Episode sebelumnya...

Sakura memutar kenop pintu dan mendorong daun pintu dengan kakinya. Terlihat olehnya air yang mengguyur dari atas pintu dan penghapus terbang. Sakura langsung menunduk sehingga penghapus-penghapus tersebut gak menampar mukanya lagi.

"Fufufu…" tawa Sakura dan masuk ke dalam kelas dengan santainya. Namun kakinya merasa licin, ternyata air yang ada di dalam ember tadi adalah air sabun. Sakura terpeleset dan terjatuh. Kacamatanya terlepas dan frame-nya patah karena tertindih olehnya, kepala Sakura yang pusing makin tambah pusing. Akhirnya Sakura pingsan.

Sasuke dan Sai tetap duduk manis di bangku mereka masing-masing. Setelah beberapa menit mereka duduk dan memerhatikan Sakura, mereka pun jadi saling pandang dan dengan hitungan kurang dari lima detik, mereka langsung berlari mendekati Sakura yang tengkurap di atas lantai.

"Sensei!"

"Sakura!"

.

.

.

Chocoaddicted Present...

My Psycho Student

Naruto © Masashi Kishimoto

Inspirited by Shiiba Nana © Gorgeous Twins

Warning!: OOC, AU, GAJE, ABAL, TYPO and MISS-TYPO (semoga gak ada…), EYD YANG TIDAK KONSISTEN, JAYUS, GARING (KRIUK KRIUK)

DON'T LIKE? DON'T READ!

Chapter 5: Balas Dendam

Enjoy…

.

.

.

"Sensei!" teriak Sai dengan panik sambil berlari mendekati Sakura yang tengkurap gak berdaya.

Sasuke segera membalikkan tubuh Sakura dan darah keluar dari hidungnya. Sasuke langsung menggendong Sakura ala bridal style, sedangkan Sai membawa tas dan kacamata Sakura yang patah.

Sasuke meletakkan Sakura di atas kasur yang ada di kamarnya. Dia menyentuh dahi Sakura, "Panas sekali!"

"Sai, cepat ambil kotak obat, air es dan handuk!" perintah Sasuke. Sai mengangguk dan langsung berlari keluar dari kamar tersebut mencari kotak obat.

Sasuke membersihkan darah yang keluar dari hidung Sakura. Dia memandang wajah Sakura lekat-lekat. Sasuke mengelus lembut pipi Sakura yang terasa sangat panas.

"Kau memang cantik, tapi kau menyebalkan," kata Sasuke. "meskipun begitu, entah kenapa aku malah menyukainya," sambungnya dan mengecup dahi Sakura. Tapi kemudian dia merasa bibirnya kepanasan. Yaialah! Udah tau jidatnya panas, malah dicium! Si ayam ini ternyata sudah dibutakan oleh cinta. Ckck...

.

.

Sakura bangun dari pingsannya, dia melihat sekelilingnya dan dia berada di kamar yang sangat asing baginya. Dia melihat Sasuke yang tertidur di kursi yang ada di samping kasur, dan Sai yang tertidur di sofa yang gak jauh dari kasur.

Sakura menyingkap selimut, dan dia melihat kalau dia gak make seragam sekolah lagi. Sakura jadi mikir yang enggak-enggak tentang Sasuke dan Sai. Sakura mencengkeram kerah Sasuke sehingga membuat Sasuke terbangun.

"Kau apakan aku?" tanya Sakura dengan suara horror.

"Maunya aku apakan?" Sasuke balik bertanya sambil memasang wajah mesum.

"Pervert!" Sakura menyilangkan kedua tangannya menutupi dadanya.

Sasuke terkekeh melihat Sakura begitu. "Apa yang lucu?" tanya Sakura dengan nada tinggi.

"Ssstt! Jangan teriak nanti Sai bangun!" Sasuke meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Sakura membuat Sakura membeku memandang Sasuke.

"Gak usah terpesona sampai segitunya kali," kata Sasuke. Sakura merasa de javu dengan kata-kata Sasuke tadi.

"A-apa yang sudah kalian lakukan padaku?" tanya Sakura lagi dengan nada pelan.

"Kami gak ngelakuin apa-apa. Kami hanya merawatmu yang tadi pingsan. Seharusnya kau berterimakasih, jidat!" Sasuke menyentil jidat lebar Sakura.

Sakura mengelus jidatnya yang disentil Sasuke. "Yang membuatku sakit kan kalian, bocah-bocah psikopat!" gerutu Sakura, Sasuke menaikkan sebelah alisnya mendengar dia dan Sai dibilang psikopat. "lalu kenapa aku bisa pakai piyama yang besar banget begini? Gambarnya Patrick lagi,"

"Sudahlah jangan mengeluh terus. Yang mengganti bajumu itu Konan," jawab Sasuke sambil duduk di kasurnya.

"Tch!" decih Sakura.

Sakura menyadari sesuatu, 'Kotak makan bergambar Patrick dan piyama bergambar Patrick, ini pasti piyama Sasuke.' Sakura tertawa kecil membuat Sasuke menatap heran Sakura.

"Kau kenapa?" tanya Sasuke, Sakura menggelengkan kepala.

