hai hai haiiiii... chapter 7 disini, hehehehehee...
untuk semuanya, makasih yah udah nge review, dan untuk WiNTeR-BLoSSoM CHeRRY tebakan kamu dan yang lainnya sama yah... hehehehee... identitasnya akan aku kasih tau di chapter 8 atau 9, jadi ditunggu aja yah... ^^
here we go...
The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
Pagi hari kali ini tidak secerah pagi-pagi sebelumnya, pagi hari kali ini adalah pagi yang mendung dan sedikit berembun, sampai-sampai seluruh murid memakai jaket atau sweater dan menambahkan syal untuk dilehernya. Mengalami pagi yang mendung ini, Sasuke termenung didalam kelasnya sambil menatap keluar jendela, sampai pada akhirnya dia menoleh kearah kenannya dan suatu penampakan orang yang sedang tersenyum dengan aneh tepat dihadapannya.
"Mau apa kau, Kiba?" tanya Sasuke dengan ekspresi yang datar.
"Aku melihatnya~~" seringai Kiba dengan wajahnya yang menahan tawa dan penuh dengan ledekan.
"….." Sasuke hanya terdiam kebingungan melihat tingkah temannya yang sangat aneh ini.
"Aku juga melihatnya~~" sambung Naruto dari sisi berlawanan dengan ekspresi wajah yang sama seperti Kiba.
"Apa! Kalian melihat apa!" gerutu Sasuke yang berhasil dibuat kesal oleh duo trouble masker itu.
"Huh!" desis Kiba yang berjalan kearah Naruto dan terbaring dilantai dengan gemulai seolah dia perempuan, dan diiringi oleh Naruto yang memasang ekspresi seolah dia adalah Sasuke, perlahan Naruto berlutut dan memakaikan punggung Kiba dengan jaketnya lalu berbisik dengan gaya yang sok cool.
"Aku mencintaimu, Sakura," ucap Naruto seolah memperagakan apa yang dilakukan Sasuke tadi malam.
"Aku juga mencintaimu, Sasuke," jawab Kiba yang mengubah suaranya menjadi seperti perempuan.
Lalu Naruto mencoba mencium Kiba dengan ekspresinya yang masih seperti Sasuke itu, "Jangan Sasuke, disini banyak orang, ah~ aku tidak mau, kyaaaa," tolak Kiba yang dibuat-buat karena Naruto membuka paksa seragamnya.
BLETAK!
Akhirnya Sasuke sukses mendaratkan pukulan diatas kepala mereka masing-masing.
"Adududuh~, kau kasar sekali sih!" sewot Naruto sambil memegangi kepalanya.
"Dengar yah! Apa yang kalian lihat tadi malam, awas kalau sampai kalian beri tahu ke orang lain, apalagi ke Sakura!" ancam Sasuke dengan wajah memerah.
"Ada apa denganku?"
"WAAAHH!" Sasuke teriak yang kaget mendengar suara Sakura di pintu. "t-tidak… tidak… tidak apa-apa."
"Begini Sakura…" Kiba yang sangat usil menghampiri Sakura dengan tubuh ringannya sambil sedikit meloncat-loncat, "Apa nanti kamu ada acara?"
"Tidak, kenapa?" jawab Sakura smabil berjalan menuju bangkunya.
"Mau kencan bersamaku?" ajak kiba yang sedikit melirik kearah Sasuke yang memberikan tatapan mengancam pada Kiba.
"Boleh," Sakura tersenyum pada Kiba, dan jawaban itu membuat Sasuke sedikit shock.
"Benarkah? Sepulang sekolah nanti aku akan mentraktirmu es krim yang enak," usul Kiba.
"Baiklah," jawab Sakura yang sekali lagi tersenyum.
Waktu yang tepat bel sekolah berbunyi bertanda masuk, sekarang adalah pelajaran biologi yang dimana gurunya adalah Kakashi, Kakashi memasuki kelas dengan wajah datarnya dan juga memakai maskernya. Selama pelajaran dimulai Sakura terus memandangi luar dengan tatapan kosong, jelas saja ini membuat Sasuke penasaran karena dari tadi laki-laki itulah yang memperhatikan Sakura.
