The Chosen One

Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto

Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort

Rated: T

Saat sedang berjalan menelusuri markas, Hinata Hyuuga dan Uzumaki Naruto, sepasang kekasih yang sedang berbincang-bincang sambil membawa beberapa dokumen itu terlihat sangat muram wajahnya, bagaimana tidak… Naruto sangat memikirkan bagaimana kondisi sahabatnya saat ini, hal ini tentu saja memuat Hinata juga khawatir akan kekasihnya itu. Hinata terus-terusan memandangi wajah Naruto yang kadang terlihat layu, sampai dia melihat sesuatu, sosok yang terbaring tak berdaya di lobby, sosok yang sangat dia kenal.

"Kak Neji!" teriak Hinata langsung berlari ke arah sosok Neji yang sedang terbaring itu, Naruto yang menyadari aksi kekasihnya itu juga mengikutinya dari belakang.

Dengan inisiatif Naruto mengangkat Neji dan memberikan beberapa dokumen pada Hinata lalu membawa Neji ke ruang pemeriksaan untuk diperiksa oleh Tsunade.

Setelah dibawanya Neji ke ruangan itu dan Tsunade selesai memeriksanya.

"Dia tidak apa-apa, tidak ada luka maupun cedera, dia hanya kekurangan tenaga hingga lemas, Hinata siapkan Neji makanan yang mengandung banyak energi," ucap Tsunade.

"B-Baik," Hinata pun bergegas menyiapkan apa yang diperintahkan oleh Tsunade.

"Kenapa dia bisa berada disini? Bukankah dirinya sedang di sandera Akatsuki? Lalu mana Tenten?" tanya Kiba.

"Simpan pertanyaanmu itu nanti Kiba!" tegur Tsunade.

.

.

.

Cerahnya pagi hari yang kini mulai mendukung suasana hati, sinar mentari yang menyelimuti suasana rumah tradisional yang megah itu membuat pemilik mata emerald terbangun dari tidurnya, perlahan dia buka matanya dan akhirnya terbangun.

"Ngh...~" gadis… ehm, wanita yang bernama Sakura itu kini merenggangkan tubuhnya, saat dia merasakan ada seseorang disampingnya.

"S-Sasuke? Kenapa ada disini?" teriak Sakura terkejut dan tentu saja suaranya itu membuat Sasuke terbangun.

"Ehmm~ berisik sekali," gumam Sasuke setengah sadar.

Sakura hanya terdiam, dia melihat tubuh Sasuke yang telanjang dada, dan dirinya yang tidak memakai apa-apa juga, ya Tuhan, dia tidak berani mencari tahu lebih lanjut apakah Sasuke juga seperti dia, tapi ingatannya tentang tadi malam meyakinkan dirinya, kalau mereka berdua benar-benar tidak memakai apa-apa.

"Y-Ya ampun… aku dan Sasuke? Kenapa bisa? T-tunggu… apa ini mimpi?" pikir Sakura yang bergejolak.

Untuk memastikan ini mimpi atau bukan, Sakura mencubit pipinya sendiri, dan itu terasa sakit, karena belum terlalu yakin akhirnya dia mencubit pipi Sasuke, dan itu membuat Sasuke terbangun.

"Hehehe, maaf yah, aku pikir ini mimpi," ucap Sakura terkekeh saat Sasuke melihatnya dengan tatapan sebal karena telah dibangunkan.

"Aku lelah Sakura, apa kau tidak ingat tadi malam kita hampir mencapai 5 ronde," ujar Sasuke sambil memeluk tubuh Sakura dan menenggelamkan kepalanya di perut Sakura yang sedang duduk.

"A-APA? Bohong! Mana mungkin aku kuat selama itu!" bantah Sakura.

"Buat apa aku bohong, lagi pula kau juga tidak keberatan kok tadi malam, malah kau terus-terusan meminta lagi," ledek Sasuke.

"J-jangan bercanda Sasuke!," tangis Sakura yang merasa malu.

"Kau lupa? lupa saat pertama kalimu denganku? Kau sangat jahat," ucap Sasuke dengan nada sedih.

