Madara menyentuk-nyentukkan jarinya beberapa kali. Ia terus saja memandang keadaan luar jendela dengan seulas senyum tipis. Ia menghela nafas berat. Ia merasa sangat baik begitu bangun pagi ini. Perasaannya sangat sejuk. Ia seperti mendengar sebuah suara lonceng diiringi musik klasik. Ya…lonceng…dentuman irama yang menyejukkan.
TOK TOK TOK
Madara mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Sekarang ini ia tidak berada di rumahnya, melainkan di Rumah Sakit Swasta Internasional Konohagakure. Ia telah bangun—dari mimpi panjangnya—dengan hati yang sangat tenang.
"Madara-sama, surat dari Hyuuga Hizashi." ucap Hayate begitu memasuki ruangan berbau obat-obatan itu. Ia segera menyerahkan sebuah amplop cokelat kepada Madara.
"Hm… " Madara menggumam pelan lalu merobek perlahan amplop di tangannya. "Terima kasih, Hayate. Pengabdianmu selama ini sungguh berarti untukku." kata Madara tanpa mengalihkan pandangannya dari amplop.
"Apapun untuk Madara-sama." Hayate membungkuk kecil sambil tersenyum tulus. Selama Madara terbaring di Rumah Sakit, ia lah yang terus menjaganya.
Madara membaca dengan teliti setiap kata yang tercetak di kertas putih dalam amplop itu. "Aku mengerti masa remaja." ujarnya memecah kecanggungan. "Karena mengizinkan Neji bersama Sakura sejenak, membuatku tak sadarkan diri seperti dulu." Madara tersenyum. "Aku bernostalgia,"
Hayate hanya menanggapi dengan gumaman ringan disertai senyum tulus.
"Kupikir, aku benar-benar akan mati, tapi ternyata aku sadar kembali. Kau tahu, Hayate? Bagaimana perasaanku ketika bangun?"
"Saya tidak tahu, Madara-sama."
Madara menghela nafas. "Aku merasa seperti lahir kembali. Ketika yang kulihat hanyalah dinding hitam, aku mendengar suara lonceng gereja dan mataku terbuka kembali." Madara menoleh ke Hayate. "Mana Fugaku dan Mikoto?"
"Sedang dalam perjalanan, Madara-sama."
Madara pun tersenyum kembali. Ia segera mengangkat surat di tangannya. "Hyuuga Hizashi berhasil." Lalu ia alihkan pandangan ke arah luar jendela. Terlihat di mata obsidiannya sebuah sarang burung di dahan pohon momiji. Di dalam sarang burung itu terlihat 2 ekor burung sedang menunggu sebuah telur untuk menetas. Pandangan Madara melembut setelah itu, hm, keluarga burung yang hangat. "Aku tak sabar menantinya." Madara menghela nafas. "Sasuke dan Sakura ketika menjadi pengantin baru yang masih belia."
.
.
.
Young Newly-Married
Disclaimer : kalo punyaku, aku udah kaya dari dulu dong! *digantung Masashi Kishimoto*
Rated : T
Genre : Romance, Family, Drama, terserah readers lah!
Pair : SasusakuNeji slight other pair.
WARNING : AU, OOC, OC, Long Chapter (7122 words), Gaje, abal, misstypo (maybe), dll.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ PLEASE
but…
HAPPY READING!
Chapter 6: Young Newly-Married
Mikoto segera membuka pintu kamar rawat Madara lebar-lebar. Pandangannya mengabur ketika terlihat Madara sedang tersenyum sambil bersandar di ambang jendela. "Ayah…" Mikoto pun segera menghambur ke pelukan Madara. Ia terisak di sana. Betapa kepiluan dan kerinduannya meluap-luap. "Syukurlah…syukurlah Ayah sudah sadar…"
Fugaku hanya berdehem sambil melangkahkan kakinya menghampiri Madara. Dari sorot mata Madara sekarang, membuat Fugaku mengerti bahwa telah terjadi sesuatu. "Selamat melihat dunia kembali, Ayah."
Mikoto segera melepas pelukannya. "Berbohong pada Sasuke tentang keadaan Ayah sangat menyiksaku, Ayah membuatku sangat khawatir tentang ketidaksadaran Ayah yang tiba-tiba. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Maaf, aku hanya meninggalkan sepucuk surat permintaan agar merahasiakan keadaanku dari Sasuke sebelum aku tak sadarkan diri."
Mikoto mengangguk mengerti sambil menghapus air matanya yang berjatuhan semakin banyak.
Madara menerawang kecil. "Hyuuga Neji, seorang anak pemberani. Ia memintaku langsung untuk mengizinkannya tetap bersama Sakura walau hanya sejenak saja. Itu membuatku salut. Itu membuatku mengingat bagaimana diriku yang dulu mati-matian mempertahankan cintaku. Ia…seorang lelaki hebat yang bisa bersikap dewasa…sebuah sikap yang tak kutemukan pada diri Itachi maupun Sasuke."
Mikoto tertegun lalu menatap Madara serius. "Jadi, Ayah tak sadarkan diri karena…"
Madara mengangguk mantap. "Setidaknya, hanya itu yang bisa kuberikan padanya setelah merebut seseorang yang berharga dalam hidupnya."
Mikoto membulatkan mata. Ia tutup mulutnya yang setengah menganga dengan telapak tangan. "Jadi—"
"Bagaimana hasilnya?" tanya Fugaku tegas.
Madara menatap Fugaku dan Mikoto bergantian. Ia pun mengangkat sudut bibirnya tinggi-tinggi. "Neji bersedia untuk melepaskan Sakura."
Fugaku dan Mikoto pun membulatkan mata mereka. Bahkan Mikoto sampai menganga lebar tak percaya. Tubuh Mikoto mendadak menjadi limbung dan dengan sigap, Fugaku langsung menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh. Hm, air suci pun terurai di sudut mata Mikoto lagi.
Mikoto memeluk Fugaku tak percaya. Kini dirinya menangis bahagia. Ia benamkan wajahnya di dada Fugaku. Ia sangat…bahagia. "Sasu…ke…Fuga…Sasuke…akan meni…kah…"
KRIET…
Pintu terbuka dan menampakkan sesosok wanita berumur yang berbalut pakaian dokter. Matanya menatap Madara tajam. Tapi sejurus kemudian ia tersenyum seraya menghampiri Madara. "Aku ikut senang atas berita ini." Lalu wanita berambut pirang berkuncir 2 itu segera mengambil tempat di sisi ranjang Madara. "Aku sudah menghubungi Jiraiya dan juga…kedua orang tua Sakura."
Madara mengangguk kecil. "Akan menyenangkan bertemu dengan Jiraiya…dan juga Kiyoka dan Ochika, Tsunade."
-o0o-
New York City,
10.00 p.m.
Seorang wanita berambut merah sedang sibuk dengan setumpuk kertas-kertas di meja hadapannya. Mata emeraldnya yang dipadu dengan kaca mata berframe putih itu tak henti-hentinya menerjemahkan sederet tulisan kanji dan hiragana ke dalam otaknya. Dahinya yang tak berponi mengeluarkan sedikit peluh. Ia menghentikan aktivitas awalnya ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Kau terlihat serius." Dan dari balik pintu pun menampakkan sesosok lelaki berambut putih keperakkan sedang membawa nampan berisi 2 cangkir kopi panas—terlihat dari asapnya yang mengepul. "Ada apa?" tanyanya lagi setelah menaruh secangkir kopi di depan wanita tadi.
Sang wanita hanya menatap sang lelaki datar. Lalu ia menyesap kopinya sedikit. "Hm, aku baru saja mendapat surat dari Ibu, Kiyoka."
Kiyoka—lelaki tadi—menaikkan alis lalu mendudukkan dirinya di sofa terdekat. "Kau berkata seolah itu adalah hal yang baru, hm."
Ochika—istri dari Kiyoka—mendesah pelan. "Bukan hal baru, tapi mengejutkan, kau tahu?" Ia memutar kursinya agar menghadap suaminya. "Dalam beberapa hari lagi putri kesayangan kita akan menikah dan kita harus ke Jepang secepatnya."
