The Chosen One
Disclaimer : Naruto itu selalu milik Masashi Kishimoto
Genre : romance, adventure, fantasy, tragedy/hurt/comfort
Rated : T
"Goddess?"
Tidak, dia bukanlah Goddess, dia masih tetap Sakura yang dulu, masih tetap Sakura si gadis berambut pink yang dicintai oleh Sasuke maupun Itachi. Selama latihannya dengan Kakashi, Sakura berusaha keras untuk mengendalikan kekuatan Goddess dan mengontrolnya, apabila ada kejadian yang sangat penting kekuatannya itu bisa digunakan, tapi dia tidak menyangka kalau kekuatannya harus digunakan secepat ini.
"Sakura, kau tahu resikonya kan menggunakan kekuatan itu?" ucap Kakashi menghampiri Sakura yang tengah berdiri disamping lubang besar yang melayang itu.
Sakura tersenyum, menandakan kalau dia siap dengan semua resikonya.
"Tidak akan kubiarkan!" cegah Sasuke mencengkram lengan Sakura, "Jangan berfikir aku akan membiarkanmu, Sakura!"
"Aku setuju, kamu tidak perlu melakukan hal ini," sambung Itachi.
Sakura terdiam, dia melirik kearah Shikamaru yang sedang menatapi lubang itu dengan wajah frustasi, kemudian tatapan Sakura berubah kearah Yahiko yang tidak kalah frustasinya dengan Shikamaru.
Sakura mengambil nafas dalam-dalam dan menghebuskannya perlahan.
"Tapi aku harus," tegas Sakura.
Sakura melirik kearah Kabuto dan Kakashi, memberi tanda agar menghalangi Sasuke dan Itachi apabila mereka berdua mencoba untuk menghentikan Sakura.
GREB
"Tidak! Lepaskan aku!" ronta Sasuke.
"Kabuto! Lepas atau aku akan membencimu selamanya!" geram Itachi.
Kedua orang itu tidak menjawab, Kakashi dan Kabuto, mereka berdua telah berjanji pada Sakura saat pelatihan itu, bahwa kalau terjadi sesuatu dan Sakura harus melakukan hal ini, Sakura memohon pada mereka untuk mencegah siapapun yang akan menghalangi tindakannya itu, saat itu Sakura terlihat sangat serius dan memohon.
"Kakak!"
Konohamaru berjalan kearah Sakura, namun bukan untuk mencoba menghentikan kakaknya itu.
"Lakukanlah yang terbaik," ucap Konohamaru… menahan tangisnya.
Sakura tersenyum, dia kembali menutup matanya dan berkonsentrasi penuh pada kekuatannya sehingga terlihat cahaya berwarna biru menyelimuti sekitar tubuhnya, ketika Sakura membuka matanya, dengan kecepatan yang sangat cepat, Sakura masuk kedalam lubang itu.
Semua terdiam.
Shikamaru yang dari tadi mencengkram rumput mendongakan kepalanya.
Yahiko sendiri tercengang, baru kali ini ada yang berani masuk ke dalam lubang neraka itu dengan berani.
"Yahiko!" Sasori berlari kearah Yahiko dan mencengkram tubuh pemuda itu, "Kau! Cepat tutup lubang itu! Saat Sakura keluar nanti, kau harus cepat-cepat menutupnya!"
"T-Tapi…"
"Tidak ada tapi! Sakura sedang berjuang menyelamatkan Konan! Kita tidak tahu siapa saja nanti yang bisa keluar dari lubang itu, disaat Sakura akan mengeluarkan Ino dan konan, kau harus cepat-cepat menutupnya, kalau tidak, usaha Sakura akan sia-sia!"
Yahiko terdiam, namun saat Yahiko akan menjawab untuk menolak, Sasuke menghampiri pemuda itu dan…
"Aku mohon," pinta Sasuke.
"…" Yahiko terdiam, mungkin kalau bisa mengutuk dirinya sendiri dia akan mengutuknya, mungkin kalau Hidan tidak terhisap, dia akan meminta Hidan untuk mengutuknya.
"Baiklah," Yahiko bangkit, merentangkan kedua tangannya, bersiap untuk menutup lubang tersebut dengan sisa kekuatannya.
.
.
