The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
BRUUUUK.
"Seharusnya kau itu tahu diri dengan keadaanmu, monster!" teriak Karin setelah mendorong Sakura ditengah-tengah lapangan untuk anak-anak klub sepak bola yang penuh dengan Lumpur karena baru saja hujan berhenti.
"Apa maumu?" ujar Sakura sambil menatap lurus wajah Karin.
"Jangan sekali-kali berani menatapku seperti itu!" bentak Karin dan…
PLAAK.
Satu tamparan mendarat di pipi Sakura.
"Hhhmm, biar kutanya sesuatu padamu, bola sepak dan bola basket, mana yang lebih keras?" tanya Karin sambil memainkan rambut panjangnya itu.
"Heh?"
"Sudah jawab saja!"
"Dasar bodoh! Anak TK juga sudah tahu kalau bola basketlah yang lebih keras!" jawab Sakura.
"Baiklah, itu berarti kamu sendiri yang memilihnya," kata Karin sambil menepukkan tangannya, dan datanglah anak buahnya membawa keranjang yang berisikan bola basket, dua orang memegangi kedua lengan Sakura dan empat orang berdiri menghimpit Karin sambil memegang masing-masing satu bola basket.
"Begini aturannya, kalau kalian tepat mengenai lengan, kalian akan mendapatkan point 5, kalau perut pointnya 10, kalau wajah… pointnya 20," ucap Karin.
Sakura hanya diam dengan tatapan seolah suatu saat nanti dia akan melawan Karin.
Beraninya keroyokan, itulah yang ada dipikiran Sakura tentang Karin, dia berani jamin kalau Karin hanya seorang diri, wanita jahat itu tidak akan berani menindas Sakura sejauh ini.
"MULAI!" Karin memberi aba-aba dan anak buahnya melemparkan bola-bola itu pada Sakura, begitu mereka melempar, mereka mengambil lagi bola basket yang ada dikeranjang dan dilemparkan lagi kearah Sakura, begitu seterusnya.
Lengan, kaki, perut dan wajah… semua tepat mengenai sasaran, sedangkan Sakura tidak bisa menghindar karena kedua lengannya dipegangi oleh anak buah Karin yang lainnya. Selagi anak buahnya melempari bola basket, Karin tersenyum puas melihat kondisi Sakura yang sekarang wajahnya sudah memar dan bibirnya berdarah, begitu terus hingga akhirnya Karin merasakan ada yang berlari kearahnya dan dia menoleh.
PLAAK!
Ino datang menampar Karin dengan kencang lalu menjambak wanita itu.
"LEPASKAN SAKURA!" teriak Ino menjambak rambut Karin sekuat tenaga.
"Ino?" panggil Sakura pelan.
"Kyaaa! Apa-apaan kau! Lepaskan aku brengsek!" rintih Karin yang berusaha membalas Ino namun tangannya tidak sampai karena Ino lebih tinggi dari Karin.
"Lepaskan dia, dasar wanita jalang!" hina Ino.
"Tidak akan kulepaskan!" tolak Karin yang berhasil melepaskan jambakkan Ino, sambil merapikan rambutnya yang acak-acakan, Karin menyeringai kearah Ino,"Ini adalah perintah dari Nona Shion."
"Shion?" ucap Ino dan Sakura bersamaan.
"Sebelum pergi, dia memberi perinah padaku untuk melakukan ini," jelas Karin.
"Shion? Yang benar saja! Kenapa kau menurutinya? Dasar wanita tidak punya harga diri! Rendahan!" hina Ino sambil berlari kearah Sakura dan mencoba untuk menolong Sakura yang terduduk lemah.
"Karena dia memang pantas dihormati, kau tahu… Sasuke dan Shion sangat serasi, mereka bagaikan pangeran dan tuan putri, sedangkan kau Sakura… kau bagaikan sampah masyarakat yang mengganggu pemandangan mereka!" hina Karin.
"Hina Sakura lagi, maka aku tidak akan mengampunimu!" ancam Ino yang menggenggam tangannya.
Menyadari kemarahan Ino dan melihat Ino hampir sedikit mengeluarkan kekuatannya, Sakura menggenggam lengan Ino, begitu Ino menoleh pada sahabatnya itu, Sakura menggeleng mengisyratakan 'jangan' pada Ino, dengan sangat terpaksa Ino mengurungkan niatnya.
"aku tidak butuh ampunanmu, selama Shion berada dipihak kami," jawab Karin, "Ayo pergi semuanya."
Karin meninggalkan Ino dan Sakura yang sudah kotor karena Lumpur dan luka-luka diwajahnya. Ino membantu Sakura untuk berdiri.
"Aku tidak apa-apa, Ino."
"Apanya yang tidak apa-apa! Kamu sampai seperti ini!"
"Dari pada itu, ada apa tadi Nona Tsunade memanggil kalian?" tanya Sakura sambil mengelap darah yang berasal dari bibirnya.
Ino terdiam, dia bingung harus apa yang dikatakan pada Sakura saat ini, tidak mungkin kan dia bilang kalau Tsunade memerintah mereka untuk melindungi Shion dan harus membunuh Sakura, itu gila namanya.
