sebelumnya maaf yah kalo saya updatenya sangat telat, soalnya beberapa hari kebelakang ini agak sedikit sibuk nyiapin acara ulang tahun sendiri... hehehehehe... ;p
tapi sekarang udah update kan? silahkan dibaca... XD
The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
"K-kau…" Sakura terbata-bata melihat sosok yang ada dihadapannya.
"Ya, ini aku," ucap Kabuto tersenyum lembut.
Sakura terdiam sejenak, berfikir realistis.
"Tunggu," ucap Sakura menyodorkan tangannya kearah Kabuto, "Aku Sakura… memang sedikit-sedikit aku memiliki ingatan tentang Goddess, tapi…"
Kabuto menatap Sakura dengan tatapan yang mengandung sedikit kekecewaan.
"Maaf," ucap Sakura pelan, "aku sendiri tidak mengerti."
Kabuto tersenyum lembut dan memegang tangan Sakura, "Pelan-pelan saja, kembalilah pada sosok Goddess yang kami kenal, karena kita bertiga berjanji untuk selalu bersama selamanya kan?"
"…" Sakura sedikit terkejut melihat ekspresi Kabuto yang terlihat seakan ingin menangis itu, "Aku sendiri tidak mengerti… kadang aku merasakan sangat merindukan laki-laki tadi, dan mimpi-mimpi tentang Goddess selalu datang ketika malam hari…"
"Itu karena, sebelum Goddess meninggal, dia menyalurkan semua tenaganya padamu, sehingga ibumu mengandung dirimu," jelas Kabuto.
"Dari mana kau tahu?"
"Nona Sakura, aku selalu mengawasimu, sejak aku dilahirkan, aku hidup sebagai Kabuto, namun perasaanku dan pikiranku berjalan sebagai Lust, begitu pula dengan Daemon yang terlahir sebagai Itachi," ucap Kabuto.
"Tapi kenapa… kenapa hanya aku yang tidak hidup sebagai Goddess? Bahkan aku tidak tahu bahwa aku adalah reinkarnasi Goddess, sedangkan kau dan Daemon… maksudku Itachi… kalian mengerti dan tahu jati diri kalian masing-masing," kini Sakura merasa bingung dengan situasi yang terjadi.
"Itu karena, sebelum aku meninggal, keinginanku untuk terlahir menjadi jiwaku lagi sangat kuat, begitu pula dengan Daemon," jawab Kabuto.
"…" Sakura terdiam, dia masih tidak mengerti, terkadang dia merasa sangat mengenal siapa Daemon itu, dan dalam sekejap pula dia bisa merasa sangat asing pada laki-laki itu.
"Ah! Sasuke… bagaimana dengan Sasuke?" ucap Sakura yang sadar, "Kenapa dia belum datang? Kenapa belum menjemputku?"
"Tahukah kau, kalau Sasuke itu adalah reinkarnasi dari adik Daemon? Dan dia juga yang telah membunuh Daemon dihadapanmu," ujar Kabuto berusaha mengingatkan Sakura apa yang terjadi dulu.
"S-Sa… suke?"
"Iya… dia adalah Belphegor!"
"Tidak…. Aku tidak mau tahu ini… aku adalah Sakura, aku tidak mau Goddess mengendalikan otakku!" rintih Sakura dalam hati sambil menjambak rambutnya sendiri.
.
.
.
"ITACHI!" Sasuke menggeram, rasa benci yang selama ini dia tahan kini keluar begitu melihat sosok yang sekarang berada dihadapannya.
Sosok laki-laki yang merupakan kakaknya… kakaknya di masa lalu, maupun dimasa sekarang.
"Kau selalu menghancurkan apa yang menjadi milikku," gumam Itachi dengan tatapan yang sangat tajam.
"Apa? Kau yang menghancurkan semuanya! Kau membunuh ibu! Ayah! Bahkan saudara-saudara yang menyandang nama Uchiha, semua kau bunuh!" Sasuke menggertak, menggenggam pedangnya dengan sangat keras, ingin sekali dia menghajar kakaknya itu.
