Lily dan kembang api adalah dua materi yang berbeda
Masing-masing unsur mereka tak ada yang sama
Tapi bagaimana jika lily dan kembang api mencoba hidup dalam satu
Dapatkah akhirnya lily dan kembang api menemukan kesamaan diantara mereka?
.
Naruto by. Masashi Kishimoto
Yuri To Hanabi (Lily And Fireworks) by. IceQueen Rei-chan Yuki
NaruSasu/SasuNaru?
T
Family/Hurt/Comfort/Romance
OOC, AU, Shonen-ai
Chapter II : Aoi Sora (Blue Sky)
.
Apa yang kau ketahui tentang langit selain geografi, selain kumpulan atmosfer pembatas bumi dengan antariksa? Apa langit hanya bisa dipandang tanpa ada makna lain dibaliknya?
Apa yang kau lihat dari langit? Jejak-jejak awan putih berarak atau birunya kanvas semesta?
Musim panas masih berlangsung, mentari masih menyengat diatas sana beserta awan dan langit biru yang cerah. Satu-satunya pendingin adalah angin yang sesekali berhembus sejuk.
Udara hari ini dimanfaatkan Naruto untuk bersantai sejenak di bawah pohon di halaman belakang. Teduh dan hijaunya daun-daun disana membuat suasana terasa lebih nyaman. Sekaligus melepas penat dari seharian di depan layar elektronik membosankan untuk tugas-tugasnya.
Hampir saja Naruto terlelap ketika suara seseorang memanggilnya.
"Naruto-nii." Dan Naruto sudah bisa menebak siapa dia. Berkali-kali dilarang pun, Sasuke tetap saja mendekatinya.
Sasuke ikut berbaring di bawah pohon bersama Naruto. Mungkin dengan itu Naruto akan menanggapinya. Tapi Naruto mengacuhkan Sasuke, seolah Sasuke tak ada disana.
"Naruto-nii tidak apa-apa? Beberapa hari ini Naruto-nii tidak bicara pada Tousan. Naruto-nii juga tidak menanggapi semua pertanyaanku. Tousan sangat khawatir pada Naruto-nii. Aku juga tidak suka melihat Naruto-nii seperti ini. Naruto-nii seperti tidak menganggap Tousan sebagai keluarga."
"Cih, pengganggu." Ujar Naruto tanpa menatap Sasuke. Dia masih memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap lagi.
"Naruto-nii!" Sasuke bangkit, berniat membangunkan Naruto dengan menyeretnya.
Sasuke yang sudah meraih tangan Naruto hendak menariknya, tapi kekuatan Naruto lebih besar sehingga ketika Naruto melepaskan tangannya, Sasuke terjatuh. Tepat diatas Naruto.
Mata mereka bertemu. Terpaut jarak yang terlalu dekat sampai mereka bisa melihat lebih dalam pada masing-masing warna iris mereka.
Sapphire biru Naruto lebih bersinar dari langit siang. Onyx Sasuke lebih pekat dari langit malam.
Bagai terhipnotis, mereka terdiam. Tanpa suara sampai mereka bisa mendengar detakan jantung mereka seirama. Terus berdetak dan entah kenapa detakannya menjadi lebih cepat.
Nafas mereka tertahan oleh keindahan warna iris satu sama lain. Birunya. Pekatnya. Baru mereka sadari begitu indah.
"Hei, minggir." Naruto yang pertama bisa menguasai diri. Sekian detik pikirannya bagai tersedot sesuatu dari onyx Sasuke. Dan hampir saja tangannya bergerak menggapai wajah Sasuke jika Naruto tak segera menguasai pikirannya lagi.
Sadar dengan posisinya, Sasuke menyingkir dari -bisa dibilang pelukan- Naruto.
Tadi benar Naruto memeluknya, karena satu tangan Naruto berada di punggung Sasuke.
"Maaf.." Guratan merah tipis muncul di wajah Sasuke.
"Kau mau bicara apa lagi?" Tanya Naruto untuk mengalihkan suasana. Sekaligus untuk melupakan sebuah sensasi lain dalam hatinya ketika menatap Sasuke.
