The Chosen One
Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated : T
Pertarungan yang sengit masih terus berlanjut, disaat para guardian mengerahkan seluruh tenaganya melawan musuh-musuhnya, Tsunade, Shizune, Rin serta Hinata membantu mereka dalam hal lain. Shikamaru dan Ino melawan Kakuzu, Tenten dan Neji melawan Zetsu, Sakura dan Sasuke melawan Kisame. Karena pengalaman bertarung yang sangat minim, Ino sedikit kewalahan menghadapi Kakuzu, karena itu Kakashi menjadi back up-an nya.
"hosh hosh hosh…"
"Cuma segitu stamina kalian? Heh, para guardian yang lemah?" ejek Kakuzu pada Shikamaru yang sedikit kewalahan karena memakai kekuatannya double, menyerang, juga melindungi Ino.
"Shikamaru, berhentilah mengutamakanku, serang dia sebanyak mungkin," bisik Ino pada pemuda yang berada disampingnya itu.
"Lalu mengabaikanmu lagi? Jangan bercanda Ino!" jawab Shikamaru tersenyum sarkastik.
Teeeet Teeeeet Teeeeet.
Para guardian yang berada diluar saling memandang satu sama lain, menatap dengan wajah panic, Kakashi memejamkan matanya, merasakan energi Rin bergerak ketempat yang aman bersama Tsunade, Shizune dan Hinata, itu artinya mereka semua telah meinggalkan tempat itu. Lalu… bagaimana dengan Sasuke dan Sakura?
"Sasuke dan Sakura masih didalam! Kenapa alarm peruntuh gedung itu dinyalakan?" teriak Naruto yang langsung meluncur kedalam, namun langkahnya dicegah oleh Zetsu yang mengulurkan tangannya agar memanjang dan mencengkram pergelangan kaki Naruto
BRUUKK
"Lawanmu disini, khekhekhee" seringai Zetsu.
ZRAASSSHHH
"Menghalanginya sama saja cari mati denganku!" geram Kakashi yang menusuk kepala Zetsu memakai pedang listriknya.
Tubuh Zetsu terdiam, entah mati atau tidak, pancaran tenaganya masih ada tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
Perlahan cengkraman Zetsu mengendur dan itu kesempatan Naruto untuk lari. Dia berlari menuju tempat dimana Sasuke dan Sakura masih didalam markas mereka itu.
.
.
.
"N-Nona Tsunade, apa tidak apa-apa kita hancurkan markas kita?" tanya Hinata dibelakang gedung dan dilapisi oleh lapisan pelindung yang dibuat oleh Shizune.
"Itu harus, kita tidak boleh berada disana, dan markas kita sudah tidak aman, nanti aku akan membuat markas baru, Hinata, Shizune, kalian lindungi Rin, aku akan…"
"Membantu mereka? Tidak!" potong Shizune saat Tsunade akan mengatakan 'membantu para guardian'.
"Kau tidak berhak melarangku!" geram Tsunade.
"Memang aku tidak berhak, tapi kami semua membutuhkanmu disini, lihatlah Rin," tunjuk Shizune pada Rin yang sedang mengandung. "Kami membutuhkanmu," lanjut Shizune pelan.
Tsunade memejamkan kedua matanya dan menghela nafas panjang, "Hhhh, semoga kalian tidak apa-apa," gumam Tsunade pada para guardian.
.
.
.
"Heyaaaaaahh!"
Traang!
Bug!
"khekhekhekhe, tunjukkan kekuatanmu, Tuan Putri Sakura, sebelum kami menghabisi teman-temanmu," ucap Kisame terkekeh.
"Cih, heyaaahh!" Sakura berlari menyerang secara langsung didepan Kisame, gerakan yang sangat mudah ditebak, Kisame menyengir seolah meremehkan Sakura, namun dia lupa kalau Sasuke juga bersamanya, saat Sakura menyerang Kisame dari depan, secara bersamaan Sasuke juga menyerangnya lewat belakang.
GREB!
Kisame mencengkram lengan dan leher Sakura.
