Rasa panas menjalari tubuh Sakura saat ini. Wajahnya yang memerah karena menahan amarah terlihat basah oleh air matanya yang perlahan mulai mengering. Ia membiarkan bibir Sasuke menetap di daun telinganya. Membiarkan Sasuke berbisik kecil setiap ia berniat mengedipkan mata,

Sasuke menghela nafas. Ia pun menyingkir dari atas tubuh Sakura dan membiarkan Sakura bernafas sejenak. "Aku calon suamimu, kau deng—"

"SUDAH! CUKUP! JANGAN MEMBUAL LAGI! Kau pikir aku akan percaya? Kau pembohong yang menyebalkan! Aku tahu kau terpaksa! Kita baru bertemu sehari yang lalu, kau ingat? Dan sekarang kau sudah berani berkata bahwa kau adalah suamiku? Cih." Sakura pun mengangkat tubuhnya dan duduk di atas ranjangnya. "Tentang sumpah Opa, mana bisa kupercayai!" Sakura melirik ke Sasuke yang juga tengah meliriknya. "Aku bukan termasuk orang yang percaya kebohongan." Sakura mendengus kecil lalu dengan punggung tangannya, ia hapus bekas-bekas air mata di pipinya. Ia pun bermaksud untuk turun dari ranjangnya sebelum Sasuke berkata,

"Opa…tak membohongimu."

Sakura mendengus dan ketika ia hendak turun lagi dari ranjangnya, suara Sasuke membuatnya berhenti.

"Baginya, kau seperti harapannya untuk hidup." Dan kini, mau tak mau Sakura disuguhi sebuah mata obsidian yang bagaikan ingin merajamnya tajam.

"Kau tahu? Aku sudah memiliki kekasih, dan kau juga sangat tampan—yang pastinya kau juga akan bisa mendapat yang lebih baik daripada aku, Opamu pasti juga begitu." Sakura menyunggingkan sebuah senyum terpaksanya. Ia sudah mulai bisa mengatur emosinya.

"Tapi tidak untuk warna rambutmu."

Senyum paksa Sakura pun mengendur seketika. Dan kali ini, ia sama sekali tak menyunggingkan setipis apa pun sebuah senyuman. "Kau berputar-putar. Memang apa yang membuatmu sampai mau melakukan ini!—mempercayai sumpah bodoh begitu? Kau an—"

"Aku tahu sumpah itu dan demi Opaku agar tetap bisa menghirup nafas, sampai ia bahagia melihatku bahagia."

.

.

.

Young Newly-Married

Disclaimer : kalo punyaku, aku udah kaya dari dulu dong! *digantung Masashi Kishimoto*

Rated : T

Genre : Romance, Family, Drama, terserah readers lah!

Pair : SasuSakuNeji slight other pair.

WARNING : AU, OOC, Gaje, abal, misstypo (maybe), mungkin di chapter ini ada unsur 'antonimnya humor', dll.

.

IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ PLEASE

but…

HAPPY READING!


Chapter 5 : I Want To Beside You More

Sakura kini benar-benar menempelkan kakinya di sebuah karpet di bawah ranjangnya. Kini pikirannya penuh dan ia tak ingin berfikir apa-apa lagi. Wajahnya terlihat mati. "Aku akan pergi." Sasuke langsung memegang pergelangan tangan Sakura dan saat itu juga Sakura langsung menepisnya. "Dan jangan halangi aku, atau seumur hidup..aku hanya berasumsi untuk membencimu saja."

Sasuke bungkam, dan Sakura meninggalkan Sasuke sendirian.

FLASHBACK : ON

Semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat Sakura jatuh tak sadarkan diri secara mendadak. Terlebih-lebih Tsunade, Mikoto, dan Madara. "SAKURA-CHAN!"

Fugaku pun bertindak cepat. Ia langsung mengangkat tubuh Sakura dan menggendongnya dengan bridal style. "Dia shock."

Tsunade pun berkaca-kaca. Ia menatap Madara tajam. "Kau lihat, Madara? Dia masih kecil, dan dia shock."

Madara melirik Sasuke yang terlihat menyembunyikan kecemasan. Tetapi ia bisa melihat wajah cemas Sasuke yang sedang menggigit bibir itu sambil menatap Sakura.

Sasuke menatap Sakura cemas. 'Reaksinya…tak seperti yang kuperkirakan…' batinnya sambil mencari celah untuk melihat Sakura karena Itachi sedikit menghalanginya. Ia memperhatikan wajah Sakura yang sedang memejamkan mata. Cahaya matahari yang menerobos masuk dari jendela membuat wajah Sakura terlihat semakin indah untuk dilihat. Dan Sasuke memandangnya hangat, tulus, tak terikat akan rambut pink—sedikit pun.

Sementara Tsunade menuntun Fugaku—yang menggendong Sakura—menuju kamar Sakura, Madara duduk tenang kembali, namun tak setenang hatinya. "Sasuke."

"Hm, Opa?"

"Nanti kau jaga Sakura hingga ia sadar."

Sasuke melirik Mikoto yang sedang harap-harap cemas lalu melirik Itachi yang sepertinya berniat untuk menguntit ayahnya. Sasuke menghela nafas pasrah lalu mengangguk.

"Dan sekali lagi Opa ingin tanya. Kau mau menerima pernikahan ini?"

Sasuke melirik Mikoto lagi. Kali ini Mikoto menatapnya penuh harap. Dan Sasuke mengangguk lagi. "Apapun kemauan Opa."

Madara tersenyum lalu menghampiri Sasuke dan memeluknya. "Opa sangat menyayangimu. Akan Opa usahakan agar kau bahagia dengan Sakura…"

"Ya…Opa."

Madara segera melepas pelukannya dan menunjukkan wajah penuh cahaya gemirlangnya di hadapan Sasuke. "Opa yakin Sakura akan melupakan pacarnya dan melihatmu. Opa yakin, kau bisa membuatnya jatuh cinta padamu."

Sasuke mengangguk lagi. Madara pun beranjak menuju pintu keluar setelah ia membisiki Mikoto—entah Madara akan kemana. Mikoto menghampiri Sasuke dan memeluk putra bungsunya.

