The Chosen One

Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort

Rated: T

Keadaan di sebuah rumah tradisional itu sangat sepi, yang terdengar hanyalah percikan air yang terjatuh dari saluran bambu kecil ditengah halaman, bagaimana bisa rumah semegah ini hanya dihuni oleh satu orang? Bahkan para pelayan pun tidak ada. Sakura duduk terdiam di dalam kamarya, membuka sedikit jendela untuk aktivitas keluarnya angin segar, dia melihat pemandangan diluar rumah itu begitu indah, membuatnya menjadi melamun. Namun lamunan itu tidak lama karena seseorang menggeser pintu kamar dimana Sakura sekarang sedang menempatinya.

"Permisi," ucap seorang wanita dewasa berambut seleher yang sangat cantik.

"Ah, iya… ada apa? Siapa wanita cantik ini?" jawab Sakura.

"Apa kamu Sakura?" tanya wanita itu dengan sopan dan menghampiri Sakura sambil tersenyum.

"I-iya, benar aku Sakura."

"Ayo ikut aku, kita makan siang bersama diruang makan," ajak wanita itu.

"Eh?"

Sakura mengikuti wanita itu berjalan, dilihat dari cara berjalannya, wanita ini sangatlah anggun, sopan dan sepertinya terdidik oleh keluarga yang terpandang, tapi apakah wanita itu pelayan? Tidak mungkin, karena mana ada pelayan seanggun dan se elegan ini. Ketika Sakura memasuki ruang makan…

"Kakashi?" ucap Sakura yang kaget melihat ada Kakashi di sana.

"Yo, Sakura… ayo kita makan siang, kalau menunggu Sasuke kau bisa mati kelaparan," ajak kakashi sambil mengambil sumpit, "Ah, kenalkan dia Rin."

"Salam kenal," ucap Sakura sambil sedikit membungkuk dan diikuti oleh wanita yang bernama Rin itu.

Rin mendatangi Kakashi dan menyervis Kakashi dengan baik dan cekatan, diambilkannya nasi di mangkuk untuk laki-laki berambut silver itu, dan lauk-lauknya pun disiapkan oleh Rin.

"Eng… anu… Nona Rin itu…." Ucap Sakura ragu untuk menanyakannya.

"Oh, aku sampai lupa… dia istriku," jelas Kakashi.

"ISTRI!" teriak Sakura yang kaget, sangat tidak menyangka Kakashi yang terlihat masih sangat muda ini sudah menikah, dan mempunyai istri yang sangat cantik.

"Iya, maaf yah telat memperkenalkan diri," ucap Rin setelah menyelesaikan tugasnya sebagai istri.

"Ehn… tidak apa-apa," jawab Sakura gugup, 'aku tidak pernah berada di situasi seperti ini… Sasuke… cepatlah pulaaang~'

.

.

.

Keadaan dua orang laki-laki yang sedang bertarung serius kali ini bukan pertarungan antara musuh, tapi antara teman yang tadinya sangat akrab, namun harus berakhir menjadi perkelahian yang sengit.

"Shikamaru… cobalah berfikir jernih!" bentak Sasuke, saat ini kondisinya sudah lelah, terdapat luka goresan dimana-mana, dia juga sudah tidak lagi membawa tas yang berisikan baju Sakura, darah yang keluar dari bibir dan kepalanya membuat penampilan Sasuke acak-acakan.

Namun Shikamaru tidak kalah babak belurnya dengan Sasuke, baju Shikamaru sudah robek dimana-mana dan nafasnya yang ngos-ngosan, tangan kanannya yang sedikit hitam karena terbakar api Sasuke.

"Diam! Ini semua karena gadis itu! Kalau saja kita tidak bertemu dengannya! Ino… Ino tidak akan-"

"Apa Ino akan senang dengan tindakanmu sekarang ini? Hah!" potong Sasuke.

"DIAAAM!" Shikamaru menyerang Sasuke sekali lagi dan kali ini dengan bertubi-tubi.

