Episode sebelumnya...

"Ayo, Sai! Berangkaaaaaat!" seru Sakura dengan riang. Sai tersenyum tipis dan mengayuh sepedanya pergi ke tempat yang Sakura maksud.

Dilain sisi, ada seorang pemuda raven yang lainnya sedang menatap tidak suka kepada dua orang yang sedang berboncengan. Dia memukul stir mobilnya dengan kesal. Lelaki ini melirik jok di sampingnya, di sana ada sebuah tempat kacamata berwarna hijau. Dia menghela napas dan mulai menyalakan mobil, pergi dari tempat itu.

.

.

.

Chocoaddicted Present...

My Psycho Student

Naruto © Masashi Kishimoto

Inspirited by Shiiba Nana © Gorgeous Twins

Warning!: OOC, AU, GAJE, ABAL, TYPO and MISS-TYPO (semoga gak ada…), EYD YANG TIDAK KONSISTEN, JAYUS, GARING (KRIUK KRIUK)

DON'T LIKE? DON'T READ!

Chapter 6: Jelek!

Enjoy…

.

.

.

Cklek. Blam.

Suara pintu dibuka dan ditutup mengalihkan dunia Kakuzu yang lagi asik ngitungin duitnya di pojok ruangan. Kakuzu menolehkan kepalanya ke arah pintu masuk dan di sana berjalanlah dua anak manusia menuju tempatnya dan money-money-nya yang bertebaran di meja. Buru-buru Kakuzu memasukkan duitnya ke dalam koper, takut nanti diambil sama dua anak ingusan yang baru masuk ke dalam tokonya.

"Eh! Adinda udah dateng? Kakanda kangen banget loh sama Adinda, terlebih sama duit Adinda." Kakuzu yang udah mindahin duitnya ke koper langsung menyambut kedatangan Sakura dan Sai. Sakura merinding dipanggil "Adinda" sama Kakuzu.

"Elah, om! Jangan panggil aku Adinda napa! Geli banget rasanya." Sakura berekspresi seperti orang meriang.

"Dih... Adinda kok begitu sih?" Kakuzu pura-pura memasang wajah melas dengan puppy eyes, tapi di mata Sakura itu malah makin menjijikan.

Sai yang merasa dicuekin jalan-jalan di toko itu sambil ngeliat laptop-laptop yang lagi dipajang. Sementara Sai lihat-lihat laptop, Hidan keluar dari tempat persembunyiannya.

"Eh? Lu cewek yang punya Apple item itu 'kan?" tanya Hidan sama Sakura. Sakura mengangguk.

"Gimana keadaan si blacky, nii-san?" tanya Sakura sopan meskipun Hidan ngomongnya jauh dari kata sopan.

"Parah dah blacky lu itu! Tapi, sekarang udah lewat masa kritis sih. Paling minggu depan udah bisa pulang." Hidan menjawab sambil ngelirik Kakuzu yang masih pundung di pojokan. Sakura lagi-lagi mengangguk kayak anak metal.

"Om, laptop yang ini harganya berapa?" tanya Sai sama Hidan. Yang ditanya lengsung berkedut-kedut pelipisnya karena si Sai manggil dia "Om".

"Eh bocah! Enak aja lu manggil gue, 'Om'. Kapan gue nikah sama tante lu?" jawab Hidan sewot. Sakura sweatdrop.

"Tapi muka om emang pantes dipanggil 'Om'," jawab Sai dengan senyum palsunya. Kalau di anime-anime, pasti udah keluar asep dari kupingnya si Hidan.

"Eh dasar bocah mayat hidup lu! Laptop itu kaga gua jual buat lu!" Hidan ngomel-ngomel tepat di depan muka Sai. Sai cuma mandang Hidan dengan ekspresi senyum buatannya.

"Enak aja lu, Dan!" tiba-tiba Kakuzu yang tadi pundung di pojokan langsung nyamperin Sai dan Hidan yang lagi berdebat, lebih tepatnya Hidan yang emosian. "Laptop ini gua jual murah deh buat lu yang masih pelajar." Kakuzu memegang tangan Sai membuat Sakura dan Hidan langsung ingin muntah.