"Terima kasih telah menurut pada Opamu."

FLASHBACK : OFF

-o0o-

"Neji, Ayah ingin bicara denganmu." ujar Hyuuga Hizashi kepada anaknya.

Neji menatap ayahnya lalu matanya melirik jam tangan yang bertengger manis di tangan kirinya. Oke, masih ada sedikit waktu sebelum waktu janjiannya dengan Sakura. "Ya."

Hizashi pun menuntun Neji menuju ruangan pribadinya. Sebuah ruangan sederhana yang di dalamnya terdapat sebuah kotatsu dan 6 buah zabuton di atas tatami berwarna hijau. Sedangkan dindingnya hanya dihias dengan beberapa ukiyo-e. Ruangan sederhana namun tertutup.

Setelah ia dan Neji telah duduk di atas zabuton, Hizashi pun membuka pembicaraan basa-basinya dulu. "Kau mengenal Uchiha?"

Neji menautkan alis mendengar ayahnya membicarakan Uchiha tiba-tiba. "Ya. Bukankan salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan Hyuuga? Perusahaan no.1 di Jepang dan Asia?"

Hizashi tersenyum mendengar jawaban anaknya. "Apa kau masih mempunyai kekasih?"

Neji mengerutkan dahi. Ada apa ini? Ia pikir Hizashi bukan orang yang suka mengalihkan topik pembicaraan tiba-tiba. Firasatnya buruk. "Bukankah Ayah sudah mengetahuinya? Kekasihku adalah Haruno Sakura."

Kali ini Hizashi terdiam mendengar jawaban anaknya. "Kau pernah bertemu salah satu keluarga Uchiha?"

"Ya, aku pernah bertemu dengan mereka."

Hizashi menatap tajam anaknya mendengar jawaban Neji barusan. "Kau pernah melihat Sakura dengan keluarga itu terlihat akrab?"

Neji terdiam dan memutar memorinya kembali saat-saat ia di rumah sakit. Ya, Sakura terlihat akrab dengan salah satu dari keluarga Uchiha yang bernama—kalau tidak salah Sasuke. "Ya."

"Kau tahu kenapa Ayah membicarakan tentang Sakura dan keluarga Uchiha?"

Neji pun menggeleng mantap.

Hizashi menghela nafas. "Itu karena Sakura adalah menantu keluarga Uchiha."

DEG

.

.

.

Neji sontak membulatkan matanya. Bibirnya setengah menganga. Apa yang barusan didengarnya? Sakura… ah, tidak, tidak. Neji mengenal Sakura sejak dulu dan Sakura tak pernah bercerita apapun yang berkaitan dengan keluarga Uchiha. Ya, mungkin pendengaran Neji sedikit terganggu. Ia mengenal Sakura. Gadis yang baik dan juga jujur. Gadis ceria yang sebenarnya rapuh. Gadis yang…tunggu, bagaimana jika semua itu benar dan berarti—Sakura yang baik hati telah membohonginya selama beberapa tahun ini?

"Ayah setuju saja jika kau memiliki kekasih, tapi kalau kekasihmu bukan menantu Uchiha Madara!" geram Hizashi.

Neji menatap ayahnya mantap. "Sakura tak ada ikatan apa-apa dengan mereka."

Hizashi menggebrak kotatsu di depannya. "Tadi Uchiha Madara—sebagai orang nomor 1 di Uchiha Corp datang kemari dan memberitahukan tentang hubunganmu dengan Sakura yang telah mengganggu kehidupannya! Kau mau mengelak apa Neji!"

Neji memandangi ayahnya tak percaya. "Ayah lebih percaya dengannya?"

Hizashi menghela nafas untuk ke sekian kalinya dan menatap Neji memelas. "Ayah tidak tahu. Pikiran Ayah sekarang penuh. Tapi, Ayah hanya meminta satu saja darimu. Paling tidak untuk menghindarkan keluarga kita dari berbagai kemungkinan buruk yang akan terjadi."

"Apa?"

"Putuskan hubunganmu dengan Haruno Sakura."

.

.

.

"Aku…tidak mau." jawab Neji mantap tanpa menatap ayahnya. Mata lavendernya ia gunakan untuk menatap tatami datar.

Hizashi menggebrak kotatsu di depannya kembali. "Apa yang kau harapkan, Neji? Kau masih kecil!. Bukankah berpacaran hanyalah mainan bagimu? Putuskan gadis itu!"

Kini lavender Neji menantang lavender ayahnya. Sedikit, ia menggigit bibir bawahnya gemetar. "Bagiku, Sakura bukan mainan. Aku bersungguh-sungguh dengannya. Dia orang yang sangat penting bagi—"

"Lebih penting mana dengan kehidupan keluargamu?" Hizashi pun berdecak lidah. "Kau tahu? Uchiha Madara takkan segan-segan untuk memutuskan hubungan kerja sama Uchiha dengan Hyuuga jika kau berani untuk mengganggu kehidupannya."

Neji terdiam dan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Aku yang mengganggu kehidupannya atau Dia yang mengganggu kehidupanku?" ia tatap Ayahnya, mencari kebenaran atas pernyataannya.

Hizashi memejamkan mata. Ia tahan amarah yang sebenarnya sudah di ujungnya. "Ayah tidak tahu siapa yang benar, namun demi Kami-sama, jika Uchiha sampai memutuskan hubungan kerja sama dengan Hyuuga, maka Hyuuga akan berada di ambang kehancuran. Perusahaan-perusahaan lain dengan otomatis akan mengikuti jalan Uchiha—memutuskan hubungan kerja sama dan, kau akan makan apa nantinya?"

Tak ada jawaban dari Neji yang memejamkan mata.

"Kau tak ingin Ayah akan disalahkan oleh Hiashi karena konsekuensi buruk itu, bukan? Kau tak ingin selamanya Ayah dibenci oleh Hyuuga lainnya hanya karena ini, bukan? Kau tak ingin menghancurkan keluarga yang telah susah payah Berjaya ini hanya karena keegoisanmu, bukan? Pikirkan konsekuensi itu, Neji!"

