+= Wet Dream Chapter 5=+

Naruto © Masashi Kishimoto

Wet Dream © Arale L. Ryuuzaki

Pair: SasukexNaruto

Genre: Friendship/Romance

Rated: T

Warning: TYPO, Shounen Ai, OOC, AU, dan kekurangan lainnya…

.

Part 5:

It's You! Baka Teme!

.

0o0o0o0o0o0o0

.

Mereka berbicara bersamaan.

"Kau duluan," ucap Naruto.

Sasuke menggeleng, "Kau duluan, yang ingin kusampaikan tak terlalu penting,"

Naruto tersenyum miris.

"Sasuke, mulai besok kau tak usah berbicara denganku lagi."

Kalimat pendek yang membuat Sasuke tersambar petir di siang hari.

.

0o0o0o0o0o0o0

.

Sasuke terperangah dengan kalimat yang keluar dari mulut Naruto.

"Apa maksudmu?" teriak Sasuke.

"Yah, seperti usulmu tadi," Naruto menunduk dan memainkan kuku jempolnya.

"Usulku? Usul yang mana? Aku kan cuma—," kalimat Sasuke teputus saat ponsel di sakunya bergetar. "Moshi-moshi? Ya? Aku di rumah temanku. Apa? Kenapa harus aku? Aniki? Baiklah, aku segera pulang," Sasuke memutus sambungan telepon.

Sasuke kembali memandang Naruto yang masih tertunduk dan diam seribu bahasa.

" Haah—," Sasuke memijat pelipisnya sambil menghela nafas panjang.

"Aku harus pulang, kita bicarakan lagi besok. Sebaiknya kau istirahat dulu. Kejadian-kejadian tadi pasti membuatmu lelah," Sasuke beranjak dari kamar Naruto.

"…," Naruto masih terdiam dan menunduk.

"Mata na, Usuratonkachi," Sasuke menutup pintu kamar ber-cat orange itu dan meninggalkan Naruto yang kini duduk memeluk lutut dan mulai terisak pelan.

"Lho, Sasuke-kun? Sudah mau pulang?" sapa seorang ibu muda berambut merah panjang menyapa sang pemuda rupawan yang baru melangkah menuruni tangga.

"Iya, Bibi Kushina. Kaa-san menyuruhku pulang cepat hari ini,"

"Wah, sayang sekali. Padahal bibi baru diberi tomat oleh Chiyo-san,"

"Kalau begitu bibi hutang segelas jus tomat padaku," canda Sasuke.

Kushina tertawa, "Kalau begitu, besok pagi kau jemput saja kesini," tawarnya.

"Memang itu yang aku mau," Sasuke tersenyum. "Aku permisi dulu, Bibi Kushina," pamit Sasuke sambil membungkuk hormat.

"Hati-hati dijalan,"

"Oh, iya," Sasuke teringat sesuatu, "Mungkin nanti malam kaki Naruto akan membengkak, tapi tinggal dikompres saja," ucapnya pada Kushina.

"Baiklah, terimakasih Sasuke-kun. Naruto selalu saja merepotkanmu," kata Kushina sambil memegang sebelah pipinya.

"Tidak apa-apa. Aku permisi, Bi," kemudian Sasuke melangkah keluar rumah ber-cat kuning kemerahan itu.

.

0o0o0o0o0o0o0

.

Didalam mobil sport biru yang melaju kencang dijalanan licin beraspal, terlihat sosok pemuda raven tampan dengan sepasang obsidian di kedua matanya yang mulai redup akibat lelah. Fokus pikirannya terbagi dua antara mengemudikan mobilnya, dan pemuda yang disayanginya itu.

"Sasuke, mulai besok kau tak usah berbicara denganku lagi."

"Apa maksudmu, Naruto," bisiknya lirih sambil menggebrak stir.

"Yah, seperti usulmu tadi,"

"Usul? Usul yang mana? Aku kan—," rutukan Sasuke terhenti. Matanya membelalak tersadar akan sebuah kalimat yang tadi siang diucapkannya pada pemuda orange itu.

"Tapi lelaki yang kau sukai itu pasti ada diantara mereka, kan?"

"Tidak! Tidak satupun dari mereka!"

"Lalu, siapa?"

"Ugh! Aaaaargghhhh! Memangnya kenapa sih? Kau penasaran sekali?"

"Aku ingin kau menjauhinya!"

"Baiklah, aku akan menjauhinya,"

Ingatannya kembali pada saat sebelum ia mengantarkan Naruto pulang kerumahnya.

