Disclaimer : Bleach milik om Tite Kubo, kalo milik aku Ulquiorra udah aku bikin hidup lagi secepatnya.

Warning : Ancur, tidak jelas, sok romance, Miss Typo! dan bla blab bla -_-"

Spik dari Author kikuk : Aku kembali semua, setelah lama hiatus akhirnya aku kembali active. Soal penulisan dan ceritanya, seperti yang kalian lihat aku masih sangat-sangat pemula. Tapi aku berusaha untuk menjadi lebih baik, hehehe... Aku menerima kritikan dan saran membangun dari para reader sekalian. Kalo ada yang mau ngasih ide-ide juga boleh, aku terima-terima. Hehehe.. :D Oke tanpa kebanyakan spik, kita nikmatin aja lanjutan fic yang udah lama ketunda itu.

Tapi sebelumnya special thank's ku tujukan pada ;

cheeky n' hyuu-su nologin

Taviabeta-Primavera

Kianhe Tsuji

GaemDictator SparKyu YeWon

Kuchiki kouga

Kyucchi

Putri Luna

Reina Rukii

IchiRuki all the Time

Ruki-nee

Dark is Zero

*Dan semua para reader*


.

.

Princess and Me

BY : Mrs Goldenweek

.

.

Chap 2 : Guardian Princess ?

.

.

Seburat mata hazel membulat kaku ketika ada sepasang batu jade menatapnya ganas, layaknya singa kelaparan yang sedang memburu mangsa. Kaien terus menyudutkan Ichigo dengan tatapan membunuhnya itu. Pembuluh nadinya berdenyut cepat dan membuat telapak tangannya mengepal keras. Ditarik kepalan tinjunya itu bermaksud untuk memberikan pukulan lain di sisi lain wajah Ichigo. Tepat sebelum pukulan itu mendarat di sisi lain wajah Ichigo, seorang cowok pucat menghentikannya.

Mata emerald milik cowok itu menatap Ichigo sekilas, namun beberapa saat kemudian dia membuang wajahnya cepat. Membuat beberapa bulu kuduk Ichigo bergidik sesaat akan tatapannya. "Cukup, Kaien," ulas cowok itu, sekarang mata emeraldnya tertuju pada Kaien . Nampaknya cowok itu sedikit risih dengan situasi yang sedang ada di hadapannya.

"Apa maksudmu Ulquiorra? Dia ini sudah berani-beraninya menonton para putri kita!" geram Kaien, tangannya yang kekar tetap tak mau melepaskan kerah kemeja Ichigo yang sudah mulai kusut. "Ditambah lagi dia ingin mengejar kekasihku!" tambahnya kemudian, kali ini nadanya benar-benar emosi dan bola matanya melotot seperti ingin jatuh dari tempatnya.

'Kekasih? Apa yang dia maksud gadis cantik yang bernama Rukia itu?' umpat Ichigo, seraya menatap pembicaraan Kaien dengan pria pucat yang dipanggil 'Ulquiorra' tadi.

Cowok pucat bermata emerald itu tetap menatap Kaien dengan ekspresi biasa saja, tidak ada sedikit perubahan dari raut wajahnya. "Kamu bisa habis oleh ayahmu sendiri, Kaien," ucapnya sekedar memberi jawaban dari pertanyaan kaien tadi.

Genggaman tangan kaien merenggang sedikit begitu mendengar ucapan cowok pucat itu. Entah apa maksud dari ucapan cowok itu, yang jelas sekarang Kaien menjadi sedikit lebih jinak ketimbang sebelumnya. Dia juga melepaskan Ichigo dari genggaman tangannya. "Sepertinya kau sudah bisa mengontrol emosimu?" sesosok cowok berpostur tubuh mungil dan berambut perak, yang sedang asik membaca notes kecilnya kini ikut berkomentar.

"Cih, jangan dibahas! Aku sebenarnya masih gatal ingin menghajar bocah orange ini tau!" geram Kaien naik darah lagi, tapi sepertinya cowok perak itu tidak menggubrisnya. Dia malah menggelengkan kepala dan kembali asik dengan notesnya.

Suasana menjadi sedikit tenang ketika Kaien mulai mundur dan membetulkan tatan seragamnya. Melihat tingkah Kaien yang seperti itu membuat cowok berwajah chinese yang sedang menahan tubuh Ichigo sendari tadi, jadi gatal. Dia menyipitkan kedua mata goldennya dan menggertakan gigi keras. "Kaien-senpai, udahan nih?" suaranya terdengar sedikit malas dan kecewa, ketika bertanya begitu.

