HOHOHO, HALOOOOO!!!

Mii:*ngeliat ke cerita "Pantes'an Ruki gx nongol. Ternyata masih kekurung d toilet. Jadi sepi de ."

Kunti:"Kan masih ada akuuuu."

Mii:*ilfeel"Kehadiranmu nggak w harapkan!"

Kunti:"Huwaaaa, kamu ja'at! Aku datengin kamu lo!"

Mii:"Bukannya sekarang lo lagi datengin gue?"

Kunti:"Oh iy yaaa…"

Mii:"Dari pada banyak cincong, langsung aj.."

Mii+Kunti:"RnR YAAA!!!.."

Disclaimer:

Bleach(c) Tite Kubo

Tite Kubo is the beezztt~

My Icy Prince(c) Mii Saginomiya

-Chapter 7-

HELP!

Toushirou membuka lokernya dan mengambil sepatu kets putihnya.

"Hhhh… Tak ku sangka aku akan pulang selarut ini. Latihan tadi bikin capek saja,"kata Toushirou sambil menghela nafasnya. Ya, Toushirou memang belum pulang dari sekolahnya. Ia pulang telat karena tadi ada latihan basket karena bulan depan akan ada perlombaan di kota tetangga. Namanya juga kapten basket.

Toushirou sangat berbakat dalam bidang olah raga. Kita sebut saja, basket, sepak bola, voli, ice skating, dan masih banyak lagi. Tapi entah mengapa ia memilih eskul basket dari pada eskul olah raga yang lain.

Saat ia sudah memakai sepatunya dan akan melangkah keluar sekolah, ia mendengar derap langkah lari seseorang.

"Ah, Shiro – chan!"Teriak orang itu yang ternyata adalah Momo.

"Hinamori? Sedang apa kau di sini?"Tanya Toushirou ketika melihat Momo dengan nafas yang menderu. Dapat dilihat, Momo memakai mantel dan syal. Walaupun sudah musim semi, namun udara sekarang ini masih terasa seperti musim dingin.

"Shiro – chan, apakah kau melihat Kuchiki – san?"Tanya Momo

"Kuchiki? Memangnya ada apa?"Tanya Toushirou dengan nada menyelidik.

"Tadi orang tuanya menelepon rumahku. Katanya, Kuchiki - san belum pulang dari tadi. Jadi aku memutuskannya untuk mencarinya di sekolah."

"Jadi kau pergi ke sekolah ini sendirian, begitu?"Kata Toushirou yang mulai memasang tampang cemas + kesal.

"Maaf.. Tapi begitulah.."

"Hhh… Ya sudah. Kalau begitu ayo kita cari Kuchiki bersama. Asal kau ingat, jangan pergi ke mana pun seenakmu lagi!"Jelas Toushirou yang mulai berbalik badan untuk mencari Rukia. Momo pun mengikutinya dari belakang.


"Shiro – chan! Apa kau menemukannya?"Tanya Momo yang sudah terlihat letih.

"Tidak. Padahal aku sudah memeriksanya bahkan sampai ke gudang."

"Uh.. Bagaimana ini.. Padahal kita sudah setengah jam mencari Kuchiki – san.."Terlihat wajah cemas terukir di wajah Momo.

"Hhh.. Hanya satu tempat yang belum kita coba.. Lantai 3.."Ucap Toushirou yang sedikit menyipitkan matanya. (*Mii tepar)

"Ng.. Tapi aku dengar dari para murid, kalau lantai 3 itu jarang di gunakan.. Mungkin akan terlihat.. Sedikit angker,"Kata Momo yang mulai merasa ketakutan.

"Jangan percaya takhayul seperti itu. Ayo, sekarang kita cek di sana."

Mereka menaiki tangga ke lantai 3. Dan sampailah mereka pada dua buah jalur. Ke kanan, atau ke kiri. Masing – masing jalur berujung pada toilet. Di jalur kiri, dapat terlihat Laboratorium Biologi yang sudah telihat sudah lama tidak pernah di gunakan. Lalu ada Laboratorium Bahasa yang tidak kalah terlihat usangnya karena tidak pernah di gunakan lagi. Karena laboratorium – laboratorium yang di gunakan sekarang berada pada lantai 2. Lalu setelah itu, terdapat toilet di ujungnya.