"Ah, um. Begini. Naruto-nii tidak perlu menyembunyikannya dariku dan Tousan. Aku tahu Naruto-nii sedang sedih." Sasuke menunduk. Bukan takut dibentak. Sasuke sedang berusaha menormalkan degup jantungnya yang sempat tak wajar.
"Apa yang membuatmu berpikir begitu. Aku baik-baik saja!" bentakan Naruto tertahan. Tak tahu kenapa. Seperti tak tega atau semacamnya pada Sasuke.
"Musik itu. Lagu yang selalu Naruto-nii nyanyikan adalah lagu kesedihan. Aku mendengar musik itu mengalun setiap hari. Saat sendirian, aku tahu Naruto-nii selalu menyanyikan lagu itu."
"Jadi, sekarang pekerjaanmu adalah mengawasiku, huh." Ucap Naruto sinis. Tapi nada suaranya menurun.
"Aku tidak bermaksud begitu. Baiklah, jika Naruto-nii tidak mau mengatakannya padaku. Naruto-nii bisa mengatakannya ke sana."
Sasuke menunjuk langit. "Langit biru itu akan mendengarkan Naruto-nii." Sasuke tersenyum lembut.
Sekali lagi, jantung Naruto berdegup lebih kencang. Wajah tanpa cela dengan senyum lembutnya, keindahan matanya, keteduhan tatapannya-
'Apa yang kupikirkan?' Naruto ikut menatap langit, agar perhatiannya lepas dari Sasuke.
"Aku suka langit biru. Aku suka saat aku menengadah dan langit diatas kepalaku seolah bisa kujangkau hanya dengan sekali gapai." Senyum Sasuke makin melembut ketika dia mengangkat tangannya, membayangkan dia benar bisa menggapai langit.
"Aku suka karena ketika aku tertunduk dan membenci beban, aku tahu langit tetap tersenyum padaku."
"Langit tidak hanya mampu tersenyum, langit bahkan tetap terjaga saat aku menengadah dengan atau tanpa sinar temaram kesedihan maupun kekalutan."
"Bagiku-"
Jeda. Sasuke menatap teduh pada Naruto. "Langit adalah unsur semesta yang menjadi sahabat. Dan bagiku langit tetap biru."
"Langit biru tetap biru, dan tetap disana bahkan ketika aku menengadah sambil memejamkan mata."
Nafas yang sedari tadi tertahan karena tatapan teduh Sasuke kini normal kembali. "Kau tetap tak bisa diam." Ujar Naruto pelan.
Naruto menepis perasaan aneh yang menyelimuti hatinya beberapa saat lalu. "Pengganggu kecil." Sambungnya. Jelas karena Naruto masih merasakan perasaan anehnya. Karena itu Naruto mengatakan Sasuke 'pengganggu kecil', sekedar untuk menormalkan suasana hatinya.
"Aku tidak akan berpura-pura bodoh dengan pura-pura tidak mengetahui Naruto-nii membenciku. Tapi aku minta satu hal pada Naruto-nii. Aku ingin Naruto-nii mengakui aku ada disini meskipun dengan itu kebencian Naruto-nii bertambah. Aku ingin Naruto-nii mengakuiku sebagai saudara walaupun menjadi saudara yang sangat Naruto-nii benci."
"Ya, ya. Terserah." Naruto bersingut. Mungkin dengan menjauh, hatinya akan kembali seperti semula.
.
Kehidupan ini selalu menciptakan pertanyaan. Ketika satu pertanyaan terjawab, akan muncul pertanyaan baru. Setelah bunga lily, sekarang Naruto malah memikirkan, benarkah langit seindah itu. Jika benar Sasuke hanya pengganggu, kenapa sekarang Naruto mulai menerima kenyataannya.
Wajahnya ketika Sasuke tersenyum lembut dan berkata "Aku suka langit biru."
Ketika Sasuke mengangkat tangannya dan berkata "Langit diatas kepalaku seolah bisa kujangkau hanya dengan sekali gapai."
Ketika Sasuke menatap teduh padanya dan berkata "Langit adalah unsur semesta yang menjadi sahabat."
