Haii haiii, ketemu lagi di chapter 2… XD
Just ana g login : makasih yah dukungan tuk UTSnya… XD
Uchiha Eky-chan : I'll update ASAP…
Kurasuke UchiHaruno: gue juga suka unsur2 sci-fi.. XD
me: nih udah update… ;)
Valkyria Sapphire: di fav? Waah, silahkan… silahkaaan.. XD
rei – chan: makasih yah XD
via-princezz: anuuu… covenant tuh apa? Hehehehe…
ckck vivi, HarunoZuka : impian Sasuke? Liat aja nanti yaah… hehehee
Suu : gpp telat review yang penting kehadiranmu, ahahahahaha *lebay*
kyu's neli-chan: thank you..
The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
Sakura berjalan menuju rumahnya dengan langkah kakinya yang dipercepat sedikit, dia ingin sampai duluan dirumah sebelum adiknya, Konohamaru tiba disana. Kejadian disekolahnya tadi masih membuatnya bertanya-tanya, aneh sekali ada murid pindahan langsung banyak sekaligus seperti itu, dan lagi ada 3 cowok yang menghampirinya saat dia duduk sendirian di taman belakang sekolah. Tapi saat ini Sakura tidak ingin memikirkannya dulu, karena hari ini adalah hari yang sangat istimewa baginya.
"Aku pulaaaaang," ucap Sakura yang membuka pintu rumah, dia diam sejenak ketika melihat keadaan rumah sangat gelap, tapi Sakura langsung membuat senyuman kecil dan berucap, "Konohamaru, aku sudah tahu rencanamu."
Klik.
Nyala lah lampu satu persatu dan muncul sosok pemuda dengan wajah yang dikembungkan kedua pipinya.
"Kakak curang, sudah tahu semua apa yang akan terjadi," ucap pemuda itu sambil membawakan kue yang berhias lilin.
Sakura tersenyum dan memeluk adiknya dengan erat, "Tapi aku tetap senang karena walaupun kamu tahu aku bisa menerkanya, kamu masih tetap menyiapkan kejutan ini, terima kasih yah."
"Ayo tiup lilinnya, dan ucapkan permohonan," ucap Konohamaru memberikan kue itu pada Sakura.
Sakura terdiam memikirkan apa yang dimintanya dan mengambil nafas dalam-dalam, lalu ditiupnya lilin itu satu persatu.
"Kakak minta apa?" tanya Konohamaru.
Sakura menatap adiknya dan tersenyum lembut, "Aku minta agar kita selalu bersama selamanya," ucap Sakura dengan nada yang riang.
Konohamaru menyengir gembira melihat senyum kakaknya yang manis itu, lalu mereka menghabiskan kue itu berdua diruang TV bersandarkan sofa, dan terlihat perapian yang tidak nyala itu dihadapan mereka, perapian itu hanya berfungsi ketika musim dingin tiba.
o-o-o-o-o
"HAAAAHH! Kau serius Sasuke?" tanya Kiba dengan wajah kagetnya yang paling sempurna. Yang lain pun tidak kalah kagetnya ketika mendengar keputusan Sasuke.
"Oke, sekarang kita bisa mendaftarkan ada satu lagi hal keajaiban dunia," ejek Kiba dengan wajah datarnya.
"Kiba, jangan berlebihan, Sasuke hanya memutuskan untuk mendekati Sakura, lagipula bukan hanya dia sendiri, kita juga akan mendekatinya… maksudku, agar bisa mengenalnya lebih jauh, jadi kita bisa memastikan kekuatan gadis itu," jelas Neji.
"I-ini tehnya," kata Hinata yang datang membawa minuman.
Kini mereka berada di rumah yang sangat megah yang berisikan 8 orang, Sasuke, Kiba, Naruto, Neji dan Shikamaru sedang duduk santai diruang tamu.
"L-lalu, bagaimana rencana selanjutnya?" tanay Hinata yang ikut bergabung dengan mereka.
"Aku tidak tahu pasti, yang jelas diluar misi ini, aku juga ingin berteman dengannya," ucap Naruto, "Sepertinya dia mendapat perlakuan yang tidak baik dikelas."
"T-Tidak baik?" kata Hinata yang bingung.
