Disclaimer: Naruto, Masashi Kishimoto SELALU

Warning: Semi-Canon *Maybe*, OOC, Typo etc

Rate: K+ - T

Genre: Friendship/Fantasy/Adventure/Romance

Summary: Kekuatan misterius, surat dimensi, sekolah sihir, dan perpisahan/Continue or del.


Naruto terus berjalan dengan nafas memburu, dipegangnya tangan mungil gadis yang beberapa menit lalu ia temui. "Naruto-kun dengarkan aku dulu." Gadis itu terus merajuk ingin lepas dari genggaman Naruto tapi ia sadar kekuatannya tidak sepadan dengan kekuatan Naruto. Hanya ada satu cara untuk lepas, cara itu adalah-

Srettt

Secara tiba-tiba ia berhenti, melepas genggaman kuat Naruto dengan gerakkan kecil.

Naruto tersadar, pupil mata sapphire-nya melebar. Tidak percaya akan apa yang baru saja ia alami. "Ia menggunakan kekuatannya lagi," gumamnya.

"Hiks…" Air asin turun membentuk sungai kecil di wajah gadis itu. "Tolong dengarkan aku." Suaranya yang semula cempreng sekarang berubah menjadi sedikit lembut dan serak, ia kembali menunduk. Naruto membalik badannya, memegang dagu gadis itu lalu mengarahkan wajahnya untuk menatap Naruto.

"Baiklah akan aku dengarkan," ucap Naruto seraya mengelap air mata gadis itu.

"Sebenarnya mereka ingin-"

"Ingin apa?" Gadis itu meremas lengan baju Naruto. Tidak sanggup untuknya mengatakan itu. Sungguh ia tak sanggup. "Berbuat 'itu' padaku." Ia bergumam dengan suara kecil.

Grepp

Naruto memeluk badan kecil gadis itu, memberinya kehangatan yang berasal dari tubuhnya. Gadis itu sontak terkejut karena gerakkan Naruto yang tiba-tiba. Setelah sadar ia membalas pelukkan Naruto, masih dengan isakan dan sesegukkan yang terus terdengar dari mulutnya. Pelukan Naruto menghentikkan tangisnya, dirasakkannya seperti de javu yang lama tidak ia rasakkan setelah kepindahannya ke luar negeri empat tahun lalu.

"Gomen nee, Shion-chan," ucap Naruto. Gadis itu menggeleng lalu berguman 'tidak apa-apa' di telinga Naruto. "Sebaiknya kita kembali saja ke mobil," ajak Naruto sambil melepas pelukan mereka yang ternyata menimbulkan sejumlah pertanyaan yang terlontar dari bibir orang yang melintas maupun orang-orang yang melihat mereka dari kejauhan. Ia kembali menarik tangan mungil Shion-gadis itu- penuh sayang ke arah berbeda yaitu menuju mobil sport-nya yang masih terparkir sembarangan.

.

Sakura berhenti di depan gerbang rumahnya, diikuti Sasuke di belakangnya. "Arigatou Sasuke, mau mampir," tutur Sakura. Ia terlihat sedikit kelelahan setelah berjalan dari taman kota ke rumahnya yang memakan waktu setengah jam.

"Hn. Tidak," tolak Sasuke. Ia kemudian berjalan meninggalkan Sakura yang menatapnya dari pintu gerbang. Baka! Kenapa dia tidak masuk, padahal cuaca sedang dingin begini, dia ingin sakit apa? kata Sasuke dalam hati.

"Tunggu!" Suara Sakura yang keras menghentikan langkah panjang Sasuke. "Hn," jawabnya tidak jelas.

"Aku hanya ingin mengatakkan-" Kalimat Sakura menggantung. Rasa ragu menghantuinya, tapi sudah sangat terlambat baginya untuk tidak mengatakan ini. Ia menarik nafas dalam. "Konbawa Sasuke… -kun." Semburan merah muncul tiba-tiba dari pipinya.

Deg

Sakura bodoh, umpat Sakura kepada dirinya sendiri. Setelah mengatakan kalimat pendek itu untuk Sasuke, buru-buru ia masuk ke dalam rumah keluarganya sebelum pemuda dingin itu melihatnya yang bersemu merah.

