Hallo… fic nggak penting nan abal plus nggak memenuhi syarat EYD muncul lagi nih! Bersabarlah minna sekalian saat membaca fic gaje ini dan jangan sampai membanting laptop atau hp di depan, karena ke nggak jelasan fanfic ini! Oke, Tsuka sarankan untuk menyiapkan kantong plastik.

Before :

"Hei itu koper yang kita cari?"Tanya Naruto

"Ya…sepertinya benar" Sahut Tenten.

Tanpa mereka sadari ada segerombolan orang yang sedang menyeringai pada mereka, gerombolan itu mendekati mereka yang sedang lengah dan mendorong mereka kedalam sumur….

"KYAAAAAA" Teriak Naruto, Sakura, Ino dan Tenten serta Hinata saat jatuh ke sumur yang seolah tak berujung itu.

Pairing : tebak aja…

Summary : Akhirnya para pangeran sombong dan angkuh itu pun bertemu dengan pendekar yang mereka cari. Tapi sepertinya mereka tak bisa akur dengan para pendekar tersebut. Kenapa ya?

Warning : OOC tak bisa di hindari, typo(s), EYD kurang benar(udah usaha dibenarin kok), dan segala kegajean lainnya, humornya garing, dll.

Don't Like? But must Read(hehe Kidding) "DON'T LIKE? DON'T READ!"

~Happy Reading~ *^_^*

"Shikamaru… bagaimana ini, pendekar yang dikatakan Tsunade-sama, sama sekali tak nampak batang hidungnnya!" keluh Sai.

"Sai benar, jangankan ketemu, hawa keberadaannya pun tak ada!" Komentar Kiba.

Saat ini, para pangeran itu masih berbaring di sekitar sebuah sumur tua yang sudah berlumut, dibawah naungan pohon- pohon yang berdiri kokoh dengan daun-daunnya yang lebat, mereka mengistirahatkan tubuh mereka dengan berbaring direrumputan atau lebih tepatnya, mereka semua tepar karena kelelahan setelah berkeliling desa aneh untuk mencari lima pendekar, seperti yang diperintahkan oleh sang hokage. Perdebatan diantara mereka pun berlansung.

"Bagaimana menurutmu, Sas?" Tanya Shikamaru pada Sasuke yang nampaknya sangat menikmati pengistiratan mereka, itu terlihat dari kedua matanya yang tertutup rapat.

"Ehmmm… entahlah, aku pun masih bingung. Tapi, kemungkinan terburuknya, para pendekar itu adalah salah satu dari kloning-kloning si Lee," ungkap Sasuke setengah mual.

"Ya… aku pun berpikir begitu, dan dengan kata lain, para pendekar itu penduduk sini!" sahut Neji.

"Kau gila? Maksudmu, para pendekar yang akan menyelamatkan kota kita adalah salah satu dari orang-orang aneh itu?" kata Kiba dengan wajah pucat.

"Memang, kemungkinan mereka salah satu dari penduduk di sini ada. tapi, bukankah Tsunade-sama menngatakan bahwa, para pendekar itu berasal dari dimensi lain?" ujar Shikamaru tak menghiraukan KIba.

"Shikamaru… apa kau sudah lupa dengan kejadian beberapa saat yang lalu?" Tanya Neji dengan tubuh merinding.

"Hah!" seru Shikamaru dengan wajah heran, melihat wajah heran Shikamaru itu, sungguh mungkin tak ada yang akan mengira pemuda ini sebenarnya jenius.

~Flash back~

Saat ini Shikamaru dkk sedang berkeliling desa guna mencari 5 pendekar yang masih belum diketahui bagaimana wujud dan rupanya. Hanya bermodalkan batu aneh yang dijadikan dasar dari pencarian, mereka terus mengamati tiap sudut desa yang tergolong aneh ini. Semua mata tertuju pada lima pemuda tampan, dengan pakaian yang berbeda dari masyarakat didesa itu. Dan orang yang dipelototin malah belagak pilon dan meneruskan pencarian, sampai sebuah suara menghentikan mereka.

"Hei…kalian berhenti!" teriak seorang laki-laki tua, namun dengan semangat pemuda belasan tahun, berlari mengejar segerombolan pemuda yang menyita perhatian hampir seluruh kaum hawa di desa itu.

