The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
BLUP BLUP BLUP
Suara gelembung yang keluar dari tabung air menandakan adanya udara yang tercipta disana, Kabuto menoleh kearah tabung itu dan tersenyum sedikit, senyuman yang menandakan kelegaan dan juga harapan. Orochimaru masih terbaring ditempat tidurnya, kini dengan kekuatan yang baru saja dia peroleh dia merencanakan sesuatu yang sangat licik.
"Mon…" ucap Sakura dengan lunglai, "Dae…mon…"
Kabuto menghampiri Sakura dan menggenggam tangannya.
"Nona…" panggil Kabuto yang berharap Sakura akan membuka matanya.
Namun yang terjadi adalah sebaliknya, Sakura menutup kelopak matanya dengan pelan dan lemah.
"N-Nona… Sakura…. Tunggu, jangan tidur!" cegah Kabuto panic.
"Persetan dengannya, kabuto! Sekarang sempurnakan kekuatanku!" bentak Orochimaru.
Kali ini Kabuto kehilangan kesabanarannya, dia melirik Orochimaru dengan penuh kejengkelan, lalu dengan aura yang bisa dirasakan seram oleh Orochimaru itu, Kabuto menghampiri tuannya itu dan menekan tombol yang berada disamping tempat tidur Orochimaru, langsung saja dengan sekejap Orochimaru merasa ada sengatan listrik dasyat yang menyerang dirinya.
"GHUAAAA!" Orochimaru teriak kesakitan sambil meronta-ronta diatas tempat tidur.
"Sayang sekali tuan, anda membuatku kehilangan kesabaranku padamu, maaf… aku tidak bisa membantumu lagi," ucap Kabuto.
Kabuto menghampiri tabung air itu, lalu menekan-nekan tombol yang tertera disana, dengan senyuman penuh dengan rasa tidak sabar, Kabuto menghela nafas.
"Akhirnya… kita bisa berkumpul lagi…" ucap Kabuto pelan.
BLUP BLUP BLUP BLUP BLUP
.
.
.
.
.
PRAAAANG
"Konohamaru! Apa yang kau lakukan? Lihat vas bunganya jatuh! Pecah kaaan!" tegur salah satu gadis dikelas Konohamaru, kini mereka sedang menjalankan tugas bersih-bersih di kelasnya.
"M-Maaf…" perasaan Konohamaru kini sangat kacau, dia merasa kakaknya sedang dalam bahaya, dan dia juga merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Sakura tadi pagi, Sakura hanya bengong saat sarapan bersama, dia juga selalu bengong kalau adiknya yang sister complex ini mengajaknya bicara.
"Kakak…"
.
.
.
Kini pertarungan 2 lawan satu antara Shikamaru, Sakon dan Ukon sedang berlanjut, sejauh ini Shikamaru berhasil mengatasi serangan-serangan mereka, karena bukan hanya lincah, Shikamaru memiliki otak yang pintar untuk mengatur strategi bagaimana agar bisa mengalahkan 2 orang dalam waktu yang bersamaan.
"Hahahaha! Apa yang kau lakukan hanya bisa menghindar, hah!" sindir Sakon.
Shikamaru terus menerus loncat kesana kemari untuk menghindari serangan si kembar itu, pada saat Shikamaru berada dibelakang Sakon, dia langsung menciptakan bayangan dengan berbentuk tombak, dan dengan cekatan digenggamnya tombak bayangan yang mengeras itu lalu ditancapkannya kebelakang Sakon, namun tindakannya dihentikan oleh saudara kembarnya, Ukon.
"Sayang sekali, masih ada aku disini," ucap Ukon yang langsung menghantam Shikamaru memakai sikutnya.
BUAAAKK.
"AKh!" Shikamaru terpental jauh dan menabrak beberapa bangunan sehingga bangunan itu sedikit hancur.
"Sial! Kalau begini caranya, aku harus mengunci salah satu diantara mereka!" pikir Shikamaru saat dia sudah beranjak dari jatuhnya. "Baiklah."