"Mungkinkah pria itu—,"

Sasuke dengan cepat menghentikan mobilnya dan berbelok kembali ke arah kediaman yang baru saja ia tinggalkan. Kakinya berlari menuju pintu masuk kediaman Namikaze saat mobilnya sudah terpakir sembarangan di tepi jalan perumahan itu.

Tangannya meraih cepat ponsel di saku celananya dan segera menghubungi sebuah nomor.

"Kaa-san, aku tak bisa pulang sekarang. Ada hal yang jauh lebih penting yang harus kukerjakan. Ja," hubungan terputus sepihak tanpa sempat suara diseberang memprotes perbuatan anak bungsunya yang egois itu.

Tok-Tok!

"Ya? Ah, Sasuke-kun, apa ada yang ketinggalan?" tanya Kushina setelah membuka pintu dan menemukan Sasuke yang kini telah terengah-engah dihadapannya.

"Iya, Bi. Permisi," Sasuke langsung menerobos masuk dan melangkah cepat menaiki tangga menuju kamar anak bungsu keluarga Namikaze itu. Sedangkan Kushina hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Sasuke.

BRAK!

Pintu kamar itu kini terbuka lebar akibat dobrakan yang sedikit kasar oleh pemuda pucat yang baru saja masuk. Pandangan pemuda pucat itu langsung tertumbuk pada sosok yang meringkuk diatas kasurnya dengan posisi duduk sambil menyembunyikan kepalanya di antara kedua kakinya.

"Naruto," panggil sosok bungsu Uchiha yang berdiri diambang pintu.

"Sa-Sasuke?" kaget Naruto yang langsung menghapus bekas air mata disudut matanya.

Sasuke segera melangkah mendekati pemuda yang biasanya riang itu. "Apa yang kau tangisi?" tanyanya lembut sambil membelai perlahan hamparan mahkota lembut berwarna keemasan itu.

Pemuda yang ditanya hanya diam sambil menggelengkan perlahan kepalanya. Cairan bening kembali membasahi mata safirnya yang telah mengeruh. Kepalanya menunduk untuk menyembunyikan parasnya yang kini kembali kacau itu. Tagannya meremas erat baju dibagian dadanya, menahan sakit dan perih yang menguar dari relung jiwanya.

"Naruto, pandang aku," ucapnya tertahan sambil menarik tangan Naruto yang terkepal itu. "Siapa pemuda itu? Sampai-sampai kau begini hancur saat aku memintamu menjauhinya. Apa dia lebih berarti daripada aku? Apa sosoknya lebih berarti daripada persahabatan kita?" tanya Sasuke lirih.

Naruto kembali menggelengkan kepalanya sambil tetap menunduk.

"Lalu? Kenapa kau sebegitu kerasnya merahasiakan orang itu dariku?" berang Sasuke dengan nada sedikit meninggi.

Sosok yang terpuruk itu dengan cepat mengangkat wajahnya dan memasang wajah muak sambil memandang hamparan kelam milik pemuda yang duduk disampingnya.

"KARENA AKU TAK MAU MERUSAK PERSAHABATAN YANG TERJALIN DIANTARA KITA! ITU KENAPA AKU TAK MAU MENGATAKAN PADAMU SIAPA ORANG ITU! KARENA ORANG ITU ADALAH KAU! KAU, UCHIHA SASUKE!" teriaknya hingga terengah-engah.

Sasuke tertawa.

"APA YANG KAU TERTAWAKAN, TEME!" kini emosi Naruto semakin membuncah. "KAU KIRA AKU BERCANDA!"

Tawa Sasuke semakin keras.

"UGH!" Naruto kembali terpuruk dalam dekapan kedua lututnya. Tak disangkanya sahabat terbaik sekaligus orang yang dia cintai akan tertawa saat mendengar pengakuannya.

Sasuke meraih kepala Naruto dan megacaknya cepat hingga mau tak mau Naruto harus mengangkat wajahnya dan berteriak agar Sasuke menghentikan kegiatannya.

"Argh! Hentikan Sasuke aku—," kata-kata Naruto terputus karena mulutnya tiba-tiba dibekap oleh bibir seseorang.

Saat Sasuke melepaskan ciuman tiba-tibanya, terlihatlah wajah Naruto yang kaget dan dipenuhi tanda tanya.

"Eh?" hanya itu yang keluar dari bibir Naruto.

Wajah polos yang terpapar di depan wajahnya membuat Sasuke kembali mencium bibir Naruto. Tapi, saat bibir mereka nyaris bertemu, Naruto langsung mendorong keras pundak Sasuke untuk menghindari ciuman.

