Chapter Sebelumnya:

"Jelek!"

Sakura tidak bisa mengatakan apapun saat satu kata yang terlontar dari bibir Sai. Senyum manis yang tadi mengembang pun kini menghilang. Sakura terus menatap mata Sai dengan sinar kekecewaan dan kesedihan.

Angin berhembus menerbangkan helaian rambut Sakura. Dengan tidak mengucapkan sepatah kata, Sai berjalan meninggalkan Sakura yang masih mematung. Setelah mendengar pintu atap tertutup, Sakura segera melepaskan jepitan kupu-kupu di rambutnya dan ia menangis pilu. Dia bahkan sudah menganggap Sai sebagai teman baiknya.

.

.

.

Chocoaddicted Present...

My Psycho Student

Naruto © Masashi Kishimoto

Inspirited by Shiiba Nana © Gorgeous Twins

Warning!: OOC, AU, GAJE, ABAL, TYPO and MISS-TYPO (semoga gak ada…), EYD YANG TIDAK KONSISTEN, JAYUS, GARING (KRIUK KRIUK), Mungkin di chapter ini humornya sedikit atau ga ada sama sekali (-_-' )

DON'T LIKE? DON'T READ!

Last Chapter…

Enjoy…

.

.

.

Chapter 7: Psycho Twins

Gadis berambut merah muda itu sedang menatap awan mendung di atas langit sana sambil menopangkan dagunya. Pelajaran Ekonomi yang sedang membahas bagaimana menghitung untung dan rugi tidak diperhatikannya. Ia hanya memandang langit gelap itu seakan langit itu lebih menarik dan punya kekuatan magnet untuk terus memerhatikannya.

Hingga bel pulang berbunyi pun, cewek berkacamata ini masih terus memandang langit tanpa memedulikan keadaan kelas yang gaduh dan bising. Temannya yang sedikit peka pun menyadari ada keganjilan pada cewek yang satu ini. Maka dari itu, cewek pirang berponi miring ini menghampiri temannya yang terus melamun dan tidak berkoar sedikit pun setelah turun dari atap sekolah.

"Sakura, sudah bel. Kau tidak pulang?" tanya Ino sambil menepuk bahu Sakura.

"Kau duluan saja," sahut Sakura, tidak melihat si lawan bicara. Hal ini membuat Ino heran.

"Hei, kau ada masalah? Kau bisa menceritakannya padaku kalau kau mau," tawar Ino.

Sakura menggeleng dan sekarang menatap Ino yang berdiri di samping kursinya. "Tidak ada. Sebaiknya kau cepat pulang karena pacarmu bisa tidur berdiri di pintu kelas," kata Sakura sambil melirik pintu kelas.

Ino menolehkan kepalanya ke pintu kelas, dan di sana ada Shikamaru yang sedang menyender sambil memejamkan matanya. Ino menghela napas, kemudian menoleh lagi ke Sakura. "Baiklah, kalau begitu. Aku pulang duluan, Saku. Jaa!"

"Bye," sahut Sakura, lalu ia mulai membereskan buku-bukunya ke dalam tas dan beranjak dari kelas.

Langkah Sakura terasa diberi beban saat akan meninggalkan sekolah dan pergi ke kediaman Uchiha untuk mengajar kedua murid psycho-nya. Andai saja ia tidak memandang Itachi dan ingat akan laptop kakaknya, mungkin saja dia sudah memutar arah kembali ke rumahnya.

"Sakura-sensei!"

Seruan seseorang yang sangat Sakura ketahui siapa pemiliknya membuat Sakura semakin berat melangkah. Sejenak ia menghentikan langkahnya karena terkejut namanya dipanggil, tapi setelah tahu siapa yang memanggil, Sakura melanjutkan langkahnya lagi tanpa berbalik melihat orang itu.

Tap. Tap. Tap.

Akhirnya cowok yang gemar senyum ini sampai di samping Sakura dan berjalan di sisinya. Sakura bersikap tak acuh terhadap cowok ini.

"Sakura-sensei, kita ke rumahku bareng, ya?" ajak Sai sambil menggandeng tangan Sakura.

Baru selangkah Sai melangkah, Sakura segera melepaskan tangannya dari genggaman Sai dengan kasar. Ia heran dan bingung sekali pada Sai, tadi siang Sai sudah membuatnya menangis namun kenapa sekarang dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa?

"Jangan pernah menyentuhku lagi!" desis Sakura dan berlari meninggalkan Sai sendirian yang terpaku melihat Sakura menjauh dari pandangannya.

"Sakura-sensei …"

.

.

.

Hari terus berlalu dengan cepat dan tidak terasa sekarang sudah saatnya Sakura melunasi servis laptop kakaknya. Saat ini Sakura tidak memegang uang yang cukup untuk melunasi laptop di toko servis rentenir itu. Akhirnya Sakura terpaksa meminta bantuan kepada Itachi lagi karena tidak mungkin dia bilang pada orangtuanya.

Sakura memantapkan hatinya ketika ia akan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Saat itulah ia terbayang wajah Si Kembar yang sangat tidak ingin ia temui. Sakura mengambil napas panjang sambil merentangkan tangannya lebar-labar dan menghembuskannya lewat mulut.

Setelah mengeratkan syal yang dilingkari di lehernya, Sakura melangkah dengan pasti menuju kediaman Uchiha. Entah kenapa perasaannya dag dig dug sekarang, padahal dia sudah sering sekali ke sana. Sakura mengambil kesimpulan kalau itu karena dia gugup untuk meminta gajinya pada Itachi.

Dua puluh menit perjalanan dengan menaiki bis, Sakura akhirnya sampai di rumah megah nan mewah milik keluarga Uchiha. Setelah menyapa satpam yang membukakan pintu gerbang, Sakura segera menuju rumah megah tersebut.

