WARNING sebelumnya, chapter ini adegan SasuSaku sangat sedikit, maaf yah karena alurnya memang diharuskan seperti ini
The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
Bagaimana rasanya menjadi seorang kekasih dari pria yang sangat sayang pada kita, melindungi dan juga menjaga kita dengan rela mempertaruhkan nyawanya sendiri, pasti senang tentunya, namun bagaimana kalau pria itu perlahan menjadi sangat possessive? Sampai-sampai kita tidak diperbolehkan untuk keluar ruangan selangkah-pun, bahkan kita tidak tahu bagaimana dunia luar itu keadaannya.
Inilah yang dirasakan oleh dirinya.
Konan.
Seorang diri menjaga tubuh wanita yang bisa dibilang adalah musuh mereka yaitu, Ino. Masa lalunya sangat kelam, sejak kecil dia dan Yahiko sudah sadar akan kekuatan mereka, karena kekuatan itulah mereka jadi dijauhi oleh teman-teman sebayanya, bahkan ibu Konan membuangnya, sampai suatu hari ada seorang lelaki yang mengadopsi Konan, laki-laki itu adalah ayah yahiko sendiri.
Namun bagaimana sekarang Yahiko dan Konan bisa bersama?
Saat Konan di adopsi, meranjak umur 14, wajah Konan makin cantik, namun kekuatannya yang bisa menyembuhkan orang itu membuatnya dijauhi, bahkan dia mendapat pelecehan seksual dari ayah angkatnya, lebih tepatnya dari ayah Yahiko. Karena rasa sayangnya pada Konan sangat besar, Yahiko membunuh ayahnya sendiri karena memergoki Konan sedang dipaksa bercinta oleh laki-laki itu, saat Yahiko melihat darah dan tubuh Konan yang polos, dengan gelap mata Yahiko menusukkan pisau kecil yang selalu dia bawa ke leher ayahnya sendiri.
Kembali pada kondisi tubuh wanita berambut pirang ini, saat ini matanya setengah terbuka, mencoba meraba pandangannya yang saat ini sangat asing bagi dirinya.
"Ngh~ dimana ini?" gumam Ino menggerakkan kepalanya sedikit.
"Ah, kau sudah sadar," ucap Konan menghampiri Ino dan duduk disampingnya.
"Siapa ka… aahh!" Ino teriak saat dia melihat jubah yang Konan kenakan saat ini,"KAU!"
"Sstttt, jangan berisik, nanti Yahiko datang," ucap Konan sambil menempelkan telunjuk dibibirnya.
"Yahiko?" tanya Ino yang tidak kenal dengan nama itu.
"Maaf yah, kau harus jadi kena korbannya, padahal yang Yahiko incar itu adalah kekuatan dari gadis yang bernama Sakura," ucap Konan.
"Sakura…" sesaat Ino teringat terakhir kali dia bertemu Sakura adalah ketika dia mencoba untuk membunuhnya, dia langsung menunduk menyesali akan perbuatannya itu.
"Apa yang kau pendam? Kesedihan apa? Penyesalan apa?" tebak Konan memegang lengan Ino.
"Orang ini, kenapa bisa tahu kegelisahanku?" pikir Ino.
"Maaf yah, sebenarnya… aku juga tidak mau Yahiko merebut kekuatan Sakura yang artinya Sakura harus kehilangan nyawanya kalau dia melepaskan semua kekuatannya," ujar Konan.
"Memangnya kalian memerlukannya untuk apa?" tanya Ino.
"Yahiko… dia ingin mempunyai kekuatan Sakura agar bisa mengontrol dunia ini," jawab Konan dengan lembut.
"K-kenapa begitu?"
"Karena dengan dia yang menjadi Tuhannya, tidak ada lagi yang akan menyakitiku," jawab Konan kembali, "Itulah yang diucapkannya padaku."
Ino terdiam, dia berfikir, memang sangat bodoh kalau berfikir ingin menjadi Tuhan dan mengendalikan dunia ini, tapi setelah mendengar jawaban kedua dari Konan, Ino pun sedikit tersentuh, Yahiko melakukan ini semua demi rasa cintanya pada Konan.