"Kalau mau protes, protes saja sama dua orang itu," jari telunjuk Kaien mengarah pada cowok pucat bermata emerald dan cowok perak yang asik dengan notesnya.

Dua terdakwa yang ditunjuk Kaien tadi, malah menatap Kaien datar. Terutama untuk si cowok pucat bermata emerald itu. Ekspresi di wajahnya benar-benar tidak berubah seinci pun, hanya bibirnya saja yang berubah-ubah karna ia mulai angkat bicara. "Aku hanya ingin membantu. Tapi kalau kau nekat, silahkan lanjutkan," Kaien menggaruk-garuk telinganya gatal, seakan dia tak ingin mendengar kata-kata cowok pucat itu barusan.

"Oke, fine... fine... And thank's," gumam Kaien dengan nada super malas.

"Terus sekarang kita ngapain?" lagi-lagi cowok chinese itu angkat bicara, kali ini nadanya benar-benar terdengar malas dan bosan.

"Kita ke tempat Grimmjow saja, sepertinya dia sedang asik dengan si kepala nanas itu," Kaien mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Ichigo yang masih shock di belakangnya. "Ayo, pergi," ucapnya lagi.

Mendengar ucapan Kaien yang terakhir, satu per satu gerombolan itu meninggalkan Ichigo sendirian. Kakinya terkulai lemas karna mentalnya yang masih shock itu. Disaat seperti itu ternyata, iris hazel Ichigo menjadi sedikit lebih peka. Ya, peka bahwa salah satu dari gerombolan itu masih ada yang tinggal. Ichigo menatap cowok yang tertinggal itu dengan wajah super was-was dan sedikit geram. Takut-takut, ternyata cowok itu ingin menghajarnya sendirian.

"Ma-Mau apa kau masih di sini?" tanya Ichigo.

Nampaknya cowok itu tidak memikirkan sesuatu yang jahat, terbukti dari caranya menatap Ichigo dengan padangan kasihan. Cowok itu mengusap-usap rambut merahnya perlahan, berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan. Lalu beberapa saat kemudian dia mendadak menjadi sedikit menunduk dan meminta maaf.

"Maafkan tingkah Kaien, dia memang selalu sensitif jika berurusan dengan Kuchiki. Semoga kejadian hari ini tidak kau ambil hati," ucap cowok itu sopan. Ichigo tak menyangka, ternyata di antara gerombolan itu masih ada yang mempunyai sifat kemanusiaan seperti ini. Dengan pasti Ichigo menganggukan kepalanya, sebagai pengganti jawaban.

"Terima kasih," balas cowok tersenyum simpul. Lalu tak beberapa saat kemudian, dia melangkah pergi meninggalkan tempat itu dan menyusul teman-temanya tadi.

"Siapa sih mereka sebenarnya? Ukkh!"

.

.

Ichigo melangkahkan kakinya menyusuri lorong-lorong besar Karakura High School, berusaha menemukan ruang kelasnya tadi. Namun entah mengapa, langkah kakinya teralih menuju toilet pria yang berada di sisi kirinya sekarang. Diputarnya perlahan keran pancuran air, sekedar untuk mencuci bibirnya yang luka.

"Sssshh... Sial!" desis Ichigo menahan rasa perih.

Iris hazelnya menatap bayangan dirinya sendiri di cermin, berusaha menemukan secercah keberanian. Jujur, ini adalah pengalaman pertama Ichigo di'bully' apalagi alasannya gara-gara seorang gadis. Kembali dia membiarkan air mengalir di tangan dan bibirnya yang terluka itu.

"Ssshhh... Arrgghhh!" kali ini hanya geraman yang keluar dari bibirnya.

Ternyata di toilet itu, Ichigo tidak sendiri. Samar-samar terdengar suara memanggilnya. "Ichigo? Kaukah itu?" Ichigo membalikkan tubuhnya untuk mencari asal suara itu. Suara yang lumayan familiar di telinganya.

"Renji?" saut Ichigo seraya mengetuk salah satu pintu toilet yang terkunci dari luar.

"Ya, Ini aku!" saut Renji kemudian, kali ini suaranya sedikit menjerit.

"Kau kenapa?" tanya Ichigo lagi.

Kali ini Renji terdiam di dalam toilet, entah apa yang sedang menimpanya. Karna gemas, Ichigo jadi mendobrak pintu toilet yang terkunci itu. "Renji, kau kena-..." Iris hazel Ichigo terpaku menatap sesosok yang dipandangnya.