Neji hanya terdiam. Ini terlalu mendadak. Dan otak jeniusnya segera memikirkan bagaimana hal ini bisa terjadi. Sakura tak mungkin membohonginya, ia tahu itu. Tapi, tentang status calon menantu yang tiba-tiba itu? Apakah mungkin kalau Madara hanya memuaskan egonya karena menganggap Sakura adalah seorang Dewi Baik Hati? Entahlah.

"Neji. Masa depan keluarga ini ada di tanganmu. Hidupmu masih panjang. Kau bisa temukan gadis yang lebih baik daripada seorang Haruno Sakura."

Neji menghela nafas lalu berdiri. Ia segera menggerakkan kaki jenjangnya menuju pintu geser. Lalu ia membukanya perlahan.

"Bersikap dewasalah Neji. Kau hanya harus memutuskan hubunganmu dengan Haruno Sakura."

Neji menunduk lalu menghela nafas kecil. Ia terlalu kuat untuk memperlihatkan keterlukaannya. "Akan kupikirkan, Ayah."

Dan pintu pun tertutup rapat, menemani sosok Hyuuga Hizashi yang sedang menghela nafas berat—frustasi.

-o0o-

"Halo? Hinata? Beneran 'kan? Neji belum pergi?" tanya Ino pada Hinata lewat hubungan telepon genggam. Ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Sakura dengan bekal sebuah buku bersampul cokelat dengan sebuah coretan teratur di covernya yang membentuk sebuah tulisan 'Sastra Jepang'. Yap, Ino ingin mengembalikan buku Sakura yang dipinjamnya karena besok ada PR sastra yang harus dikerjakan. Karena semua soal ada di buku itu, Ino tak bisa membayangkan amukan Sakura jika Sakura tidak bisa mengerjakan PRnya dan kena hukuman guru. Ugh, penjelasan rumit. Yang jelas, Ino harus mengembalikan buku Sakura malam ini.

"Su-sungguh, tadi a-aku melihat Neji-nii sedang mengobrol dengan Hizashi—jisama…" ujar Hinata di seberang sana.

"OK! Makasih ya Hinata!" Ino pun memutus sambungan telepon dan ketika bola mata aquamarinenya menangkap sebuah bangunan yang ia ketahui sebagai rumah Sakura, Ino segera berlari kecil. Tapi terhenti ketika ia melihat Sakura yang buru-buru keluar dari gerbang disusul Tsunade dan Mikoto. Spontan, Ino mengehentikan langkahnya.

"Sakura! Jangan melakukan tindakan bodoh seperti dulu!" teriak Tsunade pada sosok Sakura yang semakin mengecil di telan kabut malam itu.

"Maafkan saya, Tsunade-san…" ujar Mikoto merasa bersalah.

Tsunade pun melirik Mikoto. "Tidak, hanya saja…"

HAH? Ino mengerutkan dahi melihat kejadian barusan. Di benaknya, kini terus berputar sebuah pertanyaan 'ada apa'? ia hendak mendekat sampai sebelum ia dengar sebuah nama yang familiar di telinganya sehari ini disebut-sebut.

"Itachi! Panggil Sasuke kemari!" perintah Mikoto.

Ino langsung berjengit. 'Sasuke? Sasuke yang ganteng itu atau yang mana?'. Ino berfikir sebentar lalu memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah tiang di depan rumah tetangga Sakura. Dan matanya membulat dengan sempurna ketika melihat sesosok Uchiha Sasuke sedang ditarik paksa oleh seorang lelaki berkuncir. 'Oh, God! Apa-apaan ini!'

-o0o-

Neji memasukkan telapak tangannya ke dalam saku celana. Ia tengah berada di sebuah kerumunan. Mata keperakkannya mencari seseorang yang sedari tadi terus mengganggu pikirannya. Hn, seorang Haruno Sakura yang kini sedang duduk di sebuah kursi tunggu di Bioskop Konoha 9. Neji menghela nafas lalu memejamkan mata. Ia pandangi sosok Sakura yang sedang menunduk dengan sorot mata sayu. Ada yang salah dengan ini…

Neji memantapkan hati lalu menghampiri Sakura. "Maaf terlambat."

Sakura mendongak lalu tersenyum. Ia pun segera menarik pergelangan tangan Neji agar Neji mendudukkan diri di sebuah bangku kosong di sebelah Sakura—sepertinya Sakura yang menjaga bangku itu agar tetap kosong. "Kukira kau takkan datang." ucap Sakura memulai pembicaraan. "Aku senang kau datang."

Neji hanya terdiam dengan sorot mata yang tak bisa ditebak. "Ng, Sakura…aku ingin bertanya sesuatu padamu…"

Sakura pun mengangguk sambil tetap mempertahankan senyum.

Neji menghela nafas lalu diam. Diam sampai membuat Sakura sedikit mengendurkan senyum. "Sudahlah, nanti saja." kata Neji kemudian. Ia pun melirik sayu ke salah satu pintu masuk bioskop. "Sepertinya filmnya sudah diputar. Hm, kita gagal menonton film." kata Neji sambil meremas tiket filmya.

Sakura pun menunduk. Ia pandangi tiket filmnya dengan mata kosong.

"Maaf gara-gara aku terlam—"

"Ng, Neji-kun! Sepertinya ada satu film yang belum diputar!" ujar Sakura girang sambil berdiri. Dengan semangat, ia menunjuk salah satu pintu masuk bioskop. "Kita tonton itu saja, ya!" pinta Sakura sambil menarik Neji agar berdiri.

Neji tersenyum kecil lalu ia mengacak rambut Sakura. "Iya, iya."

Dan judul film itu adalah My Sad Story.

.

.

.

Neji dan Sakura saling menautkan tangan mereka satu sama lain. Kini mereka sudah berada di tempat duduk pemutaran film bioskop. Mereka duduk di pojok ruangan itu, tempat yang bagi kebanyakan orang sangat strategis.

Sakura mengeratkan tangannya pada genggaman Neji setelah ia merasa ada kecanggungan diantara mereka berdua sekarang.

