The Chosen One
Disclaimer :Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated: T
"Jadi kau sudah tahu semuanya?" teriak melengking suara wanita dusebuah kamar yang bisa dibilang sedikit sempit.
"Hn," jawab sosok pemuda yang sedang duduk berhadapan dengan wanita itu.
"Jawabanmu lama-lama mirip Sasuke!"
"Kenapa kau tidak katakan padaku dari awal, Ino?"
"Shikamaru, aku hanya takut… takut kau akan meninggalkanku."
"Kenyataannya?"
"Tidak."
Keduanya terdiam, Ino duduk bersender ketembok diatas kasur, menekuk dan memeluk lututnya, sedangkan Shikamaru duduk dihadapan Ino dengan satu kaki ditekuk keatas, laki-laki itu menghela nafasnya ketika mendengar jawaban kekasihnya itu.
Pluk
"Setidaknya jujurlah, marah… aku pasti marah padamu, tapi aku tidak akan sampai meninggalkanmu," ucap Shikamaru sambil menepuk ujung kepala Ino.
Ino terdiam dan memeluk Shikamaru, "Maafkan aku."
"Hn… jangan diulangi," balas Shikamaru memeluk tubuh Ino yang sedang menangis didalam pelukannya.
"Tapi… Sakura…"
"Tentang dia tenang saja, dia baik-baik saja, sepertinya Sasuke melindunginya mati-matian saat Shion mencoba menghipnotis semua orang untuk membunuhnya," sela Shikamaru.
"Shion! Aku benci dia!" gerutu Ino yang masih didalam pelukan laki-laki itu.
"Yaaah, mau bagaimana lagi, efek wanita kesepian… begitulah jadinya," ucap Shikamaru yang membelai punggung Ino.
"Aku tidak akan memaafkannya kalau dia sekali lagi berulah!" geram Ino.
"…." Shikamaru terdiam, karena kalau dia berrkata sekali lagi, ocehan Ino tidak ada habisnya.
"Dari pada itu…" Shikamaru melepaskan pelukannya dan membaringkan Ino diatas kasur, "Aku belum memberikan hukuman padamu."
"H-hukuma apa? Jangan macam-macam Shikamaru!" sewot Ino.
"Hukuman apa? Menurutmu aku akan terima begitu saja, mengetahui bahwa pertama kalimu itu bukan denganku? Enak saja!" utar Shikamaru mencium leher Ino.
"T-tapi… S-Shikaaa!" protes Ino.
"Mau berontak? Tidak akan bisa, aku akan menghukummu sampai kau tidak akan bisa berdiri besok!" Shikamaru menyeringai dan mulai menciumi Ino.
"Kyaaaaaaaaaaaaaa!"
.
.
.
Sementara itu, diruang kerja markas besar para Guardian, terdapat juga sepasang kekasih yang sedang sibuk didepan layar komputer.
"Hinata, apa kau menemukan jejaknya?" tanya Naruto.
"Belum, aku tidak bisa menditeksinya, sepertinya gelang yang digunakan Kiba telah hancur," ucap Hinata.
"Ck! Bagaimana bisa dia seceroboh itu!"
Hinata menatap kekasihnya yang sedang frustasi karena rekan untuk merusuhnya itu belum juga ditemui, Naruto yang kini mengenakan kacamata masih mengotak-atik layar komputer dengan sesekali menjambak rambutnya.
Beberapa menit kemudian, Hinata menghampiri Naruto dan menyeduhkanya kopi hangat yang dibuatkannya khusus untuk sang kekasih.
"Minum dan istirahatlah dulu, otot-ototmu tegang semua tuh," ucap Hinata yang sesudah meletakkan secangkir kopi dimeja Naruto lalu memijat pundak laki-laki itu.
"Hhhh, aku bingung Hinata, tidak biasanya Kiba menghilang begini," gumam Naruto menyenderkan tubuhnya ke kursi yang dia duduki dan memegang jemari Hinata.
"Nanti kita cari sama-sama lagi yah, sekarang sudah jam 2 pagi, kamu harus istirahat," ucap Hinata dengan lembut.