"B-bukannya lupa… aku hanya malu mengingatnya," jawab Sakura sambil memegangi kedua pipinya yang merah.

Sasuke menyeringai dan mendekati wajahnya pada Sakura, "Kalau begitu kita lakukan sekali lagi agar kau tidak malu."

"MESUM! Kau ini sedang terluka, bisa-bisanya berkata begitu," gerutu Sakura sembari mengambil yukata-nya yang tergeletak disamping.

"Mau kemana?" tanya Sasuke yang kini tengah tengkurap.

"Kata Kakashi aku harus meemuinya saat pagi tiba," jawab Sakura.

"Ah iya aku lupa, ayo kuantar."

"Tidak usah kau tidur saja," tolak Sakura yang mencoba untuk berdiri dan…

BRUUUK

"A-apa? Kakiku lemas sekali~" rintih Sakura yang terjatuh saat mencoba untuk berdiri.

"Hahahaha, sudah kubilang aku akan mengantarmu, sudah jelas kau terlalu lelah Sakura," ucap Sasuke menyeringai usil.

"Dasar kau!"

Sasuke bergegas mengambil pakaiannya dan memakainya, dibantu oleh Sakura agar gerakannya lebih cepat, setelah selesai mereka berdua keluar kamar menuju tempat dimana Kakashi berada biasanya, Sasuke berjalan sambil merangkul Sakura dengan tujuan menopangnya agar wanita itu tidak jatuh lagi seperti tadi. Sesampainya ditempat Kakashi.

"Kakashi," panggil Sakura.

"Ah, kalian sudah bangun rupanya, duduklah," ucap Kakashi.

Sakura dan Sasuke menduduki tempat yang sudah disiapkan bantal kecil, ketika Rin datang menyiapkan minuman, Rin memperhatikan wajah Sakura yang terlihat berbeda.

"Sakura, wajahmu makin cantik yah," ujar Rin yang membuat Sakura mem-blushing.

"E-er… terima kasih," kata Sakura malu-malu.

Biasanya memang wanita yang baru pertama kali maupun setelah habis melakukan hubungan intim, aura mereka makin cantik.

"Jadi, bagaimana Sasuke? Apa dia hebat?" bisik Rin mendekat ke Sakura.

"A- d… dia," Rin, mana bisa Sakura menceritakan pengalaman pertamanya disini?

"Bisakah kita langsung ke intinya?" sindir Kakashi yang melihat istrinya dengan pandangan bete.

"Ah iya, maaf… hehehehe."

"Jadi Sakura, mulai saat ini kau akan ikut denganku ke tempat pelatihan di tempat Tsunade, dan tentu saja Sasuke tidak boleh menemuimu dulu," jelas Kakashi.

"Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Sasuke.

"Karena kau harus berlatih bersamaku," jawab Itachi yang muncul dari belakang.

"Ingat, musuh kita kali ini bukan 1 kubu melainkan 2 kubu, kita harus waspada apa yang akan terjadi nantinya," sambung Itachi.

Sakura dan Sasuke mengangguk, menandakan mengerti situasi ini.

"Jadi, sampai kapan aku harus terpisah dengan Sasuke?" tanya Sakura.

"Itu tergantung kau bagaimana bisa mengontrol kekuatanmu, tidak hanya dengan Sasuke, kau juga tidak boleh bertemu dengan yang lain," jawab Kakashi.

"Kenapa begitu?" tanya Sakura kali ini dengan nada bingung.

"Karena bisa bahaya kalau mereka terkena seranganmu," jawab lagi oleh Kakashi.

"Tapi, kamu bisa bersama denganku," ucap Sakura yang makin bingung.

"…."

"Itu karena hanya Kakashi lah yang memiliki barrier terkuat diantara guardian, Sakura," Rin mewakili Kakashi untuk menjawab, "Namun barrier nya tidak akan kuat untuk melindungi 1 dunia karena seranganmu, maka dari itu kekuatannya ini sangat berguna untuk melatihmu di ruangan special itu."

"Ruangan special?"