"Tu-tunggu, apa-apaan kau?" teriaknya histeris.

"Hn," hanya itu yang keluar dari bibir Sasuke yang kini tersenyum sambil menatap dalam sepasang langit yang terpantul dalam bola mata sosok dihadapannya.

"Sa-sasuke?" ucap Naruto terbata ketika perlahan Sasuke mulai mendekatkan wajahnya lagi. Badannya mundur perlahan agar jarak antara wajah mereka berdua tak berkurang. Tapi, saat tubuhnya terbentur dinding di samping kasurnya, Naruto mulai kembali kewalahan. Tak mungkin dia berdiri dengan kaki terkilir seperti ini.

Jarak Sasuke semakin menipis hingga Naruto hanya bisa menutup matanya sambil ketakutan. Dia masih tak mengerti apa yang dipikirkan sahabatnya.

"Bukankah kau menyukaiku?" bisik sebuah suara tepat di telinga Naruto. Nafas hangat Sasuke serasa menggelitik leher Naruto. Suara berat yang dalam itu membuat jantung Naruto semakin bergemutuh tak karuan.

"Bukankah kau mencintaiku, Naruto?" lanjut Sasuke sambil perlahan membenamkan wajahnya ke perbatasan leher kecoklatan Naruto. Menghirup dalam aroma citrus yang menguar dari tubuh pemuda yang dicintainya itu. Perlahan namun pasti tangan pucatnya melingkar di pinggang Naruto dan memeluknya erat seakan tak ingin Naruto pergi dan menghilang.

"Sa-sasuke hentikan, a-aku—," Naruto berusaha mendorong tubuh Sasuke agar melepaskan pelukannya karena jantungnya seakan meledak gara-gara tubuh mereka yang menempel dalam pelukan erat Sasuke serta nafas Sasuke yang menyerang titik sensitive di lehernya membuat kesadarannya berkurang akibat terbawa hormone remajanya yang meletup-letup.

"Kau tak suka?" tanya Sasuke sambil tetap memeluk pinggang ramping Naruto.

"Ha-harusnya aku yang ber-tanya. Apa mak-sudmuuh. Ahh," Naruto terlihat berusaha keras mengontrol kesadarannya saat berbicara saat Sasuke perlahan menciumi dan menggigit perlahan leher Naruto hingga nafas dan debaran jantung pemuda pirang itu menjadi semakin tak beraturan.

"Apa kau belum mengerti?" Sasuke mulai menggerayangi punggung Naruto dengan menyisipkan tangannya masuk ke dalam baju Naruto.

"Ugh! Hentikan Sasuke!" Naruto mendorong Sasuke sekuat tenaga hingga pemuda itu melepaskan pelukannya.

Wajah Naruto yang sudah seperti kepiting rebus itu kini terlihat marah.

"Bukankah kau bilang bahwa akulah orang yang kau sukai," jawab Sasuke santai.

"Lalu kenapa kau bersikap seperti itu? Bersikap seolah-olah kau juga menyukaiku. Bersikap seolah-olah cintaku terbalas. Bukankah kau sendiri yang ingin aku menjauhi orang yang kusukai agar orientasi seksualku kembali normal. Agar aku—,"

"Baka, Dobe! Memangnya kapan aku bilang seperti itu!" rutuk Sasuke sambil melipat tangannya didepan dada.

"Eh?"

"Aku hanya memintamu menjauhi pria yang kau sukai agar kau tak lari dari sisiku. Agar dia tidak mengambilmu. Agar kau tak pernah hilang dari pandanganku. Tapi, tak kusangka ternyata aku cemburu pada diriku sendiri," ucap Sasuke sambil memijat pelipisnya.

"Mak-maksudmu?" Naruto keheranan sambil menatap Sasuke penuh tanya.

PLAK!

Sasuke memukul wajahnya sendiri dengan telapak tangannya kemudia memandang Naruto yang duduk dihadapannya melalui celah jemarinya.

"Bagimana kalau kubilang—," Sasuke memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.

"Aku sudah menyukaimu sejak hari pertama kita masuk sekolah," bisiknya tapi tetap terdengar jelas oleh Naruto yang kini matanya dengan sukses membesar dengan rona merah yang kembali merambat cepat ke permukaan wajahnya.

"Ke-kenapa bisa?" tanya Naruto yang mulai salah tingkah saat lelaki yang dicintainya jelas-jelas menyatakan perasaan padanya.