Naruto tersenyum, dia menarik pelan tangan Hinata dan memutarkan kursinya sehingga dia bisa berhadapan dengan gadisnya itu.
"Terima kasih yah, Hinata," ucap Naruto tersenyum lembut, "Aku tidak tahu bagaimana kalau kau tidak ada."
"Apapun akan kulakukan untukmu," Hinata berlutut dihadapan Naruto kemudian meletakkan kedua lengannya diatas paha Naruto agar kepalanya bisa disenderkan disana.
Naruto membelai rambut halus milik Hinata yang sedang bersender dipahanya dengan lembut, "Jangan tidur disini, kembalilah ke kamarmu," ujar Naruto pelan.
Namun sepertinya Hinata tidak menyadari perkataan Naruto, ternyata bukannya tidak menyadari tapi Hinata telah terlelap, mengingat betapa lelahnya wanita ini karena telah menemani Naruto dari pagi hingga tengah pagi buta ini, wajar saja kalau Hinata lelah, akhirnya Naruto pelan-pelan menggendong Hinata ala bride style menuju kamarnya.
.
.
.
"Kakak, sedang apa dirimu kak…" gumam Konohamaru yang termenung di jendela kamarnya.
Terkadang dipandang foto dirinya bersama Sakura yang tersimpan rapih didalam dompetnya itu, foto dimana dirinya dan Sakura sedang tertawa gembira di festival musim panas, dengan mengenakan yukata, Sakura terlihat sangat manis disitu. Tanpa disadari oleh Konohamaru, Shion mengawasinya dari pintu dengan wajah sinis, dan ketika Konohamaru menempelkan foto itu ke keningnya.
BRAAAK
Shion meng-gebrak pintu kamarnya dan masuk tanpa seizin Konohamaru, ketika jaraknya sudah dekat, Shion merampas foto yang berada didalam dompet itu.
"Hei! Apa-apaan kau!" bentak Konohamaru, begitu Shion melihat foto siapa itu.
"Ternyata dia lagi, dia lagi! Mau sampai kapan sih wanita busuk ini merebut semua milikku!" teriak Shion ketika melihat wajah Sakura.
"Jaga bicaramu!" bentak Konohamaru, "Kalau kau menghinanya dengan kata busuk, maka dirimu lah yang lebih busuk dari apapun di dunia ini!"
"A-Apa? Kau berani menghinaku!"
"Aku bahkan berani membunuhmu apabila kau tidak segera menghentikan ke egoisan bodohmu ini!"
"A-Anak kecil tahu apa!"
"Kau! Walaupun kau mempunyai marga Uchiha, bukan berarti kau bisa melakukan segalanya sesuai dengan kehendakmu! Kak Sasuke, kak Sakura, dan kak Itachi… mereka sudah tidak ada hubungannya dengan masa lalu! Tidak ada lagi Goddess, Belphegor dan Daemon disini!"
"Diaaaam!" bentak Shion yang membanting dompet Konohamaru, "Diam! Diam! Diam!"
Konohamaru terdiam melihat tindakan Shion, dia berjalan kearah jatuhnya dompet tersebut dan memungutnya kembali, beberapa detik kemudian terdengar isakan dari belakangnya.
Shion akhirnya menangis…
"Selalu begini…~"
"…"
"Selalu saja, apa yang kusuka… selalu direbut olehnya…~"
Konohamaru masih terdiam, mencoba memberi kesempatan pada Shion untuk mengeluarkan uneg-unegnya.
"Saat pertama kali aku jatuh cinta pada Daemon, dia sudah memiliki kekasih yaitu Goddess… dan ketika aku dijodohkan dengan Belphegor, aku sangat mencintainya… namun matanya selalu menatap Goddes…"
"…"
"Bahkan dikehidupan sekarang pun… walaupun mereka sudah bereinkarnasi, mereka masih tetap mencintai wanita yang sama~… apa aku tidak baik? Apakah aku tidak boleh merasakan yang namanya dicintai…~"
"Boleh," jawab Konohamaru, "Hanya saja kau tidak mau membuka kesempatan itu."
