ingin meminta penjelasan Opanya tentang bagaimana-ia-bisa-sekelas-dan-duduk-bersebelahan-dengan-yang-namanya-Sakura. Saat Sasuke memasuki main hall Uchiha Mansion, terlihat Itachi sedang bercermin di cermin raksasa di sisi kiri ruangan. Itachi memakai tuxedo hitam. Sasuke pun menaikkan alis. Apa-apan Kakaknya? Memang ia sudah lulus kuliah sehingga memakai pakaian begitu? Ia pun menghampiri Itachi.
"Kakak. Opa dimana?"
Itachi yang sedang bergaya pun membalikkan badannya setelah melihat bayangan Sasuke dari cermin. "Oh, Sasuke sudah pulang. Ng, jangan tanya Opa dulu. Ganti seragammu dengan tuxedo di kamarmu gih…" ujar Itachi dengan suara yang dibuat keibuan sambil mengedipkan matanya.
Sasuke menjulurkan lidahnya ke luar ditambah raut wajahnya yang terlihat muak. Ia memperagakan orang ingin muntah. Lalu ia pun meninggalkan Itachi. Hn, tak ada gunanya tanya pada Itachi sekarang ini.
Begitu memasuki kamarnya, Sasuke bisa melihat sebuah bingkisan berwarna pink di atas ranjangnya. Sasuke mendecih. Kenapa harus pink? Ia pun melempar tas punggung sekolahnya asal dan segera membuka bingkisannya. Hn, sebuah tuxedo yang mungkin dimaksudkan Itachi. Tanpa basa-basi Sasuke segera memakainya, mungkin ada acara penting—ia sudah sering menghadiri acara perusahaan keluarganya—jadi ia tak perlu tanya lagi akan pergi kemana.
-o0o-
Mikoto terlihat manis memakai sebuah dres biru muda selutut model strap dengan bagian bawahnya yang merumbai-rumbai. Sebuah dress sederhana yang cocok dipakai ibu-ibu seperti dia. Tidak terlalu mewah. Ia sedang membawa sebuah tas kecil hitam dan berdiri di samping mobil BMW hitam. Ia tersenyum pada Sasuke yang baru keluar dari rumah.
"Ada acara apa, Bu? Mana Opa?"
Mikoto malah tersenyum manis lalu memandang Sasuke cerah. "Nanti kau juga tahu. Opamu sudah duluan. Ayo cepat."
Sasuke menaikkan alis kanannya lalu dengan ragu melangkahkan kakinya menuju mobil yang berisikan 4 orang itu. Tentu saja Fugaku yang menyetir, Mikoto di sebelah Fugaku, Itachi di jok belakang, dan Sasuke di sebelah Itachi.
-o0o-
Sakura pamit dengan Neji yang mengantarnya pulang dengan sebuah mobil Volvo silver. Biasanya ada Hinata juga, tapi Hinata kencan dengan Naruto diam-diam—agar tidak ketahuan Ino. Setelah itu, gadis bermata indah itu pun segera melangkahkan kakinya menuju gerbang rumahnya. Alisnya mengerut melihat pintu gerbangnya yang tidak dikunci. "Granny atau Ayah dan Ibu yang sudah pulang?" gumamnya. Tapi ia bisa melihat sebuah mobil Honda Jazz berwarna kuning di dalam. Dan Sakura langsung tahu jawabannya. Memang mustahil jika mengaharapkan kehadiran kedua orang tuanya—yang super sibuk dan berada di luar negeri—untuk tiba-tiba datang dan bilang 'surprise' kepadanya saat baru masuk rumah. Hn, "Tumben Granny pulang jam segini."
Sakura pun segera melangkahkan kakinya memasuki gerbang sebelum ia merasa sebuah mobil berhenti di belakangnya dan membunyikan klakson. Sakura mengerutkan dahi lalu menghela nafas panjang dan membalikkan badan. "Iya-iya Neji-kun, aku tidak akan lup—a" Sakura melongo melihat seorang lelaki tua memakai kemeja biru muda tanpa dasi sedang tersenyum padanya. "Kakek yang kemarin ya? Kakek sudah sembuh?" tanya Sakura ramah.
