Flashback
BRUUUKKKK
Semua yang ada di situ dikejutkan dengan ambruknya kedua pengantin yang seharusnya berpidato itu. Tak sedikit dari mereka yang berteriak-teriak histeris. Bagaimana tidak? Setelah disuguhi pemandangan yang tak sewajarnya dilakukan oleh pelajar SMA yang baik—errciumanerrpanas, mereka langsung dikejutkan dengan melihat robohnya dua manusia yang telah terikat itu.
Madara yang melihat kejadian itu langsung mengambil alih situasi. Ketika matanya melihat Itachi yang sedang berpelukan dengan Kisame karena kaget, Madara langsung saja menghampirinya. "Itachi! Apa yang kau lakukan?" bentak Madara sambil menarik Itachi paksa.
Sementara Itachi hanya memandang Opanya dengan pandangan yang sulit diartikan sembari menutup bibirnya dengan tangan. "O-Opa…SasuSasuSasu…cium…eh…waw!" katanya tidak jelas.
"Cepat bawa Sasuke dan Sakura ke dalam! Biar Opa yang atasi ini! Jaga mereka sampai sadar!" perintah Madara sambil menendang bokong Itachi supaya bertindak cepat. Sementara Itachi hanya mendengus lalu berlari menuju tempat kejadian perkara sambil mengelus sayang pantatnya.
Fugaku terlihat sedang berusaha menenangkan para tamu yang hadir, sementara Itachi sedang komat-kamit tidak jelas sambil mengipasi Sakura—menunggu bantuan datang untuk membawa Sasuke. Mikoto pun menatap anak dan menantunya cemas. Beberapa detik kemudian Akatsuki pun telah tiba di tempat pingsannya pengantin baru itu.
"Woi, jangan melongo woi! Bantuin!" perintah Itachi sambil mengambil posisi untuk menggendong Sakura. Hn, tentu saja ia akan menggendong Sakura, karena Sakura pasti lebih enteng dibanding Sasuke.
Akatsuki langsung saja grusak-grusuk di tempat. Mereka mendiskusikan siapa yang akan menggendong Sasuke.
"Ita-senpai, kenapa bukan Sasuke yang senpai gendong? Sasuke 'kan adik senpai," tanya Tobi akhirnya.
Itachi mendengus. Kini Sakura sudah berada pada gendongannya. "Cepat bawa Sasuke! Kalian belum pernah lihat Opa marah ya?"
Semua anggota Akatsuki minus Itachi pun langsung merinding disko setelah telinga mereka mendengar kata 'Opa' keluar dari mulut Itachi. Tanpa basa-basi, semuanya langsung menghampiri Sasuke yang tepar dengan keadaan mengenaskan. Pada akhirnya pun Sasuke dibawa menuju ke dalam rumah oleh Sasori, Hidan, Kakuzu, dan Pein. Sasori mengangkat kepala Sasuke, Hidan mengangkat badan Sasuke—katanya badan adalah bagian tubuh yang paling aman untuk disentuh agar tidak menimbulkan dosa, dan Kakuzu mengangkat kedua kaki Sasuke. Pein? Dia mengipasi Sasuke. Yang lain? Mereka cuma mengekor dari belakang, ckck.
Sementara Itachi dan rombongannya sudah tak terlihat lagi, keadaan mulai tenang kembali.
Terlihat Kiyoka dan Ochika menghampiri Fugaku yang telah selesai menggantikan pidato yang seharusnya dibawakan oleh pengantin.
"Bagaimana keadaan mereka? Maaf, tadi kami sedang bertemu dengan keluarga yang lain," tanya Ochika dengan nafas yang masih terengah-engah sementara Kiyoka sedang menepuk-nepuk punggung Ochika.
"Hn, Itachi sudah menangani semuanya. Kalian tenang saja," jawab Fugaku.
.
.
.
Young Newly-Married
Disclaimer : kalo punyaku, aku udah kaya dari dulu dong! *digantung Masashi Kishimoto*
Rated : T
Genre : Romance, Family, Drama, terserah readers lah!
Pair : SasuSakuNeji slight other pair.
WARNING : AU, OOC, OC, Gaje, abal, misstypo (maybe), dll.
.
IF YOU DON'T LIKE, DON'T READ PLEASE
but…
HAPPY READING!
Chapter 7: Fighting
Naruto sedang berlarian tidak jelas sambil menghampiri teman-temannya yang lain setelah ia sibuk sendiri menyela kerumunan saat pidato tadi. Hn, setelah mendengar Sasuke mencium Sakura di depan umum, Naruto langsung meninggalkan kegiatan makan-makannya dan berlari sekilat mungkin menuju tempat kejadian yang sedang hangat dibicarakan.
"Hei! Aku dapat fotonya Teme waktu nyium Sakura-chan!" teriak Naruto sambil melambai-lambaikan kamera digital di kiri dan handycam di tangan kanannya. Semua temannya menoleh dengan tatapan datar terkecuali Ino.
"Eh! Mana Naruto? Coba aku lihat!" pinta Ino girang sambil merebut kameranya dari Naruto. "Eh! Eh! Nanti aku minta ya!" hm, satu kata, bahaya. Ya, akan bahaya bila seorang 'Yamanaka Ino' telah mengetahui hal seperti ini.
Shikamaru hanya berdecak sebal melihat tingkah 2 makhluk blonde yang tak bisa dipungkiri mereka adalah temannya. "Merepotkan sekali punya teman seperti mereka," gumamnya malas ketika melihat yang lain mulai bergerombol untuk melihat hasil jepretan Naruto. Lalu sedetik kemudian ia melirik Hinata yang sedang tertawa kecil sambil memandang Naruto. Hinata tidak ikut bergerombol karena ia memang yang paling kalem di antara wanita yang pernah Shikamaru kenal. Melihat Hinata di luar gerombolan, Shikamaru pun menghampirinya dengan malas. "Hinata."
Hinata yang sedikit tersentak menoleh cepat ke Shikamaru. "Ya, Shikamaru-kun?"
"Bagaimana dengan Neji?" tanya Shikamaru tanpa acara bertele-tele. "Ia tidak datang, bukan?"
Hinata pun tersenyum tipis. "Ya, Neji-nii memang tidak datang. Ia sedang berada di rumah."
Shikamaru pun hanya mengguman pelan—entah apa gumamannya. "Lalu kau tahu kenapa Neji bisa memutuskan hubungannya dengan Sakura?"