Jantungnya seperti bom yang kapan saja siap meledak ketika sampai di depan pintu utama. Sakura mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan.

Setelah merasa jantungnya tidak akan copot, Sakura memajukan tangannya untuk mengetuk pintu di depannya, namun belum sampai tangannya di pintu ada seseorang membukakan pintu itu hingga membuat Sakura menahan napasnya. Jantungnya berdetak kencang ketika membayangkan jika yang membuka pintu itu adalah Sasuke.

"OMG! Kenapa harus Sasuke?" inner Sakura berteriak saat alam bawah sadarnya mengharapkan jika yang membuka pintu adalah Sasuke.

"Sakura-chan," panggil Itachi yang terkejut melihat Sakura dengan tangan mengambang di udara siap mengetuk pintu. Menyadari yang di depannya bukan Sasuke, Sakura menghela napas lega.

"Hai, Itachi-nii !" tangan Sakura yang mengambang di udara diubah menjadi sebuah lambaian untuk menyapa Itachi yang terlihat terkejut dengan kedatangan Sakura. Sakura memaksakan senyumnya memandang Itachi yang berdiri tidak jauh darinya.

"Ayo masuk dulu, Sakura-chan," ajak Itachi sambil membuka pintu lebar-lebar memersilakan Sakura untuk masuk ke dalam rumah. Sakura menurut dan masuk ke dalam rumah tersebut. Sakura celingak-celinguk memandang ke penjuru ruangan, mengawasi jika tiba-tiba saja muncul Sasuke ataupun Sai.

"Apa hari ini ada jadwal privat? Tapi, Sasuke dan Sai sedang keluar rumah," tanya Itachi saat berjalan melewati ruang tamu yang besar. Sakura segera menoleh setelah mendengar Itachi mengatakan jika Sasuke dan Sai tidak ada di rumah. Dia merasa lega, tapi juga merasa ada yang mengganjal.

"Tidak ada. Aku ada keperluan dengan Itachi-nii," jawab Sakura dengan suara yang dibuat seceria mungkin. Itachi hanya tersenyum membalas ucapan Sakura dan mengajak Sakura untuk masuk ke ruang keluarga. Sakura mengikuti saja. Tanpa mereka ketahui ada seseorang yang menguping di balik pintu masuk.

.

.

.

Sakura berjalan dengan ringan seolah tidak ada beban di hidupnya, lebih tepatnya satu beban hidupnya akan hilang dari pundaknya. Ia kini melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan kecil pertokoan di district yang ramai. Membuka pintunya pelan, Sakura segera menuju sebuah meja yang di atasnya tergeletak tidak berdaya uang-uang kertas maupun logam.

Kakuzu yang melihat Sakura datang hanya menolehkan kepalanya dan kembali memasukkan uang receh ke dalam celengan babi, sementara uang kertas yang bertumpuk-tumpuk berada di atas mejanya dan berpose semenggoda mungkin. Menggoda pencuri maksudnya. Ckckck…

"Om! Aku mau lunasin servis dan bawa Si Blacky pulang!" seru Sakura yang sudah berdiri di depan meja tersebut. Sakura sekilas melirik uang kertas yang bertumpuk di atas meja.

"Jangan melihat uangku seperti itu!" kata Kakuzu sambil memeluk uangnya dengan sikap berlebihan, seolah uang itu adalah belahan jiwanya. Hueks!

Sakura sweatdrop. "Lagi siapa suruh mamerin uang di atas meja gitu? Mengundang perampok tahu!" dengus Sakura.

"Ya, dan kau perampok kecil yang berniat membawa kabur uangku!" sahut Kakuzu semakin merapat ke dinding dan memeluk uangnya. Sakura sweatdrop pangkat dua.

"Idiiiih! Tidak! Aku ke sini justru mau ngasih om uang nih!" kata Sakura sambil menunjukkan amplop cokelat yang berisi uang gajinya.

Mata Kakuzu langsung berubah hijau dan siap menerkam amplop yang Sakura tunjukkan. Dengan slow motion Kakuzu mendekat ke Sakura sambil merentangkan tangannya ke depan siap meraih amplop cokelat di tangan kanan Sakura.

Ya, sedikit lagi Kakuzu akan meraih amplop itu, saudara-saudara. Namun apa yang terjadi? Tiba-tiba ada telapak tangan yang menjadi penghalang di depan amplop itu sehingga Kakuzu menolehkan kepalanya dengan tatapan death glare ke arah kanannya dan dia melihat rekannya sedang menatapnya juga dengan death glare yang tidak kalah mematikan.

Slow motion end!

Brak!

Hidan merauk muka Kakuzu dan mendorongnya hingga Kakuzu terdorong dan jatuh di kursinya dengan tidak elit. Sakura hanya bisa menganga melihat kejadian gak penting tadi.

"Laptop lu udah dibayarin sama anak tengil sok tahu yang suka senyum-senyum gak jelas itu tadi! Nih sekarang bawa laptop lu pulang!" kata Hidan sambil menyerahkan laptop Apple hitam yang ada di tangannya ke Sakura.

"Hah? Udah dibayarin?" tanya Sakura lagi sambil menerima laptop kakaknya. Hidan mengangguk. "jadi om ini tadi mau menipuku, ya?" tanya Sakura sambil menatap tajam Kakuzu.

Kakuzu menyeringai lebar. "Rejeki jangan ditolak," jawabnya.

Duag!