Konohamaru berucap seperti itu sambil menghampiri Shion yang membelakangi tubuhnya, diputar tubuh Shion agar menghadap padanya, saat mata mereka saling beradu.
"Hu~huuu… kau anak kecil… tahu apaa~" utar Shion yang perbandingan tubuh mereka tidak seimbang, karena Konohamaru jauh lebih tinggi disbanding Shion.
"Kak Sakura, Kak Sasuke dan teman-temannya yang lain… mereka semua orang baik," ujar Konohamaru sambil memegang pundak wanita itu, "Aku yakin, kalau kau meminta maaf dengan benar, mereka pasti akan memaafkanmu."
Shion terdiam, dia masih merenungkan dirinya yang sangat kesepian itu, dia merasa sangat beruntung membawa Konohamaru bersamanya, walaupun kadang sikap anak itu membingungkannya, tapi kadang Konohamaru selalu membuatnya nyaman disaat yang tepat.
.
.
.
"Neji? Kau yakin tidak mau istirahat dikamarmu? Aku akan baik-baik saja kok disini."
"Tidak apa-apa, aku ingin bersamamu," jawab Neji menggenggam tangan Tenten.
Melihat wajah Neji yang babak belur itu membuat Tenten miris, antara dia marah pada laki-laki ini dan sangat sayang menjadi satu.
"Kalau kau tidur dalam posisi duduk, besok tubuhmu pasti akan sakit," ucap Tenten.
"Tidak apa, yang penting bisa bersamamu," jawab Neji singkat.
"Hhh, yasudahlah, kau ini keras kepala sekali," akhirnya Tenten menyerah, masih sambil digenggam oleh Neji, Tenten mengeratkan genggamannya sendiri pada Neji.
'Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku,' itulah yang diucapkan dalam hati Neji untuk Tenten, perasaan bersalahnya masih meliputi hatinya hingga keduanya terlelap.
Keesokan harinya, ketika Tsunade dan Jiraiya sudah kembali dari liburan mereka, seluruh Guardian dipanggil untuk berkumpul pada sore harinya, dan Tsunade menekankan kepada semuanya bahwa mereka harus hadir, karena kalau tidak… kalian tidak mau tahu bagaimana kalau Tsunade marah.
saat ini, Ino dan Shikamaru sedang berjalan bersama menuju ruangannya Tsunade, dengan Ino yang berceloteh panjang entah apa yang dibicarakannya, namun Shikamaru tetap mendengarkan gadisnya itu sedang mengoceh panjang lebar. Dan dengan sangat kebetulan, mereka berpapasan dengan Neji yang sedang berjalan juga bersama Tenten, saat melihat Neji, Ino menghentikan celotehannya dengan reflek dan Shikamaru dengan sengaja meraih pinggang gadisnya dan mendekatkannya lebih dekat lalu jalan melewati Neji tanpa memandang pemuda itu.
"Lalu, bagaimana reaksi ayahmu saat ibumu sedang marah-marah dulu?" tanya Shikamaru yang ternyata tadi Ino sedang membicarakan tentang keluarganya sambil melewati Neji dan Tenten begitu saja.
"Ah, ayahku hanya diam saja, hihihi… apa memang laki-laki begitu yah?" jawab Ino yang sedikit bernada canggung.
Neji terdiam dan Tenten pun menyadari betapa pilunya ekspresi Neji saat ini, bisa dia pahami, persahabatan yang terjalin begitu lama kini hancur begitu saja pasti menusuk dihati.
.
.
.
Kini seluruh Guardian berkumpul dengan kehadiran minus satu, mata Tsunade memperhatikan dari tiap-tiap orang yang datang, lalu pandangannya terhenti pada Naruto.
"Mana Kiba?" tanya Tsunade tegas.
"Tidak ada kabar dari dua hari yang lalu," jawab Naruto, akhir-akhir ini raut wajah Naruto berubah menjadi lebih sering serius daripada bercanda ria.