"Akh!"
"Gerakanmu sangat mudah ditebak, Tuan Putri…AAGHHH!"
Kini giliran Sakura yang tersenyum melihat pemandangan didepannya, kepala Kisame yang terpisah dari tubuhnya disebabkan oleh serangan Sasuke dari belakang, dia menebas kepala Kisame dengan menyembunyikan pancaran tenaganya.
Tuk tuk tuk
Bunyi jatuhnya kepala Kisame kelantai, Sasuke membuka bajunya sehingga dia topless untuk menyeka wajah Sakura yang terkena darah Kisame.
"Sudah kubilang, aku akan melindungimu," ucap Sasuke sambil menyeka wajah Sakura.
"Sasukeee! Sakuraaaa!"
"Ah? Itu suara Naruto," kata Sakura dengan mata yang mencari sosok Naruto.
Teeeeet Teeeeeet Teeeeeet.
"Hooiii!" teriak Naruto yang akhirnya muncul, "kalian berdua gila? Gedung ini akan hancur tapi masih disini? Apa yang kalian laku…" ucapan Naruto terhenti ketika dia melihat kepala Kisame gelinding melewati kakinya.
"Okay, aku mengerti, tidak perlu dijelaskan, nah sekarang ayo kita keluar sebelum gedung ini runtuh!"
Sakura, Sasuke dan Naruto berlari keluar untuk membantu Shikamaru, Kakashi dan Ino. Saat sampai ditempat.
"Mana Neji dan Tenten?" tanya Sakura pada Ino.
"Mereka…."
"HAHAHAHAHA!"
Jawaban Ino terpotong oleh suara tawa yang menggelegar dari Zetsu yang membawa tubuh Neji serta Tenten yang sudah tidak sadarkan diri.
"Hah? Bukankah dia tadi sudah…" ucap Naruto bingung.
BRUUKK.
Zetsu melempar tubuh mereka kearah para guardian, "Sampah seperti mereka tidak pantas bertarung denganku."
"Kau…b-bukannya tadi…" ucap Ino terbata-bata.
"Hah? Oh tadi… Zetsu yang lain," ucap Zetsu menyeringai.
"Zetsu yang lain? Kalian ada berapa sebenarnya?" tanya Sasuke.
"Kuakui aku memang lemah, tapi aku bisa meng-copy diriku sebanyak yang kumau" jelas Zetsu sambil mempraktekan pembelahan dirinya yang membuat para guardian melotot ngeri, khususnya Ino dan Sakura.
"HAH! HAAAAAA!"
Trang!
Trang!
Trang!
"Ahahhaaa, bayanganmu mempunyai batas waktu, semakin lama bayanganmu itu semakin melemah, kasihan," ejek Kakuzu.
"Tidak dengan petirku!" ujar Kakashi yang muncul dari belakang Kakuzu dan menyerang salah satu benjolan yang ada ditubuh monster itu.
"UAAARRRRGHH!" rintih Kakuzu.
"Bagus, Kakashi!" seru Shikamaru.
"Tidak bisakah ada yang mengobati atau memulihkan tenaga lagi?" rintih Shikamaru.
"Aku bisa," jawab Ino.
"Tidak, kau sudah mengeluarkan banyak energi," tolak Shikamaru.
"Tidak! Jangan menolakku!" Ino kini membalas tegas pada Shikamaru dan memegang pundak kekasihnya itu.
"Biar aku yang memulihkan Neji dan Tenten," ucap Sakura.
"SIALAAAN!" geram Kakuzu yang masih kesakitan, kini benjolan ditubuhnya tinggal dua, sebelum Kakashi menyerang, Kakuzu menembakkan sesuatu ke langit, semacam kembang api namun tidak meledak.
Sesaat, perasaan para guardian mulai tidak enak, Ino memasang wajah panic, Shikamaru merasa was-was, Kakashi mendekatkan diri pada Sasuke dan Naruto, Sakura yang sudah sedikit berhasil memulihkan Neji namun belum sempat memulihkan Tenten memasang wajah ketakutan.
