+= Wet Dream Chapter 4=+

Naruto © Masashi Kishimoto

Wet Dream © Arale L. Ryuuzaki

Pair: SasukexNaruto, NejixGaara

Genre: Friendship/Romance

Rated: T

Warning: TYPO, Shounen Ai, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…

.

Part 4:

0o0o0o0o0o0o0

.

Sesampainya di depan pintu Klinik sekolah, Sasuke yang awalnya berniat membuka pintu klinik mengurungkan niatnya ketika dia mendengar erangan tertahan dari dalam ruangan putih itu.

"Kenapa, Teme?"

"Kau tak dengar suara itu, Dobe?

.

0o0o0o0o0o0o0

.

"Argh… Hahh… Hahh… Pelan-pelan sedikit, sakit!" berang sebuah suara dari dalam klinik sambil terengah-engah.

"Hmm… Aku sudah melakukannya sepelan mungkin. Tahan sebentar, sedikit lagi," jawab suara yang lain.

"Ta-tapi senpai…" rintih suara itu.

"Tenanglah, Gaara. Aku disini," jawab sang Senpai menenangkan suara itu.

Didepan pintu klinik, Sasuke masih berdiri mematung sambil menggendong Naruto dengan bridal style. Muka Naruto kembali memanas mendengarkan obrolan yang baru saja dia dan Sasuke dengar dari dalam klinik. Dia berani bertaruh, itu suara Gaara dan Neji Senpai yang sedang… Kalian tahu lah…

Perlahan Naruto melirik Sasuke yang masih mematung. Penasaran akan reaksi yang tertera di wajah Sasuke. Tapi, sayang sekali yang terlihat hanya wajah datar seperti biasanya.

"Ano… Sasuke…" ucapnya ragu sambil setengah berbisik.

"Hn?"

"Ka-kakiku sudah tidak apa-apa kok. Pa-paling-paling 2 hari lagi juga sembuh sendiri."

"Hn."

"Ja-jadi, kita kembali ke kelas saja, ya?"

"Dengan kondisi pakaian yang basah seperti ini?" Sasuke menatap Naruto yang kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

"Eng… Ta-tapi…"

Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan mereka.

"Uchiha, Naruto, ada apa dengan pakaian kalian? Kenapa basah kuyup seperti itu?" Sesosok pria berjubah putih dengan bekas luka melintang di wajahnya menghampiri mereka dari belakang sambil membawa sebotol obat luka dan gulungan perban panjang.

"Ah, Iruka sensei," kaget Naruto.

Sasuke langsung memotong ucapan Naruto, "Si Dobe ini jatuh ke kolam renang, kakinya terkilir."

Iruka segera melihat kondisi kaki Naruto yang sudah membengkak dan lebam itu, "Arara… Ini harus segera dikompres. Cepat masuk," serunya sambil membuka pintu geser klinik.

"Ta-tapi, Sensei," Naruto tak sempat mencegah Iruka membuka pintu klinik.

Tapi, Iruka dengan tenangnya menatap sepasang pemuda yang sedang duduk di tepi kasur pasien di dalam klinik. "Sabaku-kun, Hyuuga-kun, kalian sudah selesai?"

"Bagaimana mau selesai kalau anak ini merengek terus tiap kusentuh," rutuk sesosok pemuda berambut coklat panjang dengan pupil berwarna lavender.

"Senpai baka! Kau kira aku boneka pajangan yang tidak bisa merasa sakit!" terlihat sesosok pemuda berambut merah dengan tattoo 'Ai' di dahinya memegangi erat lengan sang pemuda Hyuuga itu.

"Huh. Padahal kalau di depan orang lain kau sangat dingin. Tapi, di depanku kau tak malu-malu merengek seperti anak perempuan," ucap Neji sambil menutup botol cairan alcohol dan meletakkan kapas diatas meja samping kasur pasien.

"Kan beda!" ucap Gaara sambil menatap tajam Neji dengan mata aquamarine-nya. Terlihat sedikit semburat merah dipipinya.