Sedangkan di jalur kanan, tidak kalah menyeramkannya dengan jalur kiri. Petama kali, akan terlihat Laboratorium Fisika. Menurut rumor yang beredar, dulu ada salah satu siswi SMA yang bunuh diri karena hamil di luar nikah di laboratorium itu. Lalu di sebelahnya ada Laboratorium Kimia. Dapat tercium bau anyir dari ruangan tersebut tanpa di ketahui penyebabnya. Dan tentu saja ujungnya berakhir dengan toilet.

"Hinamori, kau ke kanan dan aku ke kiri,"kata Toushirou tegas.

"Shiro – chan.. Tapi di Laboratorium Fisika katanya pernah ada yang bunuh diri dan.. Di Laboratorium Kimia ada bau anyir yang sangat menyengat.. Aku ta.."Ucapan Momo berhenti ketika Toushirou menaruh jari telunjuknya di depan mulut Momo.

"Kita ke sini untuk mencari Kuchiki. Kalau kau tidak dapat mengalahkan rasa takutmu, untuk apa kau ada di sini?"Ucap Toushirou dengan terus memandang mata hazel Momo.

".. Kau benar.. Aku harus menemukan Kuchiki – san!"

"Bagus.. Sekarang aku mencari dulu di jalur kiri."

Mereka pun berpisah dan melewati jalur yang berbeda. Dapat dilihat, Momo sangat ketakutan memeriksa ruangan – ruangan itu, dan Toushirou terlihat tidak peduli dengan suasana mencekam di sana.

"Hhh.. Aku tidak menemukannya di kedua laboratorium itu. Mungkin di toilet ini?"Kata Toushirou sambil mengamati pintu toilet wanita. Terdapat sesuatu yang janggal di sana.

"Hey.. Mengapa di sana terdapat balok kayu dan gembok? Pasti ada yang tidak beres."

Ia mulai memindahkan balok kayu yang tadinya menghalangi pintu toilet tersebut dan sekarang ia mencoba mendobrak pintu tersebut.

1..

BRAK!

2..

BRAK!

3...

BRAAKK!!

Pintu malang itu pun terbuka. Ia sempat kesulitan untuk melihat isi dari toilet itu. Untungnya saja, tadi ia tidak lupa mengambil senter dari ruang guru.

"Hey Kuchiki, apa kau di si.." Ucapan Toushirou terhenti ketika matanya menangkap suatu sosok. Sosok itu sedang terduduk dan memeluk kedua kakinya. Pertamanya, ia sempat merasa merinding melihat sosok itu. Namun ketika di perhatikan baik – baik…

"Kau, Kuchiki!!"Seru Toushirou sambil berlari menuju sosok yang ternyata adalah Rukia. "Hey, kau baik – baik saja?"

Toushirou dikejutkan dengan sikap Rukia yang dengan tiba – tiba memeluk dirinya tersebut.

"Tolong… Jangan di lepas.. Aku.. Takut.."

Toushirou memandangi Rukia yang saat ini wajahnya tidak terlihat karena tersembunyi di dada bidang Toushirou. Ia dapat merasakan dadanya basah karena terkena air mata Rukia. Entah mengapa ia merasa kalau ia ingin sekali melindungi gadis yang pernah di pergokinya hampir berciuman dengan Ichigo ini. Bahkan, Toushirou sampai memeluk balik Rukia.

Waktu pun terus berjalan. Namun, Rukia saat ini masih berada dalam dekapan Toushirou. Air mata Rukia pun sudah terhenti.

"Sudah tidak takut lagi?"Tanya Toushirou memecah keheningan. Rukia yang tersadar akan tindakannya tersebut segera melepaskan pelukannya tersebut.

"Ah.. gomen,"kata Rukia sambil memalingkan wajahnya yang sudah merah padam.

"Ya sudah kalau begitu. Ayo pergi dari sini,"kata Toushirou yang mulai berdiri dan pergi dari toilet itu.

"Ah, tunggu."

Toushirou berbalik melihat ke arah Rukia. Ia melihat kaki gadis itu bergetar sangat hebat gara – gara ia baru saja terkurung di toilet.

"Hhh.. Merepotkan saja,"kata Toushirou sambil menggendong tubuh Rukia ala bridal style.

"Hi – Hitsugaya! Turunkan aku!"Teriak Rukia yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

"Kau ini.. Mau ku tolong apa tidak?"Sahut Toushirou yang mulai terlihat sedikit sensi.

Mereka pun pergi dari toilet itu masih dengan Rukia di gendong oleh Toushirou. Hingga sampailah mereka di depan sekolah..