"Engh~ Sakura?" kata Neji bingung antara kenapa Sakura ada diahadapannya, dan kenapa memasang wajah ketakutan seperti itu. Beberapa saat kemudian Neji melihat kesamping dan menghampiri Tenten yang tak sadarkan diri.
"Tenten! Aahhh!" Neji pun merasakan perasaan itu, dia memeluk Tenten dengan tubuhnya yang gemetar.
Perasaan seolah akan datang orang yang mempunyai kekuatan besar dan terasa jahat.
"A-Aku… takut…" ujar Sakura pelan.
Sasuke yang mendengar Sakura ketakutan segera menghampirinya, tidak bisa dipungkiri bahwa Sasuke juga sedikit takut pada kekuatan ini, hanya saja dia ingin kelihatan tegar didepan kekasihnya itu.
"Semua akan baik-baik saja, aku janji!" ucap Sasuke berusaha menenangkan Sakura.
"Ha-ha-haa…uhuk! Kini kalian tidak akan bisa selamat," gumam Kakuzu, "HAHAHAA"
ZRAASHHH!
"Akh…!"
Kakuzu berhenti teriak, dan Zetsu yang sudah membelah diri menyeringai tenang. Kini tubuh Kakuzu sudah mati, akibat dari sebuah tangan yang membelah dirinya menjadi dua, entah bagaimana caranya, tapi Ino mengenali tangan itu, tangan yang selama ini dia takuti.
"T-tidak…" geram Ino ketakutan.
"Ada apa Ino?" tanya Shikamaru.
"D-Dia… dia datang…."
"Dia? Dia siapa?" tanya Sasuke.
"Dia…." Ino hanya bisa terpana melihat empat sosok yang sangat dia kenal, satu laki-laki berambut orange, laki-laki berambut merah, laki-laki berambut silver yang mereka lihat tadi di markas, dan wanita berambut biru.
"Oh tidak…" ucap Ino lemas.
"Kita bertemu lagi," ucap laki-laki berambut orange yang membersihkan tangannya dari darah Kakuzu itu, "Ino."
"Kau… yang waktu itu?" tunjuk Naruto pada laki-laki berambut silver.
"Heh, merindukanku, bocah?" ejek laki-laki yang bernama Hidan itu.
"Dia, laki-laki yang tidak bisa mati itu?" bisik Sakura pada Sasuke, dan Sasuke hanya mengangguk sembari melindungi Sakura kebelakangnya.
Dan yang membuat Sakura, Sasuke serta Kakashi menatap penuh kebencian adalah ketika melihat sosok berambut merah itu.
Sasori.
Harusnya mereka sudah tahu bahwa Sasori adalah komplotan mereka, tapi entah mengapa mereka berharap kalau Sasori akan berpihak sebaliknya.
"Sasori…" gumam Sakura pelan yang bisa didengar oleh semuanya, namun Sasori mengabaikannya.
"Begini," laki-laki yang bernama Yahiko itu membuka pembicaraan, "Bagaimana kalau kita melakukan negosiasi?"
"Kedengarannya negosiasi yang tidak menguntungkan," celetuk Naruto.
"Pink, kau serahkan kekuatanmu baik-baik padaku, lalu aku akan memerintahkan mereka agar mundur dan tidak menyerangmu, bagaimana?" tawar Yahiko.
"Maaf, jawabannya adalah negative," jawab Sasuke yang maju satu langkah.
"Kalau aku jadi kau, aku urungkan niatku untuk maju satu langkah lagi," utar Yahiko tenang sambil membuka telapak tangannya, "kalau kau masih ingin hidup."
Sasuke terdiam, dia merasakan tenaga yang luar biasa dari telapak tangan Yahiko.
"Bagaimana? Nona Sakura?" tanya Yahiko sekali lagi.
"Langkahi mayat kami terlebih dahulu!" ucap Ino dan Shikamaru yang berjalan menutupi tubuh Sakura dari mereka.
"Aku setuju," timpal Kakashi yang bergabung.