"Sakura" Kakashi memanggil Sakura, namun karena melamun, Sakura hanya memandangi luar jendela dengan tatapan lesu, melihat itu Kakashi menghampiri Sakura, begitu tubuhnya sudah dekat dengan siswinya itu, Kakashi tidak memanggilnya dan itu membuat seluruh murid menoleh kearah Sakura yang masih bengong.
Saat Kakashi akan menepuk pundak Sakura.
"Ngh… Jangan!" Sakura teriak dan beranjak dari duduknya masih sambil dengan tatapan keluar jendela, dan tanpa sadar dia telah menubruk Kakashi sehingga gurunya itu terjatuh kebelakang.
BRUAAAAK.
Sakura menoleh kebelakang dan….
"Oh, tidak…." Rintih Sakura yang melihat Kakashi sudah tergeletak dilantai.
.
.
.
"Hahahaha, Sakura kau lucu sekali, membuat Kakashi seperti itu, aku ingin sekali melihatnya!" seru Ino saat makan siang di kantin.
"Aku sungguh malu," ucap Sakura yang meminum jus strawberrynya.
"Apa nanti kau jadi pergi dengan Kiba?" tanya Sasuke yang baru datang dan langsung duduk disamping Sakura.
"Ya, aku sudah janji kan," jawab Sakura.
"Ada apa denganmu? Hari ini sepertinya lesu sekali," Sasuke bertanya dengan nada pelan dan sedikit berbisik pada Sakura. Ino dan Shikamaru yang sedang asyik dengan makanannya tidak menyadari percakapan yang sedang berada didepan mereka.
"Tidak apa-apa, aku hanya kurang tidur," berbohong adalah kelemahan dari seorang Sakura Haruno.
"Ceritakan padaku," ucap Sasuke yang tahu bahwa Sakura berbohong.
Sakura menunduk terdiam, dia memang tidak bisa bohong, pikirannya saat ini sedang penuh dengan mimpi-mimpinya yang mulai sering datang sehingga menyebabkan Sakura takut untuk tidur.
"Aku…"
Ragu akan berucap, maka Sasuke menggenggam tangan Sakura yang sedang nganggur diatas pahanya itu.
"Semua akan baik-baik saja," ucap Sasuke yang kini terdengar sedikit keras sehingga membuat Ino menoleh.
"Ada apa?" tanya Ino, "Loh, Sakura… kenapa berwajah seperti itu?"
Sakura tidak menjawab, menundukkan kepalanya lebih dalam lagi… itulah yang dia lakukan.
"Sakura?" panggil Ino, terdengar suara Ino yang cemas, Shikamaru mengambil tindakan dia berdiri dari duduknya dan memberi kode pada Sasuke agar meninggalkan mereka berdua, Shikamaru tahu, mungkin Sakura tidak bisa mengatakannya kalau banyak orang, dengan meninggalkannya berdua dengan Ino mungkin saja Sakura bisa menjadi lebih terbuka.
Sasuke mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Shikamaru, sebenarnya berat untuk meninggalkan Sakura yang sedang dalam keadaan itu, namun Sasuke tidak mempunyai pilihan, Sasuke beranjak dari duduknya dan mengikuti Shikamaru pergi. Ino sangat berterima kasih pada kekasihnya itu dan dia beranjak untuk duduk disebelah Sakura.
"Jadi… ada apa sebenarnya?" tanya Ino lembut pada Sakura.
"….." Sakura masih tetap tidak mau bicara, dia sangat ragu untuk mengatakannya, dia takut ada yang mendengar dan kalau ada yang mendengarnya, bisa-bisa dia dikatain gila lagi.
"Mau pindah tempat?" tanya Ino sambil tersenyum.
Sakura akhirnya menoleh pada Ino, melihat senyum Ino yang lembut, akhirnya Sakura mengangguk pelan. Ino membawa Sakura ke taman belakang yang terdapat danau kecil disana, sekolahan Konoha memang sangat biasa, Cuma sekolahan ini memiliki pemandangan yang bagus dan tempat-tempat indah. Sesampainya ditaman itu…
"Aku, selalu bermimpi tentang hal yang sama…" Sakura akhirnya memulai pembicaraan ketika sekitar 5 menit mereka terdiam, "Mimpi itu… selalu datang… sehingga membuatku… bingung."
