Chocoaddicted Present...
My Psycho Student
Naruto © Masashi Kishimoto
Inspirited by Shiiba Nana Gorgeous Twins
Warning!: OOC, AU, GAJE, ABAL, TYPO and MISS-TYPO (semoga gak ada…), EYD YANG TIDAK KONSISTEN, JAYUS, GARING (KRIUK KRIUK)
DON'T LIKE? DON'T READ!
Chapter 3: First Day To Teaching
Enjoy!
.
.
.
Seperti biasa setiap pagi Sakura selalu bangun kesiangan sehingga dia kembali berteriak di depan gerbang dan berhasil masuk ke dalam sekolah. Satpam yang bertugas menutup gerbang jadi merutuki Sakura agar suaranya hilang sehingga si satpam gak budek tiap hari denger suara mega ultrasonic-nya Sakura.
Sakura berjalan dengan cepat masuk ke dalam gedung sekolah. Tapi tumben banget dia ngeliat koridor sekolah yang masih rame, dia pikir mungkin hari ini lagi ada rapat guru jadinya guru-guru gak masuk ke dalam kelas sehingga dengan kata lain hari ini adalah hari kemerdekaan para murid.
Sakura menganga begitu dia ngeliat ternyata keramaian di koridor ini tuh lebih rame dari mall Konoha waktu ngadain diskon gede-gedean pas lebaran sama tahun baru. Kelas Sakura berada di lantai dua dan itu berarti dia harus berjuang keras melewati keramaian yang kebanyakan disesapi oleh murid perempuan ini.
"Misi… misi…" Sakura nyoba masuk lebih dalam lagi dan menuju tangga dekat papan mading.
Pas Sakura masuk dan berjuang keras untuk melewati puluhan cewek-cewek yang memenuhi sepanjang koridor itu, Sakura mendengar anak-anak cewek pada cekikikan dan nunjuk-nunjuk ke papan mading dengan mata yang berbinar-binar dan berbentuk love-love.
"Seperti biasa, si kembar selalu tampak memukau!" seru seorang gadis berambut merah di samping Sakura.
Karena penasaran, Sakura mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah yang dilihat oleh si cewek berambut merah dan berkacamata itu. Karena tubuhnya kecil, jadinya Sakura menjinjitkan kakinya untuk melihat si kembar yang dimaksud cewek itu.
DOEEEENGG!
Mata Sakura terbelalak melihat sepasang anak kembar tapi beda yang lagi berdiri di depan papan mading dan ternyata itu adalah Sasuke dan Sai. Sakura menelan ludahnya mengetahui kenyataan bahwa Sasuke dan Sai yang notabennya adalah murid privatnya ternyata satu sekolah dengan dia. Sasuke menolehkan kepala dan melihat ada rambut merah muda yang menggembul di antara rambut-rambut cewek lain yang mengerumungi dia dan Sai.
Melihat Sasuke menoleh, Sakura buru-buru ngumpet di antara rimbunan fans girl Sasuke dan Sai. Untung badannya kecil jadi gampang bersembunyi. Sakura melihat Ino di dekat tangga, dan langsung saja dia menyikut, menendang, mendorong anak-anak perempuan yang menghalangi jalannya menuju tangga. Anak-anak perempuan yang malang itu hanya bisa meringis kesakitan.
"Ino!" panggil Sakura setelah berhasil keluar dari kesesapan koridor. Keringat mengalir di pelipisnya. Maklum saja, terjebak di antara fans girl Sasuke dan Sai serasa sedang nonton konsernya SHINee.
"Sakura. Kau kenapa bisa keringatan gitu? Habis lari marathon?" tanya Ino sambil meminum jus jeruk.
"Aku habis melewati gerombolan anak cewek di koridor bawah. Hosh… hosh… hosh… mereka sebenarnya siapa sih?" tanya Sakura sambil mengambil napas dalam-dalam. Sekali lagi, di dalam koridor yang disesapi puluhan fans girl Sasuke dan Sai membuat Sakura seperti ikan mas yang mangap-mangap karena butuh oksigen.
"Kamu gak tau? Ya wajar aja sih, kamu kan murid baru." Ino menyeruput jusnya membuat Sakura menelan ludahnya karena pengen nyeruput jus jeruknya Ino juga, tapi Ino gak nawarin, "mereka itu fans girl-nya Sasuke-senpai dan Sai-senpai."
