The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
Duduk bersandar dengan menikmati angin segar diatap sekolah bersama teman-teman, mungkin sangat seru, tapi tidak bagi pemuda bernama Sasuke Uchiha yang sedang bingung dengan kedatangan seseorang yang membuat hatinya bingung, antara senang karena ternyata salah satu anggota keluarganya masih ada yang hidup, dan heran kenapa baru muncul sekarang?
Oke, pemikiran tentang Sasuke kita hentikan saat ini, sekarang kita focus pada ulah Naruto yang membuat seorang Sakura tertawa terbahak-bahak.
"Ahahahahaha, apa kau serius Naruto?" ucap Sakura ditengah-tengah tawanya.
"Iyaa, apalagi saat aku mendengar saat Ino bilang "Ngh… Shikamaru… tolong jangan disitu~" Naruto memperagakan suara Ino sambil memeluk dirinya sendiri.
BLETAK.
"Sekali lagi kau peragakan, maka nyawamu melayang!" Ino melempar Naruto memakai tempat bekalnya, dan terlihat wajah Ino yang sangat memerah padam, "Shikamaru! Jangan diam sajaa! Ini kita loh yang sedang diejek Naruto! Dia memperagakan suaraku saat bercinta denganmu!"
"Naruto!" tegur Shikamaru yang berdiri menghampiri Naruto dengan wajah serius, begitu dia mendekati Naruto, Shikamaru mengeluarkan selembar uang dan,"Bolehlah kalau Ino sedang tidak ada, aku mendengarkan suaramu yang meniru Ino seperti itu."
"Nyehehee, tidak masalah, untuk teman berapa saja boleh," jawab Naruto sambil meraih uang kertas yang Shikamaru tawarkan.
DUAAAK.
Akhirnya pukulan yang sangat keras berhasil mendarat dikepala Shikamaru dan Naruto.
"Aish! Ino aku kan hanya bercanda," rintih Shikamaru sambil memegang kepalanya.
"Candaanmu itu tidak lucu!" geram Ino.
Disaat semua sedang tertawa, Sasuke merenung sendiri sambil memandangi wajah Sakura yang tertawa lepas, entah kenapa hanya memandang wajah gadis itu saja perasaan Sasuke sudah merasa nyaman, tapi kenyamanan itu tidak berlangsung lama saat ada sosok pria yang datang menghampiri Sakura. Sasuke langsung bengkit ketika dia melihat Sakura sedang berusaha berdiri dan menghampiri pemuda berambut merah itu.
"Mau kemana?" tanya Sasuke pada Sakura sambil melipatkan kedua tangannya didepan dadanya.
"Ah, Sasuke… Akasuna memintaku untuk menemaninya keliling sebentar," jawab Sakura.
"Memangnya tidak bisa dengan yang lain?" kata Sasuke dengan nada sinis.
Sakura hanya terdiam, begitu pula yang lain, bahkan Naruto sampai terdiam merasakan suasana yang tiba-tiba menjadi dingin.
Kenapa?
Hei, ini Sasuke Uchiha loh yang kita bicarakan, hati-hati kalau seorang Uchiha sudah cemburu… cemburu? Hanya Sasuke lah yang tahu tentang hal itu.
"Kebetulan aku sedang mampir kesini dan yang kulihat pertama kali ada Sakura-"
"Sejak kapan dia mengizinkanmu memanggil nama kecilnya?" potong Sasuke.
"Sejak tadi saat aku memanggilnya Haruno, katanya aku diperbolehkan untuk memanggilnya Sakura," jawab Sasori sambil tersenyum dan memegang tangan Sakura.
"Aku belum mengizinkan kalian pergi!" Sasuke menepas tangan Sasori dengan kasar.
"Sasuke!" Sakura dengan reflek menegur Sasuke yang sedikit aneh saat ini.
"Jadi kau mau pergi dengannya?" tanya Sasuke dengan nada sedikit membentak.
Dan satu hal yang Sasuke kurang paham dari Sakura, dia tidak suka dibentak, apalagi didepan orang-orang seperti ini.
"Aku hanya ingin menolongnya," jawab Sakura yang tidak mau kalah tinggi nadanya dengan Sasuke.
"Memangnya… kau pacar Sakura? Sampai-sampai harus meminta izinmu dulu?" tanya Sasori.
"…" Sasuke terdiam.
Memang Sasuke belum menyatakan perasaannya pada Sakura, dia juga bukan apa-apanya Sakura, dia tidak ada hak untuk membatasi gerak-gerik gadis itu.
"Ehm… anu…" tiba-tiba suara kecil datang dari arah belakang Sasori, dan orang itu adalah…
"apa… kamu adalah Sasuke? Uchiha Sasuke?"
Shion.
Shion datang untuk menyempurnakan keadaan yang sedikit keruh telah menjadi makin keruh.