Ya, Uchiha Madara pun menaikkan sudut bibirnya lebih tinggi. Ia tidak menyangka 'calon menantu'nya sangat ramah. "Ya, kau bisa melihat aku bagaimana. Aku sangat sehat."
Sakura terlonjak. "Ah! Mau bertemu Granny!" ia pun segera menyingkir dari depan pintu gerbang dan membiarkan mobil Madara lewat. Madara mengikuti Sakura sementara supirnya membawa masuk mobil.
Madara menepuk-nepuk kepala Sakura penuh kasih sayang. "Kau bisa memanggilku 'Opa'."
Sakura melirik Madara bingung lalu tersenyum canggung. "Ya, Opa."
Dan Sakura pun segera mempersilahkan Madara untuk masuk yang langsung disambut hangat oleh Tsunade dari dalam rumah.
"Kau sudah pulang, Sakura? Dan…" mata hazel Tsunade melirik Madara di samping Sakura. "Kau datang secepat ini?"
Madara hanya tersenyum kecil. "Seperti yang kau lihat."
Tsunade berdehem kecil lalu menarik tangan Sakura dan berbisik kecil, "Cepat ganti bajumu dengan baju apapun yang menurutmu paling bagus dan dandanlah secantik mungkin lalu turun ke ruang keluarga."
"HAH?" Sakura menatap Tsunade bingung. "Untuk ap—" kata-katanya terhenti saat Tsunade mendorongnya menuju tangga.
"Sudah sana." Lalu Tsunade berjalan perlahan menuju Madara dan wajahnya menjadi serius. "Aku belum memberitahukannya."
Madara menyeringai kecil lalu menghela nafas dan menarik tubuhnya untuk menduduki sofa ruang tamu di rumah sederhana itu. "Seperti dirimu yang menyukai kesederhanaan." Ia pun melirik Tsunade. "Aku pun bertindak secara sederhana."
Tsunade memejamkan mata. "Aku hanya menurut apa kemauan Sakura…"
"Ya, aku tahu."
-o0o-
Sakura memandangi duplikat dirinya pada cermin sederhana di dalam kamarnya. Kadang ia berkacak pinggang lalu menghela nafas. Ia melirik dirinya yang dibalut dress putih bergaris-garis abu-abu dan hitam dengan bagian bawah dada yang agak mengkerut dengan pita merah di sisi kiri. Bagian bawah dressnya agak bergelombang. Dan ia melengkapi dandanan manisnya dengan balero hitam lengan panjang. Lalu untuk wajahnya hanya ia beri bedak tipis. "Apakah aku selalu sesederhana ini bila kencan dengan Neji-kun?" gumamnya. Lalu ekor matanya menangkap—dari pintu kaca menuju balkon kamarnya—sebuah mobil BMW hitam sedang memasuki wilayah tempat tinggalnya. Sakura berkacak pinggang lagi. "Apa Granny membuka klinik di rumah?"
Sakura mengangkat bahu lalu berjalan menuju ruang keluarga seperti yang dikatakan neneknya.
Satu hal tentang kehidupan Sakura, ia tinggal bersama neneknya, Tsunade. Orang tuanya bekerja di Amerika dan kakeknya—Jiraiya sedang berkeliling dunia untuk menulis novel.
Derap kaki kecil Sakura menimbulkan suara setiap ia melangkah di lantai kayu rumahnya. Sebelum sampai di ruang keluarga, telinganya mendengar banyak suara. Apakah tamunya bertambah? Sakura mengangkat bahu lagi. Lalu jika 'mereka' adalah para tamu Tsunade—yang Sakura pikir pasien—kenapa Sakura ikut-ikutan? Entahlah, Sakura pun mengangkat bahu tak mau tahu untuk yang ke sekian kalinya.