Hinata terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan Shikamaru. Bibirnya terkatup pasti. Lalu ia berkata dengan nada pelan, "Aku juga tidak tahu…tapi kemarin, Neji-nii tidak mau bicara apa-apa padaku…"
Dan Shikamaru terhenyak mendengar jawaban yang dilontarkan Hinata. Otak super jeniusnya mencoba mencari jawaban yang membuat pikirannya terus menuntut jawaban atas rasa penasarannya.
"Eh, Hinata, Hinata!" panggil Naruto setelah sosoknya keluar dari gerobolan tidak jelas tadi. "Nanti kau yang mencetak fotonya ya!" pintanya dengan nada ceria.
Hinata tersenyum lalu hanya mengangguk mengiyakan.
"Hehe, Teme pasti akan bangga dengan hasil karyaku!" Naruto menggumam penuh percaya diri.
Sekali lagi Hinata pun hanya mengangguk mengiyakan. Ia berfikir sebentar tentang sebuah 'ciuman'. Bukan tentang dirinya yang sedikit ingin menuntut Naruto yang tak pernah menciumnya, tapi tentang seseorang yang membuat batinnya gelisah tak tenang. 'Apa Neji-nii juga pernah mencium Sakura-chan?'
.
.
.
Sementara itu di lain tempat, Madara yang menangkap sosok Hizashi di dekat air mancur langsung saja menghampiri lelaki kembaran Hyuuga Hiashi itu.
"Terima kasih telah menyempatkan diri untuk datang," kata Madara dan membuat Hizashi sedikit tersentak.
"Ah, tentu saja." Hizashi pun tersenyum kecil.
"Apa Neji datang?" tanya Madara sambil menerawang langit yang mulai meredup cahayanya. Hari mulai sore.
Senyum kecil yang tersungging di bibir Hizashi pun mengendur seketika.
"Ah, aku tahu jawabannya," sela Madara sebelum Hizashi sempat membuka mulutnya. Ia menatap Hizashi dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Katanya ia sedang tidak enak badan," ucap Hizashi sebelum Madara mulai mengargumenkan sebuah pendapat yang pastinya akan membuatnya terpojok. "Kurasa kita bisa membicarakan ini lain waktu, Aku harus pergi. Sampai jumpa," kata Hizashi setelah ia menunjuk arloji di tangan kanannya. Langkahnya menjauhi Madara.
"Ya, akan kutunggu waktu dimana kita bisa berbincang dengan lebih leluasa," Madara berujar dengan nada kecil. Akhirnya ia hanya terdiam sambil memandang kosong ke arah tamu-tamu yang hadir.
-o0o-
"Yap, selesai." Itachi memandang bangga hasil pekerjaannya.
Semua Akatsuki terdiam. Mereka memandangi dua sosok manusia berbeda kelamin yang sedang terbaring di atas ranjang yang sama. Hn, dan merasa ada yang kurang, Itachi pun melempar dengan asal selimut yang menutupi tubuh adik tersayang dan juga adik iparnya. Lalu tangannya mulai menyentuh Kimono yang dipakai Sakura.
"Demi Dewa Jashin! Apa yang kau lakukan, Ita-kun! Itu hukumnya haram! Sakura sudah jadi milik Sasuke! Kenapa kau mau menyentuhnya!" teriak Hidan histeris.
"Diem, cerewet. Dasar sok alim," gerutu Itachi sambil melirik Hidan sebentar.
Sementara Pein sudah memandang Sakura dengan pandangan bling-bling seakan ia ingin mengatakan, 'Sudah Ita-kun, aku saja yang menggantikan tugasmu.'
"Sebenarnya senpai mau apa?" tanya Tobi sok polos.
Itachi hanya tersenyum dengan gaya cool. "Aku ya? Ufufu."
Kakuzu pun memandang datar Sasuke. Dalam hati ia mencelos, 'Si Sasuke kasihan. Dari tadi nggak ada yang liatin.' Dan mata Kakuzu pun menjadi hijau seterang-terangnya—bahkan melebihi emerald Sakura—ketika melihat Hakama yang dipakai Sasuke. Err, tolong jangan berfikir yang macam-macam. Jangan kira Kakuzu itu Ya*i karena lebih tertarik dengan Sasuke daripada Sakura. Hn, Kakuzu hanya ingin menggeledah Hakama Sasuke. Barangkali ada amplop yang terselip.
"Ita-kun, aku bereskan adikmu ya," pinta Kakuzu sambil mendekati Sasuke.
"Yoi cuy," jawab Itachi ngasal. "Eh, Konan. Bantuin ngelepas ini dong."
Konan pun mendekati Itachi namun ditahan Pein.
"Ehm biar aku saja. Aku lebih jago," pinta Pein sambil mengangkat-angkat alisnya tidak jelas. Dan Konan langsung saja menonjok hidung Pein sampai pierching yang dikenakan Pein ada yang hampir lepas. Pein pun berlari ke kamar mandi sambil memegangi hidungnya yang mimisan.
"Ah, Tobi nggak mau ikutan ah. Tobi 'kan anak baik." Tobi pun hanya menopangkan dagunya di sisi ranjang sambil memperhatikan Konan sedang mencoba melepas Uchikake yang dipakai Sakura. 'Nggak ikutan' ngelepas maksudnya. Tapi ikut lihat. Anak baik dari mana?
Deidara dengan siap dan siaga segera mengeluarkan kamera digital dari kemeja santainya. Ia akan memulai salah satu kegiatan berseni favoritnya. Hn, memotret. "Potret menghasilkan ledakan cahaya," gumam Deidara tidak jelas.
Zetsu terlihat membantu Kakuzu menggeledah Hakama Sasuke. Daripada ia nganggur. Kisame? Manusia yang terlahir cacat—dengan gen separuh hiu separuh manusia—itu sedang berada di kamar mandi. Ia malah ribut sendiri dengan Pein. Hidan? Dia sedang berdo'a di pojok ruangan. Sasori? Lelaki pemilik baby face itu hendak keluar namun ditahan Kisame yang tak sengaja lihat. Hn, Kisame kalah dari Pein dan diusir dari kamar mandi.
"Mau kemana, Sasori?"
"Cari minum," jawab Sasori sambil mengelus-elus permukaan kulit lehernya pertanda tenggorokannya mengalami dehidrasi.
"Titip ya," pesan Kisame.
"Yosh." Dan Sasori pun pergi dari ruangan itu. Sementara Kisame menghampiri yang lain.
"Eh, sudah ya, Ita-kun. Uchikakenya saja yang dilepas," kata Konan sambil melipat Uchikake yang baru saja dikenakan Sakura. "Kasihan, mereka 'kan masih 15 tahun."