Kiyoka membulatkan matanya. Tangannya bergetar ketika baru saja menyentuh pegangan cangkir kopi panasnya. Ia pun menatap lekat istrinya. "Hei, coba kuingat. Bukankah Sakura baru berusia 15 tahun? Kupikir anakku hanya Sakura…kenapa…err…"
Ochika mengangguk mantap. "Ya, dan dia akan menikah. Repot juga memiliki putri yang sangat cantik. Tapi Ibu melarang kita tak berbicara apa-apa tentang pernikahan pada Sakura, dia memiliki alasan khusus, nanti kujelaskan." kata Ochika dengan nada rendah di akhir kata.
Kiyoka pun mengatupkan mulutnya yang sempat terbuka lebar. Ia melirik kaca jendela di ruangan itu yang memperlihatkan keindahan Kota New York. Ia mendesah pelan lalu melirik istrinya. "Siapa yang melamar?"
Ochika memejamkan mata sambil tersenyum. "Hm, Keluarga Uchiha."
"Uchiha? Dalam rangka apa Uchiha berani-beraninya melamar putriku?" geram Kiyoka.
Ochika pun menghampiri Kiyoka dan mengendikkan bahu. "Uchiha Madara mempunyai masalah khusus sehingga cucunya harus menikahi anak kita."
Kiyoka mengangkat alisnya heran. Uchiha Madara? Oke, siapapun di dunia bisnis pasti mengenal siapa Uchiha Madara. Tapi… "Siapa menantuku?"
"Hm, Uchiha bungsu yang tampan." Ochika menjepit sebuah foto di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Lalu ia tunjukkan foto itu ke Kiyoka. "Uchiha Sasuke."
Dan seulas senyum pun terkembang ringan di bibir seorang Senju Kiyoka.
-o0o-
Sakura melambaikan tangan pada teman-temannya yang berada di dalam mobil. Ia diturunkan di halte bus dengan jurusan menuju rumahnya. Kenapa ia tidak diantar sampai rumah? Karena teman-temannya yang lain akan melanjutkan acara hiburan ke tempat karaoke . Hn. Dan sekarang ia hanya berdua bersama Sasuke yang juga tak berminat untuk hura-hura sampai larut malam.
Selagi menunggu kedatangan bus pun mereka mengobrol.
"Hei, Sasuke. Aku bosan bersamamu terus."
Sasuke mendengus. "Jika kau berkata seperti itu, nanti malah kebalikannya."
Sakura menggeram lalu mencubit lengan kiri Sasuke dan sukses membuat Sasuke mengaduh kesakitan. "Menyebalkan," Sakura menggembungkan pipinya. "Ngomong-ngomong…ng…bagaimana keadaan Opa?" tanya Sakura sembari memalingkan wajahnya.
"Hn? Dia masih di Kiri."
"Oh. Kupikir…err…" Sakura pun menunduk. 'Untunglah Opa tidak mati karena aku tidak menikah dengan Sasuke… Eh! Kalau begitu! Sumpah Opa bohong dong! Nyatanya, Opa tidak mati walaupun aku dan Sasuke tidak menikah! Tapi… Eh! Tunggu dulu! Kenapa sekarang aku malah jadi memikirkan itu! Sakura paya—'
Perkataan batin Sakura terpotong ketika ia merasakan sesuatu menggenggam tangannya, hn, tangan Sasuke menggenggam tangannya. Saat Sakura masih dilanda kebingungan, ia memberanikan diri untuk mendongak ke atas. Sasuke sama sekali tak meliriknya. Entah Sasuke sadar sedang menggenggam tangannya atau tidak.
"Aku senang kita bisa jadi teman." kata Sasuke tiba-tiba.
Sakura menaikkan sebelah alisnya lalu berdehem. "Aku biasa saja tuh." Sakura memalingkan wajahnya malu.
Sasuke tersenyum tipis. Ia memang pura-pura terlihat tak sadar menggenggam tangan Sakura. Dan ia sangat senang karena ternyata Sakura tak menepis tangannya. Mengingat sesuatu, Sasuke segera menekuk bibirnya. 'Aku ini bebal. Kenapa sekarang ini aku malah ingin Opa memaksaku kembali untuk menikahi Sakura? Uchiha bodoh…'
-o0o-
Sakura menaikkan alis melihat ada 2 pasang sepatu yang asing di rumahnya. Apa ada tamu? Sepasang sepatu laki-laki dan sepasangnya lagi perempuan. Apa Fugaku dan Mikoto? Karena sepatunya mirip sepatu milik orang dewasa.
"Sakura sayang…kau sudah pulang ya? Selamat datang."
Sakura cepat-cepat mengangkat wajahnya dan membulatkan mata. Badannya menjadi kaku ketika melihat siapa yang baru saja berbicara tadi. Sesosok wanita berambut merah sebahu, bermata emerald, dan bertubuh tinggi. Wanita itu tersenyum lalu merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Ibu!" Sakura tak mampu menahannya lagi. Air matanya tumpah di pelukan sang ibunda. Ia terisak bahagia.
Ochika segera membelai rambut unik milik anaknya. Ia tersenyum lembut. Pandangannya sayu sejenak. "Kau pasti merindukan Ibu ya? Maaf jika selama ini Ibu selalu jauh darimu…"
"Hiks…a-aku…hiks…Ibu…hiks…"
Ochika segera membimbing putrinya yang sedang terisak menuju kamar putrinya. Dan Sakura sama sekali tak mau melepaskan pelukannya walau sudah bermenit-menit mereka saling berpelukan melepas rindu.
"Ada acara apa? Kenapa tiba-tiba Ibu datang kesini?" tanya Sakura ketika tangisnya telah mereda. Di sofa mini pink di kamarnya, ia sedang berbincang dengan ibunda tercintanya.
"Hmm, Ibu sangat kangen dengan putri Ibu!" Ochika pun mencubit hidung Sakura gemas. Lalu ia beralih mengacak rambut Sakura.
"Bagaimana dengan Ayah? Apa Ayah kesini?"
"Hm, bagaimana ya? Mungkin sebentar lagi dia akan…"
KRIET
Pintu terbuka dan menampakkan sosok jangkung berambut putih keperakkan dan bermata hazel sambil membawa sebuah kantung plastik. "Aku membawa juubako berisi yakiniku."
"Ayah!" dan Sakura pun tak bisa menahan dirinya untuk memeluk Kiyoka.
-o0o-
Sasuke terlihat sedang termenung dengan tangan kanan memegang gembor. Hn, ia melamun saat sedang menyiram bunga.
"HOI!" Itachi menepuk bahu Sasuke dan sukses membuat jantung Sasuke berdebar tak karuan karena kaget.
"Sialan!" Sasuke segera memerciki Itachi dengan gembor yang dibawanya.
Itachi pun tertawa meledek. "Tumben sekali kau mau berkebun!"
Sasuke mendengus lalu menaruh gembor yang ia pegang di rerumputan. Ia pun segera melepas sarung tangan plastik yang ia gunakan. Lalu ia duduk di kursi putih panjang di belakangnya. "Hanya mencari suasana baru."
Itachi memegang dagunya sok serius. "Hm,hm,hm…jadi kau ingin di kamarmu ada tamannya ya?"
Sasuke menggeram tertahan. "Aku tidak bilang begitu, baka."
"Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong…hari ini Opa pulang lho." Itachi pun mengambil tempat di sebelah Sasuke. "Ih, waw. Tatapanmu membuatku gerah…" Itachi cengengesan ketika perkataannya tadi sukses membuat Sasuke meliriknya.
"Dimana Opa sekarang?"
"Aku bilang 'hari ini Opa akan pulang' dan bukannya 'sekarang Opa ada di rumah' lho Sa-su-ke!" Itachi pun menyentil dahi Sasuke.
"Tapi—"
"Itachi, minggirlah sebentar. Opa ingin bicara dengan Sasuke." Tiba-tiba terdengar suara yang agak serak namun tegas itu di telinga kakak-beradik Uchiha yang sedang bertukar kata.
Sasuke dan Itachi berjengit ketika melihat Madara sedang berdiri tegak di hadapan mereka.
"Eh, Opa sudah pulang!" Itachi beramah ria.