.
Gelap.
Itulah yang dilihat oleh Sakura.
Dia tidak bisa melihat apapun, aura yang dingin dan mengerikan, begitu banyak jeritan orang-orang yang sangat pilu. Sakura menutup telinganya rapat-rapat, kini cahaya biru disekitar tubuh Sakura sedikit memudar.
"Gawat, aku harus cepat-cepat."
Sakura berusaha mencari dimana Ino berada, walaupun tempat itu sangat gelap, namun Sakura masih bisa merasakan pancaran tenaga Ino. Terus dicarinya kedua sosok wanita itu oleh Sakura, sampai Sakura melihat ada sebuah cahaya putih yang melayang diantara seluruh kegelapan itu, Sakura menghampiri cahaya itu, betapa terkejutnya bahwa di dalam cahaya itu terdapat dua sosok wanita yang sedang pingsan.
"Ino… Konan?"
.
.
.
"Tunggu, bukankah siapapun yang sudah masuk kedalam lubang itu akan mati?" tanya Kiba.
"Tenang saja," sela Tsunade, "Apa kalian lupa gelang yang kalian pakai?"
Serentak para guardian memperhatikan gelang mereka masing-masing.
"B-Bersinar," ujar Naruto.
Tsunade tersenyum, namun tubuhnya penuh keringat seolah sedang mengeluarkan tenaga yang cukup besar, dan tidak lama kemudian tubuhnya lunglai terjatuh.
"N-Nona Tsunade!" seru Neji.
"Sakura… cepatlah, aku tidak bisa lama-lama lagi."
.
.
.
"Bagaimana aku harus membawa mereka?"
Kini Sakura sedang melayang di dekat sosok Ino dan Konan, apa yang harus dia lakukan agar bisa membawa kedua sosok ini secara bersamaan. Akhirnya Sakura mendapatkan ide, dia melingkarkan sebelah lengan Ino pada lehernya, dan sebelah lengan Konan pada lehernya juga. Saat dia melihat gelang Ino yang bersinar, Sakura sadar, cahaya putih itu berasal dari gelang yang mereka pakai.
Sakura kembali ke jalan keluar, lubang yang terlihat semakin kecil.
"Uhuk uhuk… aahhh, aku mohon tahan sedikit" geram Sakura pada dirinya sendiri.
Sakura mempercepat kecepatannya.
Semakin cepat.
Cepat dan cepat, sampai…
Shiiiing
Terlihat tiga sosok melayang diudara yang akan jatuh ke bumi, dengan cekatan, Shikamaru, Sasuke dan Yahiko menangkap satu-satu dari ketiga sosok itu. Dengan cekatan pula Yahiko menutup kembali lubang tersebut hingga kekuatannya terkuras.
Karena guncangan yang lumayan hebat, Ino sedikit membuka matanya.
"Engh~"
"Ino? Ino… kau dengar aku?" panggil Shikamaru.
Ino membuka matanya dan melihat wajah pucat Shikamaru yang sedang menatap khawatir pada dirinya itu. Ino tersenyum dan membelai pipi kekasihnya itu.
"Maafkan aku," ucap Ino yang langsung dipeluk oleh Shikamaru.
"Konan, hei… buka matamu, ini aku, Yahiko."
Konan tetap menutup matanya.
"Biar kuperiksa," tawar Kabuto.
Kabuto memegang pergelangan tangan konan sebentar, "Dia masih hidup, hanya masih pingsan saja, dia baik-baik saja."
Yahiko terdiam sambil menatap wanitanya penuh makna, "Maafkan aku… maafkan aku…"
"Kabuto! Sakura" seru Sasuke yang meminta agar Kabuto memeriksa Sakura.
Kabuto tidak perlu repot untuk memeriksa Sakura, karena Sasuke sendiri pun tahu, dia yang sedang dipeluknya itu, tengah memiliki wajah yang sangat pucat dan tubuh yang dingin.
"Periksa dia!" pinta Sasuke.
Kabuto terdiam, dia melirik kearah Kakashi dan diberikan anggukan oleh laki-laki yang merupakan guru dari Sakura itu.