"Bilangnya murah buat pelajar tapi nanti mahal banget," gerutu Sakura yang berdiri agak jauh dari trio cowo aneh-aneh itu. "Sai, jangan beli di sini! Om ini tukang bohong!" Sakura menarik tangan Sai yang di genggam sama Kakuzu. Kakuzu melotot sama Sakura dan Sakura membalas melotot.

"Nih, om DP-nya! Minggu depan pasti aku bawa pulang si blacky!" seru Sakura saat memberikan segepok duit yang dimasukin ke dalam amplop cokelat dan dia menarik Sai keluar dari toko tersebut.

.

.

.

Sai mengayuh sepedanya entah mau ke mana. Sakura yang duduk di boncengan belakang megangin baju Sai supaya dia gak jatuh. Mereka berdua hanya diam dan gak ada satu pun yang berniat buat memulai pembicaraan.

Sakura yang biasanya cerewet jadi diam karena di otaknya terus mikirin gimana caranya dia dapet duit buat ngelunasin pembayaran servis laptop kakaknya. Sai yang emang pendiam tambah bingung harus ngomong apa sama Sakura, jadi dia memberhentikan sepedanya di depan sebuah kedai es krim.

Sakura bingung karena Sai yang tiba-tiba menghentikkan sepedanya. "Kenapa berhenti?" tanyanya.

"Sekarang sudah waktunya untuk makan siang," jawab Sai.

Sakura memandang kedai es krim di depannya dengan heran. "Kenapa di kedai es krim?" tanyanya.

Setelah menggembok sepedanya di depan kedai, Sai segera berdiri dan menatap Sakura dengan senyumnya. "Ayo kita masuk!" kemudian Sai menggandeng tangan Sakura masuk ke dalam kedai tanpa menjawab pertanyaan Sakura.

Begitu masuk kedai, mereka berdua segera duduk di meja khusus dua orang. Tidak lama kemudian seorang pelayan datang sambil membawa buku menu.

Sakura terkesima membaca buku menu tersebut membuat Sai menahan tawanya karena geli melihat sifat Sakura yang norak.

"Woaaaah! Ternyata di sini ada makanannya juga! Aku kira cuma es krim saja. Aku pikir kau akan mengajakku makan siang dengan es krim di udara yang dingin ini sehingga berencana membuatku mati kedinginan. Tapi, kalau begini aku tidak akan mati kedinginan di tanganmu." Sakura tertawa renyah membuat pelayan yang ada di sampingnya ikut tertawa melihat sifat Sakura yang agak berlebihan.

Sai terkekeh pelan melihat Sakura. "Aku tidak akan membuatmu kedinginan, justru aku akan selalu memberikan kehangatan untukmu." Sai tersenyum tulus pada Sakura. Sakura speechless. Dia buru-buru mengalihkan perhatiannya melihat buku menu.

"Jadi, anda ingin pesan apa?" tanya pelayan itu dengan ramah.

"Kau mau pesan apa, Sakura-sensei? Tenang saja, aku yang traktir," kata Sai.

Sakura tersenyum lebar, dia membuka-buka buku menu. "Aku pesan spaghetti saja, minumnya strawberry float juice, dan banana ice cream festival. Ah, aku juga mau puding cokelat strawberry. Jangan lupa strawberry cake-nya juga dicatat ya!" Sakura menunjukkan setiap menu yang ia pesan kepada pelayan. Sai agak sweatdrop mendengar pesanan Sakura yang banyak.

"Kalau anda, Tuan?" tanya pelayan itu pada Sai.

"Spaghetti dan orange juice saja." Pelayan itu mencatat pesanan Sai. "ah... aku juga mau chocolatos ice cream juga." Pelayan laki-laki ini segera mencatat pesanan Sai.

"Baiklah, saya ulangi lagi pesanan kalian. Spaghetti dua, strawberry float juice, banana ice cream festival, puding cokelat strawberry, strawberry cake, orange juice dan chocolatos ice cream." Sakura dan Sai mengangguk. "silakan tunggu sekitar lima belas menit. Jika ada yang ingin dipesan bisa langsung memanggil kami. Permisi."

Setelah pelayan itu pergi, Sakura segera membuka ponselnya dan dia melihat sebuah pesan. Segera saja Sakura membuka pesan tersebut.

From: 08xxxxxxxxx

Temui aku di taman dekat rumahmu sore ini.