Sungguh pemandangan yang memalukan, jika Ichigo yang melihatnya sudah berfikir begitu. Bagaimana Renji yang sedang mengalaminya? Dalam keadaan tidak menggunakan celana panjang dan hanya menggunakan boxer. Dan yang lebih parah dan memalukannya lagi, kepala Renji berada di dalam kloset. Singkat kata, dia tersangkut. Bukankah itu cukup memalukan?

"Astagah Renji kau baik-baik saja?" tanya Ichigo mendadak panik.

"Tidak," kali ini Renji meronta-ronta seperti ingin melepaskan kepalanya. Tapi semua usahanya sia-sia. "Cepat lepaskan kepalaku ini, Ichigo!" ucap Renji mulai depresi.

"Oke, sebentar,"

Dengan sangat perlahan dan hati-hati Ichigo berusaha melepaskan kepala Renji yang tersangkut itu. Gerakannya yang super lambat itu dikarnakan, Ichigo takut melukai kepala Renji yang sepertinya tersangkut sangat dalam. "Kau bisa tahan sakit?" tanya Ichigo tiba-tiba.

"Ya, memangnya kenapa?" balas Renji dengan suara yang lelah dan depresi.

Ichigo meletakan kedua tangannya yang kekar di atas kepala Renji. Dia mencengkramnya dengan kuat-kuat. "Lebih baik sekarang kau berkonsentrasi dan tahan setiap rasa sakit yang datang," bisik Ichigo kemudian.

"Oke, aku percaya padamu,"

"Dalam hitungan ke-3! 1... 2... 3..."

Ichigo menarik kepala Renji sekuat tenaga dengan paksaan. Dan alhasil, kepala Renji berhasil diselamatkan dari siksaan kloset itu. "Akhirnya..." sebuah nafas lega Renji hembuskan sebesar-besarnya.

Lagi-lagi iris hazel terbelalak dengan apa yang ditatapnya. Kali ini mata hazel Ichigo mendapati sesuatu yang tidak beres pada sudut-sudut wajah Renji. Terakhir dia lihat pipi kiri Renji mulus, tapi sekarang sudah ada luka lebam super biru di sana. Ichigo juga tidak lupa kalau terakhir mata kanan Renji masih bagus dengan warna merah maroonnya, entah mengapa sekarang ada luka yang membengkak dan membuat keindahan matanya terhalang. Kemana perginya hidung mulus yang bisa dibilang mancung itu? Ichigo hanya bisa menemukan hidung biru yang mengeluarkan darah.

"Ichigo, kau benar-benar penyelamatku!" ucapan Renji barusan mengagetkan Ichigo dari lamunannya.

"Ah, tidak usah berlebihan begitu," balas Ichigo.

"Tapi sungguh! Kamu benar-benar penyelamatku!" puji Renji lagi, kali ini dia berusaha bangkit berdiri dari posisi terduduknya. Sekarang dia sibuk celingukan mencari celana panjangnya yang hilang di entah berantah.

"Renji, kau sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ichigo benar-benar to the point.

Sesaat Renji menghentikan aktivitasnya mencari. Dia terdiam. Mungkin dia sedang berfikir, apa yang akan dia katakan untuk membuat Ichigo mengerti. "Jadi..."

-Flashback on-

BRAK!

Tubuh besar seorang cowok menubruk sebuah tong sampah metalik sebuah toilet pria. Pemilik tubuh itu benar-benar ketakutan dan wajahnya sudah dihiasi banyak peluh menetes. Mata maroonnya yang menyala hanya berisi ketakutan dan kengerian dengan yang apa yang ada di hadapannya. Lambat-lambat dia melangkahkan kakinya mundur, menghindari sesuatu yang terus mendekatinya.

Melihat mangsanya terus menghindar, mata batu shappire biru ini mulai memanas. "Kau, masih mau mengganggu Nel?" bentak cowok yang memiliki sepasang batu shappire itu.

"Be-begini Grimmjow, aku bisa je-jelaskan!" Renji menjawab pertanyaan cowok itu dengan suara tergagap. Ya, cowok sial itu adalah Renji. Teman baru Ichigo di KHS (Karakura High School) ini.

"Kau ingin menjelaskan apa? Hah?" lagi-lagi cowok itu membentak dengan suara yang nyaring.