Film pun diputar.

.

.

.

Sakura menunduk dan sama sekali tak memperhatikan film yang seharusnya ditontonnya. Kini pikirannya menerawang jauh. Ia tundukkan kepala, percuma.

Aku calon suamimu.

Sakura menggigit bibir dan ia tak bisa menahan setitik air keluar dari mata jadenya. Ia tak bisa mengingatnya—atau lebih tepatnya…ia tak ingin mengingatnya... Tidak, ia tahu, ia ingat semuanya. Tentang Uchiha Sasuke. "Hiks…hiks…uh…u…" Sakura menangis tertahan.

Neji yang mendengar suara tangisan sesenggukan di sebelahnya pun segera melirik Sakura. "Apa filmnya terlalu menyedihkan?" tanya Neji yang sebenarnya sejak tadi sama sekali tak menonton putaran film. Neji juga sibuk akan pikirannya sendiri sejak tadi.

Sakura semakin tak bisa menahan tangisannya mendengar suara Neji. Ia menggeleng kecil namun tetap menangis tertahan. "Nej-i-kk-un…uh…" Sakura mengeratkan genggamannya. Neji bisa merasakan tangan Sakura bergetar.

Neji menghela nafas. Lalu dengan tangan kirinya—yang tak terpaut dengan tangan Sakura—Neji segera menepuk kepala Sakura lalu menggesernya pelan agar bertumpu di bahunya. "Kau akan menangis dan aku akan jadi tumpuannya. Kita akan bersama, selamanya." Neji pun mengecup puncak kepala Sakura.

"Nej-iii….-kk-kun….uh…uh…"

Neji menghirup nafas dalam. Ia berusaha menenangkan Sakura dengan tautan tangan mereka.

Putuskan hubunganmu dengan Haruno Sakura.

"Filmnya sungguh menyedihkan, kau tahu?" Neji melepaskan genggaman tangannya, dan ia gunakan tangannya untuk merengkuh Sakura agar lebih dekat dengannya—memeluknya. "Tapi kau juga harus tahu. Bagiku, melihatmu menangis itu lebih menyedihkan."

Sakura menangis kecil. Namun tangisannya terlihat ingin ia utarakan dengan teriakan. Tangisan yang menyiksa. Bahkan suara tangisan itu menyekat di tenggorokan. Itu sungguh menyedihkan. Sakura pun bisa merasakan sebuah cairan dingin menyentuh ujung kulit kepalanya.

Apa yang Sakura dapatkan hari ini?

Tentu saja, ini adalah hari dimana Sakura melihat seorang Hyuuga Neji menangis.

-o0o-

Neji menyeret langkahnya ringan menuju sebuah kediaman mewah yang berada di pinggiran kota di kawasan perbukitan elit,

UCHIHA MANSION.

Neji terus menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan hatinya yang gelisah setengah mati. Matanya yang sedikit sembab ia gunakan untuk meneliti dengan jelas sebuah kediaman yang ia anggap telah mengganggu kehidupan normalnya.

.

TRING

Madara pun menekan tombol hijau di sebuah remote yang tertempel manis di wallpaper dinding kamarnya yang berwarna putih gading.

"Madara-sama. Ada yang ingin bertemu dengan Anda."

Madara menaikkan kaca mata bifokalnya. Matanya sedang sibuk membaca sebuah surat kabar di atas sebuah kursi mono ukiran. "Siapa?"

"Hyuuga. Hyuuga Neji."

Madara mengangkat kepalanya dan tersenyum—menyeringai.

.

.

.

"Saya Hyuuga Neji." salam Neji sambil membungkukkan badan ketika melihat seorang lelaki tua berwibawa masuk ke dalam ruangan kedap suara itu. Hn, Uchiha Madara telah memasuki ruangan.

"Aku sudah tahu itu. Dan juga…wajahmu sungguh mirip dengan Hyuuga Hizashi." Madara pun mengangkat tangan rendah pertanda menyuruh seluruh pelayan yang ada di situ untuk pergi. Setelah pintu ditutup, Madara segera menarik kursi untuknya duduk.

"Beliau adalah Ayah saya." kata Neji.

Madara tersenyum lalu menunjuk sebuah kursi yang ada di depannya. "Kau duduklah. Tak menyenangkan melihat lawan bicaramu berdiri sedangkan kau sendiri duduk."

Neji mengangguk kecil lalu duduk di hadapan Madara. "Anda terlihat sudah mengetahui apa maksud dari kedatangan saya."

Madara tersenyum kecil. "Tentang Haruno Sakura."

"Dia adalah kekasih saya." kata Neji cepat.

Madara menggumam setuju. "Dan juga calon menantuku."

Neji menghela nafas. Ia pejamkan mata untuk meredam amarahnya yang tertahan. "Tolong Anda jangan berfikir secara individual. Saya mengenal Sakura sejak dulu. Ia tidak mungkin menjadi menantu Anda. Saya tahu, Sakura sama sekali tak mengenal Anda—kecuali atas kejadian kemarin."

"Ya, kau benar. Itu semua memang terdengar mendadak. Namun tentang Haruno Sakura yang menjadi calon menantuku, itu semua bukanlah sebuah takdir yang mendadak."

Neji menaikkan alis bingung dan langsung saja dijawab oleh Madara.

"10 tahun yang lalu, aku pernah bersumpah bahwa aku akan menikahkan cucuku ketika berusia 15 tahun dengan seorang gadis berambut pink."

Neji terlonjak kaget mendengarnya. "Ap-apa…"

"Saat itu aku membuat sumpah karena berharap kesembuhan anakku, dan kau tahu? Aku membuat sumpah itu tanpa mengetahui keberadaan Sakura. Itu takdir bukan?"

Neji terdiam lalu tersenyum. "Menggelikan."

"Hm, menurutmu begitu, tapi coba saja kau bayangkan Kakekmu di posisiku, lalu Kakekmu akan mati setelah tahu ia akan mati jika tak menepati sumpahnya. Bagaimana reaksimu?"

"Mati?"