Hening di antara mereka. Rukia sudah merasa sangat nyaman dalam dekapan Toushirou dan hampir saja tertidur.

"Sudah. Kau mau sampai kapan terus ku gendong?"Kata Toushirou yang langsung di ikuti oleh loncatan Rukia dari gendongan Toushirou.

"Hitsugaya.. Arigatou.."

"Ya. Kau tidak apa – apa kan?"

"Ya. Hitsugaya, bagaimana kau menemukanku?"Tanya Rukia.

"Tadi hanya toilet itu yang belum aku cek. Namun aku merasa ada sesuatu yang ganjil di toilet sana karena ada balok kayu yang menghalangi pintunya dan pintu tersebut di gembok. Pasti ada yang sengaja mengurungmu di sana,"jelas Toushirou sambil mengerutkan alisnya.

"Dan kau tahu dari mana kalau aku sedang terkurung di sana?"

"Tadi aku ada latihan basket, jadi aku pulang telat. Namun tiba – tiba, Hinamori datang dan bilang padaku bahwa kau menghilang. Jadi aku juga ikut mencarimu,"jelas Toushirou panjang lebar.

"Kalau begitu.. Di mana Hinamori?"Kata Rukia. Toushirou membelalakkan matanya seperti baru menyadari sesuatu.

"AH, HINAMORI!"Teriak Toushirou yang langsung berlari ke dalam sekolah lagi.


Esok paginya, Rukia berangkat ke sekolahnya seperti biasa. Ketika ia memasukki kelasnya, ia di hadapkan oleh wajah cemas teman – temannya.

"Oi Kuchiki. Ku dengar kemarin kau terkurung di toilet lantai 3?"Kata Tatsuki.

"Kuchiki – san.. Maafkan aku. Gara – gara aku, kau jadi.."Kata Orihime yang mulai memasang wajah bersalah.

"Ah, ini bukan salahmu kok, Inoue. Dan, ya begitulah, Arisawa."

"Untung saja kemarin Shiro – chan menemukanmu. Kalau tidak, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi,"Kata Momo di tengah – tengah perbincangan.

"Shiro – chan? Siapa itu?"Tanya Tatsuki menyipitkan sebelah matanya.

"Dia itu temanku dari kecil. Nama lengkapnya Hitsugaya Toushirou,"jelas Momo.

"Ooohhh, Hitsugaya maksudmu?"Kata Tatsuki sambil ber 'oh' ria.

"Kau mengenalnya?"Tanya Rukia yang di sambut anggukan dari Tatsuki.

"Tentu aku mengenalnya. Dia kan bintang olah raga di sini. Semua olah raga dapat ia lakukan dengan sangat baik. Tetapi ia malah memilih eskul basket. Baru hari pertama masuk eskul saja sudah terpilih menjadi kapten,"kata Tatsuki yang membuat Rukia cengo.

'Anak sependek itu.. Bisa menjadi kapten basket? Aku tak bisa mempercayainya.."Ucap Rukia dalam hati.

Tanpa mereka sadari, dari depan pintu ruang kelas mereka, ada seseorang yang dari tadi mendengar perbincangan mereka.

"Hitsugaya.. Toushirou.."


"Kau membawa apa hari ini?"Tanya Toushirou pada Rukia. Yak, sekarang mereka berada di atap sekolah dan makan bersama seperti biasanya. Setelah beberapa hari mereka mogok bicara, baru kemarin mereka bicara bersama lagi.

"Aku hari ini membawa kue kering. Hehe, ini bisa di bilang balas budi karena kemarin kau telah menyelamatkanku,"ucap Rukia dengan senyuman terukir di wajahnya.

"Kau ini terlalu berlebihan. Tapi, kuhargai usahamu." Toushirou mencomot 1 kue kering dari bungkus kue milik Rukia. Ia memakannya dan berkata..

"Ini bukan kue buatanmu.. Iya kan?"

"Ha.. Apa yang kau katakan?"Kata Rukia yang mulai terlihat bingung menjawab pertanyaan Toushirou.

"Aku yakin ini bukan kue buatanmu."

"Kau tahu dari mana??"

"Dapat terlihat jelas di wajahmu kalau kau berbohong. Dan lagi pula.. Aku tidak yakin kau bisa membuat kue se enak ini,"kata Toushirou sambil melihat ke arah kue kering tersebut.