"Apa aku bisa memilih apa yang sudah diberikan dan ditetapkan Tuhan?" Sasuke perlahan menjatuhkan kepala ravennya ke pundak Naruto. "Lagipula, aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu dan mencintaimu seperti ini."

"Sasuke," perlahan Naruto meraih punggung Sasuke dan meremas kemeja sekolah yang masih dikenakannya perlahan.

Sasuke tiba-tiba menegakkan kepalanya dan kembali duduk tegap dihadapan Naruto.

"Yah, walaupun sejujurnya selama dua tahun ini aku cukup berusaha keras menahan diri agar tak lepas kendali di depanmu," lugasnya.

"Eh? Maksudmu," Naruto kembali keheranan sambil memiringkan kepalanya.

CUP!

Serangan tiba-tiba Sasuke ke bibir ranum Naruto tak sempat dielakkan lagi.

"Gheeee!" teriak Naruto kaget sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

Sasuke tersenyum licik. "Kau tahu, Dobe? Bibirmu itu cukup menggoda imanku."

Naruto yang masih menutup bibirnya hanya bisa menatap kesal Sasuke dengan muka merona.

"Jadi?" tanya Sasuke sambil berdiri dari posisi duduknya.

"Jadi, apa?" Naruto balik bertanya.

"Haah, kapan kau bisa jadi sedikit lebih cerdas, Dobe?" kata Sasuke frustasi sambil memijat lagi pelipisnya.

Naruto hanya terdiam sambil memandang Sasuke penuh tanya.

"Argh! Sudahlah, pokoknya kuputuskan mulai hari ini kita sepasang kekasih!" katanya tegas.

Seketika wajah Naruto kembali memerah.

"Yoroshiku, ore no koibito," Sasuke tersenyum penuh kemenangan.

"O-onegaishimasu," bisik Naruto sambil kembali tertunduk demi menyembunyikan parasnya yang semakin memerah.

Sasuke kembali mengusap lembut hamparan keemasan di puncak kepala kekasihnya ketika sebuah ketukan menghentikan kegiatan mereka.

TOK-TOK!

"Sasuke-kun, kau makan malam disini saja ya. Bibi sudah menyiapkan makanan di ruang makan," kata Kushina yang muncul dari balik pintu kamar Naruto yang terbuka.

"Ah, baiklah. Terima kasih banyak, Bibi Kushina," Sasuke tersenyum hangat pada ibu kekasihnya itu.

"Naruto, kau pucat? Kau tak apa-apa, Nak?" Kushina meraba kening Naruto yang mendadak pucat.

"A-aku. Tidak apa-apa, Kaa-san. Kakiku anya sedikit nyeri," Naruto meringis pelan.

"Kalau begitu, kau makan dikamar saja ya? Biar ibu bawakan makananmu kesini. Kakimu jangan terlalu diforsir dulu," ucap Kushina sambil membelai perlahan kepala anak bungsunya.

"Arigatou, Kaa-san," kata Naruto pada ibunya yang mulai melangkah meninggalkan kamar.

"Ah, biar aku menemani Naruto makan disini saja, Bibi Kushina," Sasuke segera menyusul Kushina keluar dari kamar Naruto.

Sesaat kemudian, Sasuke kembali memasuki kamar Naruto sambil membawa dua piring makan malam dan dua gelas air minum. Satu untuk Naruto, dan satu lagi untuk dirinya.

"Jadi? Kau mau bercerita padaku kenapa kau mendadak pucat saat bibi Kushina masuk tadi?" tembak Sasuke langsung pada pemuda yang masih sedikit pucat di hadapannya.

Naruto menghela nafas panjang sambil menatap Sasuke, "Aku memang tak bisa membohongimu," ucapnya sambil mengambil sepiring makanan yang disodorkan Sasuke.

"Hn," seperti biasa, kata-kata favorite Sasuke kembali terdengar.

"Aku, tak ingin Kaa-san mengetahui hubungan kita," ucap Naruto dengan sedikit berbisik.

"Kenapa?" Sasuke terlihat ingin memprotes.

"Aku, aku hanya tak ingin Kaa-san kembali kecewa karena aku mengikuti jejak Aniki," Naruto menunduk dan merasa bersalah.

Sekelebat wajah sesosok pemuda berambut pirang panjang, dengan mata biru yang sama jernihnya, dengan senyum yang sama ramahnya mampir di benak Sasuke. Ya, Namikaze Deidara, Kakak Naruto yang memilih meninggalkan rumah dua tahun lalu dan hidup bersama kekasihnya yang berambut merah maroon dan bertampang stoic, Sabaku Sasori.