"Aku sempat koma ketika cucuku tepat berusia 15 tahun. Dan aku sempat diberitahu oleh malaikat di dalam mimpi komaku, bahwa aku akan mati jika tak menepati sumpahku. Bukankah itu takdir? Kami-sama sengaja membuatku bersumpah seperti itu karena memang itulah takdirnya."

Neji terdiam dan memandang Madara lekat. Madara pun sedikit merasa tersanjung melihat pertama kalinya ada orang asing yang berani menatapnya seperti Hyuuga Neji. "Siapa nama cucu Anda?"

"Uchiha Sasuke."

-o0o-

Sasuke menguap bosan. Ia melirik Madara yang sedang membelakanginya. "Ada apa Opa menyuruhku kesini?"

Madara yang sedang memandang foto pernikahan Fugaku dan Mikoto pun menjawab dengan tenang, "Mulai besok…anggap Sakura sebagai orang biasa. Kau tak perlu memaksanya lagi." ucap Madara kalem.

Sasuke menaikkan alisnya bingung. "Ada apa? Opa berubah pikiran?"

Madara menggeleng cepat lalu membalikkan badannya untuk menghadap Sasuke. Ia tersenyum kecil. Pandangannya melemah. Onyx itu...sedikit redup.

.

.

.

Sasuke terlihat gusar di ranjangnya. Di pikirannya kini terus terbayang seorang wanita yang membuatnya tak bisa bermimpi dengan tenang sehari ini saja.

"AAAAARRRGGGHHHHH! HARUNO SAKURA! KAU MENYEBALKAN!" teriaknya kesal sambil menunjuk-nunjuk langit-langit tidak jelas. Dan Sasuke pun mendudukkan dirinya. "Kau menyebalkan…" gerutu Sasuke. "Kau membuat otakku…terus saja memikirkan bagaimana caranya…membuatmu terus tersenyum seperti yang dilakukan Hyuuga Neji padamu…"

-o0o-

Temari membuka kulkas sementara sebuah ponsel ia jepit di antara bahu kanan dan telinga kanannya. Ia sedang menunggu panggilan tersambung.

"Ngggh….ada apa meneleponku pagi-pagi?" terdengar suara serak malas-malasan di seberang sana.

Temari tersenyum kecil seraya menuangkan sebotol jus apel pada gelasnya. Ia terkikik kecil, "Sudah kuduga, kau pasti baru bangun tidur, bukan?"

"Ya…seribu untukmu…"

Temari menjeda obrolannya dengan meneguk sedikit jus apelnya. "Kau sama sekali tak berubah."

Terdengar suara gumaman malas di telinga Temari.

"Berubahlah sedikit dan buat aku terkejut ketika aku sudah sampai di Konoha." ujar Temari sambil duduk di atas meja makannya. Tak ada jawaban dari seorang Shikamaru, hanya terdengar dengkuran halus.

"—DUBRAK!—APAAAAAAA! KAU KE KONOHA!"

Temari pun mengembungkan pipinya menahan tawa. Lalu ia tertawa lepas. "Ahaha! Reaksimu berlebihan bodoh!"

"Temari! Jangan bercanda! Kau membuatku jatuh!"

"Ahahahaha, iya iya! Haha, aku akan ke Konoha beberapa bulan lagi."

Tak terdengar lagi suara Shikamaru di seberang sana. "Kau serius?"

"Iya. Kenapa? Tidak suka ya!" tanya Temari dengan nada mengancam.

"Mendokusai…"

Temari menggeram mendengar Shikamaru mulai menggumamkan kata yang ia benci. "Kau masih menganggapku merepotkan ya!"

"Ah, bukan bukan. Kau pemarah sekali sih. Aku senang tahu!"

Temari pun mau tak mau tersenyum juga. Ia sedikit tersipu mendengar Shikamaru berkata begitu.

TING TONG

Temari pun beranjak dari tempatnya dan berlari kecil menuju pintu. "Nanti aku akan tinggal di rumah yang dulu. Kau jemput aku di bandara ya." Temari segera memutar kunci dan segera membuka kenop pintu. "Hm, aku akan datang bersama temanku di sini." Pintu terbuka dan memperlihatkan seorang gadis yang berdiri di hadapan Temari sambil menyunggingkan senyum. Seorang gadis berambut cokelat yang mengikat rambutnya menjadi 2 di setiap sisi kepalanya. "Hai, Tenten."

-o0o-

Sakura membuka pintu kelas. Ia sedikit terkejut hanya mendapati seorang Uchiha Sasuke di kelas itu. Tanpa basa-basi, Sakura pun segera memutar tubuhnya—berniat menjauhi kelas.

"Hei, jangan kabur." Suara baritone Sasuke menghentikan langkah Sakura. Sasuke menghela nafas lalu berjalan menuju Sakura. "Hei." Sasuke menarik lengan Sakura dan Sakura langsung menepisnya kasar.

"Apa, sih!"

"Maafkan aku, soal kemarin."

Sakura mendengus. "Kumaafkan asalkan kau dan keluargamu tak mengganggu kehidupanku dengan Neji-kun."

Sasuke pun membuang muka. Ia tak bisa menjawabnya, sudah pasti 'kan? Sasuke hanya bisa menatap Sakura tidak jelas. Dan perlahan tangannya terulur untuk mengelus rambut Sakura. Ia menghela nafas.

"Sakura." Sebuah suara berat membuat Sakura dan juga Sasuke menoleh cepat ke sumbernya.

"Eh, Neji-kun!" Sakura segera menepis tangan Sasuke di kepalanya dan tertawa hambar. "Ah, akhirnya kau mau juga datang ke kelasku." Sakura pun menghambur ke pelukan Neji seolah menunjukkan pada Sasuke bahwa ia sangat mencintai kekasihnya.

Neji terdiam dan pandangannya mengarah pada Sasuke. "Siapa?" tanya Neji ingin memastikan.

Sasuke tersenyum kecil lalu memiringkan kepala sejenak. "Kau tahu? Namaku Uchiha Sasuke."