Neji menghela nafas. "Iya-iya…" kemudian tersenyum sambil mengacak-acak rambut Gaara.

Neji terkejut melihat sosok yang berdiri di pintu msuk klinik, "Naruto, Uchiha, kenapa kalian basah begitu?"

Gaara pun mengintip dari balik pundak Neji, "Naruto, kau kenapa?"

Iruka yang tahu kalau Sasuke masih mematung di depan pintu masuk segera menarik Sasuke masuk, "Kalian mau sakit ya! Cepat baringkan Naruto di kasur sebelah sana," tunjuknya ke kasur kosong di sebelah kasur tempat Gaara duduk, "Aku akan segera kesana setelah memeriksa luka Gaara," ucapnya sambil menutup pintu Klinik.

Sasuke menganguk dan melangkah menuju kasur yang ditunjuk Iruka.

"Kau kenapa Naruto?" ulang Gaara dengan nada cemas.

"Ah, Hanya…"

Dan lagi-lagi Sasuke memotong kata-kata Naruto, "Hanya terkilir," jawabnya dingin sambil menatap sinis Gaara.

"Hyuuga, tolong berikan jersey ini pada mereka. Kalau masih memakai baju basah itu, bisa-bisa mereka sakit. Biar ku selesaikan perban Sabaku," Iruka menyerahkan dua stel jersey beserta handuk ke tangan Neji yang langsung diserahkan Neji pada Sasuke sambil menatap tajam pemuda Uchiha itu.

Sasuke hanya acuh sambil menarik tirai pembatas yang ada di antara kasur mereka menutupi sal yang ditiduri Naruto.

"Ini," katanya sambil menyerahkan sepasang setelan ke tangan Naruto dan mulai mengeringkan rambut kuning cerah pemuda di depannya dengan handuk.

Naruto merasa risih dengan sikap Sasuke, menarik handuk itu, "Sa-sasuke, aku bisa sendiri," katanya dengan muka memerah.

"Hn," jawabnya pendek dan mulai membuka kemeja sekolahnya sehingga Naruto dapat melihat dada bidangnya yang terbentuk sempurna diatas tubuh pucatnya, menggantungkan kemeja basah itu ke kepala tempat tidur dan mengeringkan rambutnya dengan satu lagi handuk yang disediakan Iruka.

Tanpa Naruto sadari, tangannya terhenti sesaat untuk mengagumi tubuh pemuda di hadapannya yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

"Hn? Kenapa Naruto?" tanya Sasuke yang menyadari Naruto sedang memandangi dirinya.

Naruto segera menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik handuk yang menutupi kepalanya, "Tidak ada apa-apa."

Sasuke menghentikan kegiatannya mengeringkan rambutnya, berusaha memandang wajah yang tersembunyi di balik handuk orange itu. Tangannya mulai menggapai Handuk itu dan menariknya turun ke pundak pemuda yang kini duduk diatas tempat tidur itu.

"Kau kenapa? Seharian ini kau menghindariku terus?" tanyanya dengan wajah cemas.

"Ti-tidak ada apa-apa! Kau tidak percayaan amat sih," Naruto melengos cepat dengan wajah cemberut.

"Hn. Baiklah kalau kau tidak mau cerita padaku. Ternyata aku salah menilaimu," Sasuke melangkah keluar dari sal dengan wajah dingin.

Naruto panik melihat Sasuke yang berniat pergi meninggalkannya. "Sasuke!" Naruto yang berniat menghentikan Sasuke malah terjatuh setelah menarik lengan Sasuke.

Bruk!

"Ittai… Baka Dobe! Apa yang kau lakukan!" erang Sasuke sambil menahan tubuhnya yang jatuh tertimpa tubuh Naruto.

"Go-gomen tteba. Habisnya kau-," kata-kata Naruto terhenti.