Bayangan demi bayangan tercipta oleh Shikamaru untuk menyerang temannya itu, Sasuke yang tidak mau menyerang Shikamaru lebih jauh lagi hanya melompat mundur menghindari bayangan-bayangan yang menyerangnya itu, karena kondisi fisiknya yang sudah sama-sama lelah, satu bayangan Shikamaru berhasil menancap ke dada kanan Sasuke.

"Argghh!"

"Menyerahlah Sasuke! Serahkan Sakura padaku," ucap Shikamaru.

"J-jangan konyol… aku tidak akan menyerahkannya padamua!" jawab Sasuke menahan sakit. Dengan tanpa belas kasihan, Shikamaru mencabut bayangannya itu dari dada Sasuke sehingga Sasuke merintih kesakitan.

"Aakkhh!"

Shikamaru berjalan kearah Sasuke yang sedang setengah berlutut menahan sakit itu, "Nyawamu akan selamat kalau kau menyerahkannya."

"Sampai mati… aku… uhuk! Tidak akan menyerahkannyaa!" jawab Sasuke menggeram.

"Cih, kalau begitu… aku tidak akan segan," Shikamaru mengangkat satu tangannya memerintah bayangannya untuk menyerang Sasuke dari atas. meluncurlah seluruh bayangannya itu pada Sasuke.

JRAAASSS!

.

.

.

Di tempat lain, seorang gadis berambut panjang ini sedang melamun di tepi jendela, sebuah apartemen yang kosong, memandangi pemandangan jalanan yang terlihat dari sisi itu, ditemani oleh sosok seoarang pemuda yang mengenakan seragam sekolahnya, perlahan gadis yang bernama Shion itu menatap pemuda disampingnya yang merupakan adik dari Sakura Haruno sedang berdiri disampingnya dengan tatapan kosong. Shion menempelkan telapak tangannya pada wajah Konohamaru, sehingga dia tersadar dari hipnotisnya.

"Hah? Dimana ini?" ucap Konohamaru yang bingung, dan begitu melihat kearah Shion, "Haaa? Siapa kamu?"

Shion tidak menjawab, dia kembali duduk di tepi jendela dengan ekspresinya yang sedikit pilu.

"Ah, m-maaf…" Konohamaru menatap gadis itu dengan sedikit penasaran, karena ekspresinya yang begitu pilu, seperti sedang menahan rasa sakit didalam tubuhnya, dan tiba-tiba Konohamaru melihat Shion mengeluarkan air matanya.

"Haaa, k-kamu kenapa?" tanya Konohamaru.

Shion memejamkan matanya, berlari memeluk kearah Konohamaru dan itu membuat Konohamaru bingung sekaligus malu, bisa dirasakan kesedihan Shion saat dia memeluk Konohamaru.

"Aku… semua yang berharga bagiku telah direbutnya~ dari dulu hingga sekarang! Aku benci!" gumam Shion.

Benci?
Benci pada siapa?

Konohamaru bahkan tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

"Aku benci pada Goddess! Aku benci pada Sakura!" teriak Shion yang membuat Konohamaru tercengang mendengarnya.

"Kakak? Apa yang telah kakak lakukan?" tanya Konohamaru mencengram kedua lengan Shion.

"Dia… kakakmu! Dari dulu hingga sekarang sudah merebut tunanganku! Belphegor maupun Sasuke! Semua direbut olehnya!" jawab Shion dengan emosi dan air mata yang berlinang,"Aku… aku kesepian~"

Melihat ada seorang gadis yang menangis begitu dihadapannya tentu saja membuat Konohamaru sedikit kasihan, Konohamaru kembali memeluk Shion berusaha menenangkan gadis itu.

"Kakak? Masa sih kakak begitu?" pikir Konohamaru.

.

.

.

Shikamaru yang sedang berdiri diantara bayangan-bayangannya yang menumpuk di satu titik itu menajamkan penglihatannya, dan benar saja, tidak ada siapa-siapa disitu… Sasuke… menghilang.