Sakura mengedarkan matanya memandang ke seisi kamar tersebut. Kamar yang sangat besar dengan didominasi warna biru. Sakura gak sengaja melihat jam dan dia terkejut melihat jam menunjukkan jarum pendek menunjukkan di angka dua belas. Sakura melihat tasnya yang terletak di meja belajar, lalu dia segera mengambil tasnya dan berjalan terburu-buru keluar dari kamar itu. Sasuke yang heran melihat Sakura mau tak mau jadi mengikuti Sakura.

Sakura sudah sampai di halaman rumah keluarga Uchiha. Dia berniat pulang saat itu juga, karena dia takut dimarahi sama ibunya. Saat Sakura akan melepaskan standar sepedanya, Sasuke memegang stang sepeda Sakura sehingga membuat Sakura mendongak melihat Sasuke dengan wajah kesal.

"Mau apalagi kau?" tanya Sakura ketus.

"Kau sudah gila mau pulang sekarang? Ini sudah tengah malam dan kau sedang sakit, bodoh!" omel Sasuke dengan menatap serius mata Sakura.

'Glek.' Sakura menelan ludahnya saat bertatapan dengan Sasuke. Sakura bertanya-tanya, kenapa Sasuke berubah menjadi perhatian seperti itu padanya? Tapi, rasa penasaran itu tidak penting jika dibandingkan dengan omelan seram ibunya nanti.

"Aku harus pulang, chickenbutt! Ibuku pasti marah-marah kalau tahu aku belum pulang!" seru Sakura dan hendak mendorong sepedanya, tapi lagi-lagi Sasuke menahannya.

Sasuke menyingkirkan tangan Sakura yang mendorong sepeda. Sasuke menaiki sepeda tersebut sehingga membuat Sakura menganga dan kesal minta ampun. 'Maunya apa sih nih psikopat?' inner Sakura sudah kesal stadium empat.

"Kenapa diam saja? Cepat naik! Aku akan mengantarkanmu pulang. Seorang gadis tidak baik pulang malam-malam sendirian," ujar Sasuke sambil memasang pose siap mengayuh sepeda.

Sakura menghela napas berat. "Justru lebih berbahaya jika pulang bersamamu," gumam Sakura sambil duduk di jok boncengan.

"Kau bilang apa?" tanya Sasuke yang pura-pura tidak dengar.

"Lupakan saja," kata Sakura dengan malas.

Sasuke tersenyum lebar mendengar nada bicara Sakura yang terdengar kesal. Dia mengayuh sepeda dengan senyum merekah. Tidak ada yang tahu bahwa hati Sasuke sedang membuncah bahagia hanya karena naik sepeda tengah malam bersama seorang gadis berambut tidak biasa yang sering mengerjainya.

.

.

Suara burung hantu terdengar mengiringi kedua manusia yang berbeda gender tersebut. Terkadang lolongan serigala membuat bulu kuduk keduanya berdiri. Tapi, itu tak lantas membuat mereka kembali ke rumah megah Uchiha, Sakura malah memaksa Sasuke untuk mempercepat laju sepedanya untuk segera sampai ke rumahnya.

Ciiiiittt...

Bunyi ban sepeda yang beradu dengan aspal—karena si pengendara mengendarainya dengan brutal, berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Sakura yang kokoh. Sakura langsung mengambil alih paksa sepedanya dan mendorong Sasuke hingga dia terjengkang dari sepeda. Dengan tidak sopannya Sakura menyuruh Sasuke untuk pulang karena dia takut nanti kalau ibu dan ayahnya memergokinya sedang bersama cowok ditengah malam begini.

Sasuke mendesah kesal karena perilaku Sakura, tapi sebuah ide melintas di otaknya. Sasuke menyeringai melihat Sakura yang masuk ke dalam rumahnya.

Sakura mengendap-endap masuk ke dalam rumahnya. Setelah dia memarkirkan sepeda, dia segera membuka pintu rumah dengan suara sepelan mungkin. Dia pikir pintu rumah sudah dikunci, ternyata ayah dan ibunya sangat ceroboh gak ngunci pintu, bisa saja 'kan kalau ada maling yang masuk? Tapi kali ini Sakura malah merasa beruntung karena pintu rumah yang gak dikunci, jadi itu memudahkannya untuk menyelinap masuk ke dalam rumah dan istirahat dengan tenang, bukan meninggal ya!

Sakura membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Saat dia menginjakkan kaki di lantai kayu, tiba-tiba lampu yang tadi padam jadi menyala.

"Kyaaaaaa!" teriak Sakura saat melihat sesosok makhluk dengan wajah hijau.

"Ssssttt! Jangan teriak-teriak, baka!" gertak si pemilik wajah hijau. Mendengar teriakan Sakura, Jiraiya ikutan nimbrung di sana.

"Ada apa sih?" tanya Jiraiya sambil garuk-garuk kepalanya karena dia udah ubanan plus ketombean.

Sakura kenal suara tesebut. "Okaa-san?" tanyanya ragu. Yang ditanya mengangguk. Rupanya Tsunade lagi pake masker alpukat yang sekarang kebetulan lagi musim alpukat sehingga tidak boros untuk membeli sekian kilo alpukat untuk dipake maskeran.

"Kenapa kau baru pulang jam segini?" tanya Tsunade dengan nada introgasi seperti polisi mengintrogasi maling yang ketahuan nyopet di pasar Konoha. "kenapa kau pakai piyama? Mana seragammu yang mahal itu?" Tsunade kelihatannya udah emosi stadium empat nih, siap-siaplah Rumah Sakit Konoha karena bakal nanganin pasien yang darah tingginya kumat.