Itachi pun berfikir sejenak. Benar juga, 15 tahun adalah usia dimana wanita tidak dianjurkan untuk melakukan reproduksi. Oke, pikirannya sudah ngelantur kemana-mana.
Drrt…drrt…
Itachi merogoh saku celananya. Ia pun mengambil ponselnya. "Moshi-moshi?"
"Itachi, dimana kau?" terdengar suara berat Fugaku di seberang sana.
Itachi menggaruk tengkuknya kecil. "Err…ya…aku sedang…"
"Jangan bermain terus dengan geng berandalmu itu! Ambil sakaki dan bawa ke kuil! Cepat!"
Pip
Itachi terdiam. "Oke, guys! Kita kembali ke kuil sebentar!" perintah Itachi sambil berdiri. Ia berkacak pinggang sambil menghela nafas sok lelah. Ia memandangi Sasuke dan Sakura yang berbalut selimut yang sama.
"Huh, Sasuke kasihan sekali punya kakak sepertimu. Aliran sesat yang tak patut dicontoh," gumam Hidan sambil memasukkan tasbihnya ke tas jinjing.
Akatsuki pun mulai meninggalkan Sasuke dan Sakura yang masih tak sadarkan diri. Saat itu, Pein yang baru keluar dari kamar mandi langsung ikutan keluar melihat teman-temannya berbondong-bondong menuju pintu. Saat Deidara hendak membuka pintu, Sasori mendahuluinya dari luar. Hn, Sasori datang sambil membawa nampan berisi 2 gelas sake.
"Lho? Mau kemana? Kisame, minumnya jadi tidak?"
"Sudahlah, nanti saja! Kita harus cepat-cepat ke kuil." Itachi pun menarik Sasori untuk masuk ke dalam kamar.
"Kalau mau ke kuil kenapa malah mendorongku masuk?"
"Tuh, taruh minumannya di meja. Cepetan," perintah Itachi dengan sok dan membuat Sasori agak kesal, namun Sasori menurut juga.
Itachi dkk telah keluar dari kamar itu sementara Sasori menaruh nampan yang tadi ia bawa di meja. Melihat ada dua makhluk yang sedang tidur di satu ranjang dengan posisi menggairahkan, membuat Sasori menyeringai jahil.
"Ini sih, kurang." Sasori pun memiringkan tubuh Sasuke dan Sakura sehingga saling berhadapan. Lalu perlahan-lahan, Sasori mengangkat tangan Sasuke dan menjatuhkannya di pinggang Sakura begitu pula sebaliknya. Sasori melebarkan mata hazelnya melihat Sasuke yang menggeliat kecil. Namun, di luar dugaannya. Sasuke malah semakin mempererat lingkaran tangannya di pinggang Sakura. Eh, wei…
"Lama banget sih!" teriak Pein dengan kepala nongol dari pintu.
"Iya, iya." Dan Sasori pun berjalan dengan santai menuju pintu untuk keluar dari ruangan itu—menyusul teman-temannya yang lain.
Setelah semua teman-temannya telah berada di luar, Itachi pun segera mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya. Lalu ia mengunci pintu kamar dimana Sasuke dan Sakura terlelap.
"Kenapa dikunci?" tanya Tobi. Sekarang Tobi punya gelar baru, 'Tobi Si Tukang Tanya'.
"Biar aman dong." Itachi nyengir gaje sambil memasukkan kunci ke dalam saku celananya kembali. Lalu ia pergi menuju kuil, diikuti teman-temannya.
.
.
.
Satu yang perlu kau catat, Jangan menganggap sesuatu akan baik-baik saja jika sesuatu itu ditangani oleh Itachi dan teman-teman Akatsukinya.
.
.
.
-o0o-
Sakura mengerutkan dahi sementara matanya masih terpejam. Seluruh tubuhnya terasa berat—terlebih di bagian pinggang. Kenapa hawanya sangat panas sekarang? Sungguh membuatnya gerah. Kenapa? Kenapa ia merasa sedang demam? Suhu badannya terasa mengalami kenaikan drastis. Bahkan ia bisa merasakan hembusan angin yang terasa panas di hidungnya.
Panas…
Sesuatu yang seperti… Tunggu dulu!
Sakura membuka mata selebar-lebarnya. Membuat mata hijau cerah itu menjadi bulatan yang lebih kecil dibanding normalnya. Namun, walau matanya terbuka lebih lebar daripada biasanya, bayangan yang jatuh di retinanya adalah sesuatu yang sama. Ya, ia bisa melihat dengan jelas, kelopak mata yang terpejam dengan helai-helai rambut hitam kebiruan yang sedikit menutupinya. Dan Sakura tak bisa berfikir sekarang, tentu ia tahu. Sangat tahu. Ia tahu bahwa yang ada di hadapannya adalah Uchiha Sasuke!
"Apa-apaan ini…KYAAAAAAA!" Tanpa berfikir panjang, Sakura langsung mendorong Sasuke dan melompat turun dari tempat tidur. "APA YANG KAU LAKUKAN PADAKU!" Sakura memeluk dirinya sendiri histeris.
Sasuke terlihat sangat tersentak setelah merasakan tubuhnya terbentur lantai dengan keras. Ya, Sakura mendorong Sasuke hingga Sasuke jatuh dari ranjang. Sasuke yang baru sadar sepenuhnya malah celingak-celinguk. "A-apa yang terjadi?" tanyanya entah pada siapa. Lalu ia mengucek-ucek matanya. "Dimana ini?" dan matanya memandang Sakura meminta penjelasan.
Sakura menyipitkan mata lalu menggeram. "KENAPA KAU MALAH MEMANDANGKU SEPERTI ITU! KAU MENYALAHKANKU YA! HARUSNYA AKU YANG MENYALAHKANMU, TAHU!" teriak Sakura sambil mencoba berdiri setegak mungkin.
Sasuke meringis sambil menutup telinganya. "Sial, kau cerewet sekali sih,"gumamnya kecil.
"Apa maksumu aku cerew—KYAAAA! PAKAIANKU! APA YANG KAU LAKUKAN! KAU BERNIAT MENELANJANGIKU YA!" teriak Sakura histeris sambil memeluk tubuhnya khawatir. Lalu Ia menggeram dan menghampiri Sasuke. Sakura menarik-narik Hakama Sasuke yang terlihat berantakan. "APA SAJA YANG SUDAH KAU LAKUKAN!"