"He?" Sakura berjengit melihat keluarga utuh—yang ia kenali sebagai keluarga Uchiha kemarin di rumah sakit—sedang berbicara ria di ruang keluarganya. Dan lengkap juga penglihatan Sakura melihat ada Sasuke duduk di sebelah pemuda dengan wajah narsis berkuncir. 'Kenapa akhir-akhir ini Tuhan selalu membuatku melihat wajah itu? Apa yang ia lakukan disini? Dan…masa 1 keluarga sakit semua…' batin Sakura ngeri. Ia terus perhatikan Sasuke yang wajahnya terlihat menahan amarah. 'kapanpun dan dimanapun, si Sasuke itu selalu berwajah tidak ikhlas.'
Sakura pun berjalan menghampiri sebuah keluarga kecil—plus Tsunade—di ruang itu. "Selamat siang."
Dan seketika, perhatian semua orang tertuju pada Sakura, terutama Madara. Semua memandang kagum Sakura kecuali Sasuke yang terlihat meronta ingin pulang namun ditahan Itachi.
"Sakura-chan, duduklah disini." Mikoto mempersilahkan tempat kosong di sebelah kirinya. Tentu saja Sakura hanya menurut. "Kau manis sekali."
Sakura blushing lalu menunduk malu. "Terima kasih…"
Mikoto pun tersenyum tulus.
Lalu keadaan hening sampai Sakura mendongak dan mengeluarkan segala hasrat yang sedari tadi ia pendam, bertanya. "Ng, anu…kenapa aku juga disuruh kesini?"
"Sakura-chan, Opa ingin membicarakan sesuatu padamu."
Sasuke yang satu sofa dengan Itachi mendelik mendengar Madara bilang 'Opa' pada Sakura. Lalu ia berbisik kecil pada Itachi. "Kakak, aku mau pulang."
"Sttt." Itachi memasang wajah gembira menunggu kelanjutan omongan Madara.
"Ya, Opa?" tanya Sakura.
Sasuke melotot mendengar Sakura memanggil Madara langsung dengan sebutan 'Opa'.
"Opa berencana akan menikahkanmu dengan Sasuke."
"APAAAAA!" Sakura langsung bangkit dari posisi duduknya sambil mendelik. Ia pun melirik Sasuke yang malah membuang muka. "Apa-apaan ini? Perjodohan, begitu maksudnya?"
"Bukan. Lebih tepatnya sebuah penepatan janji. Dulu Opa pernah bersumpah akan menikahkan Sasuke dengan gadis berambut pink." jawab Madara yang langsung menceritakan seluruh masa lalunya, dan langsung membuat Sasuke memejamkan mata. "Gadis berambut pink itu kau."
Sakura memandang seluruh orang yang ada disitu. Semuanya memasang wajah serius. Yang benar saja, masa serius? Mereka 'kan baru bertemu sehari yang lalu. Sumpah? Gadis berambut pink? Jadi kemarin Sasuke dan Madara membicarakan rambutnya karena itu? "Hehe, Opa jangan bikin kaget seperti itu mana bisa dipercayai."
"Kami tidak bercanda Sakura. Kami serius." timpal Fugaku.
.
.
.
Kau bunga, dan aku tangkainya. Kau Haruno, dan aku… Hyuuga."
.
.
.
Sakura membulatkan matanya melihat wajah serius Fugaku yang mulai angkat bicara. Keringat dingin menetes di dahinya. Ia lirik neneknya, Tsunade sedang memejamkan mata sambil mengangguk. Ia lirik Mikoto, Mikoto sedang menunduk sambil memejamkan mata juga. Ia lirik Itachi, tak ada gunanya. Ia lirik Sasuke yang sedari tadi diam. "Uchiha, apa-apaan kau? Kenapa diam saja?"
Sasuke hanya memalingkan wajahnya dan menghindari tatapan Sakura. "Kau ingin aku bilang apa?"