"Tidak apa-apa, hanya mengumumkan sesuatu hal yang sepele, dia memang suka bikin heboh, hahahaha" jawab Ino dengan kaku.
Sakura memandangi Ino dengan kecurigaan, namun kecurigaan yang dia rasakan itu dia putuskan untuk dipendamnya saja, Sakura merasa Ino sangat aneh, tawanya tidak tulus, pandangannya tidak focus pada Sakura, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
"Oh iya, Ino… nanti malam mau menginap dirumahku?" tawar Sakura.
"Hah?" Ino sedikit bingung dengan posisinya sekarang, "Ehm, maaf aku tidak bisa, Shikamaru mengajakku menginap ditempatnya."
Bohong.
Sangat terlihat jelas diwajah gadis berambut pirang itu kalau jawabannya itu bohong, namun Sakura hanya tersenyum padanya dan mengucapkan, "Tidak apa-apa, lain kali mungkin kamu bisa," pada Ino. Sakura menerima kebohongan Ino karena dia takut Ino membencinya kalau sampai memaksa untuk menemani Sakura malam ini.
"Maaf yah Sakura," ucap Ino.
"Ehm, tidak apa."
.
.
.
Kini Sakura sedang berada di uks, dia mengobati lukanya sendiri, bahkan guru uks pun tidak sudi untuk mengobati luka Sakura, saat itu Sasori datang menghampiri Sakura dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ada apa?" tanya Sakura bingung melihat kondisi Sasori.
"Hah… hah… hah… aku mencarimu kemana-mana… tapi tidak ada… ada apa denganmu? Kenapa luka-luka begitu?" tanya Sasori, menghampiri Sakura dan sedikit menyentuh luka di bibirnya yang membuat Sakura sedikit merintih.
"Akh!"
"M-maaf… kenapa bisa begini?" tanya Sasori lagi.
"Aku sudah biasa, sudahlah jangan terlalu berlebihan," jawab Sakura.
"Sakura…" panggil Sasori sambil menggenggam tangan Sakura yang akan mengobati bibirnya itu, "Aku akan melindungimu."
Sakura terdiam mendengar perkataan dari laki-laki berambut merah dihadapannya itu, sekilas dia mengingat kejadian dulu, seolah ada juga yang pernah mengucapkan hal itu padanya. Ya! Orang itu adalah Sasuke, Sasuke pernah mengatakan hal yang sama padanya, namun apa buktinya? Sasuke sama sekali tidak ada.
"Sakura?"
"Maaf, terima kasih sudah mau melindungiku, tapi…aku bisa melindungi diriku sendiri," jawab Sakura sopan.
"Tapi-"
"Sasori, kalau ada apa-apa aku janji akan menghubungimu," potong Sakura dengan sengaja agar laki-laki itu tidak memaksa dirinya untuk dilindungi.
"Baiklah, janji yah," pinta Sasori.
Sakura mengangguk sambil tersenyum lembut pada Sasori, mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi Sasuke melihatnya dari balik pintu uks, dia mengepalkan tangannya sekeras mungkin dan meninggalkan tempat itu.
.
.
.
BRAAK!
"Hyaa! Apaan sih, Sasuke!" bentak Ino.
"Kenapa Sakura bisa seperti itu?" tanya Sasuke dengan suara yang berat.
"Kenapa? Makanya jangan sibuk mengurusi wanita itu sampai-sampai kau melupakan wanita yang kau cintai sendiri! Apa segitu berharganya kehadiran Shion sampai-sampai kau mengabaikan Sakura, hah!"
Baru saja Sasuke melayangkan tangannya untuk menapar Ino, Shikamaru datang dari belakang Sasuke.
"Berani menyentuh Ino sedikit saja, maka aku tidak akan segan-segan menghabisimu, Sasuke," ancam Shikamaru.
"Kenapa? Kenapa kau jadi berubah begini? Sejak kedatangan dia kau jadi linglung! Ringan tangan! Dan kau jadi seperti pecundang!Oh, dan aku yakin kau juga akan mematuhi perintah Nona Tsunade kan? Asal kau tahu! Aku tidak akan pernah menjauhi maupun membunuh Sakura, paham!" bentak Ino yang menggebrak mejanya dan pergi meninggalkan Sasuke serta Shikamaru.
Sasuke hanya berdiam diri mematung disana, Shikamaru menghampiri dan menepuk pundak laki-laki yang sedang bimbang itu.
"Apa yang kau ragukan?" tanya Shikamaru.
"…"
"Coba pikirkanlah lagi tadi kata-kata Ino, sudah dua hari ini kau mencampakkan Sakura, hanya demi saudaramu? Ah-maksudku… wanita yang mengaku sebagai saudaramu," ujar Shikamaru.
"…"
"Bahkan kau tidak bisa melindungi Sakura saat ditindas oleh Karin," Saat mengatakan itu, Shikamaru menepuk pundak Sasuke dan pergi meninggalkannya.