Sakura langsung ngelihatin badannya yang masih pake piyama, dia sampe lupa mengganti bajunya. Sekarang dia kebingungan mau cari alasan apaan.

"Ano… ano…" Sakura menggaruk-garuk lehernya.

"Tadi Sakura jatuh sakit dan pingsan di rumahku, karena bajunya basah jadi aku nyuruh teman kakakku yang perempuan buat gantiin baju dia pake piyamaku," seseorang menjawab pertanyaan Tsunade. Sakura membalikkan badannya dan dia terkejut melihat Sasuke yang berhasil masuk ke dalam rumahnya, padahal pintu gerbang tadi udah dia kunci.

"Siapa kamu?" tanya Jiraiya dengan tatapan gak suka. Sakura menyeringai memandang Sasuke karena sepertinya ayahnya bakalan ngusir Sasuke.

"Aku Uchiha Sasuke, salam kenal, oji-san, oba-san." Sasuke membungkukkan badannya sedikit. Tsunade dan Jiraiya matanya langsung berubah hijau kayak matanya Sakura ketika mendengar marga keluarganya Sasuke.

"Ah… nak Sasuke! Ayo masuk dulu, hangatkan dirimu, di luar pasti sangat dingin 'kan?" Jiraiya merangkul Sasuke dan mengajaknya masuk, sedangkan Tsunade langsung menghapus maskernya dan tersenyum semanis mungkin pada Sasuke. Sakura dibuat sweatdrop karena tingkah orangtuanya.

"Otou-san! Okaa-san! Anak kalian 'kan aku, bukan dia!" protes Sakura karena pas Sakura pulang, dia dapat gertakan, tapi giliran Sasuke malah seperti anak emas begitu.

"Ssstt! Sakura, cepat kau buatkan teh untuk Sasuke!" perintah Tsunade yang sebelumnya mencubit lengan Sakura agar Sakura gak banyak protes.

"Gak mau ah!" tolak Sakura sambil mengelus-elus tangannya yang tadi dicubit Tsunade.

"Cepat buatkan, Sa-ku-ra!" perintah Tsunade dengan memasang wajah horror. Sakura meneguk ludahnya dan dengan enggan dia mau juga membuatkan teh untuk Sasuke si kepala ayam.

"Jangan pake gula, ya!" ucap Sasuke. Sakura menengok ke arah Sasuke dan menatapnya tajam, dia melihat Sasuke menyeringai, Sakura langsung membuang mukanya.

"Setiap ada didekatnya aku selalu sial!" gerutu Sakura sambil berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya menuju dapur.

Sasuke tersenyum geli melihat tingkah Sakura. Kemudian dia diajak Jiraiya dan Tsunade untuk duduk di ruang keluarga. Sikap kedua orang tua Sakura amatlah manis kepada Sasuke dan Sasuke sudah dapat memerkirakan hal tersebut.

.

.

.

Sasuke sekarang sedang duduk bersama keluarga Sakura. Di seberangnya ada Sakura yang sedang menatapnya dengan tajam dengan bibir yang dimajukan entah berapa meter. Di samping kiri dan kanannya adalah ayah dan ibu Sakura.

"Otou-san, okaa-san! Kenapa kalian memanjakan dia? Dia bahkan bukan anak kalian!" gertak Sakura, terlihat sekali wajahnya sangat kesal.

Tsunade menatap tajam Sakura, begitu juga Jiraiya. Tsunade melempar bantal sofa ke wajah Sakura.

"Baka! Kau seharusnya berterimakasih dengannya karena sudah menolongmu pingsan tadi!" gertak Tsunade.

"Juga meminjamkanmu piyamanya dan mengantarkanmu pulang!" tambah Jiraiya dengan melemparkan bantal sofa yang lain ke Sakura.

Sakura menggertakan giginya, ironis sekali nasibnya. Padahal yang menyebabkan Sakura pingsan 'kan Sasuke juga. Sekarang Sasuke malah terlihat seperti pahlawan padahal dialah penjahatnya.

"Kalian gak tau aja Sasuke itu seperti apa!" dengus Sakura.

"Anak ini…!" Tsunade bermaksud melempar Sakura lagi, tapi bukan dengan bantal melainkan dengan vas bunga yang ada di atas meja.

Sakura menciut karena takut wajahnya ancur dilempar vas, tapi Sasuke menahan tangan Tsunade yang akan melempar vas. Dalam hati Sasuke ngeri juga melihat tingkah ekstrim ibunya Sakura.

"Sudahlah oba-san, gak apa-apa kok," ujarnya dengan wajah tanpa dosa dan senyum yang dibuat-buat. Sakura tahu itu dan dia gak akan terpedaya oleh senyum palsu Sasuke.

"Nak Sasuke, Sakura memang harus diberi pelajaran agar dia bisa menghargai orang lain," sahut Tsunade.

"Sudah sudah, jangan bertengkar terus!" Jiraiya melerai memandang Sakura dan Tsunade bergantian, kemudian dia memandang Sasuke. "Nak Sasuke, sudah lewat tengah malam, sebaiknya Nak Sasuke menginap di rumah kami saja," tawarnya. Sakura langsung melotot dan berdiri hendak protes tapi Tsunade sudah memegang vas bunga yang tadi ingin dia lempar sehingga Sakura kembali menutup mulutnya yang tadi mau protes panjang lebar.