Sasuke pun menepis tangan Sakura yang membuat tubuhnya terguncang. "Percaya diri sekali," desis Sasuke. Lalu matanya mulai menggerayangi tubuh Sakura. "Aku tak suka yang kerempeng, tak berisi. Kerdil."
Sakura pun menjambak rambut Sasuke dan membuat Sasuke meringis. "Kau menyebalkan sekali sih! Neji-kun saja—"
Sakura terdiam. Bibirnya yang terbuka kini mengatup kembali. Jambakannya pada rambut Sasuke pun mengendur. Lalu matanya berkaca-kaca.
Sasuke mendengus lalu menyisir rambutnya yang kusut dengan jari. "Kenapa? Rindu Neji ya?"
Sakura menggigit bibir lalu menatap Sasuke. Kini matanya telah berair.
"Lalu kenapa mau menikah denganku? Itu hanya membuatku repot tahu. Menyebalkan."
Sakura menatap Sasuke tak percaya. Kenapa Sasuke malah mengatainya 'menyebalkan'? Padahal ia sudah mengorbankan statusnya untuk menjadi istri. Tapi kenapa? "Kau pikir aku mau? Aku terpaksa tahu! Jangan sok ya!" bentak Sakura dengan suara yang mulai serak.
Sasuke hanya membuang muka. Ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya. Ya, untuk bertanya mengapa Sakura bisa memutuskan hubungan dengan Neji. Tapi…tidak mungkin juga…dalam situasi seperti ini… Ukh.
Sakura terdiam lalu ia menunduk. Tunggu dulu. Kenapa ia baru sadar sekarang? Ia telah menikah. Ya, ia telah menikah dan suaminya bukanlah Hyuuga Neji. Suaminya bukan Hyuuga Neji. Lalu, bagaimana dengan Neji sekarang? Sakura bahkan tak melihat Neji di Upacara Pernikahannya tadi. Kemana Neji? Kemana sosok kakak yang sangat dicintai Sakura itu? Tak sadar, Sakura telah menangis.
Kenapa? Kenapa ia bisa menerima pernikahan ini? Kenapa ia langsung menyerah ketika Neji membentaknya? Kenapa? Kenapa? Ada apa dengan perasaannya? Kenapa ia merasa batinnya sedang berperang sekarang? Bagaimana ini? Hatinya kacau.
Sasuke hanya berdehem ketika melihat Sakura sedang berusaha menahan suara isak tangisan. Ya, Sakura sedang menangis tanpa suara. Ah, setidaknya berusaha menangis tanpa suarakarena Sakura menggigit bibirnya sekuat tenaga.
Oh tidak, Sasuke tidak pernah membayangkan sebelumnya tentang dirinya yang harus menenangkan hati istrinya.
"Hei, jangan menangis bodoh."
Oke, kata-kata yang tidak tepat. Karena setelah mendengar Sasuke mengatainya bodoh, Sakura langsung naik ke atas ranjang—berusaha menghindari Sasuke. Dan Sasuke hanya bisa menggaruk pelipisnya bingung. Sasuke pun mendekati Sakura. Ia duduk di sebelah Sakura.
"Baik. Aku yang bodoh. Sekarang ceritakan padaku hal yang ingin kau utarakan," rayu Sasuke dengan nada canggung.
"N-Neji-kun…"
Sasuke berdehem. "Ini Sasuke."
Tangis Sakura semakin menjadi-jadi. "Neji-kun…"
Dan Sasuke tak bersuara lagi. Sialan. Ia mati kutu.
"Neji-kun…hanya…hiks…anggap…a-aku…ad…hiks…ik…"
Sasuke menggigit bibirnya. Ia tak tahan lagi. Lalu ia memegang bahu Sakura hingga Sakura menghadap ke arahnya. Sakura terlihat bingung melihat tingkah Sasuke. Bahkan tangisannya berhenti sejenak. Sasuke menghela nafas melihat keadaan Sakura sekarang. Wajah penuh air mata. Hidung memerah. Rambut kusut dan tak sedikit helai-helai merah muda itu menutupi wajahnya. "Dengar ya! Sekarang suamimu adalah aku jadi jangan membicarakan pria lain di depanku!"
Sakura terdiam lalu menunduk. Ia mulai mengeluarkan suara tangisannya.
"H-hei! Dengarkan aku!" Sasuke mengangkat dagu Sakura dengan kasar. "Sekarang aku suamimu, mengerti!"
Sakura pun langsung menyingkirkan tangan Sasuke di dagunya. "Kenapa? Kita hanya bohongan 'kan? Kita menikah demi Opa!"
Sasuke menggeram tertahan. "Terus kenapa?"
"Jangan menganggap kau sebagai suamiku."
Heh? Sasuke tersenyum kecut. Lalu ia menatap Sakura dengan pandangan mengejek. "LALU APA GUNANYA PERNIKAHAN TADI!" bentak Sasuke sambil memukul kasur. Dan itu membuat Sakura terlonjak dan mendelik ketakutan. "KAU PIKIR 'MENIKAH' ITU MAIN-MAIN?"
Sakura menggigit bibir. Lalu ia menumpahkan air sucinya yang sempat berhenti mengalir tadi. Kini terdengar isakan kecil dari mulutnya.
Sasuke mendengus. "Dasar cengeng."
"Uh...Nej-i…"
BRAK!
Sasuke menggeram sambil memukul kasur lebih keras. "Berhenti memanggil namanya seperti itu di depanku!" Sasuke menatap Sakura dengan pandangan berkilat. "Kau membuatku terlihat seperti orang jahat di sini," desis Sasuke.
Sakura terdiam. Tubuhnya bergetar kecil. Sungguh, ia takut untuk berbicara. Kenapa? Kenapa Sasuke jadi sosok yang menakutkan begini?
Dan untuk beberapa menit ke depan, mereka hanya terdiam. Saling menutup mulut, enggan untuk berbicara sepatah kata pun. Sesekali hanya terdengar suara Sakura yang terbatuk-batuk.
"Maaf," Kata Sasuke akhirnya. "Tadi aku…sedikit emosi…" Sasuke membuang mukanya.
Sakura tak menjawab. Ia malah terbatuk-batuk. Sasuke pun tak berkata apa-apa lagi setelah itu. Mereka berdua berada dalam keadaan hening. Masing-masing dari mereka tidak ada yang mau menolehkan wajah hanya sekedar untuk bertatap muka sesaat.
