Disclaimer : Bleach milik om Tite Kubo, kalo milik aku Ulquiorra udah aku bikin hidup lagi secepatnya.
Warning : Ancur, tidak jelas, sok romance, Miss Typo! dan bla blab bla -_-"
Spik dari Author kikuk : Mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku ngetik ini pas lagi uts lho! Maaf kalau penulisannya makin menurun dan... Happy reading! :D
Tapi sebelumnya special thank's ku tujukan pada ;
HAna RUna onNA
IchiRuki all the Time
Kuchiki kouga
Putri Luna
ariadneLacie
GaemDictator SparKyu YeWon
Sora Yasu9a 2230612
death berry
Suzuka Haruka
floataomi
Ruki Yagami
Yusei'Uzumaki'Fudo
Taviabeta-Primavera
*Dan semua para reader* (Setiap orang dapet ciuman pipi kirikanan dari Golden)
.
.
Princess and Me
BY : Mrs Goldenweek
.
.
Chap 3 : Servant and Princess
.
.
Angin berhembus perlahan menerpa setiap helai rambut dan senti wajah cowok orange yang sedang asik berbaring di atas primadani hijau taman sekolah. Iris hazelnya melayang jauh menembus cakrawala. Pelajaran jam ke-5 sudah dimulai semenjak tadi, tapi sepertinya cowok itu tidak tertarik untuk kembali ke dalam kelasnya. Lebih baik tidur beristirahat berbantalkan buku fisika, ketimbang mendengarkan ceramah yang bisa dibilang hanya akan membuat kepalanya semakin berdenyut-denyut tak karuan. Pikirannya saat ini benar-benar kacau, semua karna grombolan 'guardian's princess' (Terima kasih sudah mau membenarkan, *nunduk 90 drajat) dan juga ayahnya yang semakin rewel untuk melihat kekasihnya kelak.
"Bagaimana mau menjadi kekasih? Mendekatinya saja susah," keluh Ichigo disela-selanya menatap langit yang bisa dibilang cukup cerah.
Perlahan dia menarik napas panjang dan dihembuskannya kembali. Dibukanya buku fisika yang sendari tadi menjadi bantalan kepalanya. Materi kelas hari ini membahas mengenai 'Hukum Newton'. Ichigo mendengus geli membaca setiap bahan materinya. "Materi hari ini hanya untuk anak SMP di sekolahku dulu," gumamnya geli sendiri.
Sekiranya sudah cukup menatap bahan materi yang tingkat kesulitannya sangat mudah di matanya, Ichigo menatap layar ponselnya bosan. Dia ingin melakukan sesuatu, yang mungkin dapat menghiburnya saat ini. Diamat-amati kembali layar ponselnya yang masih membisu digenggaman tangannya. Tak lama kemudian ia teringat akan website Karakura High Shcool, tempat murid-murid KHS berchatting ria sesama murid yang dijelaskan Renji sewaktu di kantin tadi. "Mungkin tidak ada yang aktif, tapi tak masalah kan jika mencoba?"
Setelah mengetik alamat web dan mengisi alamat mail yang diminta website itu, Ichigo dibawa menuju sebuah tampilan yang meminta nama samaran selama menjalankan koneksi.
"Tuliskan nama samaranmu. Yah, ampun... Sudah Ini saja,"
Ichigo menuliskan nama 'Servant' pada kotak bar tampilan tadi. Setelah menunggu loading yang tak begitu lama, akhirnya munculah daftar nama siswa-siswi yang saat itu juga sedang aktif. Ada sekitar 10 orang siswa-siswi, jumlah yang sedikit dan sesuai dari perkiraan. Dibacanya nama samaran itu satu persatu, berusaha untuk menegur salah satu dari mereka.
PING!
"Eh?" Ichigo tak menyangka, ternyata ada yang mau menegurnya duluan. Begini isinya;
Princess 1 : Hey kau yang di sana, bolos ya?
Dengan cepat Ichigo segera membalasnya.
Princess 1 : Hey kau yang di sana, bolos ya?
Servant : Yeah, sepertinya kau juga. Betulkan?