Cring… cring… cring…

Celengan babi yang ada di atas meja Kakuzu tadi pecah dan mengeluarkan isinya yang uang logam semua. Celengan itu dengan mulus dan bebas macet mendarat di kepala Kakuzu sehingga menimbulkan efek benjol dan pusing-pusing. Sementara rekannya tertawa terpingkal-pingkal dan pintu toko baru saja ditutup kasar oleh Sakura yang menjadi pelaku pelemparan celengan tersebut.

Tragis sekali nasibmu, Kakuzu. Ckck…

.

.

.

"Sakura-sensei!" panggilan seseorang membuat langkah Sakura terhenti. Ia tolehkan kepalanya ke samping dan ia melihat Sai yang berjalan ke arahnya sambil menuntun sepeda hitam.

"Ayo kuantar pulang," ajak Sai dengan senyuman khasnya.

"Kenapa kau membayar servis laptop-ku?" tanya Sakura dengan ketus.

Sai bukannya menjawab malah menaiki sepedanya dan menepuk-nepuk jok belakangnya. "Naik dulu baru aku akan menjawabnya." Sakura memutar bola matanya, tapi kemudian dia naik juga ke jok boncengan sepeda.

"Pegangan, sensei!" perintah Sai. Sakura dengan malas memegang ujung kemeja Sai yang berkibar. Sai pun mulai menggoes sepedanya.

Lama mereka berjalan, Sai belum menjawab pertanyaan Sakura. Akhirnya Sakura memutuskan untuk bertanya lagi. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Sai."

Sai menolehkan kepala sedikit ke belakang dan tersenyum. "Oh iya… maaf," ucapnya. "apa aku harus menjawab pertanyaan itu?" sambungnya.

Sakura mulai kesal sekarang. "Tentu saja!" Sakura mendengus dan memalingkan wajahnya dengan kesal memandang jalanan yang mereka lewati.

Sai tersenyum tanpa dosa dan menatap lurus ke depan. "Karena aku menyukaimu, Sakura-sensei. Maukah kau jadi pacarku?" tanya Sai sambil menolehkan kepalanya sedikit ke arah Sakura.

Sakura tercengang dengan pernyataan Sai yang tiba-tiba. Ia tidak mampu menjawab, ia hanya bisa diam seribu bahasa.

.

.

.

"Sakura-sensei," panggil Sai.

"Hm?" sahut Sakura sambil mendongakkan kembali kepalanya yang tadi terus menunduk menatap aspal.

"Kita sudah sampai di rumahmu," sahut Sai.

Sakura tersadar dari lamunannya. Sejak Sai menyatakannya perasaannya, Sakura terus terdiam tidak memerhatikan jalanan. Perlahan Sakura turun dari sepeda Sai dan berjalan menuju pintu rumahnya. Sebelum membuka pintu, Sakura berbalik ke arah Sai.

"Terima kasih atas kebaikanmu hari ini," ucap Sakura.

Sai tersenyum dan mengangguk. Sakura kembali membalikkan badannya siap membuka pintu gerbang rumahnya, namun suara Sai membuatnya berhenti bergerak.

"Kau bisa menjawabnya kapan pun. Aku menunggumu," ucap Sai.

Entah apa yang Sakura rasakan, yang pasti dia saat ini ingin sekali cepat masuk ke rumah dan menyimpan laptop kakaknya baik-baik. Maka. Sakura membuka pintu gerbang tanpa menjawab perkataan Sai barusan. Sai sendiri hanya mampu memandangi punggung Sakura yang perlahan menghilang di balik pintu.

.

.

.

Sakura memandangi pemandangan di sekitar ruas jalan menuju sekolahnya. Sekolahnya memang berada di kaki bukit yang berada agak jauh dari rumah-rumah penduduk. Halte bis memang agak jauh dari sekolahnya, jadi mau tidak mau Sakura harus berjalan kaki menuju sekolahnya.

Walaupun lelah berjalan, tapi Sakura senang karena bisa menikmati udara yang sejuk di pagi hari. Sakura sesekali berlari-lari kecil sambil menyanyikan lagu kesukaannya, mencoba menghapus beban pikirannya saat ini yang memikirkan pernyataan Sai beberapa hari yang lalu.

Ketika Sakura melihat gerbang sekolahnya sudah dekat, Sakura tersenyum lebar dan segera berlari menuju gerbang sekolah dengan semangat.

Sasuke sedang menyetir mobilnya dengan santai sambil memandang pemandangan di sekitar sekolahnya. Entah kenapa pemandangan yang indah mengingatkannya kepada Sakura, padahal mereka tidak pernah mempunyai kenangan yang indah sama sekali.

Dada Sasuke terasa berdegup kencang saat mengingat bagaimana Sakura tertawa dan tersenyum manis. Sasuke mengalihkan pandangannya kembali ke depan, mencoba menepis bayangan Sakura yang saat ini menguasai pikirannya. Saat itulah, ia melihat kepala pink yang sedang berlari kecil menuju sekolah. Sasuke mengernyitkan alisnya melihat keganjilan gadis itu.

"Kenapa dia tidak memakai sepedanya?" gumam Sasuke.

TIN! TIIIIIINN!

Sasuke melihat kaca spionnya dan membelokkan stirnya kasar karena sebuah sepeda motor melaju dengan kencang seperti sedang terburu-buru. Kemudian kejadian selanjutnya adalah…

"Kyaaaaa!"

Bug!

Ckiiitt!

Brummmmm!

Mata Sasuke membulat sempurna saat melihat sepeda motor tadi yang menyalip mobilnya menyerempet orang yang secara tidak sengaja masuk ke dalam hati dan pikiran Sasuke. Lalu sepeda motor itu pergi begitu saja meninggalkan Sakura yang tergeletak di aspal. Kejadian itu begitu cepat hingga Sasuke tidak sempat memberi pelajaran pada orang tidak bertanggungjawab itu.