Sakura membulatkan matanya. "K-kita baru bertem—" pandangan Sakura mendadak menjadi samar. Ia pegang erat kepalanya lalu ada sebuah suara yang berbisik lemah di telinganya. Suara yang berhembus diiringi angin kecil,
.
.
.
Kau akan menangis dan aku akan jadi tumpuannya. Kita akan bersama, selamanya.
.
.
.
-o0o-
Lihat awan itu, Sakura? Itu seperti dirimu.
Kenapa harus awan?
Hm, kenapa ya?
.
.
.
"Sudah sadar?"
"UCHIHA!" Sakura terlonjak mendapati wajah Sasuke sedang menatapnya malas ketika ia membuka mata. Sakura pun segera mencekik leher Sasuke. "Apa yang kau lakukan! Apa yang kau rencanakan! Apa maksud dari kedatanganmu ini! Hah!" ia pun segera mengguncang-guncangkan badan Sasuke sambil membiarkan air matanya jatuh membanjiri pipi putihnya. Suaranya serak.
Sasuke hanya diam. "Hn."
"JANGAN PURA-PURA BODOH! AKU TAHU RAUT WAJAH AYAHMU TAK MENGATAKAN KALAU KALIAN SEDANG BERCANDA!" Sakura terus mengguncang. Ia menatap Sasuke penuh harap.
"Lalu apa maumu?" Sasuke pun menghempaskan tangan Sakura dari bahunya.
Sakura menunduk. Ia menangis. Lalu ia tertawa. "Keluargamu kalau bercanda keterlaluan ya, hahaha…aku 'kan masih 15 tahun…lalu…" Sakura tertawa hambar dan di pikirannya terbayang wajah seorang keturunan dari keluarga ternama, Hyuuga Neji.
-o0o-
Madara sedang duduk di sebuah kursi kayu yang berada di sebuah ruangan sederhana bernuansa klasik. Sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan hanya berisi satu set meja dan kursi kayu ukiran, guci-guci, serta beberapa foto yang menghiasi dinding, dan jangan lupakan, huruf kanji besar yang tertulis di dinding depan yang dialiri pancuran air, HYUUGA.
"Ada apa Anda kesini Madara-sama? Ini adalah hal yang sangat langka. Saya mengira Anda sudah pensiun dari masalah perusahaan." ujar seorang lelaki paruh baya berambut cokelat panjang dan bermata lavender, Hyuuga Hizashi.
Madara menghela nafas. "Kau punya seorang putra?"
Hizashi menaikkan alisnya bingung. "Ya, lalu ada apa dengan putra saya?"
"Putra Anda telah mengganggu kehidupan saya."
Hizashi mengerutkan dahi mendengar apa yang telinganya tangkap. "Maksudnya…Neji? Saya tidak tahu kalau dia pernah bertemu Anda."
Madara pun menatap Hizashi tajam. Di ruangan itu memang hanya ada ia dan Hizashi. 4 mata. "Kami memang belum pernah bertemu. Tapi anakmu telah memacari calon menantuku."
Hizashi membuatkan matanya kaget. Ia tak bisa memandang Madara secara langsung sekarang.
Madara pun berdiri dari tempatnya. "Aku berharap kau bisa menyuruh anakmu untuk menjauhi calon menantuku atau Uchiha akan memutuskan kerja samanya dengan Hyuuga." pesan Madara sebelum meninggalkan Hizashi yang terdiam kaku di tempatnya.
Ia membalikkan badan dan menatap punggung Madara.
Lalu ia memejamkan mata. Bukankah kekasih Neji adalah Haruno Sakura? Kenapa ia sampai tak tahu kalau Sakura adalah calon menantu Madara?
Ketika Hizashi hendak memasuki kamarnya, ia melihat Neji sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengan dirinya. Hizashi menghela nafas lalu memanggil Neji. "Neji, Ayah ingin bicara denganmu."
.
.
.
-o0o-
Sakura memegangi kepalanya lalu ia menatap Sasuke tajam. "Ini pukul berapa?"
