Disclaimer : i own nothing. Harry Potter belongs to JK Rowling. And there's no money making here.


Meet The Potters


"Dudley?" tanya Harry tidak yakin. Dudley memang terlihat berbeda. Dia bukan lagi anak bertubuh bongsor yang agak pendek seperti yang hari ingat sebelumnya. Dudley tetap bertubuh besar, tapi tidak gendut, tapi atletis. Mengingatkan Harry pada anggota militer Muggle yang sering ia lihat sewaktu kecil.

Dudley berusaha tersenyum pada Harry, sepupunya yang sudah lama tidak ia temui. "Hai Harry," ujarnya, setengah berbisik.

Harry maju selangkah, masih tampak sangat terkejut. "Ketika Lily berkata bahwa sepupuku ada di sini. Aku tidak tau—aku tidak yakin—itu—kau Dudley,"

Dudley tertawa kecil, "Memangnya kau punya sepupu lain Harry? Setauku, akulah satu-satunya sepupumu,"

Harry nyengir, "Yeah, kau benar. Tapi kita sudah lama tidak bertemu dan kukira aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi,"

Dudley mengangguk kecil, ia menyimpan kembali foto Harry bersama anak-anaknya di tempat semula. Ia mengira-ngira harus memulai darimana.

"Apa yang membuatmu datang kemari Dudley?" tanya Harry memecah kesunyian.

Perlahan Dudley menoleh, ia menarik nafas panjang sebelum menjawab. "Aku butuh bantuanmu,"


Hermione menghela nafas lega, akhirnya shift kerjanya di St Mungo berakhir juga. Hermione melambaikan tongkatnya, membereskan barang-barangnya dalam satu ayunan singkat dan dalam hitungan menit, ia sudah siap untuk pulang ke rumah.

"Pulang sekarang Hermione?" tanya Lisa, salah satu teman kerjanya.

Hermione mengangguk, "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan rumah jika aku tidak segera pulang," guraunya.

Lisa tertawa, "Memangnya suamimu tidak bisa diandalkan?"

"Bukan begitu, hanya saja Harry terlalu memanjakan anak-anak. Dia kurang tegas," Hermione nyengir.

"Oh aku ada panggilan, salam untuk suamimu Hermione! sampai ketemu besok," ujar Lisa sebelum ia mengambil mapnya dan segera berjalan menuju salah satu kamar pasien.

Hermione mengambil tas dan memakai mantelnya, lalu ia berjalan menuju sebuah perapian, mengambil segenggam bubuk Floo. Ia menebarkan bubuk itu sambil berkata dengan jelas, "Potter Manor,"

Sensasi Floo yang menggelitik itu sekarang Hermione rasakan hampir setiap hari. Ia memilih pergi dari rumah ke tempat kerjanya menggunakan bubuk Floo karena mudah dan hemat energi, ia bisa saja ber-Apparate, tapi itu terlalu menguras energi, membuat Hermione lebih mudah merasa lelah.

Dalam hitungan detik, ia sudah berada di ruang tengah rumahnhya. Hening. Dahi Hermione berkerut, ini terlalu pagi untuk tidur malam dan terlalu sore untuk tidur siang. Lagipula kedua anak pertamanya sudah jarang sekali tidur siang.

Hermione mendengar suara dari halaman belakang, ia menyimpan mantelnya terlebih dahulu sebelum berjalan menuju halaman belakang.

Dan di sanalah semua anggota keluarganya berada.

James dan Zach—putra pertama Ron, sahabatnya—asyik bermain di atas sapunya, Lily terlihat serius membaca buku di bawah sebuah pohon yang rindang lalu berteriak sambil marah-marah ketika sebuah Quaffle mengenainya, James hanya tertawa sementara Zach menghampiri Lily dan memastikan ia baik-baik saja. Harry duduk di kursi panjang yang diletakkan di teras, dengan putra kecil mereka, Sirius berada di pangkuannya.

