The Chosen One

Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort

Rated: T

"Daemon…kau dimana?"

Goddess berlari disebuah danau bersama salah satu sahabatnya yang juga merupakan dari bangsa iblis, yaitu Lust.

"Lust, kau bilang Daemon menungguku disini," ucap Goddess dengan wajah panic.

"Iya, tadi dia menyuruhku untuk memberi tahumu agar menemuinya disini, tapi kenapa dia belum datang yah?" Lust pun kebingungan dengan belum hadirnya sosok Daemon disana.

Saat Lust dan Goddess sedang saling tatap dengan ekspresi yang cemas, tiba-tiba ada sepasang lengan yang mengunci gerakan mereka lalu menodongkan tongkat dibelakang Goddess.

"Jangan bergerak, atau kalian akan mati."

BLETAK.

"Aaww!"

"Mau sampai kapan kau membuat Goddess khawatir?" ujar Lust yang berhasil menjitak kepala sosok yang ternyata itu adalah Daemon.

"Lust, jadi perempuan bisa tidak sih halus sedikit!" sewot Daemon sambil mengelus kepalanya sendiri.

"Daemon, kemana saja kamu?" Goddess yang cepat khawatir menghampiri Daemon dan menatap laki-laki itu dengan sangat lembut.

"Maaf, aku hanya ingin sedikit mengerjai kalian tadi," ucap Daemon sambil mengelus pipi merah Goddess.

"Ya ya ya, cinta sedang bersemi antara kaum dewi dan iblis," sindir Lust yang kini menyender dipohon besar.

"Hehehehe, maaf yah Lust, harus sampai merepotkanmu, karena sangat susah untuk bertemu dengan Goddess, para petinggi khayangan tidak mengizinkannya ke daerah ini," ucap Daemon.

Lust tersenyum lembut kepada dua sahabatnya ini dan berucap, "Tidak apa-apa, asalkan kalian bahagia aku senang kok."

Goddess yang mendengar ucapan Lust langsung memeluk gadis itu dengan erat, "Aku sangat menyayangimu, Lust… kalau ada kehidupan berikutnya aku ingin menjadi sahabatmu lagi."

Lust tersenyum, namun senyumannya ini bermakna ambigu, antara senang dan kesedihan.

"Aku juga kalau ada kehidupan berikutnya mau menjadi kekasihmu lagi Goddess," ucap Daemon yang memeluk Goddess dan Lust.

.

.

.

Pemandangan berganti menjadi dimana saat Goddess dan Daemon sedang dihakimi, saat itu Daemon dan Goddess tengah berlutut dihadapan para petinggi khayangan, dengan empat pedang yang melingkari leher Daemon, serta dua pedang yang mengepung leher Goddess.

"Goddess, sudah kuperingatkan kau agar tidak menjalin hubungan dengan kaum para iblis!"

"Tuan salah, Daemon tidak jahat, dia sangat baik padaku, dia juga tidak suka membunuh!" Goddess mempertahankan pendapatnya sambil menangis disemua orang-orang yang saat itu berada di khayangan.

"Aku beri kau satu kesempatan lagi, akhiri hubungan kalian dan berjanji tidak akan bertemu lagi, atau kau akan kubuang ke bumi!"

"Tidak! Aku tidak mau, aku ingin tetap bersama Daemon, aku mencintainya!" jawab Goddess dengan tegas.

"Goddess…" ucap Daemon pelan yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Disamping itu, Belphegor yang menjadi salah satu saksi dari kaum iblis juga sedang berada di khayangan merasa kesal dengan pemandangan itu, dia berfikir harusnya dialah yang dipertahankan oleh Goddess, bukan Daemon, bukan kakaknya itu. Saat itu Belphegor berfikir, kalau memang harus membunuh Daemon, bunuh saja.

"Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain, yaitu membuang kalian dan menghapus semua ingatan kalian," ucap petinggi khayangan.

"Tidak… tidak aku mohon jangan!" pinta Goddess yang menyujudkan kepalanya didepan petinggi.

"Aku mohon petinggi, ampuni mereka, mereka hanya saling mencintai," ucap Lust yang juga menjadi saksi dari bangsa iblis.

"Lelet!" desis Belphegor yang bergerak cepat dan mengambil salah satu pedang prajurit khayangan, dan dengan sangat cepat juga dia meneba kepala Daemon dihadapan para petinggi khayangan, dan juga Goddess.

