Lily dan kembang api adalah dua materi yang berbeda.

Masing-masing unsur mereka tak ada yang sama.

Tapi bagaimana jika lily dan kembang api mencoba hidup dalam satu.

Dapatkah akhirnya lily dan kembang api menemukan kesamaan diantara mereka?

Naruto by. Masashi Kishimoto

Yuri To Hanabi (Lily And Fireworks) by. IceQueen Rei-chan Yuki

NaruSasu/SasuNaru?

T

Family/Hurt/Comfort/Romance

OOC, AU, Shonen-ai

Chapter III : Aoi sora II (Blue Sky II)


Ketika birunya perlahan menghilang, langit itu menunjukan kebenarannya.

Semua hal menyimpan sesuatu dibaliknya. Bahkan langit biru itu juga menyimpan sesuatu. Dibalik cerahnya, langit menyimpan kegelapannya sendiri.

Malam itu, hanabi matsuri tengah berlangsung. Suara-suara dari ohayashi menggema sejak matahari terbenam. Orang-orang berkumpul di bukit dekat kota dimana kembang api akan diluncurkan. Warna-warni cahaya lampu dari berbagai stand menambah indahnya suasana di festival.

"Kaasan, Tousan, aku pergi dulu ya~!" Seorang anak kecil berambut pirang dan beberapa temannya melambai pada dua orang yang tengah bersantai di sebuah kursi kayu.

"Naru jangan pergi terlalu jauh ya." Sahut seorang wanita berambut merah yang dipanggil Kaasan oleh anak kecil itu.

"Iya~" Anak itu melambaikan tangannya lagi kemudian berlari menerobos kerumunan orang dewasa bersama teman-temannya.

Sekian detik mereka memperhatikan kemana perginya anak kecil berambut pirang itu sampai dia menghilang diantara kerumunan orang banyak. Barulah mereka memulai pembicaraan yang sempat terputus oleh anak kecil itu.

"Apa kau sudah yakin akan menghentikan proyek pertambangan ini? kerugian yang ditimbulkan akan besar sekali."

"Minato, yang menjadi masalah bukan kerugiannya. Tapi… Aku dan Fugaku merasa sepertinya Orochimaru ingin menguasai tambang ini sendirian. Demi mencegah sesuatu yang buruk terjadi lebih baik aku hentikan saja proyek ini."

"Bagaimana dengan Fugaku?"

"Dia juga setuju dengan rencanaku. Tapi Orochimaru berkeras akan tetap melanjutkan proyek ini. Besok aku dan Fugaku akan bicara lagi pada Orochimaru."

Hening lagi. Pria bernama Minato itu memutuskan untuk mendukung keputusan istrinya dan tak berniat memperpanjang percakapan mereka.

.

"Kaasan… Tousan… Kalian dimana?"

Mata sapphire-nya menjelajahi tiap sudut keramaian di festival. Suaranya serak karena hampir menangis. Beberapa saat yang lalu dia masih bersama teman-temannya, berlarian diantara orang dewasa dan sesekali bersembunyi diantara kerumunan. Sampai dia sadar teman-temannya menghilang dan dia tak tahu jalan kembali pada orang tuanya.

"Kaasan, Tousan." Panggilnya dengan suara semakin serak. Langkahnya tak menentu, pandangannya terus tertuju ke segala arah.

BRUK…

"Aduh…"

Anak kecil itu terjatuh setelah menabrak seseorang. "Maaf,"

"Naruto."

Anak itu menengadah. Orang yang ditabraknya tak lain adalah seseorang yang sudah dikenalnya. "Orochimaru-sensei?"

Orang itu adalah guru baru di sekolahnya sekaligus teman kerja ibunya. Meskipun begitu dia selalu merasa ada yang aneh dengan gurunya dan dia merasa sedikit takut jika dekat dengan gurunya.

"Akhirnya ketemu juga. Ayo! Orang tuamu sudah menunggumu disana." Pria bernama Orochimaru itu menunjuk sebuah tempat di sudut festival.

Walau agak aneh karena disana sama sekali tak ada orang, anak kecil itu tetap mengikuti gurunya.

.

"Kushina, mana Naruto?" Minato terperanjat dari duduknya. Baru ia sadari anaknya terlalu lama menghilang.

