Disclaimer : I own nothing here. also, no money making here.
Vernon Reaction
Petunia bangkit dari kursi dan menghampiri Vernon, menyentuh bahunya dengan lembut, "Duduklah Vernon, kita akan bahas ini dengan tenang," mata Vernon terus menatap Dudley.
"Duduklah Dad, kita bicara," Dudley terkejut mendengar ketenangan di dalam suaranya. Vernon tidak bergeming.
Fiona masuk ke dalam ruang makan, ia bisa merasakan perubahan dalam diri kakek dan ayahnya, ia juga bisa merasakan kalau itu bukan perubahan yang baik.
"Dad? Grandad?" Fiona merasa ada sesuatu yang tidak beres dan entah bagaimana ia merasa itu ada hubungannya dengan Fiona.
Caroline yang berada di belakang Fiona juga merasakan hal yang sama. Ia merangkul Fiona, memintanya menemani Jason yang masih berada di ruang tengah bermain dengan beberapa mainan baru Fiona. Fiona mengangguk dan pergi dari ruang makan tanpa banyak bicara.
Mata Caroline dan Dudley bertemu. Dudley tersenyum, lalu memberi isyarat padanya agar kembali menemani Fiona dan Jason. Caroline ingin sekali bertanya apa yang terjadi, tapi ia tau ini bukan saat yang tepat. Ia berbalik, memberi ruang pada keluarga ini untuk menyelesaikan masalah apapun yang sedang terjadi.
"Aku tidak ingin bicara," geram Vernon, ia menggebrak meja dengan keras. "Katakan padaku! Apa anak itu benar-benar seorang—itu?"
"Anak itu? Anak itu?" Dudley bangkit dari kursinya, "Anak itu adalah cucumu! Anakku! Jangan menyebutnya seolah dia itu—bukan siapa-siapa!"
Vernon terlihat semakin geram, "Dia bukan siapa-siapa jika dia benar-benar orang an—"
"Jangan pernah berkata seperti itu tentang anakku!" potong Dudley, "Dia anakku. Darahmu mengalir di dalam dirinya dan Dad tidak akan pernah bisa menyangkalnya,"
Dudley menatap Vernon lekat-lekat, "Aku tidak tau apa Fiona seorang—penyihir atau bukan—"
"Jangan pernah menyebut kata itu! Aku tidak ingin kata itu disebut-sebut di rumahku!" suara Vernon menggelegar. Dudley yakin Caroline dan Fiona bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sebenarnya Dad," Dudley menghela nafas, lelah. "Ini rumahku. Aku bisa mengatakan apapun di rumahku! Seperti kataku tadi, aku tidak tau apa Fiona seorang penyihir atau bukan—" Vernon mendengus mendengarnya, "Karena itu, aku ingin bertemu Harry. Dia tau—aku yakin dia akan tau—apa Fiona penyihir atau bukan!"
Vernon terlihat semakin kesal ketika Dudley menyebut nama Harry, "Untuk apa kau meminta orang aneh itu—"
Kesabaran Dudley hampir habis. "Jangan pernah menyebut Harry seperti itu! Dia menyelamatkanku! Dia menyelamatkan kita! Dia bisa meninggalkan kita mati! Tapi dia menyelamatkan kita!"
"Dia tidak melakukan apapun! Dan kita tidak berhutang apapun padanya apalagi nyawa! Dia berhutang pada kita yang sudah menampungnya—"
Dudley tertawa sinis, "Kita memperlakukannya seperti budak! Kita mengurungnya di bawah tangga selama sepuluh tahun! Semua pakaian yang ia pakai adalah pakaian bekasku! Kita berbuat buruk padanya selama ini dan sekarang dia berhutang pada kita karena semua itu?"
"Kita tetap memberinya tempat tinggal! Kita tetap memberinya makanan dari meja kita—"
"Dari piring kita," ralat Dudley, "Dia makan sisa makanan dari piring kita,"
"Beraninya kau melawanku!" teriak Vernon.