SLAAAASSHHHH!

Saat itu…

Goddess yang tepat berada disamping Daemon merasakan hangatnya darah dari sang kekasih yang menyiprat kewajahnya, lalu dia alihkan pandangannya kearah Belphegor yang tengah berdiri disampingnya dengan wajahnya yang sangat dingin.

"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada orang lain yang memilikimu," ucap Belphegor dengan suara yang datar dan terkesan dingin.

"PRAJURIT BUNUH BELPHEGOR!" perintah petinggi khayangan.

Langsung saja seluruh prajurit khayangan melayangkan semua senjatanya ketubuh belphegor, namun Belphegor sendiri tidak mengelak, dia tidak menghindar dari serangan itu, dia membiarkan tubuhnya tertancap oleh macam-macam senjata yang ada di khayangan itu.

"Kalau aku terlahir kembali, aku tidak mau mempunyai ingatan seperti ini, tapi aku berharap bisa bertemu denganmu lagi, Goddess… aku sangat mencintaimu," itulah kata-kata terakhir Belphegor sebelum dia mati.

Namun Goddess tidak sadar dengan ucapan itu, kesadarannya kini masih dengan sosok Daemon yang sekarang tanpa kepala itu, perlahan Goddess mengeluarkan air matanya, dan dia mengeluarkan suatu kekuatan besar yang menghancurkan setengah dari khayangan itu…

.

.

.

Sosok didalam tabung itu sedikit demi sedikit membuka matanya dan menggerakan jarinya, Kabuto terus mengawasi perkembangannya itu dengan teliti, bahkan dia tidak memperdulikan Orochimaru dan Sakura yang sedang teriak kesakitan karena energi mereka saling bertubrukan satu sama lain.

Disamping itu, Naruto yang sedang berhadapan dengan Jirobu sedang memulai pertarungannya. Naruto menghampiri Jirobu langsung dengan kecepatan supernya, saat tubuh mereka hampir dekat, Naruto mengeluarkan pusaran angin ditelapak tangannya dan dia hantamkan itu ke tubuh jirobu, tubuh Jirobu terpental jauh.

Tapi serangan itu tidak mempan, Jirobu bangkit dengan wajah yang masih datar seperti awal mereka bertemu.

"Hanya segini kekuatanmu?" tanya Jirobu.

"Apa?"

BUAAAAKKK

"Akh!"

Tiba-tiba tubuh Naruto terpental akibat dari hantaman tenaga dalam yang Jirobu buat, ternyata Jirobu adalah tipe petarung jarak jauh,

"Ukh… sial, ternyata petarung jarak jauh yah…" belum menyelesaikan kalimatnya Jirobu sudah menghilang dari hadapan Naruto.

"Dibelakangmu," ucap Jirbou yang tiba-tiba berada di belakang Naruto, belum sempat Naruto menoleh Jirobu sudah menendang Naruto sehingga Naruto terpental lagi, tapi belum sampai terjatuh tanah tubuh Naruto kembali dihantam oleh Jirobu.

"Sial, dia cepat sekali!" geram Naruto.

.

.

.

"Sakit… sakit sekali rasanya… seluruh tubuhku seperti tersengat listrik yang sangat besar, rasanya teriak sekencang apapun tidak akan ada yang menolongku," pikir Sakura ditengah-tengah teriakannya.

Walupun kini Sakura sedang berada dalam konidisi kritis, namun Kabuto memastikan agar wanita berambut pink itu tidak mati, kadang dia salurkan juga kekuatan medis ketubuh Sakura agar stamina Sakura stabil, Orochimaru yang memperhatikan tindakan tangan kanannya itu merasa curiga, kenapa dia begitu memperdulikan kondisi Sakura.

Perlahan proses pemindahan energi itu sudah tidak lagi sakit bagi Sakura dan Orochimaru, namun kini Sakura terkulai lemas diatas kasurnya, dengan tatapan kosong juga pasrah, dia berfikir mungkin inilah akhir dari hidupnya, namun dalam benak Skaura, dia ingin sekali bertemu dengan seseorang yang menurutnya sangat melindunginya, dia ingin bertemu mungkin untuk yang terakhir kali dengan orang itu…

"Sa…suke…" ucap Sakura dengan lemah.