"Itachi, Opa sedang tidak ada waktu untuk berbasa-basi." Madara memberikan tatapan menusuk untuk Itachi. Dan itu membuat Itachi dengan ogah-ogahan pergi dari tempatnya.
Setelah Itachi pergi, Madara pun mengambil tempat di sebelah Sasuke. "Bagaimana hubunganmu dengan Sakura, hm?"
Sasuke pun berbinar cerah mendengar Madara langsung menyebut-nyebut nama Sakura. "Eh, Opa masih memikirkan sumpah Opa ya?" tanyanya antusias.
Madara sedikit heran melihat Sasuke yang terlihat senang itu. Padahal biasanya Sasuke akan langsung marah-marah padanya ketika ia membicarakan Sakura. Tapi ini…"Ng, sejujurnya sih iya. Kau terlihat senang ya, Sasuke, apa terjadi sesuatu antara kau dan Sakura selama Opa di Kiri?"
Sasuke mendelik sesaat. Ia menyadari kebodohannya tadi. Mana sikap coolnya! "Err, iya, begitulah." Sasuke pun mulai berbicara datar.
Madara tersenyum melihat wajah Sasuke sedikit merah. 'Memang terjadi sesuatu selama aku tak sadarkan diri.' Madara pun merogoh kantung kertas yang dibawanya tadi. Ia mengeluarkan sebuah benda persegi panjang dengan tebal 2 cm. "Kau masih setuju dengan pernikahannya 'kan?"
Sasuke menolehkan wajahnya ke Madara cepat. "Eh! Opa masih berfikir itu ya!" tanyanya penuh dengan nada kegembiraan.
Madara tersenyum kecil lalu menyerahkan benda yang dipegangnya kepada Sasuke. "Pelajari ini."
Sasuke menaikkan alis ketika menerima benda yang baru Madara berikan padanya. "Pernikahan Tradisional? Apa maksud—" Sasuke membulatkan matanya. Tubuhnya membatu gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Mungkinkah…mungkinkah…dan onyx yang mengecil itu pun mencari onyx tua yang memandangnya lembut. Mencari dimana akan ia temukan jawaban dari kesungguhan pandangan mata.
"Pernikahanmu akan dilaksanakan dengan adat Uchiha."
.
.
.
-o0o-
Neji menghela nafasnya. Sekarang ia jadi kesal dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia telah berkata pada ayahnya bahwa ia bersedia untuk melepaskan Sakura. Ia tahu akan keputusan yang dibuatnya. Tapi kenapa? Kenapa ia merasa sangat tidak ikhlas sekarang?
Entahlah, Neji hanya merasakan hatinya terasa nyeri ketika mendengar Hiashi mengatakan bahwa Madara akan melaksanakan pernikahan cucunya dalam beberapa hari lagi.
Ayolah Neji…Sakura hanya cinta sesaatmu…lagipula ini demi nyawa manusia…
-o0o-
"Cih, sial. Kalah!" Naruto mengumpat sambil membanting joysick yang sedari tadi setia di genggaman tangannya. Lalu ia merasa gerah sendiri. Tanpa mematikan layar monitor, Naruto langsung ngeloyor ke pintu. Ia haus sekali.
"Eh, Ibu!" Naruto menaikkan alis melihat Kushina berdiri di depan pintu kamarnya dengan tangan ke atas—hendak mengetuk pintu.
"Huh, anak nakal. Apa yang kau lakukan setelah berkaraoke ria hingga senja, HAH!" Kushina pun menjitak kepala Naruto pelan. "Dari tadi Ibu memanggilmu tahu!"
"Iya, iya Bu…aku juga tadi mau turun kok." Naruto menggerutu sebal sambil berbohong. Ia sih keluar dari kamar karena haus, bukan karena mendengar panggilan Kushina.
"Ya sudah! Kau siap-siap sana! Kita akan ke Keluarga Uchiha sekarang. Ayah sudah menunggu di mobil."
Dan mata Naruto pun berbinar cerah. "Eh? Yang benar Bu! Yeeei! Ketemu Teme!"
.
.
.
Naruto duduk di sebuah sofa berwarna putih gading di sebuah ruangan besar. Hm, dan sedari tadi lidahnya berdecak kagum memandangi sebuah chandelier mewah yang menggantung di langit-langit ruangan itu. 'Kapan ya, Ayah mengizinkanku memasang lampu bertingkat di kamar…"
Ya. Naruto dan keluarganya sedang duduk manis di sebuah ruangan di Uchiha Mansion. Mereka sekeluarga sedang menunggu Sang Tuan Rumah menyambut.
"Maaf membuat kalian menunggu lama." Fugaku memasuki ruangan bersama Mikoto lalu mereka menjabat tangan Minato dan Kushina. Lalu mata Fugaku menatap Naruto datar. "Hn, kau sudah besar, Naruto."
Naruto pun nyengir. Ia sedikit kecewa tak melihat Sasuke masuk ke ruangan ini. Oh, nasib sialnya…mendengarkan pembicaraan monoton para orang tua.
"Langsung saja pada intinya. Aku mewakili Ayah untuk memberitahukan kepadamu mengenai permintaan izin status salah seorang murid di sekolahmu." kata Fugaku.
Naruto cuek. Dengan rakus, ia pun membabat cemilan yang tersedia di hadapannya.
"Ya, memang apa status Uchiha Sasuke yang baru?" tanya Minato yang langsung mengerti dengan penuturan Fugaku yang berputar-putar. Kushina pun dengan serius menyimak pembicaraan ini.
"Hn, Uchiha Sasuke menikah. Statusnya adalah suami."
BRUSHHH
Naruto menyemburkan jus apel yang baru saja diminumnya.
"Naruto! Apa yang kau lakukan! Tidak sopan, bodoh!" Kushina segera menjewer telinga Naruto. Ia sungguh malu dengan tingkah anaknya yang keterlaluan ini.
"T-tapi! Tadi! Teme! Su-suami? Suami apa? Teme mau…nikah?"
Fugaku menghela nafas. "Aku tidak heran Naruto kaget begitu. Ya, Sasuke akan menjadi seorang suami. Sebentar lagi ia akan menikah."
Naruto membulatkan mata tak percaya. Gila? Ini gila! Sasuke masih 15 tahun!
"Naruto…mungkin…kau bisa menemui Sasuke di kamarnya. Kau masih ingat dimana letaknya, bukan?" usul Mikoto.
Naruto pun segera meninggalkan ruangan itu dengan tidak sopan. Ia sungguh ingin meminta penjelasan dari Sasuke. Ia tak ingin mendengar penjelasan dari para orang tua.
Sementara Fugaku,Mikoto, Minato, dan Kushina pun pindah ruangan karena ruangan yang tadi mereka tempati telah kotor karena semburan Naruto.
.
.
.
Naruto membuka pintu sebuah ruangan yang sangat ia hafal letaknya di Mansion ini. Tidak dikunci. Ia membukanya perlahan. Dan terlihat di mata sapphirenya sebuah pemandangan bernuansa lautan di ruangan yang baru dimasukinya. Ia mencari sosok yang dicarinya di ruangan yang besarnya melebihi kamarnya itu. Hn, sesosok lelaki yang terlihat terpuruk di pojok ruangan.
"Kau akan menikah, Teme?" Naruto berjalan perlahan mendekati sahabatnya, Sasuke.
Sasuke hanya terdiam. Lalu ia menggeram. "Tadi Kakak, sekarang kau. Apa yang kau inginkan?" Sasuke masih dalam posisinya—menunduk.
"Kenapa kau tak pernah bercerita? Aku sahabatmu."
Sasuke pun mengangkat wajahnya. "KAU PIKIR MUDAH MEMBERITAHUKAN INI PADAMU! KAU TAK BISA MENJAGA MULUTMU" teriak Sasuke sambil menunjukkan wajahnya yang penuh dengan bekas aliran air mata.
Naruto terdiam. "Bagaimana bisa? Kau dijodohkan? Dalam usia 15 tahun?"
Sasuke mendengus. "Bukan hal yang sangat sepele seperti 'perjodohan' yang kau katakan." Sasuke menatap Naruto tajam. "Ini tentang sumpah. Sumpah Opa."