"…..."
.
.
.
Saat usai sekolah, Ino terus menggerutu didepan loker sepatunya, dia tidak habis pikir dengan Sasuke, bisa-bisanya bersikap lembek didalam situasi seperti ini, apa dia lebih memilih Shion dan menelantarkan Sakura? Dia juga tidak habis pikir dengan Tsunade, Ino tahu Tsunade bukanlah wanita bodoh yang gampang percaya pada orang, kalau sampai Tsunade memerintahkan hal seperti itu, artinya Shion akan benar-benar menjadi pengganti Sakura, tapi tetap saja, memangnya Sakura barang? Atau jangan-jangan Tsunade memiliki suatu rencana lain? Ino menggelengkan kepalanya sendiri saat memikirkan semua itu.
"I-N-O," panggil suara wanita dari belakang dengan lembut, begitu Ino menoleh, "Bisa bicara sebentar?"
.
.
.
"Adududuh, sakit sekali~" rintih Sakura saat berjalan kaki menuju rumahnya, "Ternyata diempari bola basket sangat sakit."
"Sakuraaa!"
Saat ada yang memanggil namanya, Sakura menoleh kebelakang, langsung terlihat senyuman di bibir Sakura begitu dia melihat siapa yang memanggilnya, "Itachi."
"Mau pulang?" tanya Itachi.
"Ehm," jawab Sakura mengangguk.
"Wajahmu kenapa?" tanya Itachi dengan nada khawatir namun Sakura tidak menjawabnya, dia sedikit menutupi bibirnya yang biru dengan rambut panjangnya, Itachi sedikit menghela nafas, dia bisa menebak kalau Sakura baru saja ditindas.
"Kuantar yah," tawar Itachi sambil mengelus kepala Sakura.
"Heh? Tidak usah, nanti kamu repot," tolak Sakura secara halus.
"Sudah tidak apa-apaaa," paksa Itachi sambil merangkul bahu mungil Sakura.
"ah, heii…"
Lagi-lagi Sasuke melihat kejadian itu, entah kenpa dia merasa dirinya seperti pecundang sejati yang ragu akan memutuskan sesuatu, mungkin benar apa yang Ino katakan, 'pecundang' memang sebutan yang pantas untuk Sasuke, lihat dia sekarang, menyesali perbuatannya yang mencampakkan Sakura, menampar Sakura, bahkan dia mempertahankan harga dirinya supaya tidak meminta maaf duluan pada Sakura.
"Itachi," panggil Sakura pelan.
"Ya?"
"Tadi… apa yang terjadi ditempat Nona Tsunade?" tanya Sakura to the point.
"Hemmmm, kau mau tahu?"
"Eng," angguk Sakura.
"Benar-benar ingin tahu?"
"Iya, tolong ceritakan padaku," pinta Sakura.
"Tapi ada satu syarat," ucap Itachi.
"Heh?"
"Aku ingin minum teh buatanmu yang khusus diseduhkan hanya untukku," ucap Itachi.
Sakura tersenyum ramah pada Itachi dan sedikit memukul lengannya, "Dasar!"
"Aw! Lenganku pataah~" rintih Itachi bersandiwara.
"Bohong~, pukulan segitu mana cukup bisa mematahkan lenganmu."
Sakura dan Itachi berljalan sambil bercanda ria, saat ini Sakura sangat berterima kasih pada Itachi dan Sasori yang berada disampingnya, berkat mereka Sakura tidak merasakan kesepian, namun tetap saja didalam hatinya yang paling dalam, dia merindukan canda yang berasal dari laki-laki yang disukainya, Sakura masih berharap suatu saat Sasuke akan datang padanya dan kembali seperti semula.
.
.
.
Disuatu ruangan, terdapat enam orang sedang berkumpul yang masing-masing memakai jubah hitam panjang menutupi lutut mereka, terdapat symbol awan merah dijubah itu, terlihat seorang wanita yang memakai hiasan kertas dikepalanya dan memiliki rambut berwarna biru itu menyeduhkan minuman untuk seorang laki-laki berambut pirang didepannya, laki-laki itu meminum minuman itu dengan nikmat dan meletakannya lagi diatas meja.
"Jadi, bagaimana sejauh ini?" tanya laki-laki yang berambut pirang itu sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Sangat lancar," jawab sosok yang ada dihadapannya.
"Jangan sampai ketahuan, atau rencana kita akan gagal," perintah laki-laki yang sepertinya adalah pimpinan mereka.
"Baik!"
.
.
.
"Jadi."
"Jadi apa?" tanya Itachi sambil meminum teh buatan Sakura.
"kau janji mau menceritakannya padaku!" geram Sakura.
"Hahahaa, iya iya," Itachi kembali meminum teh itu dan merilekskan tubuhnya dengan menyenderkannya ke sofa, "Tsunade telah menggantikan posisimu."
Terkejut bukanlah yang dirasakan Sakura saat ini, dia sudah bisa menebaknya saat Naruto mengatakan 'Tsunade bilang kamu tidak perlu ikut' itu.
