+= Wet Dream Chapter 3=+

Naruto © Masashi Kishimoto

Jealous © Arale L. Ryuuzaki

Pair: SasukexNaruto, KibaxShikamaru

Genre: Romance/Drama

Rated: T (tapi, kayanya terlalu complicated untuk dibilang rated T)

Warning: TYPO, Shounen Ai, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…

.

Part 3:

My Heartbeat

0o0o0o0o0o0o0

.

.

"Shikamaru, Kiba!" teriakan Naruto sukses membuat kedua pemuda itu melepaskan ciuman panasnya.

"Na-naruto…" ucap Kiba dengan rona merah dipipinya. "Uchiha!" kagetnya melihat sosok pemuda raven di belakang Naruto yang sudah bisa menguasai diri.

"Ck, mendokusai."

"Hn," cibir Sasuke.

Kiba yang merasa ditertawakan mengamuk.

"Kau…!"

Tapi, sebelum Kiba mengamuk, badannya sudah ditahan oleh Shikamaru yang memeluk pinggangnya sebelah tangan, dan Naruto reflek membentuk barikade untuk melindungi Sasuke dari serangan Kiba.

"Kiba, jangan gegabah. Kau sendiri juga tahu kalau si Uchiha jago Aikido, kan?" ucap Shikamaru tenang.

"Sasuke, sebaiknya kau pergi ke kelas duluan. Ada yang ingin ku bicarakan dengan mereka berdua." Naruto mendorong Sasuke menuju tangga darurat tempat Shikamaru dan Kiba datang tadi.

"Hei-hei, aku bisa jalan sendiri, Dobe. Jangan dorong-dorong seperti ini." Ucap Sasuke sambil melangkah meninggalkan tiga pemuda itu di atap sekolah.

Saat berpapasan dengan Shikamaru dan Kiba, Sasuke berkata, "Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka mengumbar-umbar keburukan orang lain, dan menggosip sesuatu yang tidak penting." Dan segera menuruni tangga.

"…" Shikamaru hanya bisa diam sambil terus menahan tubuh Kiba yang masih melancarkan death glare sampai Sasuke menghilang dibalik tangga.

"Hhh… Kalian sih ceroboh. Tapi tenang saja, Sasuke pasti tidak akan bicara pada siapapun… tentang 'kita'."

"Huh!" Kiba mendengus kesal.

"Maaf. Tapi, hanya itu satu satunya cara untuk mendiamkan mulut anak ini." Ucap Shikamaru sambil mengacak-acak rambut kekasihnya.

"Ah… Sudahlah!" Kata Kiba yang masih merajuk dengan muka merona. Tapi, Kiba menyadari sesuatu. "Ah, tadi kau menyebut 'kita'. Apa artinya Sasuke sudah tahu bahwa kau juga…"

"Ya begitulah." Naruto melipat tangannya dan menunjukkan cengiran khasnya.

"Dan Reaksinya?" Tanya Shikamaru penasaran. Kiba pun mengangguk-angguk penuh minat.

"Eto… Aku tadi juga menanyakan hal itu, tapi kalian keburu datang." Ucap Naruto sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal.

"Yah…" Ujar Kiba penuh rasa kecewa.

"Tapi, satu hal yang baru bisa kukatakan. Dia tidak menganggap aneh soal Homoseksualitas."

"Maksudmu?" Shikamaru mengerutkan alisnya.

"Yah… Dia belum mengatakan alasannya padaku."

"Oh." Shikamaru dan Kiba mengagguk-angguk paham.

0o0o0o0o0o0o0

Bel tanda istirahat siang pun berbunyi. Menandakan waktu nya mereka kembali menuju kelas masing-masing.

"Karena aku sepertinya juga menyimpang."

Dalam perjalanan menuju kelas, kata-kata Sasuke masih terngiang di kepala Naruto.

"Apa maksudnya ya?" Naruto memutuskan untuk tidak mengatakan hal itu dulu pada Shikamaru maupun Kiba. Karena dia tak ingin salah langkah. Sebaiknya dia memastikan dulu perkataan Sasuke pada orang yang bersangkutan.