Renji terus melangkahkan kakinya menjauhi cowok bermata shappire itu. Jujur saja, sekarang rasanya Renji ingin berteriak minta tolong. Dia benar-benar ketakutan, karna cowok yang di hadapannya sekarang ini bukan cowok biasa. Tapi dia cowok luar biasa yang pernah diskors karna hampir seluruh murid laki-laki KHS dia limbas. Singkatnya, dia cowok yang ringan tangan dan tak pandang bulu. "A-aku tadi, Hanya se-sedang memberikan tour kecil untuk murid baru itu. La-lalu mendadak six princess lewat, ja-jadi aku benar-benar tak ada maksud," jelas Renji jujur apa adanya.

Mendengarnya, cowok itu mulai menyipitkan kedua mata shappire sinis. Lalu tanpa hitungan detik sebuah kepalan tangan mendarat mulus di pipi kiri Renji. Membuat sebuah luka lebam kebiru-biruan di sana. "AAaaaaaaaaa!" Renji jatuh tersungkur, pukulan yang diterimanya benar-benar menyakitkan. Sampai-sampai rasanya dia ingin menangis, hanya untuk menahan sakit.

"Sakit? Ckckckck... Itu belum seberapa, ayo bangun PEMBOHONG!" tangan kekar cowok bermata shappire itu menarik kerah kemeja Renji tinggi-tinggi. Membuat sang pemiliknya jadi ikut bangkit dari posisi tersungkurnya tadi.

Lagi-lagi sebuah kepalan tangan mendarat dengan sangat mulus di hidung Renji. Membuat cairan merah hangat mengalir ke luar dari celah pernapasan Renji itu. Perih, panas dan kaku. Mungkin semua perasaan itu sudah bercampur menjadi satu di dalam kepala merah Renji. Cowok bermata shappire itu membiarkan Renji terjatuh lemas di lantai. Membiarkan Renji sedikit beristirahat. Sedikit, ya hanya sedikit.

"Kau mengecewakanku! Kukira kau kuat, ternyata tidak! Lihat tubuhmu? Apa kau tidak malu? Hahahaha..."

Renji menatap cowok itu sedang asik menertawakannya. Tawanya lepas dan bahagia, benar-benar mengesalkan pikir Renji. Kali ini Renji mengarahkan sebuah deathglare milik mata maroonnya ke arah cowok bringas itu. "Uuu~ Takut! Jadi kamu hanya membalas perlakuanku dengan sebuah tatapan? Memalukan!" cowok itu melangkah menuju sebuah lemari cleaning service dekat tempatnya berdiri. Di sambarnya sebuah tongkat pel besar yang terbuat dari besi alumunium.

"Oke, sejauh mana kau mampu memberikanku tatapan itu! Huahahahahah~"

-Flashback off-

"Ya begitulah Ichigo, lalu mendadak aku tidak sadarkan diri. Dan terbangun sudah dalam posisi begini. Benar-benar memalukan," gumam Renji di sudut pintu toilet pria itu. Wajahnya benar-benar sendu dan malu akan penampilannya di depan Ichigo. "Sudahlah! Ayo kita kembali ke kelas, sebentar lagi kelas akan mulai pelajaran ke-4," seulas senyum paksa terukir di wajah Renji yang berantakan.

"Ini semua salahku," keluh Ichigo tiba-tiba.

"Salahmu? Bukan, mereka memang begitu! Ayo kembali, jangan kebanyakan bengong," kali ini Renji meniju pundak Ichigo pelan. Berusaha membuat teman barunya tidak merasa bersalah akan peristiwa yang menimpa dirinya. Padahal peristiwa itu bisa di bilang cukup serius dan fatal.

"Renji, aku benar-benar minta maaf!" ucap Ichigo dengan gerak membungkuk.

Renji menghentikan langkah kakinya dan berbalik menatap Ichigo yang masih membungkuk. "Kan sudah kubilang? Ini bukan salahmu! Lagi pula yang menderita seperti ini bukan aku saja. Ayo kembali," kali ini Renji benar-benar tersenyum. Tak ada paksaan di sana.

Ichigo mengangkat wajahnya, di sana dia mendapati Renji sedang merapikan tataan pakaiannya dan mengeringkan rambut dan wajahnya yang basah. Sebuah senyuman juga masih tetap di wajahnya. "Ah, iya kalo itu mau mu," ulas Ichigo lanjut.

.

.

Ting tong teng tong!

Bel tanda usai pelajaran berbunyi, ini adalah saatnya pulang sekolah. Semua murid pergi meninggalkan sekolah dengan cepat. Tapi ada satu murid yang tidak bergerak dari tempatnya. Rambut senjanya melambai tertiup angin sore hari ini. Dia sama sekali tidak berniat untuk meninggalkan ruang kelas apalagi gedung sekolah. Moodnya benar-benar sedang jelek, membuatnya ingin berlama-lama di dalam gedung sekolah. Untung hari ini dia membawa i-phod kesayanganya. Setelah memasangkan earphone di kedua telinganya, sayup-sayup lantunan musik pun mulai terdengar.

