Disclaimer: Pastinya bukan Arale~. Tapi, Masashi Kishimoto-Sensei.
Reted: Untuk sementara waktu Arale bermain di rated T dulu.
Warning: YAOI, TYPO, abal, OOC, AU, dan ke tidak sempurnaan lainnya.
DON'T LIKE! DON'T READ IT!
IF YOU ARE FUJOSHI~ READ THIS~
o0o0o0o0o0o0o0o0o
Chapter 2
"Diary?"
Sasuke menatap buku yang tergeletak di sebelah Catatannya. Buku bersampul orange yang jelas-jelas tertulis DIARY'S di sampulnya. Sasuke menyambar buku catatannya dan segera bergegas keluar dari kamar Naruto. Tapi, entah mengapa matanya tak bisa lepas dari buku setebal 2 cm itu.
Perlahan dia menyentuh buku itu, membukanya perlahan.
"Tidak boleh! Ini privasi." ujarnya sambil menutup kembali buku yang sudah setengah terbuka itu.
Tapi, rasa ingin tahu Uchiha muda itu memimpin jauh di dalam otaknya.
"Sedikit saja… Siapa suruh si Dobe itu meletakkan buku seperti ini sembarangan. Ini artinya dia meminta orang lain untuk membaca isinya."
Sasuke membalik-balik halaman demi halaman yang diisi oleh tulisan Naruto yang cakar ayam dan penuh coretan di sana-sini karena penulisan kanji yang salah atau pengungkapan yang salah.
Tangan Sasuke terhenti pada sebuah halaman.
o0o0o0o0o0o0o0o0o
10 Oktober
Hari ini ulang tahunku yang ke 16…
Dan kudapati celanaku basah oleh cairan aneh yang sedikit kental saat ku terbangun dari tidur. Kata Shikamaru , itu mimpi basah. Dan Kiba tertawa keras saat aku membaritahunya ini mimpi basah pertamaku. Katanya aku terlambat puber. Apa ada yang aneh? Apa aku punya kelainan? Soalnya pasanganku dalam mimpi itu lelaki…
11 Oktober
Saat ku tanyakan pada Kaa-san apakah aku kelainan. Kaa-san menjawab, itu hanya kebetulan. Dan aku tidak kelainan. Syukurlah…
Malamnya, Kaa-san membuatkan nasi beras merah. Katanya untuk merayakan mimpi basah pertamaku.
Argh~ Kaa-san membuatku malu~ Semoga tidak ada teman sekolahku yang tahu.
13 Oktober
Siapa dia? Mengapa sentuhannya familiar di ingatan dan tubuhku?
Dan mengapa aku sama sekali tak ingat siapa dia?
Tapi, satu hal yang aku tahu…
Aku mengenalnya…
Sangat mengenalnya…
16 Oktober
Masih lelaki itu… Akirnya aku sadar, aku tak normal. Aku GAY…
Hal ini tak boleh diketahui Kaa-san…
Atau tidak, beliau akan kembali menangis seperti saat dia tahu aniki Gay 2 tahun yang lalu.
Tak boleh ada yang tahu. Teman-temanku juga…
Apalagi Sasuke…
Sasuke… Apa yang akan kau katakan saat tahu sahabatmu ini menderita penyimpangan orientasi seksual?
20 Oktober
Akhirnya aku tahu…
Itu memang dia…
Yang selalu hadir di mimpiku…
Aku tahu kalau perasaan ini salah…
Rasa cinta ini tak sepatutnya tumbuh…
Aku mencintainya… Mencintai teman baikku sendiri.
o0o0o0o0o0o0o0o0o
Cklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Sasuke segera menutup Diary itu dan bergegas keluar dari kamar ber-cat orange itu dengan perasaan kacau. Sayangnya, Naruto yang keluar dari kamar mandi masih sempat melihat punggung Sasuke yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Lho, Sasuke dari tadi ada dikamarku?"