"Ah, mungkin karena itu dia beda dari yang lain, karena kami sempat menghampirinya saat di taman, dan dia menghindar," sambung Shikamaru.
"Beda dari yang lain bagaimana?" tanya seorang gadis yang tiba-tiba merangkul Shikamaru dengan nada riang.
"Inooo! Sejak kapan kau disini?" tanya Kiba yang terkejut.
"Hehehehe, aku kan bisa pindah tempat kapanpun aku mau," jawab gadis berambut pirang yang bernama Ino itu masih sambil merangkul Shikamaru.
"Apa disekolahmu masih belum ada orang yang mempunyai kekuatan seperti kita?" tanya Neji dengan lembut pada Ino.
"Belum," jawab Ino.
"Ah!" tiba-tiba Sasuke bersuara yang membuat semua menoleh kearahnya, "Ino! Kau bisa melihat masa lalu seseorang kan?"
"I-iya… tapi itu tidak selalu berhasil sih," jawab Ino yang sudah melepaskan pelukannya dan duduk disamping Shikamaru.
"Mulai besok kau pindah kesekolah kami, dan bantu aku mendekati wanita itu," perintah Sasuke tanpa menoleh kearah Ino.
"wanita itu? HEH! Sasuke mulai tertarik dengan wanita? Akhirnyaaa..~~~" ucap Ino sambil menempelkan kedua tangannya dengan wajah lega.
"Bukan, maksud Sasuke wanita itu adalah wanita yang Tsunade maksud," jelas Naruto yang sudah melihat tatapan marah Sasuke pada Ino.
"Ha? Sudah ketemu?" tanya Ino dengan wajah yang berubah menjadi serius.
"Itu dia masalahnya, aku merasakan dia salah satu dari kita, tapi kita belum yakin apa kekuatannya itu," jawab Neji.
"Eh, aku dengar dari wanita berambut merah dan berkaca mata itu, katanya Sakura itu bisa mengetahui apa yang akan terjadi loh," kata Naruto sambil memeluk bantal kecil.
"Ah, si wanita," ucap Kiba.
"Sakura? Jadi namanya Sakura? Seperti apa orangnya?" tanya Ino lagi.
"A-aku punya datanya, tapi tidak lengkap," ucap Hinata yang berdiri dan menekan remote.
Begitu remote ditekan, tembok yang bertempel lukisan itu seketika berubah menjadi layar besar, dan dengan sangat mahir Hinata mengotak-atik tombol-tombol yang terpampang disana, begitu berhasil membuka data Sakura, terlihatlah wajah Sakura dilayar lebar tersebut.
"Oooh, cantik yah," kata Ino.
"Bagaimana dengan sifatnya, Naruto?" tanya Neji yang memilih bertanya pada Naruto daripada ke Sasuke.
"Ehm, bagaimana yah, bisa dibilang dia itu pendiam, tapi murah senyum kok, mungkin… ah, bisa dibilang dia tidak mau berteman," jelas Naruto.
"Atau tidak ada yang mau berteman dengannya," sambung Sasuke yang membuat seluruh mata tertuju padanya.
Ino terdiam mendengar pernyataan Sasuke, bisa dibilang kalimat 'tidak ada yang mau berteman' itu sedikit sensitive untuk Ino, karena dia pernah merasakan ketika orang-orang menghindarinta karena kekuatan yang dia miliki. Ino terdiam sejenak dan merengutkan alisnya, sampai ada sebuah tangan yang menggenggamnya dan itu membuat Ino menatap pemilik tangan tersebut, Ino tersenyum lembut pada Shikamaru yang memandangnya dengan tatapan cemas.
Ino memejamkan matanya dan tersenyum, seolah sudah memutuskan untuk sesuatu, "Sasuke."
Sasuke menoleh kearah Ino, dan Ino pun melanjutkan kalimatnya, "Aku akan pindah sekolah besok, sepertinya aku akan akrab dengannya."
Shikamaru dan Neji tersenyum, mereka berdua sangat kenal dengan Ino yang baik hati dan tulus, karena mereka selalu bersama sejak SMP.
"Bagaimana kalau Hinata juga ikut?" tawar Naruto.
"A-aku tidak bisa, aku tidak bisa sedikitmpun meninggalkan tempat ini, kalau aku ikut juga, siapa yang akan melacak gerak-gerik musuh?" tolak Hinata.