.

.

.

TAP

Sasuke tiba-tiba menghentikan langkahnya yang sedang berlari bersama Shikamaru, Ino, dan Neji.

"Ada apa Sasuke? Kenapa kau berhenti?" tanya Neji.

"Sakura…" ujar Sasuke yang mencoba menerka dan memastikan apa yang dia dengar tadi, "Sepertinya aku mendengar suara Sakura tadi."

"Hah? Kau demam? Atau terlalu khawatir dengannya?" ucap Shikamaru.

"Tidak, aku merasa tadi dia memanggilku…" Sasuke terdiam, dia bingung kenapa hanya dia yang dapat mendengar suara Sakura.

"Sudahlah cepat, kita harus ke gerbang berikutnya," usul Ino.

Sasuke mengangguk dan meneruskan langkah mereka pada gerbang selanjutnya.

.

.

.

"Hah… hah… hah…. Aku tidak boleh kalah…" geram Naruto.

Saat ini kondisi Naruto dan jirobu sudah sama-sama terluka, serangan Jirobu yang bertubi-tubi tadi membuat staminanya turun, dan saat itulah kesempatan Naruto untuk membalas serangannya, namun saat ini keadaan mereka berdua sama-sama letih, tidak ada yang saling mengalah dalam pertarungan ini, karena prinsip yang ditanamkan oleh Orochimaru adalah…

"Menang… atau mati, itulah yang diajarkan Orochimaru pada kami," ucap Jirobu dengan tubuh yang sudah lelah.

"Heh! Yang mengajarkan kalian saja orang gila, pantas saja prinsip kalian juga gila," hina Naruto.

"Jangan menghinanya!" teriak Jirobu yang menghantam kepala Naruto kebawah sehingga membentur lantai.

"Akh!" rinth Naruto "Tidak, aku tidak boleh kalah…" saat Naruto tergeletak dilantai, bisa dia rasakan pita milik Hinata menyentuh wajahnya, dan dia teringat ucapan Hinata saat mereka berbaikan.

"Saat pertarungan tiba, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh kalah, karena aku akan selalu menunggu kepulanganmu."

Kini saatnya Jirobu kembali menyerang, dia mengepalkan kedua tangannya dan bersiap akan memukul Naruto, namun Naruto langsung mengumpulkan energi ditelapak tangannya, sehingga bergumpallah pusaran angin kecil dan lama-kelamaan pusaran angin itu berubah… berubah menjadi pedang yang Tenten buat khusus untuknya, dengan cekatan Naruto bangkit dan menusuk perut Jirobu memakai pedang itu.

JLEB.

Belum…

Naruto belum merasakan kalau Jirobu sudah mati, karena itu untuk memastikannya lagi, Naruto menciptakan pusaran angin ditangannya yang satu lagi dan menghantam perut laki-laki gendut itu sekali lagi, dan terpentallah Jirbou dengan hebat.

"Hah… hah… hah.. aaahhh…" Naruto terjatuh dan terlentang sambil melepas ikatan pita rambut Hinata yang terikat didahinya, lalu menicumnya dengan lembut, "Tunggu aku yah, Hinata."

.

.

.

"Sampai," ucap Sasuke.

"Kenapa dari gerbang ke gerbang jauh sekali sih, memangnya seluas apa sih tempat ini!" geurutu Ino yang kelelahan sambil menyeka keringatnya.

"Apa gerbang ini juga dilapisi listrik?" tanya Sasuke.

"Sepertinya tidak, aku tidak merasakan energi pada gerbang ini," jawab Neji.

"Mungkin hanya gerbang utama yang dilindungi," sambung Shikamaru.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kalian para lelaki buka gerbang yang besar ini, kalau tidak bisa dobrak saja!" perintah Ino.

"Lama-lama kau ini mirip Tsunade yah," keluh Shikamaru.

"Apa?"

"Ah tidak…" jawab Shikamaru cepat.

Diluar dugaan, ternyata gerbang yang satu ini sangat ringan, bahkan hanya Sasuke saja yang membukanya dapat terbuka, tapi begitu memasuki langkah kedalamnya.

SHIUUUU

"Awass!" teriak Shikamaru yang langsung menggendong Ino dan loncat menghindari sesuatu yang tiba-tiba melayang kearah kekasihnya itu.