"Ehm…" Shion mendekati Sasuke tanpa ragu, berani sekali dia? Bahkan siswi-siswi yang lain harus mempunyai 7 nyawa dulu untuk mendekati Sasuke terang-terangan seperti itu, dan yang lebih bikin semua terkejut lagi, Shion tiba-tiba memegang lengan Sasuke, "Bisa bicara sebentar?" dia berbicara dengan malu-malu, oke Shion… kamu sukses membuat Sakura merasa jengkel.
"Ayo Sasori, kita keliling sekolah," Sakura menarik Sasori dengan kasar, dan yang membuat Sasuke kaget… sejak kapan Sakura memanggil Sasori dengan nama kecilnya?
"Sakura!" Sasuke memanggil Sakura namun tidak dihiraukan oleh Sakura yang entah mengapa merasa kesal melihat gadis lain yang berani menyentuh Sasuke seenaknya.
Ditambah lagi, Sasuke terlihat tidak keberatan disentuh seperti itu, apa karena Shion cantik? Atau karena mereka memiliki marga yang sama?
"Sakura?" Sasori membuyarkan lamunan Sakura saat menyeret lengannya.
"Ah, maaf…" ucap Sakura yang melepaskan lengan Sasori, "Maafkan aku."
"Tidak apa, mukamu kenapa seperti itu?"
"Seperti apa?"
"Seperti kertas dilipat menjadi 10," jawab Sasori sambil menyentuh kening Sakura.
Sakura hanya diam dan menyentuh kening yang tadi ditunjuk oleh Sasori, apa benar wajahnya seperti itu?
"Kalian pacaran?" sambung Sasori.
"Heh? Siapa?"
"Kamu, dan Sasuke…"
"Tidak… bukan, kami tidak pacaran," Sakura menjawab sambil membuang mukanya tidak menatap Sasori, saat ini wajahnya sedang tidak karuan, dia merasa kedua keningnya berkerut hampir saling menyentuh.
.
.
.
"Hei hei hei… kalian lihat tadi kan?" tanya Ino pada yang lain.
"Iya, aku lihat," jawab Tenten sedikit bersemangat.
"Sasuke mendapat saingan," ujar Naruto yang nimbrung.
"Ayo kita cari tahu, apa yang dibicarakan oleh Sasuke dan gadis bermarga Uchiha itu," kata Tenten.
"Kenapa kalian ini suka sekali mencampuri urusan orang sih?" tanya Neji salah satu orang yang tidak mau ikut campur.
"Ini sudah sifat alami wanita, Neji," jawab Tenten.
"Apakah anak itu juga wanita?" tanya Shikamaru sambil melempar sedotan kearah Naruto.
"Aku kan juga penasaran…" ucap Naruto.
"Hhhhh, ada-ada saja," Kiba berdiri dan mendekati mereka.
"Setidaknya kau bisa menghentikan mereka, Kiba," ujar Neji yang lega melihat Kiba berjalan menuju Ino, Tenten, dan Naruto yang sedang menguping, tapi…
GUBRAAAAK.
"KEnapa kau ikut-ikutaaan?" gerutu Neji ketika melihat Kiba juga ikut mengintip.
"Hehehe, pendengaranku lebih tajam daripada mereka, mungkin saja aku bisa membantu," Kiba menjulurkan lidahnya dan menggaruk kepalanya.
.
.
"Apa?" tanya Sasuke pada Shion.
"Anu… aku hanya ingin bicara dengan salah satu orang Uchiha yang tersisa, apa kamu tidak senang bertemu denganku?" tanya Shion dengan wajah polosnya.
"Yah, dibilang senang sih… aku tidak tahu, yang jelas aku kaget," jawab Sasuke sambil memasukkan kedua tangannya didalam kantong celananya.
"Begitu… hhmm, Sasuke… bolehkan aku memanggilmu begitu," pinta Shion.
"…"
"Kita kan satu marga, kau masih saudaraku, aku juga masih saudaramu, walaupun kita tidak ada hubungan darah, jadi tidak perlu canggung," ucap Shion.
"Hn, terserah."
"Baiklah, terima kasih yah Sasuke, aku senang sekali."
"…." Sasuke hanya bisa diam, saat ini dia tidak konsentrasi pada ucapan Shion, pikirannya saat ini sedang dipenuhi oleh Sakura yang sedang bersama Sasori, apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka bicarakan?
Sampai akhirnya bel pun berbunyi, mereka kembali ke kelasnya masing-masing, saat dikelas pun Sakura tidak mengucapkan apa-apa pada Sasuke, padahal dia sangat penasaran, apa yang dikatakan Shion tadi pada Sasuke, tapi keduanya tidak ada yang mau bertanya lebih dulu, masing-masing mempertahankan harga dirinya.