"Dan itu digantikan oleh Shion," sambung Itachi.
Barulah Sakura terkejut ketika mendengar Shion yang telah menggantikannya.
"Apa? Kenapa bisa dia?" tanya Sakura sedikit sinis.
"Sudah kuduga kau membencinya yah?" tebak Itachi begitu melihat reaksi Sakura, "Tenang saja, aku yakin Tsunade punya rencana dibalik semua ini, sepertinya dia bukan tipe orang yang sekejam itu, bahkan Tsunade menyetujui usul bahwa kau harus dibunuh."
"Apa? Aku? Kenapa aku? Apa hubungannya denganku? Itachi! Kekuatanku sudah hilang! Jangan libatkan aku lagi dengan kalian!" bentak Sakura.
"Kalian? Memangnya aku pernah mengakui yah kalau aku salah satu bagian dari guardian?" tanya Itachi dengan santai dan masih menikmati teh buatan Sakura.
Itachi meletakkan kembali cangkir yang sudah kosong itu keatas meja dan menatap Sakura, "Aku akan selalu ada dipihakmu, sudah yah… terima kasih tehnya," ujar Itachi sambil meninggalkan Sakura keluar rumahnya.
"Apa-apaan ini! Kenapa jadi seperti ini?" batin Sakura bergejolak mendengar berita yang diucapkan oleh Itachi tadi.
Bagaimanapun kondisinya, Sakura masih ingin mempertahankan teman-teman yang sudah susah payah dia temukan dan menerima dia apa adanya itu, dia tidak mau kehilangan mereka begitu saja secara Cuma-Cuma hanya dikarenakan kehadiran soosk baru dihadapan mereka!
.
.
.
"Aku pul-" ucapan Itachi terpotong ketika melihat Sasuke berada diruang TV bersama Shion yang sedang duduk disampingnya, "Wah, ada tamu tak diundang."
"Tidak sopan! Dari mana saja kau?" ucap Shion seenaknya yang seolah sudah kenal lama dengan Itachi.
"Dari tempat tuan putri," jawab Itachi melirik kearah Sasuke dan dilanjutkan dengan gebrakan pintu kamar yang Itachi buat dengan sengaja begitu dia memasuki kamarnya.
Sasuke terdiam, dia masih merenungkan ucapan Ino yang terngiang di otaknya.
"Apa-apaan dia itu?" gumam Shion.
"Shion," panggil Sasuke pelan.
"Ya? Ada apa?" jawab Shion dengan ceria.
"Jangan pernah mengekoriku lagi," pinta Sasuke dengan nada serius dan ekspresi wajah yang mantap, seolah dia sudah bulat memutuskan sesuatu.
"Kau tahu akibatnya kalau melawanku?" ancam Shion.
"Lakukan saja, aku tidak akan membiarkannya, bagaimanapun… Sakura akan kulindungi, ancamanmu…" Sasuke menatap rendah pada diri Shion, "Tidak akan mempan lagi padaku!"
Sasuke mengambil jaketnya yang berwarna biru tua selutut itu lalu pergi keluar meninggalkan Shion sendiri dirumahnya, Shion hanya bisa terdia mematung tanpa ekspresi melihat sosok Sasuke yang sudah hilang dari hadapannya itu, namun ekspresinya berubah ketika dia mendengar suara dari arah dapur.
"Dari dulu sampai sekarang, sifat licikmu tidak berubah yah," ucap Kabuto sambil membetulkan kacamatanya.
"Kau juga, masih saja mengekori orang yang kau cintai bertepuk sebelah tangan itu, Kabuto… ah- bukan… Lust!" balas Shion.
"Apa yang kau rencanakan?" geram Kabuto.
"Tunggu saja tanggal mainnya, aku sudah mengatur semuanya agar terlihat indah," jawab Shion.
"Sakura tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi di masa lalu, jangan kau libatkan dia!"
"Memangnya aku peduli? Bagaimanapun juga tetap saja dia reinkarnasi Goddess, dan aku… akan tetap balas dendam padanya karena sudah merebut tunanganku!" geram Shion.
"Kau masih dendam kalau ternyata tunanganmu itu mencintai Goddess yah, wahai mantan calon adik ipar, Berith," ucap Itachi bersender dipintunya.
"Ah, ketahuan… ternyata ingatanmu sangat bagus yah, Tuan Daemon," ucap Shion dengan nadanya yang angkuh.
"Percuma, baik Belphegor maupun Sasuke, dia tidak akan pernah melirikmu, kalau dulu cintanya hanya untuk Goddess, kini cintanya hanya untuk Sakura," jelas Itachi sambil menghampiri Shion.
"Hooo, dan kau merelakan reinkarnasi Goddess itu direbut oleh adikmu sendiri?" sindir Shion, "Sejak kapan kau menjadi pengalah begini? Menyedihkan."
"Tidak, bukannya mengalah, hanya saja baru sadar, sadar akan sesuatu yang baru kusadari tadi," ucap Itachi.