"Ah, ruangan itu," ucap Sasuke yang tahu maksud dari ucapan Rin.

"Kau tahu Sasuke?" kata Itachi.

"Ya, ruangan itu… hanya Tsunade yang dapat membukanya… apa yah, ruangan itu seperti memiliki dimensi lain," ujar Sasuke sambil memegang dagunya.

"Begitu," gumam Sakura.

"Nah, bisa kita berangkat sekarang?" ucap Kakashi.

"Ya," jawab Sakura dengan mantap.

.

.

.

Hinata menunggui sepupunya itu disamping tempat tidur dimana seorang Neji sedang terbaring memejamkan matanya, dengan terus berdoa dan ditemani oleh kekasihnya, Naruto. Sesekali Naruto mengecup pucuk kepala Hinata agar gadis itu bisa sedikit tenang.

"Ngh~" geram Neji pelan.

"Kak Neji!" sahut Hinata berdiri untuk melihat keadaan Neji lebih detail.

Perlahan Neji membuka matanya.

"H-Hinata?"

Hinata tersenyum lebar dan memeluk sepupunya itu sambil menangis, "Syukurlaah~ huhuuhuu."

Dengan pandangan bingung Neji menatap Naruto yang berdiri dibelakang Hinata. Naruto tersenyum dan berkata, "Kau tidak sadar seharian."

Neji sendiri bingung, seingatnya dia sedang berada diruangan gelap dan seluruh tubuhnya diikat oleh rantai baja yang keras, tapi kenapa dia bisa berada disini?

"Kenapa kau bisa kembali? Mana Tenten?" tanya Naruto pelan.

"Aku… tidak tahu…" jawab Neji yang masih bingung, "aku sendiri bingung kenapa bisa ada disini…"

"Hinata, bagaimana kalau kau laporkan dulu pada Tsunade," usul Naruto sambil membelai kekasihnya itu.

"I-iya," Hinata beranjak dan pergi meninggalkan Naruto dan Neji diruangan itu.

"Apa mereka kuat?" tanya Naruto serius.

"Sangat," jawab Neji, "Mana Shikamaru?"

"Tidak tahu, sejak jiwa Ino hilang, dia jarang kesini," jawab Naruto.

"Jiwa Ino? Apa maksudmu?" ucap Neji tersentak kaget.

"Ya, bersamaan dengan di sanderanya dirimu dan Tenten, jiwa Ino pun diambil oleh orang yang bernama Hidan itu," jelas Naruto.

"Sialan! Aku pasti akan mengambilnya kembali!" geram Neji.

.

.

.

Disamping itu Konohamaru sedang termenung memikirkan kata-kata Shion yang menceritakan hal-hal buruk tentang Sakura, dia sangat ragu untuk percaya, karena setahunya Sakura tidak mungkin sejahat itu, kalaupun Shion bilang Sakura merebut Sasuke dari dirinya, dilihat dari dulu… Sasuke lah yang tergila-gila pada Sakura.

Namun Konohamaru sedang dilemma, antara kakaknya dengan Shion… gadis yang kini mulai dia cintai itu, selama bersama Shion, Konohamaru melihat sisi lembut Shion, terkadang gadis itu menangis sendiri dalam sepinya, kadang bersikap lembut pada Konohamaru, tapi rasa dendam di tubuh Shion tidak bisa dipadamkan, dia sangat dendam pada Sakura yang merupakan reinkarnasi dari Goddess itu.

.

.

.

Kini beralih pada Kiba yang sedang berjalan menuju suatu tempat yang sunyi sepi, seperti sedang menunggu orang, Kiba menyenderkan tubuhnya di pohon besar, sampai muncul suara yang membuatnya kembali bangkit dari senderannya itu.

"Hahaha, muncul juga kau," ucap suara yang terdengar tengil itu.

"Seorang pria tidak boleh mengabaikan janjinya,' ujar Kiba, "langsung saja ke intinya."

"Baiklah, segitu ingin duelnya kah kau denganku?"