Ino tetap mendengarkan apa yang akan diceritakan oleh Sakura.
"Kamu mimpi apa?" tanya Ino.
"Mimpi hal yang sama berturut-turut, semakin lama mimpi itu semakin jelas dan bersambung…" Sakura terhenti kalimatnya sesaat dengan pandangan seperti menerawang kebelakang, "Aku seperti merasa… Goddess, Daemon, Belphegor… mereka tidak asing bagiku… dan aku merasa… laki-laki di dalam tabung itu, didalam hatiku… aku sangat merindukannya, begitu aku melihat Sasuke… didalam hatiku… aku begitu membencinya..."
Ino terdiam mendengar cerita Sakura, dengan wajah yang berusaha untuk mengerti setiap ucapan yang keluar dari mulut Sakura, Ino menggenggam tangan Sakura.
"Aku tidak suka perasaan ini… aku merasa ini bukan perasaanku… aku…" perlahan tapi pasti, akhirnya Sakura meneteskan air mata yang dia tahan selama pelajaran itu.
"Sudah, jangan diteruskan," kata Ino mencoba untuk menenangkan, "Saat ini kamu sedang bimbang, bagaimana kalau nanti kita konsultasi dengan Nona Tsunade?"
Sakura tersenyum lemah pada Ino menandakan setuju dengan usul wanita berambut pirang itu.
.
.
.
.
.
Kembali lagi pada sosok pemuda berambut silver yang sedang duduk sambil mengawasi tabung air dengan wajah serius, sesekali dia mencatat tentang perkembangan sosok yang berada di dalam air tabung itu, sesekali juga dia tersenyum seakan menunggu kebangkitan dari sosok itu.
"Apa yang kau senyumkan?" datang suara wanita dari arah pintu.
"Hhhh, lagi-lagi kau Tayuya," ujar Kabuto sambil melakukan kebiasaannya, yaitu membetulak posisi kacamatanya yang turun.
"Kenapa? Keberatan?" tanya Tayuya dengan nada sewot, "Sebenarnya kenapa sih kau rajin sekali berada disini?"
"Menurutmu?" jawab Kabuto yang lagi-lagi tersenyum penuh dengan makna tertentu.
"Aku tidak mengerti kamu," ucap Tayuya.
"Memangnya aku menyuruhmu untuk mengertiku?" balas Kabuto.
"Kau menyebalkan yah!" sewot Tayuya.
Saat Tayuya akan membentaknya lagi, Kabuto menempelkan jari telunjuknya kearah bibir wanita itu menandakan agar diam, lalu pandangan Kabuto tertuju pada tabung yang tiba-tiba mengeluarkan gelembung udara itu. Tayuya melihat Kabuto tersenyum senang melihat tabung itu ada reaksinya.
"Ngomong-ngomong, keadaan tuan Orochimaru sekarang tambah parah, apa yang akan kau lakukan?" tanya Tayuya.
Kabuto tersenyum sambil menempelkan tangannya pada tabung itu, "Menurutmu?"
"Kabuto, sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Tayuya langsung bertanya to the point, selama ini dia sangat curiga dengan gerak-gerik Kabuto yang selalu berada disisi tabung air ini, dan bahkan dia pernah memergoki Kabuto menatap rendah kepada tuannya Orochimaru.
"Aku hanya berbakti… kepada 'tuanku'," jawab Kabuto yang meng ambigu kan kata dari 'tuanku' itu.
BLUP BLUP BLUP.
Kabuto dan Tayuya menoleh cepat pada tabung air itu, sementara Tayuya terkejut, Kabuto malah tersenyum senang melihat apa yang ada dihadapan mereka, sosok yang tertidur didalam tabung air itu telah membuka matanya, namun sosok itu tidak melakukan apa-apa, tidak bergerak, juga tidak berkutik, hanya membuka matanya dan sesekali mengedip.
