Mii:"GOMEN PARA READER !!! MII TERPAKSA BARU APDET SEKARANG KARENA ADANYA BERBAGAI HAMBATAN DAN RINTANGAN YANG MENGHALANGI MI DALAM MENULIS FIC INI!! "
Ruki:"Ala, bilang aja lu kagak ada ide :p"
Mii:"Diem lu! *tapi iya juga sih, hehe* Soalnya, waktu itu kamar Mii lagi di cat, jadi semuanya pada di keluarin, otomatis kabel inet juga di putus. Truz, ternyata ngecatnya lama banget! Ampe jamuran Mii nungguinnya =_=. Truz, abis Mii pasang lagi kompinya, inet'a masi blom nyambung.. Besoknya lagi pas udah nyambung, monitor Mii rusak.. Abis dah bener, Mii lagi buntung ide… Ribet deh ya.. *garuk2 kepala* "
Ruki:"Dari pada readers pada kabur ngebaca keluh kesah elo kayak gitu, mendingan to the point aja!"
Mii:"Okok."
Mii+Ruki:"RnR yaaa."
Disclaimer :
Bleach © Tite Kubo
Bleach punya Mii!!! *di timpuk sendal*
My Icy Prince © Mii Saginomiya
Chapter 9
Why
Ichigo's POV
Aku pulang dari sekolahku dengan tampang yang datar. Hari ini tidak ada yang spesial bagiku. Ketika aku membuka pintu rumahku…
"ICHIGOOO!!!"
Teriak seseorang yang mungkin dapat kalian duga. Ia ayahku, Kurosaki Isshin. Ia berlari ke arahku dan hendak menendangku dengan tampangnya yang bisa membuat orang bolak-balik ke kamar mandi selama 7 kali.
'BUAK!'
Belum sempat baka oya-jii itu menendangku, aku meninjunya tepat pada wajahnya.
"Bagus Ichigo! Kau memang anakku! Keep your spirit like that!" Kata ayahku yang masih tepar di lantai sambil mengacungkan jempol padaku.
"Aku sedang tidak ingin berdebat dulu denganmu! Jadi berhentilah menggangguku." Aku langsung pergi menuju kamarku dan membiarkan orang tua gila itu terkapar di lantai.
"Tunggu Ichigo! Ada yang ingin ku bicarakan padamu!" Kata ayahku yang langsung bangun dan hendak mencegatku.
"Ada apa baka oya-jii? Sudah kubilang, aku tidak mau berdebat denganmu dulu!"Kataku sambil berusaha melepaskan kakiku dari cengkeraman tangannya tersebut.
"Seperti itukah sifatmu pada ayahmu sendiri? Oh Masaki, anak kita telah menjadi anak yang tidak berbakti pada orang tua! Maafkan aku, Masaki, karena telah gagal membesarkannya,"kata baka oya-jii itu sambil berlari ke dinding terdekat sambil memasang poster ibu yang berukuran extra besar itu ke dinding dan memeluknya sambil menangis gaje.
"Hahh.. Masa bodo,"kataku yang langsung melanjutkan perjalananku menuju kamarku yang hanya brejarak 3 meter lagi.
"Ah, Ichigo! Kali ini aku serius!" Kulihat, orang tua sinting itu mencabut kembali poster ibu dan menyimpannya pada kantung bajunya. Ichigo, tadi aku baru bertemu dengan teman lama ibumu, dan sesuai janjinya dengan ibumu sewaktu masih hidup, kau akan bertunangan dengan adik teman ibumu tersebut."
Aku membelalakkan mataku tak percaya dengan ucapan ayahku. Apa tadi katanya? Aku akan bertunangan dengan orang yang tidak ku ketahui asal-usulnya!
"Kau gila? Aku tidak mau di tunangkan dengan perempuan yang tidak jelas identitasnya! Bilang kepada teman ibu tersebut, aku tidak menginginkan acara pertunangan ini!" Ku lihat ayahku mengeluarkan sebuah foto dari kantung bajunya. Saat ini aku bertanya, apakah kantong baju ayah tersebut kantong yang sejenis dengan kantong doraemon? Karena dapat memuat poster yang sangat besar dan sebuah foto? Hey, sepertinya aku mengenali orang dari foto tersebut!
"Rukia…"Ucapku sambil melihat ke arah foto Rukia yang sedang tersenyum lebar memakai baju terusan berwarna biru langit.
"Ichigo, kau mengenalnya?"
"Ya, dia teman sekelasku. Dari mana kau mendapatkan fotonya?"
