The Chosen One

Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort

Rated: T

~Sakura's POV~

Siapa?

Suara siapa ini?

Siapa yang menangis?

Kenapa suaranya begitu menyedihkan?

Bisa kurasakan sesuatu yang hangat mengalir dalam tubuhku… aku tidak bisa mendeskripsikannya dengan benar, tapi… aku merasa nyaman dengan genggaman yang kurasakan…

Perlahan kubuka mataku dan yang kulihat adalah…

"Kyaaaaaaa! K-kenapa kamu ada disini?" teriakku yang kaget melihat wanita bernama Ino yang baru saja pindah kesekolahku berada di… kamarku? "Kenapa aku ada disini?"

"Kau pingsan tadi," jawab laki-laki yang tadi pagi menolongku dengan senyumannya, ah… kalau tidak salah namanya Neji, entah kenapa kalau melihat dia aku jadi gugup, senyumannya sangat lembut.

"Pingsan?" ucapku bingung. Kenapa aku bisa pingsan? Setelah kupikir-pikir… ah, aku ingat… aku langsung menoleh kearah Naruto dan Sasuke yang sedang berdiri didepanku dengan tatapan takut.

"Tenang saja, kami tidak akan menyakitimu, kami temanmu," kata Naruto sambil tersenyum padaku.

Teman?

Memangnya ada yang mau berteman denganku?

"Sakura," aku menoleh pada suara yang memanggil namaku dengan lembut itu, "Kami ingin memberi tahu kamu sesuatu."

Itulah yang diucapkan oleh Ino sebelum adikku Konohamaru menyerobot pembicaraan kami.

"Sebenarnya apa sih hubungan kalian dengan kakakku? Dan apa yang kau lakukan tadi kakak pirang?" kata Konohamaru sambil berjalan kearahku.

"Ino, katakan saja pada Sakura semuanya, di depan adiknya ini juga," usul Shikamaru.

"Sakura," panggil wanita bernama Ino itu sekali lagi sambil menatapku dengan senyumannya yang… hangat, "Apa kamu mempunyai kemampuan yang menurutmu tidak wajar?"

Hah?

Apa yang dia maksud itu kemampuanku yang bisa melihat apa yang akan terjadi? Tapi kenapa dia menanyakan hal itu padaku? Dari mana dia bisa menebak itu? Tidak mungkin kan dia percaya dengan apa yang dikatakan orang-orang disekolahan.

"Sakura?"

Lamunanku terbuyar ketika mendengar suara laki-laki itu lagi… laki-laki yang membuat jantungku tidak normal.

Neji.

"A-aku…"

"Jangan takut," ucap Ino seakan tahu apa yang kurasakan, "Aku… bisa melihat masa lalu seseorang."

Apa?

Dia juga bisa?

"Dan aku baru saja dengan lancangnya melihat masa lalumu."

Aku terdiam menatap wajah Ino, lama-lama bisa kurasakan wajahku berubah menjadi panic ketika mendengar Ino melihat masa laluku, aku menepis tangan lembut Ino yang sedang menggenggam tanganku itu dengan keras.

"Maaf…" itulah yang terdengar dari suara Ino yang memelan.

"Kami terpaksa melakukan itu," sambung suara laki-laki yang dari tadi berdiri disamping Ino, melihat wajahnya yang sepertinya kesal karena aku telah menepis tangan Ino, bisa kutebak dia adalah kekasihnya.

"Sakura, bukan hanya kau yang mempunyai kekuatan seperti itu," ucap Neji tiba-tiba yang duduk disampingku, dan itu membuatku sangat grogi… ya tuhan, jantungku deg-deg-an, "aku pun memiliki hal yang sama denganmu."

"Kau… bisa melihat yang akan terjadi nanti?" tanyaku pada Neji.

"Bukan, aku beda denganmu, aku bisa merasakan orang-orang yang mempunyai kekuatan khusus, dan juga aku bisa melihat pandangan jarak jauh sebagaimana orang normal tidak bisa melihatnya," jelas Neji yang membuatku… bingung.

Tiba-tiba saja aku mengingat kembali apa yang terjadi dikelas tadi.

"Ah! Yang tadi kulihat…" ucapku sambil menatap Naruto dan Sasuke.

"Oh, ini maksudmu?" kata Naruto sambil menunjukkan telapak tangannya yang perlahan mengeluarkan pusaran angin kecil.

Aku ternganga melihatnya, dengan reflek aku menggenggam tangan Konohmaru yang kulihat… biasa saja?