.

.

Saat sedang menyantap makan siang di kediaman Hatake, Sakura dan Rin langsung cocok satu sama lain, mereka membicarakan semua tentang hal wanita, sampai percakapan itu terhenti ketika melihat tiba-tiba ada sosok yang muncul dihadapan mereka semua.

BRUUK.

Langsung saja mata Sakura terbelalak melihat sosok yang sudah babak belur itu, Sakura langsung bangkit dan menghampiri sosok itu dengan wajah dan nada khawatirnya.

"Sasukeee! Astaga, kamu kenapaa?" tanya Sakura memegangi tubuh Sasuke yang lunglai.

"Ukh! Shika… maru," ucap Sasuke terputus-putus, dia memegangi lengan Sakura dan menjatuhkan dirinya diperut Sakura.

"Sasuke!" Sakura memeluk laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca.

"Rin, siapkan futon dan obat-obatan," suruh Kakashi.

"Baik," jawab Rin yang langsung beranjak menyiapkan semua yang diperlukan.

Sesudah menyiapkan semuanya, Kakashi menggotong Sasuke dan meletakkannya diatas Futon, diobati dan dibersihkannya luka yang dialami Sasuke itu dan diperbani tubuh Sasuke yang sudah penuh dengan goresan luka.

"Pertolongan pertama sudah selesai, selanjutnya kau yang merawatnya, Sakura," ucap Kakashi.

Sakura mengangguk mengiyakan perkataan Kakashi, setelah selesai mengobati Sasuke, Kakashi dan Rin meninggalkan Sakura untuk merawat Sasuke disitu. Sakura memperhatikan laki-laki yang pernyataan cintanya belum sempat dia jawab, Sakura menggenggam tangan Sasuke dan ditempelkannya ke keningnya, sambil menangis… Sakura mencium punggung tangan Sasuke.

Saat Sakura menempelkan ke pipinya, dia merasa jemari Sasuke bergerak dan mengelus pipinya lalu menghapus air matanya.

"Sudah berapa kali kubilang… kalau menangis kau itu jelek," gumam Sasuke yang tersadar.

"Hu..huuhuuu…hiks…hiks… Sa…suke~ syukurlah..~ kau sadar~" ucap Sakura yang bersujud disamping pria itu sambil memeluk pelan tubuh Sasuke yang sedang terluka.

"Aku tidak akan mati semudah itu," ujar Sasuke.

"Sebenarnya… hiks… ada apa? Hiks… kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Sakura ditengah-tengah tangisnya.

"…" Sasuke terdiam, mengelus kepala Sakura yang sedang mendekat dismapingnya itu. Karena tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Sasuke, Sakura mengangkat wajahnya dan menatap Sasuke.

"Katakan padaku," pinta Sakura.

"Aku…" Sasuke sempat ragu, namun dia tidak mau berbohong pada Sakura, "Aku bertarung dengan Shikamaru."

"SHIKAMARU!" ucap Sakura kaget.

"Yah… pandangannya sedang gelap saat ini, dia menginginkanmu agar bisa ditukarkan oleh jiwa Ino" lanjut Sasuke.

"…." Sakura terdiam, kini dia mulai merasa bersalah, karena gara-gara dia Sasuke menjadi seperti ini. Sasuke menoleh pada Sakura yang sedang berwajah mesem.

"Jangan berfikiran yang aneh-aneh!" tegur Sasuke yang seolah tahu jalan pikiran Sakura, "Aku begini bukan gara-gara kamu."

"Tapi…"

"Sakura, sejak kapan kau jadi lemah begini? Kemana Sakura yang egois dan selalu menentangku itu?" ujar Sasuke sambil tersenyum lembut pada gadis yang sangat dia cinati itu.

Walaupun pernyataan cinta Sasuke belum dijawab, tapi Sasuke sudah bisa merasakan jawaban itu dari perlakuan Sakura padanya, tatapan Sakura padanya, dan cara Sakura memanggil namanya yang terkesan lembut itu.