"UAPPPA?" teriak Sakura shock karena Sasuke dan Sai ternyata kakak kelasnya.
"Kenapa sih, Saku? Biasa aja kali!" omel Ino sambil menutup sebelah kupingnya yang kena teriakannya Sakura.
.
.
.
Istirahat pertama Sakura lewati dengan duduk di dalam kelas. Dia gak mau keluar kelas karena takut ketemu sama Sasuke dan Sai. Terpaksa Sakura menahan laparnya karena dia gak bawa bekal. Dia mendengus dan merebahkan kepalanya di atas meja.
Sakura mengikuti pelajaran dengan tidak fokus karena perutnya terus berdendang meminta makan. Dan bel istirahat kedua pun berbunyi. Sakura memutuskan untuk pergi ke kantin daripada dia mati kelaparan hanya karena takut ketemu Sasuke dan Sai.
Sakura mengendap-endap menuju kantin sekolah. Dia bersembunyi dari satu tembok ke tembok lain, dari satu tong sampah ke tong sampah lain, dari punggung orang yang satu dengan punggung orang yang lain. Dan sampailah dia di depan kantin.
Sakura mengintip ke dalam kantin dan dia mengedarkan pandangannya untuk melihat apakah ada si anak kembar atau gak. Sakura menghela napas lega karena si kembar gak ada di dalam kantin, akhirnya dia masuk ke dalam kantin dengan tenangnya dan memesan satu cup ramen dan jus strawberry.
Saat baru menikmati setengah ramen-nya, Sakura mendengar jeritan-jeritan histeris dari anak-anak perempuan yang ada di dalam kantin.
"GYAAAAA! SASUKE-SENPAI!"
"SASUKE-KUN!"
"SASUKE-SAMA! AYO DUDUK DI SAMPING KAMI AJA!"
Sakura tersedak mendengar nama Sasuke diteriaki oleh gadis-gadis itu. Sakura buru-buru meminum jusnya dan membawa ramen yang masih tersisa setengah di tangannya. Sakura berjalan dengan mengendap-endap karena takut kelihatan Sasuke tanpa melihat dulu Sasuke sedang berada di mana.
Sakura berjalan sambil menunduk, tiba-tiba kaki kanannya menginjak tali sepatu kirinya yang terlepas dan dia terjatuh dengan ramen yang terlempar dan terbang dari pegangan tangannya.
"Gyaaaaaa!" teriak Sakura. Dan Sakura jatuh nyungsep di lantai kantin.
Tiba-tiba keadaan menjadi hening. Sakura mengusap-usap jidatnya yang kepentok sama ubin kantin. Saat dia meringis kesakitan, dia melihat kaki yang memakai celana cokelat panjang dengan sepatu hitam berdiri di depannya. Sakura menelan ludahnya lalu mendongakkan kepalanya melihat orang yang berdiri di depannya itu.
DOEEEENG!
Yang berdiri di depan Sakura adalah Sasuke dengan kepala yang basah dan mie ramen yang menghiasi kepalanya. Sasuke menatap tajam Sakura, Sakura menelan ludahnya.
"Gyaaaaa! Sasuke-senpai!" teriakan fans girl Sasuke terdengar lagi.
Sakura mencoba berdiri dan menatap Sasuke takut-takut. Sakura menggaruk-garukkan lehernya dan sesekali melirik Sasuke yang berdiri di depannya, Sakura melihat Naruto berdiri di samping Sasuke sambil dadah-dadah ke Sakura. Sakura tersenyum kaku ke Naruto.
Sasuke terus memandang Sakura dengan sorot mata seperti burung elang yang siap menerkam kelinci. Sakura merasakan aura membunuh dari Sasuke dan segera saja dia membungkukkan badannya meminta maaf.
"Maaf, chickenbutt, aku gak sengaja." Sakura menutup mulutnya yang kelepasan memanggil Sasuke dengan panggilan "sayang"nya.
Semua orang yang ada di kantin membelalakkan matanya mendengar Sasuke dipanggil 'Chickenbutt' oleh seorang anak berambut pink yang aneh.
Masih dengan posisi Sakura membungkuk, dia perlahan menegakkan badannya dan menggeser tubuhnya ke samping kanan agar bisa lari dari kantin. Sakura melangkah pelan-pelan sampai ketika badannya sejajar dengan Sasuke, tiba-tiba Sasuke menarik tangannya dan itu membuat Sakura menahan napasnya memikirkan kemungkinan terburuk. Sakura menelan ludah paksa saat melihat Sasuke mendelik padanya.