~Normal's POV~

"Ini kekuatanku, aku bisa mengendalikan angin sesuka hatiku, bisa kujadikan sangat besar dan bisa kujadikan sejuk," ucap Naruto sambil mengangkat telunjuknya dan mengeluarkan angin sejuk.

Sakura hanya terdiam melihat hal yang sangat aneh didepan matanya.

"Nah, kalau Sasuke, seperti yang kau lihat dikelas tadi, dia bisa mengendalikan listrik dan juga api jadi kalau mati lampu panggil saja dia, hehehee," ledek Naruto sambil cengengesan.

"Seperti yang Neji bilang tadi, Sakura…. Kami semua sama sepertimu, aku bisa melihat masa lalu seseorang, sedangkan Shikamaru bisa mengendalikan bayangan dan membuat bayangan itu menjadi hidup," jelas Ino sambil tersenyum.

"Dan Kiba, dia mempunyai penciuman yang sangat tajam, kukunya juga bisa tumbuh panjang dan sangat tajam, Sakura… kalau kau disebut monster atau penyihir… lalu kami ini apa?" ucap Ino sambil memegang bahu Sakura dengan lembut.

"APA-APAAN INI!" teriak Konohamaru tiba-tiba.

"Konohamaru…" ucap Sakura yang juga kaget mendengar adiknya berteriak tidak sopan.

"Seenaknya saja menunjukkan kekuatan aneh kalian pada kakak, kalian pikir bagaimana perjuangan kakakku saat dia dihina oleh teman-temannya hah! Kalian sama saja dengan orang itu! Pasti ujung-ujungnya akan mengambil kakakku!"

"Konohamaru!" tegur Sakura.

"Orang itu?" tanya Sasuke.

Konohamaru terdiam dengan wajah kesal, dia mengepalkan tangannya, "Setahun yang lalu… saat kakak sedang sakit, ada seorang laki-laki berambut hitam panjang, dan mengatakan hal yang sama dengan kalian, dia juga tahu kalau kakak punya kekuatan aneh."

"Kenapa kau tidak bilang padaku?" tanya Sakura.

"Aku tidak mau kakak khawatir, karena… dia bilang…" Konohamaru terdiam, seperti takut akan mengucapkannya.

"Dia bilang apa?" tanya Sasuke.

Konohamaru tidak menjawab, dia menundukkan kepalanya dan memejakmkan matanya erat-erat, akhirnya mau tidak mau, Ino melihat masa-masa itu dengan menyentuh pundak Konohamaru.

"Takdir kakakmu itu sudah dipastikan mati, sebelum hal itu terjadi, biarkanlah kakakmu merasa berguna untuk seseorang."

"TIDAK!" teriak Ino dengan tiba-tiba dan membuat semua menoleh padanya.

"Erm… m-maksudku cepat… hehhee, cepat katakan apa yang mau kau katakan," ujar Ino sambil cengengesan, "Tapi kalau memang tidak mau yasudah, jangan dipaksa."

Keadaan jadi sunyi dan cangung, Shikamaru tahu sebenarnya apa yang Ino katakan itu bohong, dia melihat wnaita itu tadi menyentuh punggung Konohamaru dan sepertinya sudah tahu apa yang akan Konohamaru katakan. Begitu pula Neji yang sedang berada disamping Sakura, Neji menatap Ino dengan tatapan cemas, dan ini membuat dada Sakura sedikit sakit, entah perasaan apa yang mengalir didiri Sakura saat ini.

"Baiklah, sudah malam, kita harus pergi," ucap Kiba.

"Benar juga, kita harus memberi laporan pada Tsunade," kata Naruto.

"Tsunade?" tanya Sakura.

"Dia boss kami, suatu saat kita pasti akan mempertemukanmu padanya," jawab Naruto yang mengedipkan sebelah matanya.

"Nah Sakura, kami pulang dulu, sampai jumpa disekolah besok yah," ucap Neji yang membuat Sakura tersipu.

"I-iya…"

Melihat rona merah diwajah Sakura, Ino langsung menyadarinya dan membisikkan sesuatu pada Sakura.

"Besok akan kuberi tahu semua hal tentang Neji."

Dan itu sukses membuat wajah Sakura benar-benar merah seperti kepiting rebus.

"Apa yang kau bisikkan?" tanya Shikamaru.

"Hehehehehe, rahasia wanita," jawab Ino sambil melangkah keluar dan menggandeng lengan Shikamaru.

Ketika semua sudah keluar, kini tinggal Sasuke yang berdiri didepan pintu.