"Hn, ide bagus," jawab Sasuke. Sakura menghela napas berat yang panjang. Tsunade dan Jiraiya tersenyum senang.

"Sakura, antar Sasuke ke kamar Sasori dan pinjamkan dia piyama Sasori!" perintah Jiraiya. Sakura mengangguk dengan lemas dan menggedikkan kepalanya, menyuruh Sasuke mengikutinya.

Sakura membuka pintu kamar Sasori dan segera menuju lemari pakaian Sasori. Dia memilih piyama bergambar hati dengan warna pink untuk Sasuke. Sasuke mengernyitkan alisnya melihat piyama tersebut.

"Jangan mentang-mentang piyama ini sama dengan warna rambutmu, kau memberikan itu untukku!" dengus Sasuke.

"Sayangnya gak begitu, chickenbutt. Cuma ada piyama ini di lemari kakakku, semua piyamanya dia bawa ke London. Jadi mau gak mau kau harus pakai ini!" jawab Sakura sambil memberikan atau lebih tepatnya mendorong piyama tersebut ke dada Sasuke. Sasuke menerima piyama itu dengan gak suka.

Sakura sekarang yang gantian menyeringai dan sebuah ide melesat di otaknya. Sebelum dia menutup pintu, dia berbalik lagi menghadap Sasuke. "Mimpi indah, Tuan Pantat Ayam," ucapnya dengan senyum mengejek. Sasuke mendengus saat Sakura menutup pintu kamar tersebut.

.

.

Jam menunjukkan pukul dua pagi, Sakura keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Wajahnya ditutupi topeng ranger pink kepunyaannya sewaktu kecil. Ada sebuah kamera yang dia pegang erat-erat.

Setiap berjalan mata Sakura selalu awas melihat situasi di sekelilingnya. Tibalah dia di depan kamar kakaknya, Sasori. Sakura membuka pelan-pelan pintu geser tersebut, dia sengaja tidak menutupnya agar memudahkannya lari jika tertangkap basah mengambil foto Sasuke yang memakai piyama hati berwarna merah muda.

Sakura berjalan mendekat ke kasur di mana Sasuke sedang terlelap. Sakura terkikik tertahan melihat Sasuke memakai piyama kakaknya dan kelihatan kekecilan sampai pusarnya pun kelihatan. Sakura melihat wajah Sasuke yang tertidur, diam-diam dia terpesona dengan wajah malaikat Sasuke.

"Sebenarnya kau tampan, tapi kau menyebalkan! Maka dari itu, aku akan membalas perbuatanmu hari ini! Kkkk…" gumam Sakura sambil terkikik pelan, takut Sasuke terbangun.

Sakura langsung memoto Sasuke beberapa kali. Kemudian dia berniat berbalik, tapi dia kembali lagi menghadap Sasuke. Sakura menarik selimut Sasuke sehingga menutupi badannya.

"Tidurlah yang nyenyak karena besok kau akan mimpi buruk!" gumam Sakura dan pergi dari kamar itu dengan cara yang sama, mengendap-endap.

Setelah Sakura menutup pintu, wajah Sasuke yang tertidur terlihat gelisah. Peluh keluar dari keningnya dan dia tidur dengan tidak tenang. Sepertinya dia mimpi buruk.

.

.

.

Pagi hari ini tidak seperti pagi hari biasanya, Sakura sarapan bersama seorang tamu yang gak diundang. Anehnya kedua orangtuanya malah terlihat senang sekali. Tsunade bahkan memasak makanan yang sangat lezat hanya untuk Sasuke. Sedangkan Sakura hanya sarapan dengan roti bakar.

Sasuke melirik Sakura yang bibirnya dimajukan sambil mendumel entah apa. Sasuke berusaha keras menahan tawanya. Ingin sekali dia mencubit gemas pipi Sakura yang menggembung itu. Sasuke memberikan beberapa lauk seperti cumi tepung, sup ayam kepada Sakura, sedangkan dia memilih memakan ikan yang dibumbui kecap saja.

Sakura melirik tangan Sasuke yang menggeser piring dan mangkuk lauknya ke depan meja Sakura, kemudian Sakura menengokkan kepalanya melihat Sasuke. Sasuke memasang wajah datar dan menunjuk lauk yang diberikannya agar Sakura memakannya. Sakura mendengus dan memutar bola matanya.

"Aku gak butuh makananmu, Saskey!" Sakura bangkit dari duduknya setelah meletakkan dengan kasar roti panggang selai strawberry yang baru setengah dia makan. Tsunade dan Jiraiya menatap Sakura yang berdiri dengan tatapan yang berarti, duduk-kembali-di-kursi-mu!

Sakura kembali mendengus dan memutar bola matanya melihat kedua orangtuanya. Dia mengambil tas yang dia letakkan tadi di samping kursinya.

"Aku berangkat!" serunya. Saat baru beberapa langkah dia berjalan, Tsunade dan Jiraiya sudah megapit kedua tangannya sehingga Sakura gak bisa kabur.

"Nak Sasuke, maafkan Sakura kami, ya?" mohon Jiraiya. Sasuke mengangguk sambil tetap memakan sarapannya dengan tenang. Padahal dalam hati dia kesel banget tuh!

"Sakura! Kau berangkat sekolah dengan Sasuke!" perintah Tsunade.

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku gak mau! Lagipula dia gak bawa seragam ke sini!" tolak Sakura.