Uchiha Sasuke.

Sakura menautkan alisnya setelah membaca pesan dari Sasuke. Mau apa lagi dia? Kemarin dia sudah membakar sepeda Sakura dan sekarang minta ketemu? Gak ada puasnya apa dia ngerjain Sakura? Sakura segera menutup flip ponselnya dengan kasar, membuat Sai yang tadi asik memainkan ponselnya segera menatap Sakura heran.

"Ada apa?" tanya Sai. Sakura tersentak mendengar pertanyaan Sai.

"Err... gak ada apa-apa," jawab Sakura dengan cengirannya. Sai menatap Sakura dengan datar, namun hanya sebentar karena dia kembali tersenyum palsu.

Keduanya mengobrol hingga pesanan mereka datang dan mereka menikmati makan siang mereka sambil sesekali bicara. Gak Sakura sangka ternyata Sai itu lebih welcome dibanding Sasuke. Sai masih bisa melucu walaupun terkesan garing. Tapi, buat Sakura itu gak masalah.

Mereka berdua keluar dari kedai es krim tersebut dan menuju sepeda Sai yang terparkir. Sai menyuruh Sakura naik dan Sakura pun menurut. Sakura memandangi jalanan yang dia tidak pernah tahu sebelumnya, karena dia masih baru di Konoha. Sakura baru menyadari jalan yang mereka tuju berbeda arah dengan jalan menuju rumahnya setelah Sakura melihat sebuah danau yang sangat indah.

Sai menghentikan laju sepedanya tepat di bawah sebuah pohon maple yang sedang menggugurkan daun-daunnya. Sakura turun dari sepeda dan berjalan menuju tepi danau. Danau tersebut terlihat sangat jernih dan bersih, tak ada satu pun sampah di dekat sana. Danau ini memang tidak terlalu besar namun cukup membuat matanya memancarkan kekaguman.

"Aku gak tahu kalau ada danau seperti ini di Konoha!" seru Sakura sambil memainkan air danau.

Setelah memarkirkan sepedanya, Sai berjalan menghampiri Sakura dan berjongkok di sampingnya. "Wajar saja, kau 'kan warga baru di sini," katanya. Sakura pun menggaruk kepalanya karena dia terlihat seperti orang bodoh sekarang.

"Hey, sensei!" panggil Sai.

Sakura menengokkan kepalanya ke kiri melihat Sai namun yang terjadi adalah Sai mencipratkan air danau ke wajah Sakura. Gak terima wajahnya yang cantik terkena air danau, Sakura membalas dengan dua kali lipat. Dia bahkan mencari sebuah wadah untuk menampung air danau dan menyiramkannya ke Sai, namun Sai lari duluan sebelum air yang mau disiram Sakura padanya sampai mengenai tubuhnya.

Kedua sejoli ini pun berlari di tepi danau dengan ditemani daun-daun maple yang berguguran dan diterbangkan oleh angin.

.

.

.

Langit sudah berubah menjadi ungu, malam semakin dekat. Kedua sejoli yang tadi asik bermain kejar-kejaran dan siram-siraman sekarang sedang dalam perjalanan pulang. Keduanya memancarkan aura kebahagiaan. Bahkan si gadis terus tersenyum, merasa sangat senang bisa mempunyai teman sebaik orang yang sedang memboncengnya.

Sai mengerem sepedanya di depan rumah Sakura. Sakura segera turun dan menghadap ke Sai.

"Terima kasih atas hari ini. Gak aku sangka ternyata kamu asik juga. Aku kira kamu anak psycho yang hobinya ngerjain aku," ucap Sakura sambil terkekeh. Sai terbengong karena dikira anak psycho.

"Sama-sama. Aku pulang dulu, see ya!" ujar Sai sambil kemudian mengayuhkan sepedanya lagi pulang ke rumahnya. Sakura melambai-lambaikan tangannya pada Sai sambil tersenyum lebar.

Saat akan membuka pintu gerbang, ponsel Sakura kembali bergetar. Segera saja dia membuka ponsel tersebut dan sudah ada sekitar sepuluh pesan dari nomor yang sama. Sakura menelan ludahnya karena ketika dia membaca pesan tersebut terlihat sekali kalau orang yang mengirim pesan tersebut sedang menahan marah.