"Hei, Sakura…" Panggil Sasuke yang mencoba untuk duduk.

"Sasuke! Kata Kakashi kau harus tiduran!" cegah Sakura berusaha menidurkan tubuh Sasuke kembali, namun usahanya gagal, walau sedang terluka tenaga Sasuke masih saja lebih kuat dari tenaga Sakura.

Sasuke menggenggan tangan Sakura dan menatap gadis itu dalam-dalam, "Apa kau mencintaiku?"

"…." Sakura diam terkejut dengan pertanyaan yang terlontar secara tiba-tiba itu dari mulut Sasuke.

"Tidak yah?" Sasuke menebak dengan wajah tersenyum.

"B-Bukan! Aku… aku mencintaimu kok," jawab Sakura, dia tidak mau Sasuke salah tanggap akan reaksinya itu, "Aku hanya kaget, tiba-tiba kau menanyakan itu sekarang."

Sasuke tersenyum melihat wajah Sakura yang gugup dan merona itu, perlahan disentuhnya pipi Sakura yang makin tambah merona itu, lalu pindah kebelakang leher gadis itu dan perlahan menariknya mendekatkan wajah Sakura pada wajah Sasuke. Sakura hanya diam ketika Sasuke menarik kepalanya begitu, sampai Sasuke menempelkan bibirnya pada Sakura, gadis itu menutup matanya menahan rasa malu karena ini pertama kalinya dia berciuman dengan seseorang.

Sasuke makin mendekap Sakura pada dirinya, dia sudah tidak perduli lagi bahwa tubuhnya sedang terluka, karena saat ini Sasuke sedang menikmati suasana yang sangat dia inginkan dari dulu, tanpa Sakura sadari… kini tubuhnya sedang berada dibawah Sasuke, dan Sasuke sendiri telah keluar dari futonnya?

"S-Sasuke… kau sedang sakit… n-nanti luka-lukamu-" ucapan Sakura terpotong karena bibirnya telah dikunci oleh bibir Sasuke.

Sepertinya Sakura tahu bahwa Sasuke sedang tidak memperdulikan lukanya, dan Sakura sendiri bukannya tidak mau menolak hanya saja Sakura tidak bisa menolaknya, jujur gadis itu sedang menikmati perlakuan Sasuke saat ini, bisa dia rasakan kasih sayang dari tiap-tiap sentuhan laki-laki itu, Sasuke terus mencium Sakura sembari tangannya mengelus atas kepala gadis itu dan berkali-kali mengucapkan kalau Sasuke sangat menyayangi Sakura, kondisi itu terus berlanjut sampai…

SREEEEG.

"Sasuke, ada yang ingin kubi-" Kakashi datang dengan waktu yang sangat amat tidak tepat! "Maaf, silahkan lanjutkan."

"Hyahaha! T-tidak! Kakashi, silahkan masuk, ini kan rumahmu, hahahaha…" cegah Sakura yang langsung bangkit dari bawah Sasuke itu dengan gugup.

"Cih! Mengganggu saja!" gumam Sasuke dalam hatinya.

.

.

"Tsunade," panggil seorang laki-laki berambut putih berdiri dibelakangnya, "apa keputusanmu itu sudah bulat?"

"Apa? Tentang apa?" tanya balik Tsunade dengan nada keras.

"Tentang Sakura, apa benar kau akan membunuhnya?"

Tsunade terdiam, biasanya seorang Tsunade kalau ditanya seperti itu akan langsung menjawab, baik jawaban itu bohong ataupun benar, tapi kalau yang bertanya adalah dia, laki-laki yang dicintainya, dia tidak bisa berbohong.

"Tentu saja tidak, mana mungkin aku tega," jawab Tsunade pelan, "Tapi aku harus bagaimana lagi? Kekuatan Sakura itu sangat bahaya… kalau saja ada cara untuk menghilangkan kekuatan itu tanpa harus membunuhnya."