Naruto pun mendudukkan tubuhnya di samping Sasuke. Ini adalah saat-saat dimana ia harus bersikap serius. "Ceritakan pada sahabatmu ini."
"Opa pernah bersumpah ketika Ibu koma." Sasuke menatap langit-langit kamarnya. "Jika Ibu bisa sadar hari itu juga, maka Opa akan menikahkanku ketika aku berusia 15 tahun…"
Naruto terdiam mendengar Sasuke. Ketika ia hendak bertanya siapa calon istri Sasuke, perkataan Sasuke memotongnya.
"…dengan seorang gadis berambut pink."
Mata Naruto membulat seketika dan ia sontak memundurkan tubuhnya karena kaget. Apa? Pink? Pink? Jadi…apa pendengarannya salah? "Maksudmu…S-Saku…"
Sasuke menatap Naruto tajam. "Ya, Sakura satu-satunya gadis berambut pink murni yang ketemui di dunia ini."
Naruto menggigit bibirnya. "JADI KAU AKAN MENIKAH DENGAN SAKURA-CHAN?" Naruto memekik tak percaya.
"Ya."
"Bagaimana bisa! Sakura-chan sudah punya—"
"Diam Naruto. Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah hari dimana Opa bersikeras ingin menikahkanku dengan Sakura."
Naruto mengerutkan dahinya tak percaya. Ini sungguh fakta yang…mengejutkan.
"Usiaku masih 15 tahun… Mentalku masih takut dengan hubungan sakral."
"Kapan? Kapan kau akan menikah?"
"Besok lusa."
.
.
.
Ada yang membuat seseorang takut untuk menyatakan perasaannya kepada orang yang disukai.
.
Takut ditolak kah?
.
Tidak, ini hanya sebuah alasan sederhana.
.
Takut dibenci.
.
.
.
-o0o-
Keesokan harinya…
Sakura menghirup nafas dalam-dalam. Ia berencana akan ke kelas Neji. Ia sangat kesal karena kemarin Neji sama sekali tak membalas e-mail maupun telepon darinya. Padahal ia ingin sekali memberitahukan ke Neji kalau kemarin ia sangat bahagia dengan kedatangan orang tuanya. Sejak dulu, Sakura ingin sekali mengenalkan orang tuanya pada Neji. Namun, entah hanya firasatnya atau bukan…akhir-akhir ini Neji menjauh padanya.
Sakura berdiri dengan percaya diri di depan gerbang sekolah. Ketika ia menggerakkan kakinya selangkah, seorang wanita yang sedang berlari ke arahnya membuatnya berhenti. Seorang gadis berambut pirang berkuncir kuda berlari dengan wajah cemas menghampirinya. 'Ino?'
"Sakura!" Ino segera memegang bahu Sakura erat. "KENAPA KAU TEGA MEMBOHONGIKU? KENAPA KAU MENYEMBUNYIKANNYA DARIKU? AKU SAHABATMU 'KAN!" Ino menatap Sakura kecewa. Kali ini, ekspresinya sama sekali tak dibuat-buat. Ekspresi dari seorang sahabat yang kecewa.
Sakura mengerutkan dahi. "Apa maksudmu, Ino?" Sakura pun berusaha menurukan tangan Ino yang mencengkeram bahunya kencang. Namun Ino tak mau melepaskannya.
"Aku sahabatmu 'kan Sakura? Kenapa kau tak bisa mempercayaiku?" kali ini Ino mengeluarkan air matanya. Air mata dari aquamarine yang menuntut jawaban.
"Apa maksud—"
"SEMUA ORANG SUDAH TAHU, SAKURA! TENTANG HUBUNGANMU DENGAN UCHIHA SASUKE! KAU CALON ISTRINYA!"
Dan Sakura pun membulatkan jadenya. Bibirnya terkatup dan tak sanggup untuk berkata. Bagaimana Ino bisa…bagimana semua orang… Tidak! Lidahnya kelu untuk berucap sepatah kata pun. Tidak! Apa ini mimpi? Kenapa tiba-tiba…kenapa hal yang seharusnya telah terlupakan… "Bagaimana kau bisa tahu? Sasuke kah?"
Ino menatap Sakura sedih. Ia menatap sahabat baiknya. "Bahkan Sasuke mengirimkan surat izin tidak masuknya hari ini."
Dan Sakura bisa merasakan sesuatu jatuh di kepalanya, jatuh di rambutnya. Sesuatu yang ringan dan bermassa kecil. Sebuah kertas. Oke, bukan sebuah. Karena Sakura merasakan ada lagi benda serupa yang jatuh mengenai kepalanya.
"Setidaknya kau bisa tahu dari helikopter yang menyebarkan kertas-kertas di kepalamu."
Sakura dengan cepat menangkap salah satu kertas yang jatuh. Lalu ia membacanya dengan tangan gemetar.
.
Undangan Pernikahan
Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura
Upacara Pernikahan akan dilaksanakan pada tanggal 15 september mendatang.
.
Sakura merasakan tangan-tangan dan seluruh uratnya menegang. Kaku, bergetar, tak bertumpu, hilang arah. Ia hanya membaca 3 baris dari puluhan baris kalimat yang tercetak di kertas tebal berwarna kuning keemasan yang dipegangnya.
Dengan takut-takut, Sakura mendongak ke langit. Dan matanya menyipit ketika melihat ada 3 helikopter yang sedang menurunkan HUJAN KERTAS UNDANGAN PERNIKAHAN dari atas gedung sekolahnya.
Ini…keterlaluan.
Jadi ini sebab mengapa orang tuanya ke Konoha?
Sakura menyipitkan mata dan berusaha mati-matian untuk menahan air mata yang sudah di ambang jadenya. "Teganya kau membohongiku…Sasuke…" desis Sakura pelan. Ia pun menurunkan tangan Ino di bahunya dengan lemas. "Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, Ino…" ucap Sakura lemah.
Dan ketika Ino menyerah—melepaskan cengkeramannya pada bahu Sakura—, Sakura pun segera menggerakkan langkah kakinya secepat-cepatnya. Ia berlari menembus kerumunan murid-murid yang menatapnya heran sekaligus tak percaya. Namun Sakura tidak menghiraukan tatapan para murid yang penuh tanda tanya padanya. Apa yang ada dalam benaknya sekarang?
Bagaimana aku harus menjelaskan ini padamu, Neji-kun?
Yang ada di pikiran Sakura sekarang adalah bertemu Neji dan menjelaskan semuanya. Ia harus menjelaskan semuanya. Melihat seorang lelaki berambut panjang membelakangi langkahnya, Sakura segera mempercepat larinya. "N-Neji-kun!" panggil Sakura.
Neji membalikkan tubuhnya. Ia menatap Sakura dengan ekspresi datar. Dan yang membuat Sakura menggigit bibir adalah karena ia melihat undangannya di tangan Neji! Sakura pun segera merebut undangannya dari tangan Neji.
"Neji-kun! Ini tidak seperti yang kau pikirkan!" Sakura pun merobek undangannya.
"Aa, aku mengerti." Neji tersenyum.
Sakura mengangkat kepalanya dan menatap Neji. Ia mengerutkan dahi melihat ekspresi Neji. Neji terlihat…bahagia?
"Ini adalah hari yang sangat kutunggu-tunggu. Hubungan kita sampai di sini saja."
Dan sudah kesekian kalinya mata jade berkilat itu membulat sempurna. "A-ap-apa yang…N-Ne.."
"Aku telah mendengar ceritanya dari Uchiha Madara langsung."
"A-apa…kapan…kau…" Dahinya berkerut, Sakura tak habis pikir. Apa yang terjadi? Bahkan Madara sampai bicara dengan Neji.
"Aku tak pernah serius denganmu, kita akhiri saja hubungan ini. Terlebih kau harus menikah."
Sakura menggigit bibirnya lalu menggenggam tangan Neji. "Neji-kun, aku tahu kau emosi, tapi…"
"Jika kau tak menikah, maka kau menjadi pembunuh Uchiha Madara."
"Jangan bilang Neji-kun percaya dengan sumpah gila itu!"