"Jangan pikIr kau bisa lari semudah itu, forehead!" Sasuke menyeringai. Anak-anak yang ada di kantin ikut-ikutan menelan ludah melihat seringaian Sasuke.
Sakura mengedarkan matanya ke penjuru kantin yang bisa ditangkap radar pandangan matanya dan sebuah ide melintas di otak Sakura.
"Ah! Minato-sensei!" teriak Sakura sambil menunjuk ke belakang Sasuke dan itu berhasil membuat Sasuke menoleh dan melepaskan pegangan tangannya. Gak mau menyia-nyiakan kesempatan, Sakura langsung ambil langkah seribu.
"Cih! Sialan anak kecil itu!" dengus Sasuke.
"Hahaha… teme, kau kecolongan!" tawa Naruto meledak.
"Diam kau, dobe!"
.
.
Sakura berjalan dengan mengendap-endap saat pulang sekolah. Dia menuju tempat parkir sepedanya. Di otaknya saat ini sedang memikirkan apa yang akan dilakukan Sasuke saat dia mengajar privat bahasa inggris nanti. Apakah Sakura akan dicincang seperti apa yang dikatakan Ino? Atau dia akan dikubur hidup-hidup seperti yang dikatakan Shikamaru?
Sakura bersembunyi dibalik semak-semak dekat tempat parkir, dia memantau sepedanya yang jaraknya kini tinggal lima meter lagi. Tiba-tiba bahunya ditepuk oleh seseorang dan itu membuat jantungnya hampir copot. Keringat dingin menjalari pelipisnya, perlahan dia menengokkan kepalanya ke samping dan TADA…!
"Hoeee! Sasuke!" teriak Sakura kaget dan jatuh terduduk.
"Aku bukan Sasuke," jawab orang itu.
"S-s-s… Sai?" tanya Sakura. Sai mengangguk dan tersenyum. Sakura menghela napas lega.
Sai berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Sakura yang sedang duduk. "Seharusnya kau jangan bernapas lega dulu," ucap Sai. Sakura memandangnya dengan tatapan bingung. "kejadian tadi di kantin sudah tersebar ke seantero sekolah. Dan mulai sekarang sebaiknya kau berhati-hati karena Sasuke gak akan membiarkanmu selamat selama bersekolah di sini. Sampai jumpa nanti di rumah, sensei." Sai tersenyum lalu berdiri meninggalkan Sakura yang mematung.
"MATI AKU! Aaaaarrrghh!" teriak Sakura frustrasi.
.
.
Sakura mengayuh sepeda menuju rumahnya. Dia sudah memutuskan untuk gak mengajar sebagai guru privat di kediaman Uchiha. Mentalnya langsung down mendengar kata-kata Sai tadi.
Sakura menghembuskan napasnya yang berat. Hidup ini ternyata sangat kejam, mencari uang ternyata gak mudah. Mulai sekarang Sakura harus mencari pekerjaan lain untuk membayar servis komputer di rentenir om-om yang gak nyadar umur itu atau dia ngomong ke ayah dan ibunya terus minta uang buat bayarin servis laptop aniki-nya.
Itachi secara gak sengaja melihat Sakura yang sedang mengayuh sepeda dengan lesu ke arah yang berkebalikan dengan rumahnya. Langsung aja si Itcahi minggirin mobilnya dan keluar dari mobil diikuti dua makhluk yang kelihatan bingung.
Itachi berdiri sambil membentangkan tangannya di depan laju sepeda Sakura. Sakura yang melihat Itachi segera mengerem sepedanya dengan mendadak.
"Sakura-chan mau kemana?" tanya Itachi sambil memegang stir sepeda.
Sakura menengadahkan kepalanya dan menatap Itachi dengan meneguk ludahnya. 'Mati aku,' pikirnya.
Itachi gak sadar sama ekspresi Sakura yang udah mau lari aja seperti pencopet yang ketahuan nyopet, Itachi malah mikir kalau Sakura itu lupa hari ini hari pertamanya ngajar.
"Sakura-chan, kau pasti lupa kalau hari ini hari pertamamu ngajar kan?" Sakura gak jawab, dia melirik-lirik celah kosong yang mungkin bisa dia gunakan untuk lari.