Sasuke segera turun dari mobil dan berlari menuju Sakura. Sasuke mengangkat tubuh Sakura setengah dan menepuk-nepuk pipinya, berharap Sakura sadar.

"Sakura! Sakura!" teriak Sasuke.

Perlahan Sasuke menyadari telapak tangannya yang menyangga kepala Sakura basah, ia melihat telapak tangannya dan terdapat darah di sana. Sasuke panik dan segera menggendong Sakura menuju mobilnya. Sial sekali, tidak ada satu orang pun yang berada di sekitar tempat kejadian karena hari juga masih pagi sekali.

Ketika Sasuke mau membuka pintu mobilnya dia mendengar seseorang memanggil namanya, Sasuke segera menoleh dan dia melihat Sai yang memandangnya bingung, mungkin karena Sasuke dalam keadaan menggendong Sakura dan tangan juga kemeja sekolahnya sudah dibasahi darah.

"Sasuke, apa yang terjadi dengan Sakura?" tanya Sai dengan panik sambil membanting sepedanya sembarangan.

"Tabrak lari. Cepat bantu aku!" perintah Sasuke. Sai mengerti dan segera membukakan pintu mobil, Sasuke segera mendudukkan Sakura di jok mobilnya dan memasangkan sabuk pengaman.

"Sasuke, aku ikut!" seru Sai dan membuka pintu mobil di jok belakang namun Sasuke menahannya. Sai menatap datar kakak kembarnya ini.

"Sebaiknya kau tetap di sini. Kau laporkan kejadian ini kepada guru," kata Sasuke. Walaupun tidak rela dan khawatir sekali dengan Sakura, Sai pun memutuskan mengikuti apa kata kakaknya karena ada benarnya juga kata-kata Sasuke.

"Baiklah. Cepat kau bawa Sakura ke Rumah Sakit dan hati-hati!" seru Sai dan mobil Sasuke melaju dengan kencang di jalanan. Sai memandang sendu mobil Sasuke.

.

.

.

Tik. Tok. Tik. Tok…

Hanya terdengar suara jarum jam yang terus berputar pada dinding putih di kamar rawat yang ada di Rumah Sakit Konoha. Seorang gadis berambut merah muda tampak sedang tertidur pulas di ranjangnya. Kepalanya diperban melingkar, punggung telapak tangannya dipasangi selang infus.

Sementara, lelaki berambut hitam kebiruan sedang tertidur ditopang dengan kedua tangannya yang dilipat di atas kasur gadis tadi. Sepertinya ia kelelehan sekali hingga ia tidak menyadari jika gadis yang sudah pingsan selama lima jam tadi sudah terbangun dan sedang menatapnya dalam diam.

Jantung gadis ini bertalu dengan cepat menyadari siapa yang membawanya ke Rumah Sakit dan setia menungguinya. Ia ulurkan tangannya untuk menyentuh pipi pemuda di sampingnya ini dengan belaian lembut, namun ia urungkan. Ia tidak mau membuat pemuda ini terbangun.

Saat sedang asik menikmati ketampanan pemuda di sampingnya ini dengan diam-diam, perlahan kelopak mata pemuda ini terbuka menampakkan sepasang onyx yang mampu membuatnya tenggelam. Onyx-nya menangkap basah sepasang emerald yang sedang menatap wajahnya. Buru-buru, gadis ini membuang mukanya namun karena terlalu cepat hingga membuat kepalanya sakit.

"Akh!" pekiknya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke menahan tawanya karena melihat Sakura yang tertangkap basah olehnya dengan wajah yang memerah.

"Tidak apa-apa apanya? Kau tidak lihat kepalaku di perban begini?" tanya Sakura ketus sambil menunjuk kepalanya yang diperban.

Sasuke menyentil jidat Sakura pelan membuat Sakura melotot padanya. "Kepala besar ini sepertinya baik-baik saja karena orangnya saja masih bisa marah-marah. Syukurlah," kata Sasuke dengan senyum mengembang di bibirnya dan itu menimbulkan efek panas di pipi Sakura dan detak jantung tidak normal.

"Tch!" dengus Sakura.

Sakura mencoba duduk namun masih lemas dan Sasuke berinisiatif membantunya duduk sambil menyender dibantal yang sudah diletakkan Sasuke di belakang punggungnya, tepatnya di tepi ranjang.

"Thanks," ucap Sakura sambil menunduk karena wajah mereka terlalu dekat saat ini. Bahkan Sakura bisa merasakan hembusan hangat napas Sasuke hingga membuat jantungnya berdekat tidak terkontrol. Tanpa Sakura sadar, pipi Sasuke juga mengeluarkan semburat tipis merah muda, namun Sasuke lebih ahli dalam menyembunyikannya.

Sasuke kembali duduk di kursinya dan memasang wajah stoic ciri khasnya lagi. Tidak capek apa setiap hari, setiap saat cowok emo satu ini selalu memasang wajah datar begitu? Apa semua klan Uchiha seperti itu, ya?

.

.

.

"SAKURA!" Tsunade dan Jiraiya mendobrak pintu kamar rawat Sakura membuat Sakura dan Sasuke yang masih terdiam akibat kejadian tadi segera menolehkan kepala mereka ke sumber keributan.

Tsunade dan Jiraiya segera menghampiri Sakura dan berdiri di samping kiri dan kanan ranjang Sakura, bahkan Jiraiya menghalangi pandangan Sasuke dengan bokongnya. Sasuke hanya bisa menghela napas.

"Sakura, aku dengar laporan dari suster kau terluka dan dirawat di sini, apa yang terjadi padamu?"