~Sasuke's POV~

Dia benar-benar membuatku penasaran! Akh! Andai saja aku bisa membaca pikiran orang. Mempunyai masa lalu yang seperti itu, pasti sangat berat untuk ukuran seorang wanita, aku sedikit mengerti, kenapa dia selalu menghindar tapi juga ramah pada seseorang, dia menghindar pasti karena takut orang yang mendekatinya menjadi menjauhinya karena takut pada kekuatannya… ya, pasti begitu. Dan dia selalu tersenyum, karena dia tidak mau menjadi salah satu orang yang menjauhinya dulu.

Terlalu baik.

Padahal lemah, tapi sok kuat.

Benar-benar wanita yang aneh.

"Sasuke cepaaaat, nanti kita tinggal loh."

Suara Naruto membuatku tersadar kalau ternyata aku belum beranjak dari kamar Sakura, aku sadar dia sedang menatapku dengan tatapan bingung, mungkin dia bingung kenapa aku tidak pergi bersama yang lain, yah… jangankan dia… aku sendiri juga bingung. Akhirnya dari pada kita sama-sama bingung, aku mulai melangkahkan kaki keluar dari kamar yang letaknya dilantai 2 ini, sebelum aku menghilang, aku menoleh kearahnya sekali lagi, dan…

"Sampai jumpa besok."

Ah! Sebenarnya apa yang kukatakan! Memangnya dia mau bertemu denganku lagi besok? Terserah! In demi kepentingan misi, dan demi impianku!

Ya…

Demi impianku!

~Normal's POV~

"Konohamaru…" panggil Sakura dengan tatapan masih melihat kearah pintu, dan Konohamarupun mneoleh, "Apa ini rasanya mempunyai teman?"

"Kak, kakak jangan mau ditipu oleh mereka!" sewot Konohamaru.

"Tapi kakak rasa, mereka tidak menipuku, kamu lihat sendiri kan tadi, mereka sama sepertiku," ucap Sakura.

"Tapi… mereka itu pasti akan membahayakan kakak, aku tidak mau…"

"Konohamaru, kalau kau benar-benar khawatir padaku, aku akan mengizinkanmu selalu berada disampingku saat bersama mereka, bagaimana?" ucap Sakura.

"Benar tidak apa-apa?" tanya Konohamaru.

"Iya."

"Walaupun kakak sedang berduaan dengan laki-laki berambut panjang tadi?"

Wajah Sakura langsung memerah sekali lagi, dan itu terlihat jelas oleh Konohamaru.

"Tuh kan! Kakak menyukainya kan!" sewot Konohamaru yang menaiki kasur Sakura.

"T-Tunggu… aku baru saja kenal, mana mungkin suka padanya."

"Bohong! Aku lihat tatapan kakak selalu lembut padanya, memangnya apa sih yang sudah dilakukannya?"

"Dia hanya menolongku tadi pagi, tidak lebih," jelas Sakura yang memegang pipi adiknya itu, Konohamaru langsung memeluk Sakura dengan erat.

"Aku tidak mau kakak dipermainkan oleh laki-laki, kakak wanita baik-baik, kakak pantas bahagia…"

Sakura tersenyum dan membalas peluk adiknya itu.

"Terima kasih, aku akan hati-hati kok."

o-o-o-o-o

"jadi, sebenarnya apa yang kau lihat tadi?" tanya Shikamaru pada Ino sambil menyetir mobil mengantar Ino pulang.

"Benar Orochimaru yang menghampiri adik Sakura, aku tidak menyangka dia lebih cepat beraksi dari kita," jawab Ino.

"Dan, apa yang kau bisikkan tadi pada Sakura?" tanya Shikamaru lagi, dia adalah tipe orang yang sangat tidak suka penasaran.

"Oh, Sakura… sepertinya dia menyukai Neji," jawab Ino terkekeh kecil.

"Ha? Apa dia tahu kalau Neji…"

"Haruskah aku memberitahunya? Kalau dipikir-pikir ini adalah cinta pertamanya, mana mungkin aku menghancurkannya, aku akan membantunya," potong Ino.

"Tapi Neji…"

"Aku sudah memilihmu, Shikamaru… kamulah yang aku suka, bukan yang lain," potong Ino yang tersenyum memandang Shikamaru.

Tiba-tiba Shikamaru menghentikan mobilnya.

"Kenapa berhenti? Kan belum sampai," tanya Ino sambil menoleh kearah jendela.

"Ucapanmu membuatku hilang kendali," gumam Shikamaru.

"Hah?" Ino menolah pada ucapan Shikamaru dan tiba-tiba Shikamaru meraih leher Ino dan menciumnya dengan lembut.