PING! ─Baru saja Ichigo membalas, tiba-tiba ponselnya sudah berbunyi lagi. Mendandakan chattingnya baru saja dibalas.
Princess 1 : Hey kau yang di sana, bolos ya?
Servant : Yeah, sepertinya kau juga. Betulkan?
Princess 1 : Iya, cukup sulit kabur dari lab kimia dengan Aizen-sensei yang mengawas.
Akhirnya terjadi baku hantam chatting diantara keduanya. Dari nama samaran chattingnya, Ichigo dapat menebak bahwa orang yang menegurnya itu adalah perempuan. Tapi siapa sebenarnya orang itu ichigo tidak tau.
Servant : Ngomong-ngomong cuacah hari ini cukup cerah ya?
"Aduuhh aku ini kaku sekali!" Ichigo tak percaya, ternyata dia cukup bodoh dan kaku dalam berkomunikasi.
PING!
Servant : Ngomong-ngomong cuacah hari ini cukup cerah ya?
Princess 1 : Sangat cerah, lebih tepatnya. Hari yang cocok untuk bermain piano. ^^
'Piano? Bermain piano?' Ichigo mengulang kata-kata piano terus menerus di dalam kepala orangenya. "Tidak... Tidak mungkin! Hahaha.. Tidak mungkin kan? 'Princess 1' adalah Rukia," akibat gumaman polosnya itu, mendadak jantungnya kembali berpacu.
PING!Ichigo tersenyum melihat teman berchattingnya menegurnya lagi. Kali ini, ichigo berusaha untuk luwes dan lebih bersahabat lagi. Mungkin dengan begitu dia bisa berkenalan lebih lanjut dan mendapat teman baru selain Renji.
Princess 1 : Hey! Kau masih di sana? O_o"
Servant : Ah maaf, aku sedang memikirkan sesuatu. Hahaha... Oh ya, kau suka piano ya? ^^
Princess 1 : Um, aku sangat menyukainya terlebih dari apa pun. Tadi kau memikirkan apa?
Servant : Kau jatuh cinta pada piano? Bukan pada laki-laki? O_O"
Princess 1 : BAKA! Tentu saja aku normal, aku juga menyukai laki-laki. Hanya saja, piano jauh lebih kucintai. Padahal baru kemarin aku memainkannya, rasanya aku ingin memainkannya lagi.
'Tunggu, dia bilang kemarin? Kemarin kan Rukia juga memainkan piano. Kebetulan yang aneh,' umpat Ichigo lagi, kali ini beberapa tanda tanya sudah menumpuk di kepalanya. Membuatnya kembali termenung sejenak dan berpikir.
PING!
Princess 1 : Kau punya kebiasaan ngelamun dan berpikir, Pelayan.
Servant : Ah, kalau begitu maaf tuan putri. Tuan putri yang rewel.
Princess 1 : Hahahahaha... kau ini lucu sekali pelayan. Ohya, tadi kalau boleh tau kau sedang memikirkan apa? Mungkin bisa kubantu?
Servant : Memikirkan sebuah rahasia. Tidak perlu, terima kasih sebelumnya. ^^
Princess 1 : Ck, Pelit sekali!
Servant : Hahaha... Maaf sekali tuan putri, ini benar-benar rahasia.
Princess 1 : Rahasia? Aku juga punya rahasia.
Servant : Aku rasa, aku tau rahasiamu.
Princess 1 : Eh? Ka-Kau tau? Mana mungkin. Seluruh KHS ini tidak tau kalau aku anggota Six princess.
Princess 1 : Ah! Aku hanya bercanda! Hahahaha...
Ichigo merekahkan senyumannya begitu membaca balasan chattingnya itu. Lalu dengan cepat dia mengetik balasannya, dan berlari menuju perpustakaan. Sepertinya dia menyadari sesuatu dan segera mengambil tindakan. Tindakan yang aman, tapi mampu menarik perhatian.
.
.