"Pelayanku akan mengantarkan seragamku ke sini," tepat setelah Sasuke mengucapkan itu, terdengar bunyi pintu yang diketuk. Tsunade segera membuka pintu dan hadirlah si pelayan yang Sasuke maksudkan tadi. Sakura dibuat terperangah dan menganga melihat pelayan itu membawa satu stel seragam laki-laki, pelayan itu berdiri di samping Sakura.

Sasuke berdiri dan menghampiri pelayan yang membungkukkan badannya. Dia melirik Sakura lewat ekor matanya. "Jangan mimpi kau bisa bebas dengan mudah," ucapnya datar. Sakura menggeram kesal mendengarnya.

'Sial sekali aku! Aaaaarrrgghhh!' inner Sakura berteriak histeris.

.

.

Kedua remaja yang memiliki kepribadian berbeda ini berangkat ke sekolah mereka dengan menggunakan sepeda milik gadis yang sejak keluar dari rumahnya selalu menggerutu dan memanyunkan bibirnya. Sedangkan pemuda emo yang mengendarai sepeda tampak sangat menikmati ekspresi jengkel dari cewek yang dia bonceng sekarang.

Setelah mendaki gunung dan melewati lembah seperti lagunya Ninja Hatori pas jaman author sd, Sasuke dan Sakura akhirnya sampai ke sekolah mereka. Sai yang kebetulan atau memang sengaja menunggu mereka berdua yang tiba-tiba saja menghilang, kini sedang berdiri di depan pintu gedung sekolah. Tampak beberapa gadis dibelakangnya yang asik memerhatikan Sai, tapi Sai kelihatannya cuek-cuek aja.

Setelah memarkirkan sepeda, Sakura segera berjalan menuju gedung sekolah, Sasuke mengikutinya dari belakang. Sai yang melihat Sakura mendekat segera menyunggingkan senyumnya dan itu mampu membuat gadis-gadis yang menjadi pagar betis di belakang Sai menjerit histeris.

"Sakura-sensei, good morning!" sapa Sai dengan ramah dan itu membuat Sakura curiga.

"Ya ya ya, morning. Ada apa nih kau membawa pasukan?" tanya Sakura saat melihat deretan siswi di belakang Sai. Siswi-siswi itu menjarit histeris lagi saat Sasuke berjalan menghampiri Sakura dan Sai.

"Mereka bukan pasukanku kok. Lagipula aku ingin memberikan sesuatu pada sensei," kata Sai menarik perhatian Sakura, Sasuke dan para fans girlnya.

Sai, menyodorkan sekotak besar cokelat pada Sakura. Sakura meneguk ludahnya melihat cokelat yang banyak dan terlihat menggiurkan. Tapi, dia menggeleng-gelengkan kepalanya membuat Sai menaikkan sebelah alisnya.

'Pasti cokelat itu beracun!' pikir Sakura.

Sai tersenyum menatap Sakura. "Tenang aja, sensei. Ini gak beracun kok," ungkapnya. Sakura tertegun mendengar perkataan Sai. Sepertinya Sai mempunyai kemampuan membaca pikiran, Sakura harus lebih berhati-hati padanya.

"Benar?" tanya Sakura agak ragu. Sasuke mengernyitkan alisnya melihat sikap Sai yang tiba-tiba berubah.

Sai mengangguk dengan mantap. "Benar, jadi terima, ya?" harap Sai.

"Bagaimana, ya?" Sakura mengusap-usap dagunya seperti sedang berpikir, padahal dia emang udah mau banget nerima 'tuh cokelat tapi dia gak bisa nerima begitu aja, nanti harga dirinya sebagai sensei akan jatuh.

Sakura melirik Sai yang memandangnya penuh harap sepertinya. "Baiklah jika kau memaksa, thank you," kata Sakura menerima cokelat itu berjalan masuk ke dalam gedung sekolah.

"Sensei, tunggu! Kita barengan ke kelasnya, ya?" pinta Sai sambil berjalan di samping Sakura.

"Kelas kita kan beda, Sai!" dengus Sakura.

"Kalau begitu, biar kuantar sampai kelas!" seru Sai.

"Terserah kaulah!" ucap Sakura.

Sasuke tetap berdiri membatu melihat Sai dan Sakura yang sedang berjalan beriringan masuk ke dalam gedung sekolah. Dia merasakan sakit di dada kirinya, seperti tertohok. Sasuke menyentuh bagian dada kirinya dan menatap siluet Sai dan Sakura yang makin menjauh. Ekspresinya tetap datar, tapi aura di sekelilingnya sudah sangat suram. Bahkan terdengar tangisan-tangisan di sekelilingnya. Rupanya itu tangisan fans girl Sai yang sedih karena melihat Sai memberikan cokelat pada Sakura.

.

.

.

Bel istirahat sudah berbunyi. Gadis berambut merah muda segera saja lari ke atas atap sekolah. Dia tidak sabar akan terjadi kehebohan macam apa yang akan berlangsung sesaat lagi. Ia memandang langit biru dan tersenyum menyeringai. Kemudian dia menidurkan dirinya di atas atap itu.

Sementara itu di depan mading sekolah telah berkumpul berpuluh-puluh siswa untuk melihat apa yang ditempel di mading tersebut. Sasuke dan Naruto yang kebetulan lewat menjadi penasaran. Sebenarnya sih yang penasaran si Naruto, Sasuke cuma diam saja sambil memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana.