"Lalu? Bagaimana rasanya?" tanya Itachi dengan wajah tersenyum, "Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau sayangi?"
"Kenapa… kau lakukan itu?" kini perasaan Sasuke bercampur jadi satu, antara marah dan sedih, dia tidak tahu mana yang lebih besar.
"Aku ingin kau merasakan, apa yang Goddess rasakan dulu… kau yang telah membunuhku dihadapan wanita yang sangat kucintai!" ucap Itachi.
"Apa maksudmu?" Sasuke tidak mengerti apa yang kakaknya bicarakan itu.
"….." Itachi terdiam, dia menatap adik kandungnya itu dalam-dalam, lalu dia mengeluarkan tombak panjang dan menebaskannya pada Sasuke, karena Sasuke lengah, lengannya lah yang menjadi sasaran tombak itu.
"ARrghhh!"
Terdiam.
Itachi atau Daemon itu menoleh kearah Kimimaro yang sedang mengamati pertarungan kakak beradik itu.
"Dan kau?" tanya Itachi.
"Haruskah kujawab?" ucap kimimaro dengan santai.
"….."
Keadaan kembali sunyi.
Sasuke menahan luka dilengannya, Itachi menunggu Sasuke bangkit sembari menatap Kimimaro dengan waspada.
.
.
.
Enam sosok yang sedang berlari bersamaan itu terlihat sangat tergesa-gesa, Ino salah satu dari enam sosok itu melirik kearah kiri yang merupakan tempat kekasihnya sedang berlari, dia melihat ekspresi Shikamaru sangat tidak bersahabat, wajahnya bisa dibilang sangat…ehmm… judes.
Kenapa Shikamaru berwajah seperti itu? Tentu saja karena ulah Ino sendiri, buat apa Ino membiarkan Neji memeluknya sesudah pertempuran tadi, bagaimana perasaannya kalau keadaannya terbalik? Pasti Ino sangat marah pada Shikamaru. Saat ini Ino hanya bisa menghela nafas, berharap perasaan Shikamaru akan kembali normal saat pertarungan ini telah selesai.
.
.
.
"Apa anda sudah mengingat semuanya, Nona?"
"Maaf… aku… bukannya aku memungkiri kehadiran Goddess ditubuhku, tapi…. Aku adalah aku… bukan yang lain," jawab Sakura sambil menunduk.
"…" Kabuto tersenyum pilu,sedih rasanya ketika mendengar Sakura berkata seperti itu, "Kalian bersumpah untuk selalu bersama selamanya, kenapa jadi seperti ini?"
"Hah?"
"Sepertinya anda belum mengingat semuanya, aku akan membuatmu ingat, begitu pula dengan Sasuke itu," ujar Kabuto.
Dia membentuk sebuah segel dan mengucapkan mantra begitu selesai, dia melepaskan jurusnya itu, dan tiba-tiba cahaya putih keluar dari lingkaran segel itu, dan itu membuat Sakura menutup matanya karena terlalu silau, Itachi, Sasuke dan kimimaro pun menjadi terfokus pada cahaya itu, sedangkan Ino dan yang lainnya berhenti berlari.
Kini…
Mereka semua melihat pemandangan yang sama…
Sosok gadis yang sedang berlari membawa buah-buahan yang sepertinya baru saja dia petik dari pohon, dia berlari dengan sangat gembira, sepertinya dia akan memakan buah itu bersama teman-temannya, keluarganya, atau orang terkasihinya? Siapa yang tahu? Namun, keadaan itu kacau ketika…
BRUUUKKK
"Kyaaaaaa! Aduduuuuh…sakiit~~" gadis itu terjatuh karena menubruk seseorang dan buah yang tadi dia bawa itu berantakan semuanya.