Hermione tersenyum, ia membuka sekat yang memisahkan ruang tengah dan halaman belakang. Harry langsung menoleh dan tersenyum lebar melihat Hermione.

"Akhirnya kau pulang juga," ujarnya lega. Hermione tertawa, ia menghampiri Harry dan memberinya ciuman singkat di bibir, lalu meraih Sirius dari pangkuan Harry. Saat itulah Hermione menyadari bahwa ada seorang pria yang duduk di samping Harry, seorang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Harry menyadari arah pandang Hermione, "Hermione, kenalkan ini sepupuku, Dudley,"

Dudley tersenyum, ia mengulurkan tangannya, "Senang bertemu denganmu Mrs Potter,"

Hermione terpaku sejenak. Harry memanggil Hermione sekali lagi, menyadarkannya dari lamunan. Hermione membalas uluran tangan Dudley, "Panggil aku Hermione. kau—Dudley Dursley?"

Senyum itu sedikit memudar dari wajah Dudley, ia yakin Hermione tau seluruh kisah hidup Harry semasa ia kecil. Ia semakin yakin ketika menatap mata Hermione. "Ya. Itulah aku," jawab Dudley singkat.

"Oh,"

Hening sejenak.

Dua jenak.

Tiga jenak.

Harry menghela nafas, "Dudley mengira putrinya seorang penyihir," ujarnya pelan. Hermione terlihat kaget, ia menatap Harry dan Dudley bergantian.

"Aku yakin dia seorang penyihir, tapi aku tetap harus memastikan hal itu. karena itulah aku datang kemari," kata Dudley, Harry dan Hermione menoleh menatapnya. "Aku tau aku tidak pernah berbuat baik pada Harry selama ini, tapi ketahuilah, aku menyesal. Aku ingin memperbaiki segalanya, aku tidak seperti ayahku, dia membuang Fiona ketika mendengar bahwa Fiona mungkin seorang penyihir," lanjutnya panjang lebar.

Hening lagi.

"Masalahnya Hermione, aku sendiri tidak tau bagaimana caranya memastikan hal itu. aku tidak pernah tau aku seorang penyihir sampai aku mendapat surat dari Hogwarts," kata Harry.

Hermione termenung sejenak, "Aku sendiri tidak jauh berbeda. Aku—seorang Kelahiran-Muggle, kau ingat?"

Mereka terdiam lagi. Hermione memutar otaknya, bagaimana caranya memastikan bahwa seseorang adalah seorang penyihir?

"OI! HARRY? HERMIONE? APA ADA ORANG DI RUMAH?"

James dan Zach langsung menoleh, "PAMAN RON!" "DAD!"seru mereka riang.

Harry terkekeh, "KAMI DI BELAKANG SINI RON!"

Tidak lama, seorang pria berambut merah terang muncul dari dalam rumah. Dahi Hermione berkerut semakin dalam melihat penampilan Ron yang sangat berantakan.

Ron masih mengenakan seragam latihan tim Quidditch Chudley Cannons yang terlihat sangat kotor. Ron tau itu pasti menimbulkan komentar—atau lebih tepatnya keluhan dari Hermione Potter di hadapannya.

"Kau tidak ganti baju? Ronald Weasley, pahlawan dunia sihir, Order of Merlin kelas pertama, kiper dari Chudley Cannons, tidak bisa berganti pakaian sebelum berkunjung ke rumah orang lain?" gerutu Hermione.

Ron hanya tertawa, "Tenang, Herms! Aku hanya mampir, aku menjanjikan kaus bertanda tangan Oliver Wood pada James dan juga menjemput putraku,"

James dan Zach langsung turun dari sapu dan berlari menghampiri Ron sambil menenteng Nimbus 2010 mereka. "Hai paman Ron! Mana kaus yang waktu itu?" tanya James riang.

"Hello Dad! Bisakah aku makan malam disini saja? Aku masih ingin main," tanya Zach, memasang wajah memohon yang terbaik yang ia punya.