Naruto tersadar sesuatu dan segera menatap horror ke arah meja belajarnya dan mendapati posisi Diarynya bergeser sekitar 10 cm dari posisi semula dan hanya memukul kepalanya sendiri atas kebodohannya dan tersenyum miris.
"Jadi, Sasuke sudah mengetahuinya."
10 menit kemudian Naruto menuruni tangga menuju ruang tengah dimana terlihat Sasuke duduk sambil sibuk menggonta ganti Channel TV. Naruto melangkah menghampiri Sasuke yang tidak sadar akan kehadirannya.
"Hoi, Teme! Kenapa mukamu kusut begitu?" Naruto menjatuhkan diri di sebelah Sasuke duduk.
"Hn." Hanya itu jawaban dari pemuda Raven itu dan segera berdiri sambil menyambar tasnya yang tadi tergeletak di sebelahnya.
"Sudahlah, ayo kita berangkat." Katanya acuh dan meninggalkan Naruto yang hanya bisa tersenyum maklum di belakang.
o0o0o0o0o0o0o0o0o
Kamis siang in Konoha High School.
Sudah beberapa hari ini entah mengapa Naruto merasakan tatapan tajam dari Sasuke. Tapi, setiap ditanyakan jawabannya sama saja.
"Tidak. Hanya perasaanmu saja."
Naruto hanya bisa mengangguk menerima alasan yang diberikan Sasuke padanya.
Naruto yakin bahwa Sasuke pasti sudah mengetahui orientasi seksualnya gara-gara membaca buku hariannya beberapa Senin lalu. Naruto bersyukur Sasuke tidak menghindarinya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Hanya ada beberapa hal yang berubah dari Sasuke belakangan ini yang dianggap Naruto merupakan efek dari 'Membaca Buku Hariannya'. Kini Sasuke mengekor kemanapun Naruto pergi dan mengirimkan 'death glare' pada siapapun yang berbicara akrab pada bocah orange ribut itu.
"Sasuke, kau kenapa sih belakangan ini?" tanya Naruto siang itu siang itu diatap sekolah saat istirahat siang. Shikamaru bolos siang itu gara-gara Kiba merengek minta ditemani mengantarkan anak anjingnya ke dokter hewan. Jadi, kini di atap hanya ada mereka berdua.
"Hn." Jawab Sasuke acuh sambil mengigit roti yang baru saja mereka beli di kantin sekolah.
"Kemarin kau cari masalah dengan Neji-senpai di dojou sekolah. Kemarin satu lagi kau juga adu mulut dengan Gaara yang mengajakku latihan band. Pagi tadi, kau mengamuk didepan Kiba yang mengajakku menemaninya mengantarkan Akamaru ke dokter hewan."
"Hn."
"Tapi lucunya kau tidak marah saat Sakura dan Ino merengek padaku minta tolong mengambilkan topi Hinata yang tersangkut di atas pohon." Tambah Naruto sambil menenggak jus jeruk kotaknya.
"Tidak ada hubungannya."
"Hhh~ Sasuke… Aku tahu niatmu baik, tapi bukan begitu caranya kan. Membuat semua teman lelakiku menjauhiku gara-gara sikapmu." Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Aku hanya tak ingin kau dekat-dekat dengan mereka."
"Aku juga tak mau seperti ini. Kau kira aku tak tersiksa dengan keadaanku yang seperti ini."
"Karena aku tahu kau tak akan melirik gadis-gadis bodoh itu."
Naruto tersadar. Obrolan mereka sama sekali tidak nyambung. Mereka seolah berkata sesuai jalan pikiran masing-masing.
"Kau tahu Sasuke, obrolan kita sama sekali tidak nyambung."
"Karena kau bodoh." Jawab Sasuke santai sambil merebahkan tubuhnya menatap langit biru yang dihiasi sedikit awan.