"Kalau aku menang, serahkan kedua temanku!" ucap Kiba pada pemuda berambut pirang dikuncir kuda itu.

"Kalau kau kalah, katakan padaku dimana Sakura, dan apa kelemahan Sasuke," ucap laki-laki bernama Deidara itu.

"Coba saja kalahkan aku," kata Kiba yang langsung membuka jaketnya lalu menyerang Deidara dengan cepat.

Saling menyerang, menghantam, dan menahan satu sama lain dengan kekuatan yang dahsyat, saat ini Kiba benar-benar serius dengan pertarungan yang mempertaruhkan teman-temannya.

Namun Deidara jauh lebih kuat dari yang Kiba bayangkan, Deidara memiliki senjata yang bisa dipakai dalam jarak jauh, yaitu segumpal tanah liat yang bisa diledakan, sedangkan Kiba? Dia hanya mengandalkan kukunya yang bisa memanjang dan sangat panjang itu sehingga dia hanya bisa bertarung dengan jarak dekat.

Tidak sekecilpun luka yang didapat oleh Deidara, namun Kiba sudah mendapatkan beberapa tubuhnya yang lecet akibat dari serangan Deidara itu.

"Cih! Kekuatanku… apa tidak seimbang dengannya?" gumam Kiba kesal.

Deidara tersenyum puas melihat keadaan lawannya yang kini sedang ngos-ngosan.

"Ada apa? Mulai sadar kalau kekuatanmu tidak sepadan denganku?" hina Deidara pada Kiba.

Kiba terus memutar otaknya agar bisa mengalahkan manusia kuning satu itu, tapi bagaimana? Dia tidak mempunyai senjata yang bisa dipakai untuk menyerang Deidara dalam jarak yang lumayan jauh, setiap Kiba hendak mendekati Deidara, tanah liatnya itu pasti menghalangi langkahnya dengan cepat.

"Ah!" terlintas ide yang konyol dikepala Kiba dan itu membuat dirinya tersenyum.

"Heh, senyuman menjelang kematian yah?" ucap Deidara.

"Bersiaplah!" geram Kiba, "Hiaaaaahhh!"

Kiba berlari merapatkan semua kuku-kukunya yang makin mengeras dan memanjang itu, dia melompat kearah Deidara yang kini dihadapan orang itu terdapat gumpalan tanah liat untuk dijadikan tameng, namun Kiba nekat, dia tahu kalau dia menyentuh tanah liat itu, benda tersebut akan meledak seketika, diterobosnya tanah liat itu memakai tangan kiri sehingga terjadi ledakan yang cukup besar dan terlihatlah akses jalan untuk menyerang Deidara.

Kiba mengambil kesempatan itu dengan menyerang Deidara memakai tangan kanannya yang juga terpenuhi oleh kuku-kuku tajamnya.

JRESSS.

Tubuh Deidara sukses ditusuk oleh tangan Kiba tepat dijantungnya.

"U-ukh…"

"Hah… hah… hah… ugh!"

Deidara dan Kiba sama-sama merintih, Kiba mencabut tangannya dari dalam tubuh Deidara dan menatap tangan kirinya yang kini buntung akibat ledakan tadi, Kiba jatuh karena kehabisan banyak darah, kesadarannya tidak normal saat ini, dan begitu dia menatap tubuh Deidara…

DUAAARRR

Tubuh Deidara hancur berkeping-keping akibat ledakan yang dia timbulkan sendiri, sepertinya Deidara memilih untuk mati bunuh diri dari pada harus kalah oleh Kiba.

"Ukh!" dan akhirnya Kiba pun jatuh tak sadarkan diri.

Seseorang yang dari tadi memperhatikan pertarungan itu kini menghampiri tubuh Kiba dan mengangkat membawanya pergi dari situ.

.

.

.

"Konohamaruuuuu."

"Ya?"

"Aku bosan, apa ada berita tentang Goddess terbunuh?"

"Jaga bicaramu! Goddess itu adalah Sakura dan Sakura itu adalah kakakku," ketus Konohamaru.

"Dan dia itu adalah yang merebut semua kebahagiaanku," sambung wanita bernama Shion ini.