Shikamaru mengambil pose dari jarak jauh untuk mengendalikan bayangannya, dia menciptakan dua cabang bayangan yang berbentuk runcing itu dan masing-masing menyerang kedua orang yang wujudnya sangat sama itu. Sakon dan Ukon berlari menghindari serangan Shikamaru, mereka berlari hingga terpisah jauh, saat Shikamaru melihat Sakon sudah terpojok.
"Bagus!" geram Shikamaru, dia langsung menciptakan sebuah kerangkeng dari bayangannya dan mengurung Sakon disana.
"Sial!" teriak Sakon yang sudah terkurung dengan sukses.
"Sukses," gumam Shikamaru sambil tersenyum, "Kini tinggal kau dan aku, tenang saja, dia tidak akan mengganggu, kerangkeng itu terbuat dari bayanganku yang kerasnya melebihi baja."
"Heh! Pintar juga kau bocah, kali ini aku tidak akan segan-segan," ucap Ukon sambil memasang kuda-kuda akan menyerang.
"Kalau begitu, ayo kita mulai!" teriak Shikamaru yang langsung menyerang.
Shikamaru menciptakan bayangan lagi dan kali ini membentuk bayangannya menjadi sebuah pedang panjang, digenggamnya pedang itu dan ditebasnya Ukon yang sedang menghindari tebasan-tebasan Shikamaru. Ukon terus menghindar, sampai pada saatnya dia mendapat kesempatan untuk menyerang balik, Ukon melompat ke udara dan menyemburkan cairan berwarna ungu.
Shikamaru melompat dengan cepat, namun lengannya sedikit terkena cairan itu, dan kain Shikamaru yang terkena cairan itu sedikit lenyap dan hangus, melihat efek itu Shikamaru langsung bisa menebak kalau cairan itu mengandung zat asam yang sangat tinggi. Bisa sangat bahay jika dia terkena cairan itu, Shikamaru langsung menjauh dari Ukon secepat mungkin.
"Hahahaha, kau sadar yah cairan itu bisa membahayakanmu?" ledek Ukon.
"Heh! Kau terlalu asyik dengan cairanmu, lihat belakangmu!" ucap Shikamaru sambil terkekeh.
Ternyata Shikamaru sudah menciptakan bayangan runcing yang lain, sehingga Ukon tidak menyadarinya, dan dengan cepat bayangan-bayangan itu menancap tubuh Ukon yang tidak waspada dengan tepat.
"A-Akh…" terlihat darah yang mengalir dari tubuh dan mulut Ukon disitu.
"Heh! Skak Ma-" Shikamaru menghentikan omongannya, karena dibelakangnya, Sakon sudah sukses menusuk punggung Shikamaru dengan pisau kecilnya.
"Sayangnya kau lengah dengan keberadaanku!" ucap Sakon dengan nada sinis, "BERANI SEKALI KAU MEMBUNUH SAUDARAKU!"
BUAAAK.
"Aarrghh!" Shikamaru terpental dengan pisau yang masih menancap dipunggungnya, dia salah perhitungan, Shikamaru lupa kalau energinya menipis maka kekuatan bayangannya pun makin menipis.
Punggungnya kini merasa panas seperti terbakar, bisa dia tebak kalau pisau itu beracun.
"Heh! Kali ini kau tidak akan segan membunuhmu!" teriak Sakon sambil meluncur kearah Shikamaru.
"Gawat!" geram Shikamaru sambil menahan sakit di punggungnya.
.
.
.
.
.
Ino dan Tayuya baru saja memulai pertarungannya, kini Ino sudah siap dengan cambuk tanamannya yang penuh dengan duri itu, dan Tayuya sudah siap dengan hanya sebatang suling yang dia genggam.
"Hiyaaaaa!" Ino menyerang lebih dulu pada Tayuya.
Kesalahan.
Ino sama sekali tidak ada pengalaman bertarung, dan dia tipe orang yang sangat malas latihan di ruang pelatihan, tapi kini dengan percaya diri, dia menyerang Tayuya, tanpa dia tahu kalau Tayuya itu sudah berapa kali membunuh orang dan bertarung dengan macam-macam orang.