"Kenapa tidak ada reaksi apa-apa?" gumam Kabuto sambil mengecek kabel-kabel yang menempel di tabung itu.
Tayuya hanya terdiam berdiri ditempat, dia bertanya-tanya sebenarnya apa hubungan Kabuto dengan sosok yang disebut reinkarnasi dari Daemon ini? Dan tersambung kemana kabel-kabel yang panjang itu? Tayuya tidak berani bertanya banyak, karena sangat menyeramkan jika Kabuto sudah marah.
"K-Kabutooo!" teriak Kidoumaru yang tiba-tiba datang, "Tuan Orochimaru mengamuk!"
"Ck! Dasar!" setelah berdesis kesal, kabuto berlari bersama Kidoumaru dan Tayuya menuju kamar Orochimaru.
.
.
.
.
.
"Nona Tsunadeeeee," panggil Ino yang membuka pintu ruangan Tsunade.
"Ino, bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu?" sewot Tsunade.
"Ini mendadak," jawab Ino,"Ayo Sakura, cerita padanya."
"Cerita apa?" tanya Tsunade dengan pensil yang digenggamnya.
"…." Sakura terdiam lagi dan menundukkan wajahnya, akhirnya dia memantapkan hatinya untuk bercerita pada Tsunade.
Tsunade mempersilahkan Sakura dan Ino duduk di sofanya, sambil menunggu Shizune menyiapkan sake, Tsunade mendengarkan semua cerita Sakura secara detail, cukup mengejutkan bagi Tsunade untuk mendengar cerita mimpi Sakura yang beruntun itu, dan Tsunade bukan wanita bodoh yang menganggap mimpi itu adalah bunga tidur, ini semua pasti ada hubungannya. Kenapa Goddess memilih Sakura? Kenapa Sakura bermimpi tentang kehidupan Goddess? Itu masih dipertanyakan oleh Tsunade.
"Jadi, Belphegor itu mencintai Goddess, dia menyebarkan percintaan Daemon dengan Goddess kepada para khayangan dan memberi tahu mereka bahwa Goddess akan meninggalkan khayangan bersama Daemon, sehingga setelah Daemon melamar Goddess, Daemon ditangkap oleh prajurit khayangan, saat itu para petinggi mengampuni Goddess, asalkan dia mau meninggalkan Daemon, tapi karena Goddess terlalu mencintai Daemon, dia tidak menyanggupi persyaratan itu, dan itu membuat Belphegor kesal, sehingga memenggal kepala Daemon dihadapan Goddess," Sakura bercerita dengan tanpa sadar dia meneteskan air mata, dia memejamkan matanya sejenak dan melanjutkan ceritanya kembali.
"Saat itu, Goddess marah besar," Sakura berucap seolah-olah yang dia ceritakan itu adalah dirinya, "Dia mengamuk di khayangan, sehingga para petinggi membuangnya ke bumi, sendirian… setelah itu aku belum bermimpi lagi tentang dia, aku tidak berani tidur… aku takut… saat dia turun ke bumi, aku…."
"Sshhhh tenang," ucap Tsunade yang entah sejak kapan sudah berada disamping Sakura, "Kamu tidak perlu takut."
"Ada kami disini," sambung Ino tersenyum pada Sakura.
"Permisi, apa Sakura ada?"
"Ah, Kiba," Sakura berdiri dan langsung menghampiri Kiba, "Ino, Nona Tsunade terima kasih yah, aku lupa ada janji dengan Kiba, aku permisi yah."
"Ternyata kau disini, pantas aku cari-cari tidak ada," ucap Kiba sambil berjalan keluar bersama Sakura dan menutup pintu.
Keadaan Tsunade dan Ino menjadi hening ketika Sakura pergi.
"Jadi bagaimana ini?" tanya Ino.
"Aku tidak tahu pasti, yang jelas… feelingku benar-benar kuat, bahwa sosok laki-laki yang kalian ceritakan itu adalah reinkarnasi dari Daemon, tapi…" Tsunade berfikir dengan keras hingga kedua alisnya berkerut, "Kenapa bisa sangat kebetulan?"
"Apanya yang kebetulan?" kini Ino bingung karena Tsunade seolah berbicara sendiri.