Di atap gedung KHS, dapat terlihat seorang gadis sedang termenung. Wajahnya pucat dan mengeluarkan peluh. Sepertinya dia sedang tertimpa masalah. Iris violetnya terus menatap layar benda metalik di genggaman tangannya. Sesekali dia menggaruk kepala ravennya yang tidak terasa gatal sedikit pun. Sudah hampir 40 menit dia berchatting dengan seseorang. Tapi diakhir chattingan mereka, gadis itu mendadak berubah pucat dan panik.
Servant : Tidak tau? Padahal bagiku cukup mudah kalau kau adalah anggota Six Princess.
Servant : Tak perlu panik begitu, sebagai pelayan aku tau kalau kau tuan putri KHS.
─Servant off
Itulah ucapan terakhir pria misterius yang sudah berchatting dengannya. Sungguh, gadis itu sangat terlihat panik. "Tidak mungkin, dia tau kalau aku Rukia Kuchiki kan? Bagaimana kalau nanti dia membocorkan rahasiaku ini? Lalu, bagaimana nasipku nanti?" gumamnya dengan frustasi.
"Kau ini sudah gila ya, Kuchiki?"
Gadis itu menengok cepat, seorang gadis berkepang dua ternyata sudah berdiri di belakangnya. Wajah menatap gadis itu aneh. "Soi Fon! Kau membuatku kaget!"
"Siswi teladan dan ketua OSIS sepertimu bolos pelajaran hanya untuk berchatting? Dan... dari ucapanmu barusan, sepertinya orang itu tau rahasiamu. Heh, sepertinya bakal seru," cibir Soi Fon pedas, dia mengambil posisi duduk di lantai dan merenggangkan dasi kupu-kupu merahnya.
Mendengar ucapan Soi Fon yang pedas itu, gadis itu jadi ikut terduduk. Lagi-lagi dia menatap layar ponselnya cemas. Di dalam batinnya dia berdoa, semoga jati dirinya tidak terbongkar. Jika terbongkar, sudah pasti dia akan semakin repot dikejar-kejar fansnya dan sulit berchatting kembali. "Kau senang sekali sepertinya, nona Vega!"
Soi Fon memicingkan mata goldennya sinis, ucapan gadis itu benar-benar masuk ke dalam pikirannya. "Ck! Apa maksudmu memanggilku menggunakan nama si Idiot itu?" tanya Soi Fon gemas, ada sedikit geraman di setiap ucapannya barusan.
"Aku tau, kau ada di sini karna sedang kabur dari kejaran fans fanatikmu itukan nona Vega?" Lagi-lagi ucapan gadis itu melesat masuk ke dalam pikiran Soi Fon. Membuatnya semaki mengerutkan keningnya dan memicingkan mata goldennya.
"Dengan kemampuanmu yang dapat menebak isi pikiranku, kenapa kamu tidak menebak isi pikiran orang yang chatting denganmu itu nona Shiba?" ucapan Soi Fon kali ini membuat gadis itu tersenyum geli.
"Hahaha... Aku tidak bisa Soi Fon! Sudah aku bisa gila jika kau memanggilku dengan nama Kaien-Senpai," balas gadis itu cepat. Dia masih tersenyum-senyum geli.
Melihat gadis itu tersenyum geli, Soi Fon juga ikut merekahkan senyumannya. "Kau yang mulai duluan, Kuchiki. Lagi pula kalau kau tidak perlu takut jati dirimu ketauan, kan ada Shiba-senpai. Hehehe..."
"..." Gadis itu mendadak terdiam, Iris violetnya menatap Soi Fon kaku.
"Ke-kenapa? Apa aku salah ngomong?" Soi Fon menatap gadis yang ada dihadapannya dengan panik. Jujur, walau pun gadis beriris violet ini kadang menyebalkan tapi bagi Soi Fon dia tetap sahabat terbaiknya.
"Tidak, aku hanya kepikiran dengan semua orang yang sudah dipukulnya," lagi-lagi, wajah gadis itu tertunduk sendu.