"Heh! Amatir!" Hina Tayuya yang mencengkram cambuk Ino dengan cepat.
Dia menarik cambuk Ino sehingga tubuh Ino melayang kearahnya, lalu dengan cepat Tayuya meniupkan suling didekat wajahnya.
DUAAARRRR.
Bunyi suling yang menyebabkan ledakan tepat di wajah Ino, untung Ino cekatan menutup wajahnya memakai kedua lengannya, sehingga kedua lengannya kini terluka bakar. Terlihat Tayuya yang akan meniupkan sulingnya lagi, kali ini bunyi suara dari suling itu menyebabkan telinga Ino sakit.
"Arrgghhh!" rintih Ino yang menutup kedua telinganya.
Tayuya meluncur cepat kearah Ino dan menjambak rambut Ino dengan kencang lalu memukulinya.
BUAAAK
PLAAAK
"Hahahhaa, tidak bisa bertarung, tapi mau melawanku? Kau sangat lucu!" ucap Tayuya sambil terus menerus menampar Ino.
"Akh!" Ino hanya bisa merintih.
Ok.
Ino juga perempuan, kalau dibegitukan pasti akan menangis karena kesakitan, namun kini air matanya mengalir bukan karena kesakitan, itu karena dia betapa menyesalnya dia selalu bolos latihan saat Tsunade memberikan jadwal pelatihan untuk mereka, dia menyesal telah memelihara sifat malas itu.
Tayuya masih menampar Ino, namun walaupun tidak punya pengalaman bertarung, Ino punya tekad yang kuat, dia menggenggam cambuknya, dan menyerang Tayuya dengan cara melilit tubuh Tayuya dengan cambuknya, lalu Ino mengeraskan cengraman cambuknya itu sehingga Tayuya merintih kesakitan.
"Hyaaaa! Wanita sialan!" geram Tayuya.
Tayuya menendang tubuh Ino sebelum memotong lilitan tumbuhan Ino memakai pisau yang tersembunyi dibalik sulingnya itu.
"Kau tahu! Tuan Orochimaru bilang, orang lemah pantasnya mati," kata Tayuya sambil memperlihatkan ujung pisau yang tajam itu, "Karena aku baik hati, aku akan langsung menusuk lehermu dengan pisau ini."
Ino yang masih terbaring hanya bisa memundurkan tubuhnya memakai kakinya.
"Tidak… " Ino kini bisa merasakan, betapa lemahnya dirinya dan takut akan musuhnya itu.
"Mati kau!" geram Tayuya sambil meluncur kearah Ino.
Ino menutup matanya, saat itu hanya satu yang dia pikirkan.
"Shikamaru…"
.
.
.
"Ternyata sepintar apapun kamu juga butuh pertolongan yah," ucap sesosok yang tiba-tiba hadir dihadapan Shikamaru, sosok itu menahan serangan Sakon memakai kuku-kukunya yang tajam dan panjang itu.
"Kiba…" ujar Shikamaru bingung, kenapa bisa ada Kiba disini? Dan dia tidak sendiri.
"Shikamaru, akan kuobati lukamu," ucap wanita berambut pendek.
"Shizune?"
.
.
.
CREEP
"Seharusnya kau bertarung dengan orang yang setara denganmu," ucap sesosok laki-laki yang melindungi Ino, ketika Ino membuka matanya perlahan, dia melihat tangan laki-laki itu terluka akibat menahan serangan Tayuya, pisau Tayuya menancap ditelapak tangan laki-laki itu.
"N-Neji…" ucap Ino yang merasa lega.
"Maaf yah, aku bukan Shikamaru," ucap Neji yang seakan mengerti apa keinginan Ino tadi.
Ino tersenyum dan menyeka air matanya, "Ng, terima kasih."
"Heh! Rela sekali kau membiarkan tubuhmu terluka hanya untuk gadis ini!" cerca Tayuya.
"Tentu saja, karena gadis ini adalah sahabatku," ucap Neji dengan tatapan tegas menatap Tayuya.