"Ya ampun!!! Ternyata mereka sudah saling kenal!! Masaki, apakah ini keajaiban cinta??" Lagi-lagi si jenggot itu memasang poster ibu dan menciuminya. Aku benar-benar menyesal, kenapa aku di lahirkan dengan memiliki ayah yang tidak waras seperti ini!
"Apa maksudmu?"Tanyaku ketus.
"Kau jangan ketus seperti itu Ichigo~ Orang yang akan di tunangkan denganmu ini adalah dia, Kuchiki Rukia! Tak kusangka, kau dan Rukia-chan sudah saling mengenal!~"
Aku membelalakkan mataku dan segera merebut foto Rukia dari genggaman ayahku. Ku lihat dengan tajam sekali lagi foto Rukia yang sedang tersenyum itu.
"Ru..kia…"
End of Ichigo's POV
Hari ini Rukia pergi ke sekolahnya dengan wajah yang di hiasi dengan senyuman. Bagaimana tidak senang, kalau cintanya terbalas sudah? Ketika ia sudah turun dari mobil Byakuya, ia menyebrangi lautan orang-orang yang mengerumuni mobil Byakuya tersebut. Ia menuju kelasnya dan menaruh tasnya di bangkunya dengan senyum yang merekah di wajah manisnya tersebut.
"Ohayou, Kuchiki-san,"sapa Orihime yang baru juga sampai ke kelas.
"Ogayou, Inoue" Balas Rukia dengan senyum yang masih menempel pada wajahnya (*ketuleran Gin kali nih).
"Kuchiki-san, sepertinya hari ini kau sangat senang sekali ya?"Tanya Orihime sambil mengamati wajah Rukia yang sangat terang benderang.
"Ya begitulah, Inoue,"kata Rukia dengan (lagi-lagi) senyuman.
"Ah, ternyata kau ada di sini Kuchiki-san! Aku mencarimu dari tadi."Kata Momo yang langsung menerobos masuk ke dalam kelas Rukia.
"Ada apa mencariku, Hinamori?"
"Tadi aku bertemu dengan Shiro-chan. Ia memintamu untuk menemuinya di atap sekolah. Setelah ku cari-cari, ternyata kau ada di sini,"jelas Momo.
'Dia mencariku? Untuk apa?' pertanyaan tersebut mengelilingi kepala Rukia.
"Baiklah kalau begitu, aku ke sana dulu. Terima kasih ya, Hinamori."Rukia segera berlari menuju ke atap sekolah dengan degup jantung yang tidak menentu.
'O Kami-sama.. Aku harus bersikap seperti apa ketika bertemu dengannya?'Kata Rukia dalam hati ketika sudah tepat berada di depan pintu menuju atap sekolah. Ia membuka perlahan pintu tersebut, dan ia dapat melihat, laki-laki yang di sukainya tersebut sedang membelakangi dirinya.
"Ng, ohayou, Hitsugaya. Ada apa kau memanggilku?"Tanya Rukia dengan jantung yang sudah mendrible.
"Kuchiki, ada yang ingin kubicarakan padamu,"kata Toushirou sambil berbalik menghadap Rukia.
"Mau membicarakan apa?"Tanya Rukia yang kini jantungnya sudah mendrible lebih cepat.
"Aku ingin, kau melupakan saja kejadian kemarin itu. Dan aku tidak ingin kau memberitahukannya kepada siapapun."Rukia membeku di tempat mendengar pernyataan Toushirou. Entah mengapa, ia merasakan sakit. Jantungnya yang dari tadi mendrible pun seperti melemah seakan tidak punya tenaga untuk berdetak lagi.
"A.. Apa? Memangnya kenapa?"Tanya Rukia memandang ke arah Toushirou. Yang di pandang tidak membalas pandangan tersebut.
"Yang kemarin itu tidak seperti diriku yang asli. Kemarin aku sempat rusak sampai-sampai berkata dan melakukan hal gila seperti itu. Dan, apakah kau menginginkan hal ini tersebar ke seluruh sekolah? Kalau seorang Hitsugaya Toushirou dan Kuchiki Rukia saling menyukai? Kau gila."
Rukia mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Ia tidak dapat lagi menahan air mata yang sudah berada di pelupuk matanya.
BUK!
Tinjuan dari tangan kanan Rukia, telak mengenai pipi sebelah kiri Toushirou. Dapat dilihat, darah segar keluar dari sudut kiri bibir Toushirou. Toushirou yang kaget pun hanya bisa membelalakkan matanya.