"Lama-lama bicaramu ngawur! Bagaimanapun caranya, aku tidak akan membiarkan gadis itu bahagia! Tidak akan!" geram Shion.
"Kalau begitu berusahalah," Itachi meremehkan perasaan Shion saat ini, dia kembali ke kamarnya dan menutup pintu kali ini dengan santai, sedangkan Shion dan Kabuto kini masih saling tatap satu sama lain.
Keesokan paginya, Sakura sedang bercermin untuk melihat bagaimana keadaan luka di bibirnya, karena terlihat masih bengkak, kini dia mengambil krim yang untuk menyamaran luka di laci mejanya, dioleskan krim itu didaerah bibirnya, ketika sudah terlihat samara berkat krim itu, Sakura tersenyum kecil dan berangkat kesekolah.
Karena Konohamaru sudah pergi dari tadi pagi akhirnya Sakura berangkat sekolah sendirian, dia sangat rindu dengan suasana ramai dirumahnya saat meeka berangkat bersama ketika Ino dan yang lainnya sedang menginap dirumahnya, apakah hal seperti itu bisa terjadi lagi?
Sesampainya disekolah, Sakura melihat Ino dan Tenten yang sedang berbincang-bincang dengan serunya di lorong koridor, begitu Sakura mendekati mereka dan menyapanya.
"Pagi Ino, Tenten," sapa Sakura ramah.
Namun Ino dan Tenten hanya diam tidak menyahut sapaan Sakura, dengan perasaan yang canggung Sakura melanjutkan pembicaraan, "Ehmm, aku sudah tahu-"
"Maaf, jangan bicara padaku lagi kalau kau tidak mau kubunuh," ucap Ino dengan ketus.
Sakura terpaku mendengar ucapan Ino yang sangat kejam itu, kali ini siapa lagi yang menjauhinya? Setelah Sasuke mengabaikannya, apakah Ino juga begitu terhadapnya? Bahkan Tenten yang dewasa itu pun ikut mencampakkan Sakura? Saat sedang bengong di koridor, Sakura melihat Shion sedang jalan menuju arah dimana dia sedang terpaku. Begitu mereka sudah saling berhadapan.
"Bagaimana rasanya orang-orang yang kau sayangi mengabaikanmu? Goddess," ucap Shion yang membuat mata Sakura terbelalak.
"Kau?" ucap Sakura ragu-ragu saat mendengar Shion memanggilnya Goddess.
"Lust, Tuan Daemon, Tuan Belphegor… semua kau rebut dariku!" geram Shion.
"Siapa kau? Kenapa bisa tahu tentang hal itu?" tanya Sakura dengan ekspresi yang benar-benar terkejut.
"Aku? Aku Berith… calon tunangan Tuan Belphegor, kalau saja saat itu dia tidak kabur dari kerajaan hanya untuk bertemu denganmu! Dia sudah akan menjadi milikku!" sekali lagi Shion menggeram mengepalkan tangannya, menahan agar tidak menyerang Sakura sekarang.
"Ternyata itu alasannya dia terlahir sebagai Uchiha? Dan itu juga ternyata yang membuat dia sangat tertarik pada Sasuke," pikir Sakura.
"Kau akan kubuat-"
"Hentikan!" cegah suara yang berasal dari belakang Sakura, dan Sakura sangat mengenali suara itu, suara yang sangat dia rindukan.
"Jangan ikut campur, Sasuke," kata Shion.
"Tentu saja aku harus ikut campur," jawab Sasuke menghampiri Sakura yang masih terdiam, kemudian dia merangkul pinggang Sakura lalu ditariknya Sakura kedalam peluaknnya, "Karena kau telah mengganggu gadis yang sangat kucintai."
Kini makna terpaku untuk Sakura berbeda dari yang tadi, kalau tadi dia terpaku karena kaget dan sedih dicampakkan Ino, sekarang dia kaget dan bingung karena tiba-tiba Sasuke datang membelanya dan akhirnya… menyatakan cintanya!
"Sasuke apa-apaan kau!" bentak Shion, "Kau tahu akibatnya kalau memihak Sakura!"
"Tahu, dan silahkan saja, aku tidak peduli kau akan berbuat apa," jawab Sasuke dengan kalem masih memeluk Sakura, sedangkan Sakura tidak bergerak sama sekali didalam dekapan Sasuke.
"Itu berarti kau tidak mematuhiku, dan Tsunade!"
"tinggal keluarkan saja aku dari guardian, simple kan?" jawab Sasuke lagi.
Shion menatap Sasuke dan Sakura dengan sinis dambi mengepalkan tangannya, "Kalian akan menyesal!"
Shion berlari meninggalkan mereka yang masih sedang berpelukan itu.
"Sudah tidak ada," kata Sasuke memberi tahu pada Sakura.
"Ah, m-maaf…" ucap Sakura sedikit mendorong Sasuke.
"Sakura," panggil Sasuke dengan lembut dan membelai pipi gadis itu, "Maafkan aku."
