The Chosen One

Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort

Rated: T

~Sakura's POV~

Gelap.

Gelap sekali… dimana ini?

Kenapa tubuhku seperti… melayang? Kulihat ada sesuatu dibawahku.

Siapa itu?

Ah! Itu kan yang dibilang oleh Tsunade… Goddess.

Tapi ada apa ini sebenarnya? Kenapa aku bisa melihatnya? Dan siapa orang yang dihampirinya itu? Aku melihat sosok Goddess sedang berlari menghampiri seseorang yang kelihatannya tidak asing bagiku, tapi siapa? Mungkin kalau aku mendekat aku bisa tahu wajah orang itu.

Maka mendekatlah diriku pada orang itu, hampir aku bisa melihat wajahnya… sebelum…

KRIIIING KRIIING KRIIIIIING.

"Ngh…" tanganku mencoba meraih benda yang mengeluarkan suara nyaring itu, dan begitu aku yakin dengan tepat kalau aku memegang benda itu, aku tekan tombol diatasnya, dan berhentilah bunyi yang menyebabkan aku terbangun.

"Mimpi…?" gumamku sambil mengucek mataku.

Aku bangkit dari tempat tidurku dan berjalan pelan menuju kamar mandi, begitu kulihat wajahku didepan cermin aku teringat pada mimpi itu lagi, kalau kuingat-ingat lagi, wajah Goddess begitu pilu, ada apa yah? Apa yang terjadi dulu, dan dilihat dari tempatnya, sepertinya itu tempat yang sangat indah, aku belum pernah tahu ada tempat seperti itu, dan orang yang dihampirinya itu, sepertinya aku pernah melihat postur tubuh itu, tapi siapa? Dan dimana?

Kupandangi lagi wajahku didepan cermin, dan tiba-tiba aku teringat oleh ciuman Sasuke kemarin, bisa kulihat wajahku langsung memerah. Sasuke, kenapa dia melakukan itu, apa hanya untuk menghiburku saat aku terpuruk oleh Neji?

Neji?

Tunggu dulu, apa-apaan perasaan ini? Kenapa aku jadi merasa tidak peduli lagi dengannya? Aku bisa merasakan jauh didalam hatiku, aku lebih condong berfikir tentang Sasuke dan… orang yang didalam tabung air itu kemarin.

"Kakaaak, cepat turun, sudah jam berapa iniiii!" lamunanku terpecah mendengar panggilan adikku dari bawah.

Aku cepat-cepat membasuh wajahku dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah, ketika aku turun kebawah ternyata Konohamaru sudah berangkat duluan dan meninggalkan sarapan untukku, sejak kapan dia yang jadi bikin sarapan? Benar-benar adik yang baik, ketika aku mencicipi masakan buatannya.

"Tidak enaaak~~"

.

.

.

.

.

~Normal's POV~

Sasuke berdiri didepan rumah Sakura dengan gelisah, dia menunggu sudah sekitar setengah jam namun Sakura tidak kunjung keluar, dia bersender ditembok sambil menggaruk belakang kepalanya, sebenarnya bisa saja dia menunggu didalam, tapi ketika tadi dia bertemu Konohamaru, katanya Sakura belum siap-siap, maka Sasuke menunggunya diluar.

Tidak ada yang menyuruh Sasuke menunggu Sakura, itu hanya keinisiatifannya saja, dan begitu dia mendengar ada suara pintu terbuka, Sasuke langsung menyigapkan tubuhnya dan menoleh, Sakura keluar dengan wajah yang bingung ketika dia melihat ada Sasuke didepan rumahnya.

"S-Sasuke?" panggil Sakura dengan wajah heran.

"H-hai," sapa Sasuke kaku.

"Sedang apa disini?" tanya Sakura sambil berjalan mendekati Sasuke.

"Ehm… aku, aku… menunggumu," jawab Sasuke dengan ekspresi dingin, namun wajahnya memerah, dan lagi dia tidak memandang Sakura, wajahnya dipalingkan olehnya berusaha menutupi malunya, Sakura yang melihat reaksi Sasuke begitu menjadi tersenyum sendiri dan terkekeh.

"Hihihihi, kenapa harus malu? Kita kan pernah berangkat bareng, ayo," ajak Sakura menarik lengan Sasuke.