"Kali ini jebakan yah…" ucap Neji yang tadi juga lompat bersama Sasuke, kini tebaran pisau dimana-mana.

"Aku berani jamin pisau-pisau itu penuh dengan racun," ucap Sasuke.

"Tepat sekali," ucap suara laki-laki yang tiba-tiba muncul dengan penampilannya yang aneh, sama anehnya dengan sosok yang datang bersama Kabuto saat dikelas, yaitu berlengan enam.

"Kau..." Sasuke mencoba melanjutkan perkataannya namun terdiam sebentar karena melihat apa yang melingkar dileher laki-laki itu.

"I-Itu…DARI MANA KAU MENDAPATKAN ITU!" bentak Sasuke, dan reaksi Sasuke ini membuat Ino, Shikamaru dan Neji bingung.

"Ini? Tentu saja dari sang Uchiha satu lagi," jawab kidoumaru yang melepaskan syal berwarna hitam dan bersimbol kipas dengan berwarna merah dan putih.

"I-Itachi! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!" bentak Sasuke sekali lagi.

"Kenapa kau marah? Bukankah seharusnya senang, orang yang telah membantai seluruh keluargamu menjadi seperti itu? Ejek Kidoumaru.

"TIDAK! AKULAH… AKULAH YANG HARUS MEMBUNUHNYA, BUKAN ORANG LAIN!" teriak Sasuke, kini mata Sasuke berubah menjadi merah.

"Sasuke!" tegur Shikamaru, "Tenangkan emosimu, ingat kita kesini untuk menyelamatkan Sakura."

Saat mendengar Shikamaru mengucapkan kata 'Sakura', mata Sasuke kembali normal, kini tatapannya tidak setegang tadi saat melihat syal berwarna hitam itu, syal penuh dengan kenangan manis, namun juga pahit.

"Kalian, serahkan orang ini padaku," ujar Neji yang melangkahkan kakinya kedepan.

"Kau yakin?" tanya Shikamaru.

"Sangat yakin, memangnya kalian mau mengulur waktu lebih lama lagi?" jawab Neji.

"Baiklah, kau hati-hati," jawab Shikamaru yang menghampiri Sasuke, "Ayo Sasuke!"

Sasuke terdiam sejenak sambil menatap Kidoumaru dengan tatapan dingin, lalu dia berlari mengikuti Ino dan Shikamaru.

"Jadi, lawanku kamu yah, cowok cantik," ledek Kidoumaru.

"Bisa kutebak kau adalah tipe petarung jarak jauh," ujar Neji sambil memasang kuda-kuda.

"Pintar, bagaimana kalau kita mulai sekarang?" ucap Kidoumaru sembari melepaskan syal itu dan melemparnya keatas.

Kidoumaru dan Neji saling tatap dan saling memasang kuda-kuda, tidak ada yang bergerak duluan sebelum aba-aba muncul, bukan aba-aba ucapan, melainkan jatuhnya syal ketanah, itulah aba-aba pertarungan dimulai. Perlahan demi perlahan syal itu turun dengan irama yang pelan, dan…

PLEK

Saat menyentuh lantai, Neji dan kidoumaru langsung bergerak dengan cepat dan saling menghantam satu sama lain, Neji yang sangat ahli dalam bela diri dengan lihai menangkis setiap serangan dari Kidoumaru, walaupu Kidoumaru memiliki lengan enam, itu tidak membuat Neji kewalahan, karena diantara semuanya, Neji lah yang paling rajin untuk berlatih bertarung diruang pelatihan.

Dan dengan waktu yang singkat, Kidoumaru sudah menyerangnya dengan benang yang berwarna ungu, tentu saja Neji yang tahu kalau benang itu beracun langsung menghindarinya, dengan cepat Neji mengambil salah satu pisau yang bertebaran dimana-mana itu dan melemparkannya kearah kidoumaru, sangat tepat, sehingga menyebabkan luka goresan di pipi Kidoumaru.

Kidoumaru terdiam saat merasakan pipinya tergores, dia menyeka darah yang keluar dari pipinya itu memakai tangannya dan menyeringai pada Neji, sedangkan Neji yang sudah memasang kuda-kuda lagi juga ikut menyeringai pada Kidoumaru, seolah mereka saling menikmati pertarungan itu.

.

.

.