Diadapannya, dengan jarak yang sangat dekat, dia bisa memandang mata onyx milik Sasuke. Terdiam, seakan terhipnotis masuk ke dalam black hole dan tidak bisa keluar, atau lebih tepatnya tak berniat lepas dari hipnotis memabukkan itu.

Sasuke pun tak melepaskan matanya dari tatapan pemuda pemilik biru langit siang yang menghangatkan hari itu. Entah mengapa dia baru menyadari betapa indahnya mata itu, betapa hangatnya mata itu, dan betapa berharganya pemilik mata itu. Tubuhnya tanpa komando dari otaknya mulai bergerak sendiri. Mendekatkan wajahnya perlahan namun pasti. Memusnahkan jarak yang tersisa diantara mereka. Dan Naruto pun tak mengelak ataupun memberi reaksi penolakan. Yang terlihat disana hanyalah wajah yang merona dengan tatapan sayu memabukkan hati sang Uchiha bungsu pemilik ego tinggi tersebut.

Hidung mereka sudah saling bersentuhan, nafas mereka beradu, dunia serasa hanya milik mereka berdua. Mata Naruto pelahan terpejam seakan bersiap menerima ciuman dari pria yang dicintainya. Akan tetapi—

"Ehem! Ini klinik sekolah, bukan sarang cinta kalian," Iruka menyadarkan mereka dari surga dunia yang menyesatkan itu.

Sasuke dan Naruto kaget dan tersadar atas perbuatan mereka. Dengan muka yang sama-sama merah mereka langsung mengambil jarak dengan cepat. Tetapi—

"Itta—" Naruto mengerang tertahan.

Sasuke segera menoleh, "Kau tak apa-apa?"

"Unn…" Naruto menggeleng.

Sasuke segera memapah Naruto kembali ke atas tempat tidur.

"Yare-yare… Panas ya, Gaara," celetuk Neji sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya.

"Tapi tak sepanas mereka, pastinya," sambung Gaara yang baru saja berdiri dari kasur sebelah.

Naruto blushing seketika.

"Sudah-sudah. Neji, kau bisa kembali kekelasmu. Gaara, kau mau disini dulu atau kembali ke kelas?" Iruka berusaha menguasai situasi.

"Aku kembali ke kelas saja, Sensei," Gaara melangkah menuju pintu masuk klinik. "Arigatou."

"Kalau begitu, aku juga kembali," Neji melangkah menyusul Gaara dan menutup pintu klinik.

"Naruto, lepaskan celanamu. Nanti kau masuk angin kalau terlalu lama memakai celana basah seperti itu," perintah Iruka yang sudah membawa sebaskom air untuk mengompres kaki Naruto.

"Ta-tapi, Sensei" Naruto malu-malu menatap Sasuke yang masih berdiri mematung disebelahnya.

Sasuke yang menyadari maksudnya langsung menyahut, "Sensei, aku ganti baju di ruang sebelah saja," ucapnya sambil menyambar setelan jersey yang tadi diberikan Iruka.

Iruka hanya menatap Sasuke yang menghilang di balik pintu masuk klinik dan kembali menatap Naruto.

.

0o0o0o0o0o0o0

.

"Jadi?" tanyanya menggantung sambil menatap pemuda didepannya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

"A-apa?" kata Naruto cengo' sambil mengganti pakaiannya dengan jersey yang diberikan Iruka.

"Kau dan Uchiha pastinya," ujar sang petugas klinik kesehatan itu sambil mulai mengompres kaki Naruto yang lebam setelah membantu Naruto berganti pakaian.

"Aduh! Maksud sensei?" jawabnya seakan tak tahu tujuan pertanyaan Iruka.

Iruka menghela nafas panjang. "Sudahlah Naruto, jangan kau kira aku tak sadar perasaanmu pada pemuda itu!"

Naruto hanya menunduk.

"Kau menyukainya kan?"

Naruto kaget dan menggelengkan kepalanya cepat, "Ti-tidak kok!" pipinya merona.

"Kau tak pintar berbohong," Iruka mengacak rambut kuning Naruto dan mulai menggulungkan perban di kakinya.