"Ah, maaf… kau tidak apa-apa?" tanya soosk yang ditabraknya tadi.
"Hah! Kamu lihat-lihat dong! Lihat tuh buahku jatuh semua!" gadis itu mengomel, dan itu membuat sosok yang dihadapannya terdiam, aneh… sosok gadis seanggun itu ternyata temperamen?
"Maaf, maaf…" ucap sosok itu sambil mengambil buahnya satu persatu yang tergeletak di tanah,"Ini, sudah semua."
"Terima kasih," dan dalam sekejap gadis itu tersenyum lembut? Benar-benar kepribadian yang unik, setidaknya itulah yang dipikirkan sosok laki-laki berambut panjang dan dikuncir itu, dia memakai jubah, seperti seorang pangeran.
"Ehm, kamu siapa yah? Kenapa aku tidak pernah melihatmu?" tanya gadis berambut soft pink itu.
"Aku Daemon," ucap laki-laki itu.
"Bangsa ibliss?" teriak gadis itu sambil menunjuk wajah Daemon dengan ekspresi kaget.
"Sssttttt!" Daemon langsung menutup mulut gadis itu dan sedikit merangkulnya, jelas saja itu membuat gadis yang tidak pernah disentuh laki-laki ini memerah wajahnya, "Aku sedang kabur, jangan sampai ada yang melihatku."
"Kabur? Kenapa?" dan satu lagi, gadis itu keingin tahuannya sangat besar.
"Kami para kaum iblis beda dengan kalian kaum para dewa dan dewi, kami ditugaskan untuk membantu manusia membunuh siapa yang membenci siapa," jelas Daemon sambil mengacak-acak rambutnya, "Tapi aku tidak suka itu."
"…" gadis itu bengong mengetahui kalau ternyata ada bangsa iblis yang tidak suka membunuh.
"Ngomomong-ngomong, siapa namamu?" tanya Daemon tersenyum ramah.
"Goddess," jawab gadis itu yang membalas senyuman sang pangeran iblis itu, "Ah, kalau mau kaubersembunyi ditempat persembunyianku saja, dijamin tidak akan ada yang tahu."
"Dimana itu?"
"Didekat danau, sangat jarang ada yang kesitu, ayo kita kesana," Goddess menarik lengan laki-laki itu dengan semangat.
"Ehm, tapi buahmu, siapa yang akan menunggu buah itu?"
"Tidak ada, buah ini akan kumakan semua sendiri," satu lagi yang membuat Daemon kaget, gadis ini rakus.
.
.
.
Pemandangan berubah ke waktu selanjutnya, dimana Daemon dan Goddess sering bertemu diam-diam dan memiliki perasaan khusus masing-masing, Daemon sangat menyayangi Goddess,tapi dia tidak berani mengungkapkannya, dia berfikir… seorang dewi seperti Goddess tidak akan pantas untuk bersanding dengan Daemon yang dari bangsa iblis.
"Hei, Daemon…" panggil Goddess saat mereka sedang berada di tepi danau dan dibawah pohon yang rindang, "Tahu tidak, kalau kita semua ini sebenarnya sama."
"Maksudmu?"
Goddess menghampiri Daemon dan menggenggam tangan laki-laki itu dengan wajah yang sangat merah, "Kita semua sama… tidak ada dari bangsa dewi maupun iblis."
Saat ini…
Daemon sangat paham apa yang dimaksud dengan Goddess, dengan melihat dan merasakan sentuhan tangan dari Goddess, Daemon sudah tahu maksud dari gadis itu, perlahan Daemon membelai pipi gadis yang merah itu, dan mendekati wajahnya pada Goddess. Tersentuhlah kedia bibir itu dengan lembut.
"Aku mencintaimu," ucap Daemon.
Tidak peduli dengan akibat yang akan mereka tanggung nanti, Goddess pun menjawab pernyataan Daemon, "Aku juga mencintaimu."
.
.
.