Sasuke menunduk. Sungguh, ini bukanlah kecanggungan yang ia harapkan. Suasana saling diam dan menahan suara seperti ini sungguh membuatnya tak nyaman. Sesekali, ekor matanya melirik Sakura lalu kembali menatap lantai. Apa? Apa yang harus ia lakukan untuk membuat Sakura bicara padanya? Dan pikirannya pun beralih ke saat-saat dimana ia sebelum pingsan.
"Sakura, soal itu…maaf,"
Sakura mengangkat wajahnya. Ia beranikan diri menatap Sasuke yang tengah menundukkan kepala. 'Soal itu' apa? Sasuke minta maaf untuk hal yang sama dua kali?
"…Soal sebelum kita tak sadarkan diri."
Sakura mengerutkan dahinya. 'Soal sebelum kita tak sadarkan diri'. Hm, yang mana? Ingatan Sakura samar-samar mengingatnya. Bukankah saat ia pidato, lalu…err…
DEG
Tunggu…
Saat ia pidato, lalu…
Sakura melebarkan mata sambil menyentuh bibirnya. Bibirnya tak hangat lagi namun terasa kaku. Bibirnya tak lagi miliknya seorang namun telah ternodai oleh harum lelaki. Ia ingat… ya, ia ingat bagaimana Sasuke menyerangnya tiba-tiba. Ia ingat…ia ingat…bagaimana ia melakukan hal 'itu' dengan Sasuke di depan umum. Ia…
"Ak—"
PLAAKKK!
Sasuke memegangi pipi kanannya. Matanya membulat sempurna setelah ia merasakan sesuatu yang menyakitkan hinggap di pipinya. Sesuatu yang membuat pikirannya terhuyung sejenak. Sakit…ia merasakan rasa sakit menjalari bagian wajahnya di bawah mata. Sakura menamparnya.
"Hiks…hiks…"
Sasuke merasakan rahangnya mengeras. Ini…pertama kalinya ia mendapat hadiah tamparan di pipi. Siapa Sakura? Berani-beraninya ia menamparnya. Siapa Haruno Sakura! Ah, tunggu. Uchiha Sakura adalah istrinya.
Sasuke tersenyum kecut. Pipinya terasa nyeri. Sakura menamparnya dengan keras. Memang kenapa? Memang kenapa jika suami mencium istrinya? Tidak boleh? Tapi bagaimana jika Neji menciumnya? Ah, benar juga. Ya, pasti Sakura dengan senang hati akan menerima Neji. Seperti yang pernah Sasuke lihat di Rumah Sakit. Aneh. Menyebalkan.
"Kau kenapa sih? Itu 'kan hanya sekedar—"
"KAU PIKIR BERAPA HARGA DIRIKU! ITU ADALAH CIUMAN PERTAMAKU TAHU!"
.
.
.
EH?
Sasuke melebarkan matanya kaget. 'Ciuman pertama'? Jadi…Sakura dan Neji tak pernah…
"Kenapa ciuman pertamaku seperti ini…hiks…" Sakura terisak kembali. Ia menggeleng-geleng tidak jelas.
Sasuke terdiam. Lalu ia mengacak rambutnya. Ia harus berbuat apa? Kenapa Sakura sampai segitunya hanya karena ciuman pertama? Berlebihan sekali.
Sasuke melirik Sakura khawatir sambil meraba bibirnya. Kau bodoh Sasuke. Bagi perempuan, ciuman pertama adalah hal yang penting. Hal yang harusnya dilakukan dalam suasana yang indah dan romantis dengan orang yang dicinta—ah, bahkan Sakura tak mencintainya.
Sakura pun beranjak dari tempatnya. Mata Sasuke mengekori kemana Sakura akan pergi. Ternyata ke pintu. Oh iya, sejak tadi mereka berada di sini. Hm, dan Sasuke perhatikan ruangan ini…Sasuke mengenalnya. Ini adalah sebuah ruangan yang tempo hari pernah Fugaku tunjukkan padanya. Sebuah kamar di sebuah bangunan baru milik Keluarga Uchiha dekat kuil. Kamar yang katanya untuk…malam pertama…
EH?
Sasuke membulatkan mata sambil memeluk tubuhnya sendiri. Oh…God…ia masih 15 tahun…ia tidak…tahu…
ARRRGHHH
Sasuke menelan ludahnya susah payah. Dan dengan takut-takut, onyxnya melirik sosok wanita yang seharusnya bersenang-senang dengannya saat ini. Melihat Sakura malah berkacak pinggang di dekat pintu, membuat Sasuke mau tak mau menghampirinya.
"Kenapa?"
"Di-dikunci…"
Sasuke menarik nafas. Lalu ia menarik handle pintu sekuat tenaga. Beberapa menit kemudian yang terjadi adalah Sasuke yang mengelus-elus kakinya yang ia gunakan untuk menendang pintu. "Sial. Kita dikunci dari luar."
Sakura mematung. Wajah kusutnya sungguh tak menampakkan setitik pun cahaya kehidupan. Hari pernikahan, atau hari tersialnya? Dengan lemas, Sakura kembali ke ranjang. Sasuke pun mengikutinya. Sasuke duduk di sebelah Sakura yang meringkuk.
Mereka saling terdiam kembali. Ini keadaan yang membuat mereka terasa jauh. Kecanggungan yang membuat mereka seperti tidak mengenal satu sama lain. Ini…membosankan.
"Hiks…hiks…"
Sasuke melirik Sakura di sebelahnya. "Kau cengeng sekali sih."
Sakura mengangkat wajahnya dan mencengkeram kerah Sasuke. "KAU PIKIR CIUMAN PERTAMAKU BISA DIREBUT SEMUDAH ITU!" pekik Sakura. Ia memukul-mukul dada Sasuke dengan beringas.
"Kau pikir aku tahu kalau aku menciummu? Itu juga ciuman pertamaku tahu!" Sasuke membuang muka. 'Dia mikirin itu terus sih.'
"KAU MENYEBALKAN! MENYEBALKAN! MENYEBALKAN!" Sakura kembali terisak. "KENAPA JUGA AKU HARUS BERADA DI SINI BERSAMAMU!"
Sasuke mendengus lalu menurunkan tangan Sakura yang memukuli dadanya lemah. "Lalu kau ingin bagaimana? Gara-gara kita pingsan, kita malah terkunci di sini. Kau menjerit sekeras apapun, orang-orang di luar takkan bisa mendengarnya. Kau ingin kabur lewat jendela? Yang benar saja. Ini lantai 5."
"Jahat…hiks…"
Sasuke memejamkan mata. "Jika kau bilang 'jahat', kenapa kau mau menikah, hah? Apapun yang kau katakan, sekarang kita adalah suami istri. Kau dengar? Kau istriku, dan aku suamimu."