Para pemuda yang merasa dipanggil pun menghentikan langkah mereka dan menunggu sang pemanggil dengan dengan bermacam-macam gaya dan tentu saja berkesan cool, misalnya tangan yang dimasukkan kedalam saku, berjongkok sambil mennyanggah dagu dsb, yang membuat teriakan dari kaum hawa makin membahana.

"Apa-apaan kalian, berkeliling desa dengan pakaian yang aneh itu?, mau melanggar peraturan ya!" seru orang itu dengan lantanng.

'Aneh? Bukannya pakaian mereka itu yang aneh? Melanggar aturan apanya?' batin para pangeran itu serentak.

"Maaf… tapi kami ada sedikit keperluan, tak bermaksud mengganggu." Jelas Sasuke mencoba mengeluarkan kewibawaannya.

"Meskipun begitu, siapa pun yang masuk kedesa ini harus mematuhi tata tertib dan aturan yang berlaku." Jawab orang itu lagi dengan mata berapi-api.

"Hah? Kalian…" tak sempat memprotes, perkataan Kiba langsung dipotong oleh seorang bapak-bapak yang berdiri disamping pak tua tadi.

"Baiklah, karena kalian orang baru, jadi kami akan memaafkan kalian. Sebagai sanksinya….plok…plok…plok" kata bapak itu itu sambil menepuk pelan kedua tangannya.

Setelah tepukan itu terdengar,entah dari mana, orang-orang aneh pun berdatangan dari berbagai penjuru. Diantara mereka ada yang membawa gunting, gagang kayu, obor(padahal siang -_-"), buku, pulpen dan barang-barang aneh lainnya. Oh, jangan lupakan lima pakaian super ketat dengan warna-warna ngejreng yang melambai-lambai ditiup angin, seolah berkata, "Ayo pakai aku, NOW!"

"Saudara-saudara sekalian, hari ini kita akan melakukan hal baik dengan mengembalikan orang-orang yang telah tersesat ini ke jalan yang lurus. Mereka yang telah melupakan pakaian adat dan rambut tradisional*?* harus kita kembalikan kejalan yang benar!" Khotbah pak tua tersebut pada orang-orang disana yang disambut dengan semangat.

"Berpencar!" seru Shikamaru yang sudah bisa membaca situasi dan kondisi yang ada. Para pangeran yang ternyata tidak lemot itupun mengerti maksud dari Shikamaru. Langsung saja mereka berlari kearah yang berlawanan. Neji ke barat, Kiba ke timur, Shikamaru ke utara, Sasuke selatan sedangkan Sai berlari arah tenggara mata angin.

"Kejar," teriak pak tua itu member intruksi, dan kejadian selanjutnya sudah bisa ditebak. Kejar-kejaran ala tom&jerry pun dimulai.

~Barat~ di tempat Neji

Neji kini telah terpojok di perbatasan desa yang dibatasi oleh tebing yang curam, para masyarakat yang mengejarnya telah mengelilingnya bak pagar melindungi tanaman. Anehnya, hampir semua dari orang-orang tersebut membawa obor, oh dan jangan lupakan baju super ketat ala Rock lee.

"Mau apa kalian?" teriak Neji yang ke-coolannya tiba-tiba hilang, entah kemana.

"Mau apa?" Tanya salah seorang dari orang-orang itu dengan nada saskatis.

"Kau tau anak muda, memakai wig itu adalah suatu pelanggaran!" seru orang yang lainnya.

"Wig?, " bengong Neji.

"Hei ini asli!" seru Neji lagi sambil mengelus-elus bangga rambutnya.

"Sudahlah, kami tak butuh bualanmu, semuanya, ayo kita bakar rambutnya. Manusia itu tidak pantas pakai wig Karena itu sama dengan tidak bersyukur, apalagi laki-laki. Dan ganti juga pakaian bodohnya dengan pakaian adat kita," coordinator orang itu lagi sambil mengancungkan obor dan baju super ketat berwarna merah.

"TIDAAAAKKKkkkk…" Teriak Neji membahana.

~Timur~ di tempat Kiba

Tak jauh beda dari kondisi Neji saat disergap, Kiba pun kini di kelilingi oleh penduduk setempat. Namun yang membedakannya hanyalah tempat dan barang-barang yang dibawa oleh orang-orang itu. Tempat Kiba disergap di sebuah lapangan kosong dan orang-orang yang mengejarnya membawa tang, kapas dll.

"Minggir, kalau tidak, aku akan mengeluarkan sihirku." Gertak Kiba.