"Tapi… kenapa harus dia… kenapa harus Sakura," rintih Ino, "Dia sudah banyak mengalami kejadian yang sulit."
"Mengapa? Bukannya kau sempat ingin membunuhnya?" sela seseorang yang membuka pintu.
"Sasori!" Konan berucap.
"K-Kau…" Ino makin terdiam, kini yang dia lihat adalah Sasori, si anak baru yang dekat dengan Sakura itu.
"Sebelumnya kau sangat membelanya mati-matian, lalu berubah menjadi ingin membunuhnya, sekarang kau merasa kasihan padanya?" sindir Sasori.
"B-Bukan itu maksudku…" bela Ino untuk dirinya sendiri.
"Oh, kau takut rahasiamu itu terbongkar yah?" tebak Sasori yang membuat Ino terbelalak.
"Tidak usah kaget, Sasori ini bisa membaca pikiran orang," utar Konan tersenyum.
"Aku…. Aku memang hina… mengorbankan sahabat sendiri demi kepentingan pribadi," hina Ino pada dirinya sendiri.
"Sekarang lakukanlah apa yang bisa kau lakukan," ucap Sasori sembari melangkah pergi meninggalkan mereka.
"Dia itu berada di pihakmu atau aku sih?" ucap Ino bingung pada Konan.
"Hihihi itulah Sasori, kadang Yahiko pun selalu dibuat kesal oleh-nya," jawab Konan.
Ino melihat senyuman Konan yang seperti anak kecil, dan mungkin bagi Konan inilah rasanya mempunyai teman wanita.
"Oh iya, ayo rapikan rambutmu, aku Bantu," usul Konan.
Ino mengangguk dan berusaha beranjak dari tempat tidur itu, perlahan dia berjalan agar tidak jatuh karena tubuhnya masih lemas.
.
.
.
"Sasuke."
Suara orang itu membuat seluruh orang yang berada diruangan itu menghentikan aktifitasnya sejenak, seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak ada kabarnya.
"Shikamaru," balas Sasuke menyapa.
Shikamaru mendekati Sasuke, dan itu membuat Sakura sedikit berlonjak namun ditahan oleh Kakashi. Keadaan sedikit tegang. Shikamaru mengepalkan tangannya dan sedikit memukul dada kanan Sasuke dengan pelan.
"Jadilah kuat nanti saat selesai berlatih, dan balaslah aku yang sudah melukaimu," ucap Shikamaru.
Tentu saja hal ini membuat Sasuke dan Sakura menjadi bingung, saat kemarin dia membuat Sasuke babak belur, tapi kini dia menyemangati Sasuke? Apa Shikamaru amnesia?
"Dan maafkan aku," lanjut Shikamaru.
Sakura tersenyum lega saat Shikamaru memang sudah sadar atas kesalahannya, Sasuke pun tersenyum pada sahabatnya itu dan membalas pukulan kecil Shikamaru itu.
"Akan kubuat kau lebih parah dariku saat itu," balas Sasuke menyeringai.
Keduanya saling melemparkan senyuman.
"Baiklah, ayo kita berangkat," ucap Itachi.
Itachi membawa Sasuke kearah pintu Utara, sedangkan Kakashi membawa Sakura kearah pintu selatan, mereka berdua kan berpisah untuk sementara, sebelum mereka memasuki pintu masing-masing, keduanya saling menoleh dan menatap mata mereka dalam-dalam. Onyx bertemu emerald seolah saling mengucapkan perpisahan sementara.
Hei, Sasuke… kalau kita bertemu lagi… akankah kau masih mencintaiku?
Lalu merekapun melanjutkan langkahnya masing-masing.
Setelah mereka menghilang.
"Wah, mereka sudah pergi… mungkin sekarang tugas kita mencari Kiba, ayo Hinata," ajak Naruto dan Hinata mengangguk.
"Naruto tunggu," cegah Shikamaru, "Apa kau melihat Neji?"
"Neji yah, dia bersama Tenten, kau keruang kesehatan saja," jawab Naruto.
"Baik, terima kasih."