"Itachi, lagi ngapain sih lu sama bocah pink ini?" tanya makhluk yang punya banyak tindikan di mukanya.
"Iya, Itachi-senpai lagi ngapain sih? Nanti Tobi dimarahin Zetsu-senpai kalau gak cepet-cepet nganterin pesenan sate kambingnya nih!" omel makhluk yang pake topeng power ranger—ranger merah.
"Berisik lu pade!" sengit Itachi, kemudian dia menatap lembut Sakura. "Sakura-chan, daripada naik sepeda, mendingan naik mobil sama aku ya!" ajak Itachi dan tanpa mendengar persetujuan Sakura, Itachi udah narik tangan Sakura yang bikin Sakura nyungsep karena dia masih duduk di jok sepedanya.
"Ups! Maaf, Sakura-chan!" Itachi membantu Sakura—lebih tepatnya menggendong Sakura di punggungnya.
"Gyaaaa!" jerit Sakura.
"Pein, bawain sepeda Sakura-chan!"
"Apa lu kata?" teriak Pein.
Itachi gak jawab teriakan Pein tadi, dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan Pein dan Tobi yang masih berdiri di samping sepeda Sakura. Pas Pein nengok ke sepeda yang akan dia kendarai, dia melihat Tobi yang udah duduk manis di jok boncengan sambil mengemut permen lollipop rasa jeruk kesukaannya.
"Ngapain lu di situ?" tanya Pein ketus.
"Ih, kok Pein-senpai dongdong banget sih? Ya, Tobi lagi duduklah…" Tobi memutar bola matanya, "cepetan senpai naik terus kita ke rumah Itachi-senpai! Nanti Zetsu-senpai ngamuk nih kalau sate kambingnya keburu dingin! Tobi anak baik gak mau kalau disate sama Zetsu-senpai!" lanjutnya. Pein menghela napas sambil menepuk jidatnya mendengar kata-kata si anak autis.
Pein merhatiin sepeda yang lagi didudukin Tobi, itu benar-benar sepeda cewek soalnya ada keranjang di stang sepedanya. Pein menghela napas berat, "Kami-sama, tolong lindungi harkat dan martabatku, semoga aku gak ketemu ayang Konan…" Pein berdoa sambil bersimpuh dan mengatupkan kedua tangannya.
.
.
Sakura berdiri di depan kelas privatnya. Dia meneguk paksa ludahnya dan menghela napas berat. Perlahan Sakura memegang kenop pintu, dia berusaha untuk gak nimbulin suara pas buka pintu berwarna hitam itu. Sakura mengintip dicelah-celah pintu, dia melihat Sasuke dan Sai yang sedang duduk dengan manis di bangku mereka masing-masing. Sakura menelan ludahnya lagi.
"Sedang apa kau di situ? Cepat masuk!" perintah Sasuke dengan suara ketus.
Sakura terlonjak kaget karena kehadirannya sudah diketahui oleh makhluk ayam yang sedang duduk sambil menyilangkan kedua tangannya di bawah dada. Sai menatap Sakura sambil tersenyum palsu. Karena sudah tertangkap basah, Sakura mau gak mau masuk juga ke dalam kelas.
"Ha-ha-hay, everybody?" sapa Sakura dengan gagap.
Sai hanya membalas dengan senyum palsu, Sasuke membalas dengan menatap tajam Sakura. Sakura segera mengalihkan pandangannya ke arah lain karena takut bertatapan dengan Sasuke.
Sakura berjalan pelan-pelan ke mejanya. Dia meletakkan tasnya di atas meja lalu dia duduk di atas kursinya, namun…
BRUK!
"Aduuuuhh…" Sakura meringis karena kursi yang dia duduki tadi jadi ancur pas diduduki.
"Aduuuuh… pantatku sakit." Sakura berdiri dengan susah payah lalu mengelus-elus pantatnya yang dengan sukses mencium bongkahan kayu-kayu bangku yang rubuh itu.
'Ini pasti ulah Sasuke!' inner Sakura berkata kesal, outernya memandang sengit Sasuke. Sasuke memandang Sakura tanpa ekspresi.
Sedangkan Sai tetap tersenyum memerhatikan Sakura yang meringis kesakitan. 'Apa-apaan si Sai itu? Dia malah senyum-senyum ngeliat aku jatuh!' Sakura memandang sengit Sai.