Tanpa disadari, tangan Neji mengepal erat. Mata lavendernya terus saja mencoba menantang mata onyx di depannya. Ingin sekali ia menghajar wajah tampan di hadapannya, namun bagaimanapun, Neji sudah cukup dewasa untuk mengendalikan emosi. Dan ia tahu, untuk sekarang ini, ia tak boleh memiliki emosi. "Aku Hyuuga Neji."

"Ya…senang bertemu denganmu." Sasuke tersenyum tipis. 'Dari wajahnya saja aku sudah tahu kalau kau menyebalkan.'

"Aku juga." Neji terus menatap tajam Sasuke. 'Aku juga, aku juga sangat membencimu.'

Sakura melepas pelukannya dan dikejutkan oleh perang dingin antar onyx dan lavender.

-o0o-

"Sakura! Ceritakan detailnya padaku apa yang terjadi! Aku melihat Sasuke di rumahmu kemarin!" bisik Ino sambil menatap Sakura tajam.

Sakura membulatkan matanya. Bagaimana Ino bisa… Dalam hati ia sungguh mengutuki Sasuke dengan segenap hati. "K-kau bicara apa sih! Kemarin itu…"

"Aku melihatnya, Sakura! Kau selingkuh ya!"

Sakura terdiam. Ia hendak berbicara namun lidahnya kelu. Ia lirik bangku di sebelahnya, namun Sasuke tidak ada di tempat—sedang dengan Naruto. Sakura pun memutar bola matanya, berbohong pun sama saja. Namun, memutar fakta dan mengubahnya sedikit, tentu tidak sama. "Ya, sebagai teman yang bangkunya berdekatan, Sasuke datang ke rumahku kemarin. Dia ingin meminjam beberapa buku pelajaran."

Ino memicingkan mata.

"Jangan mencurigaiku, pig."

Ino pun membuka mulutnya. "Tapi, aku lihat banyak orang di rumahmu dan kau malah kabur dari rumah."

Sakura terdiam. Apa-apaan ini? Rasanya…kehadiran Sasuke membuat kehidupannya menjadi berantakan. "Ya, aku hanya sedang buru-buru janjian dengan Neji, lalu Sasuke—yang ternyata datang bersama keluarga itu membuat Granny tidak enak jadi…"

"Kau bohong. Buat apa membawa keluarga segala kalau cuma meminjam buku." potong Ino tak mau jika argumennya salah.

Sakura bungkam. "Terserah kau sajalah, Ino."

TEEEEEEET

"Sudah masuk." Kata Sakura mengingatkan.

Ino menatap Sakura dengan tatapan kenapa-kau-tak-mau-menceritakan-yang-sesungguhnya-padaku. Lalu dengan gusar, Ino pun berjalan menuju bangkunya. Saat itu, Hinata baru datang bersama Naruto dkk. Hm, Ino yakin, pasti dalam perjalanan menuju kelas, Naruto bertemu Hinata dan menyuruh Hinata untuk tidak masuk kelas dulu.

Sakura berpura-pura cuek saat merasakan bangku di sebelahnya telah terisi. Dan itu membuat Sasuke merasa disindir. Sakura berpura-pura membaca buku dan ia sama sekali tak menyadari bahwa Sasuke memandangnya lembut.

'Andai Hyuuga Neji belum memilikimu…'

-o0o-

Mitarashi Anko memasuki kelas 1-1. Ia berdehem ketika melihat Naruto membelakangi dirinya sambil memegang kertas pesawat-pesawatan.

"Naruto!" geram Anko.

GLEK

Naruto pun memutar tubuhnya lalu duduk di tempatnya dengan takut-takut. Ia sampai lupa kalau Guru Sastra Jepangnya itu bisa memasuki kelas tanpa suara.

"Huh." Anko pun mendengus. "Baiklah, kumpulkan PR kalian di mejaku."

Semua diam.

"SEKARANG!"

Lalu semua murid di kelas itu grusak-grusuk membuka tas mereka. Namun, tidak untuk Sakura. Ia tak mendapati buku Sastra Jepangnya di dalam tas.

"Hei, jidat." Panggil Ino sambil melempar buku Sakura yang dipinjamnya. "Sudah kukerjakan tuh."

Sakura pun menatap Ino dan menghela nafas lega. "Makasih ya."

Ino mengangguk sambil mengedipkan mata. Sakura pun mengumpulkan PRnya yang merupakan hasil pekerjaan Ino.

.

Anko sibuk membuka-buka buku PR murid kelas 1-1. "Haruno Sakura." Anko mengangkat buku yang dibukanya. "Ini bukan tulisanmu."

Sakura terkejut dan menelan ludah. Oh, Kami-sama… Ia lupa kalau Anko paling hafal tulisannya—karena Sakura murid kesayangan.

"Keluar dari sini dan kerjakan PRmu sendiri!" Anko pun melempar buku Sakura.

.

Sakura tak henti-hentinya mengeluarkan air mata dengan tangan memegang bolpoint. Sudah 3 menit sejak ia diusir dari kelas dan harus mengerjakan PR 2 kali lipat di luar kelas. Padahal, selama ini ia tidak pernah dihukum oleh guru.

"Kau hobi sekali menangis sih."

Sakura terdiam dan mengeluarkan air matanya semakin banyak setelah mendengar suara tadi yang baru-baru ini didengarnya, suara Uchiha Sasuke.

Sasuke pun mendekati Sakura. Sasuke juga disuruh keluar karena tidak mengerjakan PR. Padahal ia 'kan murid pindahan.

"Hiks…hiks…hiks…"

Sasuke memutar bola matanya bosan. Sepertinya Sakura tidak menyadari—atau lebih tepatnya tidak mau menyadari kehadirannya.

"P-padahal…hiks…aku…hiks…hiks…"

Sasuke pun duduk di sebelah Sakura. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba ia memeluk Sakura. Sakura tak menolak dan malah menangis di dada Sasuke. Hn, Sasuke yakin. Pasti selama ini Sakura tak pernah dihukum seperti ini.

"Hiks…uh…Ne-Nej..i…k-kun…"

Sasuke terdiam. Suara isakan di depan dadanya membuat ia terdiam seribu kata.