"Sihir? Huh… apa kau tak tahu, bahwa desa ini telah disegel dengan sihir hitam, jadi sihir putih seperti kalian tak akan berfungsi. Kurasa teman-temanmu juga sedang kesulitan sekarang!" ujar orang yang berada tepat di depan Kiba tak merasa gentar sedikitpun.

"Kau bercanda?" ucap Kiba sambil mencoba beberapa jurus sihirnya, yang ternyata bener-benar tak berfungsi.

"Sudahlah, lupakan sihirmu dan hiduplah yang damai didesa ini. Tapi sebelum itu…" ucap orang satunya lagi, memotong ucapannya. yang sengaja membuat Kiba penasaran mungkin lebih tepatnya ketakutan.

"Gleekk," Kiba harus menelan air ludah, melihat alat-alat didepannya,'akankah terjadi drama pembunuhan disini?' batinnya mencelos.

"Sebelum itu, kau harus mematuhi semua peraturan disini. Baiklah, untuk yang pertama kami akan mencabut taringmu." Ucap orang tersebut mendekatkan tang ke gigi Kiba.

"memangnya ada aturan mencabut gigi?" emosi Kiba.

"Pasal 3 ayat 1, setiap orang yang tersenyum dan menampakan gigi, maka giginya harus putih berkilau sehingga menimbulkan bunyi 'cling' saat unjuk gigi" jelas orang aneh tersebut sambil mempraktekkannya dan bingo, saat ia tersenyum giginya menimbulkan suara 'cling'.

"peraturan macam apa itu?" pekik Kiba, merasa tak masuk akal dengan peraturan desa ini.

"Sudah jangan banyak cincong, kalian semua ayo cepat kerjakan, dan ganti pakaian norak yang berbulunya itu dengan ini." Tegas orang tersebut sambil memperlihatkan pakaian kebanggaan mereka yang berwarna pink ngejreng itu.

"JANGAAAAN." Raung Kiba yang mengakibatkab burung-burung beterbangan meninggalkan sarangnya.

~Utara~ di tempat Shikamaru

Drap…drap…drap… Shikamaru masih terus berlari memasuki hutan lebat, penduduk desa itu pun tak menyerah, mereka terus mengejar Shikamaru dengan ganggang kayu ditangan masing-masing dari mereka. Tampak pak tua yang menjadi provokator mereka tadi berlari bersama para penduduk itu, dan Shikamaru yang mencuri-curi lihat kebelakang sesekali, menganggap dirinya akan tamat disini.

"Hei tunggu." Teriak pak tua pada Shikamaru yang sejak tadi tak berhenti berlari.

"Mana ada orang yang mau menunggu orang yang akan menangkapnya,!" seru Shikamaru terus berlari.

"Hoi…berhenti kau pencuri sapu!" teriak seseorang diantara mereka.

'Ckitttt' dengan reflek Shikamaru menghentikan langkahnya, tak terima bila ia dikatakan pencuri, pencuri sapu lagi. 'nggak elit banget sih! Setidaknya kalau aku jadi pencuri, harus lebih keren dari Kaito Kid donk!' batin Shikamaru merana.

"Apa maksudnya itu, hah?" Tanya Shikamaru mencoba untuk tetap tenang.

"Huh…jangan pura-pura tidak tahu kamu. Bukankah kau yang selama ini mencuri sapu lidi kami!" teriak orang tersebut lagi.

"Hah?" heran Shikamaru lagi.

"menyerah sajalah anak muda, lagipula kami mempunyai bukti." Kini pak tua yang berteriak(Tsuka: oi, kok teriak-teriak sih! padahal jaraknya cuman dua meter. -_-`).

"Bukti?" Tanya Shikamaru, ia bingung, bagaimana mungkin ada bukti, padahal ia sama sekali tak melakukan pencurian.

"Ya bukti, dan sekarang pun kau membawanya." Tegas pak tua itu dengan gaya detective yang mengalahkan Shinichi kudo.

"Bisa kalian tunjukkan?" tantang Shikamaru.

"Tentu saja, barang buktinya adalah yang sekarang kau kenakan dikepalamu itu." Hardik seorang ibu-ibuk yang berdiri disamping pak tua. Shikamaru pun meraba-raba bagian atas kepalanya, tapi tak ditemukan apapun selain rambutnya yang berdiri tegak itu.

"Maksud kalian ini?" Tanya Shikamaru menunjuk rambutnya.