Seusai pelajaran sekolah, Sakura sedang membereskan buku-bukunya, saat dia melirik kearah Sasuke, pandangannya terhalang oleh tubuh wanita berambut panjang itu.
Shion.
"Sasuke, boleh pulang bareng?" tanya Shion.
Sasuke?
Sejak kapan Sasuke mengizinkan gadis yang baru dia kenal memanggil nama kecilnya? Kini Sakura makin kesal, karena tidak ada tindakan penolakan dari Sasuke, belum mendengar jawaban dari Sasuke, Sakura langsung pergi meninggalkan kelasnya.
"Boleh kan, Sasuke?" tanya Shion sekali lagi.
"Ah… terserah."
Bukannya Sasuke tidak mau menolak, hanya saja dia tidak bisa menolak, bagaimana kalau ternyata Shion itu adalah kerabat dekatnya? Sasuke bingung apa yang harus dilakukan, dia senang karena masih ada Uchiha lain yang tersisa, namun kesenangannya ini seperti akan menimbulkan bencana untuk hubungannya dengan Sakura.
…..
…..
Hubungannya dengan Sakura?
Ya, walaupun mereka tidak pacaran dan tidak ada yang melontarkan kata suka satu sama lain, namun mereka tidak sebodoh itu sampai-sampai tidak sadar dengan perasaan masing-masing, Sasuke sendiri merasa posisi Sakura lah yang sangat bahaya, Sakura dengan Sasori tidak mempunyai hubungan apa-apa, dan Sasuke yakin, Sasori mengincar Sakura.
Dan benar saja, hujan diluar sangat lebat menyempurnakan keadaan yang sudah keruh, Sasuke berada didepan sekola meneduh bersama Shion, dan Sakura berdiri sendiri, kemana yang lain saat dibutuhkan? Itulah pikiran Sakura.
"Loh, Haruno… pulang sendiri?" sapa Shion.
"Iya," jawab Sakura sambil tersenyum.
Wanita adalah makhluk yang paling mengerikan, dia bahkan bisa tersenyum pada orang yang menurut mereka menyebalkan.
"Kebetulan aku bawa payung," ucap Shion sambil meraba tasnya, "Tapi Cuma satu, aku duluan yah bersama Sasuke."
"Engh, tunggu!" cegah Sasuke, "Lebih baik kau pulang duluan saja, payungnya kecil, tidak muat berdua."
"Oh, baiklah… sampai besok yah."
Shion berlalu menerobos hujan yang deras itu, sedangkan Sasuke menghampiri Sakura yang tidak mau menatapnya.
"Kenapa mencampakkan aku?" tanya Sasuke.
"Tidak terbalik?" ujar Sakura masih dengan tatapan lurus kedepan dan ekspresinya yang datar.
"Apa yang kau lakukan dengan Saso-"
"Bukan urusanmu," potong Sakura.
"Apa-apaan kau ini!
"Kau yang apa-apaan! Segitu senangnya kah dirimu saat mengetahui bahwa ada gadis cantik Uchiha yang tersisa?"
"Aku tidak mengatakan apa-apa, Sakura… dan aku juga masih bingung dengan kehadirannya.."
"Buat apa dibikin bingung? Seharusnya kau senang, ada gadis secantik itu yang hadir dihadapanmu dengan marga yang sama, jadi tidak ada kesulitan untuk menikah nanti, kalian kan bukan saudara kandung, jadi tidak melanggar hukum kalau kalian bersama," Sakura terus menerus mengoceh dengan tatapan yang kini menatap Sasuke dingin, "oh! Kenapa kalian tidak sekalian saja membangun kembali Uchiha yang sudah tidak ada, bersama? Aku yaki-"
PLAAK.
Satu tamparan yang mendarat di pipi kanan Sakura berhasil membuat bibir gadis itu terdiam. Tapi Sasuke langsung merasa bersalah telah menampar gadis yang dia cintai itu, sekarang air matalah yang keluar dari mata emerald Sakura.
"Sakura…"
"Jangan sentuh aku…" cegah Sakura saat Sasuke akan menyentuh pipinya.
Sakura langsung berlari meninggalkan Sasuke dan menerobos hujan yang deras itu.
.
.
.
"Kok hujan tiba-tiba yah?" Konohamaru bersantai diruang TVnya sambil memakan es krim.
Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok kakaknya berlari langsung menuju kamarnya dilantai 2.
"Kakak?"
.
.
"Itachi, ini teh hangatnya."
"Terima kasih Kabuto, ngomong-ngomong, Sasuke bagaimana yah? Hujan deras sekali."
Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah sosok Sasuke yang basah kuyup.
"Sasuke? Ada apa?" tanya Itachi.
"Kak, aku mau tanya sesuatu, tolong jawab dengan jujur," ucap Sasuke.