Sementara itu Kabuto yang sedang serius memperhatikan kondisi Sakura itu membuat orochimaru makin jengkel.

"Kabuto… cepat selesaikan proses ini sebelum para Guardian muncul!" bentak Orochimaru.

Kabuto tidak menanggapi perkataan Orochimaru, dia hanya melirik tuannya itu memakai ekor matanya, Kabuto berjalan kearah tabung itu dan menekan-nekan tombol yang tertera dibawahnya. Sakura yang masih tergeletak lemah diatas kasur itu melirik lemas kearah tabung itu, dan perlahan dikeluarkan butir-butiran air mata di kedua bola matanya itu.

"Kenapa… kenapa aku begitu merindukannya…" lirih Sakura pelan.

"Apa? Kau mengucapkan sesuatu?" tanya Kabuto yang mendengar ucapan Sakura.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku?" tanya Sakura dengan nada yang sangat lemas.

"Tenang saja nona, aku tidak akan menyakitimu," jawab Kabuto dengan sopan, "aku hanya sedikit meminta kekuatanmu."

"Untuk apa?~ kalau kau mau, ambil saja semuanya…~ aku tidak butuh~~, kau juga boleh membunuhku~~" rintih Sakura.

"Tidak, aku tidak akan membunuhmu, karena dia membutuhkanmu, kalian saling membutuhkan," jawab Kabuto sambil menggenggam tangan Sakura.

Anehnya, Sakura merasakan kehangatan yang mengalir dari genggaman Kabuto, bukan kebohongan yang dia rasakan, namun ketulusan yang terasa dalam genggaman itu.

"Sebenarnya… siapa kamu?" tanya Sakura.

Kabuto tersenyum lembut dan membisikkan sesuatu pada Sakura, dan itu membuat mata Sakura terbelalak, tatapannya terpaku pada langit-langit diruangan itu, ucapan Kabuto membuat Sakura sedikit kehilangan kesadarannya, dan air mata yang mengalir pelan itu kini menjadi deras.

"Kabuto! Cepat selesaikaan! Aku sudah tidak sabaar!" geram Orochimaru.

Kabuto menatap sinis pada Orochimaru dan membuat senyum palsu pada tuannya itu, "Sebentar lagi yah, Tuan Orochimaru."

.

.

.

"Aaaahh! Sampai gerbang ketiga! Kini apa lagi yang akan muncul?" ucap Ino sambil sedikit membungkuk dan menahan tubuhnya dengan menyangga kedua tangannya diatas lututnya.

"Ayo kita bu-" belum menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah terkejut karena gerbang itu terbuka sendiri.

"Selamat datang di wilayahku, para pecundang," ucap sosok laki-laki yang seperti menggendong seseorang dibelakangnya.

"A-Apa-apaan dia?" kata Ino yang sedikit bingung melihat perubahan sosok orang itu, dia menggoyangkan badannya sehingga membuat sosok dibelakangnya bangun dan hidup.

"Perkenalkan, aku Sakon… dan ini saudara kembarku, Ukon," ucap laki-laki yang berada disebelah kiri dengan sopan.

"Memangnya kami peduli siapa kalian? Lagipula yang mana yang Sakon dan mana yang Ukon? Kalian sama saja!" sewot Ino.

"Aku adalah Sakon, yang disebelahku Ukon," jelas Sakon sambil menunjuk kearah kembarannya.

"Lalu apa bedanya?" tanya Ino.

"Ino! Apa ini waktunya untuk mempeributkan perbedaan mereka?" tegur Shikamaru.

"Ah, maaf… habis mereka mirip sekali," ucap Ino yang malu.

"Baiklah, Sasuke… kau bawa Ino pergi dari sini, orang ini biar aku yang menghadapinya," ujar Shikamaru.

"Apa? 2 lawan 1? Aku juga akan bertarung bersamamu," ucap Ino yang memegang lengan Shikamaru.

"Tidak, mana mungkin aku membiarkanmu bertarung disini, kau harus menyelamatkan Sakura," tolak Shikamaru.

"Tapi…"

"Ino!" potong Shikamaru, "Aku janji akan menyusulmu."

Ino terdiam, Sasuke menariknya dengan pelan seolah memberikan kode pada Ino untuk pergi dari tempat itu, Ino mengangguk pada Sasuke dan berjalan menghampiri Shikamaru lalu menggenggam kecil lengan Shikamaru, "Janji kau akan menyusul."