"Hitsugaya BAKA!"Teriak Rukia dengan air mata mengalir deras dari mata violetnya yang indah itu. Rukia pun berlari keluar dari atap sekolah tersebut.
"Gomen, Rukia.." Kata Toushirou melihat kepergian Rukia sambil menyeka darah segar yang mengalir dari bibirnya tersebut.
'Hitsugaya baka! Apa dia tidak mengerti perasaanku?'Kata Rukia dalam hati sambil berusaha memberhentikan air matanya yang mengalir sangat deras tersebut.
BRAK
"Aduh.. Ah, gomen Rukia! Dai…"Ucapan seseorang yang menabrak Rukia tersebut yang ternyata adalah Ichigo tersebut berhenti ketika melihat Rukia yang tengah menangis itu.
"Rukia? Kenapa kau menangis?"Kata Ichigo sambil memandang Rukia dengan tatapan penuh rasa simpatik. Rukia langsung bangkit berdiri dan berlari sekencang-kencangnya. "Oi Rukia! Tunggu!!!" Teriak Ichigo yang ikut berlari menyusul Rukia di iringi oleh tatapan aneh para murid.
"Rukia! Kenapa kau berlari? Oi Rukia!!!"Ichigo berhasil menahan Rukia pada tikungan dekat toilet(yang di jamin sepi) dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Rukia.
"Ada apa denganmu, Rukia? Kalau ada masalah, kau bisa langsung bercerita padaku. Aku akan selalu mendengarkanmu,"Ucap Ichigo lembut pada telinga Rukia. Rukia yang tidak tahu harus bagaimana lagi pun, berbalik dan memeluk Ichigo sambil menangis sekencang-sekencangnya pada pelukan Ichigo. Ichigo yang melihat Rukia, membelai lembut rambut hitam Rukia.
"Hiks, hiks, ah, arigatou Ichigo. Sekarang aku merasa lebih tenang,"kata Rukia sambil menengadahkan wajahnya pada wajah Ichigo.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang, kau mau menceritakan apa yang menjadi masalahmu?"
"Ehm.."Rukia menggeleng lemas. Mungkin hal ini adalah sesuatu yang bersifat pribadi baginya.
"Hnn, ya sudah. Kalau kau sudah siap menceritakannya, kau bisa langsung bercerita padaku,"Kata Ichigo dengan senyuman pada Rukia. Ichigo segera kembali ke kelasnya sambil menggandeng tangan Rukia, mengingat pertama adalah pelajaran Aizen-sensei. Kalau telat masuk, mungkin mereka bisa saja di suruh berjemur di lapangan bola.
Rukia membereskan semua perlengkapan sekolahnya dan memasukkannya pada tas tentengnya tersebut. Ia berjalan lesu keluar dari sekolahnya. Ketika keluar, ia dapat melihat Toushirou berpapasan dengannya. Rukia mengalihkan pandangannya dan terus berjalan meninggalkan Toushirou yang menundukkan kepalanya.
Setelah berjalan cukup jauh dari sekolahnya, tepatnya sekarang ia berada di pusat kota, Rukia berlari sekencang-kencangnya menuju rumahnya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sana. Tanpa di sadari, air mata mengalir menuruni wajahnya. Ketika ingin menyebrang jalan, ia tersandung oleh sebuah batu bata yang menyebabkannya terjatuh di tengah jalan raya. Ketika Rukia berusaha berdiri dan berlari lagi, ia dapat melihat di sisi sebelah kanannya, ada truk yang melaju dengan sangat kecepatan tinggi dan akan menabrak tubuhnya. Tubuh Rukia terasa kaku dan tidak bisa di gerakkan. Matanya pun menunjukkan kekosongan bahwa sebentar lagi, ia akan berhadapan dengan maut.
"RUKIAA!!!"
Rukia merasakan ada seseorang yang mendorong tubuhnya. Ia pun terjatuh dan merasa sedikit sakit. Namun matanya terbuka lebar ketika ia melihat darah segar di depan matanya. Ia melihat ke arah orang yang tadi mendorongnya. Matanya terbuka lebih lebar lagi seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Air matanya sudah tidak dapat ia bendung lagi. Tangisnya pun pecah saat itu juga.
"HITSUGAYA!!!"
TO BE CONTINUED
***
OMAKE!
Kue
Saat ini, di kediaman keluarga Kuchiki, terlihat Hisana yang sedang meletakkan kue di meja tamu untuk dirinya dan suaminya tersebut.