Mereka berjalan menuju sekolahan dengan keadaan yang sedikit canggung, Sasuke sangat gugup, karena dia tidak menyangka Sakura akan bersikap ramah setelah apa yang dilakukannya kemarin, dan Sakura… jangan ditanya, dia gugup setengah mati karena bingung harus bagaimana menghadapi Sasuke yang kemarin tiba-tiba menciumnya. Ya, kedua orang itu saling menutupi kegugupannya satu sama lain, sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, hanya saling lirik melirik memakai ekor mata masing-masing.

Sesampainya disekolah, Sakura dan Sasuke langsung masuk ke kelasnya dan sekali lagi Sakura melihat wajah lesu Naruto, akhirnya dia memutuskan untuk menegurnya.

"Naruto," sapa Sakura, "Ada apa? Akhir-akhir ini kamu tidak bersemangat."

"Hhhh, yaa begitulah, Sakura," jawab Naruto tidak jelas.

"Begitulah?" tanya Sakura bingung.

"Aku sedikit kesal dengan Hinata, dia menyembunyikan semuanya dariku, padahal aku selalu bilang apapun padany," utas Naruto sambil melamun.

"Naruto, coba kamu pikir lagi deh, Hinata itu bawahannya Nona Tsunade, apa jadinya kalau dia memberi tahumu dan Nona Tsunade tahu akan hal itu? Posisi Hinata juga serba bingung, aku yakin dia tidak bermaksud begitu padamu, jadi cobalah untuk mengertinya sedikit," jelas Sakura sambil tersenyum.

"Sakura…" panggil Naruto yang tidak percaya Sakura bisa sedewasa ini,"Terima kasih yah."

"Sama-sama," jawab Sakura.

.

.

.

Saat istirahat sekolah, Sakura langsung buru-buru keluar, dan itu membuat Sasuke bingung, mau kemana gadis itu keluar dengan buru-buru. Sakura berlari disepanjang lorong dan menuruni tangga, begitu dia belok.

BRUUKK

"A-Aw… maaf, ma…" omongan Sakura terhenti, karena yang dia tubruk adalah 2 orang cewek yang dulu sempat ikut-ikutan menindas dan menghinanya bersama Karin.

"Tidak apa Sakura," jawab salah satu cewek itu tersenyum lembut.

"Sakura," panggil yang satu lagi, "Maafkan kami yah"

"Eh?"

"Kami minta maaf sudah keterlaluan padamu, maaf… kadang kan manusia lahir bisa diberi keistimewaan, mungkin kamu salah satunya, dan kamu… bukan penyihir," ucap mereka sambil sedikit membungkuk, "Maafkan kami yah."

Sakura terdiam, matanya sedikit ber air karena terharu pada mereka yang akhirnya baik pada Sakura, "Ng… tidak apa-apa, terima kasih yah."

Kedua cewek itu tersenyum sambil meninggalkan Sakura, keadaan makin lama makin membaik bagi Sakura, tidak semua seisi sekolah ini jahat, ada yang terpengaruh dan ada juga yang takut menemani Sakura karena takut dijadikan bahan tindasan juga. Sakura melanjutkan langkahnya menuju belakang, tempat dimana penjaga sekolah berada. Begitu sampai, dia melihat paman Jiraiya sedang menyiram bunga sambil bernyanyi.

"Paman Jiraiya," panggil Sakura.

"Oh, Sakura… sudah lama tidak kesini, lihat Shiro merindukanmu," ucap Jiraiya yang menunjuk kearah Shrio yang menempelkan kepalanya di kaki Sakura.

"Tolong jangan berpura-pura lagi," kata Sakura.

"….."

"Aku sudah tahu semuanya, kenapa paman melakukan ini semua? Berpura-pura baik padaku dan…"

"Aku tidak berpura-pura baik padamu," potong Jiraiya, "Ibumu, adalah temanku, dia memintaku untuk menjagamu."

"Memintamu untuk menjagaku sementara dia mencoba untuk membunuhku dulu?" tanya Sakura dengan nada kecewa.

"Itu karena dulu dia masih bingung, bingung akan perlakuan tetangga pada kalian, Sakura… Goddess memilihmu!" jawab Jiraiya.