"S-Shikamaru… ini didalam mobil loh…" ucap Ino dengan nada pelan.

"Lalu? Apa kita tidak pernah melakukannya didalam mobil?" ucap Shikamaru sambil sedikit menyeringai.

"Dasar laki-laki!" ucap Ino yang mencium bibir Shikamaru dengan panas.

o-o-o-o-o

kembali lagi pada pagi hari yang cerah seperti biasanya, kini Sakura berdiri didepan cermin dengan ekspresi wajah yang berubah-ubah.

"Sedang apa sih kak?" kata Konohamaru yang tiba-tiba berdiri didepan pintu.

"Ah.. k-kamu… hehehe.."

"Muka kakak jelek sekali loh," ucap Konohamaru sambil menyantap cerealnya.

"A-aku tidak tahu harus menyapa Ino bagaimana nanti disekolah," ucap Sakura gugup.

Konohamaru tersedak mendengar pengakuan Sakura.

"Uhuk uhuk uhuk… kakak ini ada-ada saja, kalau mau menyapa ya sapa saja," kata Konohamaru yang mengelap bibirnya.

"I-ini kan pertama kalinya untukku menyapa teman disekolah, jangan mengejekku dong," sewot Sakura dengan wajah merona.

"Sebenarnya yang kakak siapa dan yang adik siapa sih?" tanya Konohamaru pada dirinya sendiri.

"Yep! Sudah, aku pergi dulu yah," pamit Sakura.

"Kak, nanti aku pulang telat loh," ucap Konohamaru yang berhadil menghentikan langkah Sakura.

"Kenapa?" tanya Sakura.

"Latihan basket, sebentar lagi festival disekolahku, kakak datang yah," jawab Konohamaru sambil membetulkan seragamnya.

"Oke, makan malam nanti aku akan membuat Yakiniku, aku berangkaaaat," ucap Sakura sambil berlari keluar rumah.

"Hhhhh, mudah-mudahan mereka tulus berteman dengan kakak," desah Konohamaru.

o-o-o-o-o

"Hooo, jadi mereka sudah memberi tahu jati diri mereka yah pada gadis itu? Cepat sekali" ucap seorang wanit berambut pirang dan berdada besar sambil meminum the dikursinya.

"I-iya, dan katanya mereka akan membawa Sakura kesini kalau sempat," ucap Hinata.

"Bagus, yang penting sekarang buat Sakura merasa dia nyaman bersama kita, karena aku ingin meminjam kekuatannya dengan keikhlasannya," ucap Tsunade sembil menyangga dagunya memakai kedua jemari-jemarinya.

"Wah, ternyata Nona Tsunade masih punya hati nurani yah," ledek seoarang wanit yang berdiri disampingnya sambil menggendong seekor babi.

"Kau meledekku atau apa, hah? Sizune?"

"Hehehe, tidak… hanya salut saja," kata Sizune sambil menjulurkan lidahnya.

o-o-o-o-o

Langkah yang sengaja dipelankannya karena gugup, dan tatapannya tertuju pada satu titik yang dia perhatikan dari tadi, Sakura Haruno sedang berdiri sambil sembunyi digerbang sekolah dengan wajahnya yang terlihat malu.

"Apa yang kulakukan siih~" pikir Sakura sambil menempelkan dahiny ditembok.

"Sakura?"

"Hyaa!" Sakura mneoleh kearah suara yang memanggilnya sambil menepuk pundaknya itu.

"Sedang apa kamu disini?"

"N-Neji?" ucap Sakura terbata-bata, "A-aku…"

"Sakuraaaaa!" ucapan Sakura terhenti ketika dia mendengar suara Ino dari kejauhan yang sedang berlari melambaikan tangannya.

"Ino," panggil Sakura sambil tersenyum lega.

"Ups, sepertinya aku datang disaat yang salah," pikir Ino saat melihat Sakura berdua dengan Neji.

"Ah, aku duluan ke kelas yah, aku lupa ada janji dengan guru Kakashi,daaaah," ucap Ino yang berlari melewati mereka.

"Guru Kakashi?" tanya Sakura yang tidak pernah mendengar nama itu disekolahnya.

"Ya, dia baru disini, dan dia juga sama seperti kami," jawab Neji sambil memandangi sosok Ino yang berlari.

"Punya kekuatan juga?" tanya Sakura memperjelas.

"Ya," jawab Neji masih sambil melihat sosok Ino yang sudah tidak ada, Sakura yang menatap mata Neji penuh dengan kelembutan saat menatap Ino merasa bingung, kenapa tiba-tiba hatinya merasa sesak?