"…" Jiraiya terdiam, benar apa yang dikatakan Tsunade, tidak mungkin kan mereka memilih keselamatan satu orang dibandingkan keselamatan seribu orang?

Ketika waktu habis untuk berfikir, terlintas ide cemerlang di otak Jiraiya.

"Tsunade!" teriak Jiraiya, "A-aku tahu! Aku tahu apa yang harus kita lakukan!"

"Apa?"

"Simple, kita tinggal melatih Sakura saja agar dia bisa mengontrol kekuatannya," jawab Jiraiya dengan semangat.

"….."

"Ya kan? Kalau dia bisa mengontrol kekuatannya, kita tidak harus membunuhnya, bahkan pihak kita bisa jadi lebih kuat untuk melawan Akatsuki itu," lanjut Jiraiya.

Tsunade menghampiri Jiraiya dan menepuk kedua punggungnya, "Kau sangat jenius! Hahahahahaha… baiklah, kita kumpulkan pelatih untuk melatih Sakura."

"Tidak perlu," tolak Jiraiya, "Kita cukup membutuhkan orang itu."

"Tapi, kita tidak bisa melacak dimana dia berada," ujar Tsunade sedikit putus asa.

"Kau lupa kekuatanku? Aku kan bisa telephati dengan siapapun," ucap Jiraiya menyeringai.

.

.

Sakura berjalan ketaman megah yang berada dibelakang rumah tradisional itu, terdapat tempat duduk yang sepi disana membuat Sakura ingin menyendiri ditempat tersebut, dihampirinya tempat itu dan mulailah Sakura merenung.

"Hhhhhhh."

Berawal dari desahannya yang panjang, Sakura memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah ini tanpa harus membuat ada yang terluka lagi selain Sasuke, sampai ada suara yang membuyarkan lamunannya.

"Sakura."

Sakura menoleh pada arah suara itu.

"Itachi…"

"Sedang apa disini sendiri?" tanya Itachi menghampiri Sakura dan duduk disebelahnya.

"Hehehe, aku merasa nyaman kalau disini," jawab Sakura.

"Begitu, bagaimana keadaan Sasuke?" tanya Itachi basa-basi.

"Memangnya kau belum bertemu dengannya?"

"Tadi sih aku ingin melihatnya, hanya saja sepertinya dia sedang melakukan sesuatu yang sangat serius bersama kekasihnya," sindir Itachi dengan nada bercanda yang membuat Sakura makin memerah wajahnya.

"Ahahahhaa, tidak usah malu begitu," ucap Itachi menepuk punggung Sakura, "Aku mengharapkan kebahagiaan kalian, tapi klau dia membuatmu menderita atau menangis, aku tidak akan segan-segan merebutmu darinya."

Sakura tersenyum lembut pada Itachi, "Terima kasih yah, Itachi."

.

.

.

Sosok wanita berambut biru sedang memandangi sebuah bola kristal yang mengapung diatas obor yang tidak berapi itu, perlahan tatapan wanita itu terlihat memilukan, tatapannya kemudian membuyar ketika sesorang menepuk punggungnya.

"Ada apa?" tanya laki-laki berambut orange.

"Yahiko… apa sebaiknya kita kembalikan saja jiwa ini?" usul wanita yang bernama Konan itu dan juga kekasih laki-laki tersebut, "Jiwa ini tidak ada hubungannya kan dengan tujuanmu?"

"Tapi aku membutuhkannya untuk memancing wanita itu agar dia mau membantuku," ucap Yahiko sembari mengelus rambut kekasihnya itu.

"Tapi…"

"Konan," potong Yahiko, "Kau tidak mendukungku? Apa kau lupa masa lalumu yang sangat menyakitkan itu? Bukankah kita berdua berjanji akan menciptakan dunia baru yang hanya dihuni oleh orang-orang terpilih saja?"

"Iya… aku mendukungmu, aku juga tahu… kau melakukan ini semua untukku, hanya saja… aku merasa jiwa ini sedang memendam rasa kesedihan dan rasa bersalah," jelas Konan sambil memejamkan matanya.