"Bukannya kita semua memakai gelang untuk menditeksi keberadaan masing-masing?" tanya Tsunade sambil melirik Hinata seolah menginginkan jawaban yang memuaskan.
"A-anu… tiba-tiba saja sinyal Kiba menghilang…" jawab Hinata gugup karena sorot mata Tsunade sangat tajam kali ini.
"Kenapa kalian bisa terpencar begini!" bentak Tsunade.
"Jangan salahkan Kiba, Shikamaru juga sempat menghilang!" bela Naruto yang balas membentak.
"Setidaknya dia kembali sekarang!" bentak Tsunade lebih keras.
"Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Kiba sekarang! Jangan egois nenek tua!" sewot Naruto.
BLETAK.
Asbak pun sukses mendarat dikepala Naruto.
"Aawww! Sakiitt~" rintih Naruto.
Entah mengapa melihat ekspresi Naruto yang seperti itu membuat Hinata lega dibandingkan melihat ekspresi Naruto yang tadi, dia sedikit bersyukur pada Tsunade yang memancing jiwa rusuh Naruto keluar, ya… Tsunade memang begitu, dia sangat tahu kalau suasana hati seseorang sedang bimbang, dia pasti bisa mengembalikan auranya seperti semula.
"Bailah, kita tunggu sampai Sakura dan Sasuke selesai… setelah itu aku akan membagikan dua kelompok untuk kalian masing-masing, sekarang kalian boleh bubar, aku pusing melihat anak muda yang suasana hatinya sedang bentrok seperti ini," sindir Tsunade melirik kearah Shikamaru dan Neji.
Saat itu Tsunade langsung meninggalkan tempatnya, disusul oleh Naruto, Hinata dan Shizune. Sementara Shikamaru dan Neji masih berdiam diri ditempat, tidak saling pandang, juga tidak saling berbicara, yang saling pandang hanyalah Ino dan Tenten.
"Ehm, Shikamaru," panggil Ino lembut, "Ada kedai eskrim dekat sini, kita mampir sebentar yuk."
"Ah, kebetulan sekali aku ngidam eskrim, boleh kami ikut Ino?" pinta Tenten.
"Wah boleh sekali, ayo kita kesana bersama," ajak Ino yang sepertinya sudah saling paham dengan Tenten.
Dengan tidak ada jawaban dari para lelaki itu akhirnya mereka ber empat berjalan menuju kedai yang Ino maksud, sesampainya disana Ino memesan es krim dengan rasa Mint, sedangkan Tenten memesan dengan rasa strawberry.
"Aaakk," ucap Ino yang ingin menyuapi Shikamaru.
"Tidak mau," tolak Shikamaru.
"Kenapaa~~"
"Yang benar saja es krim rasa mint? Sudah dingin tambah dingin, mau membuat suasana makin dingin?" sindir Shikamaru melirik kearah Neji yang juga sedang disuapi oleh Tenten.
"Ayo Neji, strawberrynya enak loh," bujuk Tenten.
"Tenten, aku sudah bilang tidak suka strawberry, kenapa kau tidak pesan coklat atau vanilla?"
"Karena aku memesan apa yang aku suka," jawab Tenten dan Ino bersamaan.
"Hihihihi, Tenten coba punyaku deh," tawar Ino menyodorkan gelasnya.
"Mana," Tenten mengambil sesendok es pada gelas itu dan dilahapnya pelan-pelan, "Ngggghhh, segaaaaaar."
"Ya kaaan, mereka aneh masa tidak suka es krim rasa mint," ucap Ino.
Ketika Ino dan Tenten sedang bertukar rasa dengan asiknya, Shikamaru yang sedang menyenderkan tubuhnya di bangku itu menatap mata Neji yang juga sedang menatapnya, mereka berdua pertama saling menatap dengan tatapan sinis…
Lalu berubah menjadi marah….
Berubah menjadi seolah tidak perduli…
Berubah lagi menjadi seperti ingin mengatakan sesuatu…
Sampai…
"Mau sampai kapan kalian begini?" ucap Tenten tiba-tiba membuyarkan adegan tatap menatap mereka.