"Ada apa ini? Sepertinya serius sekali."
Akhirnya Sasuke menceritakan tentang gadis bernama Shion itu dari awal hingga terjadinya pertengkaran antara Sasuke dan Sakura.
"hhmm, begini… seingatku dulu aku memang membunuh semua yang menyandang marga Uchiha, tapi aku kan tidak tahu, bisa saja kan saat aku membunuh mereka ada salah satu anaknya yang sedang pergi atau sekolah," ujar Itachi.
"Keadaan ini membuatku bingung kak, jujur aku malas kalau ada gadis asing berada didekatku, tapi aku tidak bisa menolaknya, aku takut dia ternyata benar-benar saudara kita."
"Jadi, tindakanmu yang plin-plan ini yang membuat Sakura ngamuk?" tanya Kabuto yang ikut nimbrung.
"Aku tidak salah! Dia juga bersama Sasori seharian!" Sasuke mengelak.
"Jangan mencari kesalahan orang lain untuk menutupi kesalahanmu," kata Itachi.
"…"
"Ya, aku salah telah menamparnya, habis aku kesal… dia terus menerus melontarkan kalimat yang membuatku kesal, dan-"
PLAAK.
Sasuke terdiam saat Itachi menampar Sasuke dengan sangat tiba-tiba.
"Itu balasannya, kau pikir aku akan diam saja kau menampar Sakura? Ingat… dia bukan milikmu," ujar Itachi yang langsung memasuki kamarnya.
Itachi merebahkan tubuhnya dan berfikir, siapa itu Sasori? Apa ada hubungannya dengan Orochimaru dulu? Atau dia hanya manusia biasa? Dan lagi… apa benar Sasori menyukai Sakura? Kalau ternyata benar, Itachi juga harus memastikan perasaannya pada Sakura, apakah dia mencintai Sakura sebagai Sakura sendiri, atau masih sebagai Goddess.
.
.
.
"Nona Tsunade, anda kedatangan tamu," ucap Shizune yang membuka pintu Tsunade.
"Silahkan masuk."
"Permisi.." ucap seorang gadis.
"Ah, ya ada apa?"
"Aku ingin memperkenalkan diri sebelumnya, namaku Shion… Uchiha Shion."
Tsunade tercengang sebentar, melihat penampilannya yang memakai seragam yang sama seperti Sasuke dan yang lainnya, lalu merasakan pancaran tenaga yang tiba-tiba keluar sangat besar itu…
"Kamu…."
"Ya, aku juga mempunyai kekuatan khusus," sambung Shion.
"Tunggu dulu, Uchiha? Bukankah Uchiha…"
"Ya, yang tersisa hanyalah aku dan Sasuke," jawab Shion yang terdiam sebentar dan menyambungkannya, "Dan Itachi yang sudah berubah menjadi baik."
"…."
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Tsunade.
"Sebentar lagi kau akan menikah dengan laki-laki berambut putih yang sebentar lagi akan datang kesini," tiba-tiba Shion berucap seperti mengetahui apa yang akan terjadi.
Dan tiba-tiba…
"TSUNADEEEEEE," seorang laki-laki memanggil nama Tsunade sambil berlari dan membawa bunga serta cincin, "Maukah kau menikah denganku?"
Tsunade hanya terdiam, waktunya sangat tidak tepat, Jiraiya yang melamarnya, dan kehadiran sosok gadis mempunyai kemampuan khusus yang sama persis seperti Sakura.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Tsunade yang mengabaikan lamaran Jiraiya.
"Aku Uchiha Shion, apakah kau tahu… bahwa Sakura Haruno telah kehilangan kekuatannya?"
"Apa?"
"Itu terjadi saat penyaluran energi antara Orochimaru dan Itachi."
"Kenapa kau bisa tahu sejauh itu?" Tsunade mengeraskan nadanya.
"karena… akulah yang akan menjadi pengganti Sakura mulai sekarang," ucap Shion.
"Apa maksudmu?" tanya Jiraiya yang kini ikut serius mendengarkannya.
"Saat ini ada satu organisasi yang sedang merencanakan sesuatu yang sangat jahat, aku masih belum bisa melihat organisasi apa itu, yang jelas, salah satu anggota organisasi itu sudah menyamar menjadi salah satu murid disekolah," jelas Shion.
"Lalu… apa rencanamu?" tanya Tsunade.
"Mereka menginginkanku sebagai peramal mereka, agar rencana mereka sukses, dan aku… butuh bantuan kalian untuk melindungiku," ucap Shion, "Dan satu lagi."
Tsunade terdiam masih memandangi sorot mata dari gadis itu, menerawang apakah yang diucapkan Shion itu bohong atau benar?