"Aku belum bisa percaya ceritamu itu benar atau tidak," pikir Konohamaru.

"Hei, Konohamaru," Shion menghampiri Konohamaru yang sedang duduk di sofa lalu berlutut dan memeluk lutut Konohamaru, "Kau tidak akan meninggalkanku kan?" sambung Shion dengan wajah dan nada pilu.

Konohamaru terdiam sejenak kemudian membelai kepala gadis itu, "Ya."

.

.

.

Seorang wanita berambut biru yang bernama Konan ini sedang berdiri dihadapan bola yang berisikan jiwa itu, dipandangnya dengan seksama bola itu dan disentuhnya perlahan.

"Ternyata benar, kau memendam kesedihan dan perasaan bersalah yang sangat dalam," gumam Konan seraya menghayati sentuhannya.

"Konan?" panggil suara kekasihnya itu.
"Y-Yahiko…"

"Sedang apa kamu?" tanya Yahiko menghampiri Konan yang sedikit gugup.

"Eng… aku…"

"Jangan bilang kau habis membaca jiwa itu."

Tebakan Yahiko memang sangat tepat, dan itu membuat sang kekasih termenung.

"Ada kabar buruk," ucap Yahiko mencoba mengalihkan pembicaraan, "Deidara mati."

"De-Deidara? Kenapa bisa?"

"Itu karena kecerobohannya, dan lagi… sandera kita menghilang!"

.

.

.

Shizune berjalan bolak-balik dari lorong satu ke lorong yang lain untuk menyiapkan perlengkapan Sakura dan Kakashi.

"Permisiiiii, permisiiiiii," ucap Shizune sembari membawa peralatan seperti baju-baju Sakura dan sebagainya.

"Kira-kira berapa lama yah," gumam Sakura berdiri dilorong sambil melihat Shizune dan rekan-rekan lainnya sibuk.

"Sabar saja, yang jelas begitu kau selesai, kau akan melihat perbedaan dari dalam diriku ini, aku pasti akan bertambah kuat," ucap Sasuke.

"Ya, aku juga pasti akan ikut bertarung bersama kalian," timpal Sakura.

Saat Sasuke dan Sakura sedang berbincang-bincang menunggu persiapan selesai, tiba-tiba…

"Kyaaaaaaaaaaaaaa!" suara Shizune berteriak melengking hebat yang membuat Sasuke dan Sakura berlari kearahnya, dan yang lebih hebat lagi, suasana disana… Shizune… sedang memeluk Tenten?

"Tenten?" panggil Sakura berlari menghampiri tubuh Tenten yang tidak sadarlan diri.

"Cepat bawa ke ruang kesehatan," perintah Sakura seolah meminta tolong pada Sasuke untuk mengangkatnya.

Sasuke pun memahami nada Sakura dan mengangkat tubuh Tenten, begitu dalam perjalanan menuju ruang kesehatan, tidak sengaja Neji melihat gerombolan Sasuke yang sedang membawa tubuh Tenten.

"Tenten?" gumam Neji yang langsung mengikuti mereka.

Sesampainya diruang kesehatan.

"Tenten!" panggil Neji yang baru saja memasuki ruangan itu, "Bagaimana bisa Tenten ada disini?"

"Itu dia yang ingin kami tanyakan, pertanyaan yang sama denganmu Neji," ucap Shizune yang sedang memeriksa Tenten karena saat ini Tsunade sedang berada diluar.

"Tenang saja, dia tidak apa-apa, hanya kehilangan kesadaran. Tolong siapkan makanan yang bergizi dan yang bisa memulihkan stamina, Sakura," perintah Shizune.

"Baik," jawab Sakura.

"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Sasuke heran.

"Aku juga tidak tahu, sebelumnya Neji yang tiba-tiba muncul, lalu sekarang Tenten," ucap Shizune.

"Apa selanjutnya jiwa Ino akan bebas?" tebak Sasuke.

"Ah! Mana Shikamaru? Aku tidak melihatnya beberapa hari ini," tanya Shizune.