"Hehehe, ayo! Sampai titik darah penghabisan!" ucap Naruto mengepalkan tangannya.
"Hmmm, itukah kemauan kalian?" kata Yahiko dengan tenang.
Ino bisa melihat reaksi Konan yang sangat khawatir, disatu sisi Ino tahu kalau Konan itu wanita baik, tapi disisi lain, Ino harus melawan mereka karena nyawa sahabatnya terancam.
Perlahan Yahiko mengangkat lengannya dan memetikkan jarinya sekali.
Ctek!
Hidan, Sasori, dan kedua Zetsu langsung mengepung para guardian.
"Engh~"
"Tenten, kau baik-baik saja?" tanya Neji yang masih disamping kekasihnya itu.
"Apa yang terjadi?"
"Dengar, kau cari Tsunade, bilang kita butuh pertolongan, aku bisa merasakan pancaran tenaga mereka yang sangat besar, kita akan kalah kalau tidak dibantu oleh Tsunade," jelas Neji pada Tenten.
"Ya, aku mengerti!" Tenten mengangguk dan bergegas pergi.
"Bos, ada yang lepas satu!" lapor Hidan.
"Biarkan saja, kehilangan tikus satu tidak akan membuat kita rugi" jawab Yahiko.
"Shikamaru, apa kau punya strategi yang bagus?" tanya Neji setelah bergabung dengan mereka.
"Satu-satunya cara adalah kita bagi kelompok untuk melawan mereka," jelas Shikamaru.
"Baiklah, Shikamaru kau hadapi Zetsu yang putih, aku dan Ino akan menghadapi Hidan, karena Ino yang sudah berpengalaman berhadapan dengan Hidan…" jelas Kakashi.
"Tidak!" potong Shikamaru, "Akulah yang akan menghadapi Hidan, dendamku belum terbalas!"
"…" Ino terdiam melihat ekspresi Shikamaru yang sangat marah itu.
"Baiklah, Ino dan Shikamaru akan melawan Hidan, Naruto dan Neji kau lawan Duo Zetsu," ucap Kakashi.
"Baik!"
"Aku akan melawan Sasori," ujar Kakashi yang membuka semua maskernya.
"Aku dan Sakura akan melawan orang ini," gumam Sasuke memasang kuda-kuda.
Keadaan hening sejenak.
Mereka yang sudah ditentukan siapa yang akan melawan siapa saling tatap.
Hening.
Sangat hening, sehingga bunyi angin pun terdengar oleh mereka.
Syuuuuuuuuuu~
"HEYAAAAAAHH!" suara Naruto memicu semua untuk menyerang dalam waktu bersamaan.
Semua saling serang satu sama lain, kecuali Konan yang hanya diam dibelakang Yahiko dengan wajah khawatir.
Pertarungan yang sengit dimulai kembali, walaupun para guardian sudah sangat kelelahan, tapi mereka tetap kompak saling melindungi satu sama lain.
.
.
.
Berlari dan terus berlari, mencari ke kanan dan ke kiri, Tenten berusaha sekeras mungkin untuk menemukan dimana Tsunade berada, walaupun tenaganya baru saja pulih dan masih terasa lemas, dia tidak mau menyia-nyiakan waktu sedetikpun. Setelah berlari cukup lama, Tenten menemukan sosok Shizune yang sedang menguatkan lapisan pelindungnya.
"Shizuneeeee!" teriak Tenten.
"Tenten?"
"Kalian baik-baik saja?" sambil mengatur nafas, Tenten mengecek keadaan mereka satu persatu, "Syukurlah."
"Kenapa kamu ada disini? Mana yang lain?" tanya Tsunade.
"Neji menyuruhku mencarimu Nona Tsunade, mereka membutuhkan bantuanmu, musuh bertambah banyak dan pancaran tenaga mereka sangat besar sedangkan kami semua benar-benar kelelahan," jelas Tenten panjang lebar.