Kali ini makna kata maaf yang terucap dari bibir Sasuke terasa sangat hangat untuk Sakura, air mata yang bisa dia tahan sampai saat tadi Ino mengabaikannya pun kini terlepas, saat melihat Sakura menangis… Sasuke tersenyum lembut dan mengecup kening gadis itu sambil melingkarkan tangan kiri di lehernya dan tangan kanan memeluk pinggang mungil Sakura, "Sudah kubilang, kamu kalau nangis sangat jelek."
Sakura masih diam tidak mengatakan apa-apa, perasaan rindu, senang, sedih bercampur jadi satu dan keluar melalui air mata itu, "Aku tidak akan melakukan kesalahan bodoh seperti itu lagi untuk yang kedua kalinya, aku janji." Ucap Sasuke.
Saat itu, Itachi memperhatikan mereka dibalik tembok sambil sedikit tersenyum, "Hhh, yang penting kamu bahagia, Sakura," gumam Itachi.
Saat dikelas, suasana makin aneh, apalagi setelah Sakura menceritakan pada Sasuke tentang sikap Ino yang tiba-tiba berubah menjadi ketus padanya, hal itu membuat Sasuke bertanya-tanya, padahal baru kemarin Sasuke dimarahi habis-habisan oleh wanita berambut pirang itu, tapi kenapa sekarang malah dia sendiri yang menjauhi Sakura? Benar saja, disekolah ini ada yang tidak beres.
Selain para orang-orang yang mempunyai kemampuan khusus, yang lainnya mempunyai sorot mata yang kosong, mereka berjalan dan melakukan aktivitas seperti biasa dengan pandangan kosong seperti itu, membuat Shikamaru yang sedang bersantai diatap memutar otaknya bersama Sasuke.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke pada Shikamaru.
"Ya, aku juga merasakan hal yang sama, Sasuke," jawab Naruto yang juga berada disana.
"Sasuke tidak bertanya padamu, dia bertanya pada Shikamaru," kata Kiba melempar sepotong roti pada Naruto.
"Oh iya, Hinata bilang katanya saat dia berbelanja sendiri, dia bertemu seseorang aneh berambut silver yang mengatakan 'sedikit lagi, kamilah yang akan menang', begitu," ujar Naruto sambil menepuk kedua tangannya.
"Bagaimana cirri-ciri orang itu?" tanya Neji.
"Rambutnya silver dan sedikit klimis, dan kata Hinata dia sedikit tampan! Membuatku kesal saja," sewot Naruto.
"Selain itu, Shikamaru… kenapa sikap Ino berubah pada Sakura?" tanya Sasuke.
"Hah? Aku tidak tahu itu, Ino tidak menceritakan apa-apa padaku," jawab Shikamaru dengan santai, "Mungkin dia hanya mau mematuhi perintah Tsunade."
"Jangan konyol! Aku sampai mati pun tidak mau membunuh Sakura," ucap Kiba.
"Ya, tidak ada yang bisa menggantikan Sakura, pasti ada cara lain supaya kekuatan Sakura itu bisa dikendalikan," sambung Naruto.
.
.
.
"Kau bercanda kan, Tsunade!"
"Berisik Jiraiya! Lebih baik kau siapkan saja peseta pernikahan kita sana," usir Tsunade.
"Tidak ada waktu untuk itu, ini masalah nyawa Sakura! Apa kau serius tentang hal itu?" sewot Jiraiya.
"Menurutmu?"
"Kau benar-benar gila!"
"Jiraiya, kau sudah mengenalku lama, apa mungkin aku tega menyetujui usul dari anak yang bernama Shion itu?" ucap Tsunade.
"Tidak! Lalu kenapa kau menyetujuinya dan mengatakan kalau perintah Shion adalah MUTLAK?"
Tsunade terdiam dan tersenyum pada layar monitornya, Jiraiya yang sangat hapal dengan rekasi Tsunade seperti ini, reaksi kalau Tsunade sedang merencanakan sesuatu dan dia yakin pasti akan berhasil.
"Jangan-jangan kamu…"
.
.
.
Sakura berjalan ke perpustakaan seorang diri, entah mengapa hanya itu tempat tujuannya yang aman sekarang, karena tidak mungkin dia harus terus bersama Sasuke sepanjang hari, dan Sasori juga tidak terlihat dari pagi, saat berada didepan pintu perpustakaan, sosok Ino terlihat sedang berdiri seperti menunggu kehadiran Sakura.
"Ino?" panggil Sakura.
"Sakura, bisa bicara sebentar?" pinta Ino.
Sakura mengangguk dan mengajak Ino masuk kedalam perpustakaan tersebut, perasaan canggung memenuhi ruangan tersebut, entah mengapa Sakura merasa aura Ino beda dari yang biasanya, Sakura memberanikan diri melirik kearah Ino sedikit, tidak ada ekspresi apa-apa dari wajah cantik Ino, namun saat Sakura duduk, Ino mengampiri Sakura dan menodongkan pisau di pipinya.
"Maaf, Sakura…"
"I-Ino? Ada apa?"
SREEET
Begitu Ino mengayuhkan pisau itu Sakura menghindar dengan cekatan sehingga seragamnyalah yang sobek akibat besetan pisau tersebut.