Neji menarik tangannya dari genggaman Sakura. "Ini bukan masalah percaya atau tidak. Aku hanya tidak ingin repot-repot mempertahankan sesuatu yang tak ingin kupertahankan." Neji menghela nafas. "Maaf, kurasa aku memang harus jujur padamu. Sejujurnya aku ingin putus denganmu sejak berbulan-bulan yang lalu, tapi kemudian aku berfikir mungkin dengan bersamamu terus, aku bisa mencintaimu, tapi…nihil."
Sakura menatap lavender di hadapannya sayu. "Bohong…aku tak percaya…siapa yang akan percaya dengan yang seperti itu? Mendadak sekali dan—"
"Terserah mau percaya atau tidak. Hanya saja…aku tak ingin menyakitimu lebih dari ini. Aku tak ingin menyiksa perasaanku sendiri, juga perasaanmu."
"Neji-kun bohong! Lalu kenapa kau menolongku waktu itu! Kenapa kau mau untuk—"
"Selama ini aku menganggapmu sebagai adik. Walau mencoba sekeras mungkin, aku sama sekali tak pernah mencintaimu dan tak bisa mencintaimu sebagai wanita!"
Sakura mengerutkan dahinya. Ia hendak angkat bicara namun Neji memotongnya.
"Selama bertahun-tahun aku di sisimu, aku hanya menganggapmu sebagai seorang adik. Dan sekarang, kita bisa bebas. Aku tak mau membohongimu lebih dari ini Sakura, aku senang pada akhirnya ada yang bisa membuka jalan untuk kita. Membawamu pergi dariku sehingga aku tak perlu merasa bersalah ketika akan meninggalkanmu nanti."
Sakura memegang tangan Neji namun ditepis Neji.
"Pergilah! Jangan membuatku menderita dengan terus memaksaku untuk mencintaimu, karena aku tak bisa!"
.
.
.
"Neji-kun…" Sakura mencoba meraih tangan Neji namun ditepis kembali.
"Mengertilah, Sakura! AKU TAK MENCINTAIMU! DENGAN BERADA DI DEKATMU MEMBUATKU MERASA TERBEBANI!" Neji mundur selangkah untuk menjauhkan dirinya dengan Sakura.
"Tapi…bohong…"
"Kau pikir raut wajahku mengatakan kalau aku berbohong?"
"Tapi…dulu…kau…bilang…" Sakura menggigit bibir bawahnya dalam. Ia tak sanggup lagi untuk tak mengeluarkan cairan kesedihan dari matanya.
"Aku menolongmu karena kasihan padamu. Jangan salah mengartikan peranku selama ini." Neji membalikkan tubuhnya. "Mulai sekarang, hubungan kita hanya kakak-adik saja." Neji pun memutar tubuhnya dan menjauhi Sakura perlahan.
Sakura diam di tempat. Ia tak bisa menggerakkan kakinya. Kenapa? Kenapa tubuhnya menolak untuk mengejar Neji? "N-Nej…"
"JANGAN IKUTI AKU!" Dan Neji pun mempercepat langkahnya lalu berlari. Ia berlari meninggalkan Sakura yang masih mematung. Bukan karena ia kabur dari situasinya, Neji hanya tak sanggup menahan air matanya ketika melihat air mata Sakura menderas turun.
Sakura menunduk. Tubuhnya merosot ke lantai. Ia terisak. Lalu beberapa menit kemudian bel berbunyi. Namun, sama sekali tak ada niatan di hati Sakura untuk pergi ke kelasnya.
.
Aku menolongmu karena kasihan padamu. Jangan salah mengartikan peranku selama ini.
.
"Jangan…uh…" Sakura memeluk lututnya erat. Tubuhnya bergetar. "Kenapa…kau…sama…seperti mereka…Neji-kun?" Sakura pun meringkuk dalam isakan tertahan. "Aku…menyedihkan…"
Pandangan Sakura menjadi buram. Ia tak bisa mendengar apa-apa lagi. Koridor itu memang sepi. Kosong…tak akan ada yang bisa menemukan keberadaannya…tak akan ada…seperti dulu.
.
.
.
-o0o-
Sakura merasakan aliran darahnya memanas kembali. Ia bisa menghirupnya…udara… Di penciumannya tercium bau wangi bunga musim semi. Ia bermimpi? Ini 'kan musim gugur. Ah, tidak. Ia pasti sadar. Wanginya terasa nyata…sangat nyata. Apa ini sudah saatnya Hanami? Tidak…bukan, tidak akan ada Hanami. Ini musim gugur, dan Sakura sangat sadar akan hal itu. Kesadarannya yang telah mendominasi pikiran, membuat mata Sakura membuka perlahan.
"Sakura? Kau sudah sadar?" terdengar suara lembut dan halus yang menggetarkan gendang telinga Sakura.
Mata emeraldnya pun terbuka sempurna. Pandangannya kosong.
"Ibu sangat khawatir…kau ditemukan pingsan di koridor sekolah yang jarang sekali dilalui murid…"
Sakura menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke sumber suara lembut tadi. "Ibu…Neji-kun…"
Ochika tersenyum lalu mengusap rambut Sakura lembut.
"Ibu…Neji-kun bilang…ia hanya kasihan selama ini…Neji-kun bilang…ia sama sekali…" Sakura menghentikan perkataannya. Lalu ia lanjutkan dengan tumpahnya pertahanan kesedihannya.
Ochika menatap sendu anaknya. "Sudahlah…Sakura sayang… Masih banyak yang lebih baik…"
"Tapi Neji-kun yang pertama…uh…dia…hiks…"
"Seperti Uchiha Sasuke."
Sakura menghentikan tangisannya. Matanya membulat kaku. Ia menatap ibunya tak percaya.
Ochika tersenyum lalu mengangkat bahu. "Berkobanlah sedikit, Sakura. Ini menyangkut nyawa. Jika Neji saja mau mencoba untuk bersamamu, kenapa kau tidak mencoba bersama Sasuke?"
Sakura terdiam.
"Ibu tahu pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dicoba-coba, tapi…Ibu yakin putri Ibu masih berbaik hati untuk menyelamatkan nyawa seorang kakek tua yang ingin hidup."
Sakura menggenggam tangan Ochika yang menetap di puncak kepalanya.
"Kau pasti sanggup melakukannya…"
Sakura menunduk kecil. Apa ia harus berkorban? Tapi kenapa harus ia?
"Kami-sama membuat warna rambutmu berwarna merah muda pasti karena ini takdirnya. Ini sudah jadi takdirmu sayang, kau harus mencobanya. Tinggalkan masa lalumu dan pandanglah takdir masa depanmu."
Sakura mendekatkan tangan Ibunya lalu ia tempelkan pada pipi ranumnya. Ia menangis kembali. Pikirannya kini hanya memunculkan wajah Sasuke saja. Wajah stoicnya…wajah kesalnya…wajah soknya…wajahnya ketika tersenyum malu. Lalu ia mengangguk berulang kali. "Iya…aku…akan mencoba…memandang takdir masa depanku…"
.
.
.
Gumpalan awan berkumpul membentuk kelompok benda penghadang ultraviolet pagi ini. Angin sejuk yang berhembus di Musim Gugur ini menerbangkan beberapa daun kecokelatan dan kekuningan ke setiap penjuru tempat. Burung berkicau dengan meriah. Tak ada istilah panas ataupun dingin terhadap udara pagi ini. Hawa hangat yang tenang nan sejuk. Damai…
Kau tahu apa-apa saja yang baik dilakukan saat Musim Semi maupun Musim Gugur? Ya, sebuah 'pernikahan'. Ya, kedua musim yang dianggap sebagai hari baik untuk sepasang kekasih saling mengucap sumpah dan mengikat janji.
Sebuah Mansion megah yang terletak di Kawasan Elit Pinggiran Kota terlihat sibuk menyiapkan sebuah acara penting. Banyak pelayan dan juga orang-orang sekitar yang ikut andil dalam kesibukan itu. Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Berbeda dengan Kediaman Senju yang terlihat damai. Ya, walau 'kelihatannya' damai, namun sesungguhnya di dalam Kediaman itu tercipta kesibukan yang tersendiri. Tengoklah ke sebuah ruangan tengah di rumah sederhana itu. Puluhan wanita berkumpul di situ untuk menyiapkan berbagai pernak-pernik yang dibutuhkan oleh pengantin wanita dalam sebuah pernikahan.