"Baiklah, Tenten kuperintahkan kamu menjaga mereka disini, setidaknya saat aku pergi harus ada tipe petarung untuk melindungi Rin," perintah Tsunade.
"Baik."
"Aku pergi dulu," Tsunade segera berlari secepat mungkin.
"Hati-hati, semoga mereka tidak apa-apa," ucap Hinata pelan.
"Tenang saja, mereka kuat, aku percaya pada mereka," jawab Rin.
.
.
.
Hantaman demi hantaman terjadi pada petarungan antara Sasuke, Yahiko dan Sakura. Jelas saja Yahiko lebih handal, karena tenaga Sasuke dan Sakura sudah terkuras saat bertarung melawan Kisame tadi. Yahiko terus menerus menyerang Sasuke sedangkan Sakura menyerang Yahiko dari belakang, kini posisi Sasuke hanyalah bertahan, Yahiko tidak memberinya satu kesempatan untuk menyarang.
Saat Sakura hendak menebas kepala Yahiko, dengan sangat cepat dan gesit, Yahiko membalikkan tubuhnya, menggenggam pedang Sakura dan memutar lengannya sehingga posisi Sakura terkunci.
"Kau tahu kan, betapa dilarangnya seorang reinkarnasi Goddess menjalin hubungan dengan kaum iblis?" bisik Yahiko.
"Aku…" geram Sakura menggertakan giginya, "Bukan Goddess!"
Dengan mengumpulkan pancaran tenaga yang dipusatkan pada sikutnya, Sakura menyikut perut Yahiko sehingga dia berhasil keluar dari kuncian itu.
"Memalukan, rela membiarkan teman-temanmu bertarung seperti ini? Kau sudah benar-benar terkontaminasi dengan kaum iblis, Goddess."
"AKU BUKAN GODDESS!" teriak Sakura sekali lagi.
TRANG!
Tangkisan dari pedang Sasuke dan tombak Yahiko saat Sasuke hendak menyerangnya tiba-tiba.
"Kini tidak ada lagi status seperti itu, aku, Sakura, kak Itchi… kami manusia!" ujar Sasuke, "Dan kami rela bertarung seperti ini karena kami menyayanginya, karena kami semua bersahabat."
Berani jamin kalau Naruto mendengar apa yang Sasuke ucapkan tadi, dia pasti menangis, ini pertama kalinya Sasuke menyebut hubungan mereka sebagai sahabat.
"Cih! Menjijikan!"
Mendengar kata itu, Yahiko merasa geli dan menendang perut Sasuke yang menyebabkan Sasuke terpental, lalu menambahkan sesuatu. Yahiko mengeluarkan sebuah jarring yang lengket dan ditembakkan kearah Sasuke sehingga Sasuke terperangkap dan tidak bisa bergerak.
"Baiklah, akan kupaksa ambil kekuatan dari tubuhmu, Nona," ucap Yahiko pada Sakura.
"Coba saja kalau bisa!" tantang Sakura.
"SAKURA!" Sasuke memberontak, berusaha keras membuka jarring itu.
.
.
.
"HEYAAAHH! HEYAAH!"
Serangan bertubi-tubi yang dilakukan Hidan pada Ino dan Shikamaru terus berlanjut, Shikamaru dan Ino hanya bisa menghindar.
"AHAHAHHAAA, ayo serang balik, pengecut!"
Saat pada titik yang Shikamaru rencanakan, laki-laki jenius itu memberikan kode mata pada Ino yang artinya berpisah membagi dua.
"Hah?" Hidan tiba-tiba terdiam, karena dihadapannya, Ino dan Shikamaru tidak lagi terlihat, pancaran tenaganya juga tidak ada.
Saat Hidan mencoba konsentrasi, dia merasakan adanya pancaran tenaga yang besar dari belakangnya, ketika menengok kebelakang, Shikamaru dan Ino sudah tepat berada didepan wajahnya dengan kuda-kuda akan menyerang. Ino menghantamkan pukulan yang sangat keras pada wajah pria berambut silver itu sedangkan Shikamaru melilit tubuh Hidan dengan bayangannya.