Soi Fon, menarik napas panjang. Lalu dia melipat tanganya. "Bukan hanya Shiba-senpai saja. Tapi si Idiot itu juga, ah tidak... Seluruh anggota geng aneh itu! Kecuali si pucat dan Kano-senpai yang tidak bertingkah memalukan seperti itu," keluh Soi Fon kesal. "Diantara kita berenam, cuman aku dan Nel saja yang berani menegur mereka. Tapi sepertinya, mereka mengganggapnya angin lalu," Kali ini gadis beriris violet itu mengangguk setuju.
Sejenak mereka berdua terdiam dalam keheningan. Sampai akhirnya bel tanda jam istirahat kedua pun berbunyi. Mereka saling menatap satu sama lain. "Sudahlah, ayo ke kantin. Mungkin yang lain sudah menunggu kita," Soi Fon bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu, diiringin dengan gadis beriiris violet.
Selama perjalanan, mereka memilih untuk diam. Mungkin obrolan mereka tadi yang membuat mereka terdiam satu sama lain seperti ini. Bahkan mereka juga tidak menyadari, ternyata sudah ada dua gadis berambut senja dan hijau tosca di belakang mereka.
"Rukia-chan! Soi Fon-san!"
Soi Fon dan gadis itu menengok berbarengan, menatap tersangka yang sudah membuat mereka berdua tersentak dengan panggilannya. Gadis berambut senja yang dijadikan tersangka itu malah tertawa renyah. "Maaf kalau aku mengagetkan! Tee-hee... hehe.."
"Orihime, bisakan kau pelankan suaramu itu. Kau nyaris membuatku jantungan," ucap gadis beriris violet itu. Sedangkan gadis berambut senja yang dipanggil Orihime tadi masih bernyengir ria. Soi Fon melirikan mata goldennya pada gadis berambut hijau tosca yang sedang sibuk dengan bedak compactnya.
"Tebel banget dempulnya," lagi-lagi Soi Fon mengeluarkan cibirannya. Yah, semua orang tau kalau Soi Fon memang senang mencibir. Tapi sebenarnya dia tidak bermaksud jahat.
Sekilas iris golden dan iris silver bertemu. Mereka saling menatap dengan yang mempunyai kacamata 3G, pasti bisa melihat arus listrik di antara kedua mata mereka itu. "Nona Vega sudah pintar bicara, ya?"
"Nona Jeagerjaques, saya sangat menghargai pujian anda,"
Setiap bertemu, mereka selalu saja langsung berdebat seperti ini. Tapi tak jarang juga mereka terlihat kompak, maklumlah kepribadian mereka memang bertolak belakang sebagai teman masa kecil. "Anoo... Nel-san dan Soi Fon-san, ayo kita ke kantin. Momo-chan dan Senna-chan sudah menunggu di sana," Orihime berusaha membuyarkan aksi debat di antara mereka dan menarik gadis berambut hijau tosca yang dipanggil 'Nel' pergi.
"Ayo, Soi Fon kita pergi,"
Ketika mereka berempat menginjakan pintu kantin, siaran radio sekolah pun mulai terdengar.
"Siang semuanya! Kembali lagi dengan Ichimaru Gin di sini. Kalian pasti sudah tidak sabar mendengarkan siaran radioku ya? Wah kebetulan sekali, kali ini ada sepucuk surat tergeletak di atas meja klub. Di sini tertulis dia merequest sebuah lagu untuk Princess Kuchiki! Huaa beruntung sekali kau ya Princess"
"Rukia, itu dari fansmu. Ciee~" gadis berambut hijau tosca yang dipanggil Nel, Neliel lebih panjangnya itu langsung berkomentar.
"Rukia-chan, siapa fansmu yang nekat begitu? Huaa aku iri," komen Orihime gemas.
"Fans yang tidak sayang nyawa," cibir Soi Fon datar.
Sedangkan Gadis beriris violet itu masih terpaku mendengarnya. Siapa pria yang nekat begini, padahal jika tau resikonya pasti dia habis dengan Guardian's Princess itu.