Ron menyerahkan sebuah kaus merah pada James yang langsung berteriak kegirangan dan memeluk Ron dalam satu pelukan yang singkat dan erat. "Terima kasih! Terima kasih! Terima kasih!"

Ron tertawa, "Sama-sama James!" ia menoleh pada Zach, "Dan kau, aku tidak yakin ibumu mengijinkanmu tinggal lebih lama lagi,"

Zach merajuk, ia sangat ingin tinggal di Potter Manor lebih lama. Dan seperti biasa, Ron mengalah. Hermione memutar matanya. Ron dan Harry sangat mirip dalam urusan mengurus anak, sama-sama terlalu memanjakan mereka.

"Dan alasan keduaku datang kemari adalah untuk memberi kalian berdua tiket untuk pertandingan Chudley Cannons berikutnya," Ron menunjukkan dua tiket.

Kali ini James dan Zach berteriak bersamaan dan keduanya melompat pada Ron yang langsung jatuh terjengkang. Harry terbahak melihatnya, Sirius bertepuk tangan riang, Hermione dan Lily menggeleng-geleng, sementara Dudley melongo, takjub.

"AH!" semua mata menoleh pada Hermione.

"Ada apa Herms?" tanya Ron, nyengir. Dia tau betapa Hermione benci dipanggil 'Herms'.

Hermione mendelik tajam pada Ron, lalu beralih memandang Harry. "Ron seorang Darah-Murni," ujar Hermione.

Dahi Harry berkerut. Apa yang dikatakan Hermione adalah hal yang sudah jelas, sangat jelas. Semua orang tau itu, Harry tau itu.

Hermione menggerutu pelan. "Ron, bagaimana caranya memastikan seseorang adalah seorang penyihir? Kau tau, aku Kelahiran-Muggle, Harry disini dibesarkan oleh Muggle. Kami tidak tau kalau kami ini seorang penyihir sampai kami mendapatkan surat. Jadi, bisa kau membantu kami?"

Dahi Ron berkerut, "Apa? Anak-anak kalian sudah pasti seorang penyihir kan? James sudah masuk Hogwarts, Lily sudah jelas bisa menggunakan mantra-mantra tingkat tiga—edan, benar-benar berotak Hermione—"

Lily dan Hermione mendelik tajam pada Ron. Ron berdeham, "Err—seperti aku bilang tadi. Semua anakmu sudah menunjukkan kalau mereka itu penyihir, bahkan si kecil Sirius di sini! Jadi untuk apa?"

"Bukan untuk mereka, tapi untuk anak Dudley di sini," Harry menunjuk Dudley yang duduk di sampingnya. Dudley nyengir.

Kedua alis Ron terangkat, "Dudley? Dudley Dursley? Yang mengurungmu di bawah tangga selama sepuluh tahun?

Harry memutar mata, "Ya Ron dan kita tidak perlu mengungkit-ungkit itu lagi,"

Ron diam, ia melirik Hermione, Hermione mengangkat bahu.

"Oh. Jadi ada kemungkinan anakmu seorang penyihir?" tanya Ron.

Dudley mengangguk, "Mungkin—hei! aku ingat kau! Kau kan yang waktu itu menjemput Harry sewaktu aku—empatbelas tahun! Ya! Empatbelas tahun! Kau, kedua kakak kembarmu dan ayahmu kan? Kedua kakakmu yang memberiku permen aneh itu?"

Harry menggigit bibir, berusaha menahan tawanya. Ia tentu ingat peristiwa saat mereka kelas empat. Saat Arthur, Fred, George dan Ron menjemputnya untuk menonton Piala Dunia. Dimana Dudley memakan permen lidah liar buatan Fred dan George.

Ron terbahak, "Aku tidak menyangka kau masih mengingatku," Ron terbahak lagi, Dudley mencibir, jelas tidak suka mengingat masa itu.