"ah iya. Dari tadi dia tidak memanggil kita lagi."

Wanita berambut merah itu segera bangkit dari kursinya dan berlari ketengah kerumunan orang.

"Kushina, aku akan mencari kearah lain!" Seru Minato. Dilihatnya wanita itu mengangguk dan Minato pun bergegas mencari anaknya.

"Naruto! Naruto!" Minato terus memanggil Naruto. Tak terhitung berapa kali dia menabrak orang di festival. Suara-suara protes dari mereka pun tak dihiraukannya. Dia terlalu panik karena tak menemukan Naruto dimanapun.

Langkahnya membawa Minato ke sudut terjauh festival. Disana hanya ada orang-orang yang bertugas menyiapkan kembang api.

Minato hampir putus asa. Dari semua teman-teman Naruto yang dia temui, tak ada satupun yang mengetahui keberadaan Naruto.

"Sensei~ sakit!"

Sayup-sayup Minato mendengar anak kecil merintih. Dari suaranya Minato yakin adalah suara Naruto.

"Sen-sei…"

Minato langsung berlari kearah suara. Dia sangat yakin itu adalah suara Naruto.

Di tempat itu hanya sinar bulan yang berhasil menerangi. Tak ada lagi suara riuh dari orang-orang di festival. Hanya suara ohayashi yang masih menggema sampai kesana. Dibelakangnya sebuah jurang menjadi pembatas antara bukit satu dengan bukit lainnya.

"Uhuk… Sen-sei… sakit…" Rintihan anak kecil itu semakin jelas terdengar meski suaranya semakin menurun.

"Naruto!" Seru Minato ketika menemukan Naruto tengah dicekik oleh seseorang berambut hitam panjang.

"Tou-san… Uhuk…" Suara Naruto hampir tak terdengar. Tangan yang mencekik lehernya erat membuat dia kesulitan bernafas.

"Lepaskan dia!"

BUK!

"Akh!"

Kushina tiba-tiba muncul dibelakang orang yang mencekik Naruto dan berhasil memukulnya dengan sebuah balok kayu.

Tatapan tajam orang itu langsung mengarah pada Kushina. Dilepaskannya Naruto kemudian ia mendekat pada Kushina.

"Baguslah satu keluarga sudah ada disini sekarang. Aku tidak perlu repot mencarimu lagi. Uzumaki Kushina."

"Orochimaru! Ternyata benar kau akan melakukan apa saja untuk menguasai pertambangan itu!"

Keduanya saling menatap sengit. Dari awal bertemu, Kushina memang sudah melihat sesuatu yang licik akan diperbuat oleh Orochimaru.

"Kalau aku berhasil melenyapkan kau dan keluargamu, aku tinggal menghabisi Fugaku dan tambang itu akan menjadi milikku!"

"Kau tidak akan mendapatkan apapun!" Kushina mengarahkan balok kayu ditangannya pada Orochimaru tetapi dengan cepat Orochimaru menghindar dan menendang perut Kushina.

"Uhuk…" Kushina mengeluarkan darah dari mulutnya.

"Brengsek!" Minato meraih balok kayu milik Kushina. Satu hantaman tepat mengenai kepala Orochimaru. Namun ketika hantaman kedua hendak dilayangkan, Orochimaru mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya dan menusukkannya pada Minato.

"Ukh…" Minato meringis. Baru saja sesuatu yang tajam menembus perutnya.

"Minato!"

"Tousan!"

Kushina dan Naruto menyahut bersamaan. Darah mulai mengotori yukata putih yang dipakai Minato.

"Tousan…" Naruto menghampiri Minato yang terus meringis memegangi perutnya. Darah yang keluar semakin banyak, sebagian yukata-nya pun sudah berubah warna menjadi merah akibat darahnya.

"Brengsek kau Orochimaru!" Kushina menyerang Orochimaru, hendak merebut pisau ditangannya. Meski berkali-kali Orochimaru memukulnya, Kushina tidak melepaskan pegangannya pada pisau Orochimaru.

"Kaasan… sudah… hentikan…" Tangisan Naruto pecah. Dia sudah tak tahan melihat darah disekitarnya. Apalagi darah yang mengotori wajah Kushina dan Minato.