Sasuke menghampiri tempat tidur Naruto dan membelai kepalanya. "Baiklah kalau itu alasannya. Aku akan merahasiakannya dari Bibi Kushina," ucap Sasuke yang tersenyum maklum.

Naruto tersenyum dan memandang penuh rasa terimakasih pada Sasuke yang kini mulai menyuap makan malamnya sambil mendudukkan diri di tepi tempat tidur Naruto.

Tanpa mereka sadari, percakapan mereka barusan tak hanya didengar oleh mereka berdua. Ada sosok lain yang tak sengaja ikut mendengar dan kini melangkah menuruni tangga sambil memasang ekspresi yang tak bisa ditebak.

.

.

To Be Continue

.

.

Thanks kepada para readers yang berkenan me-Review dan kepada para reader yang berkenan membaca walau tak meninggalkan jejak XD

Karena Arale lagi kecape'an dan mendadak terkapar tak sadarkan diri. Saya, Namikaze Naruto mendapatkan kehormatan untuk menjawab pertanyaan dari para readers yang sudah me-review~

Oke, yang pertama, Mrs X. Terima kasih pujiannya, baca terus yaaa…

Selanjutnya, dari CCloveRuki. Yah, maklum deh, 'Suke kan orangnya gengsian, mana mau jujur en blak-blakan kalau dia cinta sama aku XD

(di sudut ruangan terlihat Sasuke melotot tajam)

Next, dari Uchikaze no Naruels. Hontou ni gomennasai, Arale-nya kemaren lagi mampet ide tuh. Sekarang sih udah agak mendingan, kayaknya.

Lalu, dari Micon. ORYAAA! APA MAKSUDMU MENGATAIKU BODOH-TTEBAYO! (langsung ditahan Sasuke dari belakang).

Ehem, maaf. Saya terbawa emosi. Next!

Dari bloodyblueberry, (lempar balsem ke Author) Aduh author kena getok lagi. Mohon maklum, dia kan udah tahun 3, jadi rada susah nyari waktu buat ngetik (boong banget) XD

Selanjutnya, dari Fujo suka Nyasar. (ngangguk-ngangguk) Iya, kasian banget 'Suke. (dilempar bata sama 'Suke) Aduh, kamu jahat banget sih, Teme! (mewek). Udah cemburuan, pemarah lagi! (dicium 'Suke). Gyaaa! Hmmmph… Hmmmph….

Huah! Akhirnya bisa terlepas dari jeratan tuan mesum itu juga! Next!

Lagi-lagi ada yang mengatakan aku bodoh! HUWOOO! Dallet no Hebi bersiaplah ku Rasengan pantatmu! (dilempar raket tenis sama Author gara-gara ribut) Aduh! (usap-usap pala yang benjol). Selanjutnyaaa!

Dari Sabishii no Kitsune yang rikues… (menatap Sasuke) Le-lemon! (muka memerah). Author bilang sih kalau memang memungkinkan bakalan diadain sih~. (Sasuke berjalan menghampiri Naruto dan berkata, "Bagaimana kalau sekarang saja, Dobe?").

Ja-jangan sekarang, Teme. Suratnya belom semua yang dibacain (lari menghindar). Neeext!

Terimakasih untuk Mizakuni Noa yang lagi penasaran ama lanjutannya. Selamat membaca.

Lalu ada revieaw dari Pucca-Pucca-Pucca yang langsung gebukin 'Suke (kasih perban ama obat merah ke 'Suke yang babak belur). Suke memang bego masalah percintaan sih (diserang death glare mematikan 'Suke). Hieeee!

Trus ada dari Love SasuNaru yang langsung nge-chidori 'Suke yang lagi babak belur. Teme, aku prihatin padamu (meneteskan air mata).

Dari Szhoka yang rikues Lemon lagi. Aku sih tergantung author. Kalau ada aku jalani, kalau gak ada juga gak apa-apa XD

Lalu dari mekomeaw. Untungnya kesalah pahaman kami selesai di Chapter ini (lompat-lompat bahagia diatas kasur).

Trus dari Peppermint is Aqua Queen. Lanjuuut! XD

Next, dari tsukasa raa. Hohoho, masih sesuai alur yang diinginkan kah chapter kali ini?

Last, dari Naomi arai. Maaf kalau aku terlalu polos, soalnya si Teme itu cinta pertamaku sih, jadi aku gak tau harus berbuat apa DX