"Neh, Sensei," gumamnya pelan.

"Hm?" Iruka mengangkat kepalanya.

"Aku aneh, kan?" cicitnya.

"Apanya?"

"Perasaanku padanya,"

"Pada siapa?" Iruka menggoda Naruto.

"Ugh! Sensei ini! Bukannya sensei yang memintaku bercerita!" rajuknya.

"Tidak kok. Aku kan hanya bertanya, 'Jadi? Kau dan Uchiha itu?' Cuma itu, kan?" Iruka tertawa.

Naruto menggembungkan pipinya, "Kau menjebakku, Sensei."

Iruka tertawa renyah, "Gomen-gomen… Aku hanya bercanda."

Kini Iruka menatap Naruto dengan sedikit lebih serius, bibirnya menyunggingkan senyuman hangat. Tangannya membelai kepala pemuda riang itu lembut.

"Kau yakin perasaanmu itu, Cinta?"

"Entahlah," dustanya lagi.

Iruka mengangkat alisnya, "Lalu? Apa yang aneh?"

"Aku… aku memimpikan dia," Naruto menahan semburat merah yang mulai mejalar di permukaan wajahnya.

"Itu biasa, kan?"

"Tapi ini berbeda!" rengeknya.

"Berbeda?" Iruka heran.

"Dia hadir di… di…"

"Di?" Iruka mengerutkan dahinya.

"Mi…sah…ku." Cicit Naruto.

"Apa?" Iruka tak mendengar dengan jelas.

"Di mimpi basahku! Dan itu bukan hanya sekali!" raungnya.

"Eh?" Iruka sedikit terkaget.

"Huaaaaa!" Naruto merengek dan menarik bantal disebelahnya untuk menutupi mukanya yang kini sudah merah total. "Memalukan!"

"Uchiha itu sudah tahu?"

Naruto menggeleng dibalik bantal yang menutupi wajahnya.

"Dia membaca Diary ku. Tapi disana aku tak menuliskan bahwa dia-lah orangnya,"

"Kau berniat menyatakan perasaan perasaanmu padanya?"

Naruto menurunkan bantal itu dengan cepat, "Yang benar saja! Dan menghancurkan persahabatan kami!"

"Lalu?"

"Aku, aku tak tahu sensei. Aku tak tahu apa yang seharusnya kulakukan. Aku juga capek karena terus menghindar dari ini. Di dalam sini ada sesuatu yang siap meledak setiap aku berusaha bersikap normal didepan Sasuke," katanya kalut sambil menunjuk dada kirinya.

"Sejak kapan dia mengetahuinya?"

"Dua minggu lalu, kalau aku tidak salah ingat," Naruto berusaha mengingat kejadian saat Sasuke menerobos masuk kamarnya waktu itu.

"Dan perubahan sikapnya?"

"Dia memang tidak menjauiku. Sikapnya seperti biasanya, tetap menyebalkan dan tak pernah menyinggung-nyinggung soal isi diary-ku. Tapi—" kata-kata Naruto terputus.

"Tapi?"

"Dia sekarang jadi sering mencari masalah dengan teman-temanku," katanya sambil berfikir keras.

"Maksudnya?"

Naruto menceritakan pertengkaran Sasuke dengan Kiba, Gaara, bahkan Neji. Kemudian, sikap Sasuke pada teman-temannya yang rata-rata lelaki.

"Padahal dulu dia tidak seperti itu," Naruto menggaruk-garuk kepalanya.

"Hm," Iruka menggaruk-garuk ujung dagunya.

"Mungkin dia ingin mengembalikan orientasi seksualku. Tapi kan, bukan begitu caranya,"

"Hm… Sepertinya bukan itu alasannya," ujar Iruka misterius.

"Jadi?

Grak!

Pintu geser terbuka dan menampakkan sosok pemuda raven dengan rambut yang masih setengah basah menggunakan jersey biru dongker. Tetap pemuda yang tampan dengan setelan apapun.