ZRASH…

"Kaasan…" Naruto menatap tak percaya pada Kushina. Setelah Kushina berhasil merebut pisau Orochimaru, dia malah menusukkan pisau itu pada dirinya sendiri.

"Maaf Naruto, Minato. Aku harus melakukan ini."

"Kaasan, kenapa?" Teriak Naruto. Tubuhnya bergetar karena menangis dan takut melihat darah.

"Kalau dia tidak bisa mati sendirian…" Kushina menatap tajam pada Orochimaru. "Maka dia harus mati denganku!" Kushina menarik yukata Orochimaru.

"Hei!" Tak sempat Orochimaru melepaskan diri, Kushina lebih dulu terjun ke jurang di belakangnya. Orochimaru ikut terjatuh kejurang bersama Kushina.

"Ku-shi-na…" Tangan Minato terulur hendak menggapai Kushina, tapi tangannya tak sampai pada Kushina. Rasa sakit diperutnya menghalangi Minato untuk bergerak dan kepalanya terasa pusing akibat kehilangan banyak darah. Akhirnya Minato kehilangan kesadarannya.

"KAASAN~!" Setelah terdiam sesaat, Naruto berteriak keras. Dia tak bisa mempercayai bahwa ibunya telah menjatuhkan diri kejurang. Apalagi melihat Minato tak sadarkan diri, dia tak tahu harus berbuat apa. "KAASAN! TOUSAN! JANGAN TINGGALKAN AKU!"

Ketakutan pada darah di tubuhnya dan tubuh Minato, membuat Naruto terus berteriak. Dia tak mau sendirian, dia takut jika benar orang tuanya telah meninggalkannya.

"KAASAN! TOUSAN!"

xXxXx

"Ngh…"

"Naruto-nii. Naruto-nii sudah sadar!"

Perlahan Naruto membuka matanya. Dilihatnya Sasuke sudah ada disana menggenggam tangannya.

"Ini dimana?" Tanya Naruto. Ruangan putih itu bukan kamarnya, tapi aroma menyengat disana sudah dikenalnya.

"Di rumah sakit. Naruto-nii tidak ingat? Kemarin Naruto-nii tiba-tiba pingsan lalu Tousan langsung membawa Naruto-nii kesini." Jelas Sasuke.

"Oh…" Naruto memalingkan wajahnya. Sejak dulu dia memang sering tiba-tiba pingsan. Dia tidak heran jika terbangun di rumah sakit. Yang membuat dia heran adalah kenapa wajah ceria Sasuke membuatnya agak gugup.

"Naruto-nii masih marah padaku?" Sasuke menunduk. Ekspresi wajahnya pun berubah murung. "Kenapa Naruto-nii tidak mau menerima kehadiranku disini?"

Naruto tak menjawab. Dia masih bertahan pada posisinya membelakangi Sasuke.

"Jawab aku! Memangnya apa salahku!" Desak Sasuke. Sasuke menarik tangan Naruto agar Naruto menatapnya.

"Aku sangat berharap Naruto-nii bisa menemaniku! Aku takut sendirian!"

Naruto terdiam menatap Sasuke. Sinar dari mata onyx Sasuke meredup. Keceriannya menghilang berganti genangan air mata.

Kenapa? Langit birunya menangis. Setelah menerima banyak emosi orang lain, langit biru akan menunpahkan emosinya sendiri. Langit biru akan menunjukan dirinya yang lain. Dirinya yang juga menginginkan orang lain mendengarkannya.

"Aku belum pernah bertemu dengan Tousan! Selama enam belas tahun Tousan berada di tempat terpisah denganku! Tapi saat aku punya kesempatan bertemu, Tousan meninggal! Aku hanya bisa tubuhnya tak bernyawa! Aku sama sekali tak tahu bagaimana sifat Tousan! Naruto-nii beruntung karena bisa merasakan hidup dengan keluarga yang utuh!"

"Beruntung, heh? Kau melihat sendiri bagaimana ibumu menjemput kematiannya! Kau melihat ibumu membunuh dirinya sendiri dan kau tak bisa menyelamatkannya! Kau hanya bisa menyaksikannya mati! Apa itu yang kau sebut beruntung?"