Karena sibuk berfikir tanpa memperhatikan langkahnya, tanpa sengaja Naruto menabrak seseorang di depannya.

"Ah! Gomen," Naruto menatap pemuda yang ditabraknya tadi.

"Sasuke?" Ucapnya tanpa sadar.

"Hn?" Pemuda itu tersenyum lembut pada Naruto. Pemuda itu berperawakan seperti Sasuke. Memiliki mata hitam kelam, dengan rambut yang sama hitamnya dengan kulit yang lebih putih pucat. Tapi, dia memiliki senyum yang hangat dan dan potongan rambut yang lebih pendek daripada Sasuke.

"Ah! Maafkan aku, Senpai. Aku tidak sengaja." Naruto menunduk pada pemuda itu meminta maaf. Dari warna dasinya, Naruto langsung mengetahui bahwa pemuda itu siswa dari tingkat yang lebih tinggi.

"Tidak apa-apa Uzumaki-san. Lain kali kau harus lebih berhati-hati." Ucap sang senior sambil tetap tersenyum.

"Darimana senpai tahu namaku?" Naruto keheranan.

"Siapa sih, yang tidak kenal pemuda semanis kau." Pemuda itu mulai membelai pipi Naruto.

"NARUTO!" Terdengar teriakan dari belakang Naruto.

Naruto dan pemuda itu menoleh kearah sumber suara. Terlihat sosok pemuda raven dengan rambut belakang melawan grafitasi yang memasang death glare paling mematikan sepanjang seminggu ini. Berjalan mendekati kedua pemuda yang sedang berbincang itu dengan penuh emosi. Menepis tangan sang senior dari pipi sahabatnya dan menariknya pergi meninggalkan pemuda pucat di hadapannya.

"Bel sudah berbunyi dari tadi. Iruka-sensei sebentar lagi masuk." Ucapnya ketus sambil menarik lengan Naruto.

"I-iya… Tapi lepaskan genggamanmu Sasuke. Sakit." Erangnya tertahan.

Sasuke memelototi Naruto sambil melepasan genggamannya dan menggantinya dengan tarikan di pinggang rampingnya. Wajah Naruto sukses berwarna merah padam tanpa melewati semburat kemerahan terlebih dahulu.

"Lepaskan!" Teriak Naruto yang sukses memuat Sasuke kaget.

Tanpa ba-bi-bu Naruto yang mukanya memerah langsung lari meninggalkan Sasuke kearah yang berlawanan dari kelas mereka.

"Naruto!" Panggilan Sasuke diacuhkan oleh pemuda kyuubi itu. "Sial!" Erangnya sambil menendang dinding lorong.

0o0o0o0o0o0o0

.

~Naruto POV~

Bodoh, Naruto bodoh! Kenapa hanya karena Sasuke menarik pinggangku, aku langsung teringat mimpi bodohku semalam. Mimpi saat aku dan dia… Arrrggghh…! Sial! Kenapa harus dia? Kenapa? Kenapa aku harus jatuh cinta pada Sasuke? Sahabatku sendiri?

Beberapa hari ini Sasuke semakin protektif padaku, semakin perhatian, semakin… membuatku jatuh cinta. Naruto, kau bodoh!

Susah payah aku menyembunyikan semburat merah dipipiku saat dia menarikku agar tidak berbicara dengan Shikamaru, Kiba, Gaara, dan Neji senpai. Susah payah pula aku mengatur laju detak jantungku dan bersikap biasa saat berdiri di sampingnya, bicara padanya, duduk disebelahnya, saat lengan kami bersentuhan, saat punggung kami saling bersandar, dan saat dia melingkarkan lengannya di pundakku. Tapi, kenapa aku lepas kendali saat Sasuke menyentuh pinggangku? Aku… aku tak tahu sekarang apa yang dia pikirkan tentangku.

.