"Tentu saja itu kan? Jadi selama ini kau mencuri sapu kami untuk dijadikan mahkota ya! Tak heran mengapa hanya lidinya saja yang hilang sedangkan ganggangnya tidak." Sahut wanita itu sambil mengacungkan-acungkan tongkat kayu yang ternyata adalah ganggang sapu yang hilang lidinya.

'ck…sepertinya terjadi kesalah pahaman disini, dan sepertinya harus dijelaskan bahwa rambut ini suatu kewajiban bagi tiap anggotan klan Nara yang lelaki.'

"Hahhh… merepotkan," gumam Shikamaru menghela nafas, ia bersiap menjelaskan realita dan fakta yang ada. Namun entah mengapa, tiba-tiba hawa disekelilingnya sangat mencengkam, semua masyarakat yang tadi mengomel dan menundingnya kini diam seribu bahasa, wajah mereka tampak kaku dan kaget.

"Ada apa?" Tanya Shikamaru yang tak mengerti sebab perubahan atmosfir yang tiba-tiba terjadi.

'Siiiiing' masih hening, tak ada yang menjawab.

"Anak muda, kau… CEPAT TANGKAP DIA." Teriak pak tua member intruksi.

"eh?"

"Melakukan sesuatu itu harus dengan semangat dan hati senang, tidak boleh setengah hati, kata-kata merepotkan adalah kata-kata terlarang yang hanya diucapkan oleh pecundang yang pemalas, dan hukuman bagi mereka yang mengatakannya adalah… penjara seumur hidup!" jelas pak tua itu, entah pada Shikamaru atau kepada orang-orang yang ada di sana.

"Ayo, tangkap dan jebloskan dia kepenjara," teriak pak tua itu lagi sambil membuang pakaian adat mereka yang rencananya tadi ingin di pakaikan pada Shikamaru.

"HUWAAAaaa," teriak Shikamaru sambil meneruskan larinya yang sempat tertunda tadi, dan tentu saja kali ini lebih cepat.

~Selatan~ di tempat Sasuke

Tak seperti Shikamaru, Neji dan Kiba, Sasuke kini sedang bersembunyi di bangunan tua reyok yang tak dipakai lagi di desa ini. Ia terus diam disana sampai suara langkah kaki penduduk itu terdengar menjauh. Begitu ia rasa langkah mereka sudah cukup jauh, ia bergegas untuk segera keluar dari tempat kotor nan tidak elit itu. Dengan sedikit mengendap-endap Sasuke keluar dari pintu tua tersebut. Sedikit mengintip, Sasuke ingin memastikan keadaan diluar.

'Aman,' batin Sasuke lega, segera ia tutup pintu itu pelan-pelan.(Sasuke persis kayak maling mau kabur).

"Haaah… sekarang aku harus mencari mereka," gumam Sasuke sambil membalikkan badannya.

"Jreeeeeng…" begitu berbalik, orang-orang yang tadi dianggap sudah menjauh, ternyata bersembunyi di dekat sana. 'Glekk' mau tak mau, Sasuke terpaksa menelan air ludahnya melihat orang-orang bertampang sangar dengan gunting dan sisir di kedua tangan mereka tambahan pelengkap, baju super ketat berbahan elastis berwarna biru laut, bisa kau bayangkan betapa takutnya Sasuke!

"Ternyata memang dia!" teriak wanita paruh baya tersebut.

"Ya… tak salah lagi, dia lah penyebabnya, tak diragukan lagi," sahut yang lainnya.

"Penyebab apa?" bingung Sasuke tak mengerti maksud orang-orang tersebut.

"Kau… kau yang menyebabkan mereka jadi seperti ini!" desis wanita paruh baya tersebut dengan bonus deathglare.

"Mereka?" gumam Sasuke lebih pada dirinya sendiri, karena ia masih belum mengerti. Tapi sayangnya, gumam-an Sasuke terdengar ditelinga para penduduk.

"Huh… masih belagak suci ya? Jelas-jelas setelah kedatanganmu, ayam-ayam betina kami tak bertelur, sedangkan ayam-ayam jantan kami tak berkokok sehingga hari ini kami semua kesiangan."

'Apa hubungannya denganku? Itu sih masalah kalian' batin Sasuke sweatdrop.