"Aku tidak tahu, aku tidak bertemu dengannya," jawab Neji

Sasuke hanya terdiam, entah dia harus bilang atau tidak bahwa dirinya dan Shikamaru baru saja tengah bertarung dan membuat Sasuke babak belur.

Saat Sakura sedang menyiapkan makanan untuk nanti saat Tenten sadar, dia bertemu dengan Hinata dan Naruto yang sedang berjalan didepan dapur.

"Ah, Hinataa! Naruto!" panggil Sakura.

"Sakura? Kok ada disini? Bukannya kemarin-kemarin kalian diburu oleh pasukan Tsunade?" tanya Naruto bingung.

"Ceritanya panjang, ngomong-ngomong… Tenten sudah kembali," jawab Sakura dengan cepat.

"Apa? Lalu… Ino?" tanya Hinata.

"…." Sakura terdiam, mengingat Ino yang dulu hendak membunuhnya, "Ino aku tidak tahu."

"Kalau begitu ayo kita lihat Tenten," ajak Hinata.

"Tunggu dulu, Sakura… apa kau melihat Kiba?" jeda Naruto.

"Tidak lihat, ada apa?" jawab Sakura.

"Tadi pagi dia terlihat aneh, dan katanya dia ingin bertemu dengan seseorang, apa kau tidak merasa aneh?" ucap Naruto tiba-tiba yang sok menganalisis, "Pertama Neji dan Tenten dijadikan sandera, begitu Shikamaru tidak ada kabar, tiba-tiba Neji muncul, kaupun muncul disini, sekarang Kiba tidak ada kabar, Tenten lah yang muncul… Aarrghh! Ada apa sebenarnya?"

"Bukan hanya aku, Sasuke dan Kakashi juga ada disini," ujar Sakura tersenyum.

"Kakashi? Untuk apa dia disini? Tumben sekali dia mau kesini," ucap Hinata berfikir.

"Dia akan melatihku cara mengontrol kekuatanku," jawab Sakura.

"Oh, karena itu kau bisa berada disini?" tebak Naruto.

"Tepat sekali," kata Sakura tersenyum.

"Kalau begitu ayo kita lihat Tenten bersama-sama," ajak Sakura yang sudah selesai menyiapkan makanan untuk Tenten.

Dengan kekuatan Shizune, Tenten dengan cepat membuka matanya dan…

"Engh? Dimana ini?" gumam Tenten.

"Aah, akhirnya kau sadar," ucap Shizune menghela nafasnya karena lega.

"Ini di markas tempat Tsunade, kita sudah bebas," jawab Neji sembari membelai rambut Tenten yang terurai panjang.

"Markas…? Ah! Ino! Ino… kita harus merebut jiwa Ino!" ucap Tenten yang mencoba untuk beranjak.

"Jangan beranjak dulu, tubuhmu masih lemas, makanlah dulu agar staminamu pulih kembali," cegah Neji sedikit memeluk tubuh Tenten.

"Hmm, terima kasih," ucap Tenten tersipu.

"Hhhh, ya ya ya… saatnya pengganggu keluar," keluh Shizune mendorong Naruto, Sakura, Hinata dan Sasuke keluar.

.

.

.

Saat ini, Shikamaru sedang berada disebuah taman… tempat pertama kali hubungannya dan Ino terjalin, dia mengingat semua perkataan Ino, dari pertama kali Ino bilang bahwa ia menyukai Neji, namun perlahan rasa suka itu beralih pada Shikamaru, rasanya sakit sekali kalau kembali ke markas itu, karena yang bisa Shikamaru lihat adalah tubuh Ino yang pucat pasi tak berjiwa itu.

Ingin sekali rasanya menculik Sakura dan menukarkannya dengan jiwa Ino, hanya saja dia yakin Ino pasti mengutuknya jika dia lakukan hal itu. Namun setelah dipikir-pikir, kenapa saat itu Ino menyerang Sakura? Hal itulah yang terus menerus menjadi pikiran Shikamaru selama ini, ada apa sebenarnya? Bukankah Ino lah yang selama ini mati-matian membela Sakura?