"Kalian pikir aku mau dipilih? Dan kenapa bisa aku yang dipilih?" ujar Sakura yang sedikit emosi.

"…" Jiraiya terdiam.

Itulah yang menjadi pertanyaan semuanya, kenapa Sakura yang dipilih?

"Kau keterlaluan Sakura, membentak orang yang sudah tua dan tidak berdaya ini," ucap suara dari belakang mereka, dna orang itu…

"Sasuke?" kenapa Sasuke ada disitu? Itulah yang dipikirkan Sakura.

"Masih saja sombong seperti biasa yah bocah," ujar Jiraiya.

Sasuke dan Jiraiya saling tukar pandang dan mengepalkan tangan mereka dan saling menyentuhkannya.

"Apa kabar, Sasuke?" tanya Jiraiya.

"Tidak seburuk dirimu," jawab Sasuke.

Suasana mereka sekarang tidak lagi canggung seperti tadi sebelum Sasuke datang.

"Hahaha, bisa saja kau, jadi… Sakura," kata Jiraiya yang kembali ke permasalahan awal, "Maafkan aku karena telah menutupi semua ini darimu."

"Rasanya aku mengerti perasaan Naruto pada Hinata," pikir Sakura.

Tanpa terasa bel masuk pun berbunyi kembali, Sakura dan Sasuke pamit pada Jiraiya untuk kembali ke kelas. Jiraiya menatap punggung kedua anak muda itu dengan tatapan sendu.

"Sasuke," panggil Sakura pelan.

"Hn?"

"Anu, masalah kemarin…"

"Waaahh! Tidak tidak, m-maaf aku tidak bermaksud… Sakura…a-aku.."

"Kamu kenapa? Maksudku masalah waktu digedung tua itu," kata Sakura yang bingung melihat rekasi Sasuke yang dipikirnya Sakura akan menanyakan kenapa dia menciumnya.

"O-oh… ada apa?" kata Sasuke yang langsung sedikit lega.

"Sosok orang yang didalam tabung itu… aku merasa sepertinya mengenalnya," ujar Sakura sambil berjalan menuju kelasnya.

Sasuke langsung tertegun mendengar pengakuan Sakura, menganalnya? Mengenal sosok yang didalam tabung itu, yang juga telah membunuh seluruh keluarga Sasuke? Sakura mengenalnya?

"Maksudmu?" tanya Sasuke untuk lebih memastikan ucapan Sakura.

"Maksudku, aku seperti mengenalnya, namun aku memang belum pernah melihat dia, tapi saat itu…" Sakura terdiam, dia seperti sedang menghayati perasaannya pada sosok itu, perasaannya? Ya, sepertinya perasaannya.

"Aku… sedikit takut, tentang semua ini, tentang Goddess, dan…"

"Aku akan melindungimu," potong Sasuke sambil menyenderkan kepala Sakura ke bahu kanannya "Apapun yang terjadi aku akan melindungimu, aku sudah janji pada adikmu kan?"

Sakura terdiam dan tetap pada posisi seperti itu, lalu dia tersenyum kecil dan berbisik, "Terima kasih, Sasuke."

Didalam kelas, Sasuke terdiam sambil sedikit memandangi Sakura diam-diam.

"Sakura, apa hubunganmu dengannya?" pikir Sasuke bingung.

Seusai pulang sekolah, Sakura tergeletak dikasurnya dan memejamkan matanya, dia merasa masih ada yang mengganjal dihatinya, dia masih sangat penasaran dengan siapa sebenarnya sosok didalam tabung air itu, kenapa dia merasakan perasaan rindu pada sosok itu?

.

.

.

Suasana yang gelap dan begitu banyak sosok makhluk percobaan didalam tabung air memenuhi ruangan itu, Kabuto menghampiri dari satu tabung ke tabung yang lain sambil mencatat hasil perkembangan mereka, sampai dia terhenti pada tabung yang sangat special itu.

"Kami semua menunggu kebangkitanmu, wahai Daemon," gumam Kabuto.

"Kabuto, lama sekali kau mencatatnya," sewot sosok perempuan yang bernama Tayuya.