"Sempurna," ucap Shikamaru yang merasa puas karena rencananya berhasil.
"Hehehehe, ya… memang sempurna," ucap Hidan menyeringai.
"Hah?" kini Shikamaru bingung, kenapa hidan tersenyum puas sama seperti dirinya, ketika dia menatap Ino disampingnya, ternyata tombak sabit itu tengah menancap dilengan Ino saat wanita itu meluncurkan pukulannya.
"I-INO!"
"Jangan lepaskan dia!" cegah Ino
"Hahahahaa, sepertinya kali ini aku akan melenyapkanmu, Nona."
Hidan berusaha untuk mencabut sabit dari lengan Ino, namun Ino bersi keras menahan sabit itu tetap menancap dilengannya.
"Aaarrgghh!" rintih Ino
"Ino…" Shikamaru tidak bisa melakukan apa-apa, kalau dia melepaskan ikatan bayangan pada tubuh Hidan, laki-laki gila itu pasti akan melakukan ritual konyol lagi, tapi dia juga tidak bisa melepas segel tangannya untuk membantu Ino.
Padahal jarak begitu dekat tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
.
.
.
"M-Makhluk apa ini? Semakin kuserang, semakin aku membuatnya mati, dia membelah dirinya!" seru Naruto.
"Hah hah hah… tidak bisa, kalau aku sendiri aku tidak bisa, yang seperti ini… harus Sasuke yang menghadapinya, harus dia," kata Neji
"Kenapa harus Sasuke?" tanya Naruto heran.
"Kalau bukan Sasuke, setidaknya Itachi, hanya para reinkarnasi dewa iblis yang punya kekuatan itu," jelas Neji
"Kekuatan apa?"
"Ini semua… adalah Zetsu palsu!"
"Hahahahahaa, ternyata kau pintar," jawab semua Zetsu yang kira-kira sekarang jumlahnya sudah ada lima.
.
.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan?" saat ini Kakashi dan Sasori tidaklah bertarung, namun saling diri berhadapand engan tatapan waspada satu sama lain.
"Aku hanya mengikuti perintah, dan tugasku selesai sampai disini."
"Apa? Kau mengkhianatiku! Aku pikir kita sahabat… ternyata aku salah!"
"Rin."
"Apa?" Kakashi sedikit bingung ketika Sasori menyebut nama Rin.
"Apa kandungannya sehat?"
"…"
"Sakura…"
"Dia sudah punya Sasuke, jangan kau berharap apapun dari dia!"
"Kalau begitu, akan kulenyapkan Sasuke," jawab Sasori.
"Langkahi dulu mayatku."
"Dengan senang hati."
.
.
.
Kembali pada Shikamaru dan Ino.
"Ukh…" rintihan Ino makin melemah, darah yang mengalir dari lengannya makin banyak, bayangan Shikamaru pun perlahan mengendur.
"Ugh! Sialaaan!"
"HAHAHAHAA!"
Bayangan Shikamaru terlepas, tombak sabit Hidan pun terlepas dari lengan Ino.
"Aakkh!" saat tubuh Ino lunglai, Shikamaru langsung menangkapnya.
Tapi terlambat, Hidan sudah akan memulai ritualnya.
"Hahahaa! Mari kita mulaaaaii!"
Ino menutup matanya dan Shikamaru hanya bisa memeluk tubuh wanitanya itu, berharap ada keajaiban.
DUAAK!
Pandangan Shikamaru, Hidan terpental jauh dihajar oleh seseorang sehingga itu membuat Hidan menundai ritualnya, saat Shikamaru mempertegas siapa yang datang, laki-laki berambut putih yang tiba-tiba berada dibelakang Hidan dengan tulang runcing yang diarahkan pada otak laki-laki berambut silver itu, serta laki-laki berambut coklat, dengan tangan satu yang berdiri didepan Shikamaru dan Ino.
"Lama tak berjumpa, Shikamaru… Ino…"
"K-Kiba!"
.
.
.