"Ada apa sih? Rame banget," ucap Naruto penasaran. Sasuke mengambil sikap acuh tak acuh dengan pertanyaan Naruto yang dia juga gak tau jawabannya.

"Teme, aku lihat dulu, ya! Jangan ke kantin duluan!" perintah Naruto. Sasuke mendengus mendengarnya.

Naruto langsung mendorong anak-anak yang menghalangi jalannya untuk mencapai depan papan mading. Setelah melewati berbagai macam bau yang mencampur jadi satu seperti sedang naik bis yang penuh, Naruto akhirnya sampai di depan papan mading. Dengan wajah yang penasaran sampai mungkin bisa bikin dia mati penasaran, Naruto membaca tulisan besar di papan mading. Seketika itu juga matanya melebar dan tertawa terbahak-bahak sampai kedengeran ama Sasuke.

Sasuke mengernyitkan alisnya ketika beberapa siswa yang sudah membaca di depan papan mading cekikikan gak jelas ketika melewatinya. Alisnya makin tertaut ketika mendengar tawa menggelegar Naruto sambil mengucapkan namanya ditengah derai tawanya itu.

Akhirnya si Tuan Pantat Ayam ini ikutan penasaran. Dia berjalan ke dekat mading, spontan siswa-siswi yang melihatnya langsung memberi jalan sambil menahan tawa mereka. Langkah Sasuke semakin lama semakin mendekat ke depan papan mading. Dia melihat Naruto yang memegang perutnya saking gak kuat karena terus tertawa.

"Sasuke! Hahaha... Lihat! Hahahaha..." seru Naruto ditengah tawaannya sambil menunjuk papan mading.

Sasuke menengokkan kepalanya dengan perlahan melihat apa yang ditunjuk oleh Naruto. Kedua matanya langsung menangkap sebuah kalimat yang ditulis dengan huruf comic sans berwarna merah muda terang dan menyala. Matanya langsung membulat penuh membaca sederet kalimat itu.

Sisi lain Uchiha Sasuke yang feminin!

Sasuke langsung melihat tiga lembar foto yang dicetak dengan ukuran 5R ditempel di bawah tulisan itu. Itu adalah fotonya yang lagi tidur menggunakan piyama pink Sasori. Salah satu fotonya bahkan menampilkan perutnya yang terlihat karena piyama itu kekecilan dan celana yang dia pakai menggantung.

Sasuke langsung mengambil foto itu dan meremasnya. Dengan tiga sudut siku di keningnya dan wajah merah karena malu dan marah, dia menggumamkan sebuah nama.

"Haruno Sakura!"

"Teme! Kenapa diambil fotonya? Kau manis sekali tau pake piyama itu! Tak kusangka kau mempunyai sisi feminin seperti itu. Aku kira kau manly! Hahaha..." kata Naruto yang sama sekali tidak sadar apa yang diucapkannya telah membuat amarah Sasuke naik satu level lagi.

Sasuke tidak menghiraukan kata-kata Naruto. Dia membalikkan badannya dan beranjak dari sana. Tujuannya hanya satu. Gadis itu. Gadis yang dia diam-diam sukai tapi sangat menyebalkan!

"Teme! Mau ke mana? Fotonya jangan dibuang! Buat aku saja untuk koleksi! Hahaha..."

DUAG!

Naruto terjungkang ke belakang karena sebuah tong sampah baru saja menghantam wajah imutnya. Siapa lagi yang melempar kalau bukan Sasuke? Kasihan sekali Naruto...

.

.

Sakura sudah menduga kalau Sasuke akan mencarinya setelah apa yang dia lakukan di papan mading. Makanya dia sudah membawa kabur serta tasnya ke atap sekolah. Dia terpaksa bolos sekolah karena tidak ingin Sasuke menemukannya dan membalas dendam padanya. Walaupun begitu, Sakura tetap akan bertemu dengan Sasuke pas privat nanti. Aduh, si pinky ini kadang-kadang otaknya ngegeser ya? Ckck...

Sakura mendengar pintu atap sekolah yang dibuka, dia segera berdiri dan berniat bersembunyi karena takut yang membuka pintu itu adalah Sasuke. Tapi, orang yang membuka pintu sudah melihat Sakura.

"Sakura-sensei?" panggilnya. Sakura berhenti berlari karena sudah terlihat, dia juga kenal betul siapa yang memanggilnya sensei kalau bukan Sai.

Sakura membalikkan badannya dan melihat Sai yang tengah tersenyum melihat Sakura. "Hehehe... Sai? Ada apa ke atap?" tanyanya dengan menghembuskan napas lega.

"Mencari sensei tentunya. Sensei berbuat ulah lagi 'kan?" tanya Sai sambil berjalan medekat ke pagar pembatas atap. Sakura mengikutinya dan berdiri di samping kiri Sai.

"Apa kau sudah lihat?" tanya Sakura dengan cekikikan.

Sai melirik Sakura sekilas lewat ekor matanya. Ada rasa perih yang dia rasa di dalam hatinya. Perih melihat Sakura sepertinya senang sekali mengerjai Sasuke.

"Ya, sudah," jawabnya dengan singkat.

"Bagaimana menurutmu hasil jepretan kameraku?" tanya Sakura antusias sambil nyengir lebar.