"Pasti ada sesuatu dibalik ini semua," gumam Shikamaru.

"Memang," sambung suara yang sudah pasti membuat orang yang mendengarnya merasa jengkel… dia adalah Shion.

"Mau apa kau?' ketus Shikamaru.

"Hanya ingin memberi tahumu sesuatu yang menarik," ucap Shion sambil melangkahkan kakinya mendekati Shikamaru, "Memberi tahumu, gadis yang paling kau cintai itu… kenapa bisa sampai mau membunuh Goddess."

Shikamaru menoleh dan segera menampar Shion, namun dengan cekatan Konohamaru menangkisnya.

"K-kau?"

"Tidak sopan! Terhadap wanita itu kau harus bersikap lembut, pantas saja kekasihmu itu lebih memilih pengalaman pertamanya bukan denganmu, hihihii," ucap Shion terkekeh kecil.

"Apa maksudmu?"

"Hhhhhh, karena permainan sudah tidak menarik lagi, dan aku tidak menyangka kalau si Ino itu akan begini nasibnya, baiklah… aku akan memberi tahumu," ucap Shion dengan nada bosan.

"Kau tahu, aku melihat masa lalu Ino… aku melihat ekspresi dari wanita yang kau cintai itu… ekspresi saat dia bercinta dengan sahabatmu sendiri," ujar Shion yang membuat mata Shikamaru terbelalak lebar.

"M-maksudmu…"

"Ya, aku mengancamnya akan memberi tahumu tentang hal itu kalau dia tidak membunuh Sakura, tapi ternyata nasibnya jadi begini, mati tidak hidup-pun tidak," ejek Shion, "aku yakin jiwanya sekarang sedang dalam dilanda kesedihan dan merasa sangat bersalah."

"Diam kau, wanita jalang!" bentak Shikamaru.

"Ah! Kasar sekali bicaramu, Konohamaru… ayo kita pergi," ajak Shion meninggalkan Shikamaru yang sedang shock terpuruk.

Perkataan Shion pun terngiang dikepalanya 'ekspresi saat dia bercinta dengan sahabatmu sendiri.'

"Sial!" gerutu Shikamaru mengepalkan telapak tangannya, "Sial! Sial! Sial!"

.

.

.

Sesudah mereka menjenguk Tenten, Sakura hendak mengunjungi kamar dimana tubuh Ino tergeletak disana, namun saat Sakura memasuki kamar itu.

"Sasukeeeeeeeeee!" teriak Sakura yang menyebabkan semua mendengar teriakannya itu.

"Ada apa Sakura?" tanya Sasuke yang menghampiri Sakura yang sedang menangis.

"I-Ino… tubuh Ino menghilang!" ucap Sakura.

"Apa? Gawat, hei siapa terakhir kali menjaga kamar ini?" tanya Sasuke dengan nada tegas dan kencang pada para pengawal.

"Ehm tidak tahu, saat terakhir aku kesini sepertinya aku masih melihat tubuh Nona Ino," jawab salah satu pengawal yang lewat.

"Cih! Apa lagi sih sekarang!" gerutu Naruto.

.

.

.

"Bos, kami sudah membawanya," ucap laki-laki berambut silver.

"Bagus, sekarang satukan jiwa ini didalam tubuhnya," perintah sosok laki-laki berambut orange.

"Baik."

Saat proses pengembalian jiwa pada tubuhnya, seluruh makhluk yang berada di ruangan itu menutup matanya dan mengucapkan sebuah mantera, melayanglah bola jiwa yang selalu Konan pandangi itu dan perlahan memasuki tubuh sosok wanita berambut pirang yang cantik. Setelah proses itu selesai.

"Dia belum bisa sadar, tubuhnya harus membiasakan diri dulu," ucap laki-laki bernama Hidan itu.

"Aku keluar sebentar," ucap laki-laki berambut merah.

"Tidak memberi laporan pada sahabatmu kan, Sasori," putus Yahiko saat Sasori hendak melangkahkan kaki keluar pintu.