"Kau sudah selesai, Dobe?" tanyanya.

"Uhm," Naruto mengangguk dan berusaha turun dari atas kasur. Tapi, malah terjatuh. Untung Iruka dengan sigap menangkap tubuhnya.

"Sebaiknya kau istirahat dulu, Naruto," Iruka memberi usul dan menampakkan raut cemas.

Sasuke melangkah cepat menarik Naruto dari pelukan Iruka, "Dia akan kuantar pulang saja, Sensei," ucap Sasuke dengan penekanan dan tatapan marah.

"Ah, baiklah. Aku titip Naruto padamu, Uchiha," ucapnya ramah.

"Hn," Sasuke hanya melengos ketus dan bersiap membopong Naruto ala bridal style.

"Tidak! Aku lebih baik tidur di klinik daripada digendong seperti itu lagi!" berangnya.

"Cih! Ya sudah," Sasuke menghadapkan punggungnya. "Naik!" perintahnya.

Naruto ragu-ragu naik ke punggung tegap Sasuke. Setelah yakin posisinya tepat dan nyaman, Sasuke segera berdiri.

"Kau berat juga, Dobe," ejeknya.

"Kalau berat, turunkan saja aku! Aku masih bisa pulang sendiri!" amuknya sambil menarik rambut raven pemuda yang menggendongnya.

"Iya Uchiha. Sebaiknya Naruto istirahat disini saja dulu," ujar Iruka.

"Tidak!" Sasuke menampik tangan Iruka yang memegangi pinggang Naruto dan segera melangkah keluar dari klinik.

"Teme, baju kita ketinggalan," ucap Naruto saat Sasuke melangkah menjauhi klinik.

"Biar saja. Nanti aku ambil," tegasnya.

"Tas kita?"

"Kau cerewet sekali sih! Iya-iya nanti aku ambil sekalian!" bentaknya.

"…"

Sasuke heran dengan reaksi Naruto yang mendadak diam.

"Turunkan aku," Tiba-tiba Naruto berkata datar.

"Kenapa?" Sasuke menghentikan langkahnya.

"Turunkan aku sekarang!" bentaknya.

"Tidak!" Sasuke tak kalah keras membentak dan kembali melangkah cepat ke parkiran mobil.

"Turunkan aku, Sasuke!" Naruto mulai menjambak-jambak rambut belakang Sasuke.

"Iya-iya!" akhirnya Sasuke mendudukkan Naruto di jok depan mobilnya.

"Eh?" Naruto keheranan.

"Kau minta turun, sekarang sudah kuturunkan. Lalu apa?" Sasuke berkacak pinggang.

"Eh?" Naruto tak tahu mau bersikap seperti apa.

Sasuke segera menutup pintu mobil dan berputar naik di pintu bangku kemudi. Tangan pucatnya meraih sit belt Naruto yang belum terpasang.

"Biar aku pasang sendiri!" Naruto merebut belt itu dari tangan Sasuke dan memasangnya sendiri.

"Kau aneh sekali hari ini." Pemuda raven itu menatap sendu Naruto.

Pemuda pirang itu menolehkan wajahnya. Menatap mata kelam di depannya dengan geram.

"Kau yang aneh!" bentaknya.

"Apanya dari diriku yang aneh?"

"Sikapmu belakangan ini! Sikapmu pada Kiba, Neji-senpai, Gaara, dan teman-temanku yang lain. Biasanya kau tak pernah seperti itu pada mereka. Kau belakangan ini juga jadi suka membentak dan menatap tajam setiap orang yang berbicara denganku."

"Tidak semua orang. Hanya para siswa," ralat Sasuke.

"Terserah! Aku tahu niatmu baik ingin menjadikanku pria normal lagi. Tapi bukan begini caranya, kan? Bukan dengan membuatku dijauhi semua teman-teman lelakiku. Kau bahkan membentak Iruka-sensei! Aku kan hanya berteman dengan mereka,"

"Tapi lelaki yang kau sukai itu pasti ada diantara mereka, kan?" tanya Sasuke.