When you're tired, don't be stranger. Drag me out, pour out your sorrows.

I can't allow a friend in trouble.

Who's looking on with coldness in their eyes?

My fist is clenched for you.

Iris hazel Ichigo melayang ke langit, berharap menemukan secercah hiburan turun dari langit. Tapi yang ditemukannya hanya tiupan angin yang kembali menerpa wajah dan rambut senjanya. Benar-benar tidak membantu, Ichigo menggelengkan kepalanya perlahan guna membersihkan pikirannya yang gundah. Tak beberapa lama kemudian, Ichigo memutuskan untuk pulang. Ia tak mau membuat orang rumahnya kawatir akan keterlambatan jam pulangnya. Tapi kedua earphone tetap terpasang di telinganya.

When you're troubled, don't be stranger. Look me up, to bear the weight with you.

Buy the warmth of a cup of coffee, to warm you til you feel better.

The emptiness in you, let me fill it up.

Tinggal satu lorong terakhir sebelum Ichigo benar-benar keluar dari gedung sekolah. Dia melangkahkan kakinya sangat lambat. Baginya, musik yang didengarnya saat ini benar-benar penghibur suasana hatinya yang jelek. Tapi entah mengapa, rasa-rasanya ada yang aneh dengan musik yang sedang dia dengarkan. Reflek Ichigo melepas salah satu earphonenya. Berusaha mengecek lagu yang diputarnya di i-phodnya. Ya, Judul lagu dan musiknya memang sama. Lalu mengapa tadi Ichigo seperti mendengar suara dentingan piano yang sepertinya bukan berasal dari i-phodnya ?

Ting ting ting ting~

Lagi-lagi suara dentingan piano, kali ini Ichigo mendengarnya dengan jelas. Benar, suara dentingan itu memang bukan berasal dari lagu di i-phodnya. Dentingan itu berasal dari ruang musik yang letaknya tak begitu jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

"Jadi masih ada yang tinggal? Kukira cuman aku saja," gumam Ichigo pelan.

Sebenarnya Ichigo malas untuk menghampiri ruang musik yang letaknya berlawanan dengan arah keluar gedung, tapi rasa penasaran sudah habis membakarnya. Jadi mau gak mau, dia intip juga isi ruang musik itu. Berharap menemukan pemain piano yang menurut Ichigo permainannya cukup profesional di telinganya itu.

"Aaah, di-dia," Ichigo berdesis sangat pelan, mulutnya ternganga sempurna dan jantungnya... Jantungnya berdegup cukup kecang dari biasanya.

Ichigo membalikkan posisi tubuhnya berusaha untuk tidak menatap sang pianist itu. Setelah kira-kira dia mengatur nafasnya, Ichigo kembali menatap sang pianist yang masih asik dengan permainan pianonya. Pianist itu seorang perempuan, dengan ciri-ciri bertubuh mungil dengan rambut hitam sepanjang bahunya. Iris violet gadis itu terpasang memukau di tempatnya, dan jari-jari tangannya yang ramping terus menari-nari di atas beberapa tuts piano.

"Rukia," desis Ichigo lagi.

Ichigo terus memandang permainan gadis itu dari ambang jendela, tak ada keberanian sedikit pun untuk memanggil nama gadis itu. Yang ada hanya sebuah desisan tadi. Benar-benar mengecewakan, kali ini Ichigo hanya bisa terduduk mendengarkan permainan Rukia dari luar ruang musik.

"Panggil? Tidak. Panggil? Tidak," entah sejak kapan, Ichigo juga berubah menjadi galau sendiri.

PROK! PROK! PROK!

Suara tepukan tangan yang keras, sukses membuat jantung Ichigo lompat seketika. Dan juga sukses membuat permainan piano Rukia terhenti. Tepukan tangan itu berasal dari tangan kekar seorang cowok, yang ternyata juga sedang menonton permainan gadis itu. Cowok itu terus menepukan kedua tangannya dan masuk ke dalam ruang musik melalui pintu yang lain.

"Permainanmu semakin bagus, Rukia!" puji cowok itu dengan sedikit terkekeh.

Rukia melirik kedatangan cowok itu, hanya melirik saja. "Terima kasih," sahutnya kemudian.

"Kau tidak pulang? sudah jam setengah enam lho?" tanya cowok itu care.