"Sakura, apa yang sakit? Di mana? Di sini? Di sini? Atau di—"

"—STOP otou-san, okaa-san! Kalian membuatku sesak!" pekik Sakura karena kedua orangtuanya terlalu dekat di depan wajahnya hingga ia kesulitan bernapas. Tsunade dan Jiraiya hanya nyengir lebar dan memberi jarak.

"Sekarang ceritakan pada kami apa yang terjadi!" perintah Tsunade.

Sakura menghela napasnya sebelum memulai cerita. "Waktu aku berangkat sekolah, aku teserempet motor dan jatuh, setelah itu aku tidak ingat."

"Lalu siapa malaikat baik hati yang membawamu ke sini?" tanya Jiraiya. Sakura yang mendengar kata 'malaikat baik hati' mendengus sebal, sedangkan Sasuke menyeringai karena secara tidak langsung dia telah dipuji.

Sakura memberi isyarat dengan dagunya menunjuk Sasuke yang sedang duduk di belakang Jiraiya. Sontak Jiraiya dan Tsunade segera memutar badan mereka dan melihat Sasuke sedang duduk manis memandang mereka bertiga.

"Akh! Ternyata kau malaikat baik hati itu, Sasuke-kun!" seru Jiraiya sambil berdiri dan menepuk bahu Sasuke dengan semangat membuat Sasuke ingin batuk namun karena gengsi yang segunung ia tahan kuat-kuat dengan tampang datarnya. "terima kasih banyak!" lanjut Jiraiya.

"Sama-sama, oji-san," sahut Sasuke disertai sebuah senyum yang menurut Sakura lebih tepat sebagai ringisan. Sakura menyeringai melihatnya.

"Sudah kubilang, anak ini memang baik sekali. Cocok sekali menjadi menantu kita!" ucap Tsunade membuat Sakura otomatis menoleh ke arahnya dengan cepat sambil melotot.

"Aduh! Aduh! Aduh!" pekik Sakura sambil memegangi kepalanya.

"Baka! Jangan menengok dengan cepat begitu!" omel Tsunade.

"Okaa-san, seharusnya kau bersikap lembut kepada anakmu yang sakit ini!" sungut Sakura yang merasa kesal karena saat ia sakit seperti inipun kedua orangtuanya bersikap manis hanya pada Sasuke sedangkan padanya boro-boro…

"Baka! Makanya jangan buat orang tua khawatir! Untung saja ada Sasuke-kun yang menolongmu, seharusnya kau berterimakasih padanya!" sungut Tsunade dengan tatapan seramnya. Sakura meneguk ludahnya.

Sakura melirik-lirik Sasuke yang masih memandangnya dengan datar. Sakura tidak tahu saja kalau inner Sasuke sekarang sedang melompat-lompat gembira. Senangnya Sasuke jika ada kedua orang tua Sakura yang sudah terdoktrin dengan nama klan Uchiha. Sehingga Sasuke akan selalu dianggap anak baik hati.

"Makasih," ucap Sakura dengan malas. Sasuke mengernyitkan alisnya menatap Sakura yang berterimakasih dengan tidak ikhlas.

"Yang ikhlas, Sakura honey," tutur Jiraiya. Sakura memutar bola matanya segan.

"Kau ingin kusuntik di hidung, heh?" tanya Tsunade sambil menatap horror putrinya. Sakura meringis membayangkan ibunya menyuntik hidungnya yang mancung dengan suntikan segede babon.

"Terima… kasih…" ucap Sakura pelan sambil menatap pintu kamar, bukan menatap Sasuke.

"Hn?"

"Terima kasih," ulang Sakura.

"Hn?"

"Terima kasih, baka Sasuke!" seru Sakura. Tiga sudut siku muncul di jidat Sasuke.

"Aduh!" pekik Sakura karena baru saja Tsunade mencubit lengannya. Tsunade menatap Sakura tajam seolah akan membunuhnya. Sakura menghela napas berat sambil mengelus-elus lengannya yang dicubit.

"Terima kasih, Sasuke…" ucap Sakura dengan senyum yang sangat dipaksakan.

"Sama-sama," jawab Sasuke dengan datar namun bibirnya menyeringai yang membuat Sakura ingin sekali menarik bibir itu hingga dower.

.

.

.

Sudah seminggu Sakura tidak masuk sekolah dan selama itu pula Sasuke yang sering menjenguk Sakura hanya sekedar duduk dan membaca komik atau membuatnya kesal. Sai juga menjenguk Sakura namun tidak sesering dan lama seperti Sasuke.

Sakura bersyukur karena hari ini ia akan pulang ke rumahnya, otomatis dia tidak akan bertemu dengan kedua cowok psycho itu seharian. Sakura tersenyum lebar dan menyapa semua perawat ataupun dokter yang ia temui di lorong Rumah Sakit, membuat ayahnya merasa mungkin Sakura begitu karena efek samping dari kepalanya yang terbentu batu terlalu keras.

"Harus diperiksa nih otaknya," batin Jiraiya sambil mengawasi anaknya. Sementara Sakura hanya cengar-cengir tidak jelas sambil membayangkan kasur empuknya dan kedamaian satu hari tanpa kedua bocah psycho itu.

Akhirnya datang juga! Sakura dan Jiraiya sudah sampai di rumah. Sakura segera membuka pintu gerbang lebar-lebar dan menghirup udara sejuk musim gugur di pagi hari dengan mata terpejam.

Sakura membuka kedua matanya dan saat itulah matanya menangkap benda berwarna merah muda yang terparkir dengan manis di halaman rumahnya. Kakinya melangkah mendekat ke arah benda itu, dan perlahan ia mulai menyentuhnya dengan senyum lebar.

Jiraiya masuk ke dalam halaman rumahnya dan menutup pintu gerbang nan kokoh tersebut. Mendengar pintu gerbang yang ditutup, Sakura segera mendongakkan kepalanya dan berlari ke arah ayahnya dengan merentangkan tangan siap memeluk ayahnya.