Sai tersenyum palsu. "Lumayan untuk amatiran sepertimu, sensei." Sakura terkekeh mendengarnya. Dia menyentuh hidungnya, bermaksud menaikkan kacamata seperti kebiasaannya kalau sedang berpose—sok—keren. Tapi dia tidak merasakan ada kacamata di sana.

"Loh? Kok aku gak pake kacamata?" jiaaaah! Dia baru sadar sekarang! Padahal dia udah kaga pake kacamata dari bangun tidur. Dasar Sakura pelupa!

Sai hampir saja tertawa melihat ekspresi bingung Sakura. "Kacamata sensei 'kan patah pas jatuh kemarin," katanya.

"Ah... shit!" dengus Sakura. Pantas saja dari tadi gak enak banget ngelihat, pikirnya.

"Sensei, mau sampai kapan di sini? 'kan sudah waktunya kau mengajar di rumahku." Sai menatap Sakura, lalu Sakura melihat jam tangannya dan benar waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.

"Benar!"

"Aku bantu sensei keluar dari sekolah tanpa diketahui Sasuke, bagaimana?" tawar Sai.

Sakura seperti sedang berpikir dengan mengelus-elus dagunya dengan tangan kanannya. Bisa saja Sai ini bekerjasama dengan Sasuke dan dengan dia membawa Sakura bersamanya, sehingga Sasuke bisa membalas perbuatan Sakura.

Mengerti apa yang dipikirkan Sensei Bahasa Inggrisnya, Sai mencoba melunturkan semua perkiraan negatifnya. "Tenang saja, aku tidak menyusun rencana yang mengerikan dengan Sasuke terhadapmu kok."

Sakura tersentak kemudian dia tersenyum lebar membuat Sai terperangah melihatnya. "Oke!" ucapnya. Dan keduanya keluar dari gedung sekolah beriringan.

.

.

.

Rasa canggung menggelayuti Sakura ketika dia mengajar hanya kepada Sai seorang. Dan dia merasa lega karena sampai saat ini tidak ada kesialan menimpa dirinya. Tapi, ada satu sisi di lain hatinya yang merasa rindu dengan sosok Sasuke.

'Apa yang kupikirkan? Bukankah bagus si buntut ayam itu gak masuk karena ada kerja kelompok?' batin Sakura sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sai menatap bingung Sakura.

Baru kali ini Sakura mengajar dengan full time selama dua jam. Setelah menyelesaikan kegiatan mengajarnya, Sakura langsung keluar dari kelas dan mencari Itachi. Niatnya adalah meminta gaji setengahnya untuk membayar servis laptop kakaknya.

Untunglah Itachi dapat memahami apa yang Sakura derita. Dengan dermawannya dia memberikan setengah gaji pada Sakura. Sakura mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya sambil membungkukkan badan dan membuat Itachi tertawa melihat semangat Sakura. Untunglah Sakura gak encok mendadak karena terlalu banyak membungkukkan badan.

Sakura berjalan dengan riang gembira keluar dari rumah kediaman Uchiha. Ketika sampai di beranda rumah, waktu langit sudah gelap. Tapi ada sebuah cahaya besar menyala dari halaman rumah tersebut. Sakura melihat sebuah api unggun, dan dia berpikir mungkin teman-teman Itachi sedang melakukan kemah di halaman rumah yang memang luas.

'Tunggu, tunggu! Apa itu?' inner Sakura bertanya-tanya. Sakura menyipitkan matanya melihat api unggun tersebut. Dia berjalan makin mendekati api unggun yang besar, dan di samping api unggun itu ada Sasuke yang sedang berdiri sambil memandang api unggun itu.

Mata Sakura terbelalak saat melihat bahan dasar apa yang menjadi penyebab munculnya api unggun. Dan itu adalah SEPEDANYA!

Damn! SEPEDANYA DIBAKAR OLEH SASUKE!

Mulut Sakura menganga melihat sepedanya terbakar oleh api yang menyulut buas. Sasuke menolehkan kepalanya pada Sakura dan berjalan melewatinya.

"Jangan membangunkan singa yang tertidur," ucapnya saat melewati Sakura.

Sakura tersadar dengan ucapan Sasuke. Tangannya mengepal kuat menahan emosi. Dia membalikkan badannya memandang tajam punggung Sasuke yang berjalan dengan santainya.

"Kau! Kau terlalu berlebihan membalasku, chickenbutt!" teriakan Sakura diabaikan oleh Sasuke. Sakura menggeram kesal. Dan dengan mengumpulkan semua amarahnya dia berteriak, "aku benci padamu Uchiha Sasuke!" lalu Sakura pergi dengan berlari dan meneteskan air mata karena kehilangan sepeda kesayangannya.

Sasuke berhenti melangkah mendengar teriakan Sakura yang terakhir. Dia menatap langit gelap dan sebuah seringaian terlukis di bibirnya.

.

.

.

Sabtu yang menyebalkan bagi Sakura. Kenapa? Karena dia sudah kehilangan sepedanya untuk selamanya. Matanya bahkan sembab karena menangis semalam meratapi kepergian sepedanya. Sepeda satu-satunya yang menemani hari-harinya. Sekarang tanpa sepeda itu, hidup Sakura terasa hampa. Dan yang paling utama, hidup Sakura akan makin melelahkan karena akan berjalan kaki ke mana pun ia akan pergi.