-o0o-

Sebulan telah berlalu. Entah mengapa, selama itu, Sakura tak lagi mendapat tekanan dari Madara. Entah Madara telah mengerti dirinya atau apalah. Tapi yang jelas, selama sebulan itu pula Sakura mendapat kesempatan terus bersama Neji. Hubungannya dengan Sasuke pun semakin membaik. Dan Sakura tak tahu bahwa selama sebulan itu, Madara terbaring di rumah sakit. Sasuke pun hanya mengetahui bahwa Opanya sedang berada di Kiri.

Neji memasuki kamarnya yang bernuansa lavender. Perlahan, ia menyeret kakinya melangkah ke depan meja belajarnya. Ia tarik sebuah kursi di sana. Lalu ia menghela nafas sejenak. Sebulan sudah, dan ia masih belum bisa merelakan Sakura. Apa ia egois? Entahlah.

FLASHBACK : ON

"Siapa nama cucu Anda?"

"Uchiha Sasuke."

Neji tak berkata apa-apa. Ia merasa seluruh tubuhnya jadi bergetar sendiri. Apa yang terjadi? Tentu saja, ia takut. Ia takut. Kalian tahu? Ia sangat takut.

Madara pun berdiri dari tempatnya. Ia pun menghampiri Neji. Dan Neji dibuat terlonjak ketika Madara malah bersujud padanya. "Kumohon, aku…tidak ingin mati dengan cara seperti ini—tak menepati sumpahku."

Neji melirik Madara sedikit. Entah kenapa tidak ada niatan di hatinya untuk mencoba membangunkan Madara. Ia sungguh tak tahu. Baiklah, apa mungkin benar apa yang dikatakan ayahnya? Neji masih kecil, ia tak tahu apa-apa tentang cinta. Tidak, bukan, entahlah. Mungkin saja Sakura memang hanya cinta sesaatnya. Ia hanya main-main?

"Kumohon…" Madara mulai terisak.

Neji, kau egois? Kau tak bisa dewasa? Apa yang harus kau lakukan?

"Aku…sungguh…"

Neji pun berdiri dari tempatnya dan sukses membuat Madara menghentikan permohonannya. "Maaf, tolong izinkan saya bersamanya…walau hanya sejenak saja."

FLASHBACK : OFF

Neji menghela nafas berkali-kali. Sudah sebulan ini ia gunakan waktunya untuk terus bersama Sakura. Apa yang dirasakannya? Hatinya bergejolak. Ia sama sekali belum tahu, apa ia sungguh mencintai Sakura? Tapi…entah kenapa ia tak ingin melepaskannya.

Drrt…drrt…

"Moshi-moshi?"

"NEJI-KUUUUN!" teriak Sakura di seberang sana.

"Hn, ada apa?" tanya Neji sambil membuka laci mejanya.

"Mmm, hari ini aku sedang ada di suatu tempat."

Neji tersenyum mendengar suara Sakura yang terdengar ceria itu. Lalu ia mengambil beberapa foto dari laci mejanya. Foto-foto ia bersama Sakura. "Oh ya? Kedengarannya di sana berisik sekali." Neji mengamati foto-foto di mejanya sambil tersenyum.

"Hm! Aku sedang di mall! Bersama beberapa teman-temanku! Neji-kun mau kesini tidak?"

Neji terdiam. Lalu ia menghala nafas untuk yang ke sekian kalinya. "Ng, aku…"

"HEH! SASUKE! APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN TANGANKU!"

Neji mengerutkan dahi. Apa yang terjadi?

"Eh! Maaf, Neji-kun! Tadi ada temanku yang tak sengaja menumpahkan minumannya ke tanganku…hehe…"

Neji terdiam. "Kau…sedang bersama siapa?" tanyanya memastikan.

"Sebenarnya dengan banyak temanku, hanya saja sekarang kami sedang berpencar-pencar, jadi sekarang aku sedang bersama Sasuke."

Neji meremas foto yang sekarang dipegangnya. Sakura…sedang bersama Sasuke…

"Ng, aku tidak enak hanya berdua sekarang dengan temanku, Neji-kun kesini ya!"

Neji memejamkan mata. Sakura…terdengar sangat akrab dengan Sasuke. Apa mungkin juga selama ini Sakura memang hanya jadi cinta sesaatnya? Entahlah…tapi kenapa sekarang hatinya jadi merasa tak tenang? "Saku…"

"AWWW! JANGAN MENCUBITKU, SASUKEEEE!"

Neji menggeram tertahan. Apa-apaan tadi? Cubit?

"Ah, maaf Neji-kun, tadi…"

"Maaf Sakura, aku tak bisa datang. Hari ini aku ada janji les." kata Neji bohong. Kini ia mengulurkan tangannya ke sebuah box yang berisi barang-barang kerajinan tangan. Ia mengambil gunting di dalamnya.

"Oh, begitu…ng, ya sudahlah…Neji-kun mau pesan sesuatu?"

"Tidak." Neji mulai memandangi sebuah fotonya dengan Sakura sayu. Foto saat perayaan Sakura lulus SMP. Saat itu memang banyak orang, namun itu adalah foto yang sengaja mengambil gambarnya dengan Sakura saja.

"Oh, baiklah. Sampai jumpa."

"Aa." Neji tersenyum kecut. Bahkan Sakura tak memaksanya. Yah, mungkin memang ini yang harus dilakukannya. Bersikap dewasa.

.

.

.

Terlihat beberapa kertas berserakan di atas sebuah meja yang diterpa sinar matahari sore. Sebuah meja di dalam sebuah kamar bernuansa lavender. Dan beberapa dari kertas itu telah terpotong-potong menjadi bagian kertas yang lebih kecil. Hn, potongan dari kertas foto Hyuuga Neji bersama Haruno Sakura.

"Maafkan aku…Sakura."