"Kita langsung bicarakan saja yah," pinta Ino menggenggam tangan Shikamaru yang berada disamping pahanya.
"Ck! Apa yang harus dibicarakan?" utar Shikamaru.
"Apa kamu mau, hubungan persahabatan kalian yang terjalin begitu lama hancur begitu saja?" tanya Tenten.
"Dia yang menginginkan itu semua," jawab Shikamaru.
"Kalau kau marah pada Neji, seharusnya kau juga marah padaku, karena saat itu… kami melakukannya karena sama-sama mau," ujar Ino yang membuat Shikamaru tersentak kaget.
"Jadi kau membelanya?"
"Bukan begitu Shikamaru, tidak adil kalau kau hanya memaafkanku, aku tahu saat itu Neji sedang sangat terpuruk, jadi…"
"CUKUP!" bentak Shikamaru, "Ada apa dengan otak kalian sih!"
"Maaf, Ino… Tenten, bisakah kalian meninggalkan kami berdua?" pinta Neji.
Ino dan Tenten saling pandang dan mengangguk, kemudian mereka beranjak dari sana dan menempati tempat duduk yang lumayan jauh dari kedua laki-laki itu.
"Apa?" tanya Shikamaru jutek.
"Aku minta maaf," ucap Neji dengan nada serius, "Aku benar-benar minta maaf padamu."
"Kenapa? Padahal kau sudah sangat tahu akan hal itu dari sejak pertama kali aku bilang padamu, aku menyukainya dan sangat menginginkannya! Tapi kenapa kau lakukan itu!"
"Maaf," Neji hanya bisa melontarkan kata maaf, "Tidak ada kata lagi yang bisa kuucapkan, hanya maaf yang bisa kuucapkan saat ini padamu."
"Cih! Pukulan kemarin tidak cukup membuatku lega, kau tahu itu!"
"Tahu, karena itu… kau boleh memukulku lagi sepuasmu."
"Baiklah kalau begitu," Shikamaru berdiri dan meluncurkan pukulannya tepat didepan wajah Neji yang sedang menutup matanya, namun pukulannya dihentikan oleh dirinya sendiri, karena tidak merasakan apa-apa, Neji membuka matanya dan
TAAK
Sentilan keras mendarat di mulutnya.
"Aw!"
"Setidaknya kau meminta maaf dengan sungguh-sungguh, tapi aku belum bisa memaafkanmu secepat ini, beri aku waktu," ujar Shikamaru sembari berjalan pergi meninggakan Neji, "Ino, ayo kita pulang."
"Loh? Sudah selesai? Bagaimana jadinya?" tanya Ino yang menghampiri kekasihnya itu.
Shikamaru menoleh kearah Neji, "Semua es krim dia yang bayar," lalu pergi sembari merangkul pundak Ino.
Sedangkan Neji yang masih duduk tersenyum lega karena pandangan Shikamaru tidak lagi dingin terhadapnya, Tenten yang bisa memperhatikan aura mereka tidak lagi dingin juga ikut tersenyum lega disamping kekasihnya itu.
.
.
.
"Ukh!"
"Sudah bangun?"
"Ah… s-siapa… haaah? Kau! aarrghh!"
"Jangan banyak bergerak, lukamu masih belum sembuh total," ucap sosok laki-laki yang sedang mengganti perban pasiennya itu.
"Kenapa kau menolongku?"
"Karena kau berhasil membunuh salah satu makhluk yang membuat Sakura menderita," jawab orang itu.
"Sakura…? Ah, kau teman kecilnya itu yah? Kenapa bisa muncul disaat seperti ini?" tebak Kiba yang lengannya sedang diperban kembali.
"Ya, dulu Tuan Orochimaru mengatakan padaku bahwa salah satu eksperimennya ada yang membelok padanya, dan dia juga mengincar kekuatan Sakura."
"Lalu, kau ada dipihak kami, atau mereka?"
Orang itu tersenyum, "Menurutmu?"