"Ah, tidak… tidak apa-apa," jawab Tsunade tersenyum pahit.
.
.
.
"Kiba, es krimnya enak sekaliii~~" ucap Sakura dengan riang.
"Kau menyukainya?" tanya Kiba.
"Ng!" Sakura menjawab dengan wajahnya yang masih tersipu karena dinginnya es krim didalam mulutnya.
Kiba menempelkan kedua sikutnya diatas meja sambil tersenyum menatap Sakura, "Hehehehe, akhirnya kau tertawa juga."
"Hmm?"
"Aku perhatikan sejak pertarungan itu, kau terlihat lesu, ada apa?" Kiba bertanya dengan sangat lembut, hampir selembut Sasuke yang mengkhawatirkannya.
"Hmm, tidak apa, aku hanya terllau berfikir yang macam-macam," jawab Sakura.
"Hmm, begitu… boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya?" Sakura masih memakan es krim yang berada di gelas kaca.
"Kamu menyukai Neji?"
"Hah? Tidak!" jawab Sakura gugup, "Maksudku, dulu memang aku menyukainya, tapi… aku sudah menyerah soal Neji, dia kan sudah bersama Tenten."
"Kalau begitu, apa kamu menyukai Sasuke?"
Pertanyaan Kiba kali ini Sakura tidak langsung menjawab, dia terdiam sebentar kemudian mengambil nafas dalam-dalam, lalu menjawabnya.
"Aku tidak tahu…" jawab Sakura murung, "Apa ini yang dinamakan suka atau bagaimana, aku bingung, saat aku bersama dengan Sasuke, aku sangat nyaman, namun lama kelamaan rasa nyaman itu berubah menjadi risih…"
Kiba mendengarkan Sakura dengan seksama sambil meminum kappuchinonya dan sesekali mengubah gaya duduknya.
"Bagaimana kalau Sasuke menyukaimu?" tanya Kiba yang kini menyalakan rokoknya.
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang Kiba dengan tatapan kaget, "Itu tidak mungkin…"
"Kenapa tidak mungkin?"
"…."
"I-itu karena… Sasuke adalah temanku…" jawab Sakura pelan.
"Lalu, kalau aku menyukaimu… bagaimana?" Kini Kiba mengetes jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh Sakura.
"K-Kiba… jangan bercanda, aku sedang banyak pikiran saat ini, aku tidak mau…"
"Iya aku tahu, aku hanya ingin memberimu saran," Kiba berbicara sembari menghisap rokoknya dan bersender dikursi, "Aku tahu, kau reinkarnasi dari sang goddess, dan mungkin saja… ini hanya mungkin yah, beberapa persen dari perasaan Goddess itu masih tertinggal di dirimu, makanya kadang kau bingung dengan perasaanmu sendiri."
"…." Sakura terdiam menocba mencerna apa yang dimaksud oleh Kiba, "Tapi aku…"
"Dan kau harus tegas pada dirimu sendiri, apa kau mau perasaanmu itu dibayang-bayangi atau di kontrol oleh Goddess? Perasaanmu ya milikmu sendiri." Potong Kiba sambil mematikan rokok yang masih panjang itu, melihat Sakura sudah menghabiska es krimnya, Kiba beranjak dari duduknya dan mengajak Sakura pulang.
"Ayo kita pulang," ajak Kiba.
Sakura tersenyum dan mengikuti Kiba berjalan menuju rumahnya, disepanjang perjalanan Kiba mendengarkan cerita Sakura, semua cerita tentang masa kecilnya, begitu pula Kiba, dia menceritakan pengalamannya berpacaran dari anak SMP sampai wanita dewasa pun pernah Kiba jalani, dan itu membuat Sakura terkekeh, Sakura berfikir, mungkin seperti ini yang dinamakan mempunyai sahabat lelaki.
Ketika belum sampai pada rumah Sakura, Kiba menghentikan langkahnya karena dia mencium sesuatu, bau bahaya yang semakin lama semakin mendekat, dan benar saja… tiba-tiba kabut putih datang mengepung Kiba dan Sakura. Dengan waspada Kiba langsung menggenggam tangan Sakura dan membelakangi Sakura.