"Ngomong-ngomong—" Ron mengusap matanya yang basah karena terlalu banyak tertawa, "Kalau kau mau menguji apa anakmu seorang penyihir, itu gampang saja. Suruh saja dia pakai tongkat sihir, karena seorang Muggle tidak mungkin bisa menggunakan tongkat sihir,"

Hermione menepuk dahinya, "Kenapa sama sekali tidak terpikir olehku!" keluhnya.

Ron nyengir, "Aku kira kaulah yang pintar di sini," kali ini Hermione menepuk belakang kepala Ron.

"Hei!"

Hermione tidak memperdulikan protes Ron.

Ron melirik jam tangannya, "Well, aku harus pulang. Aku berjanji pada Luna untuk pulang sebelum makan malam dan Zach! Jangan nakal!"

Zach menyahut, terdengar tidak terlalu peduli.

Ron berpamitan pada semua orang, mengingatkan James dan Zach soal pertandingan Quidditch, sebelum menghilang dengan suara 'crack' keras. Ron ber-Apparate.

"Itu mengingatkanku, ini hampir waktunya makan malam," Hermione kembali menyerahkan Sirius pada Harry. Sirius mengeluh, ia ingin terus bersama Hermione. "Bagaimana kalau kau makan malam bersama kami Dudley?" tanya Hermione.

"Umm—kalau tidak merepotkan," jawab Dudley.

Hermione tersenyum, "Tentu tidak," Hermione berbalik dan masuk ke dalam, diikuti Lily di belakangnya. James dan Zach kembali asyik dengan sapu mereka, James mengenakan kaus Chudley Cannons yang tadi Ron berikan, kaus yang amat kebesaran.

"Harry, dimana aku bisa menemukan telepon umum di sekitar sini?" tanya Dudley lagi.

"Di rumahku tentunya," jawab Harry santai.

"Di rumahmu ada telepon?"

Harry terkekeh, "Tentu saja, kalau tidak bagaimana Hermione bisa menghubungi orangtuanya,"

Dudley mengangkat alis, "Kukira penyihir tidak bisa memakai telepon," ujarnya pelan. Dudley masih ingat insiden telepon yang membuat Vernon murka.

Harry teringat hal yang sama, saat ketika Ron menelepon ke rumah keluarga Dursley. Harry nyengir, "Hermione seorang Kelahiran-Muggle, kedua orangtuanya bukan penyihir, tentu mereka tau bagaimana cara menggunakan telepon," Harry terdiam sejenak, "Kalau untuk keluarga Darah-Murni seperti Ron, aku tidak yakin mereka bisa," Harry nyengir.

Harry menunjukkan dimana letak telepon pada Dudley yang terletak di ruang tengah, lalu membiarkannya menelepon sementara ia menyusul Hermione dan Lily ke dapur.

Dudley menekan nomor rumahnya. Terdengar nada sambung beberapa kali sebelum telepon itu diangkat.

"Halo?" Dudley mengenali suara itu sebagai suara putrinya, Fiona. Ia tersenyum.

"Hey Fio, ini Daddy. Bisa tolong sambungkan telepon ini pada Mummy?" tanya Dudley.

"Daddy!" sapa Fiona riang, "Daddy dimana? Mummy mencarimu dari tadi,"

"Daddy sedang—emm—ada urusan," Dudley menghela nafas pelan, "Sekarang, bisa tolong sambungkan pada Mummy?"

"Sebentar," selanjutnya terdengar teriakan Fiona yang memanggil ibunya. Mau tidak mau Dudley tertawa pelan mendengarnya.

"Dudley? Dimana kamu?" suara Caroline terdengar cemas.

"Aku masih di rumah sepupuku, sepertinya aku akan pulang malam jadi kau tidak perlu menungguku,"

Sesaat tidak terdengar jawaban dari seberang sana.

"Caroline?"