"Cih! Persahabatan yang konyol! Mati saja kalian!" ucap Tayuya.
Kini Tayuya menyerang Neji langsung dengan serangan fisik, dan itu tentu saja menguntungkan buat Neji, karena suling yang merupakan senjata Tayuya kini sudah dibuang oleh Neji kesembarang tempat karena tadi menancap ditangan laki-laki itu.
.
.
.
"Akh… Ino… aku harus menyusulnya," rintih Shikamaru saat Shizune tengah mengobatinya.
"Jangan bergerak, racunmu belum keluar semua, tenang saja, tadi kami bertemu Neji dijalan, dia sudah pergi ketempat Ino," jawab Shizune.
"Neji?"
"Ya, tadi dia terlihat cemas, aku yakin dia bisa membantu Ino kok," kata Shizune.
"Sial!" geram Shikamaru dalam hati.
Shikamaru kini hanya bisa menonton pertarungan antara Kiba dan Sakon, bisa dilihat Kiba yang mengendalikan pertarungan kali ini, sepertinya Kiba balas dendam dengan kekalahan yang dia terima sebelumnya, Kiba menyerang Sakon bertubi-tubi sampai Sakon kewalahan, namun Sakon tidak kalah hebatnya dengan Kiba, dia bisa menyerang balik Kiba dengan gerakan-gerakannya yang lincah. Sampai saat terakhir Kiba lebih memanjangkan kuku tangan kanannya dan menancapkannya keperut Sakon.
Kali ini Shikamaru sangat yakin.
Sakon kalah.
Kiba mencabut perlahan tangan kanannya yang menancap di perut Sakon itu dan mengambil sesuatu dari dalam sana, dan itu adalah jantung.
"Kiba, kau gila…" ucap Shikamaru.
"Hanya untuk memastikan kalau dia itu benar-benar mati," ujar Kiba.
Shikamaru baru pertama kali melihat Kiba seperti itu, mungkin ini ganjaran akibat melukai harga dirinya yang tinggi itu.
"ayo kita susul Ino," usul Shikamaru.
.
.
.
BRUAAAAKKK
Terdengar suara benturan keras karena sosok Tayuya yang dihantam oleh Neji ke tembok, Ino sangat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya… seorang Neji yang selalu lembut terhadap wanita, kini memukul wanita tanpa ampun, sampai-sampai Tayuya babak belur begitu, Ino sedikit miris melihatnya.
"N-Neji… cukup…" ucap Ino.
Tapi Neji tidak memperdulikan perkataan Ino, dia terus menerus menghajar Tauya tanpa ampun, bisa dibilang kekuatan Neji diatas Tayuya, karena hasil dari rajinnya Neji latihan, Neji terlihat sangat kuat.
Ino sendiri tidak bodoh, dia melihat Tayuya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kini keadaan wanita itu sangat parah, luka dimana-mana dan darah yang keluar dari hidung serta mulutnya, membuat Ino yang sesama wanita tidak tega.
"Neji! Aku tidak mau kau membunuhnya!" teriak Ino sambil menangis.
Dia menangis karena sedih melihat Neji yang tidak dikenalnya itu, Ino ingin Neji kembali pada Neji yang dulu, lembut, usil, dan suka bingung orang.
Neji menghentikan serangan bertubi-tubinya pada perempuan itu, saat dia mendengar suara tangis Ino, Neji merasa dia sudah melakukan hal yang buruk dihadapan sahabatnya itu, lalu dengan tatapan sinis, Neji berniat untuk meluncurkan pukulan terakhir diwajah Tayuya. Namun tindakannya terhenti karena Ino memeluk lengannya dari belakang.
"Sudah cukup, jangan teruskan lagi…" ucap Ino.
Neji melepaskan Tayuya dan memeluk Ino, dielusnya rambut pirang yang tergerai itu lalu disekanya darah yang menempel dibibir Ino, dengan tatapan merasa bersalah, Neji memeluk Ino erat… sangat erat sampai pelukan itu terlepas ketika mendengar suara…
"Ino?"