Sakura mencoba mengatur suasana hatinya lagi, dia mengambil napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sakura menatap kedua murid sialan di depannya yang sedang duduk manis saat memerhatikannya jatuh tanpa menolong sedikit pun.
"Ok, Students. Now, we will learn about tenses." Sakura berusaha tersenyum dan mengambil spidol yang tergeletak gak berdaya di atas mejanya. Saat Sakura memegang spidol itu, dia merasakan ada yang lengket-lengket di spidol itu, ternyata oh ternyata spidolnya udah di kasih lem!
"Itu lem yang sangat lengket, kalau kena tangan dia bisa menempel dengan permanen hanya dalam waktu tiga menit dihitung dari sekarang." Sasuke berkata sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya.
Sakura panik lalu dia segera berlari menuju kamar mandi terdekat. Sasuke menyeringai dan menahan tawanya, Sai ikut tersenyum tentunya dengan senyum palsu kebanggaannya itu.
.
.
Sakura berdiri di depan cermin yang ada di atas westafel. Dia berhasil melepaskan spidol itu dengan menggunakan berbagai macam sabun yang ada di dalam kamar mandi, dari sabun mandi, sabun cuci piring, sabun colek, sampai sabun anjing yang biasanya dipake Itachi buat sampoan.
Sakura menghela napas beratnya, dia memandangi wajahnya di depan cermin. "Sakura, kenapa kau bisa terjebak di dalam sini bersama dua psikopat itu?" gumamnya sambil memandang sendu bayangannya.
Tiba-tiba Sakura melihat bayangannya melipat kedua tangannya di bawah dada sambil memandang remeh Sakura, "Hey, bodoh! Jangan sedih begitu. Tampangmu jadi jelek sekali kalau begitu. Kau balas saja mereka!" Sakura terlonjak melihat bayangannya sendiri bisa bicara dari dalam cermin.
"Ka-ka-kau hantu!" jerit Sakura sambil menunjuk-nunjuk bayangannya.
Bayangan Sakura menghela napas panjang, "Baka! Kalau aku hantu, kau itu apa, hah?"
Sakura memegangi tubuhnya yang ternyata masih nyata lalu dia menepuk-nepuk pipinya, berharap ini semua mimpi, tapi bayangan itu terasa begitu nyata, "Ka-kalau begitu, ka-kalau kau bilang aku jelek, kau juga jelek!"
"Makanya jangan memasang tampang yang menyedihkan seperti itu!" teriak sang bayangan, "kau harus membalas kedua bocah sialan itu!" sambungnya.
"Balas dendam? Tapi bagaimana caranya?"
"Berikan mereka PR yang susah dan banyak! Suruh mereka mengumpulkannya besok, kalau gak dikumpulin kau ancam aja untuk ngelaporin ke orang tua mereka." Si bayangan menyeringai.
"Aha! Ide bagus, bayangan! Makasih ya, kau memang pintar seperti diriku!"
"Yaialah, kan kita satu raga." Kemudian bayangan Sakura kembali lagi seperti biasanya. Sakura menyeringai lalu keluar dari kamar mandi.
BRAK!
Terdengar suara pintu yang dibuka keras. Sakura menyeringai menatap kedua muridnya yang sedang menatapnya dengan ekspresi khas milik mereka masing-masing.
'Apa yang dia rencanakan?' batin Sasuke.
'Kenapa si jelek itu?' batin Sai.
"Murid-muridku, aku yakin kalian sudah sangat pandai mengenai tenses," Sakura memberi jeda lama sambil menatap kedua muridnya dengan senyuman licik, "oleh karena itu, aku memberikan kalian homework."
"Cih! Hanya homework." Sasuke tersenyum meremehkan Sakura.
BRAK!
Sakura menggebrak meja Sasuke dan menatap Sasuke dengan senyum liciknya, "Jangan senang dulu seperti itu, chickenbutt!" Sakura menaikkan sebelah alisnya sambil tetap menyeringai, Sasuke menatapnya dalam diam namun di otaknya sedang bertanya-tanya apa rencana si pinky ini.
"Kalian kuberi tugas, membuat definisi tentang dua belas tenses beserta contohnya," ucap Sakura.