Dan setelah itu, kenapa Belphegor bisa membenci Daemon? Itu karena persaingan antara saudara yag ketat, dibangsa iblis, siapa yang dilahirkan duluan dan kuat, dialah yang akan menjadi penerus raja.
Yup.
Daemon adalah anak dari raja iblis, anak pertama dari raja iblis yang sangat kuat, dia mempunyai adik yang sangat pemalas, yaitu Belphegor. Hubungan mereka sangat tidak baik, apa yang dimiliki Daemon, Belphegor pasti menginginkannya, tapi untuk yang satu ini… bukan karena dia milik Daemon makanya Belphegor menginginkannya, itu karena…
"Arrghh!" Belphegor tergeletak didaerah wilayah dewi dengan luka yang sangat parah, ya… dia sangat suka berkelahi dan membunuh.
Dan sangat kebetulan Goddess sedang melewati wilayah itu, dia melihat Belphegor yang berusaha untuk bangkit, namun kembali tergeletak, langsung saja Goddess berlari kearahnya dan menolongnya.
"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Goddess pada Belphegor.
"Minggir!" dengan sangat tidak sopan Belphegor mendorong Goddess sehingga Goddess terjatuh kebelakang.
Tidak punya waktu untuk marah, Goddess malah menghampirinya sekali lagi dan menompangnya dengan nekat.
"He-heiii!"
"Diam! Jangan protes! Kau terluka parah! Menurutlah!" Goddess menceramahi Belphegor dengan tegas.
Belphegor menurut pada ucapan gadis itu dan mengikuti arah kaki mungilnya itu melangkah, kemanakah Goddess akan membawanya pergi?
Tepat sekali.
Goddess membawa Belphegor kerumahnya untuk merawat laki-laki dari bangsa iblis itu. Setelah membalut luka-lukanya dengan perban, Goddess mengamati struktur wajah Belphegor.
"Apa?"
"Tidak, hanya saja, kau mirip dengan seseorang," ucap Goddess.
"Bangsa iblis semua berwajah seperti ini rata-rata, lagi pula kau aneh, dewi kok menolong iblis!"
"Apa saling menolong itu kita harus memandang bangsa? Tidak kan? Lagi pula kita ini semuanya sama kok," jawab Goddess sambil membereskan kotak obatnya.
"Aku ini bisa sembuh sendiri, tidak usah diperban seperti ini!"
"Tapi tadi kamu terluka parah, oh iya… siapa namamu? Aku Goddess."
"Belphegor."
Goddess menganga ketika dia memperkenalkan namanya.
"Belphegor?"
"Hn."
"Belphegor… adiknya Daemon?"
"Dari mana kau tahu?" kini Belphegor beranjak dari duduknya karena mendengar ucapan Goddess.
"Eng… anu…"
"Kalau bohong kupenggal kau!"
"Ih! Kau ini… bisa tidak sih tidak memakai kekerasan," gumam Goddess.
"Kenapa kau bisa tahu Daemon? Kau tahu dimana dia?"
"Iya, dia berada ditempat persembunyianku… sudahlah kalian jangan memaksanya untuk membunuh! Bukankah bagus kalau dia tidak ada, berarti kau bisa jadi raja nanti."
"BAGUS APANYA! Gara-gara dia, tugas sebagai raja dilimpahkan padaku! Aku malas!"
"Dasar pemalas, aku tidak mau membiarkan Daemon pulang, weeee"
"Apa? Memangnya apa hubunganmu dengannya?"
"Aku pacaran dengannya," jawab Goddess dengan wajah tersipu.
Sakit.
Itu yang dirasakan Belphegor saat itu, baru saja dia merasa menemukan gadis yang sepertinya akan cocok dengannya, tapi lagi-lagi… Daemon yang memilikinya.
"Bangsa dewi dan iblis tidak bisa bersatu!"