"Otou-san, terima kasih banyak! Aku sayang otou-san!" kata Sakura sambil memeluk Jiraiya. Jiraiya bingung dengan keadaan putrinya yang tiba-tiba memeluknya dan mengucapkan terima kasih.

"Otou-san juga sayang padamu. Tapi terima kasih untuk apa, Sakura-chan?" tanya Jiraiya.

Sakura mendongakkan kepalanya dan memandang wajah Jiraiya. "Karena otou-san membelikan sepeda baru untukku!" ucap Sakura riang.

Jiraiya tertawa renyah sambil memegang kedua bahu Sakura, Sakura bingung melihatnya. "Itu bukan dari otou-san, tapi dari Sasuke," ucapnya ringan.

DOEEEENGGGG!

Sakura membulatkan matanya.

.

.

.

Gadis pink ini tak habis pikir, kenapa kemarin Sasuke membelikannya sepeda baru? Lalu, sekarang dia bingung mau ke sekolah dengan sepeda dari Sasuke atau berangkat dengan jalan kaki? Kalau jalan kaki dan naik bis rasanya Sakura gampang capek, tapi kalau naik sepeda itu mau ditaruh mana mukanya? Secara waktu itu yang membakar sepeda Sakura adalah Sasuke, tapi kenapa Sasuke membelikan sepeda baru pada Sakura?

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Sakura memutuskan untuk berangkat sekolah jalan kaki saja. Jujur saja dia masih sakit hati dengan perbuatan Sasuke tempo hari, jadi dia tidak akan memakai sepeda itu sebelum Sasuke meminta maaf padanya.

Di perjalanannya menuju sekolah, Sakura selalu memikirkan maksud Sasuke yang mungkin saja terselubung selama ini dari kebaikannya. Pasalnya gadis itu sangat kesal sekali dengan Sasuke sehingga ia tidak mudah memercayai cowok emo itu ketika cowok emo itu menawarkan kebaikan padanya.

Sasuke memang orang yang tidak selembut Sai, tidak seramah Sai dan tidak seperhatian lewat kata-kata seperti Sai. Sasuke selalu tiba-tiba muncul seperti Tuxedo Bertopeng yang membantu gadis yang kesulitan. Ya, bagi Sakura wajah Sasuke malah lebih tampan dari Tuxedo Bertopeng yang ada di anime Sailormoon itu.

Kalau dipikir-pikir Sasuke itu punya sisi baik yang ia tunjukkan pada Sakura meskipun tidak secara terang-terangan. Dan sulit dihindari jika setiap Sasuke berbuat baik padanya sekecil apapun, Sakura akan merasakan jantungnya memompa dengan hebat.

Seperti saat ini ketika Sakura baru saja sampai di halaman sekolah dan melihat Sasuke membuka helmnya dengan gaya yang membuat fans girl-nya memekik histeris. Gaya Sasuke membuka helmnya lalu rambut hitamnya itu sedikit bergoyang karena Sasuke mengibaskan sedikit kepalanya membuat Sasuke seperti model-model di iklan sampo ketombe. Wow banget deh!

Pergerakan kepala Sasuke yang mengedipkan matanya dalam slow motion menoleh ke arah Sakura membuat Sasuke terlihat tampan sekali di mata Sakura. Dan mata mereka berdua bertemu, Sakura buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah dan berlari menuju gedung sekolah.

Sasuke menautkan alisnya melihat Sakura yang datang ke sekolah tidak memakai sepeda pemberiannya.

"Apa dia tidak suka warnanya, ya?" gumam Sasuke, lalu ia beranjak meninggalkan tempat parkir menuju gedung sekolah.

.

.

.

Murid-murid segera berhamburan dari sekolah setelah mendengar bel sekolah nyaring berbunyi. Semua terlihat terburu-buru karena langit sudah gelap, menandakan akan turunnya hujan. Begitu pula dengan Sakura. Gadis ini terlihat buru-buru keluar dari gedung sekolah untuk menuju kediaman Uchiha karena ia tidak mau kehujanan di jalan.

Benar saja, baru setengah perjalanan menuju halte hujan sudah mulai turun. Sakura memakai payung yang ia siapkan tadi pagi di dalam tasnya. Sakura terus kepikiran dengan Sasuke tadi pagi. Astaga… bahkan memikirkannya saja membuat jantung Sakura dag dig dug dueeeer!

"Sakura-sensei!" panggil seseorang di belakang Sakura. Sakura berhenti berjalan dan menengok ke belakang. Ah… rupanya saudara kembar Si Sasuke yang memanggilnya.

Sai berlari kecil sambil membawa payung di tangan kananya. "Kau mau ke rumahku 'kan?" tanya Sai. Sakura hanya mengangguk. "Kalau begitu ayo kita bareng!" ajak Sai sambil mencoba menggandeng tangan Sakura.

Awalnya Sakura diam saja digandeng oleh Sai, tapi bayangan kejadian di atap sekolah membuat hati Sakura berdenyut nyeri. Maka, Sakura menghentakkan tangannya yang digenggam Sai. Sai yang kaget segera menolehkan kepalanya ke samping kanan.

"Ada apa?" tanya Sai dengan senyumannya.

Sakura menatap Sai tepat di matanya. Ia bingung, benar-benar bingung dengan kelakuan Sai. Apa sih maksudnya memperlakukan Sakura seperti ini? Dia melakukan semua ini seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

"Kenapa kau berbuat baik padaku?" tanya Sakura.

Sai tersenyum. "Karena aku mencintaimu," sahut Sai.