~Sasuke POV~

Aku terus melangkah cepat menyusuri setiap sudut sekolah sambil mencari sosok pemuda berambut orange yang entah kenapa hanya dia yang bisa membuatku kalut seperti saat ini, seolah membuang harga diriku sebagai sosok seorang Uchiha yang tanpa emosi. Hanya padanya aku menunjukkan emosi yang kumiliki tersenyum, tertawa, berkeluh kesah, marah, dan jangan sampai hal ini diketahui oleh kakakku, Itachi. Kalau dia sampai tahu, habislah aku.

Aku terus merutuk pelan sambil pandanganku tetap dengan teliti menyisiri setiap sudut tempat yang kulalui. Naruto itu punya kebiasaan aneh setiap dia ngambek, marah, ataupun sedih. Dia bisa mendadak menghilang dengan kecepatan cahaya, dan lucunya hanya aku yang bisa menemukan tempat persembunyiannya. Kadang dia kutemukan meringkuk di sudut gedung olahraga sambil mencoteri dinding dihadapannya. Kadang kutemukan dia duduk terdiam sambil menatap langit di tepi rawa belakang sekolah, padahal dia sama sekali tidak bisa berenang. Yang terakhir 2 minggu yang lalu, kutemukan dia duduk diatas kloset salah satu bilik kamar mandi khusus guru di lantai 2 gedung utara, padahal kelas kami ada di gedung selatan.

Sudah 30 menit aku mencari pemuda ribut yang 2 tahun terakhir ini selalu mengisi otakku dengan wajahnya, suaranya, dan sikapnya yang selalu sukses membuatku menarik sudut bibirku membentuk sebuah senyuman yang katanya bisa membuat setiap wanita mimisan.

Setiap tempat yang biasanya dia kunjungi sudah ku datangi. Tapi keberadaannya tetap tak ku temukan. Kembali ku ambil handphone di saku kiriku dan menghubunginya. Nihil, lagi-lagi tak diangkat. Dobe, kau dimana sih?

Akhirnya aku memutuskan kembali kekelas saat mataku tertumbuk pada sosok pemuda berkepala orange mencolok yang sedang duduk diam di tepi kolam renang sekolah sambil menunduk dan memainkan air kolam dengan sebelah tangannya.

"Naruto!" Teriakku tanpa sadar dari jendela lantai dua tempatku melihat sosoknya. "Sedang apa kau disana nanti kau jatuh…!" Tapi, baru saja ku peringatkan, Naruto yang tiba-tiba berdiri karena kaget, terpeleset dan…

"NARUTO!"

.

~Normal POV~

Dengan wajah panik, Sasuke berlari secepat yang dia bisa ke arah kolam sekolah. Dia masih melihat kepala Naruto yang timbul tenggelam di tengah kolam berkedalaman 2 meter itu. Tanpa menunda-nunda waktu lagi Sasuke melepas sepatunya dan terjun menyelamatkan sahabatnya itu.

"Sa-sasuke… Uhuk-uhuk… Sasuke…" Naruto menggapai-gapai tubuh Sasuke yang berenang mendekatinya.

"Naruto, tenang. Aku sudah memegangmu." Ucapnya saat sudah menggenggam tangan Naruto, menariknya dan membawa tubuh Naruto yang panik itu menepi.

Naruto masih terbatuk-batuk akibat menenggak air kaporit dari kolam mulai bisa menguasai diri saat Sasuke mengangkatnya ke tepi kolam tempat dia duduk tadi.

"BAKA, DOBE! APA YANG KAU LAKUKAN! KAU SENDIRI TAHU KALAU KAU TAK BISA BERENANG! TAPI MALAH MENCEBURKAN DIRI KEDALAM KOLAM ITU!" Sasuke mengamuk sejadi-jadinya.

"TEME BODOH! SIAPA YANG MENCEBURKAN DIRI! JELAS-JELAS AKU JATUH GARA-GARA TERIAKANMU ITU!" Naruto tak mau kalah.