"Hai, hai, hai…" ucap Kabuto yang muncul dari kabut tersebut.
Namun kali ini Kabuto tidak sendiri atau beruda, melainkan berempat.
"Mau apa kau!" geram Kiba.
Sakura bisa melihat perubahan Kiba, muncul kuku panjang dan tajam dari tap-tiap jari Kiba, Sakura bisa melihat pula ekspresi Kiba yang berubah menjadi tajam.
"Kuberi tahu kau sekarang, percuma melawan kami yang sekarang berempat, kau akan mati, lebih baik berikan Nona Sakura padaku," ancam Kabuto.
"Heh! Seperti aku akan memberikannya? Jangan mimpi!" jawab Kiba.
"Kalau begitu, kau akan menyesal," Kabuto membetulkan kacamatanya dan bergerak cepat menyerang Kiba. Sayangnya saat ini Kiba sangat tidak waspada sehingga pukulan yang keras mendarat telak diperut Kiba.
"KIBAAA!" Sakura mencoba untuk berlari menghampiri Kiba namun gerakannya terhenti karena sosok perempuan menghalangi Sakura.
"Maaf tuan putri, kami harus membawamu tanpa luka sedikitpun," ucap Tayuya yang memukul belakang leher Sakura sampai dia kehilangan kesadarannya, begitu Sakura ambruk, Tayuya menangkapnya.
"Ukh! S-Sakura!" Kiba mencoba berlari dan mengeluarkan serangannya, bagusnya serangan itu tepat mengenai punggung Tayuya dan itu membuat Tayuya melepaskan pegangannya pada Sakura. Namun tidak lama kemudian laki-laki bertangan enam itu mengeluarkan benang dan membungkus tubuh Sakura lalu membawanya pergi.
"Hahahahaa, sayangnya benangku lebih cepat," ejek Kidoumaru.
"Sialan! 4 laawan 1!" geram Kiba yang akan sekali lagi menyerang Kidoumaru.
Namun Kabuto tidak tinggal diam, kali ini dia mengeluarkan tenaga dalamnya yang berupa tekanan gravitasi yang membuat Kiba terpental dan menubruk tiang listrik dibelakangnya.
"Selamat tinggal," ucap Kabuto yang menghilang ditengah-tengah Kabut bersama tubuh Sakura dan yang lainnya.
"Argh! Siaal!" Kiba mencoba mengirim sinyal kepada yang lainnya, sinyal yang dipasang di gelang masing-masing saat perayaan ulang tahun Sakura.
Dan dalam beberapa menit Ino, Shikamaru, Naruto, Sasuke, Neji dan Tenten berdatangan dari masing-masing arah berlawanan, melihat kondisi Kiba yang sedikit terluka membuat Sasuke bertanya-tanya.
"Ada apa?" tanya Sasuke dengan wajah datarnya.
"S-Sakura…. Kita harus menyelamatkannya…" ucap Kiba.
"Sakura? Ada apa dengannya?" tanya Naruto.
"Dia… dia diculik oleh Kabuto… aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya mereka buru-buru," ucap Kiba sambil memegangi perutnya yang bengkak.
"Neji, lacak dia!" perintah Sasauke.
Neji mengeluarkan kekuatan khususnya dan mencari jejak Sakura, namun saying kali ini dia tidak bisa menemukan keberadaan Sakura dengan cepat seperti kemarin.
"Tidak ada, tidak ada pancaran tenaganya!" gerutu Neji.
"Sialan! Ini salahmu! Kalau saja kau tidak membawanya keluar!" Sasuke mencengkram baju Kiba dan mendorongnya ke tembok.
"Sasuke! Tidak lihatkah kamu Kiba terluka? Itu berarti dia tidak membiarkan Sakura terambil!" bentak Shikamaru, "Jangan menyalahkannya!"
"Kalau Neji tidak bisa menemukannya, aku yang akan menemukannya!" kata Sasuke yang langsung meninggalkan mereka.
"Sasuke tunggu!" teriak Ino yang mengikuti Sasuke di belakang.
"Cih! Kenapa harus pakai emosi sih!" sewot Shikamaru yang mnegikuti kekasihnya.