Sasuke menyeringai. "Kun, jarang sekali dia memanggilku dengan suffix itu. Dasar pinky," ujarnya senang 'mungkin'. Dilanjutkannya perjalanan pulangnya yang sempat tertunda akibat kejadian singkat tadi. Kemudian, memasukkan tangan kanannya ke saku celana jeans hitam miliknya. Merogoh sesuatu dari dalam yang ternyata adalah sebuah surat yang masih tersegel rapi. "Sepertinya aku tidak akan sendirian di sana," gumamnya entah pada siapa.

.

~[Miki-Michi]~

.

"Tadaima~" Sakura masuk ke rumah yang tergolong mewah milik orangtuanya dengan muka memerah tentunya. Diletakkannya sepatu flat putihnya ke rak sepatu di dekat pintu.

"Okaeri Saku-chan," Suara seorang pemuda memekakan telinga Sakura, ditutupnya kedua telinganya dengan tangan disertai mata yang sengaja ia tutup. "Eh? Kau kenapa Saku-chan," tanya pemuda itu. Sakura membuka mata, dengan hitungan detik ia juga menurunkan tangannya yang sempat menutupi telinganya dan berlari menyambar pemuda tadi.

"Saso-nii" Dilihatnya tubuh pemuda itu dari bawah ke atas setelah melepas pelukan singkatnya. Tidak berubah, hanya saja rambut merah marunnya yang sedikit lebih panjang dari terakhir ia lihat. Senyum merekah di bibir tipisnya. "Aku merindukanmu."

"Nii-san juga merindukanmu," tutur sang kakak yang bernama Akasuna Sasori itu. Sasori mengacak-ngacak rambut adik manisnya, menghiraukan helaian rambut merah muda Sakura yang mulai berantakan. "Lebih baik kau ganti baju dulu sana! Nii sudah membuatkan makan malam spesial untukmu."

Sakura mendongak. "Okaa-san dan Otou-san dimana?"

"Sebentar lagi mereka juga pulang, tumben sekali kau menanyakan mereka Saku?" Sasori balik bertanya. Sakura yang merasa disindir hanya berdecit kesal, digembungkannya kedua pipi ramunnya. Sasori tertawa. "Sudahlah lebih baik kau ganti bajumu, 10 menit lagi mereka juga pulang," jelasnya yang lebih terkesan mengusir Sakura. Sakura berlari ke kamarnya yang berada di lantai dua, langkahnya membuat suara decitan yang timbul dari gesekkan antara kakinya dan tangga kayu rumahnya.

.

Sakura telah sampai di depan pintu kamarnya. Dibukanya pintu kamar yang beraksen kayu itu. Tanpa menunggu lama, ia langsung menjatuhkan dirinya di ranjang king size miliknya. Mengistirahatkan badannya yang kelelahan dan sedikit bau. Ia menggunakan punggung tanganya untuk menutupi mata jade-nya yang juga lelah, tanpa sadar ia mengingat kembali kejadian tadi sewaktu bersama dengan kedua sahabatnya.

Mulai dari sahabatnya yang mengajak berjalan-jalan ke pantai pada pagi buta, sekedar melihat sang surya terbit. Ke taman hiburan, menertawai Naruto yang ketakutan setengah hidup saat masuk ke rumah hantu. Dan terakhir, ke taman kota yang dulu biasa mereka kunjungi untuk bermain. Di situlah ia marah dan menghukum Naruto akibat pemuda itu menjatuhkannya dari ayunan di taman.

Mengingat-ingat hal itu membuatnya semakin sayang kepada kedua sahabatnya itu, tidak ingin rasanya mereka pergi dari kehidupannya. Naruto yang selalu tersenyum dan Sasuke, dingin tapi perhatian. Eh, perhatian? Entahlah akhir-akhir ini ia merasa aneh jika dekat-dekat dengan pemuda emo itu. Terlebih tadi saat pulang, ingin sekali ia memukul dirinya sendiri dengan kayu atau semacamnya akibat tindakan bodohnya. Kebiasaan Naruto yang selalu meninggalkan mereka di saat sedang berkumpul, membuat hubungannya dengan Sasuke semakin dekat. Selain itu, Sasuke juga lebih perhatian semenjak itu.

"Apa yang aku pikirkan sih," tegurnya kepada diri sendiri. Ia bangkit dari kasur king size merahnya. Menapakkan kakinya ke tanah menuju kamar mandinya. Tentu saja untuk mandi.

.