"Kau ingin kue yang mana, Byakuya-sama?"Tanya Hisana dengan lembut. Dapat dilihat, ada berbagai kue dengan cetakkan yang berbeda-beda. Ada bunga, hati, bunga sakura, dan lain-lain.
"Tidak usah repot-repot, Hisana. Aku sudah mempunya kueku sendiri,"Ucap Byakuya dengan tetap stay cool. Ia mengeluarkan jar yang entah mengapa berada di dalam saku bajunya tersebut. Cetakan kue tersebut berbentuk seperti suatu icon dengan bentuk seperti awan terbalik dan memiliki tangan, serta kaki (adakah yang tahu bentuknya seperti apa? Pernah ada di shinigami golden cup XD)
Hisana yang melihatnya hanya bisa sweatdrop dengan cetakan kue bergambar icon kesukaan suaminya tersebut.
***
Hehehe, Mii kagak ada ide buat omake chap ini. Jadi bikin seadanya saja de .
Ruki:"Ayo kita bales ripiu!"
Mii:"Okok, pertama dari Kuchiki Rukia-taichou. Arigatou 4 the jempol *.*"
Ruki:"Truz dari Kushi N Ai."
Mii:" Soal keganjilan'a, kan atap'a lurus. Yang kayak tempat Rukia ma Ichi waktu omongin soal cara masukkin sedotan ke jus kotak itu lo XD"
Ichi:"Truz dari Tsuichi Yukiko. Apa? Pernyataan cinta? *ngelirik ke Ruki*"
Mii:"Ehehehe ^^, gomen ya ni, apdet'a telat banget ."
Hitsu:"Lalu, dari Aya-na Byakkun."
Mii:"Udah apdet ni nee-chan ^^. Trus dari Kireina_Toushirou. Huwaa, ini mah Mii yang harus minta maap! Gomen!!! _. Hohoho, itu adalah sebuah kebetulan~ XD. Penguntit? Bisa jadi o_O. Thx 4 the Ripiu yaaa!! ^^(Btw, ini nulis namanya dah bener blom??) "
Ruki:"Lalu, Zheone Quin. Udah nggak mulai konsisten nih! Nih author idenya udah buntung! Ampe ngandet apdet ampe 1 minggu lebi!"
Mii:"Urusai! Mii akan mengusahakan untuk apdet lagi tepat waktu ni! ."
Hitsu:"Lalu dari Hiru-chan."
Mii:"Benarkah??? Mii jadi malu kalau ada orang yang ngebaca fic Mii matanya langsung kebuka lebar //. Tapi, Mii takut juga kalo ternyata orang yang baca fic Mii kena penyakit mata yang sekarang lagi mewabah di sekolah Mii .. Lalu dari D31-ryuusei Hakuryuu. Huwa, tapi kali ini, Mii udah telat banget apdet *ikut pundung di pojokan* UN 'a dah slese kan? Gimana soalnya?*minta bocoran buat taon depan* Mii doa'in pasti lulus en masuk SMA favorit! OK?."
Rukia:"Lalu dari Ninomiya Icha."
Mii:"Ah, ini yang pernah nge wall di fb Mii ntu kan? Lam kenal juga yaa ^^. Oh ya ampe merasuk kalbu?? Thx 4 the ripiu ^^."
Ichi:"Lalu dari Rizu Auxe09. HA? KISSU?!"
Mii:*nyingkirin Ichi yang udah nangis2 gaje*"Ahoi Ricchi! O, Mii kira Ricchi lagi ujian XP. Iya ni, Mii bingung, gimana bikin chara supaya kagak OOC, tapi sussaaahh ."
Ruki:"Lalu dari Nadi ama AlicElise. Apa perlu di jawab nih 2 ripiu?"
Mii:"Jawab aja dah!*sebenernya si, bisa di jawab langsung pas ketemu orangnya, orang satu sekolah --"* Buat Nadi, thx yo dah mo ngeripiu ampe semua chap!!! . Buat AlicElise, thx 4 the saran tadi di YM! Yup, BEJUAANGG!!! *Nyomot bendera*
Eh, sebelum'a gomen ya kalo chap ini pendek banget . Abis'a lagi bener" buntung ide! Malah jadi kepikiran bikin fic baru *.*. Semangat idup Mii dalam membuat fic in mendadak jadi redup *.*
Ok, jika pada mau semangat Mii nyala lagi, silahkan ripiu fic Mii yang bisa di bilang sangat hancur ini. Just klik tulisan biru di bawah ini :).