"Tidak! Tidak satupun dari mereka!" Naruto histeris.

"Lalu, siapa?"

Naruto mengacak-acak rambut pirangnya, "Ugh! Aaaaargghhhh! Memangnya kenapa sih? Kau penasaran sekali?"

"Aku ingin kau menjauhinya!" Sasuke menatap tajam Naruto.

Naruto hanya diam dan memandang sepasang onyx yang mengukir parasnya.

"Baiklah, aku akan menjauhinya," ucap Naruto sambil menahan perih di hatinya.

"Bagus!"

Sasuke menghidupkan mesin dan segera menjalankan mobil sport biru-nya menuju kediaman Naruto tinggal.

.

0o0o0o0o0o0o0

.

Sasuke merebahkan tubuh Naruto di atas kasur kamar tidurnya.

"Bibi kemana?" Sasuke mengadarkan pandangannya ke sekeliling rumah setelah menjulurkan kepalanya melalui pintu kamar Naruto.

"Paling ke rumah Chiyo-baasan di sebelah," jawab Naruto.

"Hn,"

"…"

Entah mengapa tiba-tiba keheningan menyeruak diantara keduanya. Sasuke memandang Naruto yang kini hanya tertunduk lesu diatas kasurnya. Sasuke melangkah menghampiri pemuda yang biasanya riang itu.

"Naruto, kau—"

Tapi, Naruto memotong perkataan Sasuke, "Kau mau minum, Sasuke? Ambil sendiri saja di kulkas ya?"

Sasuke hanya memandang Naruto yang kini kembali menunduk.

"Hn. Biar kuambil nanti," ucapnya sambil duduk di sudut kasur Naruto.

"Hm," Naruto hanya mengangguk dan tetap menunduk sambil memainkan ujung selimut berpola kyuubi miliknya.

"Naruto—"

"Sasuke—"

Mereka berbicara bersamaan.

"Kau duluan," ucap Naruto.

Sasuke menggeleng, "Kau duluan, yang ingin kusampaikan tak terlalu penting,"

Naruto tersenyum miris.

"Sasuke, mulai besok kau tak usah berbicara denganku lagi."

Kalimat pendek yang membuat Sasuke tersambar petir di siang hari.

.

0o0o0o0o0o0o0

.

Tsuzuku

.

.

Silakan Bacok saya yang lama banget Update m(_ _)m

Kesibukan kampus bikin saya keteteran dengan segala hal. sampai hal makan juga keteteran. Alhasil, berat badan saya yang terbatas ini makin terbatas.

.

.

.

Balasan Review

Himawari Ichinomiya, Kiroikiru no Mikazuki Chizuka,ikhaosvz: Gomen baru Update sekarang…

Hideyuki Miyata D'Kathleen: Jawaban suara terakhir terpecakan~ (pose Conan)

Jeanne-jaques San: Arigatou Jeanne-san udah mau repot-repot liatin TYPO yang menjadi khas saya XD SAya bakalan lebih teliti lagi deh XD

Arisu Koromaru, bluebloodyberry, zaivenee, Pucca-Pucca-Pucca, zee rasetsu: Lemon yah~ Uhm, dipertimbangkan deh XD

Fi suki suki: Huahahaha, itu beneran Typo yang lupa di-edit… Saya bakal lebih teliti lagi m(_ _)m Huahahaha, tebakan anda salah~ XD *dibacok*

Namikaze Sakura: Nah~ ini ada yang minta pertahankan Rating XD ayo, tarung dulu sama Arisu & bluebloodyberry XD

Cheshire The Cat: Ayank~ makasih uda ripiu XD Suke kan selalu kehilangan ke-cool-annya tiap main ama Naru XD *hajar*

Arisa Adachi: NejiGaa ditampilkan~ Jejeng~

Mayu Masamune: Wadoh! Jatuh dari puun? Babak lebur si Naru lama-lama XD