Bau wangi kari menyeruak memenuhi dapur kecil milik keluarga Haruno. Begitu sedap dirasa dengan indra penciuman, wangi rempah-rempah yang kuat menghangatkan tenggorokan walaupun hanya menciumnya. Dihidangkannya masakan itu di atas meja makan sederhana oleh sang koki, Sasori. "Selesai, tinggal menunggu Tou-san, Kaa-san, dan Saku-chan." Sasori tersenyum simpul. Dilepasnya celemek yang sedari tadi menemaninya memasak.

"Tadaima." Ucap seseorang dari pintu depan. Sasori yang mendengarnya berlari kecil untuk melihat siapa orang yang datang. Ternyata tidak hanya seorang, tapi ada dua orang yang berdiri mematung dengan wajah tidak percaya.

"Okaeri Kaa-san, Tou-san."

"Saso-chan ternyata kau sudah pulang? Kenapa kau tidak bilang pada kami kalau kau datang? Dan bagaimana kau bisa masuk?" Mereka, Tuan dan Nyonya Haruno terlihat kaget atas datangnya Sasori tanpa sepengetahuan mereka. Memang Sasori sengaja memberi kejutan, dengan tidak memberi kabar pulang kepada kedua orang tuanya itu.

Sasori tersenyum. "Tou-san, Kaa-san sebaiknya masuk dulu di luar dingin," ujar Sasori.

.

"Huah segarnya." Sakura keluar dari kamar mandi lengkap dengan baju piyama birunya, ia mengibas-ngibaskan rambut merah mudanya yang basah. Percikan air yang tersisa dirambut panjangnya terlihat meluncur kemana-mana tanpa arah.

Kaki jenjangnya melaju ke balkon kamarnya. Ia menyenderkan punggung badannya di dinding pembatas antara kamar dan balkonnya, tak lupa di tangannya ada sebotol susu yang selalu ia siapkan sebelum mandi.

Malam ini langit cukup cerah, bintang-bintang bersinar membentuk rasi-rasi aneh yang tidak diketahui Sakura. Dan bulan bulat telihat jelas tanpa ada awan yang menghalangi. Ditambah lagi malam ini, malam sunyi yang hanya memperdengarkan suara-suara binatang ber-volume kecil. Sakura meneguk seperempat susu botolnya, dahaga terus menyerangnya semenjak ia berada di taman kota. Ketika pulang dan sampai ke rumah, ia belum sempat meminum setetes pun air.

"Saku-chan, waktunya makan malam." Terdengar teriakkan keras ibunya dari lantai bawah.

"Iya Okaa-san, Saku turun." Ia meletakkan botol susu itu di atas meja kecil. Melangkah keluar kamar, tetap dengan handuk kecil melingkar dilehernya dan tetesan air yang keluar dari ujung rambutnya.

"Apa menu hari ini?" tanya Sakura saat sampai di ruang makan keluarganya. Aroma makanan yang tidak hanya satu macam menggelitik hidungnya. Segera saja ia duduk di samping sang ibu tercinta, Misaki Haruno.

"Kari buatan Nii-san-mu dan sushi."

"Hm, sepertinya enak." Ia mencicipi kuah kari yang asapnya masih mengepul ke udara. "Enak," pujinya singkat sambil menyeruput kuah untuk kedua kalinya. Kari ini memang benar-benar enak, semua rasa begitu sempurna di lidahnya. Sakura akui kakaknya jago memasak, tidak sepertinya yang hanya bisa menikmati saja. Terdengar miris memang, ia yang seorang perempuan malah tidak bisa memasak. Tapi ia berusaha untuk belajar walau akhirnya gagal dengan dapur berantakan dan masakan yang gosong.

"Benarkah?" Sasori terlihat bahagia setelah adiknya itu menangguk. "Padahal aku kira gagal, itu kari pertamaku."

"Nani? Berarti aku jadi bahan percobaan?" Sasori dan kedua orang tuanya tertawa melihat kepolosan adik sekaligus anak bungsu mereka. "Kalian jahat, untung saja masakkannya enak." Sakura melipat tangannya di dada, pertanda jika ia marah.

"Sudahlah Saku-chan, sebaiknya kita makan," perintah sang ayah, Rikou Akasuna. Sakura kembali makan dengan perasaan campur aduk. Beberapa suap makanan memenuhi mulutnya.

.

~[Miki-Michi]~

.