Sakura lupa kalau Sasuke menunggunya di taman dekat rumahnya. Sakura sebenarnya malas sekali bertemu dengan Sasuke. Jika melihat muka Sasuke, amarah Sakura jadi naik dua kali lipat. Tapi toh, walaupun dia malas akhirnya dia menuju taman dekat rumahnya juga.

Sasuke sedang duduk di salah satu bangku taman. Tadi sore taman ini terlihat lumayan ramai dengan anak-anak yang asik bermain, bahkan ada remaja seumurannya juga yang sedang berkencan atau hanya duduk-duduk saja. Tapi, sekarang langit sudah menjadi gelap dan taman menjadi sepi.

Terdengar langkah kaki yang makin mendekat ke arah Sasuke, tapi Sasuke tetap lurus memandang ke depan. Tatapan matanya terlihat sangat dingin. Tubuhnya juga sudah dingin karena terus di hembus angin musim gugur yang bisa menembus hingga ke sumsum tulangnya.

Seseorang berdiri di samping Sasuke sambil menatapnya dengan tajam, seolah dia ingin sekali mencekik dan menguluti si Uchiha yang tanpa ekspresi ini.

"Kau terlambat empat jam," ucap Sasuke dingin.

Sakura memutar bola matanya. "Aku juga gak mengiyakan kalau mau menemuimu," sahut Sakura gak kalah dingin.

Sasuke meletakkan sebuah kotak kacamata di atas bangku yang tadi ia duduki. Sakura melirik kotak tersebut kemudian menatap Sasuke lagi yang masih menatap lurus ke depan. Sasuke sama sekali tidak melirik Sakura sedikit pun.

Saat Sasuke bangkit, Sakura terus mengikuti pergerakannya dengan matanya yang waspada, takut-takut si bocah psycho ini macam-macam sama dia. Tapi, Sasuke berjalan begitu saja meninggalkannya membuat Sakura menganga dan bingung. Pandangan Sakura beralih ke kotak kacamata yang Sasuke tinggalkan, dia mengambil kotak tersebut.

"Chicken butt! Kacamatamu ketinggalan!" teriak Sakura dan berniat mengejar Sasuke, tapi gak jadi karena Sasuke melambaikan tangannya sambil berteriak.

"Itu untukmu!" teriak Sasuke. Setelah itu Sasuke masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Sakura yang masih terpaku di tempatnya.

Sakura membuka kotak kacamata tersebut. Di ambilnya kacamata berbingkai merah muda itu dan memerhatikannya dengan raut bingung. Tapi toh, ia gunakan juga kacamata itu.

.

.

.

Sakura baru saja membuka gerbang rumahnya, dia sudah melihat sepeda hitam dengan Sai di atasnya. Sakura tentu saja menatap bingung Sai.

"Ayo, sensei! Berangkat bareng aku. Aku tahu sepedamu kemarin dirusak Sasuke 'kan?" tanya Sai.

Sakura yang mendengar kata sepeda dan Sasuke membuat dahinya berkedut-kedut. Tapi untunglah ada Sai, jadi dia gak perlu capek jalan kaki menuju sekolahnya.

"Makasih, Sai." Sakura duduk menyamping di boncengan sambil berpegangan pada pinggang Sai. Dengan pelan Sai mengayuh sepedanya.

.

.

.

Sai dan Sakura masuk ke area sekolah dengan berboncengan membuat beberapa orang yang melihatnya berbisik-bisik. Kebetulan juga Sasuke baru sampai ke sekolah dengan motornya. Dia melihat SaiSaku yang sedang berboncengan menuju tempat parkir sepeda yang gak jauh dari tempat parkir motor.

Sasuke menatap datar keduanya, tapi dia merasa ingin sekali menonjok sesuatu. Sasuke terus memerhatikan keduanya sampai keduanya turun dari sepeda dan Sai bertemu pandang dengan Sasuke. Sai tersenyum palsu tentu saja, lalu dia segera menggenggam tangan Sakura dan mengajaknya masuk ke dalam gedung sekolah.

Sakura terkejut, tapi dia membiarkan saja Sai menggandeng tangannya dan dia juga tidak melihat Sasuke ada di dekatnya yang sedang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Satu hal yang Sasuke tahu, dadanya terasa tertohok saat melihat Sai menggandeng Sakura.