"Ya aku tau, tapi aku masih ingin di sini lebih lama. Kalau kamu mau pulang duluan, silahkan saja Kaien-senpai," jawab Rukia lagi.

Degh!

'Kaien? Kaien dia bilang? Sial, lagi-lagi dia,' iris hazel Ichigo mendadak kaku begitu dia mendengar Rukia menyebutkan nama 'Kaien'. Cowok sok kuasa yang sudah memukulnya tadi.

"Tapi Rukia, akukan sudah menunggumu dari tadi? Ayo pulang bersamaku," kali ini suara Kaien benar-benar membuat Ichigo dongkol setengah mati, ingin rasanya cepat-cepat pergi dari situ. Tapi entah mengapa, Ichigo ingin sekali mendengarkan jawaban dari Rukia.

Lama sekali Rukia terdiam, sepertinya dia bingung ingin menjawab apa. "Baik, tapi setelah aku membereskan ruangan ini," jawaban Rukia benar-benar sudah menyilet hati juga suasana hati Ichigo.

Degh!

'Jadi benar mereka sepasang kekasih? Ah tidak mungkin! Aku harus tanya Renji segera! Ya, segera!,' tanpa ada hitungan detik lagi, Ichigo segera melesat meninggalkan sekolah. Juga dua orang itu yang masih asik mengobrol di ruang musik.

.

.

Sesampainya di rumah, Ichigo segera mandi dan menyantap hidangan makan malam keluarga. Makan malam hari ini sama seperti makan malam biasanya, ayah Ichigo selalu saja heboh membicarakan mengenai pekerjaannya dengan heboh. Setindaknya untuk meramaikan suasana makan malam. Kedua adik Ichigo, Yuzu dan Karin tampak menanggapi pembicaraan ayahnya. Lain dengan Ichigo, dia malah sibuk menyantap makan malam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Ichigo, bagaimana suasana sekolah barumu?" mendadak ayahnya, Kurosaki Isshin bertanya padanya. Setindaknya untuk membuat anak laki-lakinya itu membuka mulut.

"Biasa saja," jawab Ichigo.

"Lalu, apa kau sudah menemukan seorang ga-..." ucapan Isshin terputus, oleh Ichigo yang sudah kehilangan selera makan karna tingkahnya itu.

"Yuzu, aku lanjutkan makan nanti! Maaf, mendadak selera makanku hilang. Sudah ya, aku mau ke kamar," tanpa basa-basi lagi, Ichigo langsung melesat menuju kamarnya yang terletak di lantai satu rumahnya.

"Ini semua karna Ayah! Lihat? Ichi-nii tidak mau menghabiskan makan malamnya," tuduh Yuzu kesal.

"Ta-tapi Ayah..." belum selesai Isshin membela diri, sudah keburu dipotong oleh anak perempuannya yang satu lagi.

"Sudahlah Yuzu, kau kan tau? Si Jenggot itu tidak akan pernah mengerti perasaan Ichi-nii,"

Akhirnya Isshin cuman bisa duduk di pojok ruangan karna merasa bersalah (?)

.

.

Keesokan harinya di sekolah, Ichigo mendapati Renji sudah dengan semangat dan senyuman. Walau beberapa luka lebam masih tertinggal di wajahnya, tapi sepertinya Renji sudah tidak memikirkannya. Benar-benar tipikal cowok tegar dengan kantung kesabaran yang ekstra. Ichigo cukup takjub melihatnya.

"Hey, Ichigo! Ayo ke kantin!" seru Renji seraya melingkarkan lengannya di pundak Ichigo.

"Ah, i-iya..."

Sepanjang perjalanan menuju kantin, Renji hanya diam. Tapi senyuman masih tetap bertengger di sana. Senyuman itu masih setia bertengger sampai segerombolan cowok datang berhamburan lewat di kejauhan. Seyuman Renji sedikit memudar, lalu dia mendadak bertanya pada Ichigo yang ada di sebelahnya.

"Kau penasarankan? Siapa mereka-mereka itu?"

Ichigo mengalihkan pandangannya menuju apa yang dilihat Renji. Lalu mendadak Iris hazelnya membulat kaku. "Ya, sebenarnya mereka itu siapa Renji?" tanya Ichigo balik.

"Mereka menyebut diri mereka sendiri sebagai Guardian princess. Penjaga para putri," jelas Renji memulai penjelasannya.

"Maksud penjaga?"

"Maksudnya, setiap dari anggota mereka sudah menaruh hati pada masing-masing six princess," Renji menggaruk kepala merahnya yang tidak sama sekali gatal.

"Eh?"