Sakura sedih dan kesal karena sikap Sasuke yang setega itu membakar sepeda Sakura. Sasuke terlalu berlebihan. Jika dia mau membalas, balaslah pada diri Sakura. Jangan pada sepeda Sakura yang gak bersalah.

Kebencian Sakura pada Sasuke bertambah besar, pasalnya dia juga dimarahin abis-abisan sama orangtuanya. Ibunya yang pelit naujubileh mana mungkin mau beliin Sakura sepeda baru. Ayahnya juga lagi bokek katanya.

Sakura menghela napas berat. Live should go on, with or without the red bicycle.

Sakura baru saja membuka pintu gerbang rumahnya dan dia melihat Sai yang sedang duduk di atas sepeda hitam dengan melambaikan tangannya pada Sakura. Sai tampak berbeda pagi ini. Dia terlihat lebih tampan dari biasanya, dengan kaos putih dilapisi kemeja kotak-kotak warna hitam-biru, yang kemejanya hanya dikancing satu di bagian tengah. Dia juga memakai syal biru, celana jeans biru dan sepatu kets hitam.

"Good morning! Sabtu pagi yang cerah untuk bersepeda 'kan, sensei?" sapa Sai dengan senyum manisnya.

Mendengar kata 'sepeda' membuat raut wajah Sakura berubah sedih. Sai yang melihat Sakura gak menjawab dan malah menunduk, segera turun dari sepeda dan mendekat ke Sakura.

"Sensei kenapa sedih begitu?" tanyanya.

Sakura mengangkat wajahnya dan melihat Sai menatap lurus ke matanya. Segera dia menggelengkan kepalanya dan memaksakan diri untuk nyengir.

"Gak kok, Sai. Anyway, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Sakura. Sai agak salah tingkah mendengar pertanyaan Sakura.

"Hmm... aku sedang bersepeda pagi seperti biasa di sabtu pagi," jawabnya. Sakura mengangguk-angguk paham. Padahal sebenarnya Sai sudah menunggu Sakura di depan pintu gerbangnya sejak jam 07.00 pagi, sedangkan sekarang jam 08.30 pagi.

"Aku baru tahu kau punya sepeda," kata Sakura sambil mengamati sepeda Sai yang seperti sepeda gunung, hanya saja ada boncengan di bagian belakangnya. Sai tampak kikuk lagi mendengar pernyataan Sakura.

"Hmm... ya, sepedanya sudah lama ada di gudang dan jarang digunakan," sahutnya dengan sedikit keringat dingin.

Sakura kembali memerhatikan sepeda Sai. "Tapi, terlihat masih baru, ya." Lagi-lagi Sai salah tingkah.

"Ah... tadi 'kan sudah kubilang jarang dipakai dan hanya disimpan di gudang," jawabnya, namun Sakura kelihatan masih terus penasaran dengan memerhatikan sepedanya. "Sensei, mau ke mana sudah rapi begitu?" tanya Sai mencoba mengalihkan perhatian Sakura dan itu berhasil! Sai menghela napas lega karena sejak tadi gugup.

"Eh? Aku mau ke tempat servis laptop," sahut Sakura.

Sai memerhatikan Sakura yang memakai baju terusan berwarna abu-abu muda yang panjangnya hingga di atas lutut sedikit, dilapisi mantel hitam yang panjangnya hingga setengah paha. Sakura juga memakai leging hitam dengan sepatu datar berwarna abu-abu. Ini pertama kalinya Sai melihat Sakura yang memakai baju biasa, bukan seragam sekolah.

"Sensei, you're beautiful," puji Sai membuat wajah Sakura merona.

"Baru sadar? Hahaha..." Sakura mencoba mengalihkan kegugupannya karena dipuji dengan bernarsis ria. Sai hanya tertawa kecil menanggapinya.

Sai menghentikan tawanya dan menaiki sepedanya. "Sensei, ayo kuantar kau ke tempat servis!" ajaknya sambil menepuk-nepukkan jok belakang sepeda.

Sakura mengelus-elus dagunya, lagi-lagi pose berpikir. Banyak hal yang dia pertimbangkan, sikap baik Sai juga agak mencurigakan baginya karena terlalu tiba-tiba. Tapi pemikirannya tentang rasa capek kalau berjalan kaki dan buang-buang uang kalau naik bis atau taksi lebih dominan dibanding kecurigaannya pada Sai. Maka dari itu, Sakura mengangguk dan duduk di jok belakang Sai.

"Ayo, Sai! Berangkaaaaaat!" seru Sakura dengan riang. Sai tersenyum tipis dan mengayuh sepedanya pergi ke tempat yang Sakura maksud.

Dilain sisi, ada seorang pemuda raven yang lainnya sedang menatap tidak suka kepada dua orang yang sedang berboncengan. Dia memukul stir mobilnya dengan kesal. Lelaki ini melirik jok di sampingnya, di sana ada sebuah tempat kacamata berwarna hijau. Dia menghela napas dan mulai menyalakan mobil, pergi dari tempat itu.

TBC...

Annyeong haseyo! Mianhae karena saya gak bisa update cepet. Kamsa hamnida untuk yang udah review. Mian hamnida kali ini saya gak bisa bales review karena saya lagi sakit. Begitu saya baca review, banyak yang udah nagih fict ini diupdate makanya saya usahain update demi readers. Oleh karena itu, review kalian sangat berharga buat saya untuk penyemangat saya menulis.

Review again? Kamsa hamnida ^o^