"Hahaha, sepertinya kau berpihak pada Sakura," tebak Kiba,"Oh iya, Kimimaro kan? Aku Kiba."
"Hn, aku sudah tahu."
"Gawat! Aku harus memberi tahu yang lain, sudah berapa lama aku disini?" tanya Kiba.
"Dua hari."
"Akh! Mereka pasti mencariku, bisa gawat kalau Tsunade marah-marah," cemas Kiba.
"Aku akan mengantarmu ketempat mereka," ujar Kimimaro, "Tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Bantu aku berlatih agar menjadi kuat, sebelum kita kembali, kita harus menjadi kuat, karena musuh kita kali ini sangat hebat."
"Kau benar, aku bisa mengalahkannya saja itu sudah suatu kebetulan yang sangat hebat," ucap Kiba sambil memegang lengannya yang buntung.
"Dan satu pertanyaan dariku," ucap Kimimaro, "Apa kau menyukai Sakura?"
"Hah? Tentu saja TIDAK! Hahahahaa, kau ini ada-ada saja, dia kan milik Sasuke," jawab Kiba terus terang.
"Tapi kau mengigau namanya."
"Ah, itu…" Kiba merogoh kantungnya dan memperlihatkan dompet yang ada fotonya, "Lihat adik perempuanku, 2 tahun dibawahku, dia meninggal 3 tahun yang lalu, sifatnya sangat mirip dengan Sakura."
Kimimaro terdiam dan sedikit lega mendengar penjelasan Kiba, "Cukup si Sasuke saja yang jadi sainganku, aku malas menambah rival lagi."
"Hahahaha, kau ini ada-ada saja, baiklah kapan bisa mulai latihan?"
"Kau mau cepat mati atau cepat sembuh?"
"Tentu saja cepat sembuh, mana ada orang yang ingin cepat mati!"
"Kalau begitu bersabarlah, istirahat dan pulihkan seluruh tenagamu," setelah mengucapkan itu Kimimaro bangkit dan meninggalkan Kiba dikamarnya yang tersenyum seperti tidak sabar menunggu hari dimana dia bertambah kuat itu tiba.
.
.
.
Disebuah kamar yang gelap, seorang gadis yang sedang tertidur mengerutkan kedua alisnya, kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Ngh! T-tidak!"
Gadis itu mengigau.
"Tidak! Jangaaan~"
Lama-lama igauannya itu menjadi lebih kencang.
"TIDAAAK! HUAAA!"
"Konaaan! Banguuun! Konaaan!" panggil Yahiko yang datang dan mengguncangkan tubuh kekasihnya itu, saat Konan membuka matanya, dia langsung memeluk Yahiko.
"Huaaaaa haaaaa~ Yahikooo~"
"Sssshhhh, mimpi buruk lagi?" tanya Yahiko lembut sembari membelai rambut Konan.
"Huhuhuuuuu~" Konan mengangguk sambil menangis.
"Sial! Aku tidak punya banyak waktu, aku harus menciptakan duniaku sendiri agar Konan tidak lagi bermimpi buruk seperti ini!" geram Yahiko dalam hatinya.
Beberapa hari kemudian, Yahiko menguras tenaganya untuk mencari sinyal dimana Sakura berada namun hasilnya kembali nihil. Ini sudah hari ke empat sejak usahanya mencari keberadaan Sakura. Jelas saja tidak bsia ditemukan, kini Sakura sedang berada bersama Kakashi ditempat yang tidak terjangkau oleh apapun, Karena tempat itu terhubung oleh dimensi lain, begitu pula Sasuke, Itachi dan Kabuto.
.
.
.
Bulan berganti bulan, saat ini hubungan antara Shikamaru dan Neji memang masih belum pulih seutuhnya, namun setidaknya mereka tidak sedingin waktu Shikamaru menghajarnya habis-habisan itu. Para Guardian sedang berkumpul diruang utama karena dikabarkan hari ini adalah hari kepulangan Sasuke, Itachi dan Kabuto.