Sekolah langsung ribut saat mendapati Sai dan Sakura sedang bergandengan tangan. Ino, si ratu gosip tentu saja langsung mengintrogasi temannya yang memiliki rambut aneh ini.

"Sakura! Ceritakan padaku yang sebenarnya! Kau pacaran dengan Sai?" tanya Ino berapi-api.

"Aish! Kau jangan membuat gosip, pig!" kata Sakura sambil duduk di kursinya. Dia diantar oleh Sai hingga di depan kelasnya tadi dan sambil bergandengan tangan.

"Lalu, kenapa kalian bergandengan tangan?" tanya Ino meluap-luap. Sakura menghela napasnya.

"Dia yang menggandeng tanganku. Aku berusaha melepaskannya, tapi dia menggenggam tanganku dengan erat," jawab Sakura.

Ino mengerlingkan matanya jahil, "Yang benar?" godanya.

"Aiiiisssh! Tentu saja benar! Lagipula aku hanya menganggapnya sebagai teman dan muridku saja!" sahut Sakura mulai kehilangan kesabarannya.

"Murid?" tanya Ino bingung. "maksudmu apa dengan kata 'muridku'?" mata Ino terlihat menyipit mencari sebuah jawaban.

Sakura menghela napas (lagi). "Aku bekerja sebagai guru privat Bahasa Inggris di keluarga Uchiha untuk membayar servis laptop kakakku," kata Sakura sambil menopang dagu.

"Woaaaah! Kenapa kau gak cerita dari awal sama aku, Sakura?" protes Ino, Sakura mendengus. "bagaimana rumahnya? Besar gak? Mewah ya pasti? Bla bla bla..." Sakura mengalihkan pandangannya dari Ino yang terus mengoceh kayak burung beo yang gak dikasih makan sebulan.

.

.

.

Sakura terpaksa datang ke rumah kediaman Uchiha kali ini dengan naik bis umum. Jika harus jalan kaki sepertinya dia gak akan sanggup. Saat di dalam bis, dia terbayang lagi dengan kejadian semalam di mana Sasuke memberikannya kacamata yang baru. Kenapa Sasuke berbuat baik begitu padanya? Dia pikir Sasuke membencinya. Tapi, perbuatan Sasuke membakar sepedanya tetap tidak bisa dimaafkan.

"Haaaah... benar-benar seperti psikopat," batin Sakura.

Bis berhenti di sebuah halte dekat dengan kompleks perumahan Uchiha. Sakura turun dan berjalan kaki menuju kediaman murid-murid psikopatnya.

"Hmm, kupikir Sai sudah gak masuk kategori psikopat. Dia sudah berubah," gumam Sakura yang sudah berada di halaman rumah Uchiha.

.

.

.

Sasuke memandang Sakura dengan datar ketika melihat wajah menganga Sakura saat melihat kursi dan mejanya sudah hancur. Sedangkan Sai? Dia masih tersenyum melihat Sakura. Dengan cepat Sakura menolehkan kepalanya menatap Sasuke. Ia yakin sekali kalau ini perbuatan Sasuke.

Dengan langkah kaki yang dihentakkan Sakura menuju meja Sasuke. Dia menggebrak meja tersebut saking emosinya. Sedangkan Sasuke masih duduk dengan tenang sambil menyilangkan kedua tangan di bawah dada.

"Kau ingin bermain-main rupanya?" tanya Sakura dengan geraman.

Sasuke mendongkkan kepalanya menatap mata Sakura dibalik kacamata berbingkai merah muda yang ia berikan semalam. Hatinya merasa lega dan bahagia. Seperti ketika menghirup udara pagi yang sejuk di pegunungan.

"Aku ingin belajar," ucap Sasuke datar. Sakura melotot mendengarnya.

Karena kesal, Sakura duduk di atas meja Sasuke membuat Sai sedikit terkejut dan memandang Sakura yang masih menatap tajam Sasuke. Sai merasa dadanya sesak. Dia merasa perutnya bergejolak lagi.

"Kalau begitu, aku akan duduk di sini karena kau telah merusak meja dan kursiku," kata Sakura seenaknya dan anehnya Sasuke gak protes, dia malah menyeringai. "buka buku halaman 107! Sai, kau baca artikel narrative itu!" perintah Sakura.