"Sakura, mempunyai kekuatan yang sangat bahaya, kemampuannya melihat masa lalu dan masa depan memang hilang, tapi ada satu kekuatan yang masih tertidur didalam dirinya," jelas Shion sambil berjalan mendekati Tsunade, "Kalau kekuatan itu bangkit, khayangan yang terlapisi pelindung yang kuat saja bisa hancur setengahnya… apalagi dunia ini yang tidak ada apa-apanya?"
"Jadi… maksudmu?"
.
.
.
"Tidak bisa…" gerutu Sakura sambil mengacak-acak rambutnya, "Seberapa besar aku mencobanya, aku tetap tidak bisa lagi melihat apa yang terjadi, apa kekuatanku hilang?"
Aneh, seharusnya Sakura senang kalau memang benar kekuatannya hilang, namun ada perasaan dimana dirinya kecewa, karena berkat kekuatan itulah Sakura bisa berkumpul bersama Guardian, dan menjadi salah satu dari mereka, bagaimana kalau yang lain tahu kalau kekuatan Sakura telah hilang? apakah mereka akan menjauhi Sakura?
"Tidak bisa…"
"kakak?" panggil Konohamaru dari luar pintu kamarnya.
"I-iya… ada apa?"
"Kak Sasuke datang," ujar Konohamaru.
"…."
"Nanti aku akan turun," jawab Sakura.
Beberapa menit kemudian, Sakura akhirnya turun… dengan wajah yang sedikit murung, dia menemui Sasuke yang kini berdiri didepan tangga dimana tempat Sakura turun dari kamarnya, begitu melihat Sakura… Sasuke langsung berlari memeluk gadis itu dengan erat.
"Maafkan aku…" bisik Sasuke.
"Ngh… Sasuke?"
"Maafkan aku… maaf aku menamparmu, maaf, maaf…." Sasuke mengeratkan pelukannya pada Sakura, "Jangan marah padaku, jangan benci aku."
"Iya, aku tidak maah dan benci padamu, sekarang lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa bergerak," jawab Sakura.
Sasuke mengendurkan pelukannya, dan itu adalah kesempatan Sakura melepaskan pelukan Sasuke padanya, bukannya tidak senang dipeluk, namun Sakura masih ada sedikit perasaan jengkel saja pada Sasuke.
"Ayo duduk," ajak Sakura menarik tangan Sasuke ke ruang tamu.
"Masalah gadis Uchiha itu…"
"Sasuke, ada hal lain yang ingin kubicarakan," potong Sakura.
"Ada apa?"
"Aku… sepertinya… kekuatanku hilang," ucap Sakura dengan ekspresi bingung.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Sasuke yang kini mendekati Sakura dan berlutut dihadapan gadis itu.
"Aku tidak tahu, tiba-tiba saja… aku tidak bisa melihat apa yang terjadi nanti…"
"Tunggu… jangan bilang kau ingin tahu apa yang terjadi padaku dan gadis Uchiha itu?" tebak Sasuke.
Tepat sekali.
Tebakan Sasuke memang benar, tadi Sakura mencoba untuk melihat apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka sejak kehadiran gadis bermarga Uchiha itu.
"Sakura… tidakkah kau juga curiga dengan Sasori?" tanya Sasuke.
"Tidak, dia baik."
"Kenapa dia bisa baik? Dan kenapa hanya padamu dia selalu meminta tolong?" Sasuke melontarkan pertanyaan itu untuk membuat pikiran Sakura terbuka.
"Dia pasti menyukaimu…"
"Lalu? Memangnya kenapa? Toh aku juga tidak punya pacar, mungkin Sasori orang yang ditakdirkan untukku," ucap Sakura dengan sengaja.
"Apa kau sengaja membuatku marah, Sakura?" ucap Sasuke dengan nada serius.
"Marah? Apa hakmu untuk marah padaku? Itu semua hakku ingin berpacaran dengan siapapun!" sewot Sakura yang gereget karena Sasuke belum juga menyatakan perasaannya.
"Ya! Memang itu hakmu, dan berarti hakku juga boleh dekat dengan siapapun!" balas Sasuke.
Kini dua orang yang baru saja baikan itu tengah berkelahi kembali mempeributkan hal yang seharusnya tidak layak untuk diributkan.
"Oh, jadi kau kesini meminta maaf padaku hanya alas an? Jadi itu inti tujuanmu kesini? Mendeklarasikan kedekatanmu dengan gadis Uchiha itu?" ucap Sakura sinis.
"Demi Tuhan Sakura singkirkanlah pikiran burukmu itu!"
"Cukup! Pergi! Keluar… aku tidak mau mendengar apa-apa dari mulutmu," Sakura mengusir Sasuke blak-blakan, dan dia langsung berlari menuju kamarnya.
Drap drap drap.
BRAAAK.