Ino mendorong Neji pelan dan menatap pemilik suara itu.
"S-Shikamaru…"
Shikamaru mendekati Ino dan Neji dengan tatapan sinis, diambilnya lengan Ino secara kasar, "Akh!" yang membuat Ino merintih.
"Tidak tahu kah kau kalau Ino terluka?" ujar Neji yang menahan lengan Ino yang bebas.
Ino melihat tubuh Shikamaru yang telanjang dada dengan balutan perban dibahunya, "Shikamaru! Kau kenapa?" tanya Ino yang panic.
"Bukan apa-apa," jawab Shikamaru ketus.
"Ehm maaf… lebih baik kita susul Sasuke," usul Kiba.
"Hooooiii!" panggil suara yang cempreng dari jauh.
"Naruto, ternyata kau hidup!" ejek Kiba.
"Hehehe, aku tidak bisa mati semudah itu," ujar Naruto, "Loh, Ino? Kenapa wajahmu berantakan begitu? Oh pasti kamu kalah yah? Dan pasti Shikamaru yang menyelamatkanmu kan? So sweeet~~"
Naruto berhasil membuat suasana hati Shikamaru tambah jengkel.
"Ehm, Naruto… lebih baik kamu jangan bicara sesuatu yang aneh-aneh dulu yah, itu membuat semuanya makin kacau," usul Shizune.
.
.
.
.
.
Sasuke berdiri didepan gerbang yang beda dari biasanya, gerbang satu ini sangat kecil, bahkan hampir setara dengan pintu-pintu rumah biasa, Sasuke membuka kenop gerbang itu, dan begitu dia membukanya dengan utuh, Sasuke memasuki ruangan itu, ruangan ang serba putih dan sangat terang, lalu dia menepatkan pandangannya pada sosok pemuda yang berdiri tegak ditengah-tengah lantai itu.
"Kau…" ucap Sasuke yang tahu sosok itu.
Ya.
Sosok itu adalah yang menghalanginya saat Sasuke akna menyerang Sakura yang berubah menjadi Goddess.
"Jawab pertanyaanku," ucap laki-laki berambut putih dan berwajah dingin bernama Kimimaro itu, "Apa hubunganmu dengan Sakura?"
"…." Sasuke terdiam, dia berpikir bagaimana bisa orang ini kenal dengan Sakura.
"Kau sendiri? Apa hubunganmu dengannya?" tanya Sasuke balik.
"Jangan membalikkan pertanyaan, jawab pertanyaanku."
"…"
Orang itu sangat bahaya, itulah yang ada di benak Sasuke, dia bisa merasakan hawa membunuh yang sangat besar berasal dari aura Kimimaro, dan jawaban apa yang harus dia berikan padanya? Haruskah dia berbohong? Atau katakan saja hubungan mereka hanya sebatas teman?
"Kami…" ucap Sasuke ragu.
"Kalau bohong, kubunuh kau," kata Kimimaro dengan nada tenang.
Oke.
Sasuke memutuskan untuk jujur.
"Aku mencintainya," jawab Sasuke singkat namun jelas.
"Kalau begitu bersiaplah untuk mati," ucap Kimimaro.
"Tunggu! Kau belum jawab pertanyaanku, apa hubunganmu dengannya?" cegah Sasuke yang juga penasaran hubungan pria ini dengan Sakura.
"…" Kimimaro terdiam, perlahan kenangannya bersama Sakura terlintas di otaknya.
FLASHBACK
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam… enam! Konohamaruu, ada enam, coba lihat… aku menemukan batu unik ini ada enam," teriak sosok gadis kecil berambut soft pink yang melambai-lambaikan tangannya pada sosok yang lebih kecil darinya.
Sesosok pemuda cilik pun mengawasinya dengan penasaran, dilihat pancaran wajah yang ceria keluar dari ekspresi Sakura saat itu.
"Haahh! Ada Kimimaro! Pergii! Hsuh!" teriak anak-anak kecil yang lewat didaerah situ, dan suara anak kecil itu membuat Sakura menoleh pada mereka.