"Vernon! Cukup! Kau terlalu membesar-besarkan masalah ini!" Dudley dan Vernon menoleh pada Petunia.
"Apa ini Petunia?" tanya Vernon, "Kau tau tentang ini?"
"A—aku—"
"Mum tidak tau apa-apa soal ini Dad," potong Dudley, ia melirik Petunia. "Dad, kau harus mulai menerima—semua ini. Dunia sihir nyata dan kita semua tau itu. Sampai kapan Dad terus berpura-pura kalau semua ini hanya—khayalan? Itu adalah dunia Harry dan mungkin itu adalah dunia Fiona juga. Kenapa kau tidak bisa menerimanya?"
"Cukup nak!" Vernon menoleh pada Petunia, "Kita pergi dari sini dan kita tidak akan kembali!"
Dudley menahan bahu Vernon, "Fiona tetap cucumu Dad. Kau mau membuang cucumu sendiri? seperti kau membuang Harry?"
"Aku tidak akan pernah berhubungan dengan hal seperti ini lagi! Dan aku tidak pernah membuang—anak itu. Dia pergi dengan kelompoknya atas kehendaknya sendiri," Vernon menepis tangan Dudley dengan kasar dan pergi keluar.
Petunia memandang Dudley, lalu memeluknya erat. "Katakan pada Fiona aku menyayanginya. Dan—maaf aku merusak pesta ulangtahunnya,"
Dudley membalas pelukan Petunia, "Aku akan memberitaunya Mum,"
Dudley mengantar Petunia keluar, di depan pintu Petunia berbalik. "Jika kau bertemu Harry, sampaikan maafku padanya,"
Dudley terkejut mendengar kata-kata ibunya, ia membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu. Di saat yang bersamaan Vernon membunyikan klakson mobilnya beberapa kali. Petunia memberi Dudley pelukan singkat sebelum pergi bersama Vernon.
Hening menghinggapinya setelah ia melihat mobil Vernon menghilang di tikungan. Sekarang dia harus menjelaskan banyak hal pada Caroline dan Fiona. Dudley menghela nafas, ia melangkah masuk ke dalam rumah, menutup pintu di belakangnya perlahan.
"Apa yang sebenarnya terjadi Dudley?" tanya Caroline ketika Dudley memasuki ruang tengah. Fiona dan Jason tidak ada di sana.
"Aku tidak menjelaskan ini sekarang. Mana Fiona?"
"Di atas, bersama Jason. Dia sangat sedih,"
Dudley menghela nafas, "Aku akan pergi sekarang,"
Caroline terkejut, ia segera menahan Dudley, "Pergi? Kemana?"
Dudley tersenyum lemah, ia memeluk Caroline sekilas, "Aku akan menjelaskan semuanya nanti malam. Sekarang—aku sendiri tidak yakin dengan semua ini," Dudley menepis lembut lengan Caroline. Ia mengambil kunci mobil dan pergi keluar. Caroline mengikuti di belakangnya.
"Kau tidak ingin aku ikut?" tanya Caroline.
Dudley menggeleng, "Anak-anak membutuhkanmu. Aku pasti kembali malam ini," Dudley masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum dan melambai pada Caroline sebelum mengeluarkan mobilnya dari carport dan melaju pergi.
Godric's Hollow. Dudley mengendarai mobilnya melewati sebuah taman, yang dipenuhi anak-anak yang sedang asyik bermain, juga gereja dan pemakaman. Ia memutuskan untuk memarkirkan mobilnya di dekat gereja itu.
Dudley melihat ke sekeliling, desa yang tenang, pikirnya. Ia bertanya kepada seseorang yang sedang berada di halaman gereja apakah ada seseorang yang bernama Harry Potter di sekitar sini. Pria itu menjawab, "Tentu, keluarga Potter tinggal di rumah bercat putih, tidak jauh dari sini. Aku akan mengantarmu kalau anda mau sir,"
Dudley menghela nafas lega, "Terima kasih banyak sir,"
Pria itu melambaikan tangan, "Jangan terlalu formal begitu. Aku Peter Wienster," ia mengulurkan tangannya, yang segera di sambut Dudley. "Dudley Dursley,"
"Kau bukan orang sekitar sini ya Mr Dursley?" tanya Peter, ketika mereka berjalan menyusuri desa.