"Mau sampai kapan kalian menjadi patung selamat datang disini?" ucap suara laki-laki yang membuyarkan tatapan Sakura, dan ketika dia menoleh.

"S-Sasuke?" ucap Sakura kaget

"Ayo kekelas denganku, kelasmu dan Neji kan berbeda," ajak Sasuke yang menarik lengan Sakura.

"T-Tunggu, apa kata orang-orang dikelas nanti kalau kita masuk ke sekolah bersama!" tolak Sakura yang menahan lengannya.

"Memangnya kenapa? Kalau masih ada yang mengejekmu akan kubakar nanti orangnya!" ucap Sasuke dengan nada yang emosi.

"Sasuke, jangan menarik Sakura seperti itu, lebih lembutlah sedikit pada wanita," ujar Neji menepuk lengan Sasuke.

Sasuke melihat Sakura menatap Neji dengan wajah tersipu, hal ini juga membuatnya bingung, perasaan kesal langsung memenuhi hati pemuda bermata onyx itu. Sasukepun melepaskan lengan Sakura dan mereka berjalan bersama hingga kedalam gedung sekolahan, dan langsung saja… menjadi bahan pembicaraan bagi seluruh murid di sekolahan.

Semua menatap kearah Sakura yang sedang berjalan di koridor bersama Sasuke, apalagi para wanita yang melemparkan tatapan seperti ingin membunuh, semua mencoba berusaha keras untuk mendekati Sasuke, namun tidak pernah ada satupun yang berhasil mendekatinya, bahkan mengajak ngobrol saja tidak ada yang berhasil, dan kini melihat Sakura berjalan disamping Sasuke, membuat semua siswi mengeluarkan aura membunuh padanya.

Sesampainya dikelas, Naruto sudah berada disana dan… Kiba? Yang lebih membuat Sasuke bingung lagi, sekarang Kiba sudah dikerumuni oleh banyak siswi, apalagi Kiba bukan penghuni kelas itu.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sasuke dengan nada dingin sambil berjalan menghampiri Kiba.

"Ah, Sasuke… aku hanya berbuat baik pada wanita-wanita ini, katanya mereka ingin mengenalku lebih banyak," jawab Kiba sambil cengengesan.

"Maksudku, apa yang kau lakukan dikelas ini?" tanya Sasuke memperjelas.

"Ah, aku dipindahkan kesini, mungkin ditakdirkan untuk menemani para gadis yang kesepian disini karena kedinginanmu ini, Sasuke," ucap Kiba sambil berpose ala playboy.

"Kyaaa! Kiba memang the best!" teriak siswi-siswi dikelas yang membuat Sasuke dan Naruto terdiam.

"Setidaknya jadi asik deh kelas ini, karena sebelumnya ada wanita menyeramkan disini," ujar salah satu wanita yang berkumpul dikerumunan Kiba.

Langsung saja wanita itu mendapat tatapan sinis dari Sasuke… Kiba yang menyadarinya langsung mengalihkan pembicaraan agar wanit itu selamat dari Sasuke, sedangkan Sakura bersikap biasa saja seperti tidak ada yang berbicara buruk tentang dirinya, saat ini yang ada dipikiran Sakura adalah tatapan Neji yang selalu lembut saat melihat Ino, apa maksud dari tatapan itu?

Waktupun berganti dengan cepat, saat ini bel terakhir yang ditnggu oleh semua murid berbunyi, pertanda bel pulang telah tiba semua memasukkan buku-bukunya masing-masing dan saling melontarkan pertanyaan-pertanyaan seperti 'akan kemana setelah ini?' atau mengajak main satu sama lain. Tapi pertanyaan itu tidak berlaku untuk Sakura, melihat Sasuke dan Naruto tidak ada akhirnya Sakura memutuskan untuk pulang tanpa pamit, karena dia tidak ehm… belum terbiasa berpamitan saat pulang.

Sesampainya didepan, entah hari ini hari baiknya atau bukan dia melihat sosok Neji yang sedang berjalan pelan menuju depan gerbang, tanpa pikir panjang Sakura langsung berlari dan memanggil Neji.

"Neji," panggil Sakura saat jarak mereka sudah dekat.

"Ah, Sakura… mau pulang?" tanya Neji saat menoleh kearah Sakura.

"Ya, Neji sendiri?" jawab dan tanya Sakura balik.

"Ya, aku harus mengurus sesuatu ditempat 'kami'," jawab Neji sambil tersenyum ramah.

"Oh begitu, lalu yang lain?"