Suara pintu dibanting pun terdengar, saat Konohamaru membawakan teh.
"Loh? Mana kak Sasuke?"
.
.
.
Keesokan harinya, hujan masih turun seperti kemarin, sebenarnya malam hari sudah berhenti namun dini hari hujan kembali membasahi bumi dengan rata, dan membuat kakak beradik ini sangat malas beranjak dari rumah dan lebih memilih diam dirumah sambil menghangatkan diri.
Inginnya sih seperti itu, namun bisa gawat kalau Sakura tidak masuk hari ini, karena hari ini adalah pelajaran guru yang paling killer, akhirnya Sakura memutuskan untuk tetap pergi ke sekolah, sedangkan Konohamaru diam dirumah.
"Hhhhh, kenapa harus hujan sih," keluh Sakura pelan.
"Kalau mengeluh seperti itu akan kena sial loh," ucap suara laki-laki dari samping rumahnya, begitu sosok laki-laki itu muncul.
"Itachi? Sedang apa disini? Dan seragammu?" ucap Sakura terkejut.
"Menjemputmu, mulai sekarang aku sekolah di tempatmu, dan aku adalah kakak kelasmu" Itachi menghampiri Sakura sambil sedikit membungkuk dan mendekatkan paying pada diri Sakura, "Silahkan, Tuan Putri."
Sakura tersenyum tulus pada Itachi, "Terima kasih."
Mereka berjalan bersama kesekolah, karena payungnya sedikit kecil maka Itachi terpaksa sedikit merangkul bahu Sakura agar air yang menetes dari payungnya itu tidak mengenai seragamnya, Sakura menyadari bahwa bahu kanan Itachi sendiri sudah basah.
"Ehm, Itachi… lebih baik aku lari saja… dari sini kan sudah dekat," usul Sakura.
"terkadang kau suka melontarkan usul yang sangat aneh yah," jawab Itachi.
Begitu sampai didalam gedung sekolah, sekali lagi seluruh sorot mata ini menuju kearah Sakura.
"Eh lihat! Siapa itu laki-laki yang bersma Haruno?"
"Kenapa sih dia selalu dikelilingi laki-laki keren!"
"Menyebalkan!"
"Seharusnya jelmaan monster seperti dia lenyap saja dari sini!"
"…" Itachi sedikit terkejut ternyata kehadiran Sakura ditanggapi seperti itu saat disekolah, "Apa mereka sering menyakitimu?"
"Tidak, sama sekali tidak, nah kamu pergi keruang kepala sekolah yah," usul Sakura.
"Temani aku, aku masih sedikit canggung," pinta Itachi.
"Sakura," sapa suara cowok dari belakang mereka, dan orang itu adalah…
"Sasori, selamat pagi," sapa Sakura.
"Selamat pagi," balas Sasori, sekejap tanpa Sakura sadari kedua laki-laki yang sedang berada didekatnya ini saling lempar pandangan sinis satu sama lain.
"Ayo Sakura, aku tidak mau membuat kepala sekolah menunggu," ajak Itachi merangkul bahu Sakura.
"Ah, i-iya-"
"Tapi kau janji akan menemaniku melihat-lihat club kan? Sakura," potong Sasori menahan lengan Sakura.
"ah iya! Aku lupa, duh bagaimana ini, Itachi aku antar kamu sampai depan ruangan kepala sekolah saja yah?" kata Sakura, namun perkataannya itu tidak digubris oleh Itachi maupun Sasori, kedua laki-laki itu sedang tukar padang dengan aura yang dingin satu sama lain, sampai pandangan itu buyar ketika ada yang memanggil namanya.
"Itachi?"
Saat Itachi menoleh, dia adalah Naruto, tentu saja Naruto tidak sendiri dia bersama yang lainnya, ada Sasuke juga, dan yang lebih bikin Sakura kaget lagi… ada Shion ditengah-tengah mereka, seolah kehadiran Shion itu menggantikannya. Saat akan memasuki kelas, Sasuke melewati Sakura tanpa menegurnya sama sekali, bahkan meliriknya pun tidak, dan ditambah lagi Shion sedikit tersenyum sinis pada Sakura.
Sasori memperhatikan keadaan sekelilingnya yang sedikt canggung itu, lalu dia memutuskan, "Sakura, aku bisa lihat-lihat club dengan yang lain, kau temani saja anak baru ini."
"Eh? Tidak apa?" tanya Sakura yang merasa tidak enak pada Sasori.
"Ya, tidak apa-apa, sampai bertemu dikelas yah."
Saat Sasori pergi, Itachi mengawasinya dari belakang.
"Kau tahu, Itachi…" panggil Sakura sambil menatapi hujan diluar, "Aku sudah tidak mempunyai kemampuan khusus lagi."
