Disclaimer : Kishimoto Masashi
Genre : General / Romance
Rate : T
Warning : AU, OOC
1 Year = 365 Days
oOo 3 oOo
"BRAAAAK!" Air kotor yang semula berada didalam ember itu, kini mengalir membasahi lantai hotel. Ember yang semula berdiri didepan Hinata, kini terguling. Pikiran yang pergi entah kemana, membuat Hinata tak konsen dalam setiap beraktivitas. Sudah mulai dari kemarin Hinata seperti ini. Pembicaraannya dengan Itachi terus tergiang dalam otaknya.
"Apa tidak apa-apa kalau kalian begini terus?" Pertanyaan ini terus berkelebat dalam otak Hinata, hingga membuat tongkat kain pel ditangannya menyenggol ember didepannya. Sialnya, air kotor itu mengenai gaun yang tampak sangat mahal milik seorang wanita berambut pink yang tengah berjalan didepan Hinata.
"AW!" Wanita berambut pink itu terkesiap kaget, karena air kotor itu telah membasahi sekaligus menodai gaun cantiknya.
"Gomen… Gomen…" Hinata tak henti-hentinya membungkukkan badannya guna meminta maaf atas kelalaiannya. Karena ia sangat tahu keadaannya saat ini, andai saja orang lain yang terkena air kotor itu keadaan Hinata tak akan segenting ini, namun sialnya, orang itu adalah Haruno Sakura –seorang artis cantik yang sedang naik daun. Belum sembuh rasa sakit yang ada dalam hati Hinata akibat cover majalah 2 hari yang lalu, sekarang ia malah dipertemukan dengan Sakura. Tapi dalam hati Hinata ada sedikit rasa senang, karena seakan ia berhasil membalas sedikit atas adegan mesra dimajalah itu. Tapi hanya sedikit rasa senang itu, karena pekerjaan Hinata kali taruhannya.
Sakura terlihat sangat kesal, karena malam ini, disini, ia akan menghadiri perayaan untuk para actor dan artis yang akan bekerjasama dalam dorama terbaru yang akan dibintanginya bersama actor senior pujaannya –Uchiha Sasuke. Oleh karena itu, Sakura sengaja memesan gaun mahal ini langsung dari Perancis. Namun, tak berjalan seperti harapan Sakura, hanya karena seorang cleaning service bodoh seperti Hinata.
"Kau membungkukkan badanmu berapa kali pun tak akan dapat memperbaiki keadaan." Seru Sakura dengan nada membunuhnya. Hinata terkesiap mendengar perkataan Sakura.
"Saya benar-benar minta maaf nona. Sa-saya ti-tidak sengaja." Untuk menghilangkan rasa gugupnya, Hinata menggenggam erat telapak tangannya sendiri. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Tak lama kemudian, manajer Hinata menghampiri mereka, hal ini membuat Hinata semakin gugup dan menundukkan kepalanya semakin dalam.
"Ada apa ini? Apa yang terjadi?"
"Ini hotel ternama bukan?" Pertanyaan Sakura benar-benar penuh sindiran. Hinata semakin gugup dibuatnya. Hinata tak berani berfikir positif kali ini. Karena ia merasa itu sia-sia.
"Saya selaku manajer disini, memohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian pekerja kami. Sebagai gantinya kami akan memberikan Anda pelayanan special nona Haruno."
"Kurasa itu tidak setimpal. Bagaimana kalau kau memecatnya saja, kurasa itu baru setimpal." Serentak Hinata dan manajernya terbelalak tak percaya. Ternyata isu yang mengatakan bahwa Sakura adalah seorang artis yang sombong itu bukan cuma gossip tapi kenyataan. Tapi, tak pernah terlintas dibenak Hinata bahwa akan sekejam ini.
'Kenapa hidup tak adil padaku?' seketika hati Hinata berucap begitu saja.
"Sa-saya mohon no-nona, sa-saya membutuhkan pekerjaan i-ini." Hinata kembali mbungkukkan badannya. Sakura mendengus tak peduli.
oOo
Sedangkan di tempat duduk yang berada ditengah lobby, seorang pria berambut raven dengan kacamata hitam yang menutupi mata onyx-nya, duduk dengan kaki kanan berada diatas kaki kirinya sambil terus memperhatikan ketiga orang yang memikat perhatian setiap orang yang lalu lalang.