BRAKKK
Pintu terbuka dan menampakkan sesosok gadis berambut pirang yang terlihat terengah-engah. "Sakura!" pekiknya. Mata aquamarinenya berbinar ketika melihat ada orang yang dicarinya di ruangan itu. "Aku sudah mendengar semuanya dari Naruto!" ia pun dengan tidak sopannya menerobos kesibukan orang-orang di situ demi menghampiri Sakura. Seorang gadis lain berambut biru indigo dan bermata lavender cerah pun terlihat kesulitan mengikuti langkahnya.
"Ah…" Sakura tersenyum melihat sahabat-sahabatnya—Ino dan Hinata. "Hm, akhirnya aku menikah duluan." katanya sambil tersenyum.
Ino pun memeluk Sakura sambil menangis. "Aku pasti akan sangat merindukanmu! Semoga Sasuke tidak menyiksamu, Sakura!"
Sakura tersenyum lalu terkikik kecil. "Ah, kurasa itu tidak mungkin. Kau juga harus menyusulku, Ino. Sai juga telah kembali dari seminarnya di Perancis, bukan?"
Ino mendengus sebal namun tak berhenti menangis juga. "Aku mana mungkin boleh menikah di usia segini, 'kan…hiks."
Sakura tersenyum lalu mendongak ke atas—ia sedang duduk—dan melihat Hinata tersenyum di hadapannya. "Err…Hinata…"
Hinata pun tersenyum lebih manis. "Sakura-chan baik-baik dengan Sasuke-kun ya…"
Sakura menunduk sedih. "Hinata…maaf, pada akhirnya…aku…tak bisa menjadi kakak iparmu…" tuturnya sedih.
Ino melepas pelukannya lalu memegang bahu Sakura. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan Neji?"
Sakura terdiam lalu menggeleng.
Baik Ino maupun Hinata pun hanya ikut terdiam melihat sahabat mereka yang terlihat tidak ingin membahas soal lelaki bernama Hyuuga Neji.
"Sakura-sama. Sudah saatnya Anda untuk dibenahi." tutur salah seorang perias yang didatangkan khusus oleh Keluarga Uchiha sambil membungkuk.
Sakura pun berdiri lalu memegang pundak kedua sahabatnya. "Terima kasih kalian menyempatkan diri untuk melihatku sebelumnya."
.
.
.
Sasuke terdiam memandang dirinya yang telah berbalut Montsuki Haori Hakama. Ia masih tak percaya akan datangnya hari ini. Hari ini…ia akan menikah. Sungguh berita yang sangat mengejutkan ketika mendengar Opanya berkata bahwa Sakura menyetujui pernikahan ini. Tapi, entahlah, perasaannya bercampur aduk. Antara senang dan takut.
Sasuke juga telah menyiapkan mentalnya kemarin. Opanya menyuruhnya untuk melatih kesiapan mental seharian penuh jika yang menjadi hambatan Sasuke dalam melaksanakan pernikahan adalah kesiapan mental.
Pagi ini ia telah bertemu dengan Keluarga Sakura namun ia sama sekali tak boleh menemui Sakura sebelum pernikahan. Entahlah, ia tak tahu. Tapi yang jelas, Kiyoka, Ochika dan juga Jiraiya—kakek Sakura—sangat ramah padanya. Ia sangat senang mengetahui Keluarga Sakura yang akan menajdi keluarganya nanti sangat menerima dirinya dengan baik. Dan di luar dugaan, Kakek Sakura sangat akrab dengan Madara.
Sasuke tak henti-hentinya tersenyum membayangkan masa depannya. Ia juga menebak-nebak bagaimana penampilan Sakura nanti. Namun senyumnya memudar sesaat. Yang masih menghantui rasa penasarannya saat ini adalah, apa yang terjadi sehingga Sakura mau berpisah dengan Neji? Namun ketika bertanya itu, Madara malah mengatakan bahwa ia tak perlu memikirkan apa-apa selain pernikahannya.
Tapi, tetap saja…
Apakah Hyuuga Neji akan datang ke pernikahannya? Itulah yang ia pikirkan.
GRAKKK
"Sasuke, bersipalah. Semua sudah siap. Kita ke kuil sekarang." perintah Fugaku.
.
.
.
Pernikahan dilakukan dengan aturan adat Uchiha yang telah diwariskan secara turun temurun. Keluarga Uchiha menghendaki sebuah pernikahan di antara anggota keluarganya dilakukan secara tradisional. Ya, Pernikahan Shinto.
Pernikahan Sasuke dan Sakura sendiri dilaksanakan di Kuil Hikone, sebuah kuil suci di Konoha yang legendaris. Sedangkan Pendeta Shinto kali ini adalah Chiriku.
Sasuke telah menanti dengan tenang di altar. Ia bisa melihat keluarga dan kerabat dekatnya hadir di situ. Guru-gurunya seperti Kakashi, Asuma, Gai, Anko, Ibiki, Genma, lalu Izumo juga Kotetsu ada di situ, bahkan Kurenai yang sedang hamil tua menyempatkan diri untuk hadir. Sasuke sih tak terlalu memperhatikan kehadiran teman-teman perempuannya. Naruto terlihat menahan air mata haru. Begitu pula dengan teman-teman dekatnya yang lain. Shikamaru yang hadir pun tak terlihat mengantuk lagi. Chouji bahkan menahan dirinya untuk tidak makan di momen penting ini. Ada Kiba juga dan anjingnya, Shino, Lee,lalu… tunggu. Tak ada Hyuuga Neji di situ. Dan itu secara telak membuat Sasuke merasa tak baik perasaannya saat itu juga.
Oh, bagus, tapi…
DEG
Dadanya bergetar hebat ketika melihat rombongan Sakura telah datang. Bagaimana ini?
Bisa Sasuke lihat satu-satunya wanita berkimono putih di antara rombongan itu.
Mata Sasuke melebar sejenak melihatnya…melihat gadis itu. Iya…dia Sakura… Sakura yang telah memakai Shiromuku. Kulitnya telah dicat menjadi putih. Namun wajahnya terlihat cantik dan bersemu merah. Bisa Sasuke lihat kalau Sakura tersenyum tipis sembari menunduk. Sakura memakai Tsuni Kakushi yang membuat parasnya semakin cantik.
Tidak, bagaimana ini?
Sasuke tak bisa berkedip. Waktu terasa berjalan lambat. Darahnya berdesir hebat. Kakinya kaku. Yang ada di pandangannya sekarang hanya Sakura seorang. Apa? Apa yang telah terjadi pada dirinya!
Bahkan Sasuke tak menyadari bahwa Sakura telah berada di sampingnya. Wajah Sasuke bersemu merah melihat Sakura dari dekatnya.
.
Dunia sudah gila, Sasuke melupakan semua masalahnya. Yang di pikirannya sekarang ini hanya pernikahannya dengan Sakura.
.
Upacara Pernikahan pun dimulai. Pendeta Chiriku segera memurnikan pasangan pengantin yang telah siap di hadapannya. Saat pemurnian, pikiran Sasuke tak bisa jernih terlebih saat ia mengingat bagaimana wajah bersemu milik Sakura tadi, ia sempat melihatnya.
Ritual San-Sankudo pun dimulai. Sasuke dan juga Sakura telah mempelajari bagaimana melaksanakan ritual ini sebelumnya. Hn, mereka harus bergiliran menghirup sake, mereka menghirup 9 kali dari 3 cangkir yang disediakan.
"Kita hanya menghirupnya." bisik Sasuke memperingatkan Sakura. Ia takut jika Sakura lupa, lalu meminum sakenya. Ya, mereka masih belia dan belum bisa meminum sake. Sasuke menghirup duluan, dilanjutkan Sakura.
Sakura terlihat gemetar memegang cangkirnya. Perlahan-lahan, Sakura pun menghirupnya.
Sasuke melirik Sakura dengan ekor hendak mengingatkan lagi, "Saku—"
Sakura tersentak karena Sasuke memanggilnya tiba-tiba. Tak sengaja, ia pun meminum sakenya.