Saat mendengar pernyataan cinta dari Sai untuk kedua kalinya, Sakura tidak merasakan apa-apa, jantungnya tidak berdetak cepat seperti saat ia bersama dengan Sasuke.

"Jika kau mencintaiku, lalu kenapa kau menyakiti hatiku waktu di atap? Kau menghinaku dengan bilang kalau aku ini jelek! Lalu, perbuatanmu setelah itu seolah tidak terjadi apa-apa!" ujar Sakura dengan dingin.

"Di atap? Kapan? Aku tidak pernah bertemu denganmu di atap…" Sai terdiam sebentar menyadari apa yang terjadi, "…mungkin itu Sasuke yang menyamar menjadi aku," sambungnya.

Sakura membulatkan matanya mendengar jawaban Sai. "Kenapa?" gumamnya tidak percaya.

Sai mengangkat bahu tidak mengerti. "Entahlah, selama ini kalian tidak pernah akur 'kan?" tanyanya. Sakura terdiam tidak menjawab. "jadi, kau mau 'kan menerima cintaku?" tanya Sai sambil menggenggam tangan Sakura.

Sakura tersadar saat tangannya yang dingin digenggam oleh Sai. Sakura menatap Sai dan tidak ada sensasi aneh dalam tubuhnya saat Sai menyentuh tangannya. Semuanya terasa hambar.

Sakura menggelengkan kepalanya dan refleks melangkah mundur. "Aku harus menemui Sasuke!" ucapnya dan pergi meninggalkan Sai sambil berlari tanpa membawa payungnya.

Sai hanya mampu terdiam di tempat memandang kepergian Sakura. Hatinya hancur berkeping-keping sekarang. Ya, ia sudah ditolak karena Sakura lebih memilih lari menuju kembarannya.

.

.

.

Sakura terengah-engah setelah sampai di halaman parkir sekolah. Dia melihat motor Sasuke masih terparkir di sana. Sakura mengedarkan pandangannya dan tidak melihat Sasuke di dekat parkiran, maka Sakura memutuskan untuk masuk ke dalam gedung sekolah.

Lantai sekolah menjadi basah karena Sakura yang basah kuyup mengelilingi sekolah tersebut untuk mencari Sasuke. Beberapa pasang mata yang masih ada di sekolah menatapnya dengan heran karena Sakura berlarian tergesa-gesa dengan keadaan basah kuyup.

Sakura terus mencari dari lantai bawah hingga atap tapi ia tidak menemukan Sasuke. Ketika ia menundukkan wajahnya dari atap sekolah, ia melihat seseorang sedang bermain basket di lapangan. Dan mata Sakura langsung membulat menyadari bahwa itu adalah Sasuke. Sakura segera turun lagi menuju lantai bawah.

Sakura membuka pintu lapangan yang terbuat dari besi dan kawat-kawat itu. Ia berjalan dengan pelan menuju Sasuke yang sedang men-drible dan memasukkan bola ke dalam ring. Suara hujan yang turun meredam suara langkah kaki Sakura. Saat Sasuke hendak melompat mengambil bola yang terpantul dari ring, ia melihat Sakura yang berdiri di belakangnya dengan keadaan basah kuyup tak beda jauh darinya.

Sasuke terdiam dan tidak jadi menangkap bola basket. Ia biarkan bola itu menggelinding di lapangan. Ditatapnya Sakura yang tetap bergeming berdiri di hadapannya. Keduanya belum membuka mulut, hanya saling menatap dalam diam.

"Katakan padaku," gumam Sakura.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti apa yang Sakura maksud. "Hn?"

Sakura memejamkan mata dan menengadahkan kepalanya merasakan pijatan air hujan di wajahnya sekaligus menahan air matanya yang meskipun ia keluarkan Sasuke tidak mungkin melihatnya karena hujan terus membasahi tubuhnya.

Sakura kembali menegakkan kepalanya dan menatap Sasuke dengan tatapan sendu. Sasuke terkesiap melihatnya. "Katakan padaku, kenapa kau menyamar sebagai Sai waktu di atap?"

Sasuke termangu diam tidak bisa membuka mulutnya.

Zreeeeeesssh!

Hujan turun semakin deras dan mereka berdua masih diam berhadapan saling bertatapan dalam diam. Sakura memerhatikan wajah Sasuke dan saat ini Sasuke benar-benar mirip dengan Sai dengan rambut yang tidak bermodel seperti pantat ayam karena basah.

"Apa kau sangat membenciku?" tanya Sakura lagi. Kini ia menundukkan kepalanya dan perlahan air mata turun di pipinya. Entah mengapa ia merasa sedih, dadanya terasa sesak jika saja benar Sasuke membencinya.

Sasuke tersentak mendengar pertanyaan Sakura. Perlahan dia melangkah mendekati Sakura. Sakura dengan jelas dapat melihat sepatu Sasuke yang sudah berada sangat dekat di depannya.

"Ya aku memang membencimu," kata Sasuke. Sakura tertegun dan perlahan mengangkat wajahnya melihat wajah Sasuke yang hanya berjarak satu meter darinya. "tapi itu dulu," lanjut Sasuke. Sakura menautkan alisnya tidak mengerti.

"Kedekatanmu dengan Sai membuatku kesal dan marah. Maka aku menyamar menjadi Sai untuk membalas perbuatannya yang sudah mendekatimu," ungkap Sasuke tanpa ragu dan menatap mata Sakura intens.

Sakura lagi-lagi dibuat tertegun dengan pernyataan Sai. "Kenapa?" tanyanya.