"Kan sudah kubilang tadi… kita itu samaaaa, aku tidak merasa Daemon dari bangsa iblis dan aku dari kalangan dewi," jawab Goddess dengan wajah cemberut.
Saat itu Belphegor merasakan dendam yang sangat dalam pada Daemon, entah kenapa hanya untuk yang satu ini Belphegor tidak mau mengalah, hari demi hari pun berlalu, Belphegor selalu mengawasi gerak-gerik Goddess dan Daemon saat mereka bersama.
Disaat Goddess dan Daemon sedang tertawa bersama, dan berpeluk mesra, Belphegor hanya bisa memandangnya dari kejauhan, dia berharap sosok itu adalah dirinya yang dipeluk oleh Goddess.
Suatu saat berita tentang Goddess dan Daemon menjalin hubungan telah sampai pada petinggi khayangan, dan saat itu Goddess ditentang habis-habisan, namun Goddess hanya mengangguk dan mengiyakan perintah petinggi, tapi tidak menjalani perintahnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Demon.
.
.
.
"Nona Goddess."
"Lust! Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil Nona, panggil Goddess saja," sewot Goddess.
"Maaf, aku tidak enak dengan tuan Daemon," ujar Lust.
"Tidak apa, panggil aku Daemon saat diluar wilayah iblis," ucap Daemon yang tiba-tiba datang.
Saat Daemon kembali ke wilayahnya, Daemon menceritakan tentang pertemuannya dengan Goddess pada sahabatnya, Lust. Lust adalah salah satu pelayan setia Daemon dan juga sudah menjadi sahabat Goddess, bisa dibilang Goddess itu tidak mempunyai teman di khayangan, karena kecantikannya dan kepolosannya, dia tidak ditemani oleh para dewi-dewi yang lain.
"Lust, aku bisa melihat masa depanmu, aku akan menikah dengan bangsa iblis, oh~ orang itu sangat tampan," ujar Goddess.
"Goddess! Sudah berapa kali kubilang jangan intip masa depanku~" Lust mengguncang tubuh mungil Goddess.
"Hahahaha."
Canda dan tawa menyelimuti suasana mereka, namun tidak untuk sepasang mata onyx yang melihat mereka dari kejauhan, dengan senyum liciknya, dia meninggalkan tempat itu, dan menuju ketempat… petinggi.
.
.
.
Saat Daemon, Goddess dan Lust sedang berbincang-bincang di tepi danau, tiba-tiba ada beberapa prajurit dari khayangan yang datang membawa tali pengikat yang sudah diberi mantra itu.
"Nona Goddess, Tuan Daemon, Lust… anda bertiga ditangkap dan diperintah untuk menghadapi petinggi khayangan."
"A-Apa-apaan ini?" ucap Goddess yang sedikit berontak saat akan diikat.
"Goddess," panggil Daemon memakai telepati, "Tenang saja, aku akan melindungimu."
.
.
.
"Aku tidak akan membiarkan dia memilikimu, kalau aku tidak bisa memiliku, maka yang lain pun tidak akan bisa," itulah yang dipikirkan oleh Belphegor.
Saat ini, Belphegor yang sedang berada di istana khayangan melihat sosok Daemon, goddess dan Lust sedang diseret oleh prajurit khayangan untuk menghadap petinggi khayangan.
"Goddess! Kau mengabaikan perintahku, kau bahkan berniat untuk menikahi laki-laki dari bangsa iblis itu!"
"Tidak petinggi! Daemon tidak jahat, dia berbeda dari yang lainnya dia tidak suka membunuh siapapun!" bela Goddess.
"Walaupun! Kalian berbeda kalangan, tidak boleh dibiarkan bersatu!"
"BEda apanya? Kita semua sama! Aku, Daemon, Lust, anda… kita semua sama, tidak ada yang berbeda!"
"DIAM!"
"Aku beri kau satu kesempatan lagi, akhiri hubungan kalian dan berjanji tidak akan bertemu lagi, atau kau akan kubuang ke bumi!"