DEG
Sakura merasakan tubuhnya memanas. Pandangannya mengabur. Rasanya…panas…ini… Sakura tak bisa merasakan pikirannya berjalan lagi. Kepalanya pening… apa yang terjadi! Sakura pun menoleh ke Sasuke lalu tersenyum dengan wajah memerah.
Sasuke mengerutkan dahi. Sakura tersenyum aneh dengan wajah memerah? Apa artinya itu! Sakura meminum sakenya? Tidak, ah iya, tapi… 'Sial, dia mengejekku.' batin Sasuke. Ia tersenyum kemudian lalu meminum sake di cangkir selanjutnya.
Sakura mengerutkan dahi. Pandangannya mulai mengabur lebih berat, tapi ia sempat melihat Sasuke tersenyum mengejek padanya. Apa maksudnya? 'Dia menantangku.' batin Sakura. Sakura pun meminum sake bagiannya dengan mantap.
Dan kalian bisa menebak apa yang terjadi di ritual suci ini? Adu kehebatan meminum sake antar mempelai.
.
.
Saat kedua mempelai saling mengucap janji, mereka membuat masing-masing keluarga terheran-heran. Ya jelas saja, kedua keluarga yang saling berhadapan ini mendengar mereka saling menambahkan kata 'hik' dalam pengucapan janji. Mereka pun bisa melihat wajah kedua mempelai merah drastis. Semua keheranan terkecuali Madara. Madara malah terlihat senang.
'Pasti mereka saling menyukai…' batin Madara dengan perasaan damai.
Acara dilanjutkan. Anggota keluarga dan kerabat dekat dari masing-masing mempelai saling bergantian meminum sake.
.
.
.
"Kau lihat ekspresi Teme dan Sakura-chan tadi saat mengucap janji, Itachi-nii?" bisik Naruto pada Itachi. Kedua orang hiperaktif itu terlihat kompak ketika pertama kali bertemu.
"Ah, mereka kenapa?" tanya Itachi sok polos.
"Ayolah Itachi-nii! Wajah keduanya memerah! Dengar? Memerah!" Naruto berteriak keras sehingga membuat Kushina menjewer telinganya.
"Naruto, jangan berisik!"
"Hah, Naruto, kau ini ada-ada saja…" tawa Minato.
Naruto mendengus, lalu ia melihat ibunya mengapit lengan Minato mesra dan berjalan menuju Pengantin. Dasar orang tua.
"Ah, benar juga. Eh, Naruto, aku kesana dulu ya." pamit Itachi. Lalu ia ngacir menuju gerombolan teman-teman gengnya, Akatsuki dengan wajah ceria seceria-cerianya.
Naruto menghela nafas. Ia sendirian deh. Naruto melihat Hinata bersama Ino sedang mengobrol. Hinata terlihat cantik dengan balutan Homongi berwarna ungu muda. Sedangkan Ino memakai Homongi berwarna ungu tua. Sai menghampiri Ino sehingga Hinata terlihat canggung. Naruto yang melihat itu pun segera menarik tangan Hinata pelan.
"Ah, Naruto-kun…" wajah Hinata bersemu merah melihat Naruto yang memakai tuxedo hitam, membuat Naruto terlihat gagah.
"Hehe, kau sangat cantik." Naruto berbasa-basi dan sukses membuat Hinata menunduk malu menyembunyikan rona wajahnya yang semerah tomat sekarang. "Ng, ngomong-ngomong, bagaimana dengan Neji-nii? Aku melihat Hizashi-jisan tapi tak melihat Neji-nii."
Hinata mengangkat wajahnya lalu memandang Naruto sayu. Lavendernya meredup sejenak. "Entahlah Naruto-kun…tadi Neji-nii hanya tersenyum kecil sebelum aku pergi dan dia hanya menitipkan Shugi-buruko padaku dan tak ingin datang kesini… Aku khawatir padanya…"
Naruto pun turut menunduk. Ia menyesal telah bertanya seperti itu.
.
.
.
Setelah itu acara keluarga dilanjutkan. Acara berlangsung meriah. Madara terlihat sangat senang di sana. Ia beramah ria dengan siapa saja hari ini. Yah..ia akan panjang umur. Para keluarga pun saling berjabat tangan.
Sementara Sasuke dan Sakura terus saja tersenyum dengan wajah memerah. Saat ini Sakura sudah memakai Uchikake, ia menggenggam erat tangan Sasuke. Sejak tadi mereka bersalam-salaman dengan tamu tanpa tahu siapa saja yang mereka salami. Mereka terlihat lelah.
"Sasu…hik…aku hebat 'kan…hik…aku bisa meminumnya lebih baik dari pada kau…hik."
Sasuke bernafas dengan terengah-engah. "Kau hik… tidak hebat…" paling tidak, Sasuke sedikit lebih sadar dibandingkan Sakura.
"Sasuke, Sakura-chan, kenapa kalian di sini saja? Ayo bersiap. Acara sudah hampir selesai. Kalian harus berpidato." Mikoto dengan cekatan membawa Sasuke dan Sakura yang masih setengah sadar menuju panggung.
Saat ini Sasuke dan Sakura memandang seluruh tamu dengan mata yang terbuka setengah. Wajah mereka bahkan lebih merah dari sebelumnya.
"Terima kasih… hik…" Sakura berkata duluan.
"Atas kehadiran kalian…" Sasuke melanjutkan.
Lalu keduanya terdiam. Serentetan acara yang panjang ini membuat keduanya sangat lelah. Terlebih mereka sepertinya sudah tak kuat lagi akan pengaruh sake tadi.
Saat Sakura hendak berbicara, tiba-tiba Sasuke menyerangnya dan dengan beringas mencium bibirnya. Sasuke melakukannya dengan cepat. Ia mencium Sakura lama sekali. Ia berusaha untuk menikmatinya. Hangat…basah…memabukkan… Sensasi sake tadi…masih terasa di bibirnya. Sakura pun tak menolak. Ia malah menekan kepala Sasuke untuk memperdalam ciumannya. Ya, mereka membuat para tamu membelalak kaget dengan tingkah mereka. Dan apa yang selanjutnya terjadi?
BRUUUKKKK
.
.
.
"Hiks…hiks…" Sakura menangis sesenggukan di kamarnya sekarang. Di sebuah ruangan besar dan mewah dengan hiasan-hiasan dan ornamen-ornamen pernikahan telah dipasang di sepanjang dinding ruangan itu. Ruangan yang di dalamnya terdapat satu set mewah klasik bergaya romawi kuno dan juga sebuah ranjang King Size dengan lemari, buffet, dan juga beberapa perabotan lainnya yang setipe. Ruangan itu masih belum terlalu berisi. Bisa dibilang…ruangan yang masih baru.
Sakura duduk meringkuk di atas ranjangnya. Di sebelahnya, Sasuke hanya duduk sambil menunduk.
"Kau cengeng sekali sih." gumam Sasuke.
Sakura mengangkat wajahnya dan mencengkeram kerah Sasuke. "KAU PIKIR CIUMAN PERTAMAKU BISA DIREBUT SEMUDAH ITU!" pekik Sakura. Ia memukul-mukul dada Sasuke dengan beringas.
"Kau pikir aku tahu kalau aku menciummu? Itu juga ciuman pertamaku tahu!"
"KAU MENYEBALKAN! MENYEBALKAN! MENYEBALKAN!" Sakura kembali terisak. "KENAPA JUGA AKU HARUS BERADA DI SINI BERSAMAMU!"
Sasuke mendengus lalu menurunkan tangan Sakura yang memukuli dadanya lemah. "Lalu kau ingin bagaimana? Gara-gara kita pingsan, kita malah terkunci di sini. Kau menjerit sekeras apapun, orang-orang di luar takkan bisa mendengarnya. Kau ingin kabur lewat jendela? Yang benar saja. Ini lantai 5."
"Jahat…hiks…"
Sasuke memejamkan mata. "Jika kau bilang 'jahat', kenapa kau mau menikah, hah? Apapun yang kau katakan, sekarang kita adalah suami istri. Kau dengar? Kau istriku, dan aku suamimu."
Sakura terisak semakin keras. Ia pun meremas seprei berwarna biru keunguan di ranjang itu. "Hiks…hiks…hiks…"
"Hei, sudahlah… aku akan tidur di sofa kok." Sasuke menghela nafas berat lalu turun dari ranjangnya. "Kau juga tak perlu menyesalinya. Itu percuma."