"Setidaknya Naruto-nii tahu kalau mereka menyayangi Naruto-nii! Aku tidak tahu apakah Tousan membenciku sehingga dia tidak mau hidup denganku…"

Sasuke terisak. Kepedihan yang dipendamnya telah dia luapkan. Dia tak tahu kenapa dia bisa meluapkan perasaannya pada Naruto. Padahal ketika dia mencoba meluapkannya ada orang lain, dia tidak bisa.

Tangan Naruto perlahan bergerak ke wajah Sasuke. Membelainya lembut dan mengusap air mata yang terjatuh di pipi Sasuke.

Langit biru bisa menangis. Langit biru pun menyembunyikan kelam dibaliknya. Ketika kelam itu tak bisa lagi ditahannya, langit akan menumpahkannya dalam hujan. Atau badai…

-To Be Continued-


Baik. Katakan saja ini gaje dan sebagainya. Apa yang baru saja saya tulis? Yuu-kun! Jangan tiba-tiba keluar waktu Rei nulis!

Seiryuu: salah sendiri nulis kok lelet amat! Dibantu malah gak mau!

Rei: Tapi bantunya jangan gaje gini dong!

Seiryuu: Yang penting jadi! Udah jangan protes terus! *pergi tanpa tanggung jawab*

Rei: Yuu! Jangan pergi dulu! Dasar menyebalkan! *kejar Yuu*

*balik lagi* Sebelum Rei ngejar Yuu, tolong di review Minna-san. Onegai! *ngejar Yuu lagi*

ArizaKurosaki:
diksi-nya masih belum apa-apa kok. Rei masih harus belajar untuk pembuatan diksi yang lebih baik. Rei akan usahakan fic ini bisa diupdate kilat. Sankyuu reviewnya arizakurosaki-san.

Yue Hikari-chan:

Ini sudah update. Sankyuu reviewnya.

Miyuki Reiko:

Dua fic itu? Entahlah. Rasanya sulit sekali membuat kelanjutannya. Sankyuu reviewnya.

sabishii no kitsune:

iya. Sasu kok bawel banget ya? Terus kenapa juga Naru makin labil?

*Yuu: yang buat fic ini kan kau sendiri*

Sankyuu reviewnya sabishii no kitsune-san.

Vii no Kitsune:

Niatnya bikin Sasu lebih marah sama Naru, tapi setelah diketik kok jadi aneh gini. Sasu kayak yang mau gak mau buat marah sama Naru. Flashback untuk Sasu mungkin aka nada dilain chapter.

Sankyuu reviewnya Vii no kitsune-san.

Arisu KuroNeko:

Saran Rei, mending gak usah dibayangin. Beneran T_T Rei juga susah bayanginnya. Kecuali kalau Sasu-nya versi chibi sedangkan Naru-nya versi shippuden. Baru Rei bisa bayangin kepribadian mereka tertukar.

Sankyuu reviewnya Arisu KuroNeko-san.

mitami yaya:

Sesuai rencana awal. Fic ini adalah shonen-ai. *shonen-ai sama yaoi beda ngga sih*

Ya ampun. Filosofinya masih belum apa-apa. Masih gaje juga. Rei Cuma sok tahu bikin filosofi itu Xp

Sankyuu reviewnya mitami yaya-san.

Chika:

Sekali lagi saya ungkapkan kalau saya juga gak bisa bayangin kepribadian mereka tertukar kecuali dalam keadaan Sasu chibi dan Naru shippuden. Baru saya bisa bayangin kerpibadian mereka tertukar.

Untuk selanjutnya Naru akan lebih lembut pada Sasu, sekedar bocoran saja kalau Naru sudah mulai jatuh cinta pada Sasu. Jadi di chap depan Naru tidak akan berbuat kejam lagi pada Sasu, kecuali mungkin cuek.

Sankyuu reviewnya Chika-san.

naomi arai:

Saya tak bisa terus melihat Sasu yang galak. Karena itu disini saya buat Sasu lebih lembut. Alangkah imutnya ketika Sasu tersenyum dan bersikap lembut. . *menghayal Sasu tersenyum pada Rei* *nosebleed*

Sankyuu reviewnya Naomi aria-san.

Dan sankyuu pada reader dan reviewer –mungkin juga ada flamer yang baca ini- yang sudah menyempatkan diri membaca fic ini.

Saya, Aizuka Rei, pamit. Sankyuu! Ja ne~!