Laki-laki yang bernama Yahiko itu memeluk wanitanya dengan erat, "Kau hanya terlalu lelah, istirahatlah."

.

.

Ditempat lain, kini adik Sakura sedang mengalami dilema yang sangat besar, disatu sisi dia ingin sekali mencari kakaknya yang terpisah darinya, namun di sisi lain dia tidak bisa pergi meninggalkan gadis bernama Shion ini sendirian, karena saat ini Shion sedang terkena demam tinggi dan terus-terusan menggigil.

Konohamaru sibuk bolak-balik mengambil kompres, membuatkan bubur untuknya dan menjaga gadis itu dengan ikhlas, dia merasakan hawa kesepian pada gadis itu, setiap Konohamaru berada disamping gadis itu, Shion selalu mengigau tentang Belphegor, tidak ada henti-hentinya nama itu terlontar di bibir Shion saat Shion tidak sadar, dan air mata yang mengalir tiba-tiba, entah karena suhu badannya yang panas, atau memang Shion menangis?

Melihat kondisi Shion yang seperti ini, hati Konohamaru tergerak untuk menolongnya.

"Shion… apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Konohamaru sambil menggenggam tangan Shion.

Shion membuka matanya perlahan dan menjawab…

"Pisahkan…" rintih Shion ditengah-tengah mengigilnya tubuh itu, "Pisahkan… Sakura dan… Sasuke…"

Konohamaru terdiam, mana bisa dia lakukan hal itu pada kakaknya sendiri, walaupun dia tidak suka melihat kakaknya direbut oleh laki-laki lain, namun tetap saja kalau memisahkan mereka, itu sama saja Konohamaru membuat kakaknya menjadi sedih.

"Aku…"

Ucapan Konohamaru terpotong dengan tindakan Shion yang luar biasa membuat Konohamaru terkejut, Shion mencium bibir Konohamaru dengan sangat agresif. Saat ciuman itu dilepas.

"Kau mau kan… membantuku?"

Konohamaru wajahnya memerah pekat saat Shion menatapnya dengan wajah memohon.

"I-iya," jawab Konohamaru, entah tanpa dia sadari atau tidak.

.

.

Setelah semua dipanggil oleh Kakashi untuk berkunpul diruangan dimana Sasuke sedang terbaring, dimulailah percakapan yang akan menentukan nasib Sakura kedepannya, Jiraiya sudah melakukan telephati pada Kakashi tentang rencananya dengan Tsunade tadi, dan Kakashi yang sedang bersama Sasuke tadi langsung memberi tahukannya pada Sasuke saat itu juga, atas izin dari Sasuke, Kakashi memanggil Sakura, Itachi dan juga Rin untuk berkumpul malam ini juga.

"Ada apa?" tanya Sakura yang baru datang.

"Duduklah," suruh Sasuke yang mengulurkan tangannya pada Sakura, menandakan Sakura harus duduk disampingnya.

Sakura menghampiri Sasuke dan duduk disamping kekasihnya yang masih berada diatas futon itu.

"Aku, Sasuke, Tsunade dan Jiraiya sudah memutuskan sesuatu untukmu… Sakura," ucap Kakashi.

"Hah?" tatapan Sakura berubah menjadi tatapan takut akan sesuatu, dia berfikir mereka semua memutuskan untuk membunuhnya.

"Jangan berfikir bahwa kami akan membunuhmu," tebak Sasuke sambil menyentil kening Sakura.

Sambil memegang keningnya, dia mendengarkan penjelasan Kakashi saat itu, "Aku akan membuatmu sadar akan kekuatanmu yang hebat itu, dan aku akan melatihmu supaya kau bisa mengontrolnya."

"Kekuatan apa? Aku sendiri tidak tahu," jawab Sakura.