"Dan kau tahu kenapa?" sambung orang itu lagi"Itu karena ayam-ayam betina kami terpesona padamu, dan ayam-ayam jantan yang cemburu kabur dari kandang dan sekarang depresi, mereka tak akan mau bertemu betina sebelum mereka mengaku salah" cerocos wanita itu yang membuat Sasuke sweatdrop kembali.

'Memangnya ini cerita fabel apa?' Sasuke melongo, ia berasa baru saja mendengar dongeng sebelum tidur.

"Dan penyebabnya adalah rambut buntut ayam mu yang mengalahkan buntut ayam jantan kami."

Twin…muncul perempatan jalan dikening Sasuke, ia merasa tersinggung dengan penghinaan terhadap dirinya apalagi rambut yang amat ia kasihi.

"Kalian pikir kalian siapa berani menghinaku, (prince mode:on). Coba kalian lihat penampilan kalian sendiri, Rambut bak mangkok yang terbalik, ditambah alis dan bulu mata palsu yang super tebal dan pakaian yang super ketat dengan warna yang dapat merusak mata dan yang terparah, kalian semua menggunakannya dengan bangga. Aku yakin otak kalian pasti tidak beres. Apa kalian tidak tahu, kalian seperti mimpi buruk bagi orang normal," kata Sasuke ngosngosan karena berbicara terlalu panjanng(wow… Sasuke OOC banget!)

"Pasal 12 ayat 1, menghina, melecehkan atau mencemooh adat istiadat adalah kejahatan tak termaafkan, hukuman bagi mereka yang melakukannya adalah hukuman mati!"

"eh?" kata Sasuke yang masih belum mengerti Situasi dan kondisi.

"Tangkap dia dalam keadaan hidup atau mati," koordinator orang yang tadi meneriaki Sasuke. Dan tanpa menunggu lama, para masyarakat itu pun langsung mengejar Sasuke dengan gunting yang ada dimasing-masing tangan mereka. Mereka berniat menggundulkan kepalanya dulu baru dibunuh.(poor Sasuke)

"P…Er…Gi…"pekik Sasuke pada orang-orang tersebut sambil terus berlari.

~Tenggara~ ditempat Sai

Lain Sasuke, lain pula Sai. Beda dengan teman-temannya yang masih melarikan diri, Sai malah sudah tertangkap. Kini ia dalam sebuah ruangan gelap, hanya diterangi sebuah lampu yang mengarah kewajahnya, Sai duduk disebuah bangku dengan orang-orang aneh di sekelilingnya yang membawa alat tulis dan buku, seolah ingin mencatat semua jawaban Sai yang sedang di introgasi.

"Braaakk…"salah seoranng yang sepertinya pemimpin dari gerombolan yang mengejar Sai menggebrak meja, membuat Sai terkaget-kaget.

"Sekarang jujurlah, apakah kau berasal dari India?" Tanya orang tersebut menyelidik.

"Bu…bukan…"gagap Sai, ia merasakan firasat buruk yang sepertinya akan terjadi.

"Tak usah menyangkal, pakaianmu itu adalah pakaian khas orang India,"kata orang itu dengan nada mengintimidasi.

"eh?" kaget Sai sambil memperhatikan pakaiannya, celana hitam panjang, baju dengan lengan setengah panjang dan setengah pendek*?*, bukan itu yang kini dipandangi Sai, tapi bajunya yang hanya menutupi dada sehingga perutnya(beserta pusarnya) tampak. 'Oh, shit aku tahu maksud mereka,' batin Sai.

"Lalu…"orang tersebut terus mendesak Sai, kini di background orang tersebut ada naga yang siap menghabisi mangsanya.

'Deg…apa di desa aneh ini, ada peraturan orang India dilarang masuk? Tamatlah riwayatku kali ini,' batin Sai getir.

"Lalu, apakah namamu Syahrul khan! Benarkan, benarkan?" Tanya laki-laki tersebut histeris.

"Hah?" pekik Sai kaget. Tapi pekikan kekageten Sai karena shock malah dianggap pekikan terkejut karena identitas aslinya ketahuan.

"Kyaaa…ternyata benar bok, jeng-jeng, ternyata dia Syahrul Khan bok!" teriak orang tersebut yang entah kenapa suaranya berubah seperti bancis.

"Kyaaa…kami penggemar beratmu, minta tanda tangan donk," teriak orang-orang yang tadi mengelilinya. Mereka berdesak-desakan untuk meminta tanda tangan Sai, bahkan tidak sedikit yang menyentuh-nyentuh bahkan mencium Sai, dan sebagian dari mereka adalah banci. Rasanya Sai ingin mati saja.(poor Sai).