Perkataan Sakura embuat Itachi terkejut, kemudian Itachi menggenggam lengan Sakura dan sedikit mengguncangkannya.
"Apa kau serius?" tanya Itachi.
Sakura tersenyum kecil dan mengangguk, "Uhm, aneh yah… seharusnya aku senang, tapi… aku jadi merasa jauh dengan kalian."
"Tidak, aku masih akan tetap berada di pihakmu, seperti apapun kamu wujudnya," ucap Itachi.
"Walaupun aku berubah menjadi nenek-nenek tua?" ejek Sakura.
"Hahahha, iya, aku akan merawat ompolmu nanti," balas Itachi, "Ayo, nanti kita telat."
.
.
.
"Sasuke? Kenapa berwajah murung begitu?"
Sasuke menoleh pada suara yang sebenarnya sangat dia tidak sukai itu.
"Shion, bisakah kau tidak selalu mengikutiku?" ucap Sasuke ketus.
"Kenapa kau tiba-tiba ketus pada saudaramu sendiri?" ucap Shion sambil mendekati Sasuke yang sedang melamun di tempat duduknya,"Kau tahu, aku bisa melihat masa depan loh."
Sasuke langsung menoleh pada Shion dengan tatapan tidak percaya.
"Tidak percaya? Lihat saja nanti, Sakura dan Akasuna akan memasuki kelas bersama," kata Shion.
Dan tidak lama kemudian, Sasuke mendengar suara Sakura dari luar, benar saja apa yang diucapkan Shion, Sakura datang ke kelas bersama Sasori, dan lagi Sakura terlihat sedang tertawa karena entah apa yang diucapkan oleh Sasori. Saat tepat berada didepan Sasuke, Sakura memalingkan wajahnya dan itu membuat Sasuke merasa sesak, hatinya merasa ngilu saat Sakura terang-terangan mencampakkannya.
"Sasuke!" Naruto berlari dari luar kearah Sasuke, "Kita dipanggil segera ke tempat Tsunade, katanya sangat penting!"
Sasuke langsung beranjak diikuti oleh Kiba dan Ino, namun saat Sakura juga akan beranjak, "Ah… anu maaf Sakura," cegah Naruto, "Tapi kata Tsunade kau tidak perlu ikut."
Sakura terdiam mendengar perkataan Naruto, "Maaf yah Sakura."
"Heeh? Kenapa Sakura tidak perlu ikut? Diakan salah satu bagian dari kita juga," sewot Ino sambil berjalan cepat keluar.
Percakapan mereka tidak bisa terdengar oleh Sakura, dia hanya berdiri mematung ditempat, apakah berita tentang hilangnya kekuatan Sakura sudah diketahui oleh Tsunade? Makanya mereka tidak membutuhkan Sakura lagi? Lalu, selain mereka… siapa yang bisa menerima kehadiran sosok Sakura?
"Semuanya, katanya hari ini kita belajar sendiri, ada rapat dadakan dewan guru sekarang," ujar ketua kelas.
"YEEEESS!"
"Horeee!"
Langsung saja seluruh kelas bergemuruh senang karena tidak ada guru yang mengajar, semua langsung menyatukan bangku masing-masing untuk saling mengobrol dengan teman-temannya, sedangkan Sakura hanya duduk sendiri tidak ada teman yang menghampirinya.
Tuk!
Sakura merasa ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, begitu dia menoleh, "Masih ada aku, aku akna menemanimu," ujar Sasori.
Sakura tersenyum, benar juga, saat ini Itachi pun pasti sedang ikut bersama yang lain, Sakura hanya punya Sasori untuk menemaninya. Sasori menarik salah satu bangku kosong kedepan Sakura dan memulai percakapan, mereka mengobrol begitu asik sehingga tidak sadar ada yang mengawasi dari pintu kelas, yaitu Karin.
"Waah, kamu Shion saudaranya Sasuke yaaah," ujar Karin dengan suara keras sambil menghampiri Shion yang sudah mempunyai teman banyak.
Nasibnya begitu beda dengan Sakura, Shion saja anak baru bisa langsung dapat teman sebanyak itu, sedangkan Sakura, banyak sekali orang yang membencinya karena dia memiliki kekuatan aneh itu, sekilas Sakura tersenyum namun juga gelisah, apakah dia harus senang tentang hilangnya kekuatan yang dia miliki?
"Shion sangat cantik, anggun dan mempesona… sangat SERASI loh dengan Sasuke," ucap Karin yang sengaja menekankan di kata SERASI itu, "Sangat berbeda dengan monster menyeramkan itu."
"Terima kasih, Karin… tapi menurutku semua wanita itu cantik kok," jawab Shion dengan senyumannya.
"Waah, Shion sangat baik yah, kita berteman yah," ucap Karin.
Kini Sakura merasa jijik dengan tingkah Karin sebagai penjilat itu.