"Ya, jadi tuh... Istilah penjaga itu berfungsi untuk masing-masing anggota guardian untuk melindungi 'putri mereka masing-masing' begitu Ichigo," kali ini Renji menjelaskan dengan anda sedikit berbisik.

Sepertinya Ichigo benar-benar tidak mengerti dengan penjelasan Renji itu. "Putri mereka masing-masing? Apa sih maksudnya?" tanya Ichigo lagi, wajahnya benar-benar polos sekarang.

Renji menepuk keningnya, dia tak menyangka Ichigo benar-benar polos. "Sudahlah, langsung saja aku menjelaskan masing-masing dari mereka. Mungkin dengan begitu kau akan mengerti," ulas Renji lagi.

Mata maroon Renji mengarah pada cowok chinese berkepang yang sedang berjalan di depan para gerombolan itu. Renji mengernyitkan keningnya dan memulai penjelasannya.

"Kau lihat cowok yang paling depan itu? Cowok chinese kesasar dengan rambut kepangannya itu?" tanya Renji pada Ichigo.

"Hmm?"

"Namanya Ggio Vega, dia cowok pyco yang suka menyiksa orang dari belakang. Ditambah lagi dia wakil ketua eskul kung fu. Predikatnya sebagai cowok terpopuler ke-6 di sekolah ini, benar-benar menyebalkan. Sikapnya yang pyco akan langsung luntur, jika berhadapan dengan Soi fong. Kau ingatkan gadis chinese yang berkepang dua kemarin?" Ichigo menganggukan kepalanya menandakan dia ingat akan penjelasan Renji kemarin.

"Memangnya apa hubungannya?" tanya Ichigo lanjut.

"Dia cinta mati sama Soi fong!"

Iris hazel Ichigo menyipit sempurna. "Pantes," ucapnya kemudian.

Penjelasan Renji tidak berhenti di situ, penjelasannya berlanjut begitu seorang cowok berambut merah cerah yang kira-kira senada dengan warna rambutnya tertangkap di sorotan matanya.

"Cowok berambut merah cerah seperti milikku itu adalah Ashido Kano, senpai kita. Sebagai ketua eskul kendo dan kepopulerannya di urutan ke-5, tak heran banyak para gadis setia mengantri untuknya. Aku sih juga setuju, karna dia emang cowok paling ramah dan baik diantara semua Guardian princess. Dan yang perlu kau ingat juga, dia kekasih Senna Ukitake. Gadis berambut ungu di six princess,"

Ichigo tidak berkomentar sedikit pun mengenai Ashido, dia hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Baginya, ucapan Renji benar-benar terbukti. Kejadian kemarinlah yang membuat Ichigo percaya bahwa Ashido memang cowok yang ramah dan berbeda dengan gerombolan lainnya.

"Kau bisa melihat cowok berambut perak yang sedang asik menulis-nulis di notes miliknya itu?" penjelasan Renji kembali terdengar.

"Ya?"

"Dia adik kelas kita, Toushiro Hitsugaya. Junior dingin dan berotak jenius. Selalu meraih beberapa mendali emas di setiap olimpiade sains dan fisika di dalam sekolah maupun luar sekolah. Kepopulerannya lebih tinggi ketimbang dua cowok tadi, dia di urutan ke-4. Yah, mungkin para gadis menyukai cowok yang jenius?" Ichigo terdiam menatap cowok berambut perak itu, sampai akhirnya Renji bertanya padanya.

"Kau ingat gadis mungil berkonde mini di six princess?"

"Ya?" jawab Ichigo singkat.

"Cowok itu kekasihnya, jadi berhati-hatilah," Renji mendapati Ichigo menganggukan kepalanya mengerti.

Kali ini mata maroon Renji menangkap sosok berbadan besar juga berambut tosca yang sangat familier. Lalu beberapa detik kemudian Renji membuang mukanya, dia terlalu ngeri menatap cowok itu. "Buat yang satu itu, no coment Ichigo," ulas Ichigo kemudian.

"Aku tau kau bermasalah dengannya kemarin, tapi ayolah! Aku penasaran tentang dia," pinta Ichigo.

Renji melirik Ichigo sebentar, lalu dihembuskan nafasnya besar-besar. "Fine! Namanya Grimmjow Jaerjeques. Eh benar gak tuh ya namanya? Ah masa bodoh! Pokoknya dia itu cowok kasar dan suka menyiksa orang dengan kekuatannya yang dasyat. Sebagai bintang olahraga dan mempunyai badan yang cukup atletis, dia menduduki posisi ke-3 sebagai cowok terpopuler. Cih!" wajah Renji mendadak dongkol seketika.