Sasuke tidak menjawab malah mendekatkan wajahnya dengan wajah Sakura. Ia memegang kedua rahang Sakura dengan kedua telapak tangannya yang besar. Ia resapi kulit halus Sakura di telapak tangannya dan perlahan ia mendekatkan bibirnya dengan bibir Sakura. Sakura tidak mampu menolaknya, tubuhnya seakan dipaku di tempatnya oleh tatapan lembut Sasuke. Dan bibir mereka berdua pun bertemu dengan sensasi lembut yang mampu menggetarkan hati mereka.

Sasuke menjauhkan kembali wajahnya dan menatap lembut mata Sakura. Sedangkan Sakura wajahnya sekarang sudah seperti udang rebus. Sakura bahkan menahan napasnya saat melihat wajah Sasuke sedekat ini.

Sasuke menyeringai melihat reaksi Sakura. Ia pun membisikkan sesuatu di telinga Sakura. "Karena aku mencintaimu," ucapnya. Sakura menarik napas dalam saat mendengar pernyataan cinta Sasuke. "jadilah pacarku." Sasuke kembali menatap Sakura.

Wajah Sakura sudah sangat merah, ia pun mengangguk saja. Jantung keduanya berdetak tidak karuan. Sasuke kembali mendekati wajah Sakura untuk menciumnya namun Sakura berusaha menahan dadanya.

"Kyaaaaa! Dasar mesum!" pekik Sakura.

"Tapi kau suka 'kan?" goda Sasuke. Wow! Sasuke sudah berubah rupanya. Dia jadi bisa menggoda Sakura. Di mana jiwanya yang dingin itu?

"Sakura-senseiiiii, Sasukeeeee!" seru seseorang sambil menjauhkan Sakura dan Sasuke membuat Sasuke mengeluarkan urat-urat emosi di dahinya. Sementara Sakura menghela napas dan sedikit bersyukur berkat kehadiran Sai.

"Tunggu, aku ingin bertanya satu hal lagi padamu, ayam!" kata Sakura. Sasuke mendelik padanya dikatain ayam. "kenapa kau membelikanku sepeda?"

Sasuke memutar bola matanya. "Ya karena kulihat kau jalan kaki, bodoh!"

"Yang membuatku jalan kaki ke sekolah 'kan kau! Karena kau yang membakar sepedaku!" seru Sakura sambil menunjuk-nunjuk muka Sasuke.

"Aku tidak melakukannya," jawab Sasuke singkat. Lalu Sasuke dan Sakura menoleh perlahan ke arah Sai. Sai yang masih berdiri di tengah-tengah mereka hanya tersenyum innocent.

"Jangan-jangan itu perbuatanmu ya, Sai?" tanya Sakura dengan horror.

"Ups! Ketahuan, ya?" ucap Sai dengan watados.

Sakura sudah kesal stadium empat, enak banget sih duo kembar ini mempermainkan dirinya.

"Kenapa kau melakukan itu Sai?" tanya Sasuke ketus dan menatap kesal Sai.

"Ya karena Sakura sepertinya sangat membencimu jadi kulengkapi saja imejmu jadi orang antagonis," jawab Sai sambil tersenyum palsu.

"Jadi semua perbuatan kalian selama ini kau yang melakukannya, Sai?" tanya Sakura lagi.

Sai tersenyum palsu dan mendekati Sakura. "Tidak apa-apa 'kan sensei?" tanya Sai sambil berusaha mencium Sakura.

"Kyaaaaa! Kau benar-benar psycho!" jerit Sakura dan menahan dada Sai yang berniat menciumnya.

"Lepaskan dia, Sai! Dia pacarku sekarang!" kata Sasuke sambil menarik rambut Sai.

"Aku juga mencintai Sakura, Sasuke!" sahut Sai tak mau kalah.

Akhirnya Sasuke berhasil memisahkan Sakura dengan Sai. Dengan cepat Sasuke menggenggam tangan Sakura dan membawanya pergi dari lapangan. "Ayo kita pulang nanti kau bisa sakit!" kata Sasuke. Sakura hanya bisa menurut, sementara Sai kembali berlari sambil membawa payungnya dan payung Sakura.

"Aku tidak akan menyerah begitu saja pada cinta pertamaku!" seru Sai dan mengejar pasangan baru SasuSaku. Sasuke dan Sakura hanya mampu sweatdrop.

.

.

.

Ternyata kembar yang satu ini mempunyai akal yang sama untuk membalas dendam.

Ah… Jangan lupakan cinta pertama yang juga sama.

.

.

.

Fin

a/n: Annyeong haseyo! Cwe song hamnida karena saya ngaret banget update-nya. Hehehe… Hyaaah~ akhirnya fict ini tamat juga. Legaaaa rasanya. Hehehe… terima kasih banyak bagi kalian yang sudah me-review dari chapter 1. Saya gak akan bisa nyelesain fcit ini tanpa dukungan review kalian. Oh iya ending cerita ini terinspirasi dari komik karangan Shiiba Nana yang berjudul Gorgeous Twins. Maaf sekali saya lupa mencantumkan sebelumnya.

Kamsa hamnida sasuxsaku forever, Onime no Uchiha Hanabi-hime, uchiha reyvhia, Yue Heartphilia, C.A, meyrin kyuchan, Reyouunyuunyu, kujaku obana, Matsumoto Rika, Higurashi cherry blossom, Hikari Shinju, Zhie Hikaru-chan, Zhie Hikaru-chan, Sky pea-chan, Ai-chan Sakugawa, mayu akira, misterious girl, 4ntk4-ch4n, Thia Nokoru, vvvv, Uchiharu 'nhiela Sasusaku. Terima kasih atas review kalian di chapter 6. Maaf saya gak bisa bales satu persatu tapi review kalian adalah pembangun semangat saya ^^ maaf ya saya telat banget update-nya (-_-' ) sarang hamnida! ^^

For the last, review chingudeul? Kamsa hamnida! ^O^