"Seperti apa yah rupanya si Sasuke itu?" ucap Naruto membayangkannya.
"Jangan berlebihan, kita tidak bertemu dengannya hanya 4 bulan," jawab Shikamaru.
"Dan selama itu juga Kiba tidak ada kabarnya yah," gumam Ino yang juga khawatir pada rekannya itu.
"Apa? Kau suka dengan Kiba?" sewot Shikamaru yang cemburu mendengar Ino mengkhawatirkan orang lain.
"Astaga Shikamaru! Kiba itu teman kita sendiri! Bisa-bisanya kau berpikiran negative!" tegur Ino memukul lengan pacarnya.
"Terus kenapa? Sama Neji saja kau bisa, apalagi dengan Kiba."
"Memangnya aku murahan apa! Kau lama-lama menyebalkan yah!" bentak Ino yang mulai marah.
"Maafkan aku, aku hanya sedikit trauma saja," bisik Shikamaru sambil memeluk Ino dari belakang.
Ino hanya terdiam, memang ini salahnya sehingga Shikamaru selalu saja mencurigainya, dia tidak bisa protes kalau Shikamaru terkadang berfikiran negative tergadapnya.
"Heii semuanyaaa," panggil Shizune dari luar pintu, "Coba lihat siapa yang dataaaang."
Shizune membukakan pintunya lebih lebar dan masuklah tiga sosok pria yang sangat berbeda dari sebelumnya, semua mata terbelalak melihat bagaimana terbentuknya otot-otot mereka dengan sempurna, tinggi badan mereka pun berubah seikit menjadi lebih gagah, semua pandangan tidak berkedip terutama Ino dan Tenten.
"S-Sasuke…?" gumam Ino tidak percaya.
"I-Itachi dan… Kabuto…?" sambung Tenten.
Pandangan Sasuke terhenti pada Naruto.
"Wajah dungumu kenapa tidak berubah?" tanya Sasuke dengan nada santai.
"MASIH MENYEBALKAAAN! Kukira begitu bertemu lagi kau sudah berubah!" geram Naruto.
Sasuke celingak-celinguk seperti sedang mencari seseorang.
"Sakura belum pulang," ucap Hinata satu-satunya wanita yang tidak tergoda oleh penampilan baru Sasuke.
Rambut Sasuke sudah sedikit memanjang sehingga menutupi matanya, Itachi malah memotong rambutnya hingga pendek dan terlihat lebih segar, sedangkan Kabuto masih dengan rambutnya yang diikat namun sudah tidak mengenakan kacamata lagi.
"Itachi, apa kau mau teh? Aku bisa membuatkannya untukmu," tawar Kabuto.
"Ah, boleh," jawab Itachi.
"….." Shikamaru terdiam melihat gelagat Kabuto kemudian dia berbisik pada Neji yang tepat berada disebelahnya, "Kabuto homo?"
"Mana kutahu," bisik Neji kembali.
Dan sejak kapan pula hubungan Shikamaru dan Neji kembali dekat lagi?
"Sasuke, rambutmu sudah panjang tidak mau dipotong?" tanya Ino.
"Ah, tidak usah… aku tunggu Sakura saja nanti," jawab Sasuke seraya menyentuh rambut depannya.
"Ternyata masih tetap mencintai Sakura yah," bisik Tenten yang suaranya cukup bisa didengar.
"Iya, sayang yah padahal aku pikir aku bisa menjadi pengganti Sakura," sambung Ino.
"Iya."
"EHEM!" geram Shikamaru dan Neji bersamaan, sedangkan kedua gadis itu hanya cekikikan sambil menjulurkan lidahnya.
Selagi mereka sedang bernostalgia bersama Sasuke, Tsunade datang keruang utama dengan wajahnya yang ceria.
"Wah wah wah, bocah tengilku sudah sangat berubah ternyata! Ahahhaa" ucap Tsunade menepuk kepala Sasuke dan berjalan ke tengah-tengah mereka, "Ada kabar gembira buat kalian semua, besok Sakura dan Kakashi akan kembali kesini, Sakura sudah berhasil mengontrol kekuatannya sepenuhnya."