Shikamaru berlalu pergi meninggalkan Naruto dan Hinata disana, karena Naruto tidak berfikiran macam-macam, akhirnya dia mengabaikan ekspresi Shikamaru tadi yang seolah sedang marah.
Shikamaru berjalan keruang kesehatan di markas itu, sesampainya didepan pintu dia tidak langsung membukanya, dengan teliti Shikamaru mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan oleh Neji dan kekasihnya itu, tapi bukan topic yang menarik untuk dia curi percakapannya itu, lalu…
SREEEG
Bunyi pintu digeser.
"Ah, Shikamaru kemana saja kau menghilang beberapa hari ini?" tanya Neji sambil menyuapi kekasihnya.
Shikamaru terdiam memandangi aktifitas Neji dengan tatapan sedikit sinis.
"Bagaimana rasanya?" tanya Shikamaru pada Tenten.
"Hm? Lumayan enak kok, Sakura yang buat loh makanan ini," jawab Tenten tersenyum.
"Bukan… bukan itu," ujar Shikamaru, "Neji… bagaimana rasanya bercinta dengan Neji?"
BLUSH
Dalam sekejap wajah Tenten berubah menjadi merah.
"S-Shikamaru, apa-apaan pertanyaanmu itu," gumam Tenten dengan nada kecil.
"hei! Kau mau tahu saja urusan kami!" gerutu Neji dengan niatan bercanda.
"Kalau begitu aku tanya saja padamu Neji," ucap Shikamaru dengan nada dingin, namun mereka belum menyadarinya,"Bagaimana rasanya bercinta…"
Shikamaru memberi jeda pada pertanyaannya itu dan menatap Tenten, seolah ragu untuk melanjutkannya, namun begitu dia kembali mengingat ucapan Shion, "Dengan Ino?" Shikamaru melanjutkannya dengan nada yang sangat dingin, menekan dan tatapan marah.
Kaget dengan ucapan Shikamaru, Neji sedikit melonggarkan sendok yang ia genggam untuk menyuapi Tenten itu dan terjatuhlah dilantai, sedangkan Tenten sendiri hanya terdiam… bukan terdiam karena kaget tapi diam karena sedang mencerna apa arti dari ucapan Shikamaru tersebut.
"Hmmm, apa maksudnya?" tanya Tenten.
"Jawab aku, Neji," Shikamaru mengabaikan pertanyaan Tenten dan masih terus menatap sahabatnya dari kecil itu.
"…"
"Neji?" panggil Tenten yang kini mulai curiga.
"…"
"Kapan itu terjadi?" tanya Shikamaru.
"Neji apa maksud Shikamaru? Kau bercinta dengan Ino? Jangan katakan padaku kalau itu benar!" geram Tenten.
"…"
"Kini tidak mau mengakui aib mu sendiri? Kau tahu kenapa Ino menyerang Sakura? Karena dia tidak mau aku mengetahui tentang hal itu, kau tahu kenapa?" Shikamaru mendekati Neji dan mengucapkannya tepat di telinganya,"Karena dia lebih mencintaiku dari siapapun, bahkan dari dirimu… yang sudah merebut kesuciannya dariku!" dengan nada menekan Shikamaru meninggalkan Neji yang sedang membatu dan Tenten yang kini menatap Neji dengan tajam.
Saat Shikamaru keluar.
"Neji! Jelaskan padaku! Apa maksudnya ini?" bentak Tenten.
Neji masih terdiam, dia sangat takut untuk menatap Tenten saat ini, namun mau tidak mau dia harus menatapnya dan menghadapi masalah ini dengan jantan, tapi saat dia menatap Tenten, gadis itu tengah menangis tanpa suara.
"Tenten…"
"Tolong jelaskan padaku, dan kumohon jujur," pinta Tenten dengan lemah.
Neji memejamkan matanya dan menghela nafasnya, "Hhhhh, baiklah… saat itu, aku sangat terpuruk karena kepergianmu yang tiba-tiba, kau pergi begitu saja tanpa memberi tahuku, dan Ino… dia selalu ada disampingku, tersenyum dan menghiburku… malam itu, saat dia sedang berada di kamarku, kami bercerita tentangmu… entah mengapa sentuhan Ino saat itu… aku merasa kaulah yang menyentuhku, sehingga terjadilah…"
BRAAAK!