"Ino? Kenapa kau melakukan ini!" ujar Sakura yang masih kebingungan, terlihat ada darah yang keluar dari hasil sebetan yang ternyata mengenai kulit mulusnya itu.
"Maaf, tapi kata Tsunade… perintah Shion adalah mutlak," jawab Ino dengan wajahnya yang pilu.
Sakura melihat Ino mengeluarkan tumbuhan dari telapak tangannya yang penuh duri itu, apa Ino akan menghabisi Sakura yang sudah menjadi orang biasa ini dengan kemampuan khususnya? Sakura hanya bisa tercengang melihat aksi Ino didepan matanya itu.
"Ino… hentikan~" pinta Sakura.
"Maaf~" rintih Ino sambil memberikan serangan pada Sakura, namun insting Ino berubah, dia langsung berlari dan melompat memeluk Sakura sebelum ruangan itu terjadi ledakan.
DUAAARR!
Sebuah ledakan yang berhasil membuat seluruh kaca di perpustakaan itu hancur dan sebuah senjata yang melayang menuju arah Sakura, namun senjata yang berbentuk bulan sabit itu berhasil ditahan oleh Ino yang berdiri dihadapan Sakura, membingungkan bukan? Ino yang tadinya berniat membunuh Sakura sekarang malah berbalik melindunginya.
"Kenapa melindungiku? Tanganmu… berdarah, Ino!" teriak Sakura yang panic.
"Aku juga tidak tahu, bagaimanapun usahaku, aku tetap tidak bisa membunuhmu," jawab Ino.
"Hahahaha, meleset ternyata," ucap sosok laki-laki yang datang dari luar jendela dan menarik kembali senjatanya itu dari tangan Ino yang sudah berdarah, "Tidak apalah, satu korban wanita cantik cukup untuk persembahanku kepada dewa Jashin."
"S-siapa kau!" tanya Sakura sambil memegang kedua lengan Ino dari belakang.
Laki-laki itu tidak menjawab, dia menjilat darah yang berasal dari senjatanya itu dan tib-tiba berubahlah warna kulitnya menjadi hitam, menjijikan bagi Sakura dan Ino yang melihatnya, saat laki-laki itu sedang melakukan aktivitas yang mereka tak mengerti, Shikamaru, Sasuke, Neji dan Tenten datang menggebrak pintu perpustakaan.
"Sakura!" teriak Sasuke.
"Ino!" Shikamaru langsung menghampiri Ino saat dia lihat tangannya berdarah, "Kau kenapa?"
"Hiiiyaaaahhhh! Tenten dan Neji menyerang laki-laki itu secara bersamaan, namun serangan mereka langsung ditangkis oleh sesuatu. Sesuatu yang aneh seperti tanah liat yang langsung membungkus tubuh mereka.
"Nufufufufu, kau curang Hidan, meninggalkanku dan ingin membawa gadis itu sendirian," ucap sosok laki-laki baru yang muncul dari luar, laki-laki itu berambut pirang dan sedikit menyeramkan.
"Berisik, aku tidak bisa konsentrasi pada ritualku, Deidara kau tolong urus serangga-serangga ini," perintah Hidan.
"Tanpa kau suruh pun aku akan menyingkirkannya," jawab laki-laki yang bernama Deidara itu.
Seketika Ino merasa tubuhnya seperti kesemutan, tubuhnya gemetar hebat dan itu disadari oleh Shikamaru yang sedang menyentuhnya.
"Ino! Ada apa?" panggil Shikamaru, dia melihat wajah kekasihnya itu sangat pucat.
"A-aku…. Aku…." Ucap Ino terbata-bata.
"Hehehehe, selesai," ucap Hidan menyeringai.
Dengan satu hentakan, Ino menegangkan tubuhnya, dan kemudian memejamkan matanya… setelah itu tubuhnya jatuh terlunglai dipelukan Shikamaru.
"INOOO! INO! BANGUN!" Shikamaru terus menerus menampar pipi gadisnya yang sangat pucat itu.
"I-Ino…" panggil Sakura yang mencoba untuk membantu Shikamaru.
"Jangan sentuh!" tebas Shikamaru pada tangan Sakura yang mencoba untuk menyentuh Ino, "apa yang kau lakukan pada Ino! Brengsek!" kini Shikamaru meneriaki Hidan yang sedang tertawa sendiri.
"Ahahahahaa, kini dewa Jashin akan memberkatiku, ahahahahahaa."
"Bajingan!" geram Shikamaru yang sangat menahan amarahnya.
"Tenang saja, Hidan hanya menyegel jiwa gadis itu dalam koleksinya, kalau kau menginginkan jiwa gadis itu kembali, tukarkan dengan gadis berambut pink itu," usul Deidara yang masih mencengramkan tanah liatnya di tubuh Tenten dan Neji.
"Ukh!" Sasuke dan Shikamaru terdiam, Shikamaru melirik Sasuke seolah dia meminta izin untuk menyerahkan Sakura pada mereka.