"Tidak! Aku tidak mau, aku ingin tetap bersama Daemon, aku mencintainya!" jawab Goddess dengan tegas.
"Goddess…" ucap Daemon pelan yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Disamping itu, Belphegor yang menjadi salah satu saksi dari kaum iblis juga sedang berada di khayangan merasa kesal dengan pemandangan itu, dia berfikir harusnya dialah yang dipertahankan oleh Goddess, bukan Daemon, bukan kakaknya itu. Saat itu Belphegor berfikir, kalau memang harus membunuh Daemon, bunuh saja.
"Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain, yaitu membuang kalian dan menghapus semua ingatan kalian," ucap petinggi khayangan.
"Tidak… tidak aku mohon jangan!" pinta Goddess yang menyujudkan kepalanya didepan petinggi.
"Aku mohon petinggi, ampuni mereka, mereka hanya saling mencintai," ucap Lust yang juga menjadi saksi dari bangsa iblis.
"Cih, memuakan!" gumam Belphegor yang melipat kedua lengannya di depan dadanya.
"Belphegor… dia kakakmu bukan? Tolong beri tahu petingi, bahwa kaum iblis dan dewi itu bisa bersatu!" pinta Goddess.
"Justru yang melaporkan kalian adalah belphegor, Goddes," ujar ptinggi.
"Apa? Tidak… tidak mungkin…Belphegor, aku mohon… aku sangat mencintai Daemon…petinggi… kumohon jangan buang dan hapus ingatan kami," Goddess memohon-mohon sampai air mata membasahi pipinya.
"Goddess, sudah hentikan…" pinta Daemon yang tidak tega melihat kekasihnya seperti itu.
Goddess mendekati Daemon yang sedang dikepung oleh beberapa senjata itu untuk memeluknya, namun tindakannya ini terhenti ketika dia melihat sosok Belphegor meluncur dengan cepat dan membuka sarung pedangnya lalu menebas leher Daemon.
Keadaan hening sejenak, tentu saja adegan ini membuat seluruh penghuni khayangan tercengang, baru pertama kali ada sesame bangsa iblis saling membunuh, apalagi mereka berasal dari kerajaan, hal ini membuat Goddess kehilangan control.
"Kalau aku tidak bisa memilikimu, maka tidak ada orang lain yang bisa memilikimu," ucap Belphegor dengan suara yang datar dan terkesan dingin.
"PRAJURIT BUNUH BELPHEGOR!" perintah petinggi khayangan.
"Kalau aku terlahir kembali, aku tidak mau mempunyai ingatan seperti ini, tapi aku berharap bisa bertemu denganmu lagi, Goddess… aku sangat mencintaimu," itulah kata-kata terakhir Belphegor sebelum dia mati.
"Tidak…"
Sementara itu Lust langsung lari menghampiri Goddess yang sedang membatu itu.
"TIDAAAAKK!"
Kekuatan Goddess sukses membuat khayangan hancur setengahnya, dan juga membunuh Lust yang sedang berjalan kearahnya, namuan karena ptinggi kekuatannya sangat besar, ketika dia melihat Goddess terdiam dengan tatapan kosong, petinggi menurunkan Goddess ke bumi.
.
.
.
"Hah? Suamiku, lihat… ada orang tergeletak didepan rumah kita," ucap seorang wanita bersama suaminya yang sedang berjalan menuju rumahnya. Saat itu hujan sangat lebat.
Dengan sangat baik hati, mereka menolong sosok gadis yang kehilangan kesadarannya itu dan merawat gadis itu seolah gadis itu terluka, begitu sang wanita sedang menyiapkan makan malam, gadis yang merupakan Goddess itu keluar dari kamarnya dengan wajah yang bingung.
"Ah, sudah bangun… ayo makan malam dulu," ujar sang istri.
"Ada apa? Kenapa kau pingsan didepan rumah kami?" tanya sang suami.