Melihat mereka bertiga pergi, Neji, Tenten dan Kiba akhirnya juga memutuskan untuk mengikuti kemana Sasuke pergi. Ternyata Sasuke pergi ke markas untuk melapor pada Tsunade dan meminta izin untuk meminjam kemampuan Hinata.
Sasuke dan yang lain mengikuti Hinata keruangannya, Hinata meletakkan tangannya dilayar kosong dihadapan mereka, layer sebesar layer bioskop itu tiba-tiba menyala, dan mata Hinata berubah menjadi putih. Terlihat ada sebuah peta dan satu titik yang sedang bergerak.
"Ini adalah Sakura," jelas Hinata menunjuk kearah titik itu, "Aku memberikan sistem pelacak di dalam gelang yang kalian pakai masing-masing."
"Bagus! Kau sangat pintar Hinata," puji Sasuke yang bersiap-siap akan berangkat.
"Tunggu dulu, mau kemana kau?" tanya Tsunade.
"Kemana? Tentu saja menyelamatkan Sakura!" jawab Sasuke sedikit membentak.
"Kalian membutuhkan senjata, Tenten." Ucap Tsunade seraya menyuruh Tenten mengambil senjata yang disiapkan untuk mereka masing-masing.
Tenten mengangguk dan membuka suatu gulungan besar dan dia menempelkan diatas kertas gulungan itu, dengan sekejap muncullah beberapa macam-macam senjata.
"Ini sudah kubuat sesuai kemampuan kalian masing-masing," jelas Tenten yang mengambil satu-satu senjata itu, "Sasuke dan Naruto, senjata kalian adalah pedang, Sasuke pedang berwarna putih gading, dan Naruto berwarna putih bening."
Naruto dan Sasuke menerima pedang yang tenten berikan itu dengan tatapan kagum, bagaimana bisa seorang wanita membuat benda seperti ini?
"Ino, karena kamu pengendali tumbuhan, aku membuatkan ini untukmu," Tenten memberikan panah pada Ino, "Kau bisa mmebuat anak panah memakai batang tumbuh yang bisa kau manipulasi."
"Baik, terima kasih," ucap Ino.
"Khusus untuk Shikamaru, aku rasa kau tidak memerlukan senajata, karena bayanganmu sendiri itu bisa kau jadikan senjata, iya kan?" kata Tenten.
"Ya, tentu saja," jawab Shikamaru.
"Dan Neji. Kau juga tidak akan memerlukannya kan? Karena kemampuanmu adalah bela diri, kau bisa mengendalikan kekuatanmu juga kan?" tanya Tenten.
"Sebenarnya aku juga tidak memerluka senjata karena aku bisa mengendalikan api dan petirku," kata Sasuke.
"Tapi kekuatanmu akan lebih sempurna apabila memakai pedang itu, percayalah padaku," jawab Tenten.
"Baiklah, ayo berangkat!"
.
.
.
.
.
"Ngh… pusing sekali… kenapa kepalaku terasa kaku yah." Sakura membuka matanya perlahan, dan begitu dia sudah sadar total, dia merasa seperti diikan sesuatu, dia tidak bisa menggerakan tubuhnya, posisinya sedang terlentang disebuah kasur namun badan, tangan dan kakinya seperti dikunci sesuatu, apalagi dia merasa ada beberapa benda yang menyentuh dahi dan kepalanya.
"Akh! Apa ini~!" Sakura meronta berharap benda-benda itu akan lepas, namun hasilnya sangat amat nihil, karena benda yang menempel itu tidak bergeser 1 cm pun.
"Sudah sadar, Nona?" panggil Kabuto yang muncul dihadapannya.
"K-Kau!... mau apa kau!" bentak Sakura.
"Mempersiapkan sesuatu, proses ini memakan waktu yang cukup lama, karena itu, bersabar dengan rasa sakitnya yah," jawab Kabuto yang menekan tombol di telinganya dan berbicara pada seseorang diluar sana, "Tayuya, Kidoumaru, Sakon, Jirobu… apa kalian sudah siap?"
"Sangat siap," jawab mereka satu persatu.