TBC


A/N

Konbanwa gozaimasu…

Hoshi Yamashita di sini…

HYAAA! MAAF BANGETTTT! APA READERS KECEWA DENGAN CHAPTER INI? *harap-harap cemas*. Waktu saya baca ulang, entah kenapa banyak banget adegan nangisnya. Saya jadi takut buat readers yang nggak suka sama adegan beginian. Mungkin ini terpengaruh sama mood saya kali ya? Waktu saya ngerjain chap ini sambil nonton videonya Itachi! T.T walau sudah nonton berkali-kali, tetep aja saya nangis! I LOVE YOU ITACHI!

Saya jadi ngerasa Neji kasian bangetttt! Cuma mau gimana lagi, inilah alur ceritanya…jangan kecewa ya readers… Tapi mungkin buat chap depan, semua bakal berubah! Happy happy full! Kalian bisa nebak 'kan? Chap depan, HAL BESAR apa yang bakal terjadi?

Btw, maaf banget kalau saya ngupdatenya ngaret banget, saya jadi takut, jangan-jangan para readers sudah lupa sama ini fic. T.T buat beberapa minggu ini, mungkin saya bakal memanfaatkan waktu buat ngupdate fic sebelum acara OSIS saya dimulai. Do'ain biar saya nggak ngaret update ya… *puppy eyes* Buat yang nunggu My Evil Butlers, mungkin dalam beberapa hari ini saya bakal update, tapi nggak janji ya ^^

Special Thanks to:

Inori Shirayuki, Hikari Shinju, New, yu-chan, Devil's of Kunoichi, New, Uchiha Eky-chan, Kurosaki Naruto-nichan, Fae-chan, 4ntk4-ch4n, Ara Jessica Russo, Michi-chan Phantomhive626, Yuuki d'gray girl, Haruchi Sasusaku, Putri Luna, Thia2rh, Murasaki Weed, Melody chang, Cath, Matsumoto Rika(2), rchrt, hiru no akuma, Yunna-chan, Nay Hatake, V3Yagami, Soraka Menashi, Risuki Taka, Shadow, Leader Kimmi, annida a nurdiani, Richi Hasegawa, senayuki-chan, Mieko luna-chan sasori, ishikeshi ayay, Meity-chan, uciha ailya-chan, isengisengberhadiah, haruno gemini-chan, Nhissa feehily

Dan semua readers yang mau repot membaca fic ini ^^

Balas review ga login:

Hikari Shinju : Makasih banyak. ^^ Haduh, saya nggak tahu harus gimana, ini termasuk ada yang terluka nggak sih? Karena reviewnya kamu, saya jadi ragu-ragu publish nih. Haduh…jangan kecewa ya, Hikari-san… saya usahakan nanti bakal bahagia semua… RnR lagi ya

New : Makasih banyak. ^^ hehe, ini termasuk panjang nggak? RnR lagi ya

yu-chan : Makasih banyak. ^^ maaf banget kalo updatenya ngaret *pundung* RnR lagi ya

Fae-chan : Makasih banyak. ^^ Hehe, ada deh yang bakal dilakuin Sasu… Hehe, buat chap ini ada romancenya nggak sih? *celingak celinguk*. Eh? Haduh, saya sih narinya juga nggak terlalu bagus, ehe, kalo nggambar mungkin bisa, oho… RnR lagi ya

Haruchi Sasusaku : Makasih banyak. ^^ gapapa kok baru review sekarang, ehe, saya tetap senang. Ng, Neji terima atau tidak, sudah tahu jawabannya 'kan? Maaf update ngaret, RnR lagi ya

Thia2rh : Makasih banyak. ^^ Ini udah update walo ngaret, RnR lagi ya

Melody chang : Makasih banyak. ^^ salam kenal juga…ini sudah update, yap! Saya bakal usaha buat semangat terus! RnR lagi ya

Cath : Makasih banyak. ^^ Ng, updatenya nggak kilat banget nih, ehe…maaf…*mojok* RnR lagi ya

Matsumoto Rika(2) : Makasih banyak. ^^ Hehe, haduh, ga tau mau ngomong apa lagi nih. Ini udah update walo nggak kilat banget, ehehe RnR lagi ya

hiru no akuma : Makasih banyak. ^^ Jiah, ngurusi kamu, nggak penting , ini udah update, RnR lagi ya

Yunna-chan : Makasih banyak. ^^ ini dah update walo nggak kilat banget, ehehe… RnR lagi ya

Soraka Menashi : Makasih banyak. ^^ suka banget sama Sasuke sih? Gaaranya gimana? Ckck, panggil nee-chan nggak papa. Sakura marah-marah ke Sasuke ah…*digaplok* RnR lagi ya

Shadow : Makasih banyak. ^^ entah kenapa, kalau baca review dari kamu, saya bawaannya pengin ketawa terus. Kamu sama Fae-chan sodaraan? Ah…jadi pengin punya sodara kayak kalian, kayaknya kocak sama nyenengin banget! Hehe, hubungannya Neji sama Sakura mungkin bakal…t*m*t, tapi mungkin lo. Kalo Sasuke sih…menurut kamu cinta nggak sama Sakura? He? Fae-chan pesumo ya? Hebat dong…Hehe, RnR lagi ya

annida a nurdiani : Makasih banyak. ^^ hehe, haduh, terharu saya. Saya lanjutin kok, RnR lagi ya

Meity-chan : Makasih banyak. ^^ Iya, Neji kasian ya…tapi tenang deh, Neji nggak bakal saya bikin menderita, saya juga Neji FC sih, ehe… ini udah update, RnR lagi ya

isengisengberhadiah : Makasih banyak^^ Hm, ya...gitu deh, nanti saya pikirkan,yangpenting kamu ikuti saja ceritanya ya...dan RnR lagi

Nhissa feehily : Makasih banyak ^^ Masa sih kamu terharu? haduh..haduh... Kalo dah update RnR lagi.

.

Akhir kata,

Kritik, saran, pujian *ngarep*, masukan, sepatah dua patah kata penyemangat, atau apa saja yang termasuk kategori REVIEW (terkecuali flame), sangat saya harapkan! ^.^

.

Dan saya perjelas lagi, tidak menerima flame dalam bentuk apapun karena saya yakin para flamer cukup cerdas untuk mengetahui arti kalimat "Don't like? Don't read"

.

Hehe, REVIEWnya please…