"…" goddess tidak menjawab, dia melihat-lihat seluruh isi rumah itu, sangat canggung rasanya berada didalam bangunan yang aneh ini, terlihat ada beberapa foto yang terpajang di dinding, sepertinya foto itu adalah foto pernikahan kedua orang yang menolongna itu.
Goddess menghampiri sebuah bingkai yang bergambar seorang wanita memakai gaun pengantin yang indah dan seorang pria memakai tuxedo yang sangat gagah, Goddess mengeluarkan air matanya sambil meemluk foto itu. Sang istri lagsung menghampirinya dan memegang pundaknya.
"Kau kenapa? Bsia ceritakan padaku? Mungkin itu akan membutmu sedikit lega."
"Aku…~~ seharusnya aku akan menikah dengannya~"
"…"
"Tapi dia sudah mati… aku tidak tahu harus bagaimana lagi…"
Keadaan menjadi sunyi, suami-istri itu saling tatap, dengan memahami maksud dari sang suami, maka sang istri berkata.
"Tinggallah disini, bersama kami…"
.
.
.
Sudah setahun lebih Goddess tinggal dirumah keluarga yang bermarga Haruno itu, dan selama itu pula kondisi Goddess menjadi lebih baik, pasangan suami-istri itu sangat menyayangi Goddess seolah itu adalah anak mereka sendiri, dan Goddess sendiri juga sudah memberi tahukan identitasnya pada mereka, awalnya mereka tidak percaya, namuan ketika Goddess meraba masa lalu mereka masing-masing, barulah mereka percaya. Suatu hari, Goddess melontarkan pertanyaan yang dia ingin tanya sejak dulu, yaitu…
"Kenapa kalian tidak mempunyai anak?"
Pasangan suami-istri itu terdiam dengan wajah yang sedih, dengan berat hati, sang istri menjawab, "Aku… mandul…"
Hati Goddess tersentak, dia sangat menyesal telah menanyakan hal yang sangat sensitive itu.
Akhirnya, Goddess memutuskan untuk membalas budi pada keluarga kecil itu, dia tahu, dirinya tidak kuat kalau hidup tanpa Daemon disisinya, maka dari itu dia memutuskan.
"Memberi kami anak? Bagaimana caranya?" tanya sang istri yang sangat kaget.
"Aku akan menyalurkan tenagaku padamu, dengan begitu… aku akan bereinkarnasi menjadi anak kalian."
"Apa itu bisa? Lalu apa akibatnya?" tanya sang suami.
"Aku akan menghilang."
"Apa!"
"Tenang saja, aku sudah mempersiapkan diri kok, aku sangat tersiksa hidup tanpa Daemon disisiku," ujar Goddess tersenyum pilu.
Saat itu Goddess menyentuh perut sang istri dan memejamkan matanya, begitu dia membuka matanya, terlinang air mata, namun wajah Goddess tersenyum lembut, seolah mengatakan terima kasih pada mereka, sedikit demi sedikit sosok Goddess memudar, berubah menjadi serpihan cahaya yang indah.
.
.
.
Dirasakan air mata yang mengalir dari mata Sakura, dia memandang Kabuto, sosok laki-laki yang dulunya adalah sahabat sejatinya yang selalu mendukungnya itu, lalu Sakura memeluk Kabuto dengan erat.
"Maaf… maaf aku melupakanmu," ucap Sakura.
Cahaya yang menyelimuti mereka kini telah menghilang, tidak hanya Skaura, tetapi yang lain pun dapat melihat kejadian yang tadi dilihat oleh Sakura.
"Kabuto," panggil Sakura, "Aku tidak bisa membiarkan Sasuke dan kakaknya mengulang kesalahan yang sama."
"Maksudmu?"
"Antar aku ketempat mereka."
Kembali pada Sasuke dan Itachi, ketika Sasuke melihat adegan masa lalu itu, dia berfikir, mana mungkin dirinya itu adalah reinkarnasi dari Belphegor, tapi kalau dipikir-pikir, memang ada beberapa kesamaan sifat Belphegor dengan Sasuke.