Sakura tak berkata apa-apa. Wajahnya tertutup oleh telapak tangan. Sama sekali tak ada niatan di hatinya untuk menyuruh otaknya bekerja dan membuat matanya melirik barang sedikit ke arah Sasuke.
Sasuke terdiam merenung. 'Sialan, apa sih maksudnya! Ini pasti perbuatan Opa!' batin Sasuke menggeram tertahan. Matanya mengerjap saat melihat ada nampan berisi 2 gelas air putih di atas meja di sisi ranjang. Ia pun mengambilnya satu. Lalu dengan memalingkan wajah, Sasuke menghampiri Sakura dan memberikan air itu pada Sakura. "Minum dulu. Tenangkan dirimu."
Sakura melirik gelas berisi air putih yang disodorkan Sasuke. Benar juga, tenggorokkannya sangat kering gara-gara habis menangis. Dengan kesal pun Sakura menerimanya. "Aku takkan berterima kasih." Lalu Sakura meneguknya sedikit.
Sakura terdiam.
SING
Sakura terdiam beberapa menit. Rasanya…ini…bukan seperti air putih… rasanya… uh… "Ini apa, Sasuke? Kau berikan aku minuman apa! Kau mau meracuniku ya?"
Sasuke menaikkan alis. "Kau bicara apa, sih? Itu air putih bodoh."
Sakura tertegun. Lalu ia mencoba merasakan kembali minumannya. "Ini bukan air putih! Kau memberiku racun!"
Sasuke mengerutkan dahi. Itu air putih kok. Kelihatan sekali dari gelasnya yang transparan. Sasuke dengan ogah-ogahan mengambil gelas yang tersisa dan meneguknya sampai habis. "Ini air putih tahu! Kau mau menghina lidahku!"
Sakura terdiam lalu memandang minumannya. "Tapi, rasanya…"
"Mungkin lidahmu saja yang aneh. Coba saja kau teguk semuanya langsung! Jangan setengah-setengah!" Sasuke pun hendak menaruh gelasnya yang sudah kosong di atas meja sementara Sakura dengan ragu-ragu meneguk semua minumannya sampai habis. Tiba-tiba…
PRANG!
Sasuke menjatuhkan gelasnya. Pandangannya mengabur. Ada apa ini? Kepalanya pusing. Pandangannya terhadap suatu objek bahkan menjadi berlipat-lipat ganda. Darahnya panas. Tubuhnya menjadi kesemutan. Ia gemetaran. Namun jauh di luar pikirannya saat ini, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu…
Rasa air putih tadi…seperti sake.
.
.
.
Dengan pandangan mengabur, Sasuke bisa melihat Sakura di atas ranjang sedang memegangi kepala. Wajah mereka sama-sama merah. Sasuke memperhatikan Sakura. Sakura hanya memakai Kakeshita. Bahkan bawahannya terbuka dan memperlihatkan sedikit paha putihnya. Sasuke pun menyeringai. "Sakura…"
Sakura memandang Sasuke sayu. Entahlah, kepalanya sangat pusing. Pikirannya…kosong.
Sasuke pun membaringkan Sakura perlahan di atas ranjang. Lalu perlahan ia mengusap pipi lembut Sakura. "Kau cantik sekali…" ia membelai rambut Sakura. "rambutmu sangat…hik, indah…"
Sakura tersenyum. Wajahnya tak kalah merah dengan Sasuke. Ia pun meraba dada Sasuke—dada yang baru saja dipukulinya. "Kau…menyebalkan…hik."
Sasuke pun menundukkan wajahnya. "Aku…hik…senang…kau mau…jadi…hik." Perlahan ia mencium pipi Sakura. Sementara Sakura hanya terkikik geli. Sakura meremas seprei dengan kuat. Sasuke tersenyum lalu bibirnya beralih ke bibir Sakura.
.
"Ayo kita bersenang-senang, hik."
.
.
.
Dan Sakura tak mungkin ingin membayangkan dirinya yang telah jatuh dalam pesona seorang Uchiha Sasuke. Atau ia akan kehilangan masa-masa indah remajanya kelak.
TBC
A/N
Konbanwa gozaimasu!
Hoshi Yamashita di sini…
Yey, ch.6 dah kelar! Ada yang merasa alurnya kecepeten? Saya sih sudah usaha buat bikin alurnya normal. Tapi…ya…begini deh. Jangan menganggap kalau dengan pernikahan Sasuke-Sakura ceritanya bakal kelar lo! Justru setelah ini konflik utama baru dimulai! Ehe…
Saya akan bahas sedikit mengenai nama orang tua Sakura. Sebenernya saya agak kesel sama Masashi-sensei! Kenapa sampe sekarang dia nggak mau ngasih tau nama ortunya Sakura! Padahal Sakura 'kan termasuk tokoh utama! Uh! Eh, kembali ke masalah nama. Saya sih menggunakan huruf depan secara beruntut di anggota genin team 7. Begini nih rincinya.
Fugaku Mikoto Minato Kushina Kiyoka Ochika
Jika diurutkan huruf depannya, jadi begini F-M-M-K-K-O, Di tengah adalah double MK, yang saya artikan juga sebagai Masashi Kishimoto. Untuk nama para ayah, berurutan mulai dari huruf F-M (ghijklm)itu melewati 7 huruf yang berarti Team 7. Sementara untuk para Ibu, mulai dari M-K-O pasti memiliki selisih satu huruf jika diurutkan mulai dari abjad terkecil, K-L-M-N-O.
Dan untuk nama Kiyoka-Ochika, saya tidak sembarang memilih nama. Kiyoka diambil dari nama 'Kiyokado Komatsu' atau lebih dikenal dengan nama 'Tatewaki Komatsu/Naogoro Kimotsuki'
(hidup pada era Pemerintahan Iemochi Tokugawa). Komatsu (Kiyokado) bersama istrinya, Ochika adalah pasangan tamasya bulan madu pertama di Jepang. Jadi, ya saya memilih nama itu, hehe.
Nggak penting sih, Cuma saya ingin memberitahukan asal-usul nama ortu Sakura saja, hehe.
Oh iya, saya ingin memberi PENGUMUMAN kepada readers kalau ini adalah fic/chap terakhir yang saya publish sebelum saya izin untuk HIATUS untuk beberapa minggu *atau bulan ya?*. Ya, sebenarnya saya ingin publish banyak, hanya saja, cuma file YoNeMa saja yang sudah siap dipublish. Maaf sebesar-besarnya buat yang nungguin My Evil Buttlers ataupun buat yang minta sequel Daddy Complex atau request fic lainnya *peace* semoga kalian masih mau menunggu saya *nangis Bombay* kalo buat sequel, nanti saya usaha bikinin deh. ^^
Special Thanks To :
Risuki Taka, senayuki-chan, vvvv, Hikari Shinju, Haza Haruno, Nay Hatake, Vy VIP, Annida A Nurdiani, SasuSaku Hikaru, Lady Spain, Aichiruchan Phantomhive, Maito, Devil's of Kunoichi, 4ntk4-ch4n, Cikidiwts, DEVIL'D, hinagiku-chan, Himeka Kenta, Ran Tsuki-chan, Michi-chan Phantomhive626, V3Yagami, rchrt, Meity-chan, Midori Kumiko, Kurosaki Naruto-nichan, QRen, Violet7orange, Seiran, Hiru no akuma, haruno gemini-chan, Matsumoto Rika, Murasaki Weed, soraka menashi
Dan semua readers yang mau repot membaca ini fic.
.
Oh iya, saya nggak bisa balas review kalian satu per satu, hehe, tapi yang jelas, review kalian sangat berarti buat saya.
Akhir kata,
Kritik, saran, pujian *ngarep*, masukan, sepatah dua patah kata penyemangat, atau apa saja yang termasuk kategori REVIEW (terkecuali flame), sangat saya harapkan! ^.^
.
Dan saya perjelas lagi, tidak menerima flame dalam bentuk apapun karena saya yakin para flamer cukup cerdas untuk mengetahui arti kalimat "Don't like? Don't read"
.
Hehe, REVIEWnya please…