"Sasuke-sama, apa perlu saya kesana?" Laki-laki yang berdiri di belakang pria berambut raven yang benama –Sasuke- itu mulai angkat bicara. Sasuke hanya menjawabnya dengan mengangkat telapak tangannya yang menandakan 'belum'.
"Kurasa itu tidak setimpal. Bagaimana kalau kau memecatnya saja, kurasa itu baru setimpal."
Perkataan Sakura kali ini berhasil membuat Sasuke beranjak dari sofa nyaman dibelakangnya. Dengan patuh pengawal pribadi Sasuke berjalan mengikutinya dari belakang tak lupa senyum tersungging dibibirnya. Senang, karena Sasuke tetaplah Sasuke, selalu peduli pada Hinata.
oOo
Kali ini, Hinata benar-benar tak sanggup mengangkat kepalanya lagi. Airmata mulai membasahi matanya. Hanya pekerjaan ini yang ia punya.
"Sa-saya mo-mohon no-nona." Hinata terus berusaha sekuat tenaganya. Berharap agar wanita itu menarik kata-katanya kembali. Kepala yang terus menunduk membuat Hinata tak menyadari kehadiran orang lain diantara mereka.
"Sutradara mencarimu, Sakura." Sontak Hinata mendongakkan kepalanya tiba-tiba. Hanya dengan suaranya saja Hinata tahu siapa pemilik suara berat itu. Suara yang selalu ia rindukan. Sudah lama ia tak mendengarnya suara itu secara langsung. Uchiha Sasuke.
Sasuke membuka kacamata hitamnya, menampakkan mata onyx indahnya yang hanya dimiliki oleh setiap keturunan Uchiha. Kini mata onyx Sasuke bertemu dengan mata lavender Hinata lagi. Karena malu sekaligus gugup karena bertemu dengan Sasuke secara tiba-tiba dalam kesempatan yang tidak tepat pula, membuat Hinata tak sanggup memandang Sasuke terlalu lama.
"Aku mencarimu dari tadi Sasuke-kun. Kau darimana saja?" Sakura bertanya pada Sasuke dengan nada menggoda murahannya –menurut Hinata. Sasuke hanya mengarahkan jempolnya kearah belakangnya, menunjukkan tempatnya duduk dari tadi, sebelum peristiwa itu terjadi. Hal ini membuat Hinata mengetahui satu hal memalukan yang ia lakukan. Karena itu artinya Sasuke tahu, kalau dari tadi Hinata memikirkan dirinya hingga membuatnya menjatuhkan ember.
"Tolong katakan pada sutradara aku ada urus—"
"Biar aku saja. Lagipula, tidak semua kesalahannya." Potong Sasuke. Sedang dalam hati Sasuke masih melanjutkan kalimatnya, "sebagian juga karena aku."
"Ta-tapi. Huft~ baiklah. Aku tunggu kau didalam, ya~."
"Hn."
"Kalau memang solusinya dengan memecatnnya, saya tidak keberatan lagipu—" Manajer Hinata akhirnya kembali bersuara, tai belum selesai Sasuke memotong perkataannya.
"Tidak perlu. Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa."
"Lain kali kau berhati-hatilah Hyuuga-san. Tidak akan ada kesempatan kedua, ingat itu. Cepat kau bersihkan airnya! Berterima kasihlah pada Uchiha-san."
"Te-terima kasih Uchiha-san."
Usai manajer Hinata meninggalkan mereka berdua, Sasuke mulai kembali bersuara. Namun sebelum itu, "Juugo, bisa tinggalkan kami sebentar?" Pinta Sasuke pada bodyguard dibelakangnya.
"Tentu, Sasuke-sama."
TBC
WUUUUAHHH… kok jadi panjang T_T
Makasih buat reviewnya yah… Kayaknya bakal jadi lama nih Presl update nya.
Tapi tak usahain cepet yah,, XD
Doain ajah XD
Sasuke sama Hinata emang udah nikah… kenapa mereka gak tinggal bareng?
Nanti dulu….. *ditendang reader*
Sekali lagi Presel katakana.. Ini fanfic egois ku jadi bakal amburadul XD maklum ini seperti pelampiasan gitu daripada mbanting orang wkwkwkwkwkwk
Erryta : Hahaha, kayaknya gak jadi segitu nee, aku takut bosen yang baca… T_T
Thanks For Reading ^^