Kabuto memegang pergelangan Sakura, membuka matanya, memegang denyut nadi di lehernya. Setelah itu Kabuto terdiam tanpa kata, Sasuke memaksa Kabuto memeriksanya sama saja untuk meyakinkan Kabuto bahwa Sakura…
"Tidak! Dia tidak apa-apa, Sakura hanya pingsan, iya kan?" sela Naruto yang menghampiri Sasuke.
Naruto memandang wajah Sakura yang kini tertdiur lelap dengan kondisi wajah yang pucat.
"Kalian tahu cahaya biru yang Sakura keluarkan tadi itu apa?" ucap Kakashi pelan.
Semua penasaran dengan jawaban apa yang akan dilontarkan oleh Kakashi, semua… kecuali Kabuto, Itachi dan Sasuke.
Sasuke mendekam tubuh Sakura.
"Itu cahaya kehidupannya," kini Itachi yang menjawabnya.
Dan jawaban itu membuat Ino dan semua orang yang tengah mendengarkan jawaban Itachi itu terkejut.
"A-apa maksudmu?" tanya Ino.
"Goddess, memiliki kekuatan khusus, apabila dia mengeluarkan cahaya kehidupannya, maka orang yang sudah mati kalau menyentuh dirinya akan hidup kembali, dengan menyalurkan sisa kehidupannya," jelas Kabuto.
Ino yang tidak percaya dengan hal itu melepaskan pelukan Shikamaru dan merangkak kearah Sakura.
"Tidak… tidak mungkin! Itu bohong kan? Sasuke! Itu semua bohong kan!" Ino mengguncang tubuh Sasuke yang sedang memeluk Sakura, tapi tanpa Sasuke jawab pun Ino sudah tahu jawaban pemuda itu, karena kini Sasuke tengah menangis sambil memeluk Sakura.
Pilu.
Itulah yang dirasakan para guardian.
"Itulah kenapa, Sakura menjadi yang terpilih," ucap Tsunade.
"Dulu… sebelum kakak bertemu dengan kalian semua, kehidupannya sangat sepi," ucap Konohamaru, "Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan pada kakak."
"Tidak!" Sasuke menyangkalnya, "Tahu begini aku tidak akan mencarinya, aku tidak akan membiarkan para guardian menemuinya, aku tidak akan mengizinkannya menghadapi pertempuran yang konyol ini!"
"Sasuke…" Naruto menocba menenangkan sahabatnya itu.
"Kita… kita semualah yang membunuhnya! Kita semua yang memaksanya seperti ini!"
"Sasuke!"
"Apa kalian pikir sebenarnya Sakura mau melakukan ini? Tdiak! Dia tidak pernah mau! Kalian! Kita lah yang membuat Sakura mati!"
BUG!
"Cukup!" kini Naruto mendaratkan pukulan tepat diwajah Sasuke.
Semua terdiam.
"Ehm, mungkin aku bisa menghidupkannya kembali," ucap seseorang yang muncul bersama Hinata dan Shizune.
"Rin!"
"Apa maksudmu?" tanya Ino.
"…" Rin terdiam dan menatap Kakashi.
"Maaf kalau selama ini kami menyembunyikannya," ucap Rin sedikit ragu, "Aku adalah salah satu keturunan seperti Sakura."
"APAA?"
"Memang kekuatanku tidak sebesar Sakura, di jaman itu, Goddess adalah malaikat terkuat yang pernah kukenal," ujar Rin sambil mendekati sosok Sakura.
"Dia juga malaikat yang paling ditakuti karena kekuatannya, bahkan dewa pun sering gelisah karena kekuatan goddess itu, tapi para malaikat itu diberikan masing-masing kekuatan khusus oleh dewa, dan itu bisa dipakai asal dibayar dengan hal yang setimpal," ucap Rin sambil memegang kening Sakura kemudian timbul cahaya biru.
"Rin! Apa yang kau lakukan!" teriak Kakashi.
"Aku akan menukar nyawa janin ini untuk Sakura, dia telah menyelamatkan kita semua, Kakashi, tolong mengertilah," pinta Rin dengan tatapan memohon.
Kakashi terdiam, dia menjambak rambutnya sendiri, memejamkan matanya dan menghela nafas, "Kalian para keturunan malaikat itu memang begini yah?"
Rin tersenyum lalu menatap Sasuke.