"Kau gila Shikamaru! Mana mungkin aku menyerahkannya!" bentak Sasuke.
"Tapi… Ino… Ino…."
"Kami tunggu keputusanmu, oh iya… kedua orang ini juga kubawa, daaaah," dalam sekejap Deidara dan Hidan menghilang dari hadapan mereka.
Keadaan langsung sunyi begitu saja, Kiba dan Naruto yang datang terlambat tidak menanyakan apa-apa saat melihat Shikamaru memeluk Ino yang warna tubuhnya sudah berubah menjadi pucat pasi, sedangkan Sasuke hanya diam sambil menggenggam tangan Sakura.
Shikamaru mengangkat tubuh Ino yang tidak berdaya itu keluar, diam melewati Sasuke, Kiba dan Naruto, namun sebelum dia benar-benar meninggalkan ruangan itu, Shikamaru melirik kearah Sakura sebentar dan melanjutkan langkahnya keluar.
"O-oi, ada apa ini?" tanya Naruto.
Sebelum Sasuke menjawab, tiba-tiba ada beberapa murid yang masuk keruangan itu dengan sorotan mata yang kosong, mereka berjalan menuju Sasuke, Sakura, Kiba dan Naruto dan memajukan tangan mereka sambil bergumam.
"Bunuh Sakura Haruno, bunuh Sakura Haruno, bunuh Sakura Haruno."
"A-apa-apaan ini!" geram Sasuke melindungi Sakura yang berada dibelakangnya.
"Jangan-jangan satu sekolahan ini dikendalikan oleh seseorang!" tebak Kiba yang merasa aneh dengan teman-temannya.
"Naruto, Kiba… tolong atasi yang disini," pinta Sasuke.
"Oke, serahkan pada kami," jawab mereka berdua.
"Sakura, ayo!" Sasuke menarik lengan Sakura berlari keluar melewati orang-orang yang jalan pikirannya seperti sedang dikendalikan.
Mereka berdua berlari, terus berlari melewati orang-orang yang bergumam 'bunuh Sakura Haruno' itu, seluruh satu sekolah mengucapkan itu, bahkan sampai guru-guru dan kepala sekolah bertindak seperti itu.
"Sasuke~" kini Sakura mulai merasa takut, Sasuke berfikir ini pasti ulah Shion, namun kalau ini berarti Sasuke harus mengikuti kemauan Shion dan meninggalkan Sakura, maaf saja… Sasuke tidak akan melakukan hal itu.
"Sakura, masih bisa lari?" tanya Sasuke.
Sakura mengangguk, akhirnya Sasuke membawa lari Sakura kerumah gadis itu, disepanjang perjalanan pun orang-orang yang tak dikenal bergumam seperti itu.
"Sial! Apa yang terjadi disini!" geram Sasuke.
Begitu sampai dirumah Sakura, Sasuke langsung mengunci rumah tersebut dan menutup semua jendela yang berada dirumah itu, kali ini Sasuke akan memastikan kalau dia akan melindungi Sakura.
"Sasuke," panggil Sakura pelan, "Maafkan aku."
"Untuk apa kau meminta maaf?" tanya Sasuke masih sambil mengecek dari sudut ke sudut.
Sakura termenung, namun pandangannya teralih pada sosok yang sedang berada diatas tangga, sosok yang Sakura sayangi dan juga satu-satunya orang yang sangat mempercayai Sakura.
"Konohamaru?" panggil Sakura yang membuat kegiatan Sasuke terhenti.
Sasuke berjalan menghampiri Sakura dan menatap sorot mata Konohamaru yang juga sama seperti yang lainnya, apa sampai Konohamaru pun terkena hipnotis? Dan yang membuat mereka terkejut lagi, Konohamaru menyodorkan tangannya dan tiba-tiba.
Siuuung
Jraash!
Seluruh permukaan Sakura dan Sasuke berubah menjadi es?
Apa Konohamaru juga mempunya kemampuan khusus?
Demi Konohamaru, Ino, Neji dan Tenten… apakah Sakura harus rela menyerahkan dirinya sendiri dan mati?
A/N : lagi semangat2nya ini bikin chapter lanjutannya, XD... makasih yah review-reviewnya... mungkin chapter depan agak lama nih, soalnya besok aku ada bimbingan, gapapa kan? maaf yah, tapi aku buat setengahnya kok...
ini cuplikannya buat chapter depan...
Next Chapter :
"Konohamaru? kenapa?"
"Siapaun yang menyakitimu, aku akan menghabisinya!"
...
"Nona Tsunade, keadaan makin kacau!"
"Heh! aku tidak akan kalah pada anak kecil!"
...
"Shikamaru, apa-apaan kau!"
"Demi mengembalikan Ino, bagaimanapun caranya akan kulakukan!"
...
"Didalam tubuhmu terdapat kekuatan mengerikan, Sakura."
...
"Aku takut~"
"Sakura, kalau memang kau harus mati, aku akan ikut mati bersamamu, begitu saja yah? bagaimana?"
...
"Sasori?"