"Semua Zetsu disini palsu? Lalu bagaimana cara kita membedakannya? Neji, matamu bukannya bisa merasakan pancaran tenaga?" oceh Naruto
"Aku bisa merasakan pancaran tenaga, tapi masalahnya disini semua pancaran tenaganya ada, jadi aku tidak tahu mana yang asli," jawab Neji kesal.
"Kalau begitu, aku akan panggil Sasuke!"
"Apa kalian lupa, selain Sasuke…. Siapa lagi disini yang keturunan dewa iblis, hah?" ucap seseorang dari belakang mereka.
"Itachiii!" seru Naruto yang merasa lega.
.
.
.
Awalnya, Sakura memang menantang Yahiko, namun Yahiko yang penuh dengan kebencian it uterus menerus mendesak Sakura, seolah dia tidak perduli bahwa Sakura itu perempuan. Sementara Sasuke masih berusaha melepaskan jarring dirubuhnya itu, bahkan Sasuke rela melukai dirinya sendiri dengan sengatan petirnya agar jaring itu meleleh.
DUAAARRR!
"Kyaaaaaaaaa!"
Sakura terpental, kini tubuhnya lumayan babak belur akibat serangan Yahiko. Konan yang melihat adegan itu dari kejauhan merasa sangat khawatir, di satu sisi, dia tidak bisa menyalahkan Yahiko karena berbuat seperti ini, tapi di sisi lain dia tidak bisa melihat Sakura yang teraniaya seperti itu.
Yahiko berjalan pelan menuju Sakura yang setengah sadar.
"AArggh!" geram Sasuke yang melihat Sakura akan dihampiri oleh Yahiko, "Berhenti disitu! Yahiko! Aku bersumpah, kalau kau melakukan sesuatu padanya, akan kubunuh kauu!"
Yahiko mengabaikannya, saat Yahiko hendak berlutut dan menempelkan telapak tangannya dikepala Sakura, tiba-tiba badai es menyerang tubuh Yahiko sehingga Yahiko sedikit terpental dan jaring Sasuke meleleh terkena cairan.
"Apa kamu tidak apa-apa, kak?"
Sakura sedikit membuka matanya, kemudian dengan sedikit air mata yang keluar, Sakura memeluk sosok itu.
"Konohamaru."
"Hhhhh, aku tidak menyangka kalau aku akan kesini untuk membantu kalian," ucap seorang wanita dengan nada sombong.
"Syukurlah pemikiranmu sudah mulai dewasa, Shion." Ucap Sasuke yang bangkit dan langsung menghampiri Sakura.
"Sakura… Sakura kau baik-baik saja?"
"Ng… maafkan aku, Sasuke."
"Tidak, jangan minta maaf, kamu istirahat saja, sisanya, biar kami yang menghadapinya."
"Tidak! Ini juga pertarunganku!" tolak Sakura.
"Tapi kak, kakak terluka parah!" cegah Konohamaru.
"Biar ku obati," tawar Shion menghampiri Sakura dan mulai dengan pengobatannya.
"Terima kasih, Shion," ucap Sakura pelan.
"Tidak, aku melakukan ini terpaksa kok," jawab Shion angkuh, "Selesai!"
Sakura bangkit dan menatap Yahiko dengan tajam, "Aku berterima kasih lagi, karena telah menjaga Konohamaru."
Shion tersenyum sembunyi dibelakang Sakura.
Kini dengan bantuan yang sudah datang, mereka semua siap bertempur sekali lagi.
A/N : saya tahuu saya tahuu, maafkan sayaaa, kalian boleh ngomel2 karena ngaret yang sangat lama uploadnya T_T kemaren itu saya sidang kuliah, dan alhamdulillah saya lulus XD
maaf banget yah kalian nunggu sangat lama dan baru sekarang bisa publishnya
bener2 minta maap deh **sujud sujud**
maaf yah kalo banyak typo lagi, aku belom sempet edit2 banyak nih, masih harus ngurus soal wisuda dan revisi skripsi T_T
sekali lagi maaf yaaah *sujud*