"Benar juga," ujar Kiba.
"Baiklah, mulai besok aku akan mencoba se alami mungkin berteman dengannya," ucap Ino yang bersemangat.
o-o-o-o-o
"Konohamaru, aku berangkat duluan yah, hari ini aku tugas piket," ucap Sakura sambil memakai sepatunya.
"Yaaa, hati-hati kak," balas Konohamaru masih dengan matanya yang sedikit tertutup dan melirik kearah jam, dan itu masih jam 6 pagi "Hngh… kenapa rajin sekali sih pagi-pagi sudah berangkat."
~Sakura's POV~
Ok, mungkin kalian juga berfikir hal yang sama seperti adikku, tapi inilah kegiatan yang aku suka kalau disekolah, jadwal piketku… aku bisa menghabiskan waktu lebih lama dikelas sebelum orang-orang datang, membereskan tempat duduk, dan…
"Haaiii, maaf lama… kalian sudah lapar ya.."
Memberi makan pada kucing yang kupungut seminggu yang lalu, aku menyembunyikannya dibelakang sekolah, untung ada penjaga sekolah yang bersedia membantuku merawat kucing itu, pejaga sekolahku ini sudah sedikit tua, dialah satu-satunya yang menerima keadaanku, dan tidak takut padaku, karena kenapa? Karena dia juga sama sepertiku, bedanya dia bisa membaca pikiran orang lain.
"Hohoho, Sakura sudah datang rupanya."
"Paman Jiraiya, terima kasih yah sudah mau membantuku merawat shiro," ucapku sambil mengelus-elus leher kucing berwarna putih itu.
"Sama-sama… hei hei, bagaimana? Apa kedepannya nanti aku mendapatkan wanita cantik dan seksi?"
Pertanyaan yang sama selalu kudengar ketika aku bertemu dengannya, paman Jiraiya ini memang sedikit mesum, apalagi kalau melihat siswi-siswi disini dengan roknya yang pendeknya tidak normal, itu sudah bagaikan surga baginya.
"Hhhh, kuberi tahu tidak yaaah," ucapku meledeknya.
"Ayolah Sakuraaa, masa kau tidak sedih melihat pamanmu ini melajang seumur hidup."
"Kalau kuberi tahu tidak akan seru paman, hehehehe, yang jelas wanita ini sangat cantik! Aku berani jamin!" ucapku sambil mengacungkan jempolku.
Aku tidak membohonginya, aku memang pernah melihat pama Jiraiya sedang memeluk seorang wanita cantik, dan wanita itu juga kelihatannya membalas pelukan dari paman Jiraiya ini. Tapi yang bikin aku bingung… kemampuanku ini kadang berfungsi kadang tidak, karena terkadang aku tidak apa-apa kalau bersentuhan dengan seseorang, tapi tidak jarang juga kalau ada orang yang menyentuhku tiba-tiba aku bisa melihat apa yang akan terjadi pada orang itu, bahkan….
Aku bisa melihat masa lalunya.
"Sakura, Shiro biar aku yang mengurusnya, sekarang sudah jam 7, kamu kembalilah ke kelas," ucap pama Jiraiya sambil menepuk pundakku.
"Oke, terima kasih yah paman, daaah Shiroo," ujarku sambil berlari meninggalkan paman Jiraiya bersama Shiro.
~Sasuke's POV~
Menyebalkan!
Kenapa aku harus datang pagi-pagi ketempat ini?
Apalagi Naruto terus menerus berbicara tentang hubungannya dengan Hinata yang menurutku sama sekali tidak menarik.
"Hei, Sasuke… kau dengar tidak?" ucap Naruto sambil menggoyangkan tubuhku yang sedang duduk bersender di kursi.
"Sudah kubilang, aku tidak akan mendengarkan apapun kalau omonganmu itu hanyalah tentang hubungamu dengan Hinata!"
"Bukan, aku tidak bilang itu tadi," jawab Naruto, "Ada suara rebut-ribut, ayo kita lihat."
"Aku tidak terta…waaah! Heii!" seperti biasa, si bodoh itu tidak mendengarkan omonganku, dia menari lenganku dan membawaku ketempat dimana asal suara itu muncul.