"Ingat, saat Sakura sadar nanti, dia akan kehilangan semua ingatannya tentang kalian, dia seolah akan terlahir kembali menjadi dirinya yang baru, mengerti ?" jelas Rin.
"Tapi, kenapa Ino dan konan bisa mengingat semuanya?" tanya Kiba.
"Itulah kelemahanku, sudah kubilang aku tidak sekuat Goddess," jawab Rin sambil tersenyum.
Rin terus menerus memberikan energi kehidupan janinnya pada Sakura, sampai perut Rin mulai mengempis.
Dan…
"Selesai."
Sasuke menatap wajah Sakura yang kini sudah kembali cerah.
Sakura perlahan menggoyangkan kelopak matanya.
Membukanya perlahan.
Dan terbuka sepenuhnya.
Ketika hendak mengatakan sesuatu, Sasuke langsung memeluknya dengan erat.
Ino menutup matanya, tangis kebahagian menyelimuti para guardian, Shikamaru menghampiri Ino dan memeluknya. Hinata menghampiri Naruto dan memeriksa luka-lukanya, Rin berjalan kearah Kakashi dan tersenyum lembut pada suaminya menghela nafas dengan lega.
Yahiko menatap kosong kearah para guardian yang diselimtui oleh hangatnya suasana, dia menggendong tubuh Konan dan pergi meninggalkan semuanya.
"Ah… m-maaf, anda siapa?" tanya Sakura yang masih didalam pelukan Sasuke, "Ini dimana? Kalian siapa?"
Sasuke menempelkan keningnya pada Sakura, "Kau adalah dewiku."
.
.
.
Sebulan kemudian.
~Sakura's POV~
"KYAAAAAAA!"
PLAK.
"kakak? Ada apa?" Konohamaru turun dari tangga dan langsung menghampiriku.
Ya, aku menjerit sekeras-kerasnya karena laki-laki ini.
Entah mengapa laki-laki berambut emo dan bermata onyx ini terus-terusan mengatakan padaku bahwa aku adalah kekasihnya, bahkan dia bilang aku dan dia telah melakukan sex? Aku bahkan tidak ingat siapa namaku sebelumnya! Kalau orang-orang tidak memanggilku sebagai Sakura.
"Diaaa! Memegang pantatku saat aku memasak!" jeritku sambil menunjuk kearah laki-laki yang bernama Sasuke itu.
"Kak~ kak Sasuke itu kan memang kekasihmu, wajar kan kalau melakukan hal itu, aku juga sering kok melakukan hal-hal begitu pada Shion," gumam Konohamaru.
"Itu karena kamu dan Shion resmi berpacaran! Kamu ini adikku atau bukan sih? Aku jadi curiga jangan-jangan kalian membohongiku!" gerutu Sakura.
"Ya ampun Sakura! Ini masih pagi, kenapa teriak-teriak sih?" sewot Ino yang barus aja keluar dari kamarnya.
Mungkin dia bangun karena mendengar suara jeritanku, ehm…. Kuberi tahu yah, dirumah yang besar ini, kami tinggal bareng semuanya.
"Tapi Ino… diaa~ menyentuh bokong-ku~" rengekku pada Ino.
"cup cup, tenang yah," aku suka sekali dengan Ino, dia seperti kakak bagiku, "Sasuke! Kalau mau melakukan itu yang tenang dong!"
"Ino kenapa membelanyaaaaa!"
"Hahahaa, maaf maaf, sudahlah Sakura, dia kan kekasihmu, emmangnya seluruh foto-foto yang pernah kami tunjukkan padamu itu bukti yang kurang yah?"
Memang benar, Ino telah menunjukkan semua foto-foto untuk memberi tahu identitasku yang sebenarnya, tapi entah kenapa aku masih agak takut dengan laki-laki ini.
"Selamat pagiii~" keluar lagi dua sosok laki-laki dari atas.
"Pagi Itachi, Kabuto," sapaku dengan ramah.
"Kenapa kamu menjerit keras sekali Sakura?" tanya Itachi padaku.
"Adikmu! Salahkan adikmu!" tunjukku pada Sasuke, sedangkan orang yang kutunjuk hanya menggaruk kepalanya dan menyantap omelet yang tadi kubuat untuk diriku sendiri!