"Kau memang belum tahu, karena kau belum merasakannya, sangat bahaya jika kau belum sadar akan kekuatanmu lalu tiba-tiba kau sangat marah dan melepaskan kekuatanmu, bisa-bisa seluruh dunia ini hancur," jelas Itachi yang tahu akan kekuatan Sakura.

"Lalu bagaimana caranya agar aku membangkitkan kekuatan ini?" tanya Sakura.

"Itachi, dulu… bagaimana cara Goddess melepaskan kekuatannya?" tanya Kakashi pada Itachi.

"Tidak, dia sendiri dulu juga tidak tahu cara melepaskannya, namun bedanya Goddess tahu bahwa dia mempunyai kekuatan itu," jawab Itachi.

"Lalu, bagaimana caranya aku melepaskan kekuatan ini dan mengontrolnya? Kalian saja tidak tahu, aku juga tidak tahu," ujar Sakura.

"Ehm, anu…" ucap Rin sedikit ragu, "Aku pernah baca disebuah cerita jaman dulu dimana ada sepasang kekasih yang tinggal berdua, sang pria memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, dia tahu akan hal itu… namun dia tidak mengerti cara menggunakannya, suatu hari… sepasang kekasih itu melakukan hubungan intim, dan setelah itu sang pria pun tiba-tiba bisa mengeluarkan kekuatannya, tapi…"

Rin menghentikan ceritanya seakan ragu untuk melanjutkannya.

"Lanjutkan saja," ucap Kakashi.

"Yah… karena pria itu tadinya sedang mencoba-coba mengeluarkan tenaga dalamnya, tanpa dia sadari kekuatan yang sangat besar keluar dari tubuhnya, karena dia belum bisa mengontrolnya… kekuatan itu menyerang kekasihnya sendiri," Lanjut Rin, "Sehingga menyebabkan kekasihnya itu mati."

Keheningan tercipta saat selesainya Rin bercerita tentang cerita yang mengenaskan itu, namun Kakashi tidak mau lagi membuang-buang waktunya.

"Hhhmm, dengan kata lain itu seperti melepas segel yah, oke... Kalau begitu kita coba saja teori itu," usul Kakashi.

"E-eh?" Sakura sedikit gagap mendengar usul yang asal diucapkan Kakashi.

"Maksudnya?" tanya Sasuke yang kebingungan.

"Tunggu sebentar, Itachi… dulu, sosok mu sebagai Daemon, apa kau pernah 'menyentuh' Goddess?" tanya Kakashi untuk memastikan cerita itu.

"Tidak, kami sama sekali tidak pernah melakukan hubungan intim, Goddess 100% murni perawan," jawab Itachi menyeringai dan sedikit melirik Sakura.

"Apa-apaan tatapanmu itu!" geram Sasuke yang langsung memeluk Sakura.

"kau itu lelet Sasuke, sudah biar aku saja yang melakukan teori itu dengan Sakura," ledek Itachi.

"Kau minta dihajar yah?" kata Sasuke yang sudah mulai kesal.

"Sudah! Sudah! Biar Sakura yang menentukan, bagaimana keputusannya," rela Kakashi.

"Keputusan apa?" tanya Sakura yang masih tidak menanggap apa yang diceritakan oleh Rin tadi.

Sakura… kau terlalu polos~

"Ehm, begini Sakura… " kata Rin yang akan menjelaskannya pelan-pelan, "Bagaimana kalau kau mencoba cara apa yang digunakan oleh sepasang kekasih di cerita tadi itu untuk melepaskan kekuatanmu?"

….

….

"HEEEHHH?"

Oke, reaksi Sakura sangat telat.

"J-Jadi… a-aku harus melakukan hubungan intim?" ulang Sakura dengan nada gugup.

"Iya," jawab Rin sambil tersenyum, "Tenang sja awalnya memang sakit, tapi lama-lama-"

"HUAAA! Hentikaan!" potong Sakura yang malu mendengarnya, "Aku harus melakukannya sama siapa?"

"PERTANYAAN BODOH!" bentak Sasuke tiba-tiba saat mendengar Sakura bertanya dengan entengnya.