Shikamaru tersenyum dan menarik Ino lalu mencium kekasihnya itu dengan lembut, "Pasti," jawab Shikamaru tersenyum, Ino sedikit menunduk lalu pergi bersama Sasuke.

"Wah, wah, waaaah… sangat romantis sekali, baguslah, setidaknya itu ucapan perpisahan kalian yang terakhir," ledek Sakon.

Ino yang mendengar itu langsung membalikkan badannya dan teriak, "KAU AKAN KALAH DARI SHIKAMARU! DASAR BANCI!" lalu dia melanjutkan larinya dengan Sasuke.

"APA KAU BILANG!" geram Sakon.

"Sudahlah Sakon, jangan ladeni dia," ucap Ukon yang membunyikan lehernya.

"Tapi dia mengataiku banci!" sewot Sakon.

"Memang benar kan? Lagipula hobimu bercermin dan selalu mengikuti Kabuto kemana-mana," ujar Ukon dengan kalem.

"Kau cari ribut yah!" Sakon dan Ukon berdebat seolah tidak menganggap keberadaan Shikamaru disana, langsung saja Shikamaru melemparkan bom asap kecil pada mereka yang menyebabkn mereka sadar akan keberadaan Shikamaru. Begitu mereka berdua menoleh kearah Shikamaru.

"Akhirnya kalian sadar kalau disini ada lawan yang harus kalian hadapi," ucap Shikamaru sambil tersenyum.

.

.

.

Kembali lagi pada pertarungan sosok manusia berlengan enam dan laki-laki berambut panjang, makin lama pertarungan itu makin panas, terlihat Kidoumaru terus menerus menyerang Neji dengan senjata-senjata beracunnya, dan Neji pun dengan lihai menangkisnya dengan putaran yang dia ciptakan sebagai pelindung itu.

Namun kali ini Neji sedikit lengah sehingga Kidoumaru berhasil mendekati tubuh Neji dank e empat lengan itu mencengkram tubuh Neji dengan kencang.

"Akh! Sial!" geram Neji.

"Cukup lihai juga kau bocah! Tapi yang satu ini akan membuatmu jera!" ucap Kidoumaru yang melayang keudara.

Begitu sampai pada puncaknya, kidoumaru memutar Neji beserta tubuhnya dengan kencang dan dihantamkan tubuh Neji kebawah, sebelum tubuhnya dan tubuh Neji menyentuh lantai, Kidoumaru melepaskan cengkramannya dan membiarkan Neji menabrak lantai sendirian.

BRUAAAKKKK

"Akh!"

Neji merintih kesakitan, namun begitu Neji cepat-cepat bangkit, Kidoumaru sudah tidak ada, Kidoumaru bersembunyi seolah menyembunyikan tubuhnya, namun hal itu hal yang sia-sia, karena Neji bisa meraskan pancaran tenaga seseorang.

Neji memusatkan konsentrasi pada aura disekelilingnya, dia menutup matanya dan menenangkan pikirannya, begitu dia merasakan pancaran tenaga yang bergerak mendekatinya dari belakang, Neji membalikkan tubuhnya dan mencengkram leher kidoumaru dengan keras.

Kidoumaru menjadi panic sedangkan neji tersenyum seolah ini adalah kemenangannya, Sayang sekali, kau harus kalah disini," ucap Neji yang mencengram leher Kidoumaru memakai tangan kirinya, lalu tangan kanannya membuat symbol didepan wajah Kidoumaru, dan…

DUAAARRRRR.

Neji berhasil menciptakan ledakan yang tidak terlalu besar namun juga tidak kecil bagi sosok Kidoumaru, dan itu menyebabkan wajah kidoumaru terbakar habis, ledakkan itu juga mengandung racun yang mematikan bekerjanya sel-sel dalam otak.

"Hhhh, don't mess with me!" ujar Neji yang meninggalkan Kidoumaru tergeletak tak bernyawa diruangan itu.

.

.

.

"Nona, maafkan aku, mungkin bagian ini akan terasa sakit, tapi ini tahap terakhir, maaf…" ucap Kabuto pada Sakura.