"Sakuraaaa!" teriak suara wanita dari jendela lantai 2, dan itu adalah Ino, "Mau pulang yah? Nejiii, antar Sakura pulang yaaaah."

"Yaaa, serahkan padaku," jawab Neji tersenyum pada Ino.

"Sakura! Nanti malam aku boleh menginap dirumahmu tidak? Aku mau memenuhi janjiku padamu yang tertunda tadi," teriak Ino dari atas.

"B-boleh… datang saja," jawab Sakura yang wajahnya merona merah, ini pertama kalinya ada teman yang menginap dirumahnya.

"Okeee, Neji antar dia sampai rumah yaaah, daaaah."

"Dasar… selalu berisik," ujar Neji dengan tatapan yang sama seperti tadi pagi.

Sakura menatap Neji dengan penuh rasa memahami, saat dia melihat wajah Neji yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit pilu, Sakura sadar akan sesuatu…

Sesuatu yang membuatnya juga sedikit pilu…

"Neji…" panggil Sakura pelan tapi cukup terdengar oleh laki-laki berambut panjang itu dan membuatnya menoleh, "Suka Ino yah?" lanjut Sakura.

Neji terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh Sakura, namun dia juga tidak menyangkalnya, Neji tersenyum pada Sakura dan menjawab pertanyaan gadis bermata emerald itu.

"Ya, aku menyukainya," jawab Neji jujur, dan itu membuat Sakura merasa miris mendengarnya, "Tapi aku terlambat, dia… sudah sangat mencintai Shikamaru."

Neji berjalan meninggalkan gedung sekolah itu dan langkahnya diikuti oleh Sakura, disepanjang perjalanan, Neji mulai menceritakan tentang dirinya dan Ino.

"Aku, Ino dan Shikamaru adalah teman dari kecil, kau tahu… Ino dulu sangat menyukaiku, bahkan dia tidak memperdulikan perasaan Shikamaru padanya," ucap Neji sambil terus berjalan, dan Sakura mendengarkan sambil menatap mata Neji, kemudian Neji melanjutkan ceritanya.

"Dulu aku tidak memandangnya sebagai wanita, sampai suatu saat dia menyatakan cintanya padaku dan aku menolaknya…yah, kau pasti bingung kenapa justru sekarang seperti akulah yang tergila-gila padanya, tadinya aku berfikir aku tidak mau menghancurkan hubungan persahabatan kami, namun pikiranku salah… hatinya sudah tertutup untukku," ujar Neji.

"Rasanya sangat sakit… disini," tunjuk Neji pada dadanya sendiri, "Saat aku tahu dia dan Shikamaru memutuskan untuk pacaran beberapa bulan setelah penolakanku, aku berani jamin Shikamaru berusaha mati-matian untuk membuat Ino berpaling padanya."

Keadaan menjadi sunyi, saat Neji mengucapkan kata 'sakit' sambil menunjuk dadanya, entah mengapa Sakura malah reflek memegang dadanya sendiri seolah dia merasakan apa yang dirasakan Neji.

"Menyedihkan yah," hina Neji pada dirinya sendiri.

"Tidak… menurutku kau adalah pria yang baik, namun salah mengambil keputusan, kalau aku jadi kamu mungkin aku akan menerima Ino, karena aku yakin pasti bisa membahagiakan Ino selain menjadi sahabat," ucap Sakura sambil menatap jari-jarinya yang ditempelkan satu sama lain itu, "I-itu menurutku."

Tanpa mereka sadari keduanya sudah sampai didepan rumah Sakura.

"Sampai besok," ucap Sakura sambil membuka pagar.

"Sampai besok, terima kasih sudah mendengaranku," ujar Neji.

Neji membalikkan tubuhnya meninggalkan Sakura, dan Sakura hanya bisa menatap punggung Neji dari belakang dengan tatapan memelas.

"Enaknya jadi Ino," gumam Sakura.

o-o-o-o-o

"Hei, Sasuke," panggil Naruto yang sedang tiduran diatap sekolah, "Kenapa wajahmu murung begitu?"

"…"

"Sasuke," panggil Naruto sekali lagi.

"Dia… suka… Neji… yah?" gumam Sasuke pelan.

"Hah? Kenapa?" tanya Naruto yang tidak mendengar omongan Sasuke.

"Tidak, bukan apa-apa," jawab Sasuke memalingkan wajahnya.