"Aku sedang berbincang-bincang dengannya," jawab Kabuto santai sambil menyentuh tabung itu.

"Heh, tidak sabar menunggu pertunjukan sebenarnya yah?" desis Tayuya.

"Tampaknya gadis itu belum sadar dengan jati dirinya sendiri," kata Kabuto yang kini menyenderkan tubuhnya ditabung itu.

"Maksudmu? Dia hanya sekedar keturunan Goddess kan?" tanya Tayuya.

"Dia bukan sekedar keturunan, gadis itu adalah jelmaan, atau bisa dibilang reinkarnasi dari Goddess, kau tahu… ibu dari gadis itu pernah menolong goddess sekali saat dia terhempas dari khayangan, maka dari itu Goddess meminta ijin untuk menitipkan dirinya pada seorang ibu itu, untuk dilahirkan kembali kedunia."

Tayuya terdiam mendengar cerita dari Kabuto.

"Dari mana kau tahu itu?" tanya Tayuya yang heran.

"Tunggu dulu, aku belum selesai bercerita, dan kau tahu… siapa laki-laki ini?" tanya Kabuto dan Tayuya menggelengkan kepalanya, lalu Kabuto menjawabnya sendiri, "Dia adalah calon suami Goddess dulu, ya… calon suami sebelum kekacauan itu terjadi."

"Kekacauan? Calon suami? Bagaimana kau bisa menangkapnya?" tanya Tayuya.

"Tentu saja yang satu ini juga reinkarnasi dari Daemon sang calon suami dari Goddess, Daemon sudah lama mati sebelum Goddess dihempaskan ke bumi," jawab Kabuto.

"Mati? Kenapa?"

Kabuto tersenyum dan menjawab sambil membetulkan kacamatanya, "Karena dibunuh oleh adiknya sendiri."

"Hah! Sekejam itu? Waw, kita saja yang penjahat tidak bisa kalau harus membunuh keluarga sendiri," ujar Tayuya.

"Dan kau tahu, reinkarnasi dari adiknya Daemon yang bernama Belphegor itu siapa?"

"Siapa?"

"Ya! Cukup untuk dongengnya, sekarang kita dipanggil oleh tuan Orochimaru," potong suara laki-laki bertangan enam yang sudah berada didepan pintu tadi.

Tayuya berjalan bersama Kabuto sambil bertanya pertanyaan terakhir.

"Kenapa Goddess dilempar ke bumi?" tanya Tayuya.

"Kenapa? Tentu saja karena dia jatuh cinta pada iblis," jawab Kabuto sambil tersenyum.

"Kenapa kau bisa tahu semua itu?"

Kabuto tersenyum licik dan menjawab,"Kira-kira kenapa yah?"

"Dasar menyebalkan!"

Saat semua meninggalkan ruangan itu, sosok laki-laki yang berada di dalam tabung air itu sedikit menggerakkan jarinya, dan perlahan membuka matanya dengan pelan.

.

.

.

.

.

Begitu indah suasana ditempat yang sedang diduduki oleh sosok wanita berambut soft pink di sebuah taman, dan sosok itu tiba-tiba berdiri sambil berlari menghampiri seseorang, sosok laki-lakiberambut hitam dan panjang, mereka berpelukan dengan mesra, terlihat sekali bahwa mereka saling mencintai, namun, kenapa kedua sosok itu terlihat begitu pilu?

"Ikutlah denganku," ajak sosok laki-laki itu.

"Daemon, aku mau… bawalah aku dari sini, aku tidak peduli dosa sebesar apa yang akan kutanggung, asal bersamamu itu sudah cukup," ucap sosok wanita yang dikenal sebagai Goddess, tanpa mereka sadari ada satu sosok lagi yang mengawasi mereka dari atas, sosok laki-laki beramut biru tua dan bermata merah dengan sayap hitamnya yang mengembang dengan indah, namun sedikit menyeramkan.

"HAAH!"

Sakura terbangun dari tidurnya yang sebentar itu.

Mimpi?

Dia bermimpi lagi tentang adegan itu, namun kini makin terlihat dengan jelas sosok orang-orang yang ada di mimpinya itu.

"Daemon?" ucap Sakura bingung sambil pikirannya menuju laki-laki yang berada didalam tabung itu.