"07.30 p.m."
Sakura membelalakkan matanya. "Aku ada janji dengan Neji-kun!" ia pun segera menurunkan kakinya kakinya dari ranjang sampai Sasuke menahan tangannya. "Mau apa kau?" Emerald Sakura yang masih saja meneteskan butir-butir air suci kembali menatap Sasuke tajam.
"Jangan pergi."
Sakura mengerutkan dahi. "Kau kira kau siapa? Kau kira aku mau menikah? Pikiran bodoh."
Sasuke tetap diam dan menatap emerald Sakura dalam.
"Cih. Menggelikan. Lepaskan!" Sakura menarik tangannya tapi Sasuke tetap menahannya. "KUBILANG LEPASKAN!"
Sasuke segera mendorong tubuh Sakura hingga terhempas ke ranjang dan Sasuke segera menaiki ranjang Sakura lalu memposisikan tubuhnya di atas Sakura. Ia mencengkeram kedua pergelangan tangan Sakura erat.
"A-apa…" Sakura mulai menangis deras. Sesekali terdengar suara sesenggukan dari mulutnya. "Apa?"
Sasuke terdiam dan menatap Sakura kosong. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"APA! MINGGIR KAU! MEMANGNYA KAU SIAPA? HAH!"
Sasuke mendorong Sakura dengan sekali hentakkan dan langsung memeluk Sakura erat. Ia coba tahan air mata yang sudah di pelupuknya. Ia coba menahan segala tolakkan perasaannya dan mencoba untuk memahami perasaan Opanya.
Jangan menyesal jika Opamu telah tiada…
Sasuke menggigit bibir lalu mulai menggerakkan bibirnya untuk menelusuri leher jenjang Sakura. Semakin ke atas hingga bibirnya menyentuh telinga Sakura lembut. Dan Sasuke bisa merasakan tubuh gemetaran Sakura yang seperti ingin meronta, tapi…
"Aku calon suamimu."
.
.
.
Hm, kenapa ya? Mungkin karena aku adalah pelangi yang membutuhkan awan untuk membuat warna-warna yang indah. Kau Sakura dan aku Neji.
T-B-C
A/N
Konbanwa…
Hoshi Yamashita disini…
Saya update kilat 'kan? Terima kasih buat para reviewer yang sudah bikin saya ngakak+semangat ngetik (apalagi jampi-jampinya) HOHOHO,
5780 word without A/N! amazing! Ini adalah chapter terpanjang yang pernah saya buat! Jangan bunuh saya karena chapter yang terlalu panjang ini dan menghabiskan 21 halaman Ms. Word! XD buat chap depan soalnya nggak terlalu panjang mungkin XD
Special Thanks to :
Inori-chan, Nakamura Kumiko-chan, Putri Luna, Hikari Shinju, Soraka Menashi, Nay Hatake, rchrt, Namichan, Yuuki d'gray girl, Mieko luna-chan sasori, Thia2rh, Kurosaki Naruto-nichan, annida a nurdiani, Shadow, Leader Kimmi, senayuki-chan, Fae-chan, DEVIL'D, aotsuchi (2), Risuki Taka, RichiTsuguSuzu, shiroianakbaik, hiru no akuma, Michi-chan Phantomhive626, Shinkerbell, Maito, Weed
Oh iya, buat chap ini, saya tidak bisa membalas review dulu karena chapternya saja sudah terlalu panjang, hehehe, maaf ya...
.
Akhir kata,
Kritik, saran, pujian *ngarep*, masukan, sepatah dua patah kata penyemangat, atau apa saja yang termasuk kategori REVIEW (terkecuali flame), sangat saya harapkan! ^.^
.
Dan saya perjelas lagi, tidak menerima flame dalam bentuk apapun karena saya yakin para flamer cukup cerdas untuk mengetahui arti kalimat "Don't like? Don't read"
.
Hehe, REVIEWnya please…