"K-kenapa kamu marah?" ucap Sakura pada Sasuke yang berada disampingnya.

Jelas saja Sasuke marah, pertanyaan Sakura seolah-olah dia tidak menghargai keberadaan Sasuke disampingnya, memangnya dia mau melakukannya dengan orang lain selain Sasuke? Hei- Sasuke itu kekasihmu looh…

"Baiklah, selesai sudah percakapan kita, Sakura… kalau sudah kau lakukan itu beri tahu aku, aku akan membawamu ke tempat Tsunade untuk melatihmu," ucap Kakashi meninggalkan Sakura dan Sasuke.

"Selamat bersenang-senaaang~," goda Rin yang mengikuti Kakashi.

"Sasuke," Itachi menepuk pundak Sasuke dan membisikkan, "Beri tahu aku nanti rasanya yah."

"Grrrr! PERGI KAAU!" geram Sasuke dan Itachi berlari keluar sebelum terkena amukan Sasuke.

….

….

Diam.

Keduanya saling diam bahkan saling tidak menatap satu sama lain.

Bagaimana bisa saling menatap kalau secara dadakan mereka harus melakukan hubungan intim.

Tapi, Sakura tidak mau membuang waktunya, dipikir lagi Sasuke terluka karenanya, dan dari pada harus saling menyerahkan diri kepada musuh, melakukan hal itu adalah hal yang terbaik bagi mereka.

"Sakura?"

"Hyaaaa! S-Sasuke kau mengagetkanku."

"Bagaimana bisa kau kaget kalau aku dari tadi ada disampingmu kecuali kau sedang melamun." Ucap Sasuke.

"…."

"Kalau kau tidak siap, jangan dipaksakan," tiba-tiba Sasuke berucap.

"Eh?"

"Karena… jujur saja, sangat bohong kalau dibilang aku tidak mau melakukan itu denganmu, tapi tidak ada artinya kalau melakukan itu dengan keinginan sepihak," jelas Sasuke.

"Tidak! Bukan begitu…" ucap Sakura sedikit tidak enak pada Sasuke yang berfikir bahwa Sakura tidak mau, "Aku-… hanya gugup."

Sakura menahan wajah merahnya setengah mati, perasaan gugup yang aneh ini melanda diri kedua orang itu, Sasuke tersenyum lembut dan langsung memeluk Sakura. Direnggangkannya pelukan itu lalu secara alami mereka melakukan ciuman lembut satu sama lain, Sasuke membaringkan Sakura diatas futonnya dan sedikit membelai lengan Sakura dengan lembut, ciuman tadi menjalar keleher Sakura yang membuat Sakura mengeluarkan suara aneh menurutnya, namun terdengar indah bagi Sasuke, kini aktifitas mereka berlanjut sampai teori itu selesai.

.

.

.

Disamping itu, sosok seorang laki-laki beramut pirang menemui seseorang disebuah taman kota yang terlihat sepi, dan disitu ada seseorang yang sepertinya sedang menunggu kehadiran sosok laki-laki berambut pirang tersebut.

"Bagaimana?" tanya laki-laki itu.

"Aku sudah mencederainya, dalam pertarungan berikutnya dia pasti akan kalah," jawab sosok itu, "Sesuai janjimu, pertarungan berikutnya, kau harus menyerahkan jiwa itu padaku!"

"Tenang saja, asal kau mau bekerja sama dengan baik dengan kami, dan sesuai perjanjian, salah satu temanmu sudah kubebaskan dan telah kukirim ke markasmu," jawab laki-laki itu.

"Cih! Mereepotkan!"


A/N : masih pendek kah? atau masih ada typo bertebaran? maafkan saya yaah kalau begitu... =_=

ada yang mau ditanyain? aku g bisa ngirim message ke anonymous reviewer, maaf yah... karena mau dijawab lewat apa? hehehee...

makasih untuk semua para readers yaaah...

mind to review again?

xoxo