"Tenang saja, tingkat kepengkhianatanku tidak setinggi itu kok," jawab Sasori datar.

"Yahiko…" panggil Konan lembut, "Bolehkan aku merawatnya?"

Yahiko terdiam, buat apa Konan merawat tubuh Ino yang tidak ada hubungannya dengan masalah mereka ini, toh Yahiko memerintahkan Hidan untuk menculik tubuh Ino agar wanita ini bisa digunakan sebagai senjata untuk melawan Sakura atau Goddess nantinya. Dengan berat hati, Yahiko menjawab… "Ya, boleh," kalau saja Yahiko tidak mencintai Konan, dia pasti sudah melarangnya.

Saat semua sudah pergi dari ruangan itu, Konan berjalan menghampiri tubuh Ino yang tertidur itu.

"Sekarang kau sudah kembali ketubuhmu, apa kau masih merasa sedih?" tanya Konan dengan lembut.

.

.

.

"Sekarang harus bagaimana?"

"Bagaimana kalau Shikamaru sampai tahu?"

"Bisa-bisa dia mengamuk disini."

"Lagipula ke mana sih Shikamaru itu?"

"Kiba juga, aku tidak melihatnya!"

Itulah yang terdengar di ruangan yang baru saja ramai karena menghilangnya tubuh Ino.

"Kita berhasil dibuat bingung," ucap Sasuke kesal.

"Sakura, kita tidak punya banyak waktu lagi, ayo segera kita mulai," ajak Kakashi.

"Baik," jawab Sakura yang berjalan mengikuti langkah Kakashi, sebelum benar-benar meninggalkan Sasuke, lengan Sakura ditarik oleh Sasuke dan diciumnya bibir lembut itu dengan sangat lembut, "Sampai bertemu lagi."

Sakura tersenyum pada kekasihnya itu, "Ya, sampai bertemu lagi."

"Sasuke," panggil seseorang dengan wajah yang sedikit mirip dengannya, "Kita juga harus memulainya, Kabuto dan aku sudah menyiapkan keperluan kita."

"Baiklah," jawab Sasuke dengan mentap pada kakaknya itu.

Namun sebelum Sasuke pergi.

"Sasuke!"

Suara itu…

Membuat semua yang akan pergi ke tujuannya masing-masing menghentikan langkahnya dan menoleh kearah laki-laki yang sudah berhari-hari tidak ada kabarnya itu.

"Shikamaru," gumam Sasuke.

.

.

.

"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Konohamaru pada Shion yang sedang duduk di tepi jendela.

"Tentu saja agar mereka saling berkelahi satu sama lain, lagipula aku tidak bohong kok, kalau aku tadi bohong, kenapa Ino mau menuruti perintahku? Kalau memang dia tidak pernah bercinta dengan sahabat kekasihnya itu," jawab Shion dengan ketus.

"Kau hanya iri dengan kebersamaan mereka kan?" tebak Konohamaru.

"Jangan bercanda! Aku mana mungkin iri dengan mereka! Jaga bicaramu!"

BRAAAK

Shion kembali ke kamarnya sambil membanting pintu dengan keras.

"Dasar wanita!"


A/N : waaah, maaf banget yah aku sangat telat updatenya T.T

ada masalah pribadi soalnya yang ngebuat hasrat untuk nulispun turun... doain masalahku cepet selsai yah temen-temen FFN... :(

oh iya, banyak yang nanyain kenapa membuka segel dengan cara 'itu', aku ngambil idenya tuh di komik apaaa gitu namanya sangat amat lupa, itu aku baca pas sma... aduh aku lupa bgt deh, ceritanya ya gitu, seperti apa yang Rin ceritain... agak bodoh yah, tapi mau gimana lagi, hehehehe...

makasih yah udah mau review, ada yang mau ditanyain lagi?

oh iya, beberapa PM udah aku bales tuh...

special thanks buat Suu Foxie... muuaahh muuaaahh, makasih udah di editin, mataku jereng ngeliat tulisan ini gara-gara g pake kacamata... XD

xoxo