"Bagaimana, Belphe.. ah bukan, Sasuke… sudah ingat semuanya?" sindir Itachi, "Keinginan yang kuat lah yang membuatku tetap bisa mengingat kejadian dulu walaupun terlahir sebagai Itachi, dan aku bersumpah, akan membalas perbuatanmu."
"I-Itu… tidak ada hubungannya denganku! Aku adalah Sasuke! Bukan Belphegor!" bentak Sasuke yang langsung menyerang Itachi.
Itachi yang tidak mau kalah juga menyerang Sasuke tanpa ragu, sedangkan Kimimaro hanya melihat pertarungan itu, dia menunggu, siapapun yang menang nanti, dialah lawan Kimimaro selanjutnya.
Pertarungan Itachi dan Sasuke terus berlangsung sangat sengit, sampai Shikamaru, Ino, Neji, Naruto, Kiba dan Shizune tiba.
"S-Sasuke?" ujar Naruto yang terkejut melihat Sasuke bertarung sangat hebat.
"M-Mana Sakura?" tanya Ino.
"Ruangan ini hancur sekali," ujar Neji.
Sasuke dan Itachi bertarung hingga titik darah penghabisan, jelas saja Sasuke kalah, karena pengalaman bertarungnya sangat sedikit, disbanding Itachi yang dengan ingatan Daemon, Itachi lebih memegang pertarungan kali ini. Karena merasa kesal, Sasuke mengalirkan aliran petir dan apinya menjadi satu kedalam pedangnya, begitu pula Itachi yang menguatkan energi di tombaknya itu.
Perlahan Sasuke berlari menuju Itachi, begitu pula Itachi… begitu mereka sudah dekat, Itachi dengan gampangnya menepis pedang Sasuke dan menendang Sasuke jauh kebelakang, hal itu membuat Ino dan Shizune menutup matanya.
Kini Itachi tidak memberikan tatapan ampun pada Sasuke, dia menyerang Sasuke tanpa ragu dengan menyodorkan tombaknya pada adik kandungnya itu.
JLEEEB.
Darah keluar dan membasahi tombak Itachi, seluruh pandangan yang menonton terbelalak melihat sosok yang ditusuk oleh tombak itu. Sasuke melihat sosok gadis berambut soft pink yang membelakangi tubuhnya dengan tombak yang menembus dada kirinya, darah segar yang membasahi wajah Sasuke pun membuat Sasuke membatu ditempat.
BRUUUK
Sakura jatuh dengan tombak yang masih menancap.
"G-Goddess?" panggil Itachi yang gemetar melihat Sakura tertusuk oleh ulahnya sendiri.
Saat tangan Itachi akan menghampiri Sakura, Sakura menggenggamnya,, Sakura menoleh kearah Sasuke dan tersenyum lembut, seolah dia mengatakan lega karena Sasuke tidak apa-apa, lalu pandangannya kembali pada Itachi, tidak kalah lembutnya tatapan Sakura saat menatap Itachi.
"Aku…" ucap Sakura sambil membelai pipi Itachi, "Bukan Goddess…"
Itachi terdiam kaget mendengar apa yang Sakura katakan.
"Aku yang sekarang adalah… Sa-kura… uhuk…" Sakura memuntahkan darah dari mulutnya.
"Sakura!" Sasuke memeluk tubuh Sakura yang sudah sedikit mendingin itu.
"Yang… kau cintai… adalah Goddess… bukan aku~" rintih Sakura pelan.
A/N : sedikit mengambang yah... T.T
chapter depan aku usahakan update ASAP kok... :)
thank you yah para readers yang udah review di chapter2 sebeleumnya... maaf kalo aku g jawab pertanyaan2 kalian, aku ngejawabnya langsung lewat cerita aja yah... hehehehee...