"AKU MELIHATMU SEDANG DIHAMPIRI OLEH NEJI! JANGAN SEKALI-KALI KAU DEKAT-DEKAT DENGANNYA! MENGERTI PENYIHIR?"
Waw! Lontaran yang sangat keras sehingga membuatku juga sedikit penasaran dengan apa yang terjadi. Aku melihat kira-kira ada 7 wanita yang sedang mengepun seseorang diloker, ketika aku dan Naruto mendekati mereka, aku sedikit melihat ada sosok berambut pink.
Pink?
Setahuku hanya gadis itu yang rambutnya pink.
"MENGERTI TIDAK?"
PLAAAK
Ditampar yah?
Bukan urusanku.
Paling-paling dia hanya menangis dan meminta ampun, lalu berucap tidak akan mendekati Neji lagi. Yah.. itulah pikiranku sebelum mataku terbelalak melihat ekspresi datar dari wajahnya, sebenarnya kenapa dengan dia? Sudah ditampar begitu… kenapa tidak menunjukkan reaksi apa-apa?
"Hooh, masih tidak mau menjawab perintahku yah," aku mendengar wanita yang lebih pantas disebut penyihir dan berambut hitam panjang itu menggerang, "JAWAB IYA!" lanjutnya sambil menjambak wanita pink itu.
Oke, kali ini tidak tega melihatnya, aku mulai berjalan untuk membelanya, namun langkahku terhenti ketika aku melihat sosok yang kukenal menyerobot kumpulan wanita yang kasar itu dan menahan lengan sang wanita yang menjambak rambut… Sakura.
"CUKUP!"
"N-Neji…"
"Lepaskan tanganmu, atau kupotong!"
Bagus, itu juga yang akan kukatakan kalau aku yang berada disana.
"Hiiiii, M-Maafkan kami," ucap wanita itu dan segera membubarkan kelompoknya.
Aku memandang sosok Sakura yang sedang merapikan rambutnya dengan tatapan datar, satu hal yang membuatku penasaran… sebenarnya Sakura itu bisa tersenyum ramah, tapi kenapa dia malah memilih memasang wajah tanpa ekspresi seperti itu kalau sedang dihina teman-temannya?
"Kau tidak apa-apa?" tanya Neji dengan lembut.
Entah aku ini sadar atau tidak, aku melangkah kearah Sakura dan berusaha… memegang pipinya? Dan gerakanku terhenti ketika Sakura menoleh kearahku dengan wajahnya yang seolah mengatakan 'kamu mau apa?'.
"Ehm… ini, tempelkan di pipimu," ucapku sambil memberikannya plester agar pipinya tidak membengkak akibat tamparan tadi.
o-o-o-o-o
~Normal's POV~
Sejak kejadian tadi pagi, Sakura terus berfikir, siapa sebenarnya Sasuke, Neji dan teman-temannya itu, dari kemarin perlahan mereka menghampiri Sakura, dan lagi hanya mereka yang tidak terpengaruh oleh omongan teman-temannya disekolah.
"Hari ini kita kedatangan murid baru… lagi," ucap guru Iruka sambil mempersilahkan murid itu masuk.
"Hai, salam kenal semuanya, namaku Yamanaka Ino, mohon bantuannya yah."
"Haaii! Inoo Inooo!" teriak Naruto yang melambaikan tangannya.
"Oh, kenalan mereka? Pantas cantik."
"Beruntung yah kelas kita."
"Iya, seharusnya ada satu nih yang harus dibuang keluar."
"Sssttt, nanti dia dengar, bisa-bisa kau disihir loh."
Kembali lagi pada hinaan yang ditujukan untuk Sakura secara tidak langsung, dan Sasuke melirik kearah wajah Sakura yang seolah tidak memperdulikan hinaan itu.
"Baiklah, Yamanaka, kau bisa duduk dibelakang Sakura," ucap guru Iruka.
"Okay."
Ino berjalan melewati Sakura, begitu sudah dekat, Ino melirik sedikit kearahnya dan melihat Sakura yang sedang mencoret-coret kertasnya. Naruto dan Sasuke berfikir Ino akan berhenti didepan Sakura dan memperkenalkan dirinya sekali lagi, namun hal itu tidak dilakukan olehnya, dia lebih memilih untuk langsung duduk dibelakang Sakura.