"Enak saja! Aku bisa juga membuat kue yang seperti itu!"Ucap Rukia kesal.

"Akhirnya kau mengaku juga kalau kue ini bukan buatanmu.."

"Memang bukan aku yang membuatnya. Tetapi.. Kakakku…"Ucap Rukia yang mulai tertunduk malu.

"Sudah kuduga."

"Hitsugaya.."

"Ng?"

"Aku ingin minta maaf.. Soal yang waktu itu, aku benar – benar tidak tahu kalau ibumu.."

"Yang soal itu, lupakan saja,"Kata Toushirou memutus kalimat Rukia.

"Dan soal itu, kau tahu dari Hinamori?"Kata Toushirou lagi.

Rukia menganggukkan kepalanya.

"Hhh.. Aku memang labil pada hari itu. Setiap tahun selalu begitu. Gara – gara aku, ibuku meninggal.."Kata Toushirou. Dari air mukanya, dapat terlihat bahwa ia sangat sedih.

"Hitsugaya.."

"Dan saat keadaanku yang seperti itu, Hinamori lah yang selalu datang untuk menghiburku. Walaupun setiap kali ia mencoba untuk menghiburku, aku selalu membalasnya dengan kemarahanku."

Rukia memandang serius wajah Toushirou, dan sangat serius mendengarkan cerita Toushirou tersebut.

"Sewaktu aku kecil, tidak ada yang mau berteman bersamaku.. Hanya karena rambutku yang putih dan mata emeraldku yang kata mereka terlihat sangat menyeramkan. Tapi hanya Hinamori.. Hanya dia yang selalu ada untukku. Di saat semuanya menjauhiku, hanya dialah satu – satunya teman bagiku."

"Lalu, kau begitu menyayangi Hinamori?"Tanya Rukia.

"Bisa di bilang seperti itu."

"Lalu, apakah kau menyukainya?"Kata Rukia dengan berhati – hati.

"Entahlah. Pokoknya, aku sangat menyayanginya dan sangat ingin melindunginya. Bagi siapapun yang berani menyakitinya, tak segan – segan akan ku bunuh mereka."

Rukia terdiam mendengar perkataan Toushirou tadi. Entah mengapa hatinya sakit mendengar semua itu.

"Ah, sudahlah. Kenapa aku jadi bercerita panjang lebar seperti ini?"Kata Toushirou yang mulai bangkit dari duduknya dan menuju pintu keluar dari atap tersebut.

"Ah, yang soal kue itu, kalau bukan kau sendiri yang membuatnya, aku tidak akan mau memakan kue itu,"kata Toushirou yang tersenyum penuh arti pada Rukia, lalu segera pergi dari tempat itu dengan 'cool'nya.

"Ukh.. Mengapa aku jadi berdebar begini? Dan.. Mengapa tadi aku merasa sakit? Jangan – jangan… Aku menyukainya??! Kami – sama! Tidak mungkin kan aku menyukainya? Tapi apa arti dari perasaanku tadi? Perasaan senang dan.. Sakit?"


"Tadaimaaaa,"Ucap Rukia ketika memasukki rumahnya. "Ng? Tidak ada orang di sini? Dan, hey, apa itu?" Pandangan Rukia tertuju pada sebuah surat yang terletak di atas meja makan. Ia membuka surat itu perlahan dan matanya memandang surat itu malas.

'Rukia, aku dan Byakuya – sama pergi ke luar kota selama kurang lebih 3 hari. Maaf kalau kami baru memberi tahunya sekarang. Tolong jaga rumah baik – baik ya.'

Rukia menghela nafas ketika membaca surat itu. Memang sudah menjadi hal yang rutin kalau Hisana dan Byakuya pergi ke luar kota. Seperti bulan madu saja.

Rukia segera mandi dan tiduran di sofa di ruang tamunya tersebut sambil memakan keripik kentang kesukaannya. Ia mengambil majalah di dekatnya tersebut dan iseng – iseng membolak – balik halaman majalah tersebut. Tiba – tiba, terdengar suara rem motor yang sangat berisik dari depan rumahnya. Rukia segera beranjak bangun dan melihat ke depan.

"Ada apa ini?"Gumam Rukia. Ia melihat orang yang sepertinya korban tabrak lari dari motor yang sudah pergi begitu saja.

"Hey, kau kan… Hitsugaya?!"Teriak Rukia ketika melihat laki - laki berpostur pendek itu(*d tendang Hitsu).