Sasuke sendiri merasa aneh, tidak sengaja dia melihat Sakura sedang berada didepan gerbang bersama Neji, dan Neji seperti mengantar Sakura pulang? Melihat itu Sasuke merasa sebal, padahal dia yang berencana ingin mendekati Sakura, tapi kenapa malah Neji yang dekat dengan gadis itu, sebenarnya sih tidak masalah siapa yang akan dekat dengan Sakura, ujung-ujungnya pasti akan tertuju pada Tsunade. Tapi… sekali lagi, Sasuke merasa bingung kenapa dia kesal.

"ARGH! SIALAN!" teriak Sasuke sambil memukul tembok.

"Haa? Kenapa sih kau ini?" tanya Naruto yang kali ini benar-benar bingung dengan kelakuan temannya sendiri.

"Naruto ikut aku!" ajak Sasuke sambil berjalan kearah pintu.

"Kemana?"

"Rumah Sakura," jawab Sasuke.

o-o-o-o-o

~Ino's POV~

Akhirnya sampai didepan rumah Sakura, memang dasar Shikamaru! Mengantarku saja malas, dia malah pergi bersama Kakashi! Jangan-jangan mereka homo!

Aku mendumel sambil menekan bel rumah Sakura, aku menunggu sampai ada yang membukanya, dan bisa kudengar suara Sakura dari dalam.

"Tunggu sebentaaaar."

Aku tersenyum sendiri membayangkan ekspresi Sakura yang sedang buru-buru itu, dan akhirnya tiba juga pintu rumah itu dibuka.

"Maaf yah lama, silahkan masuk," ucap Sakura dengan napas yang ngos-ngos-an?

"Sedang apa kamu?" tanyaku dengan nada aneh.

"Ah, aku tadi membersihkan kamar yang akan kau pakai nanti," jawab Sakura sambil tersenyum.

"Ya ampun Sakura, kamu tidak mengerti maksudku yah? Maksudku mau menginap adalah tidur sekamar denganmu, kalau tidak sekamar mana bisa kita cerita-cerita," ujarku sambil sedikit tertawa.

"O-oh begitu…" ucapnya yang malu.

Pasti Sakura sangat gugup, aku berani jamin ini pertama kalinya ada teman yang menginap dirumahnya,"Mana Konohamaru?"

"Dia pulang telat, katanya ada latihan basket," jawab Sakura sambil mengambil beberapa cemilan dikulkasnya.

"Sakura," panggilku dengan ekspresi iseng, "Kamu suka Neji yah."

BRUKKK

Sakura menjatuhkan maknaan yang baru saja dia ambil dari kulkasnya? Kenapa kelihatan sekali sih kalau dia sedang grogi?

"T-tidak… B-bukan begitu… a-aku…"

"Heii tenang, tenang… jangan gugup begitu, aku hanya bertanya," ujarku sambil membantu Sakura memungut kembali makanannya.

Aku melihat wajah Sakura yang tiba-tiba berubah menjadi sedikit pilu.

"Aku… hanya senang padanya… karena dia laki-laki pertama yang menatapku dan memperlakukanku dengan lembut selain adikku," ucap Sakura sambil memegang kedua pipinya.

Yah, tidak heran sih bagi Sakura yang baru pertama kali diperlakukan dengan lembut oleh laki-laki jadi salah tingkah begini, apalagi laki-laki itu Neji yang suka membuat para wanita salah paham dengan kelembutannya.

"Jadi, kamu tidak menyukainya?" tanyaku sekali lagi.

"Mana mungkin aku tidak menyukainya, aku suka padanya, tapi bukan suka dalam hal tertentu," jawab Sakura dengan yakin.

~Sakura's POV~

Tidak bisa, Ino tidak boleh tahu kalau aku menyukai Neji, bagaimana pun juga, Ino pernah menyukai Neji, aku tidak mau Ino tahu… tidak mau.

Ting noooong

Ketika bel berbunyi, aku dan Ino saling tatap, siapa yang datang? Kalau konohamaru tidak mungkin menekan bel terlebih dahulu, aku berjalan meninggalkan Ino di dapur dan membuka pintu.

"Aaahh?"

"Soreeee."

"Naruto? Sasuke? Sedang apa kalian disini?" tanya Ino yang muncul dibelakangku.

"Aku ingin main saja kesini, iya kan… Sasuke?"

"Hn," jawab Sasuke dengan wajah yang menatap entah kemana.

Aku tersenyum lembut pada mereka, ini pertama kalinya bagiku rumah akan ramai dengan kedatangan teman-temanku sendiri, bukan teman Konohamaru atau siapa, tapi temanku…

"Silahkan masuk," ucapku sambil tersenyum yang kukeluarkan dari dalam hatiku, "Aku buat makan malam dulu yah."