Waktu pun berlalu, kini bel istirahat berbunyi, dan seperti biasa, semua murid langsung keluar seolah tidak mau satu ruangan dengan Sakura. Sasuke dan Naruto saling lirik, mereka masih merasa canggung, memang sih rencananya Sasuke mau mendekati Sakura, tapi dia bingung bagaimana caranya?
"Haaahhh, aku lupa membawa bekaaal, huuu lapaar," keluh Ino tiba-tiba.
"Hei-hei kamu yang berambut pink," panggil Ino dan itu membuat Sakura menoleh, "Siapa namamu?"
"Sakura… Haruno Sakura," jawab Sakura sambil sedikit tersenyum.
"Mau temani aku ke kantin?" tanya Ino pada Sakura yang langsung membalikkan tubuhnya lagi, "Aku belum hapal sekolah ini, dan sekarang auk sangat lapar, aku ingin makan, mau kan kamu menema…"
Ucapan Ino teputus ketika Sakura memberikan secarcik kertas yang menggambarkan peta sekolah itu.
"Kau ikuti saja yang kutulis dibawah," ucap Sakura tersenyum lembut sambil beranjak dari duduknya dan berjalan pergi.
"Heii, kamu mau kemana?" tanya Ino yang berusaha mengejar, sebelum…
"Mau kemana gadis penyihiir?" Karin datang mengganggunya bersama teman-temannya.
"Permisi, aku mau lewat," ucap Sakura yang tidak menanggapi omongan Karin.
"Ooowww, sudah berani melawanku yah? Bisa apa kamu melawanku? Kamu hanya cewek lemah yang selalu diam kalau ditindas dan di hina!" bentak Karin.
"Maaf Nona berambut merah, sepertinya omonganmu sudah keterlaluan," tegur Ino, dan pemandangan tersebut hanya bisa ditonton oleh Naruto dan Sasuke dari bangku mereka masing-masing.
"S-Sasuke, feelingku tidak enak," bisik Naruto pada Sasuke.
"Oh, kamu si anak baru itu yah, kuberi tahu padamu, dia ini gila,monster! semua orang takut padanya, bahkan aku pernah melihatnya sendiri, saat pelajaran memasak dulu, dia pernah teriris tangannya dan begitu kuperhatikan belum ada semenit, luka itu sudah tidak ada, apa itu namanya kalau bukan penyihir?" ucap Karin panjang lebar.
"Lalu kenapa?" tanya Ino seolah tidak perduli, karena hal seperti itu sudah biasa bagi mereka yang mempunyai kekuatan khusus.
Karin terdiam dan memandang Ino dengan sinis, lalu pandangan itu buyar oleh ucapan Sakura, "Maaf, aku mau lewat."
Karin dan semua pengikutnya saling lempar pandang, "Kau itu menyebalkan yah!" bentak Karin yang mendorong Sakura hingga terjatuh?
Tidak.
Karena Sasuke sudah berada di dekat situ dan menahan tubuh Sakura yang hampir jatuh.
Ino yang sangat kesal melihat tingkah Karin memegang tangan Karin dengan keras sehingga membuat Karin sedikit merintih, seketika Ino terdiam dan memejamkan matanya lalu membuat simpul senyum di bibirnya.
"apa alasanmu menindas Sakura hanya karena dia seperti itu?" tanya Ino dengan nada meremehkan.
"Apa maksudmu?"
Ino tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya didepan dadanya, "Seorang anak kecil sekitar umur 7 tahun menangis sendiri didalam lemari sekolahan, dan diejek habis-habisan oleh teman-teman kelasnya karena rambutnya yang berwarna merah… waah, cerita anak itu kondisinya seperti Sakura yang sekarang yah, Karin."
Karin tertegun mendengar ucapan Ino dan bisa dilihat wajahnya menjadi pucat llau keringat mengalir dari dahinya.
"K-kau…"
"Monster? Penyihir? Atau gila?" silahkan pilih sebutan yang pas untukku," tantang Ino.
"Cih! Ayo semua pergi!" perintah Karin yang pergi meninggalkan kelas itu.
Ino menoleh kearah Sakura yang masih berdiri dengan tatapan tidak percaya, karena ini pertama kalinya ada yang membelanya sampai segitunya.
"T-terima kasih," ucap Sakura dengan suaranya yang pelan.