"Uwaaaa…" teriak Sai membahana.

~Flashback of~

"Kau sudah mengerti kan Shikamaru, mungkin saja para pendekar itu adalah salah satu dari mereka. Kau bisa melihat sendiri bagaimana cara mereka memaksa orang menjadi aneh seperti mereka," ucap Neji berusaha menahan emosinya yang memuncak karena mengingat kejadian tadi.

"Haah…untung saja kita berhasil lolos," ucap Kiba, Sai, Sasuke dan Shikamaru serentak sambil menghela nafas.

Saat mereka sedang mengeluh, batu yang diletakkan Shikamaru ditanah tiba-tiba bercahaya, menandakan target yang mereka cari berada dalam jarak dekat. "turulit…turulit…turulit(suaranya norak banget.)" tak hanya bercahaya, kini batu itu pun mengeluarkan bunyi yang itu artinya target semakin dekat. Shikamaru yang menyadari hal tersebut lansung berdiri, diikuti Kiba, Neji, Sai dan terakhir Sasuke.

"Shikamaru, bagian mana yang bercahaya?" Tanya Sasuke.

"Semua, Safir, Emerald, Ruby, indigo dan jade, semua bagian dari batu ini bercahaya," sahut Shikamaru.

"I…Itu artinya, semua pendekar itu ada di dekat sini!" teriak Kiba kegirangan.

"Ya…" jawab Neji, mereka pun membuka mata mereka lebih lebar, memperhatikan sekeliling dengan teliti. Suasana disekitar mereka pun menjadi hening.

"Bruaakk…" ada sesuatu keluar dari sumur tua di dekat mereka, mereka tak bisa melihat apa yang keluar itu karena ditutupi pasir yang sekarang seperti kabut karena kejatuhan sesuatu tersebut.

"A…apa itu?" Tanya Sai masih terpaku ditempat.

"Pendekar…" gumam Shikamaru.

"Eh?" pekik Kiba, Sai, Neji juga Sasuke yang kaget atas gumaman tak jelas itu.

"Ya… batu ini bereaksi pada mereka, berarti sesuatu dibalik kabut ini adalah pendekar yang kita cari," ujar Shikamaru.

'Deg ' jantung para pangeran itu berdetak cepat, mereka sedang membayangkan rupa dari pangeran itu. Mari kita lihat penggambaran para pendekar dalam kepala mereka.

"Berotot besar." Kiba

"Berkulit coklat." Sai

"Bermata merah." Neji

"Memakai yukata." Shikamaru

"Di punggungya ada pedang." Sasuke

Jadi jika digabung, gambaran mereka tentang para pendekar itu persis seperti aderay yang menggunakan softlen berwarna merah, memakai yukata dan pedang dipunggungnya(tolong bayangkan sendiri). Kabut yang tadi tebal, kini sudah menipis sedikit demi sedikit.

'Deg...deg….deg' jantung Sasuke dkk berdetak kencang, sambil terus memperhatikan sesuatu yang hampir tampak seutuhnya dari kabut yang mulai menghilang.

Akhirnya, para pendekar itu tampak seutuhnya, dengan terlihatnya mereka, gambaran Sasuke dkk langsung pecah berkeping-keping. Tidak ada otot, tidak berkulit coklat, tidak bermata merah dan tidak menggunakan yukata. Yang ada hanya lima gadis dengan badan kurus, berkulit putih dan warna mata yang berbeda-beda ditambah baju mereka yang sedikit aneh untuk jaman itu, namun terlihat manis.

"Dimana ini?" Tanya salah satu dari gadis itu yang berambut pink sepinggang dan bermata emerald, sambil memperhatikan sekelilingnya.

"Entahlah,"jawab gadis pirang bermata biru laut di sebelahnya ikut memperhatikan sekeliling.

"Mungkin di tempat pembuatan film sejarah kuno," kali ini gadis berambut hitam kebiru-biruan bermata indigo yang menjawab.

"Hah? Tapi, bukankah tadi kita jatuh ke sumur?" pekik gadis berambut pirang keemasan sebahu, dengan mata safir dan tiga garis dimasing-masing pipinya.

Saat para gadis tersebut asyik menganalisis keadaan sekitar mereka, para pangeran itu hanya termenung mendengarkan perdebatan mereka. para pangeran itu tak berniat menginterupsi percakapan para gadis tersebut, mereka memilih diam dan memperhatikan.