"Baiklah, ingat… jaga ke empat gerbang diluar, kalau ada yang menerobos masuk, habisik saja mereka, jangan ragu-ragu," perintah Kabuto.
"Kabuto, gerbang kelima kosong, siapa yang akan menjaganya?" tanya Tayuya.
"Tenang saja, gerbang kelima sudah diawasi oleh kimimaro," jawab Kabuto.
"K-Kimimaro?" ucap Sakura pelan yang tidak asing dengan nama itu.
"Baiklah, Tuan Orochimaru, apa anda sudah siap?" tanya Kabuto sambil menggeser tabung air yang berisikan sosok yang Sakura kenal itu.
"Jangan banyak bicara cepat lakukan saja! Auks udah tidak kuat, aku butuh energinya!" bentak Orochimaru.
Kabuto menyeringai dan segera mengaktifkan tombol berwarna hijai di tengah-tengah antara Orochimaru dan Sakura.
TET.
"Hhhh…HIYAAAAAAAAAAAAAAA!" Sakura berteriak kencang karena rasa sakit yang sangat besar, dia merasakan energinya diserap secara paksa oleh benda yang terhubung oleh kabel tersebut.
"GHRAAAA!" Orochimaru pun tidak kalah kencangnya berteriak dengan Sakura.
.
.
.
Kelima guardian yang lompat dari gedung satu ke gedung yang lain dengan formasi, Neji paling depan, Naruto, Shikamaru, Ino dan Sasuke. Kiba dan Tenten tidak ikut karena Tenten harus menyembuhkan Kiba terlebih dahulu bersama Shizune, sampai pada akhirnya mereka sampai pada gedung yang berbeda dari gedung sebelumnya, gedung itu seperti kuil yang didepannya terdapat gerbang yang sangat besar.
"Gerbang apa ini?" tanya Ino sambil mendekati gerbang itu, dan ketika akan menyentuhnya.
"Jangan sentuh!" cegah Shikamaru dan itu membuat gerakan Ino berhenti.
Shikamaru mencoba mengambil batu dan melemparkannya pada gerbang itu, dan benar saja tebakan laki-laki jenius itu, begitu batu itu menyentuh gerbang, terdapat sengatan listrik yang sangat besar tercipta akibat sentuhan batu tersebut.
"J-Jebakan?" tanya Naruto.
"Bukan, gerbang ini memiliki elemen petir," jawab Sasuke. "Dan yang bisa melawan listrik adalah…" Sasuke mengambil pose dengan mengepelkan sebelah tangannya lalu menimbulkan cahaya dan percikan listrik yang sangat dahsyat, tanpa ragu, Sasuke menghantamkan sebuah tinju ke gerbang itu. Berhasilah Sasuke membuka gerbang pertama, lalu Sasuke menyambungkan kalimatnya, "Petir yang dahsyat."
"Keren! Kau hebat Sasuke," teriak Ino.
Begitu gerbang hancur, mereka melangkahkan kaki memasuki tempat tersebut, dan muncullah sosok laki-laki bertubuh besar dan berwajah datar.
"Ternyata Kabuto kurang kuat memasang segel listriknya yah," ucap laki-laki tersebut.
"Heh, siapa yang akan melawannya duluan?" tanya Neji.
"Aku," jawab Shikamaru.
"Tidak, Shikamaru kau maju saja terus bersama Sasuke, orang ini biar aku yang menghadapinya, mereka butuh siasat pintarmu nanti saat melawan Kabuto," potong Naruto.
"Begitu, baiklah… ayo kita berangkat." Ujar Shikamaru.
"Naruto, jangan mati yaah!" ledek Ino.
"Heh! Aku masih belum menikah dengan Hinata, mana bisa aku mati sekarang," desis Naruto sambil mengikatkan tali yang merupakan ikat rambut Hinata berwarna indigo di dahinya, "Ayo maju, gendut!"
A/N : untuk sekedar informasi, ini bukan pertarungan adega terakhir kok, cerita ini masih panjang kayanya... :)
tetep dukung TCO yaaaah...
akhir kata...
mind to review again?
and thank you very muach! :*