"Cuma itu? Kalau it—"
"Masing-masing tenses harus mempunyai seratus contoh kalimat dan dikumpulkan besok pagi sebelum bel masuk sekolah berbunyi!" potong Sakura sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya, "kalau besok pagi kalian belum mengumpulkan tugasnya, aku akan melaporkan kelakuan kalian tadi dengan orang tua kalian!" Sakura membalikkan badan lalu mengambil tas yang ada di atas mejanya.
"Sampai jumpa besok, murid-muridku." Sakura tersenyum puas lalu keluar dari kelas mini itu. Sasuke dan Sai memandang punggung Sakura yang keluar dari kelas dengan mata terbelalak.
.
.
.
"Khukhukhu… rasakan itu ayam dan mayat hidup! Jangan pernah meremehkan Haruno Sakura!" kekeh Sakura yang saat ini berada di dalam ruangan guru yang disediakan Itachi untuknya dan guru-guru privat yang lain.
Sakura berdiri di dekat mejanya sambil memandang ke luar jendela, memandang daun yang berguguran dengan senyuman liciknya.
"Kau pikir, kau akan menang, eh?" suara bariton mengagetkannya dan dia membalikkan badannya yang bisa berakibat fatal baginya.
"Ka-ka-kau! Panggil aku, sensei!" teriak Sakura.
"Cih! Aku gak sudi!" cowok itu berjalan semakin mendekati Sakura.
Sakura melangkah mundur hingga tubuhnya mentok di jendela. "Ma-ma-mau apa kau, Sasuke?"
Sasuke merentangkan tangan kirinya di samping kanan kepala Sakura. Dia menyeringai dan menatap tajam emerald Sakura. "Aku ingin menyelesaikan masalah tadi siang saat di kantin."
"A-a-apa?" Sakura makin gugup saat Sasuke mendekatkan wajahnya pada wajah Sakura. Sakura melihat Sasuke memejamkan matanya, hembusan hangat napas Sasuke terasa di pipi Sakura.
Sakura melirik-lirik ke isi ruangan yang bisa ditangkap oleh pandangannya, dia melihat tasnya yang tergeletak gak jauh di meja yang ada di samping kirinya. Sebuah ide terbesit di otaknya, dia tersenyum licik lalu dia menyebut nama Sasuke yang dibuat dengan semendesah mungkin, "Sasuke-senpai…"
Sasuke membuka kedua matanya dan menatap emerald Sakura yang begitu indah. Sejenak dia terpaku dengan keindahan iris mata itu walaupun masih ditutupi oleh kacamata, dia terpesona dengan kecantikan Sakura yang gak terlalu memancar dari jauh, sekilas semburat garis merah terlukis di wajahnya.
Sasuke terus menatap mata itu, dia melihat Sakura tersenyum manis sekali dan itu membuat wajah Sasuke makin memanas. "Sasuke-chickenbutt, rasakan ini!" Sakura menginjak kaki kanan Sasuke membuat Sasuke mengaduh dan melepaskan dirinya. Segera saja dia menyambar tasnya dan lari dari ruangan itu.
"Sial!" dengus Sasuke saat menyadari dirinya tertipu dengan akal bulus Sakura.
.
.
.
"Hosh… hosh… hosh… akhirnya bisa keluar juga dari rumah ini." Sakura membungkuk sambil memegang kedua lututnya sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.
Sakura tiba-tiba teringat dengan wajah Sasuke yang begitu tampan saat dilihat dari jarak yang begitu dekat dan tadi hampir saja dia dan Sasuke berciuman, wajah Sakura memanas, dia memegang kedua pipinya sambil tersenyum malu-malu. Namun Sakura segera menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menepis pikiran anehnya tadi.
"Sebaiknya aku cepat pulang sebelum Sasuke berhasil mengejarku." Sakura mengayuh sepedanya dan pergi dari rumah megah itu.
To Be Continue…
Annyeong haseyo! Mian hae saya update telaaaaat buanget! *dilempar cabe busuk sama readers*
author mungutin cabe busuk: cabe kan lagi mahal tau… *ditendang readers sampe venus* Tuiiiiinnggg!
*Dalam perjalanan menuju venus* gomapseumnida buat Kurosaki Naruto-nichan, Thia2rh, 4ntk4-ch4n, Red Flower Iki-chanand Richi TsuguSuzu yang udah review chapter kemaren. Ditunggu reviewnya lagiiiiiiii…! *ting: udah menghilang dari langit*
Sakura: Review ya, minna-san? Kamsa hamnida!