Sakura terisak semakin keras. Ia pun meremas seprei berwarna biru keunguan di ranjang itu. "Hiks…hiks…hiks…"
"Hei, sudahlah… aku akan tidur di sofa kok." Sasuke menghela nafas berat lalu turun dari ranjangnya. "Kau juga tak perlu menyesalinya. Itu percuma."
Sakura tak berkata apa-apa. Wajahnya tertutup oleh telapak tangan. Sama sekali tak ada niatan di hatinya untuk menyuruh otaknya bekerja dan membuat matanya melirik barang sedikit ke arah Sasuke.
Sasuke terdiam merenung. 'Sialan, apa sih maksudnya! Ini pasti perbuatan Opa!' batin Sasuke menggeram tertahan. Matanya mengerjap saat melihat ada nampan berisi 2 gelas air putih di atas meja di sisi ranjang. Ia pun mengambilnya satu. Lalu dengan memalingkan wajah, Sasuke menghampiri Sakura dan memberikan air itu pada Sakura. "Minum dulu. Tenangkan dirimu."
Sakura melirik gelas berisi air putih yang disodorkan Sasuke. Benar juga, tenggorokkannya sangat kering gara-gara habis menangis. Dengan kesal pun Sakura menerimanya. "Aku takkan berterima kasih." Lalu Sakura meneguknya sedikit.
Sakura terdiam.
SING
Sakura terdiam beberapa menit. Rasanya…ini…bukan seperti air putih… rasanya… uh… "Ini apa, Sasuke? Kau berikan aku minuman apa! Kau mau meracuniku ya?"
Sasuke menaikkan alis. "Kau bicara apa, sih? Itu air putih bodoh."
Sakura tertegun. Lalu ia mencoba merasakan kembali minumannya. "Ini bukan air putih! Kau memberiku racun!"
Sasuke mengerutkan dahi. Itu air putih kok. Kelihatan sekali dari gelasnya yang transparan. Sasuke dengan ogah-ogahan mengambil gelas yang tersisa dan meneguknya sampai habis. "Ini air putih tahu! Kau mau menghina lidahku!"
Sakura terdiam lalu memandang minumannya. "Tapi, rasanya…"
"Mungkin lidahmu saja yang aneh. Coba saja kau teguk semuanya langsung! Jangan setengah-setengah!" Sasuke pun hendak menaruh gelasnya yang sudah kosong di atas meja sementara Sakura dengan ragu-ragu meneguk semua minumannya sampai habis. Tiba-tiba…
PRANG!
Sasuke menjatuhkan gelasnya. Pandangannya mengabur. Ada apa ini? Kepalanya pusing. Pandangannya terhadap suatu objek bahkan menjadi berlipat-lipat ganda. Darahnya panas. Tubuhnya menjadi kesemutan. Ia gemetaran. Namun jauh di luar pikirannya saat ini, ia mencoba mengingat-ingat sesuatu…
Rasa air putih tadi…seperti sake.
.
.
.
Dengan pandangan mengabur, Sasuke bisa melihat Sakura di atas ranjang sedang memegangi kepala. Wajah mereka sama-sama merah. Sasuke memperhatikan Sakura. Sakura hanya memakai kakeshita. Bahkan bawahannya terbuka dan memperlihatkan sedikit paha putihnya. Sasuke pun menyeringai. "Sakura…"
Sakura memandang Sasuke sayu. Entahlah, kepalanya sangat pusing. Pikirannya…kosong.
Sasuke pun membaringkan Sakura perlahan di atas ranjang. Lalu perlahan ia mengusap pipi lembut Sakura. "Kau cantik sekali…" ia membelai rambut Sakura. "rambutmu sangat…hik, indah…"
Sakura tersenyum. Wajahnya tak kalah merah dengan Sasuke. Ia pun meraba dada Sasuke—dada yang baru saja dipukulinya. "Kau…menyebalkan…hik."
Sasuke pun menundukkan wajahnya. "Aku…hik…senang…kau mau…jadi…hik." Perlahan ia mencium pipi Sakura. Sementara Sakura hanya terkikik geli. Sakura meremas seprei dengan kuat. Sasuke tersenyum lalu bibirnya beralih ke bibir Sakura.
"Ayo kita bersenang-senang, hik."
End of flashback
.
.
.
Sasuke dan Sakura saling menyunggingkan senyum. Hn, dan saat bibir tersenyum mereka hendak bersentuhan,
DUAGH!
Sakura segera menendang perut Sasuke dan menarik seprei yang ia remas lalu melemparnya ke Sasuke yang terjungkal. "UNTUKMU YANG TELAH MEREBUT CIUMAN PERTAMAKU!"
Sasuke melempar asal seprei yang dilempar Sakura padanya lalu ia menindih Sakura dan memelintir tangan kiri Sakura. "UNTUK WANITA YANG BERANI MEMBICARAKAN PRIA LAIN DI DEPAN SUAMINYA!"
Sakura meringis kesakitan lalu ia menggigit bahu Sasuke sekeras mungkin. Sasuke merintih lalu mundur sambil memegangi bahunya yang nyeri. "UNTUKMU YANG TELAH MEMBUATKU MENIKAH DI USIA SEGINI!"
Sasuke menggeram lalu tangannya mencoba menarik lengan Sakura namun Sakura berusaha menghindar sehingga Sasuke merobek lengan kakeshita Sakura. Sakura yang merasa tak terima pun merobek Hakama Sasuke di bagian dada. Dan saat itu juga Sasuke menggigit leher Sakura dengan cepat.
"KYAAAAA!" Sakura menjerit dan mendorong kepala Sasuke menjauhi lehernya. Nafas Sasuke dan Sakura terengah-engah. Mereka saling berpandangan.
"UNTUK ISTRI YANG BERANI MENGGINGIT BAHU SUAMINYA!" pekik Sasuke. Dadanya naik turun. Nafasnya tak beraturan. Ia pandangi Sakura dengan pandangan tajam.
Sakura belum mampu untuk membalas karena ia masih mencoba mengambil nafas. Namun beberapa detik kemudian ia menggeram.
Ya, dan acara 'bersenang-senang' pun dilanjutkan.
-o0o-
.
.
.
Fugaku menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Sejak tadi matanya berputar mencari sosok pemuda berkuncir narsis yang menjadi darah daging pertamanya itu. Melihat ada seorang lelaki yang sedang bergoyang di tengah gerombolan orang-orang aneh di dekat sebuah mobil—sepertinya mereka akan pergi, membuat Fugaku menggeram sambil meyesali tingkah putra sulungnya yang sangat tidak elit. Fugaku menghampiri Itachi.