"Oh, ya ampun... Dia menulis puisi segala. Aku bacakan ya Princess! Ehm, Hari itu langit begitu cerah, bagaikan surga pancarannya. Hari itu ada 6 dewi-dewi yunani turun menungganggi cahaya. Dan hari itu juga aku menyadari, seorang dewi adalah pencuri. Pencuri seorang hati manusia. Astagah, Kau beruntung sekali princess!"
"Sepertinya, sahabat kita satu ini memiliki fans yang rela mati demi perasaannya,"
Gadis beriris violet itu menyipikan matanya begitu seorang gadis berambut ungu merangkulnya dan mengatakan hal yang sedikit goda dirinya. "Senna, kau ini," balas gadis itu biasa.
"Lebih baik kau segera memperingati Shiba-senpai sebelum terjadi kasus pembunuhan," ucap gadis berambut ungu yang dipanggil Senna tadi.
"Oh, di sini juga tertulis 'Aku tau siapa dirimu kan, Rukia Kuchiki'. Sudah dari pada kebanyakan berpuisi, membuat susana klub jadi panas lebih baik kita putar saja lagu pesanan cowok misterius yang mengaku bernama 'Servant' di sini. Enjoy!"
"Ah─" Gadis itu tersentak begitu mendengar kata 'Servant'. Melihat sahabatnya tersentak, 5 siswi cantik dan populer itu langsung bereaksi dan membrondonginya dengan banyak pertanyaan.
"Kenapa?" tanya Soi Fon.
"Kau tau siapa cowok itu?" tanya Neliel gemas.
"Rukia-chan, siapa dia?" Orihime menatap dengan antusias
"Hey cantik, jangan bilang cowok itu Shiba-senpai oke?" ucapan Senna lebih cenderung meminta.
"Ah, ada apa?" seorang gadis mungil berkonde yang baru datang jadi ikut-ikutan bertanya.
Melihat ke-5 sahabatnya yang sedang menatap dirinya penuh tanya. Gadis ini menghembuskan napas panjang dan berkata;
"Cowok itu adalah teman baru chattingku. Dan dia tau kalau aku adalah Rukia Kuchiki,"
"Oh cowok itu!" respon Soi Fon kecewa.
"Tapi dia romantis banget! Aku juga mau puisi," Neliel merespon dengan iri.
"Aku baru tau Rukia-chan senang berchatting juga ya?" respon Orihime.
"Sejak kapan kau mulai berchatting? Kau ini," respon Senna
"Kuchiki-san aku tidak mengerti," gadis berkonde mini itu merespon keterlambatannya (?)
Sejauh ini gadis beriris violet ini memang memiliki kegemaran berchatting menggunakan nama 'Princess 1'. Tapi sampai sekarang belum ada yang sadar, kalau nama itu adalah anggota six princesses yang sangat terkenal lebih dari anggota lainnya. Yang lebih mengejutkan laginya, cowok itu tau namanya. "Siapa kau wahai pelayan misterius," gumam gadis beriris violet, Rukia Kuchiki.
.
.
Di pojok ruang kantin, Ichigo dan Renji asik menatap six princesses yang sedang heboh di pintu kantin begitu mendengar siaran radio kali ini. Renji terkekeh riang melihat gadis-gadis cantik itu heboh. "Bro, kau tau? Kau benar-benar jenius dan beruntung! Hahahha,"
"Iya kau benar. Mungkin Kaien bisa mengerjaiku dengan ototnya. Tapi aku bisa membalasnya dengan otakku," balas Ichigo kemudian.
"Tapi, kau masih harus hati-hati," ucap Renji memperingatkan.
"Itu sudah pasti. Hehehe,"
.
.
TBC
.
.
Spik dari Author kikuk : OH NO! Penulisanku─ *Speechless* Makin kacau saja kamu nak... (TTATT) HUEE Sudah aku mau bunuh diri saja, ketimbang malu melihat penulisanku ini! *Lari sambil nangis.
Oke cukup bergalau rianya. jangan lupa buat kirimkan kritik, saran, komentar, apapun itulah... di PO BOX REVIEW... oke oke oke? Selamat idul adha semua (author update waktu kurban ─Pray for sapi and Kambing) Salam damai! :D