Dan ternyata Shikamaru belum pergi dari tempat itu, setelah membanting pintu hingga terbuka lebar, Shikamaru berjalan kearah Neji dan…
BUG!
Satu pukulan keras mendarat diwajah Neji yang membuat Neji terjatuh dari kasur.
"Kyaaaa, Shikamaru hentikan!" cegah Tenten, namun dia tidak bisa beranjak.
Shikamaru berjalan ke arah Neji, menduduki perutnya, mencengkeram kerahnya dan memukulinya lagi.
BUG!
"APA KAU TAHU YANG INO RASAKAN SAAT DIA BENAR-BENAR MENYUKAIMU! HAH!" bentak Shikamaru.
BUG!
"APA KAU SADAR DIA SELALU MENAHAN RASA SAKIT KETIKA KAU MEMBICARAKAN TENTANG PERASAANMU PADA TENTEN!"
BUG!
Shikamaru menghentikan sejenak pukulannya, kini Tenten hanya bisa melihat perkelahian dua orang yang pilu itu dari belakang, walaupun Tenten tidak melihat ekspresi Shikamaru saat ini, namun dia bisa merasakan, bahwa Shikamaru tengah menangis kali ini.
"Sudah berapa lama kita bersahabat? Kenapa kau hancurkan semuanya~" rintih Shikamaru masih mencengkeram kerah Neji.
Sedangkan Neji, dengan wajah pilunya yang memar itu hanya terdiam tidak dapat berkutik apa-apa.
"Aku bersumpah, saat aku berhasil mendapatkan hati Ino dulu… kalau sampai kau merebutnya kembali… aku tidak perduli kau sahabatku atau bukan… aku pasti akan membunuhmu! Kalau kau lari aku akan mengejarmu!" geram Shikamaru.
Shikamaru mendorong Neji dan melepaskan cengkeramannya itu lalu meninggalkannya, kali ini benar-benar meninggalkan mereka berdua.
BLAAM!
Neji masih tersungkur di lantai, menyeka luka dan darah di bibirnya pelan-pelan, Tenten bisa melihat… kini Neji menangis, perlahan gadis itu turun dari kasurnya dan mendekati kekasihnya yang sempat mengkhianatinya itu.
"Rendah yah diriku ini," ucap Neji menunduk.
Tenten menahan tangisnya dan memeluk Neji yang sedang menunduk itu, dan Tenten pun menggelengkan kepalanya.
"Kau memang brengsek… tapi… aku harus bagaimana? Aku terlalu mencintaimu, saat itu kau melakukan itu, karena memikirkanku… aku bingung harus marah atau senang…"
"Tapi… Ino…"
"Minta maaflah padanya," usul Tenten sembari merengkuh wajah Neji, kini mereka berdua menangis, "Minta maaf dengan setulus hatimu."
Neji menunduk lagi dan memeluk tubuh Tenten. Saat ini perasaan sesal meliputi hati Neji, namun semuanya sudah terlambat bukan? Apa persahabatn mereka bertiga masih bisa kembali seperti semula?
.
.
.
Di suatu tempat yang tidak terlalu mewah namun juga tidak terlalu biasa, sederhana saja, tergeletaklah sosok laki-laki yang nafasnya sedang ngos-ngosan, seperti sedang menahan sakit yang luar biasa.
"Aarrgghh! Hah… hah… hah…"
Satu orang lagi membalut lengan kirinya yang terlihat setengah itu memakai perban.
"Ceroboh sekali, bertarung hingga kehilangan lenganmu sendiri," gumam laki-laki itu.
"Ukh! S-Sakura…" laki-laki yang bernama Kiba itu mengigau nama Sakura dihadapan sosok yang merawatnya.
"Sakura… jadi kau juga menyukainya?"
"Urgghh! "
Sosok itu mengambil suntikan yang berisikan obat tidur agar Kiba bisa tidur dan menenangkan pikirannya sejenak, disuntikannya pada lengan kanannya, dan beberapa detik kemudian obat itu bereaksi cepat, kini Kiba tertidur.