"Oiya aku lupa! Alasan kenapa dia menyiksaku kemarin itu, karna dia kira aku masih menyukai Neliel gadis terseksi di six princess. Dia tidak suka ada cowok yang menatap keindahan gadis itu," ulas Renji kemudian.

Ichigo mengerjab-ngerjabkan matanya, dia mengerti. "Jadi dia menyukai gad-..." ucapan Ichigo di potong Renji cepat.

"Iya, sudah jangan bahas dia. Menyebalkan!" gerutu Renji.

Sementara Renji masih menggerutu, Ichigo mendapati sesosok cowok pucat jalan berdampingan dengan Grimmjow. Ichigo mengenggol Renji pelan, berusaha untuk membuat temannya kembali melanjutkan penjelasannya.

"Oh maaf! Hmm... Cowok bermata hijau dengan rambut hitamnya itu adalah Ulquiorra Schiffer. Seorang cowok blesteran ini, mempunyai sikap diam dan dingin yang akurat. Otaknya sangat cerdas, tapi sifatnya yang malas membuatnya tidak memiliki suatu jabatan dalam suatu organisasi. Dengan julukan 'pangeran vampire' dia berhasil menduduki kepopuleran tingkat 2 di antara para gadis," Renji mengusap-usap dagunya memperagakan pose detective.

"Tipikal orang yang tidak mau ikut campur ya?" gumam Ichigo lanjut.

"Ya, seperti itulah. Oiya, gosipnya dia menyukai Orihime si gadis berambut senja kemarin itu,"

Kini tinggal satu cowok yang belum masik daftar penjelasan Renji. Cowok terakhir yang benar-benar membuat iris hazel Ichigo kesal seketika. Renji berdehem pelan berusaha membuat Ichigo sedikit menahan emosinya yang terlihat mulai membara dari luar.

"Kaien Shiba kan?" tebak Ichigo kemudian.

"Yup, Dia cowok paling-paling di sekolah ini Ichigo. Jadi berhati-hatilah, tindakannya yang kemarin itu hanya permulaan. Mungkin kemudian hari dia bisa mencabut nyawamu, seperti mencabut sehelai rambut dari kepala dengan mudahnya," lanjut Renji begitu mendengar Ichigo menebak nama cowok itu.

"Seseram itukah dia?" tanya Ichigo lagi, wajahnya masih kesal karna teringat kejadian kemarin.

"Um, Biar kujelaskan... Dia adalah cowok paling populer di antara para gadis. Dia juga cowok paling berkuasa, karna sekolah ini aset keluarga besarnya. Dia cowok paling kaya raya di sekolah ini. Juga dia cowok paling menyukai Rukia Kuchiki. Gadis yang ingin kau bilang target kemarin," Ichigo berdecak pelan mendengar penjelasan Renji itu.

"Perfect!" kometar Ichigo kemudian.

Tanpa sadar penjelasan mereka mampu mengulur waktu perjalanan mereka menuju kantin. Di kantin Ichigo memesan dua roti melon dan sekotak jus jeruk. Sedangkan Renji memesan kripik kentang dengan ukuran jumbo dan sebotol air mineral. Mereka menyantap makanan masing masing dengan cepat. Sepertinya pembicaraan mengenai guardian princess itu sudah merusak mood masing-masing dari mereka.

"Renji?" panggil Ichigo di sela-sela kunyahan roti.

"Ya?"

"Aku sekarang mengerti. Jadi intinya Guardian princess itu adalah kelompok yang terdiri dari cowok populer yang jatuh hati pada six princess. Betulkan?" tebak Ichigo.

"Ya,"

.

.

TBC

.

.


Spik dari Author kikuk : Oke kita sampai di penghujung acara! Ahahahaha~ *tawa garing*. Gak nyangka ya? Penulisanku makin menurun. OH HOLLY COW! Ceritanya pun juga makin tidak jelas. Kelamaan hiatus ini sepertinya. -_-"

Oke deh, aku minta maaf sebesar-besarnya. Mumpung lagi lebaran nih (Author update pas lagi lebaran :D) mohon maaf lahir batin ya para reader sekalian. Jadi mohon dimaafkan kalo penulisan dan ceritanya menurun. Hiks~

Aku lagi gak pengen ngomong banyak-banyak, jadi jangan lupa buat kirimkan kritik, saran, komentar, apapun itulah... di PO BOX REVIEW... oke oke oke? Saiya slalu menunggu kalian.. cup cup.. :*