"Kalau saja kita bisa—WADAW!" Itachi meringis saat ia merasakan telinga kanannya ditarik oleh seseorang. Saat ia menoleh… "Eh, Ayah…"
"Kapan kau akan bersikap dewasa, Itachi?" geram Fugaku. "Dimana Sasuke dan Sakura? Mereka sudah sadar?"
"Aku nggak tahu, Yah…" Itachi mencoba melepas jeweran Fugaku di telinganya. Sementara Akatsuki yang melihat itu berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Mereka ada di kamarnya…"
Fugaku berdehem lalu meninggalkan Itachi. Ia menghampiri Madara yang tengah mengobrol dengan Mikoto dan juga keluarga Sakura.
"Ahaha, tentu saja, aku sangat mengharapkan anak—"
"Ayah," panggil Fugaku memotong perkataan Madara yang sedang bergurau dengan Jiraiya.
"Oh ya. Bagaimana dengan Sasuke dan Sakura? Mereka sudah sadar?" tanya Madara dengan mata berbinar.
Fugaku mengangkat bahu. "Kata Itachi mereka masih berada di kamar."
Madara menggumam mengerti.
"Ah, bagaimana kalau terjadi 'sesuatu' pada mereka?" sahut Jiraiya. Dan itu membuat semua menoleh padanya dengan pandangan heran. Jiraiya mengangkat bahu, "Ya…bisa saja 'kan…mereka 'kan pengantin baru, kalian pasti tahu apa yang biasanya dilakukan pengantin baru berdua di dalam kamar," kata Jiraiya enteng.
Semua membulatkan mata sementara Tsunade menginjak kaki Jiraiya.
"Jangan mengutarakan hal seperti itu dengan enteng, bodoh…"desis Tsunade.
"Ah, tunggu, benar juga…" Mikoto menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya.
"Mereka masih dini, mereka tak tahu apa-apa," ujar Kiyoka menenangkan.
Ochika pun menyenggol lengan Kiyoka. "Kau bodoh! Bagaimana kalau terjadi betulan!"
Madara berdehem lalu mulai menunjukkan mimik wajah seriusnya. Ia pun memanggil Hayate dan menyuruh Hayate untuk membereskan semua di kuil. Sementara ia sekeluarga pergi menuju tempat dimana Sasuke dan Sakura berada.
.
.
.
"Selamat malam…"
Madara tak menghiraukan salam dari pelayan-pelayan yang telah berjejer rapi di depan pintu masuk. Langkah terburu-burunya diikuti oleh langkah Fugaku, Mikoto, Kiyoka, Ochika, Tsunade, dan Jiraiya. Mereka langsung saja naik menuju lantai 5.
Mereka berjalan dengan langkah hati-hati. Terlihat di depan para orang tua itu di ujung lantai 5, sebuah pintu besar berwarna putih yang kelihatannya tenang itu. Pintu sebuah kamar dimana pasangan yang baru menikah itu ditempatkan setelah pingsan.
"Uh…uh…"
Semua mengerutkan dahi mendengar suara desahan yang terdengar. Padahal mereka baru berada beberapa meter di depan pintu. Dan suara tadi…suara Sakura.
"KYAAAA! SASUKE!"
Semua berjengit mendengar suara jeritan tadi. Jeritan Sakura. Sudah dipastikan, Sasuke dan Sakura telah sadar.
"KAU MENYEBALKAN SAKURA! UGGHH! DIAMLAH!"
Semua mendelik mendengar suara Sasuke. Apa? Apa yang terjadi? Mewakili rasa penasaran semuanya, Madara pun mengambil ancang-ancang untuk membuka pintu. Ia memegang handle pintu dan menariknya.
"Pintunya dikunci," bisik Madara pelan.
Yang lain mendesah khawatir. Bagaimana tidak? Sasuke dan Sakura masih 15 tahun dan mereka bisa saja…atau…ARRRGGHHH
"Dari dalam atau dari luar?" tanya Ochika khawatir.
"SAKIT BODOH! AKKKHHH!"
Semua mendelik mendengar suara Sakura yang sangat keras dan memekikkan telinga itu. Mereka saling bepandangan khawatir.
"Itachi, dia yang…"
"Baiklah, dimana dia?" tanya Ochika cepat memotong omongan Fugaku.
Fugaku mengangkat bahu. "Kupikir dia sedang pergi."
"Lalu bagaimana?" tanya Tsunade khawatir.
"Kenapa tidak diteruskan saja? Hm? Bukankah mereka sudah menikah?" kata Jiraiya enteng seenteng-entengnya dan hadiah deathglare langsung diberikan padanya. Oke, kapan pun dimana pun, otak mesumnya selalu jalan.
"Mana bisa begitu, Ayah!" bentak Ochika dengan nada gusar.
"KYAAAAAA! KENAPA ADA DARAH DI SINI!"
Semua membulatkan mata mendengar jeritan Sakura tadi.
"Baiklah, baiklah! Aku akan coba mencari Itachi!" kata Kiyoka akhirnya. Ia berjalan cepat meninggalkan tempat itu sambil menarik tangan Ochika.
Fugaku langsung membuka ponselnya. Ia mencoba menghubungi Itachi.
Nomor yang Anda hubungi, sedang tidak aktif. Silahkan tung—
Fugaku langsung memutus sambungan mendengar suara yang terdengar saat ia menghubungi nomor putra sulungnya. Dalam hati ia sungguh merutuki anaknya. Ia pun melirik Mikoto yang terlihat sangat cemas. Fugaku menggelengkan kepala.
Madara dan Jiraiya saling bertatapan dan kemudian keduanya mengangguk mantap. Mereka mengambil ancang-ancang.
1
2
3
BRAKKKK!
Pintu didobrak lalu terbuka dan menampakkan hal yang membuat para orang tua itu hampir kehilangan separuh nyawa mereka.
"KAU MENYEBALKAN!" Sakura melempar Sasuke dengan bantal. Terlihat Sasuke menghindar dengan sigap.
"KAU YANG MENYEBALKAN! BISA-BISANYA PUNYA RAMBUT PINK! MENGGELIKAN TAHU!" Sasuke pun mendorong Sakura hingga tubuh mungil Sakura terbentur dinding.
"SUDAH KUBILANG SAKIT!" Sakura pun meninju wajah Sasuke hingga Sasuke terpental.