"Saat kau bangun, kita akan latihan bersama untuk melawan kawanan jubah hitam itu."
.
.
.
"Jadi, sekarang mereka sedang berlatih?"
"Iya, dan sekarang saatnya Nona Tsunade menemui Tuan Jiraiya," ucap Shizune sambil memberikan beberapa dokumen pada Tsunade.
"Shizune, singkirkan dulu dokumen-dokumen itu, saat ini aku sedang ingin santai," tolak Tsunade.
"Baik, atau aku panggilkan saja Tuan Jiraiya kesini?" tawar Shizune.
"Ah, boleh."
Beberapa menit setelah Shizune keluar dari rumah penginapan yang kini mereka kunjungi, datanglah Jiraiya dengan wajahnya yang serius.
"Apa mereka sudah memasuki ruangan itu?" tanya Jiraiya menuangkan sake untuk istrinya.
Ya, mereka sudah menikah, karena urusan para guardian yang makin rumit, Tsunade tidak ada waktu untuk memikirkan pesta pernikahan mereka, penginapan ini juga termasuk dalam hitungan bulan madu mereka, namun tetap saja Shizune harus ikut untuk berjaga-jaga.
"Sudah, aku takut… takut terjadi sesuatu pada Kakashi," gumam Tsunade.
"Tenang saja, Kakashi orang yang kuat kok," ucap Jiraiya seraya menenangkan Tsunade.
"Aku tahu, tapi kau tahu kan resikonya kalau dia memakai jurus itu, nyawanya lah yang akan terancam."
"Tsunade, kita saat ini hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka," ujar Jiraiya.
"Iya, semoga mereka tidak apa-apa."
Disamping itu, Rin istri dari Kakashi tengah melamun sendiri di pekarangan rumahnya, duduk sendiri berharap Kakashi dapat pulang dan kembali ke sisinya, perlahan air mata jatuh dari bola matanya yang indah itu, namun dia tersenyum, sembari membelai perutnya dengan lembut.
.
.
.
Di tengah malam yang dingin, namun tidak sedingin suasana hati Shikamaru saat ini, dia berjalan sendiri, sambil masih membayangkan ekspresi-ekspresi dari sahabatnya tadi saat ia pukuli, langkahnya terhenti di taman saat dia melihat gadis berambut pirang berlari bersama temannya.
"Ino?" panggil Shikamaru ragu.
Namun saat gadis itu menoleh, dia bukan Ino yang dicintainya, hal itu membuat Shikamaru kecewa dan sedih, dia menempati dirinya duduk di taman, smabil mengingat kembali saat-saat Ino berada disampingnya. Saat Ino tertawa, marah, menangis, tersenyum jahil, bahkan saat menggodanya, hal itu membuat Shikamaru sedikit terkekeh.
Disatukannya kedua tangan Shikamaru sehingga membentuk menjadi sebuah kepalan, sikut menjadi tumpu diatas pahanya dan kini kepalan itu menempel dikeningnya, wajahnya mengkerut seakan berfikir keras.
"Ino." Lama-lama kepalan itu merenggang kemudian ia jambak sendiri rambutnya itu, "aku merindukanmu," gumam Shikamaru.
Shikamaru sangat stress memikirkan bagaimana keadaan Ino saat ini.
Disamping itu, Ino…
"Hah…"
"Ada apa?" tanya Konan.
"Tidak, sepertinya ada yang memanggilku," jelas Ino berusaha merasakan sesuatu.
"Konan, keluar sebentar" panggil Yahiko dari luar.
"Aku keluar sebentar yah," ucap Konan pada Ino.
Saat Konan keluar, Ino berfikir bahwa Konan itu adalah wanita yang baik, hanya saja Yahiko-nya lah yang sakit jiwa.
"Ada apa, Yahiko?"
"Kenapa kau betah sekali di sana?" tanya Yahiko.
"Aku hanya mengobrol urusan wanita, memangnya kenapa?" jawab Konan sambil tersenyum.
Yahiko melemparkan pandangan tidak suka atas jawaban itu, tapi dia tidak mau melontarkannya.