Sakura buru-buru beranjak dari kasur dan menelepon Sasuke, entah mengapa saat ini hanya Sasuke yang didalam pikirannya, untuk memberi tahu tentang mimpinya, tapi ketika dia menuruni tangga dibawah.

"Sudah bangun?"

Sakura terdiam, dia melihat semua teman-temannya ditambah dengan Hinata yang kelihatannya sudah baikan dengan Naruto dan Tsunade plus Jiraiya.

"K-Kalian?" Sakura benar-benar bingung, kenapa mereka ada dirumahnya.

"Konohamaru! Cepat sakenyaaa, lama sekali!" gerutu Tsunade.

"Iyaaa, baweell!" jawab Konohamaru dari arah dapur.

Ting nooong.

"Ah biar kubuka," ucap Ino yang berlari membuka pintu.

"HAi, maaf yah aku telat, tadi ada murid pingsan di sekolahan jadi aku menolongnya dulu," ujar seorang laki-laki berambut silver dan mengenakan masker di wajahnya.

"Ya ya ya, masuklah Kakashi," ucap Ino yang sepertinya sudah biasa dengan keterlambatan orang itu.

Ketika Sakura sedang bengong melihat situasi yang tiba-tiba ramai seperti ini, Sasuke menghampirinya.

"Maaf yah, rumahmu jadi ramai sekali," ucap Sasuke.

"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Sakura bingung.

"Kata Konohamaru kau habis ulang tahun yah? Makanya kami memutuskan untuk merayakannya sekarang, maaf yah telat," jawab Sasuke.

"T-tidak… maksudku…"

"Sakuraaaa, ayo kesiniii, ada hadiah untukmu," tarik Ino yang membawa pergi Sakura dari hadapan Sasuke.

"Ini, buka buka," suruh Ino dengan semangat.

Sakura membuka kotak kecil berwarna pink itu, dan begitu dibuka dia melihat ada sebuah gelang, gelang yang sangat simple namun terlihat begitu manis, seperti gelang rajutan. Begitu Sakura mengambil gelang itu, seluruh yang ada diruangan itu menunjukkan lengannya yang memakai gelang yang sama dengan kado Sakura.

"Kami juga memakai gelang yang sama, hehehehehe," ucap Ino sambil tertawa.

Sakura menangis sambil tersenyum, "Terima kasih… semuanya… terima kasih…"

"Yaaah, kok nangis, kita kan kesini untuk senang-senang," ucap Kiba.

"Itu namanya tangisan kebahagiaan, bodoh!" cela Naruto.

"Berisik! Sekarang saja mencela, dari kemarin lesu seperti tidak ada gairah hidup!" cela Kiba kembali.

"Ini Sakenyaaa," kata Konohamaru sambil membawa sake.

"Konohamaru! Kau tidak boleh meminumnya!" ancam Sakura.

"Oh ayolah Sakuraaa, sekali-kali boleh kaaan, adikmu sudah besar loh," bujuk Tsunade yang merangkul Sakura.

"Ya, kalau ada apa-apa ada kita orang dewasa yang mengatasinya, nyahahahhaa," ujar Jiraiya yang sepertinya sudah mabuk.

"Justru orang dewasa seperti kalianlah yang aku khawairkan," gumam Sakura pelan.

Akhirnya semua berpesta dengan dipenuhi tawa dan riang, dengan sangat tidak rela Sakura melihat adiknya mabuk karena disuguhi sake oleh Tsunade, saat itu yang tidak minum sake hanyalah Sakura, semua bahkan Neji pun ikutan minum dengan senang hati, tentu saja dengan Tenten disampingnya. Sakura terkekeh kecil ketika melihat Ino mabuk dan mencekik Shikamaru karena melarangnya untuk meminum lebih banyak lagi.

Terlihat Kakashi dan Jiraiya yang sedang membicarakan tentang buku yang Kakashi pegang, apa isi dari buku itu Sakura tidak mau tahu, dilihat dari ekspresi kedua orang itu saja Sakura sudah tahu apa isi buku itu, Tsunade sedang memperbudak Naruto, Kiba, Hinata, Shizune bahkan Konohamaru, melihat pemandangan yang tidak pernag dilihat Sakura sebelumnya ini membuatnya merasa hangat dan nyaman.