Sakura yang mendengar ucapan kabuto hanya terdiam, dia masih memikirkan perkataan yang dibisikkan tadi oleh Kabuto, hal it uterus menerus terngiang dikepalanya. Kabuto sempat ragu ketika harus menekan tombol berwarna merah yang disamping Orochimaru, namun saat dia memejamkan matanya, dia membuka matanya yang mantap akan keputusannya saat itu.

KLIK.

"HYAAAAAAAAAAAA!" Sakura berteriak sangat kencang, dan itu membuat Kabuto panic, namun Orochimaru menyeringai, karena dia merasakan ada energi yang mengalir deras kedalam tubuhnya.

"AHHAHAHA, akhirnyaa! Akhirnya dunia ini milikkuu!" ucap Orochimaru.

"HUUAAAA! TIDAAAK! SAKIIIT!" Sakura terus menerus merintih, Kabuto yang mendengarnya sangat tidak tega dan akhirnya menghentikan proses itu.

Sakura berhenti berteriak, dan Orochimaru berhenti menyeringai.

"Kenapa kau hentikan!" bentak Orochimaru.

"Sudah selesai," jawab Kabuto.

.

.

.

"Hah… hah… hah… gerbang ke empat…hah.. hah… gila, ada berapa gerbang sih!" gerutu Ino yang sudah sampai dengan Sasuke.

"Gerbang ini digembok?" ucap Sasuke bingung yang melihat gembok besar pada lubang kunci gerbang tersebut.

"Ah, serahkan padaku," kata Ino yang mendapatkan ide.

Ino mengeluarkan sosok tumbuhan melalui telapak tangannya, dan tumbuhan itu menjalar kelubang kunci gembok tersebut, lalu Ino memancarkan tenaganya melalui batang itu, dan terbukalah gembok itu.

"Nah, sekarang bagianmu Sasuke, sepertinya gerbang itu susah dibuka," ucap Ino setelah selesai menyelesaikan tugasnya.

"Hn," jawab Sasuke yang langsung menghantamkan pukulan petirnya pada gerbang itu.

Ketika gerbang itu hancur setengah, Sasuke dan Ino langsung memasuki ruangan tersebut, terlihat ruangan itu sangat bersih, berwarna pink, dan… terlalu kewanitaan.

"wah, waaah, sudah datang rupanya, padahal aku belum selesai berdandan loh," ucap seorang wanita sambil membawa sebuah suling ditangannya.

"Heh, Sasuke, sepertinya kau sudah tahu yah ini lawan siapa," ucap Ino.

"Hn, aku tidak mau bertarung melawan wanita," ujar Sasuke.

"Tunggu dulu, apa kau yakin membiarkan wanita pirang ini melawanku… sendirian?" tanya wanita yang bernama Tayuya itu.

"Heh! Jangan meremehkanku yah!" sewot Ino.

"Dia akan kalah, lebih baik kau yang melawanku," tawar Tayuya pada Sasuke.

"Tidak! Lawanmu adalah aku! Kurang ajar kau meremehkanku!" gertak Ino yang mengeluarkan cambuk batang tumbuhannya dan menyerang Tayuya langsung.

Tayuya melompat kebelakang dan menyeringai.

"Kau akan menyesal menantangku," ucap Tayuya.

"Dan kau akan menyesal telah meremehkanku," balas Ino.

Sasuke terdiam melihat keseriusannya Ino, sebelum dia meninggalkan Ino, Sasuke menoleh kearah teman perempuannya itu, "Jangan kalah," ucap Sasuke dengan ekspresi datar, namun ucapannya mengandung kekhawatiran.

Ino tersenyum lembut pada Sasuke, "Tahukah kau, Sasuke," ucap Ino pada Sasuke yang sudah pergi, sehingga dia tidak bisa mendengar ucapan gadis itu, "Sejak bertemu Sakura, kau berubah menjadi lebih hangat."


A/N : eh, maaf yah aku ngga bisa bales reviewnya satu-satu.. maaf, maaf, maaf... di chapter berikutnya pasti aku jawab semua kok yah...

makasih yah udah review... masih mau kan kalo ku minta review lagi?

maaf juga kalo masih banyak typo bertebaran, (perasaan udah diedit2 deh)... heheheee...

tentang adegan berantemnya, maaf yah kalo cuma sebentar dan singkat, habis aku g terlalu bisa bikin adegan berantem... =_=...

oke, sampai bertemu chapter depan... :)