"Kau tidak apa - apa?"Kata Rukia dengan paniknya.

"Aku tidak apa - apa dan jangan terlalu mencemaskanku seperti itu. Dan apa yang kau lakukan di sini, Kuchiki?"

"Apa yang kau bicarakan? Aku mendengar suara rem motor yang sangat berisik di depan rumahku. Jadi apa aku salah kalau aku melihatnya?"

Toushirou termenung. Ia memperhatikan rumah Rukia yang lebih pantas di sebut 'istana' tersebut.

"Ayo masuk, biar ku obati,"kata Rukia sambil mengulurkan tangan kanannya pada Toushirou.

"Sudahlah, hanya luka kecil. Nanti juga hilang sendiri."Toushirou mulai berdiri dan pada saat itu juga, keseimbangannya mulai kurang. Untung saja Rukia segera menangkapnya.

"Dasar keras kepala. Nanti kalau di biarkan bisa infeksi! Dan lihat dirimu sekarang, berdiri saja sudah sulit!"Oceh Rukia sambil berusaha membantu Toushirou untuk masuk ke rumahnya. Toushirou sendiri hanya bisa menekuk mulutnya ke bawah.

Ketika Toushirou masuk ke rumah Rukia, hanya 1 ekspresi yang di perlihatkan Toushirou. Cengo.

"Hei Hitsugaya, kenapa kau malah bengong? Ayo sini kau duduk dulu di sofa."Kata Rukia seraya menghantarkan Toushirou di sofa empuk di ruang tamunya.

"Sebentar, aku ambilkan kotak P3K dulu. Kau diam di sini dan jangan pergi satu senti pun!"Ancam Rukia sambil berlari kecil menuju tempat penyimpanan kotak P3K. Toushirou tersenyum kecut menengar ancaman Rukia. Matanya menelusuri semua pelosok - pelosok yang ada di rumah itu. Toushirou sangat mengagumi rumah Rukia. Sngat bersih dan tertata rapi. Tak lama kemudia, Rukia datang membawa kotak P3K beserta air putih.

"Sini, perlihatkan lututmu!"Perintah Rukia."Astaga, lukanya terlalu lebar! Hrus segera di obati!"Rukia dengan cekatan mengambil kapas, lalu membasahi kapas tersebut dengan air dan membersihkan darah dan kuman pada lutut Toushirou. Begitu juga dengan sikut Toushirou. Lalu di tempelkannya dengan plester 'Chappy'.

".. Apakah aku harus memakai plester norak seperti ini? Hey, ada plester yang lain tidak?"Tanya Toushirou yang membuat Rukia jengkel.

"Apa yang kau sebut dengan norak?! Ini plester kesayanganku, dan jangan bilang ini norak!"Celoteh Rukia kesal.

"Sumimasen, ini teh untuk anda, Kuchiki - sama dan Hitsugaya - sama,"Kata pelayan Rukia yang bernama Nemu.

"Ya, terima kasih, Nemu."Kata Rukia singkat pada maidnya itu. Nemu pun meninggalkan mereka berdua.

"Hei, kau tahu dari mana kalau aku suka dengan teh hijau?"Kata Toushirou memulai pembicaraan.

"Aku tidak tahu. Semua tamu yang datang ke sini pasti selalu di jamu dengan teh hijau."

Hening...

"Hey, apakah dapurnya terpakai?"Tanya Toushirou membuka pembicaraan.

"Tidak. Kau mau apa?"Tanya Rukia.

"Ah, antarkan aku ke sana."


"Kita mau apa di sini, Hitsugaya?"Tanya Rukia kebingungan karena di suruh mengantarkan Toushirou ke dapur.

"Hm.. Ambilkan aku telur, tepung,gula, garam, pokoknya semua peralatan untuk membuat kue,"perintah Toushirou ke Rukia.

"Jangan bilang kalau kau.."

"Kenapa? Aku ingin membuat kue,"Kata Toushirou cuek.

"Tapi, memangnya cowok sepertimu bisa memasak?"Tanya Rukia meragukan Toushirou.

"Tentu saja. Sejak ibuku meninggal, aku yang selalu memasak di rumahku. Memangnya kau."

"Apa kau bilang?!!!"

"Sudah, cepat ambilkan apa yang aku perintahkan!"

Rukia pun segera mengambil semua bumbu - bumbu dapur dan peralatan lainnya untuk membuat kue dengan wajah cemberut.