"Aku mau imbalan," pinta Ino dengan nada ketus.
"Hei Ino! Matre juga ka nada tempatnya, memangnya Shikamaru tidak memberimu nafkah?" sewot Naruto.
BLETAK
Penghapus sukses mendarat diwajah Naruto.
"Aa… kamu mau apa?" tanya Sakura yang serius menanggapi Ino.
"Aku…" ucap Ino menjulurkan tangannya dihadapan Sakura, "Ingin menjadi temanmu."
Sakura terkejut mendengar permintaan Ino yang sangat tiba-tiba, terlihat wajah Sakura yang merona merah dan itu tanpa disadari oleh siapapun membuat Sasuke terkejut melihat ekspresi lain dari Sakura, saat Sakura akan menjabat tangan itu, tiba-tiba.
"Ha?" ucap Ino dengan wajah terkejut dan panik.
"Sasuke!" panggil Naruto dengan nada panic, dan Ino yang langsung mengambil pose seperti menutupi Sakura.
Sakura yang tidak tahu apa-apa hanya terdiam melihat Naruto yang langsung lompat dari tepat duduknya dan berkumpul bersama Ino dan Sasuke yang kini berada di hadapannya, Sakura hanya bisa melihat ketiga punggung mereka, muncullah kabut putih yang lumayan tebal menutupi ruangan tersebut.
"hhmm, sepertinya aku juga sudah menemukannya," ucap suara laki-laki yang perlahan sosoknya itu muncul.
"Cih! Waktunya tidak tepat," desis Sasuke.
"A-ada apa ini?" tanya Sakura.
Mendengar adanya suara Sakura… Sasuke, Ino dan Naruto terkejut dan langsung menoleh kebelakang.
"K-kau… bisa bergerak?" tanya Sasuke bingung.
"M-memangnya kenapa?" ucap Sakura lagi.
"Aneh, kalau kabut seperti ini muncul, itu artinya waktu telah terhenti, dan semua orang yang tidak memiliki keuatan khusus pasti akan terhenti juga, tidak salah lagi… Sakura lah orangnya!" pikir Sasuke.
"Wah, wah, wah… suda dijaga rupanya," ucap sosok laki-laki berambut putih dan berkacamata itu.
"Kabuto!" geram Naruto.
"Kalau kalian masih ingin hidup, serahkan gadis itu padaku."
"Enak saja! Memangnya dia barang!" sewot Ino.
"Naruto!" panggil Sasuke, dan dibalas anggukan oleh Naruto.
Sasuke dan Naruto langsung melompat dan mengeluarkan sesuatu yang aneh dari tangan mereka, sesuatu yang tidak pernah Sakura lihat sebelumnya, Sasuke mengeluarkan seperti aliran listrik, dan Naruto seperti bola angin yang berputar, hal ini membuat Sakura takut… benar-benar takut.
Saat mereka akan menyerang Kabuto, ada seseorang yang memegang kedua lengan tersebut dan melemparkannya kesembarang tempat, sehingga membuat seluruh kelas berantakan, orang itu mempunyai 6 tangan, seperti laba-laba.
"M-Makhluk apa itu?" ucap Sakura yang sangat ketakutan.
"Kidoumaru, bukan saatnya kau muncul kan?" kata Kabuto sambil membetulkan kacamatanya dan tidak bergerak dari posisinya, sementara itu Sasuke dan Naruto sedang berusaha berdiri dari reruntuhan kursi dan bangku.
"Tuan Orochimaru yang mengirimku kesini, kalau bukan mana mau aku kesini!" jawab sosok yang bernama Kidoumaru itu, "Tuan Oroschimaru berubah pikiran, kita akan ambil gadis itu kalau sedang sendiri."
"Huh, baiklah, padahal ini pengenalan yang bagus, sampai jumpa… para sampah."
Dengan begitu sosok 2 orang yang tadi Sakura lihat menghilang begitu saja, dan sukses membuat lutut Sakura gemetar hebat sehingga menyebabkan hilangnya kesadaran Sakura, saat Sakura akan tumbang, ada yang menahan tubuhnya.
"Sakura, kau tidak apa-apa?" ucap suara yang menahan tubuh Sakura.
"Neji?" ucap Ino yang mneoleh kebelakang dan melihat Neji datang bersama Shikamaru dan Kiba secara bersamaan.