Sakura melihat Kimimaro dilempari batu oleh anak-anak kecil seumurannya disana.
"Ibliis! Pergii!"
"Monster! Mati saja!"
Kimimaro hanya berlutut dan melindungi wajahnya dari lemparan batu tersebut, tiba-tiba saja Sakura dan Konohamaru melompat kedepan Kimimaro, dan Sakura berteriak.
"Hati-hati, kalau kau memlemparinya lagi dengan batu, kalian semua akan jatuh ke sungai!" teriak Sakura.
"Hah, apa-apaan cewek ini!"
"Dia gila! Sama seperti Kimimaro yang monster, mereka cocok!"
"Lempari batu!"
TUK TUK TUK.
"AARRRGHH! PERGI KALIAAANN!" Konohamaru mengamuk dan mengambil batang pohon disana lalu mengayuhkan ke anak-anak itu sehingga mereka pergi, mereka berlari sambil tidak melihat kedepan, sehingga mereka jatuh ke sungai yang dangkal.
"Hahahahaa, sukuriiin," teriak Konohamaru.
"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Sakura.
"Ah.. ehm…" Kimimaro mengangguk pelan.
Sakura tersenyum pada Kimimaro dan mengulurkan tangannya untuk mengajak bermain bersama. Dan hari-haripun terasa begitu menyenangkan bagi Kimimaro, Sakura tidak takut dengan apa yang bisa Kimimaro lakukan, dia malah terpesona, begitu pula Konohamaru, mereka bertiga menjadi dekat dan sering bermain bersama, namun suatu saat Sakura harus pergi dari tempat itu, karena libura sudah habis, saat itu Kimimaro berjanji akan menemui Sakura.
END OF FLASHBACK.
"Sakura…" Kimimaro mulai akan menjawab pertanyaan Sasuke, "Wanita yang sangat penting bagiku."
"….."
"….."
"Kalau begitu, kita bertarung untuk?" tanya Sasuke yang memasang ancang-ancang akan menyerang.
"Sakura," lanjut Kimimaro.
.
.
.
"Kabuto! Apa-apaan kauu!"
Kabuto hanya terdiam melihat tuannya itu kesakitan, dia tidak memperdulikan Orochimaru sekarang, karena tujuan aslinya adalah membangkitkan sosok dalam tabung itu dengan memakai energi kehidupan dari Orochimaru yang sudah menerima setengah kekuatan dari Sakura.
"Maaf Tuan Orochimaru, peran anda sudah tidak dibutuhkan," ucap Kabuto tersenyum sinis.
Dalam sekejap, Orochimaru memucat dan tubuhnya mongering, kini energinya sukses berpindah pada sosok di tabung air itu, sosok itu membuka matanya dan menggerakan tangannya, lalu sedikit demi sedikit menegakkan tubuhnya, dan…
PRAAAAANG
Tabung itu pecah dengan sendirinya, Kabuto berlari mengambil kain panjang dan melingkarkannya pada tubuh yang tidak memakai sehelai benang itu, lalu Kabuto berlutut didepannya.
"Selamat datang kembali, Tuan Daemon," ucap Kabuto.
Sosok yang disebut Daemon itu melirik pada Kabuto, lirikan yang sangat datar ekspresinya, bukan sinis namun juga bukan ramah, Daemon melihat-lihat suasana diruangan itu, dan dia melihat telapak tangannya dan menyentuh sedikit demi sedikit bagian tubuhnya sendiri.
Daemon mulai berjalan, berjalan kearah sosok Sakura yang tergeletak lemah dihadapannya, ketika dia menghampiri Sakura, matanya terbelalak hebat… perlahan dia menyentuh pipi Sakura dengan sangat lembut lalu berjalan ke bibir mungil yang sudah sedikit pucat itu.
"Goddess…" ucap Daemon pelan.
Mendengar Daemon mengucapkan sepatah kata, Kabuto mengangkat kepalanya dan tersenyum senang.
"A-anda tahu? Anda ingat?" tanya Kabuto.
Daemon tidak menoleh pada Kabuto, namun dia menjawab pertanyaannya.