"Nih!"Kata Rukia jutek.

"Nah, sekarang, kau taruh setengah tepung dari bungkusnya di wadah ini."Kata Toushirou sambil memegang sebuah wadah yang cukup besar. Rukia menuangkannya dengan sembarang. Jadi, tepung - tepung tersebut menyebabkan Rukia dan Toushirou terbatuk - batuk sesaat.

"Buuhhh.. Bwahahaha! Lihat wajahmu Hitsugaya! Wajahmu sama sepertu rambutmu!"Suara tawa Rukia terdengar menggelegar karena melihat wajah Toushirou yang udah kayak geisha.

"Jangan kau pikir wajahmu juga tidak seperti setan, nona Kuchiki,"sindir Toushirou sambil tersenyum. Rukia pun blush seketika.

'Ba - baka! Kenapa kau tersenyum padaku seperti itu? Apa kau tidak melihat wajahku yang sudah merah padam seperti ini? Uhh..' Di saat Rukia masih berada di dalam lamunannya tersebut, ia dapat merasakan sesuatu menyentuh pipinya.

"Hahaha, jangan bengong terus! Lihat wajahmu sekarang!"Toushirou mulai tertawa apalagi melihat ekspresi kesal Rukia. Ternyata, tadi Toushirou mencolek pipi Rukia dengan tepung untuk membuat kue tersebut. Jadilah Wajah Rukia seperti kucing garong di deket rumah Mii.

"HITSUGAYA!!!!"Teriak Rukia.

Mereka pun terus melakukan aksi colek - mecolek tepung, lempar - melempar telur, bahkan lempar - melempar peralatan dapur.


"Hitsugaya... Aku capek.."Terdengar suara Rukia yang sedang duduk di sofa di ruang tamunya. Bajunya sudah sangat kotor, bahkan bau amis karena terkena lemparan telur dari Toushirou. Toushirou sendiri masih terlihat cukup bersih. Hanya saja, wajahnya sudah penuh dengan tepung. Dan ia terbebas dari lemparan telur Rukia, karena Toushirou selalu menangkap dengan tepat lemparan - lemparan telur dari Rukia tersebut.

"Sudah, sana kau mandi dulu. Lagi pula kuenya belum matang,"Kata Toushirou sambil melirik ke arah oven.

"Ya sudah. Aku mau mandi dulu. Dan kau jangan kabur dulu! Aku harus meminta pertanggung jawaban darimu karena tubuhku sudah bau amis seperti ini!"Kata Rukia sambil cemberut dan segera berlari ke kamar mandinya.

"Yee.. Siapa juga yang mulai perang telurnya,"sahut Toushirou ketika Rukia sudah naik ke lantai 2.


Kita skip saja adegan mandinya karena fic ini rate'a bukan M~

"Hitsugaya, kuenya sudah matang?"Tanya Rukia yang sedang menuruni tangganya dengan rambutnya yang masih basah.

"Sepertinya sebentar lagi."Sahut Toushirou yang wajahnya sudah bersih dari tepung.

"Aku penasaran ingin mencoba kue buatan kita."

"Kita? Kau hanya mengolesi wajahku dengan tepung dan melemparku dengan telur. Apakah itu yang kau maksud dengan 'kita'?"Kata Hitsugaya.

"Hehehe."

"Hmm, sepertinya sudah matang."Toushirou mengeluarkan kue tersebut dari dalam oven dengan hati - hati. Dapat tercium aroma kue yang sangat menggoda selera ketika baru saja keluar dari oven.

"Hmm, ku akui, baunya memang enak sekali. Aku ingin memakannya!"Kata Rukia yang mulai menyambar satu dari antara banyak kue tersebut.

"Huwaaa!! Panas!!"Rukia terlihat kesakitan karena tangan kanannya baru saja mencomot kue yang baru matang dari oven tersebut.

"Dasar ceroboh."Tanpa di duga, Toushirou menarik jari Rukia yang terlihat kepanasan itu dan meniupinya. Rukia blush seketika.

"Dasar, padahal sudah tahu baru matang dari oven, tapi malah langsung mencomotnya begitu saja,"Kata Toushirou yang memandang Rukia sebagai 'anak - anak'.

"Ah, yang penting sekarang jariku!"

"Masih terasa perih?"Tanya Toushirou.