Akhirnya malam pun tiba, ini bukan dibilang malam kalau jarum jam menunjukkan kearah jam 2, untung besok hari libur, Sakura mengambil selimut untuk menyelimuti adiknya yang sedang tertidur di sofa, lalu Sakura pergi keluar pekarangan rumah, masih didalam rumah namun bisa untuk tidur-tiduran. Sakura menempati dirinya duduk disitu sambil memandangi bintang diatas yang hanya sedikit. Sambil meminum teh hangat Sakura tersenyum sendiri, dan senyum itu hilang ketika dia rasakan ada selimut yang membungkus punggungnya.

"Kau bisa masuk angin nanti," ucap suara laki-laki yang kini tengkurap disamping Sakura yang sedang duduk.

"Kau sendiri tidak pakai selimut?" tanya Sakura.

"Aku laki-laki, tubuhku kuat," jawab Sasuke sambil menahan dagunya dengan telapak tangannya.

"Tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin, kalau sakit ya sakit," kata Sakura sambil mengikuti posisi Sasuke yang tengkurap lalu membagi selimut itu berdua, "Kalau begini kan lebih hangat."

Sasuke tersenyum lembut dan memalingkan wajahnya secepat mungkin ketika Sakura menatapnya, dia sangat malu dan grogi.

"Sasuke," panggil Sakura.

"Hn?"

"Aku memimpikan sesuatu tentang Goddess, sudah 2 kali aku bermimpi hal yang sama," ujar Sakura.

"Mimpi apa?"

"Aku bermimpi, Goddess sedang berpelukan dengan laki-laki yang sepertinya dicintainya, tapi ekspresi mereka begitu pilu," jelas Sakura sambil meletakkan kepalanya diatas lengannya yang terlipat,"dan sosok laki-laki itu sangat mirip dengan sosok laki-laki yang berada di dalam tabung air itu."

Shock.

Itulah yang dirasakan Sasuke saat ini.

Bagaimana itu bisa menjadi sebuah kebetulan?

"Makanya, saat aku melihat laki-laki itu… aku merasakan perasaan rindu…" gumam Sakura yang suaranya memelan.

Dan akhirnya Sakura tertidur disitu, disamping Sasuke yang sedang memandangi dirinya dengan teliti.

"Apapun hubunganmu dengannya, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu maupun mendekatimu," ucap Sasuke sambil menyibak rambut Sakura yang menutupi wajah tidurnya.

Sasuke menatap wajah tidur Sakura yang sangat polo situ, lalu dia mendekati wajahnya dan mencium bibir itu sekali lagi, namun kali ini dengan perasaan yang sangat yakin dan tanpa sepengetahuan pemilik bibir mungil itu.

"Aku mencintaimu," bisik Sasuke pelan dan kembali mencium mata Sakura yang sedang terpejam itu.

.

.

.

"Hoaaaaahhhmm… akh! Kepalaku pusing sekali," gumam Konohamaru yang terbangun, dan begitu dia melihat kearah jam dinding.

"JAM 12?" teriak Konohamaru.

"BANGUUUUUN! SEMUA BANGUUUNN!'" teriak Konohamaru sambil membunyikan panic memakai sendok.

Teng teng teng teng

"Ngh… apa sih...~~ berisik sekali~" gerutu Ino yang bangkit dari atas dadanya Shikamaru.

"Hoaaaahhmmm, siapa sih yang cari mati pagi-pagi begini?" sewot Tsunade.

"Cepat bangun dan bereskan tempat ini! Aku mau belanja makan siang dulu, kalau aku datang tempat ini belum rapih, akan kutendang keluar kalian semua," ucap Konohamaru yang langsung keluar.

Semua hanya terdiam melihat perubahan sikap Shikamaru yang sangat drastis.

"Adik Sakura, seram yah," ucap Hinata.


A/N : chapter ini agak pendek yah? aku janji chaper depan diperpanjang, okay...

sebelumnya aku mau update LB (Love Between) dulu yaah... jadi yang ini mungkin agak seidkit lama updatenya... tapi janji g akan seminggu kok, okay...

makasih yaa review-reviewnya... XD