"Fiona—aku kira aku hanya bermimpi tapi—aku bersumpah Dudley, aku tidak berbohong—" Caroline terdiam sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya, "Dia—menerbangakan boneka-bonekanya. Fiona—aku—dia—"

Dudley menghela nafas, "Aku tau. Aku akan menjelaskan segalanya besok,"

Caroline memekik pelan, "Kau—tau? Apa maksud—"

"Aku akan menjelaskannya besok. Aku harus pergi sekarang, katakan pada Fiona dan Jason aku menyayangi mereka,"

"Aku mencintaimu Dudley,"

"Aku juga mencintaimu Caroline,"

Dengan itu telepon terputus. Dudley termenung sejenak, ia terus menatap telepon. Caroline pasti bertanya padanya malam ini, ia pasti menunggunya pulang. Dudley masih tidak tau bagaimana cara mengatakan hal ini padanya dan—

"JAMES! ZACHARY! MAKAN MALAM!"

Dudley terlonjak kaget. Ia diam di tempat beberapa saat, menenangkan dirinya, sebelum ia berjalan menuju ruang makan yang berada di samping ruang tengah.

Dudley melihat Lily, James dan Zach sudah duduk di meja makan. Zach dan James duduk berdampingan, terkikik melihat sesuatu di bawah meja. Sirius didudukkan di sebuah kursi tinggi yang berada di samping Lily. Harry dan Hermione masih di dapur.

"Hei paman Dudley, apa paman sudah menikah?"

Dudley menoleh, mendapati Lily menatapnya penasaran. Rasa keingintauan Lily terpancar jelas di matanya, mirip dengan Fiona. Dudley mengangguk, "Ya, istriku bernama Caroline. Aku punya seorang putri namanya Fiona, umurnya baru tujuh tahun dan seorang putra bernama Jason, dia baru berumur satu tahun,"

Lily tersenyum, matanya berbinar, "Hei, aku juga berusia tujuh tahun!" ujarnya riang.

Harry memasuki ruangan, beberapa piring berisi makanan melayang di depannya. Mata Dudley melebar melihatnya. Ya tentu, rumah ini berisi penyihir dan tentu, hal seperti ini tidak aneh, batinnya.

Harry dan Dudley berjalan berdampingan menuju tempat Dudley memarkirkan mobilnya.

"Jadi besok aku akan datang lagi, membawa Fiona dan Caroline," gumam Dudley.

Tanpa disangka, Harry menggeleng, "Aku yang akan datang ke rumahmu, bersama Hermione mungkin. Lagipula jarak antara rumahmu kesini kan dua jam. Aku sudah tau alamat rumahmu jadi menurutku sebaiknya aku yang datang,"

"Jarak dari sini ke rumahku juga dua jam kan?"

Harry nyengir, "Ah, hanya beberapa detik," Harry terkekeh.

"Apa—oh yah. Sihir," gumam Dudley.

"Kau sudah tidak canggung mengucapkan kata-kata itu sekarang. Sangat berbeda dengan paman Vernon,"

Dudley nyengir, "Aku bukan Dad, jadi—ya, aku tidak canggung mengucapkan semua kata-kata itu,"

Mereka tertawa, tanpa sadar, mereka sudah berada di samping mobil Dudley.

"Besok aku akan datang sekitar jam sepuluh, aku akan mengantar anak-anakku ke rumah Ron dulu jadi mungkin akan sedikit terlambat," kata Harry.

Dudley mengangguk, "Maaf sudah merepotkanmu, Harry,"

Harry melambaikan tangannya, "Ah tidak apa, itu sudah tugasku,"

Dudley membuka pintu mobilnya, ia terpaku sejenak sebelum masuk. Dudley teringat sesuatu.

"Harry?"

"Ya?"

"Mum bilang dia minta maaf. Aku juga,"

Harry terpaku. Dudley masuk ke dalam mobilnya, ia melaju sebelum Harry sempat mengatakan apapun.

Harry masih menatap bayangan mobil Dudley yang perlahan menghilang, ia menghela nafas pelan. "Aku sudah memaafkan kalian sejak lama," bisik Harry. Kemudian ia menghilang dengan suara 'crack' keras.