Sasuke tetap pengganggu, tapi kata-katanya, raut wajahnya, tatapannya. Telah membawa irama baru dalam detakan jantungnya, membawa kehangatan baru dalam hatinya. Dan kenapa sekarang nama Sasuke melekat dalam pikirannya?
"Bodoh. Apa sekarang aku harus berkata, namaku Namikaze Naruto dan aku jatuh cinta pada saudaraku sendiri. Terlebih lagi saudaraku juga laki-laki?" Gumam Naruto di sepanjang perjalanannya.
.
Naruto melirik Sasuke yang masih bersantai di bawah pohon di halaman belakang. Meskipun dia merasa bodoh memperhatikan Sasuke terus-menerus, pandangannya masih tak lepas dari Sasuke.
Jam menunjukkan tengah hari. Angin tak berhembus sesejuk pagi. Namun teriknya tak mengalahkan Sasuke untuk menatap langit.
"Berapa lama dia bisa menatap langit?" Tiba-tiba saja Naruto ingin tahu sesuatu tentang Sasuke.
"Apa?" Tanya Minato. Tak percaya jika Naruto mulai ingin tahu tentang orang lain lagi.
'Kau sudah dengar pertanyaanku, Tousan."
Minato tersenyum tipis. Tahu jika Naruto sudah mulai membuka hatinya untuk orang lain lagi.
"Tergantung keinginannya. Sasuke tidak akan berhenti melakukan sesuatu sebelum dia merasa puas."
"Hn." Sedikit jawaban saja cukup. Cukup dia mencari tahu tentang orang lain. Tak perlu lebih dari ini. Dia sudah keluar dari bentengnya terlalu jauh.
Melihat ekspresi Naruto mulai berubah, Minato akhirnya buka suara. "Kau tak perlu takut masa lalu itu terulang lagi. Sasuke bukan orang yang seperti itu. Kau pasti bisa melihat ada sesuatu dalam dirinya yang berbeda. Sesuatu yang mampu meluluhkan keras hati orang lain."
"Kau pun pasti sudah belajar sesuatu dari Sasuke, atau paling tidak, kau sudah melihat sesuatu itu dalam dirinya."
Benar. Naruto sudah melihatnya. Sudah mempelajari satu hal. Tentang langit. Sasuke dan langit. Sasuke adalah langit. Simbol dunia tak terbatas yang akan menerima semua emosi tanpa takut tak ada tempat lagi. Tanpa memilih siapa yang bicara, siapa yang berteriak, siapa yang marah, siapa yang tersenyum padanya.
Sasuke adalah langit biru. Simbol kesucian yang menghapus kegelapan. Simbol ketenangan yang meredam kemarahan. Simbol kelembutan yang meluluhkan kesepian.
-To Be Continued-
Lagi-lagi terinspirasi dari lagu The Gazette berjudul Pledge. Hah, tetap saja hasilnya aneh. Filosofi langit ini Rei dapat dari sebuah blog. Kalau Minna-san mau, coba cari di Google dengan kata kunci "filosofi langit biru" *nyuruh* *plak*
Ryein Xiah:
Ternyata ada ya yang nasibnya sama kayak Rei ^^
tapi jangan menyerah ya, di suatu tempat sana pasti ada orang yang akan menjadi sahabat baik kita. dattebayo ^^b
sankyuu review-nya ya~
sabishii no kitsune:
iya, setelah Rei baca ulang, ternyata Naru itu labil banget -.-
untuk adegan Sasu marah sama Naru mungkin ada di chap depan ^^
kalau menurut Rei lagu itu bagus banget. tapi gak tau menurut orang lain. soalnya selera orang 'kan beda-beda. mungkin coba di dengerin dulu lagunya deh ^^
sankyuu review-nya~
Yue Hikari-chan:
terpisah? memangnya kita dulu jadian? hei, aku ini masih straight.
ya, tunggu saja kelanjutan fic yang lama itu. ngomong-ngomong sankyuu review-nya~
Miyuki Reiko:
Yah, entah bagaimana nasibnya fic itu. tunggu saja -.-
sankyuu review-nya~
Vii no Kitsune:
Naru sama Sasu nya jadi OOC banget ya ^^'a
gomen. dan sankyuu review-nya ^^
Sankyuu