"Sakura, aku ke toilet sebentar yah," pamit Sasori yang meninggalkan tempatnya setelah dapat anggukan dari Sakura.
Begitu Sasori sudah pergi, Karin menghampiri Sakura dengan tatapan sinis.
"Sekarang sudah tidak ada lagi teman-temanmu, enaknya diapakan yaah," ucap Karin yang diikuti oleh teman-temannya, namun yang membuat Sakura terkejut adalah, Shion.
Shion tengah menyeringai kepada Sakura, "Ah, aku juga harus pergi, kalau tidak salah wanita yang bernama Tsunade memanggilku, duluan yah semua," ujar Shion.
Hal itu makin membuat Sakura bingung, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Shion juga bisa kenal dengan Tsunade?
"Nah, Sakura… bisa kita mulai senang-senangnya?"
.
.
.
"Ada apa sih memanggil kami ditengah-tengah jam sekolah?" gerutu Naruto.
"Memangnya kau tidak mau ketemu Hinata?" ledek Tsunade sambil melirik Hinata disampingnya yang sedang memerah wajahnya.
"Langsung saja Nona Tsunade, kenapa Sakura tidak perlu ikut?" tanya Ino.
"Begini, apa kalian tahu bahwa kemampuan khusus Sakura sudah hilang?" tanya Tsunade.
"Heee?" semua nampak terkejut kecuali dua orang yang berdiri berjauhan itu, kakak beradik yang baru saja bersatu.
"Ya, sudah tahu," jawab Sasuke dan Itachi.
"Sudah tahu? Tapi tidak memberi tahu kami?" protes Ino.
"Ingat, kita membutuhkan orang yang seperti Sakura, makanya dulu aku mati-matian menyuruh kalian menemukannya, tapi sekarang Sakura sudah tidak punya kekuatan itu lagi, jadi dia tidak diperlukan disini," ucap Tsunade tegas.
"Apa-apaan ini!" tolak Neji.
"Tenang dulu, aku sudah menemukan pengganti Sakura, orang yang harus kalian lindungi," Tsunade berdiri dan menyuruh Shizune untuk membuka pintu, muncullah sosok yang membuat seluruh ruangan itu terkejut, "Dialah yang harus kalian lindungi, pengganti Sakura."
"Shion?" ucap Ino kaget.
"Bukan hanya itu, walaupun Sakura sudah kehilangan kemampuan khususnya, tapi dia memendam kekuatan yang sangat bahaya, bahkan bisa menghancurkan setengah dari dunia ini, kau pasti tahu kekuatan apa itu, iya kan… Kabuto?" ucap Tsunade pada Kabuto.
Kabuto hanya terdiam dan mengingat kembali kejadian saat Goddess menghancurkan setengah khayangan dengan kekuatannya, "Lalu, apa maksud anda?" anya Kabuto.
"Kita harus mencegah kekuatan itu-"
"Bukan mencegah," potong Shion yang berjalan ketengah-tengah mereka, "Tapi melenyapkan kekuatan itu, ini… demi dunia kita."
"Jangan gila kalian! Melenyapkan kekuatan itu berarti harus membunuh orang yang memiliki kekuatan tersebut!" bentak Sasuke.
"Tepat sekali, mudah bukan? Mengorbankan satu orang demi seluruh orang di dunia ini adalah perbuatan mulia, dia juga pasti memahaminya kok," ujar Shion.
"Diam! Kau itu orang luar! Jangan ikut campur!" bentak Ino pada Shion.
"Ino!" tegur Shikamaru.
"Mulai sekarang, diluar dari ruangan ini, perintah Shion adalah mutlak, dan kalian harus melindunginya," perintah Tsunade.
"Melindunginya? Dari apa?" tanya Kiba.
"Ada suatu organiasasi yang sangat membahayakan, mereka mengincar kekuatan Shion yang bisa memprediksi masa depan itu, organisasi itu ingin menguasai dunia ini," jelas Tsunade."Apa kalian paham?"
Tidak ada yang menjawab, mana mungkin mereka setuju dengan apa yang baru saja Tsunade katakan, membunuh Sakura? Melindungi Shion? Menggantikan Sakura? Hanya orang sinting yang mau menyetujui usul seperti itu. Begitu Tsunade membubarkan mereka, Shion mendekati Sasuke dan berbisik.
"Setidaknya kalau kau ingin aku tidak mengucapkan perintah untuk membunuh Sakura, kau harus mengikuti semua kemauanku," bisik Shion dan langsung pergi begitu saja.
A/N : aahhh, akhirnya update juga... maaf yah nunggu lama... =_=, kacamataku belom ketemu iniiii! menyebalkan!
konflik sebenarnya akan muncul di chapter depan.. hehehehe XD
xoxo