"Masih.. Sedikit. Memangnya kau mau a..." Ucapan Rukia terhenti ketika Toushirou memasukkan jari Rukia tersebut ke mulutnya. Rukia dapat merasakan kalau jarinya di hisap oleh Toushirou. Rukia dapat merasakan juga kalau jarinya tersebut bersentuhan dengan lidah Toushirou. Tak dapat di sembunyikan lagi wajah Rukia yang sudah ngeblush dengan amat sangat.

"Masih perih?"

"Ti - tidak!"Ucap Rukia karena tidak tahan lagi dengan wajahnya yang sudah merah padam.

Toushirou mengambil salah satu kue tersebut dengan hati - hati. Lalu meniupi kue tersebut sampai ia merasa ia sudah cukup meniupi kue tersebut, dan di suapkannya kue tersebut pada Rukia. Rukia terkejut, dan kali ini tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti merah darah karena saking banyaknya darah yang berada pada wajah Rukia. Toushirou yang melihatnya tersenyum menggoda (Mii langsung mati di tempat).

"O.. Oishi.."Gumam Rukia ketika merasakan kue buatan Toushirou tersebut.

"Benarkah? Terima kasih, Kuchiki,"Kata Toushirou sambil tersenyum ke arah Rukia. Tak dapat lagi di bendung merahnya wajah Rukia. Rasanya, wajahnya ingin sekali meletus sekarang juga.

"Kenapa wajahmu memerah seperti itu, Kuchiki?"Tanya Toushirou sambil memandang mata violet Rukia.

"Tidak, tidak ada apa - apa! Dan warna asli wajahku memang seperti ini! Jadi tidak ada yang salah dengan wajahku!" Bantah Rukia. Tapi semakin ia membantah, wajah merahnya tersebut semakin terlihat.

"Dasar kau ini. Sampai kapan kau mau terus berbohong? Sudah ku bilang kan, aku bisa dengan jelas membaca wajahmu,"Kata Toushirou yang mulai mendekatkan wajahnya ke Rukia. Rukia menutup matanya karena tidak tahan melihat wajah Toushirou lagi. Takut kalau wajahnya akan meledak seketika.

Apa yang mau di lakukan Toushirou ke Rukia? (jangan mikir yang macem - macem ya!) Silahkan tunggu di chap mendatang!!

TO BE CONTINUED

***

OMAKE!

Ketinggalan

Kita kembali ke scene saat Momo di tinggal oleh Toushirou.

"Haaa.. Di sini sungguh sangat menyeramkan.."

Ia melongok ke dalam ruang biologi.

"Sepertinya di sini tidak ada apa – apa.."Kata Momo lalu pergi dari ruang itu.

"Hey!"Kata seseorang yang tidak salah dan tidak bukan lagi adalah...

"HUWA! KAU… KUNTIL ANAK YANG KEMARIN?!!"Jerit Momo histeris.

"Eh, nggak usah masang tampang serem kayak gitu. Eh, liat anak laki – laki yang ubanan itu nggak?"Kata sang kuntil anak tersebut.

"M- maksudmu.. Shiro – chan?"Kata Momo ketakutan.

"Ah, ya pokoknya itulah! Lihat tidak?"

"Ta, tadi ada di… sana.."

"Oh, thank you!" Lalu sang kuntil anak pergi entah ke mana.

"Eh, ada tukang bakso yang kemaren! Malem mingguan yuk bang!"Kata sang kuntil anak yang mulai kegenitan. Tidak lupa, kuntil anak tersebut memakai kaca mata hitam yang selalu di bawanya setiap saat.

"Eh, ada embak yang kemarin. Mau beli baksonya berapa piring, mbak?"

Kata tukang bakso tersebut yang ternyata adalah.. Ikkaku..

"Ehm, aku pesen kepala mas aja deh! Kan sama – sama bulet ini,"kata kuntil anak kecentilan.

Mereka berdua pun terus bermesraan sedangkan Momo depresi karena di tinggal sendirian.

***

Ruki:"Akhirnya w bisa keluar juga.."

Mii:"Gimana pengalamannya di toilet gelap – gelapan? Seru nggak tuh?"

Ruki:*ngasih death glare (narik – narik baju Mii, terus d sekap d toilet sambil gelap – gelapan) "Nah, dah ngerasain kan lo?! Karena si author strez 1 in lagi menikmati pengalamannya di kurung d toilet gelap – gelapan, kita baca – baca ripiu!

Pertama dari Kireina_toushirou.