"YEEAAAAYYY!" teriak para gadis dan Naruto, sedangkan Shikamaru, Neji dan Sasuke hanya tersenyum menandakan mereka gembira, juga Itachi dan Kabuto yang hanya menyunggingkan bibir mereka.
"Kabar kedua… aku mendapat kabar dari Kiba, dia tidak apa-apa, saat ini dia sedang dilatih seseorang, namun keadaannya kurang bagus, Karena lengan kanannya buntung saat bertarung melawan salah satu organisasi Akatsuki itu, dan dia berhasil mengalahkannya," tutur Tsunade.
"Waaahh! Hebat sekali dia! Sial aku didahuluinya!" protes Naruto.
"Sekarang kalian beristirahatlah, dan pulihkan sepenuhnya tenaga kalian, pertempuran akan dimulai," ucap Tsunade yang mimik wajahnya berubah menjadi serius.
"BAIK."
.
.
.
Saat ini baik lawan maupun kawan sedang menyiapkan diri masing-masing untuk saling berhadapan suatu saat nanti, akankah ada korban yang akan jatuh lagi? Seorang gadis berambut biru yang selalu menghadapi mimpi buruh setiap malam harus terus terbayang oleh masa lalunya, hal ini menyebabkan sang kekasih tidak tega melihatnya dan terobsesi untuk menciptakan dunia baru untuk gadisnya itu, agar tidak ada lagi penderitaan yang dialami oleh gadis bernama Konan itu.
Sedangkan gadis yang lain, yang selalu merasakan kesepian, dan selalu merasa semua miliknya akan direbut kembali oleh rival sejatinya masih termenung didalam kamarnya, walaupun sesekali pemuda yang setia berada disampingnya selalu menghiburnya, bagaimana pun juga… Shion masih seorang wanita yang akan luluh hatinya jika mendapatkan perhatian yang begitu tulus didapatkannya.
Dan seorang wanita yang perutnya sudah membesar, masih menunggu kepulangan suami tercintanya disisi balkon rumah, dengan yukatanya dia membelai perut yang membesar itu sambil tersenyum lemah.
Kembali pada sosok pemuda yang kini merebahkan tubuhnya diatas kasur yang nyaman, digunakan kedua lengannya menjadi sandaran bagi kepalanya, sambil menatap langit-langit… hanya satu perempuan yang selalu membayangi dirinya selama beberapa bulan ini.
Sakura, apakah kau akan masih mencintaiku saat kita bertemu lagi nanti?
A/N : haaaaa? pada bingung? kalo sekarang masih bingung g? jadi yang balikin neji n tenten itu si kimimaro, nanti dijelasin saat kimimaro ketemu tsunade buat ngebantu mereka bertarung, akatsuki sendiri nanti bertambah karena hidan nge rekrut orang baru lagi, gitu... nah maaf yah chapter ini SasuSakunya bener-bener ngga ada, chapter depan baru deh pertemuan pertama setelah beberapa bulan g ketemu bagi sasuke n sakura... XD
typo masih banyak yah? duh maklumin yah, soalnya aku tuh ngetiknya lampu kamar pasti gelap tanpa kacamata pula, sekali lagi maaf yah...
untuk chapternya aku g tau nih, kayanya bisa lebih dari chapter 20 deh, kepanjangan g yah? atau mau langsung disingkat aja? tapi g seruuuu #plin-plan...
minta masukannya yah para readers tercintaaaa XD
oh, dan untuk sekuel, aku g tau nih, aku belum pernah bikin sekuel sebelumnya sih, yaah tapi kita liat aja nanti gimana sekuelnya, lebih ada ide baru sih dari pada sekuel... kira-kira kalau ini tamat, bagusnya bikin fict yang ber gender apa yah..? (hahahahhaa, tamat aja belooom)
ada yang masih mau ditanyain? nanti aku jawab di chapter 19, oke...
oh untuk Suu, aku masukin adegan es krim itu... XD
makasih yaaahh...
xoxo