"Sasuke~ apa setiap pagi harus begini?" ucap Kabuto yang sepertinya sudah malas mendengar jeritanku setiap pagi.
"Tidak, aku tidak menyuruh kalian bangun, contohlah Naruto dan Hinata, apapun yang terjadi mereka tetap tidur," jawab Sasuke datar.
"Itu karena mereka sedang asik," sambung Kiba dengan rokok dan korannya, itulah kebiasaan Kiba kalau pagi, dia bangun lebih pagi dariku, kadang membantuku untuk menyiapkan sarapan.
"Aneh, padahal kemarin kau sudah bisa menerima kalau Sasuke itu pacarmu, Sakura." Ucap Itachi yang meminta rokok pada Kiba dan menyalakannya.
"I-itu…" okay, aku tidak bisa menjawabnya, hanya saja… aku masih tidak bisa percaya, bagaimana bisa laki-laki yang begitu tampan seperti Sasuke ini adalah kekasihku… aku masih…
"Dia masih malu, aku maklumi itu," sempurna, Sasuke mewakili kata hatiku dan membuat wajahku memerah.
"Ooohhh, masih maluuu" ucap semuanya yang seolah mengejekku.
"Aahhh, aku mau siap-siap! Kalau tidak nanti kita terlambat sekolah!" gumamku sambil memasuki kamar.
BLAM
~Normal's POV~
"Masih malu," ujar Itachi.
"Hmppff, masih malu yah?" ejek Kiba.
"Sudah, sudah…. Jangan begitu, kasian Sakura," tegur Ino.
Setelah Sakura bersiap-siap dan diikuti oleh yang lain, mereka akan berangkat kesekolah bersama-sama.
"Shikamaru, dasimu tidak benar itu," tegur Ino sambil membetulkan dasi kekashnya itu.
"Oh iya, tadi Neji mengirim email, katanya dia dan Tenten baik-baik saja di China, liburan musim panas mereka akan kembali," ucap Naruto.
"Oh ya? Kakashi dan Rin juga baik-baik saja, mereka berencana mau memiliki bayi lagi katanya," timpal Ino.
"Ah, tadi Shizune kirim email padaku, katanya menyuruh Kabuto membeli hp," ujar Hinata.
"Ooohh, jadi Shizune yaah?" ejek Itachi.
"Tidak, aku tetap setia padamu," jawab Kabuto dengan tegas yang membuat Itachi merinding.
"Konan juga mengirim email padaku, katanya dia dan Yahiko pergi ke luar negri, dia mewakili Yahiko meminta maaf pada kita semua," ucap Ino.
"Cih, dasar pengecut," gerutu Naruto.
Disaat semua sedang berbincang-bincang sambil berjalan menuju ke sekolah, Sasuke menarik tangan Sakura agar jalannya sedikit dibelakang mereka.
"Maafkan aku tadi pagi," ucap Sasuke.
"Eng… jangan diulangi, aku… masih belum terbiasa," jawab Sakura malu-malu.
Sasuke tersenyum dan mencium kening Sakura, "Kita mulai dari awal saja yah."
Sakura membalas senyum kekasihnya itu dan mengangguk.
"Sasuke! Sakura! Sedang apa kalian? Kami tinggal loh," panggil Kiba.
"Iyaa, kami datang," jawab Sakura sambil menggandeng tangan Sasuke.
Dunia kembali damai, kini Sakura memiliki teman-teman yang bisa menerima dia apa adanya, walaupun dia tidak mempunyai ingatan tentang kejadian dulu, tapi dia bersyukur karena yang disekelilingnya saat ini adalah sahabat-sahabat terbaiknya yang pernah dia miliki.
~The End~
A/N : yeaaayy akhirnya tamaaaat, eh maaf yah kalo tamatnya jelek =_=
kalo ada kekecewaan gapapa, ungkapin aja XD aku terima dengan lapang dada, heheheeee
terima kasih yah untuk semua para readers yang aku ga bisa tulis satu-satu karena kebanyakan, hehehee,,, kalian paling the best! makasih udah setia nungguin TCO yang ngaretnya parah -_-
project eternal lover ditunggu yah, ngga nyangka banyak yg suka XD
okay.
xoxo