Mii:"Huwa.. Mii bakalan nyoba panjangin lagi de. Klo yang chap ini masih kependekan juga ga?? Dan… BENARKAH? (*Mata berkedap – kedip) Arigatou, Kire – chan! (*meluk Kire – chan).Soal adegan kissu HitsuRuki, nanti bakalan nongol kok ^^"

Ruki:"Lho? Kok lo nongol di sini? Bukannya tadi lo gue kurung?"

Mii:"Pintunya kagak lo kunci."

Ruki:*ngegeplak kepala sendiri

Mii:"Yang ke-2 dari Zheone Quin. Ohohoho, dah tau kan siapa cwo ckep'a ntu? XD. Lalu yang ke-3 dari Kushi N Ai. Hwa, tebakannya btul desu .. Hmm, klo yang ini masih kependekan juga nggak?"

Momo:"Uh.. Aku takut.."

Mii:"Ya elah, ada apa lagi nih"

Momo:"Somebody, helep me!"

Mii:"Eh, eh, syuting'a dah slese. Nih lagi sesi baca ripiu."

Momo:"Oh, gomen (*nge blush). Yang selanjutnya biar aku yang bacain y! Yg ke-4 dari D31-ryuusei Hakuryuu. Shiro – chan cemburu? Cemburu pada siapa?"

Mii:"Biar Mii aja yang jawab. Ya begitulah ^^. Hoho, ripiu panjang – panjang juga nggak apa – apa. Segala jenis ripiu Mii terima dengan tangan terbuka. Dan soal Hitsu sayang sama (suara di kecilkan) manusia berkonde itu, itu tidak lebih dari sayang kok, HAHAHA.. Ya begitula~ Tahukah siapa yang saya maksud dengan 'Lolly' dan 'Menoly' it?"

Hitsu:"Lalu dari Hiru-chan. Wah, w dapet giliran baca ripiu author ini lagi. Nani? Adegan itu mau di lanjutkan atau tidaknya adalah urusan author satu ini. Lagi pula, untuk apa w cemburu?"

Mii:"Wah, jangan dingin gitu dong sama ripiuer fic Mii. Nanti pada kabur lagi. Klo pada kabur mao ganti rugi?"

Hitsu:".. Urusai." *pergi

Mii:"Haahh.. Dasar tuh anak satu. Soal adegan kissu Ichi ma Ruki, gomen y nggak Mii lnjutin ^_^. Soal'a mengingat fic in masi HitsuRuki. Nanti Mii akan mencoba bikin fic IchiRuki. Tapi ide'a aja masih d otak ==" .Lalu dari Aya-na Byakkun. Haha, padahal Mii pikir omake chap yg kmaren yg paling ane. Ternyata omake yang paling ane yg chap skarang ==". HitsuRuki? di banyakin? Akan Mii kabulkan karena fic ini masih HitsuRuki." *ktawa gaje.

Ruki:"Yang terakhir.. Bused, banyak bener. Ada 5 ripiu dari 1 orng yg sama!"

Mii:"Wew, ayo bacain!"

Ruki:"Dari 'Ruki-chan' pipy. "

Mii:"Mii bahas yang terakhir – terakhirnya aja ya (takut kebanyakan sesi baca ripu'a, hehe ^^v). Hmm, banyak yang ngerasa chap kmaren pendek y? Gimana dengan chap skarang? Hohoho, jangan nodong Mii pake sodet."

Ruki:"Hehe, yang bener tuh Sode no Shirayuki! Bukan Sodet! Gorok dia aja, 'Ruki!"

Mii:*kabur ke tong sampah terdekat.

Ruki:"Memang benar, sampah pasti kembali ke sampah lagi.."

Mii:"Brisik! Dan soal RnR'a, psti bakal Mii RnR de ^^. Asal 'Ruki juga RnR chap yg in *D cekek 'Ruki.

P.S.:Klo masih merasa kependekan, bisa langsung protes lwat ripiu. Okok? Soal'a Mii ngetik'a buru – buru, jadi nggak ada waktu. Mana bentar lagi liburan ada banyak tugas. Ada 8 tugas! Gile dah! Liburan ato liburan coba! O_O

Ok, sekian sesi baca ripiu kali ini! Mii sangat amat berterima kasih kepada orang – orang yang sudah meripiu fic Mii kemaren . Mii juga sangat memohon kepada para reader dan author sekalian, hanya ini satu – satu'a permintaan Mii sebelum Mii pergi… RIPIU YAAAA!