Dudley menggeleng, "Aku dari London. Aku kemari karena aku ada keperluan dengan Harry," Peter mengangguk-angguk. Mereka mengobrol ringan sepanjang perjalanan, sampai akhirnya mereka sampai di sebuah rumah bercat putih. "Ini dia," kata Peter.
Peter pamit pada Dudley, yang terus mengucapkan terima kasih. "Sama-sama. Sampai nanti Mr Dursley," kata Peter sebelum ia berbalik dan pergi.
Jantung Dudley berdebar kencang. Sudah dua belas tahun dia tidak bertemu dengan Harry dan sebelum itu Dudley bersikap sangat buruk padanya. Keraguan Dudley memuncak. Ia semakin tidak yakin Harry mau membantunya setelah semua yang telah Dudley dan keluarganya lakukan pada Harry.
Dudley terpaku di depan pagar. Pikirannya berkecamuk, ia tidak berani menghadapi Harry, tapi ia tidak tau siapa lagi yang bisa membantunya soal ini.
"Ada yang bisa kubantu sir?"
Dudley melompat kaget mendengar suara itu. Ia berbalik dan menemukan seorang gadis kecil seusia Fiona di belakangnya. Ketika Dudley melihat mata hijau gadis kecil itu, ia merasa yakin dia adalah putri Harry. Dudley tidak pernah melihat mata sehijau mata Harry dan gadis kecil di hadapannya ini memiliki mata itu.
Gadis itu memiringkan kepalanya, "Sir? Ada perlu apa di rumahku?"
Dudley mengedip beberapa kali, "Umm—yah. Apa ini rumah Harry Potter?"
Gadis itu menaikkan kedua alisnya, ia menatap Dudley lekat-lekat, kemudian mengangguk. "Ya. Aku Lily Potter, ada perlu dengan ayahku? Apa kau teman Dad dari Departemen Auror?"
Departemen Auror? Dahi Dudley berkerut, "Ya, aku ada keperluan dengan Harry. Emm—aku sepupunya,"
Lily menatap Dudley tidak percaya, "Aku tidak tau Dad punya sepupu,"
"Sudah lebih dari duabelas tahun Harry dan aku tidak bertemu. Apa dia di rumah?"
Lily mengangguk, ia melangkah melewati Dudley dan membuka pagar. "Hari ini Dad libur, dia ada di halaman belakang bersama kakakku, bermain Quidditch,"
Kerutan di dahi Dudley semakin dalam. Quidditch?
"Masuklah, aku akan memanggilkan Dad," kata Lily setelah mereka masuk ke ruang tamu. Lily meninggalkan Dudley di ruang tamu. Dudley melihat ke sekeliling, Harry punya selera bagus dalam menata rumahnya, batin Dudley. Matanya berhenti pada sebuah lukisan besar, lukisan Harry dengan seorang wanita berambut cokelat yang sangat cantik. Dudley mengira itu lukisan pernikahan mereka, ia melihat Harry tersenyum lebar di lukisan itu, terlihat bahagia. Dia tidak pernah melihat Harry sebahagia itu. Dan Dudley terkejut ketika melihat lukisan itu bergerak!
Bagaimana—oh tentu. Sihir.
Dudley melihat foto-foto yang terletak di sebuah meja. Ada foto Harry bersama wanita yang sama juga seorang pria berambut merah, mereka memakai seragam dan tampak lebih muda di foto itu. Foto Harry bersama tiga anak laki-laki dan Lily.
"James! Hentikan itu! Maaf membuatmu—Dudley?"
Dudley menoleh, ia melihat Harry berdiri tidak jauh darinya. Harry terlihat terkejut, begitu juga dengan Dudley.
Dudley berusaha tersenyum, "Hai Harry,"
gatau lagi harus bilang apa selain... RnR xD