"Ino, kau tidak apa-apa?" tanya Neji sambil merangkul Sakura yang sudah tidak sadarkan diri.
"Iya, aku tidak apa-apa, tapi Sakura… sepertinya dia shock sekali." Jawab Ino dengan wajah cemas.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang? Tanya Kiba.
"Kita bawa saja ke tempat Tsunade," usul Naruto.
"Jangan," tolak Shikamaru, "Itu akan membuatnya tambah shock.
"Jadi?" tanya Ino.
"Kita cari tahu dimana rumahnya, dan kita bawa dia kesana," jawab Sasuke yang membuat semua menatap laki-laki berwajah dingin itu.
o-o-o-o-o
~Konohamaru's POV~
Hhhhhh…..
Lelah sekali, padahal bukan jadwal latihan, tapi pelatih menyuruh latihan basket untuk pertandingan nanti, aku ingin cepat-cepat pulang dan ngobrol-ngobrol bersama kakak.
Itu keinginanku, sebelum aku melihat ada 6 ORANG ASING! Dirumahku.
"S-S-SIAPA KALIAN?" bentakku pada orang-orang itu, sedangkan mereka semua langsung menoleh padaku yang memakai seragam gakuran ini.
~Normal's POV~
"Heeeh! Tidak sopan bicara dengan yang lebih tua!" tegur Kiba.
"Kau pasti adiknya Sakura yah, salam kenal," ucap Naruto smabil cengengesan dan mendekati Konohamaru.
"J-Jangan bercanda! Siapa kalian! Mana kakakku!" teriak Konohamaru.
"Berisik sekali anak itu!" gerutu Sasuke yang duduk disofa.
"Tenang saja bocah, kakakmu sedang tidur dikamarnya," ucap Kiba sambil mengacak-acak rambut Konohamaru, "Tipekal sister complex yah, hahahaha."
BUUK!
Tendangan Konohamaru tepat mengenai benda yang sangat penting bagi masa depan Kiba, dan itu membuat Kiba terbungkuk sujud dilantai.
"Apa yang kalian lakukan pada kakakku!" bentak Konohamaru sekali lagi sambil menghampiri dan berdiri ditengah-tengah mereka.
"Hei, dengar yah," ucap Neji pelan-pelan dan memegang bahu Konohamaru, "kakakmu tidak apa-apa, dia hanya shock karena…."
"Karena apa?" tanya Konohamaru dengan wajah serius.
"Erm…" Neji sangat bingung bagaimana harus menjelaskannya.
"Dia shock saat tadi didepan sekolah ada yang berkelahi sampai yang berkelahi babak belur," sambung Ino dengan wajah senyumnya, "Tapi kakakmu tidak apa-apa kok, dia hanya pingsan, dan kami membawanya kesini."
Konohamaru diam mendengar penjelasan dari Ino, tidak bisa dipungkiri, Sakura memang tidak tahan dengan yang namanya perkelahian, karena sebelum orang tuanya meninggal, mereka selalu bertengkar, mempermasalahkan kekuatan Sakura yang menyebabkan semua tetangganya ketakutan.
"Nah, boleh kami meminta izin untuk bertemu dengan kakakmu?" tanya Ino dengan nada lembut.
"Kenapa minta izin? Bukannya kalian sudah lancang masuk kesini saat kakak pingsan?" ketus Konohamaru.
"Heh! Masih untung kakakmu itu kami bawa kesini! Dari pada kita biarkan dia pingsan dikelas! Asal kau tahu saja yah! Kakakmu itu berat!" sewot Sasuke yang beranjak dari duduknya.
"Dikelas? Tadi kakak pirang ini bilang didepan sekolah?" tanya Konohamaru yang bingung dan tidak memperdulikan kesewotan Sasuke.
"Erm.. ya, Sakura melihat adegan itu dari kelasnya," jawab Naruto dengan pintar.
"Bagaimana? Boleh kami melihatnya?" tanya Ino.
"Sebenarnya…" ucap Konohamaru ragu-ragu, "Kalian itu siapa?"
"Kami temannya, kami semua baru saja pindah ke tempat kakakmu," jawab Shikamaru.
Konohamaru sedikit curiga pada mereka yang tidak saling tatap satu sama lain itu, namun dia bersyukur ternyata kakaknya ditolong oleh mereka, "Baiklah, silahkan ke kamar kakak."