Sasuke dengan cepat memeluk tubuh Naruto yang masih basah. Merengkuhnya erat, seakan tak ingin melepaskanya. Membenamkan wajahnya di perbatasan leher dan pundak Naruto. Menghirup aroma tubuhnya selama mungkin, meyakinkan dirinya bahwa pemuda itu ada, dan hidup dalam pelukannya.

"Dasar bodoh! Syukurlah kau tidak apa-apa," Sasuke mengeratkan pelukannya.

Naruto yang masih shok karena baru terjatuh ke dalam kolam tambah kaget dengan kelakuan Sasuke yang tiba-tiba memeluknya.

"Sa-sasuke, lepaskan… Sesak…" Naruto mendorong tubuh Sasuke agar melepaskan pelukannya.

"Tidak! Kalau ku lepaskan kau pasti menghilang lagi. Dan aku harus kembali berlari mengelilingi gedung sekolah kita yang luas ini untuk mencarimu." Kegoisan seorang Uchiha muncul.

"Maafkan aku," akhirnya Naruto menghentikan dorongannya dan membiarkan Sasuke memeluknya.

"Hn. Tidak apa-apa."

Degup jantung Naruto tiba-tiba tak terkendali, wajahnya memanas, badannya mendadak kaku saat dia menyadari tangan Sasuke yang tadi terlingkar di leher dan kepalanya kini sudah turun menggerayangi pinggangnya dan parahnya Naruto baru menyadari kalau kini bibir Sasuke sudah mengecup pelan leher jenjang Naruto.

"Sa-sasuke, le-lepaskan aku." Erang Naruto terbata sambil tetap berusaha mengontrol detak jantungnya.

"Naruto, badanmu panas. Kau demam? Detak jantungmu juga terlalu cepat." Sasuke mengacuhkan permintaan Naruto.

"Ini gara-gara kau bodoh!" Rutuk Naruto dalam hati.

"Kita ke Klinik ya?" tanpa persetujuan Naruto terlebih dulu Sasuke segera menggendong tubuh Naruto yang tidak terlalu berat itu menuju klinik sekolah yang untungnya terletak tak jauh dari kolam sekolah, sehingga mereka tak perlu mempermalukan diri di depan siswa lain dengan pakaian basah.

"Sa-sasuke turunkan aku. Aku bisa jalan sendiri."

"Dengan kondisi kaki begitu?" lirik Sasuke pada pergelangan kaki kiri Naruto yang membiru.

Naruto kehilangan kata-kata dan hanya bisa menunjukkan cengiran khasnya pada Sasuke.

Sesampainya di depan pintu Klinik sekolah, Sasuke yang awalnya berniat membuka pintu klinik mengurungkan niatnya ketika dia mendengar erangan tertahan dari dalam ruangan putih itu.

"Kenapa, Teme?"

"Kau tak dengar suara itu, Dobe?

(Tsuzuku)

.

Thanks berat buat para pembaca setia dan yang dengan murah hati menjadikan fanfic saya yang abal dan nista (dan akan bertambah nista) ini menjadi Faforite Story (menitikkan airmata haru).

Buat,

Jeanne Jeagerjaques San (makasih kritik & sarannya yang membangun. Yosh! Arale akan berusaha!)

Hideyuki Miyata D'Kathleen (alurnya kecepetan yah? oke deh, aku lambat-in)

CCloveRuki (wajah sasuke.. bayangkan deh... nyehehehehe~)

Arisa Adachi (sesaat lagi akan ku naikkan Rated-nya. Ganbarimasu!)

(sabar aja Zuki-chan, Arale akan berusaha bikin lemon/lime sambil usaha nahan nosebleed)

Fi suki suki (fufufufu nantikan!)

dan para readers yang tak bisa disebutkan satu persatu...

.

.

Arale: (Lempar laptop) Huaaa~

Bunda: Kenapa?

Arale: Jelek…

Bunda: Bodoh…

Arale: (mewek)

Bunda: Berjuanglah~

.

.

Kita tinggalkan Arale-chan yang lagi sibuk mewek menyesali hasil karyanya yang gaje ini…

RnR please…

Flame-nya jangan parah-parah yaah~

m(_ _)m