Sai mengangguk lalu membuka bukunya dan membaca seperti yang Sakura suruh, "Once upon a time bla bla bla..."

Sakura menyimak baik-baik saat Sai membaca paragraf tersebut. Sesekali ia membenarkan lafal pengucapan yang salah. Tiba-tiba saja Sakura merasakan sesuatu yang berat ada di atas pahanya, segera ia alihkan tatapannya dari buku ke pahanya. Alangkah terkejutnya dia melihat Sasuke yang seenaknya meletakkan kepalanya di atas paha Sakura.

Muka Sakura sudah seperti lobster rebus sekarang. Dia gelagapan menyadari bahwa pahanya yang mulus lagi ditidurin sama Sasuke. Menyadari sensei-nya bertingkah aneh, Sai segera menghentikan kegiatan membacanya dan menengokkan kepala ke samping kanan. Dan dia benar-benar menyesal dengan apa yang dia lihat.

"Heh! Chicken butt! Kau pikir pahaku ini bantal apa?" teriak Sakura dan berusaha mengangkat kepala Sasuke namun sulit. "cepat bangun, baka!" umpat Sakura, tapi Sasuke tetap bergeming.

Akhirnya Sakura memutuskan untuk berdiri, saat itulah Sasuke melingkarkan tangannya di pinggang Sakura sehingga pergerakan Sakura terkunci. Sai mengepalkan tangannya erat-erat, namun tatapannya masih datar. Sementara Sakura sudah menjadi makin panik.

"Hey! Lepaskan!" Sakura mencoba melepaskan diri namun semakin ia coba lepas, Sasuke makin mengeratkan pelukannya. Akhirnya Sakura menyerah dan membiarkan Sasuke tidur di pahanya dan memeluk pinggangnya. Sasuke tersenyum lebar saat merasakan tidak ada perlawanan lagi dari Sakura.

.

.

.

Sakura membuka pintu gerbangnya lagi dan melihat Sai yang sudah menunggunya di depan rumahnya dengan sepeda hitam. Sakura segera menghampiri Sai dengan senyum manisnya.

"Good morning," sapa Sakura ceria.

"Good morning, sensei. Ayo kita berangkat!" sahut Sai sambil tersenyum. Sakura mengangguk dan segera duduk di sadel belakang.

Sasuke memandang kedua orang itu dengan menyeringai. Kemudian ia menyalakan mesin mobil dan pergi menuju sekolah.

.

.

.

Saat istirahat pertama, Sakura dan Ino sedang duduk-duduk di dalam kelasnya. Mereka malas sekali jika harus pergi ke kantin. Ino sibuk membaca majalah fashion-nya, sedangkan Sakura sedang membersihkan kacamatanya. Setelah Sakura selesai membersihkan kacamatanya, dia segera melirik Ino yang sedang asik membaca.

"Apa sih gunanya kau membaca majalah itu?" tanya Sakura. Ino memalingkan wajahnya dan menatap Sakura.

"Gunanya? Tentu saja bisa membuatmu bisa tampil gaya dan tidak ketinggalan jaman!" sahut Ino. Sakura memutar bola matanya.

"Kalau tidak mau ketinggalan jaman, ya kau harus belajar dan menggali pengetahuan sebanyak-banyaknya, bukan membaca majalah fashion itu." Sakura mencibir.

Ino menutup majalah yang ia baca dan menatap Sakura sambil melepas kacamata Sakura. "Kau itu cantik, tapi sayangnya kau tidak bisa membuat dirimu mengekspos kecantikanmu!" Sakura mengambil paksa kacamata yang dipegang Ino dan memakainya lagi.

"Kecantikan luar itu gak perlu. Yang penting inner beauty!" bela Sakura. Ino mendengus dan kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Ino memakaikan sebuah jepitan kupu-kupu di rambut Sakura. "Kau benar, tapi kalau kau terus begini tidak akan ada cowok yang mau pacaran denganmu!"

Sakura memegang jepitan yang ada di rambutnya. Ino memberikan cermin kecil yang selalu ia bawa ke mana saja. "Lihat! Kau cantik, Saku!" seru Ino sambil melihat pantulan diri Sakura di cerminnya. Sakura mengeluarkan semburat merah tipis dan kemudian tersenyum memandang wajahnya di cermin.