Rumah keluarga Uchiha

"Jadi bagaiamana keputusanmu?" Fugaku- ayah Sasuke- bertanya kepada anak bungsunya. Tatapannya yang tajam dan menusuk, tidak dihiraukan Sasuke. Ia santai saja ditatap seperti itu, tanpa ada keinginan untuk kabur atau alasan lainnya.

"Aku akan ikut." Fugaku menyerngit dahi.

"Mengapa keputusanmu tiba-tiba berubah padahal kemarin kau menolak mentah-mentah rencana itu Sasu-chan?" ujar aniki-nya, Itachi Uchiha.

"Naruto, dia juga sekolah di sana, karena itu aku memutuskan untuk ikut." Lagi-lagi Sasuke menjawab santai. Fugaku meminum tehnya. Lalu menatap Sasuke kembali. Diperhatikannya raut kesungguhan dari sang bungsu.

"Baiklah, besok pagi kalian bisa berangkat." Sasuke menatap ayahnya, ia tidak setuju dengan keinginan ayahnya untuk pergi besok pagi, bukankan itu terlalu cepat. Butuh waktu untuknya mempersiapkan semuanya, lagi pula besok dia ada sedikit urusan.

"Tidak Tou-san, aku ingin pergi 2 hari lagi," usulnya. Raut kekesalan sedikit menyelimuti Fugaku, sangatlah mudah untuknya, marah terhadap semua yang membantah perintahnya terbukti saat ini. "Aku ada sedikit urusan besok pagi," lanjut Sasuke. Fugaku menutup matanya, berpikir akan keputusan anaknya, mungkin kali ini ia harus mengalah. Ia bangkit dari tempatnya duduk. Sebelum itu dia mengangguk, pertanda ia menyetujui keputusan Sasuke. Sasuke tersenyum kecil.

"Arigatou Tou-san." Sasuke membungkukkan badannya, senang akan apa yang ia putuskan diterima oleh ayahnya.

"Sasu-chan, kau hebat," ucap Itachi sambil memeluk adiknya. "Tapi kenapa kau tidak mau berangkat besok pagi?"

"Sudah kubilang besok aku ada urusan, dasar aniki baka." Sasuke pergi meninggalkan Itachi yang tengah menangis terharu [?] akibat nama baru yang diciptakan Sasuke kepadanya.

._.

~['TBC']~

._.


Note Author Baka:

Chap 2, gimana menurut kalian? jelek ya, maafkan author baka ini ya T^T

Apa ada yang nunggu fic ini? kayaknya enggak deh *pesimis*

Gomen, kalo chap ini masih belum ada fantasy. saya belum bisa masukkin di sini, karena ada sesuatu yang harus di sembunyikan *gayalah*, maaf kalo masih ada TYPO dan EYD yang nggak bener. Kadang mata saya bermasalah.

.

Bales ripiu \(^o^)/

Hikari Uchiwa: Ini udah update, semoga suka.

UchiwaSakura ChKu: makasih sarannya kemarin, apa ini udah lebih panjang.

Ayhank-chan UchihArlinz: Gomen disini belum ada fantasy-nya mungkin di chap depan.

Dijah-hime: Apa udah kejawab pertanyaannya? arigatou semangatnya.

Amor Namikaze : eh, mungkin untuk sementara saya mw fokus ke fic ini dulu, trus 2 fic itu mungkin salah satunya mw saya del. Udah kejawab kan pertanyaanmu? makasih correctnya. ripiu lagi ya

wise-cchi is kara: Makasih pujiannya n correctnya. akan saya perbaiki kesalahannya. belum bisa muncul sekarang fantasynya, gomen. ripiu lagi ya

Chiwe-SasuSakuNaru:ini udah update chiwe-san. I hope you like it.

Ren-san: makasih pujiannya, apa ini kilat?

G-dragon: makasih semangatnya, ini udah update

baa-chan:makasih sarannya, apa ini panjang?

Hwang Energy:saya udah update ini.

.

Makasih yang kemaren udah ngeripiu fic saya, ripiu lagi ya *ngarep* , yang belum ripiu tolong ripiu #disababa, yang belum baca, baca sama ripiu sekalian ya. #dilemparkesungai

oh iya aku minta doa dong, aku mau latihan ujian nih doain semoga nilainya bagus.

.

^^Selamat Hari Raya Idul Adha bagi yang merayakan ^^

.

R
E
V
I
W
E

P
L
E
A
S
E