"Mau masak apa Sakura?" tanya Ino menghampiriku, "Mau kubantu?"

"Ah jangan, kalau ino ikut campur nanti rasanya tidak enak," kata Naruto yang memasuki ruang TVku.

"Kuracuni kau!" sewot Ino.

"Tidak apa, aku bisa sendiri kok, Ino tunggu saja bersama Naruto dan Sasuke diruang TV," ucapku sembari memakai celemek.

"Baiklah, bikin yang enak yaaaah," ucap Ino dengan nada riang.

"Ok," jawabku yang sudah memegang pisau.

~Normal's POV~

Saat Sakura sedang memotong-motong bumbu yang akan digunakan nanti, Sasuke menghampirinya dan berdiri disamping gadis berambut pink itu.

"Perlu bantuan?" tawar Sasuke.

"Ah, tidak… tidak apa-apa kok," tolak Sakura secara halus.

Sakura meneruskan kegiatan potong memotongnya itu, Sasuke hanya memandangi sosok Sakura denga tatapan yang sulit dijelaskan, antara penasaran, lembut, dan ingin melindungi bercampur aduk di benaknya. Namun adegan saat Sakura bersama Neji terlintas lagi diotaknya dan itu membuat Sasuke ingin mengungkapkan sesuatu pada Sakura.

"Neji…"

Baru mengawali kelimat dengan kata Neji… Sakura sudah gugup dan tanpa sadar memotong jarinya sendiri.

"Akh!" rintih Sakura.

"Hei… kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke yang langsung khawatir.

"I-iya… hanya tergores sedikit," jawab Sakura yang memencet telunjuknya dan mengeluarkan darah.

"Goresan sedikit itu bisa menyebabkan infeksi!" ucap Sasuke yang masih dengan nada khawatirnya dan langsung meraih telunjuk Sakura lalu menghisap darah tersebut.

"S-Sasuke…" Sakura memejamkan matanya ketuka jari telunjuknya sudah masuk kedalam mulut Sasuke, dia merasakan kehangatan yang mengalir dari mulut Sasuke, dan itu sangat sukses membuat Sakura menjadi malu sampai-sampai wajahnya memerah.

Sasuke membuka mulutnya dan melihat jari telunjuk Sakura… sudah tidak ada luka lagi disitu.

"Kemampuan specialmu memang sangat melegakan, untung lukanya hilang," ucap Sasuke yang Sakura lihat dengan tatapan lembut… tidak kalah lembutnya dengan Neji saat menatap sosok Ino.

"Ternyata…" ucap Sakura pelan sambil tersenyum, "Sasuke tidak segalak yang dilihat yah."

"Hn? memangnya aku galak?" tanya Sasuke sambil menggaruk kepalanya.

"Ya, kamu selalu memasang wajah seperti ini," ucap Sakura sambil menarik wajahnya kebelakang.

"Heh... aku tidak sejelek itu," kata Sasuke sambil mengacak-acak rambut Sakura.

tiba-tiba Sakura melihat sesuatu... sesuatu yang sangat memilukan, sosok seorang anak kecil yang menangis sambil memeluk kedua orang tuanya yang sudah berlumuran darah, lalu Sakura melihat... anak kecil yang mirip Sasuke itu berteriak sesuatu, sesuatu yang sangat memilukan. Sakura memejamkan matanya dan menutup telinganya, jelas saja hal itu membuat Sasuke bingung.

"Sakura?" panggil Sasuke masih dengan menyentuh Sakura.

"Ukh! nghh!" geram Sakura sambil memejamkan matanya makin erat.

"Sakura?" kini Sasuke menggoyangkan punggungnya.

SLAAAAP

Sakura menepis tangan Sasuke dengan sangat kencang, kemudian dia membuka matanya dengan air mata yang berlinang, perlahan dia raih wajah Sasuke yang posisinya lebih tinggi dari tubuhnya, dan Sakura langsung memeluk Sasuke dengan keadaan menangis.


A/N : bingung yah? hehehehee, maaf yah... awal-awal chapter memang pasti ngebingungin.. atau chapter ini malah nge bete in?maaf kalau begitu... u_u

untuk chapter ini aku g bikin adegan fight, chapter depan baru bakal mulai perkenalan musuhnya, chapter 2 kan kabuto dan kidoumaru udah muncul... kira-kira siapa lagi yang enak untuk dimuncullin yaaaah? heheheheee

thanks untuk review2nya yaah, syukur deh pada suka sama ceritanya...

untuk cita-citanya Sasuke tu ada hubungannya kok sama tujuan Tsunade nanti... :)