"Tentu daja aku ingat… semuanya," jawab Daemon menyeringai.
"Maafkan saya, saat itu saya harus menangkap anda dan mengurung anda di tabung air ini, itu karena saya ingin seluruh kekuatan anda kembali," jelas Kabuto.
"Tidak perlu dijelaskan, aku sudah tahu semuanya," sela Daemon seraya membelai wajah Sakura.
Perlahan didekatkan bibirnya pada bibir Sakura, dan tanpa ragu… Daemon mencium gadis itu dengan lembut seolah Sakura adalah miliknya sendiri.
~Sakura's POV~
Ngh… siapa ini?
Sesuatu yang lembut menyentuh bibirku, siapa yang menyentuhku begini lembutnya?
Ah aku tahu… pasti dia, aku mencoba membuka mataku sambil menggumamkan namanya…
"Sasu…" namun apa yang kulihat beda dari khayalanku, mataku terbelalak hebat saat aku melihat sosok yang didalam tabung air itu sudah berada tepat dihadapanku, tepat didepan wajahku, "S-siapa kau?"
Kulihat pandangan orang itu sangat lembut dan sedikit mengandung kesedihan, tidak terasa adanya tanda-tanda niat jahat dari orang itu, perlahan kedua lengan orang itu menghampiriku dan langsung memelukku yang sudah berada dalam posisi duduk ini dengan erat, sambil berbisik… tubuhnya sedikit bergetar…
"Goddess… aku sangat merindukanmu…"
Itulah yang dibisikkannya padaku.
Namun aku sendiri tidak mengerti, aku tidak keberatan dipeluk olehnya seperti itu, aku pejamkan kedua mataku dan membalas peluk orang itu, entah mengapa aku seperti bisa merasakan perasaan laki-laki yang memelukku ini.
~Normal's POV~
"Maaf… ehm… tapi, aku bukan Goddess," ucap Sakura pelan sambil sedikit mendorong Daemon.
Daemon menatap Sakura dengan sangat dalam, lalu Daemon tersenyum lembut sambil menggelengkan kepalanya, "Kau… adalah Goddessku yang kusayang," ucap Daemon sambil mengelus pipi Sakura.
"A-anu… tapi…aku-" ucapan Sakura terpotong saat melihat kode dari Kabuto yang menggelengkan kepalanya agar Sakura berhenti bicara.
Saat Daemon kembali memeluk Sakura, Daemon memejamkan matanya, dia berusaha melihat apa yang Sakura pikirkan, saat mulai melihatnya, mata Daemon berubah menjadi sinis.
"Sasuke…" ucap Daemon tiba-tiba.
"Hah? Kau kenal dia?" tanya Sakura sedikit dengan nada ceria campur lemas, "Aku sedang menunggunya disini, ah tidak, aku yakin dia akan kesini menjemputku."
"…." Daemon terdiam berusaha menyimak kalimat Sakura, "Apa hubunganmu dengannya?"
"Hm… hanya teman, namun akhir-akhir ini aku merasa dia selalu memperhatikanku, dan menolongku saat aku butuhkan," Sakura mengucapkan kalimat itu dengan wajah yang tersipu, jelas saja hal itu membuat Daemon sangat marah… dan tiba-tiba saja…
DUAAARRR
Tabung yang semula tempat Daemon tertidur kini hancur berkeping-keping karena hasil ledakan yang Daemon buat melalui telapak tangannya.
"Tak akan kuserahkan kau padanya," geram Daemon, lalu dia melirik kearah Kabuto, "Dimana dia?"
"Sedang bertarung dengan Kimimaro," jawab Kabuto.
Daemon langsung pergi meninggalkan Kabuto dan Sakura, tentu saja hal ini membuat Sakura bingung, saat Sakura hendak bangkit dari tempat tidurnya, kabuto mencegahnya.
"Nona… jangan berdiri dulu," ucap Kabuto.
"Mau kemana dia? Siapa yang sedang bertarung?" tanya Sakura yang mulai panic.