.

.

.

Bel istirahat kedua berbunyi. Ino segera keluar kelas dengan menyeret Shikamaru untuk menemaninya makan siang. Sementara Sakura memilih untuk makan bekalnya di kelas. Baru beberapa suap Sakura memasukkan makanan di mulutnya, Ino sudah kembali ke kelas dan berteriak dengan lantang di depan kelas sehingga membuat Sakura menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya.

"SAKURA! KAU DITUNGGU SAI-SENPAI DI ATAP SEKOLAH!" sontak semua mata yang ada di kelas menolehkan kepalanya pada Sakura. Sakura segera menunduk malu. Dia merutuki Ino yang telah membuatnya menjadi pusat perhatian.

.

.

.

Sakura berjalan dengan langkah ringan menuju atap sekolah. Senyum selalu terlukis di bibir ranumnya. Saat ia menaiki tangga dan membuka pintu, dia melihat Sai yang sedang menatap ke langit. Senyum masih senantiasa menghiasi wajahnya.

Mendengar ada yang membuka pintu, Sai segera membalikkan badannya menghadap pintu atap. Dia melihat Sakura berlari kecil ke arahnya sambil membawa kotak bento.

Setelah berhadapan dengan Sai kurang lebih berjarak dua langkah, Sakura segera tersenyum manis di depan Sai membuat Sai mengeluarkan garis-garis merah di pipi. Sakura menyentuh jepitan yang tersemat di rambutnya.

"Sai, aku agak malu menanyakannya padamu. Menurutmu, bagaimana penampilanku dengan jepitan kupu-kupu ini?" tanya Sakura dengan rona merah sambil tersenyum manis menatap Sai.

Sai terdiam sebentar, lalu menjawab, "Jelek!"

Sakura membeku mendengar jawaban Sai, bahkan kotak bento-nya sampai terlepas dari tangannya. Apa Ino berbohong saat mengatakan dia cantik memakai jepitan itu? Apa Ino hanya menghiburnya saja?

Baru tadi pagi Sai bersikap manis dan baik padanya, kenapa Sai berubah menyebalkan lagi seperti ini? Apa salah jika Sakura berharap ada teman laki-lakinya yang memujinya dengan mengatakannya cantik?

Sakura tidak bisa mengatakan apapun saat satu kata yang terlontar dari bibir Sai. Senyum manis yang tadi mengembang pun kini menghilang. Sakura terus menatap mata Sai dengan sinar kekecewaan dan kesedihan.

Angin berhembus menerbangkan helaian rambut Sakura. Dengan tidak mengucapkan sepatah kata, Sai berjalan meninggalkan Sakura yang masih mematung. Setelah mendengar pintu atap tertutup, Sakura segera melepaskan jepitan kupu-kupu di rambutnya dan ia menangis pilu. Dia bahkan sudah menganggap Sai sebagai teman baiknya.

.

.

.

To be continue...

a/n: Annyeong haseyo! Lama gak update fict ini. Apa masih ada yang nungguin? *dilempar baskom sama readers* cwe song hamnida, saya agak mandek bikin fict ini. Dan maafkan saya karena bahasa penulisan saya yang gak jelas. Dan maaf banget kalo sense humor-nya berkurang. Maaf banget ya karena saya yakin fict ini banyak sekali kekurangannya: kurang bagus, kurang menarik, kurang kaya akan kata, kurang ajar(?), dan kurang-karung(?) lainnya. Hehehe ^^v

Kamsa hamnida untuk yang udah review: Uchiha Eky-chan, vvvv, Uchiha vio-chan, Haza Haruno,maya, Hikari Shinju, azuma, ichi, Thia Nokoru, chickenese, Sky pea-chan, xxxkshineiiiga21737, blue sakuchan, Lady Spain, Ai-chan Sakugawa, Sasusaku Hikaruno-chan, 4ntk4-ch4n, z.u, ohis, ss holic, princess2, Higurashi cherry blossom, Yue Heartphilia.

Cwe song hamnida gak bisa bales review kalian, saya curi-curi waktu banget update fict ini. Sekarang aja udah dini hari. Jangan kapok ya review fict saya, review-nya pasti saya baca kok ^^

Review again? Kamsa hamnida! ^O^