"Sudah berkumpul semua?" ucap Yahiko pada anggotanya yang sudah berada dalam satu ruangan, "Aku akan mengumumkan sesuatu."
Di situ ada Sasori yang sedang duduk sambil memainkan benda yang terlihat seperti boneka kayu dan Hidan yang sedang mengelap senjatanya yang berbentuk bulan sabit.
"Saat ini aku dengar Sakura sedang berlatih agar bisa mengontrol kekuatannya, aku ingin kalian waspada, karena begitu mereka selesai dengan aktivitasnya kita akan langsung menyerang," ucap Yahiko.
"Kenapa tidak langsung serang saja?" tanya Hidan.
"Itu bukan caran yang elit, kau sama saja dengan pecundang kalau menyerang seseorang yang masih lemah," gumam Sasori dengan santai.
"Kau cari ribut yah!" bentak Hidan.
"Belajarlah sedikit dari temanmu yang sudah mati itu," lanjut Sasori.
"Diam! Berikutnya yang akan mati itu kau!" balas Hidan.
"Dan satu lagi," potong Yahiko, "Salah satu anak buah Orochimaru… masih berkeliaran, waspadalah… dialah yang menculik sandera dari sini."
"Hah? Yang benar? Aku pikir Deidara loh," ucap Hidan terkejut.
"Deidara kan suka bertarung, kesempatan itu mungkin diambil olehnya, begitu saja tidak bisa berfikir!" ejek Sasori dengan wajah datarnya.
"Bocah tengik! Dari tadi meledekku terus!"
"Sudah sudah!" lerai Konan.
"Kalian… saat aku memanggil kalian lagi, kalian sudah harus lebih kuat dari sekarang," perintah Yahiko.
"Baiklah, akan kutingkatkan kutukanku ini, ahhahaaa," ujar Hidan.
Sedangkan Sasori mengabaikan tawa Hidan dan langsung pergi begitu saja melalui jendela.
"Dasar bocah tidak sopan!" sewot Hidan yang mengikuti jejak Sasori.
"Konan," panggil Yahiko.
"Ya?"
"Kau boleh membebaskan wanita itu," ucap Yahiko yang langsung pergi.
"Heee?"
"Aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya, gara-gara dia waktumu untukku berkurang!" jawab Yahiko ketus.
Padahal ini pertama kalinya Konan mempunyai teman wanita, tapi ya begitu, perkataan Yahiko tidak pernah dia bantah, dia selalu mematuhinya.
Konan pun akhirnya menyampaikan pesan itu pada Ino.
"Apa? Aku pikir aku akan disiksa, dipukuli seperti yang ada di film-film!" ujar Ino.
"Hahaha, tidak mungkin."
"Baiklah kalau begitu, boleh kan aku pergi sekarang?" tanya Ino yang sangat buru-buru.
"Eh? Eng… i-iya," jawab Konan ragu, sebenarnya dia ingin sekali Ino semalam lagi bersama dengannya.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi yah, aku harus mencari seseorang," ucap Ino yang langsung meninggalkan tempat itu.
Konan terdiam melihat langkah Ino yang makin lama makin menjauh.
.
.
.
Shikamaru saat itu masih berada di taman, kini posisinya sedang bersender di bangku taman dan kepalanya yang mendongak ke atas, sambil memejamkan mata, seolah dia merasa sangat lelah malam ini.
Tidak lama kemudian, dia mendengar ada suara langkah yang mendekatinya, dia mengabaikannya karena dia pikir itu pasti hanya orang yang sedang berjalan di dekatnya, sampai dia mendengar langkah itu terhenti dan merasakan ada helaian rambut lembut menyentuh kulit rahangnya itu, terbukalah mata itu sedikit dan terlihat sedikit sembab.
"I-Ino?" kali ini dia berfikir, mungkin karena terlalu lelah dan sangat merindukan gadisnya itu, sampai-sampai yang dilihatnya itu adalah Ino.
"Mau sampai kapan tidur disini?" ucap gadis yang ternyata adalah Ino yang sesungguhnya.
Shikamaru terkejut dan menegakkan dirinya.