"Ini sudah takdir mereka, tolong megertilah," ujar Kabuto yang membuat Sakura bingung.
"Sebenarnya siapa kamu?" tanya Sakura sambil menatap kedua mata Kabuto lebih dalam, akhirnya Kabuto melepas kacamatanya dan membuka kunciran rambutnya, sehingga rambutnya tergerai, jantung Sakura berdegup kencang.
"K-kamu…"
.
.
.
Tidak ada kata 'mengalah' dalam kamus kedua pria yang sedang bertarung ini. Kimiaro dan Sasuke, mereka sama-sama saling menyerang dengan hebat, pertahanan mereka juga seimbang, Sasuke menggunakan pedang yang dibuatkan Tenten yang berelemen api, namun Kimimaro tidak menggunakan apa-apa, dia berhasil menangkis tebasan pedang Sasuke hanya dengan memakai lengannya.
Karena kesal tebasannya tidak juga mengenai tubuh orang itu, Saat Sasuke menebasnya sekali lagi dan ditahan oleh Kimimaro, tangan kirinya mengeluarkan elemen petirnya dan dihembaskan keperut Kimimaro, sehingga Kimimaro terpetal jauh dari Sasuke.
Keadaan terdiam sebentar, Sasuke menunggu tubuh Kimimaro bangkit dari jatuhnya, saat Kimimaro sudah bangkit, dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sehingga berbunyi.
"Lumayan juga kau," ucap kimimaro.
Lalu Kimimaro melakukan sesuatu diluar kemampuan manusia biasa, dia membuka kulit pundaknya dan seolah mencabut tulangnya sendiri, dan tiba-tiba tulang itu langsung berubah bentuk menjadi sebuah pedang. Sasuke sedikit tergidik melihat prosesnya itu.
"Sekarang, kita sama-sama memakai senjata," ujar Kimimaro.
Kimimaro langsung menyerang Sasuke yang sedang terpaku karena melihat apa yang dilakukan Kimimaro tadi.
TRAAAANG
TRAAAANG
TRAAAANG
Itulah yang terdengar didalam ruangan itu.
"Kenapa kau bersi keras untuk mengalahkanku!" geram Sasuke, jujur dia sendiri bingung, kalau Kimimaro berada di pihak Sakura, kenapa mereka harus bertarung sampai seperti ini.
"Karena…" Kimimaro menepis pedang Sasuke sampai terlepas dari tangannya, dan begitu Sasuke akan mengambilnya kembali, Kimimaro sudah berada dihadapannya lagi dan menyodorkan pedang tulangnya keleher Sasuke, lalu dia melanjutkan kalimatnya, "Seorang putri itu tidak membutuhkan 2 pangeran."
"Cih!" desis Sasuke yang langsung menggenggam pedangnya.
Namun terjadi sesuatu yang membuat Sasuke dan Kimimaro menoleh kearah samping mereka, ledakan yang begitu hebat sehingga menjebolkan tembok ruangan itu.
DUAARRR
Kimimaro dan Sasuke kompak menoleh pada arah suara ledakan itu, sekumpulan asap menyelimuti seorang sosok laki-laki yang berjalan dari dalam, dan begitu makin lama makin jelas sosok itu, mata Sasuke berubah menjadi merah, dia mengganggam pedangnya makin erat dan seperti melupakan kehadiran Kimimaro.
"ITACHIII!"
A/N : AARRGHHHH, aku bener-bener sucks bgt kalo bikin adegan pertarungan...
maaf yah jadi sebentar banget adegan berantemnya, aku bener-bener ngga ahli...T.T.T.T.T.T.T
dan... iya, Daemon itu Itachi... banyak yang bener yah tebakannya... hehehehehe...
masih ada typo? maklum yah kalo ada yang kelewat editnya... kacamataku hilang... jadi g terlalu jelas ngeliatnya, ini aja ngetik dengan seksama dan ngedeketin muka didepan layar laptop #lebay.
okee, boleh minta review lagi?
sampai bertemu chapter depan...
makasih yah yang udah review sebelumnya, tanpa kalian chapter ini g akan ada... :)