Semua mengikuti Konohamaru berjalan, bisa saja mereka menunggu Sakura bangun didalam kamarnya, tapi itu tindakan yang kurang sopan, jadi Sasuke hanya meletakannya dikamar Sakura. Ya… Sasuke lah yang menggendong Sakura. Konohamaru membuka pintu dan melihat kakaknya sedang berbaring diatas kasurnya dengan lelap.
"Kakak…" bisik Konohamaru sambil menggenggam tangan Sakura.
"Ino, bisa lakukan sekarang?" tanya Sasuke.
"Ng," angguk Ino dan memulia memegang tangan Sakura, "Sasuke, mau melihatnya bersamaku?" ajak Ino yang mengerti akan rasa penasaran Sasuke.
Sasuke mengangguk dan menyentuh pundak Ino.
"Mau apa?" tanya Konohamaru bingung.
Keadaan jadi sunyi ketika Ino memejamkan matanya dan menggenggam tangan Sakura, Ino dan Sasuke melihat ada sosok seorang anak kecil yang sedang menangis dikerumunan teman-teman seumurnya.
"Tidaaaak, aku bukan penyihiirrr."
"Bohooong, buktinya lukamu bisa sembuh sendiri."
"Benar koook, aku bukan penyihir, aku juga tidak mengerti kenapa lukaku bisa sembuh sendiri."
"Itu karena kamu tidak sadar kalau kamu penyihir, monster berwujud manusia! Menyeramkan, kami tidak mau bermain denganmu."
Pemandangan berubah kesuasana rumah yang sedan ribut oleh suara orang dewasa, dan sosok anak kecil itu yang mendengar percakapan orang dewasa itu dibalik tembok.
"Harus sampai kapan aku pura-pura menyayanginya?"
"Sabar! Bagaimanapun juga dia anak kita, kita harus merawatnya."
"Aku tidak tahan dengan hinaan dari seluruh tetangga!"
Pemandangan berubah lagi menjadi di sebuah kamar, dan terlihat sosok anak kecil itu sedang meronta-ronta dan memukul lengan orang dewasa yang mencekik lehernya.
"Tidaaak! Ibuu, jangan bunuh akuuu, aku mohoon!"
"Ini gara-gara kamu! Aku menyesal melahirkan anak sepertimu!"
"Istriku! Apa yang kau lakukan!
"Huhuuuhuu… maaf… maafkan ibu Sakura… maafkan ibu~"
Berubah lagi menjadi pemandangan disuatu taman, seperti dibelakang sekolah,d an terlihat gadis itu sudah memakai seragam SMPnya.
"Hiiii, lihat, katanya dia keturunan monster loh."
"Ha? Bukannya penyihir yah?"
"Eh, mau taruhan tidak? Siapa yang berani menjadi temannya? Aku kasih 1 juta."
"Mau kau beri 10 jutapun aku tidak akan mau!"
Dan berubah lagi menjadi pemandangan saat festival sekolah.
"Pergii! Pergi semuanyaaa, ruangan ini akan meledak!"
"Hah? Bicara apa kau Sakura? Kalau mau berfantasy jangan disini, menjauh sana! Penyihir!"
"Aku tidak bohong, keluar dari ruangan ini! Aku mohoon!"
"Mengganggu saja sih! Kalau mau kau saja yang keluar! Kami tidak keberatan kau tidak ada dikelas ini!"
Lalu, Ino pun membuka matanya yang sudah berlinang air mata dengan derasnya, Sasuke hanya terdiam menunjukkan ekspresi seolah tidak percaya apa yang baru saja dia lihat, perlahan Ino menempelkan tangan Sakura ke pipinya dan terus menangis.
"Setidaknya… aku... ada yang mendampingi saat semua orang takut padaku," ucap Ino pelan sambil sedikit terisak.
A/N : oh yeaaahhh, chapter 2 sudah update... XD
tentang impian Sasuke nanti aja yah dikasih taunya, sekarang bahas tentang Sakura dan perkenalan-perkenalan dulu... ..
boleh minta review lagi?
atau kalau ada yang mau ditanyakan silahkan tanya, dari pada sesat dijalan.. XD
c u at chapter 4... ;)