"I-Ino?" panggil Shikamaru tidak yakin.
"Iya aku Ino, siapa lagi memang?" kata Ino meyakininya.
Perlahan Shikamaru meraih pipi gadisnya itu, bisa Ino rasakan sentuhan lembut dari Shikamaru namun terunsur juga getaran dari jemari itu, lalu dengan satu hentakan Shikamaru langsung memeluk tubuh Ino dengan erat.
"Ino~ Ino… Ino…" panggil Shikamaru berkali-kali.
"Aku pulang… maaf membuatmu khawatir," gumam Ino di dalam pelukan laki-laki itu.
Shikamaru tidak menjawab, dia masih memeluk Ino dan menciumi ujung kepala gadis itu sesekali dia cium juga punggung Ino yang mungil.
"Shikamaru, bolehkah aku menginap di rumahmu?" tanya Ino masih di dalam pelukannya, "Ada yang harus kuceritakan padamu."
Shikamaru tersenyum lembut dan mengecup bibir wanitanya.
"Apapun yang kau ceritakan, aku tidak akan marah, dan aku akan memaafkanmu," ucap Shikamaru seolah tahu apa yang akan Ino ceritakan, "Asal kau janji, tidak akan meninggalkanku."
Kini Ino lah yang mulai menangis, "Huhuuu, bodoh! Seharusnya itu kata-kataku~"
Mereka berdua saling memeluk erat, sehingga malam yang dingin itu-pun menjadi hangat.
.
.
.
"Sebenarnya apa yang kulakukan~"
"Sedang merenungi apa?" tanya sosok laki-laki yang tiba-tiba hadir dibelakang gadis bernam Shion ini.
"Hyaaa! Konohamaru! Jangan masuk sembarangan!"
"Mulai merasa bersalah?"
"Tidak! Aku masih akan berusaha agar Sasuke kembali ke sisiku, lagipula akulah satu-satunya keluarga Uchiha yang tertinggal!"
"Walaupun begitu, kak Sasuke tidak akan memilihmu, dia sudah cinta mati pada kakakku," jawab Konohamaru sambil tiduran di kasur milik Shion.
"Lihat saja nanti, aku pasti akan menang!"
"Memangnya kau tidak mau yah selain Sasuke?" tanya Konohamaru mendekatkan wajahnya pada Shion, "Aku akan menggantikannya bila kau bersedia."
PLAAAK
"Anak kecil jangan sok tahu!" bentak Shion yang sudah menampar Konohamaru, saat Shion hendak beranjak pergi, Konohamaru menahan lengannya dan mencium Shion dengan paksa. Ketika ciumannya dilepas.
"Aku juga laki-laki, jangan kau pikir kau menahanku di sini, aku tidak bisa berbuat apa-apa padamu!" geram Konohamaru, meninggalkan Shion yang duduk lemas dengan rona wajah yang memerah.
"Anak kecil sok tahu!" gumam Shion sambil menutup bibirnya.
A/N : naaah, chapter ini full tentang Ino-Shika-Neji-Ten kan? tapi tenaaang, chapter depan sasusaku bertemu lagi kok, setelah sekian lama mereka pisah, atau mau dibikiin chapter depannya lagi? gmn?
oh iya, takut ada yg bingung sama yahiko, dia itu memang ngincer kekuatan sakura, cuma dia g mau repot2 ngurusin para guardian pake tangannya sendiri, karena tujuannya cuma satu dan fokus ke situ, makanya dia ngebentuk organisasi itu...
tentang daemon, berith, dan belphegor... nama2 itu aku ambil dari salah satu 7 penguasa neraka, tapi kalo berith itu sekertaris apanya di neraka gitu, sumbernya ada di google, cari aja nama-nama iblis, pasti keluar kok...
oke, makasih yah udah mau nunggu lama, dan maaf kalo chapter ini ngga berkenan di hati, next chapter will be better... :)
thx again buat Suu Foxie... u're the best deh udah nolongin ngeditin lagi... XD
mind to review again?
and btw, aku g tau ini sampe chapter berapa, kayanya sih paling banyak 20, udah mau tamat kok... hehehehehe...