Naruto mengerutkan alisnya. "Kau sudah tahu kan orientasi seksualku bagaimana?"
Sasuke terlihat sedikit terkaget dan segera menutupi kekagetannya dibalik wajah stoicnya.
"Ya. Maaf aku membaca buku harianmu."
"Tidak apa-apa."
"Lalu, sekarang apa rencanamu untuk 'menormalkan' sahabatmu ini?" Tanya Naruto sambil ikut merebahkan diri disamping Sasuke.
Sasuke hanya menatap Naruto heran. "Aku tak pernah merencanakan apapun,"
"Oh… Lalu kenapa kau membuatku dibenci oleh teman lelakiku, tapi kau membiarkan aku dekat dengan anak-anak perempuan itu?"
"Karena aku tak ingin kau menjadi milik orang-orang seperti mereka."
"…" Naruto hanya bisa memasang wajah penuh tanya tapi diacuhkan oleh Sasuke yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mereka terdiam untuk beberapa saat ketika Naruto kembali angkat bicara.
"Hey, Teme,"
"Apa, Dobe."
"Apa pendapatmu tentang Homoseksualitas?"
"Tidak ada yang aneh,"
"Kau yakin?" Naruto tidak percaya dengan yang dikatakan oleh sahabatnya yang tampan itu.
"Karena aku sepertinya juga menyimpang." Jawaban itu membuat Naruto terkaget dan terduduk dari posisinya sebelumnya.
"Apa mak…" Pertanyaan Naruto terputus ketika pintu tangga darurat terbuka tiba-tiba dan muncul sosok Shikamaru dan Kiba yang sedang menggendong Akamaru sambil bertengkar mulut.
"Gara-gara kau kita ketahuan membolos. Kenapa kau tidak lari sih, saat Kotetsu-sensei mengejar kita tadi?" Pemuda bertato merah di kedua pipinya itu memarahi pemuda bertampang lesu disebelahnya.
"Ck… Mendokusai. Lagipula kita kan bisa mengantar Akamaru nanti sepulang sekolah."
"Tapi, kalau sepulang sekolah, kliniknya sudah tutup! Kau ini kalau tidak niat menemaniku dari awal, tidak usah sok mau menemani. Aku tahu kau tidak peduli pada Akamaru, makanya awalnya aku mengajak Naruto menemaniku. Tapi, Uchiha brengsek itu malah mengamuk seolah pacarnya kurebut."
Naruto yang menyadari bahwa Kiba dan Shikamaru tidak menyadari kehadiran mereka mulai melangkah mendekati kedua pemuda itu. Tapi, lengannya ditahan oleh Sasuke yang sudah melemparkan Death Glare seolah berkata,
"Kalau kau kesana, aku tidak mau kenal kau lagi!"
"Ta, tapi Sasuke. Kalau tidak aku hentikan…" Kata-kata Naruto terputus ketika melihat reaksi Sasuke yang terkaget luar biasa. Naruto segera membalikkan badan melihat apa yang terjadi.
"Ah~ Mati aku." Ucapnya sambil memukul kepalanya saat melihat Shikamaru yang mencium Kiba yang tadi masih berkomat-kamit tak jelas untuk mendiamkannya.
(To be Continued)
Bunda: Kok alurnya ngegantung gitu?
Arale: Errr… mau gimana lagi, sebenarnya rada mampet neh *garuk2 pala*
Bunda: Maunya si pantat ayam itu apaan sih?
Arale: Gak tahu juga yaaa…
Bunda: Kok protective banget gitu sih?
Arale: Errr…. *mikir*
Bunda: Mana lemonannya?
Arale: Gak ada.
Bunda: Yah~ Gak asik ah~
Sorry kalau chapter ini rada gaje masa depan… Soalnya Arale lagi kehilangan semangat hidup *mewek*.
Semoga di chapter 3 bisa lebih menggigit…
RnR please…. m(_)m