"Ngomong-ngomong, mereka siapa?" Tanya gadis bercepol bermata jade yang menyadari keberadaan orang asing yang semenjak tadi memperhatikan mereka.

"Bagaimana kalau kita tanya pada mereka, tempat apa ini!" usul gadis cepol itu lagi.

"Tapi, penampilan mereka tidak meyakinkan!" kata gadis bemata indigo.

"Ahhh…mungkin saja mereka sedanng cosplay. Biar aku yang bertanya!" ujar gadis berambut pink sambil berjalan mendekati para pemuda itu, teman-temannya mengikuti di belakang.

"Maaf permisi, kalian siapa ya?" Tanya gadis itu berusaha semanis mungkin.

"Sebelum menanyakan orang lain, sebaiknya perkenalkan dulu diri sendiri, itulah sopan santun dan etika yang benar," ucap Sasuke angkuh.(ini mah, air susu dibalas air tuba)

Twin… muncul perempatan jalan di kening masing-masing gadis itu, mereka merasa terhina dengan perkataan Sasuke. Mereka diremehkan seolah tak tahu etika dan sopan santun yang benar.

"Kurasa tanpa kalian jelaskan pun, kami sudah tau kalian siapa!" kata gadis yang memilki tanda lahir dipipinya itu.

'He..hebat… mereka tahu siapa kami, tanpa perlu di beritahu, ternyata mereka memang pendekar terpilih, atau kaminya yang terlalu terkenal?' batin kelima pangeran tersebut kagum sedikit narsis.

"Lalu bisa kau sebutkan?" tantang Sasuke.

"Dilihat saja sudah jelas'kan, 'AYAM'," Sahut gadis itu sambil menekan pada kata ayam.

"Kuntilanak," kata gadis bercepol tersebut sambil melirik Neji.

"Mayat," ujar gadis berambut pink memandang lurus pada Sai.

"Anjing," cetus gadis bermata indigo memandang intens Kiba.

"Dan yang terakhir nanas ya!" lirik gadis berambut pirang sebahu pada Shikamaru.

Kini para pangeran dan (calon)pendekar tersebut berdiri berhadap-hadapan dengan kilatan petir diantara mereka, ditambah background langit kelam dan backsound halilintar. Akan bagaimanakah kelanjutanya?

*TBC*

Balasan review

Sakumaichi

Benarkah? Hehe Arigatou! Review lagi ya!

Clown of itachi-san

Hehehe…terlalu cepat ya ota-san, Tsuka mau buat para pangeran cepat-cepat ketemu sama cewek-ceweknya, makanya nggak sadar alurnya jadi cepat. Tapi udah di perlambat kok! Reviewnya ditunggu loh!

Aih… masih banyak misteri yang harus Tsuka kuak nih. Tapi Tsuka udah nggak punya kepercayaan diri melanjutkan fanfic gaje yang typo(s)nya nggak bisa dihitung ini. Tsuka nggak begitu mengerti masalah EYD, karena itu kalau reviewer bilang cerita ini sama sekali nggak layak untuk dibaca, Tsuka akan hiatus dulu dan belajar EYD dengan benar baru ngelanjutin fic ini(kapan-kapan).

Sasu: oi…oi… fic you are girl or boy udah hiatus, sekarang fic ini juga mau hiatus, pake alasan yang sama lagi.(nggak kretif amat loe)

Tsuka: mau gimana lagi, nggak ada yang baca. Liat thu yang ngeriview aja cumin 2 orang, mereka pasti ngeriview karena mereka emang murah hati.

Sasu: apaan sih, udah gue konyol dalam chapter ini, loe mau hiatus sebelum memperlihatkan kekerenan kami?

Tsuka: EGP! Emang loe mau kerja tanpa gaji, gaji loe itu persenan dari review. Jadi kalo nggak review kalian nggak dapat gaji.

Sasu: jadi kerja kami selama ini nggak bergaji?(Sasuke udah keluarin kusanagi)

Tsuka:*kabur*

Sasu: oi… reader, kalo loe nggak review, kusanagi gue jadi lawan loe!

Tsuka: oi, jangan ngancam-ngancam reader yang terhormat udah dibaca juga syukur.

Sasu: oh di situ loe.*Sasu ngejar Tsuka*

Ya udahlah reader RnR ya!

RnR