"KAU PIKIR HANYA KAU YANG BISA, EH!" Sasuke menghampiri Sakura dengan cepat dan mendorong Sakura hingga mereka jatuh di kasur.
BUGH
Sakura langsung menendang perut Sasuke dengan keras. Lalu ia bangkit dan mulai menjambak rambut Sasuke. Ya, Sakura duduk di atas perut Sasuke. Sementara Sasuke mencoba meraih rambut Sakura dan ketika sampai, pemuda yang kini pakaiannya telah rombeng itu menjambak rambut istrinya.
.
.
.
Kami-sama…
.
.
.
"KYAAAAAAAA!" Para orang tua pun berteriak histeris melihat apa yang terjadi di dalam kamar dua pasangan yang baru saja menikah itu.
.
.
Sebuah perkelahian pengantin baru yang gila-gilaan.
TBC
A/N
Ohayou Gozaimasu!
Hoshi Yamashita di sini…
Yosh, apakah saya update terlalu lama dan ngaret? *lari* Maaf banget dan terima kasih buat yang masih mau berkenan menunggu kelanjutan fic ini…
Ehe, ini fic rated T kok. Saya sih belum sanggup bikin rated M (mbaca aja masih bergidik), tapi mungkin saya pengin coba-coba bikin, haha, mohon dukungannya… *digebukin*becanda. Oh iya, buat first night-nya SasuSaku, nanti pasti ada waktunya. Mereka kan masih 15 tahun, nggak boleh melakukan hubungan seperti itu dulu.
Oh iya, buat adegan perkelahian, diadaptasi dari saya yang suka main tendang-tendangan sama sodara saya. Hahaha, inget masa lalu. Oh iya, maksud dari 'bersenang-senang' chapter kemarin ya 'berkelahi'.
Semoga chapter ini tidak mengecewakan, karena ini masih masa-masa setelah menikah, belum masuk ke konflik, ^^
Special Thanks To:
Putri Luna, Risuki Taka, Inori chan, senayuki-chan, and'z a.n, Maito, Aichiruchan Phantomhive, Lady Spain, Ryosuke Michi626, QRen, Meity-chan, DEVIL'D, Hikari Shinju, 4ntk4-ch4n, rchrt, bebCWIB uchiHAruno, Thia, D kiroYoiD, Youi Hayatoshiro, Sasusaku Hikaruno-chan, Devil's of Kunoichi, Midori Kumiko, A, Nay Hatake, Matsumoto Rika, Richi Hasegawa, Minnie Chagiy4, Soraka Menashi, Ailya Jane Dramione, Fae-chan, SasuSaku Hikaruno-chan, Violetz LP Underground, haruno gemini-chan, CheZaHana-chan, ddbb, lawranakaido
Yosh! Balas review ga login! (yang login lewat PM ^^):
Putri Luna : Wah, makasih udah RnR, hah? Pesona Sasuke? Ini udah update kok, RnR lagi…?
Inori chan : Tugas-tugas dan kegiatan *pip* yang menyebalkan udah kelar kok. Kenapa diumumkan? Kamu akan tahu nanti, so RnR…
Maito : Makasih banget dah RnR! *nari hula*Hehe, makasih juga buat pujiannya. Yak, kegiatan *pip* yang ngribeti saya sudah kelar sekarang. Jadi saya bisa balik bikin cerita! Yehei! Saya nggak bakal discontinued kok, walau banyak halangan dan rintangan, saya akan terus berusaha menamatkan fic ini! So… RnR lagi…?
QRen : Yak yak! Semoga SasuSaku bahagia! *lho?* Belum bahagia bener kok, banyak halangan dan rintangan yang harus mereka jalani sebagai suami-istri, hehe. Yosh, RnR lagi…?
Meity-chan : Wakh? Endingnya mau rated M? waduh, nggak kok, tuh di atas *nunjuk fic*. Bukan rated M kan? Saya masih senang dengan rated T saya *?*, ini udah update walo ngaret. RnR lagi…?
DEVIL'D : Wakh, berarti Neji ke rumah kamu dong? Wah… Hehe, iya tuh, Sasuke terlalu agresif. Dan mungkin kayaknya di fic ini yang agresif terus bukan Sakura-nya. Oh iya, ga ganti rate kok, ^^, RnR lagi…?
Hikari Shinju : Makasih banyak! *pelukpelukcium#PLAK* Hehe, saya juga ngerasa kepanjangan, *pundung* kelemahan saya selalu membuat cerita seenak sendiri tanpa dipikir, haha. Oh iya, Hikari punya akun nggak sih? Pengin ngobrol deh, #PLAK. Yosh, RnR lagi…?
Thia : Ini udah update, makasih banyak, RnR lagi…?
A : Hehe, wah, kamu pro Madara ya? Rencana Madara buat first night-nya SasuSaku mungkin nanti ada bagiannya sendiri kok. Hehe, pokoknya, mungkin nanti banyak aksi Madara buat SasuSaku! RnR lagi…?
Matsumoto Rika : Hehe, ini udah update kok. Makasih banget atas review-nya, RnR lagi…?
Soraka Menashi : Haha, Sasu emang ganteng, tapi masih gantengan Ita-kun! Yeyeye! RnR lagi…?
Fae-chan : Fae-chan~ entah kenapa saya kangen sama kamu! *lho?* hah? Gigi palsu? Ya ampun… kamu sama Shadow gila-gilaan ya… #PLAK! Hehe, SasuSaku nggak sampe bobo kok… Makasih dah review, ini sudah update walo ngaret. RnR lagi…?
Violetz LP Underground : Neji nggak bakal menderita kok. Tunggu saja kelanjutannya, RnR lagi…?
Ddbb : Lanjutannya adalah chapter ini! *triak girang* Makasih udah review, RnR lagi…?
Lawranakaido : Hehe, maaf banget saya lama update. Sebenarnya saya udah mau update dari kemaren-kemaren, Cuma waktu itu saya belum nulis balasan review yang ga login di fic ini, T_T Malah abis itu FFn error terus lagi, huah… jadi update telat deh, hehe. Makasih atas review dan dukungannya, RnR lagi…?
Akhir kata,
Kritik, saran, pujian *ngarep*, masukan, sepatah dua patah kata penyemangat, atau apa saja yang termasuk kategori REVIEW (terkecuali flame), sangat saya harapkan! ^.^
.
Dan saya perjelas lagi, tidak menerima flame dalam bentuk apapun karena saya yakin para flamer cukup cerdas untuk mengetahui arti kalimat "Don't like? Don't read"
.
Hehe, REVIEWnya please…
