Disclaimer : as usual, i own nothing and there's no money making here.


Floo, Apparate dan Lily Potter


Bersantai di ruang tengah sembari menonton televisi adalah kegiatan Dudley setelah ia pulang kerja. Biasanya ia ditemani oleh Fiona yang terus berceloteh tentang sekolahnya, tentang kegiatannya di rumah, tentang Jason, tentang segalanya. Dan Dudley sangat senang mendengar Fiona bercerita seperti itu. Tapi kali ini ia tidak menemukan Fiona di sana.

"Mana Fio?" seru Dudley pada Caroline yang sedang asyik di dapur.

"Di kamarnya," jawab Caroline singkat.

Alis Dudley terangkat heran, tidak biasanya Fiona berada di kamarnya pada jam seperti ini.

Caroline masuk ke ruangan sambil menggendong Jason, ia menyerahkan Jason pada Dudley. "Dia mengurung diri di kamarnya sejak pulang sekolah tadi," ujar Caroline, "Berapa kali pun kupanggil dia tetap tidak mau keluar dan pintunya pun terkunci,"

"Terkunci? Kita tidak memasang kunci di kamar Fiona kan?" tanya Dudley bingung.

"Karena itulah aku juga bingung," Caroline menghela nafas.

Kretek.

Dudley dan Caroline menoleh, "Dudley, apa kau menyalakan perapian?" Caroline menatap perapian yang apinya menyala-nyala itu dengan tampang keheranan.

Dudley menggeleng, "Aku tidak—" mata Dudley membulat ketika ia melihat wajah keponakannya di perapian.

"Halo Paman Dudley! Bibi Caroline! Apa Fiona ada sana?" wajah Lily Potter menyembul dari perapian.

Caroline melongo, terlalu kaget untuk menjawab pertanyaan Lily. Dudley-lah yang menjawabnya, "Dia mengurung diri di kamar sejak tadi siang. Entah kenapa,"

"Oh. Sebentar," wajah Lily menghilang, namun apinya tetap tidak padam.

Caroline menatap Dudley dengan tatapan 'apa-aku-gila-atau-aku-baru-saja-melihat-wajah-keponakanku-di-perapian'. Dudley hanya mengangkat bahu, ia juga menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri.

Beberapa saat kemudian, seorang gadis kecil melangkah keluar dari perapian. Lily menepuk-nepuk bajunya, menyingkirkan debu yang mengotori bajunya.

"Dimana kamar Fiona? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya," ujar Lily riang.

Caroline memandang Lily dari atas sampai bawah, "Kau—bersekolah di St Lucas?" itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Caroline.

Lily sedikit terkejut mendengarnya, ia mengira hal pertama yang akan Caroline katakan adalah bagaimana dirinya bisa muncul begitu saja dari perapian. Pertanyaan tidak terduga dari Bibinya ini membuat Lily merasa sedikit kecewa. Padahal Lily sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang ia pikir akan Caroline tanyakan. Tapi Lily tetap mengangguk dan tersenyum manis, "Iya. Aku, James dan Teddy bersekolah di sana. Tapi Teddy sudah lulus dua tahun lalu dan sekarang bersekolah di Hogwarts, dia seorang Ravenclaw,"

Dudley tersadar, Lily datang memakai baju yang terlihat seperti seragam sekolah. Kameja putih dengan blazer warna biru tua, rok kotak-kotak berwarna biru-putih, dasi biru garis putih serta sepatu hitam lengkap dengan kaus kaki putih selutut. Terdapat lambang sekolah St Lucas di dada kiri blazer itu.

"Aku kira—aku kira penyihir punya sekolahnya sendiri," ujar Caroline lagi.

Lily mengangguk, "Ya, tapi kami baru bisa bersekolah di sana saat kami berumur sebelas tahun. Sebelum itu kebanyakan keluarga penyihir memilih untuk mendidik anak mereka sendiri. Tapi Mum dan Dad ingin aku lebih mengenal dunia Muggle, karena itu mereka menyekolahkanku di St Lucas,"

Caroline mengangguk-angguk, ia masih tampak takjub.

"Bisa aku menemui Fiona?" tanya Lily.

Dudley mengangguk, "Tentu, kamarnya ada di lantai dua. Ada sebuah pintu dengan nama 'Fiona' , kau bisa menemukannya sendiri?"

Lily mengangguk, nyengir lebar. "Tentu! Petunjuknya sudah cukup aku yakin bisa menemukannya," Lily segera pergi meninggalkan Caroline dan Dudley.

"St Lucas?" gumam Caroline tidak percaya.

Dudley terkekeh, ia mendekap Jason yang berada di pangkuannya.

"Dudley, dia bersekolah di St Lucas!" ujar Caroline, masih tampak tidak percaya.

Dudley mengangkat bahu, "Ya aku dengar itu. Lalu?"

Caroline memutar mata, ia duduk di samping Dudley. Wajahnya terlihat serius. "Kau tau kan kalau St Lucas itu sekolah yang terkenal karena disiplin dan kualitas siswanya yang—sangat pintar?"

Dudley mengangguk, "Ya aku tau dan aku bisa melihat bahwa Lily sangat pintar,"

"Kau juga tau kan sekolah itu sangat mahal?"

Dudley mengangguk, mulai merasa geli dengan tingkah istrinya ini. ia menggigit bibirnya, menahan diri untuk tidak tertawa. "Ya, aku tau. Aku pernah mendengar dari Mum kalau keluarga Potter itu adalah salah satu keluarga terpandang di dunia penyihir dan kudengar mereka juga sangat kaya. Jadi, itu tidak aneh,"

Caroline melongo tidak percaya. Dan Dudley tidak bisa menahan tawanya lagi saat melihatnya.

Lily berhasil menemukan kamar Fiona dengan mudah. Terang saja, hanya ada satu pintu dengan nama Fiona di rumah itu. Lily mengetuk pintu itu tiga kali sambil menyahut, "Fiona! Ini aku, Lily!"

"Pergilah!" seru Fiona dari dalam kamar.

Lily menghela nafas, "Tidak! Ada sesuatu yang harus kusampaikan! Buka pintunya!"

Hening.

"Ayolah Fiona, kau bisa cerita padaku apa yang terjadi," ujar Lily, ia terus mengetuk pintu kamar Fiona.

Tidak lama kemudian pintu terbuka, Fiona berdiri di belakangnya dengan wajah sembab. Fiona langsung menghambut ke pelukan Lily yang menerimanya dengan terkaget-kaget.

"Ada apa?" tanya Lily lembut sambil mengusap-usap punggung Fiona.

"Mereka—bilang aku orang aneh—aku membuat Mr Frederick terbang—mereka bilang aku penyihir—"

"Tapi kau memang penyihir,"

"Aku tau! Tapi—tapi mereka bilang—aku harus—mereka bilang aku—jahat—"

Lily mendorong bahu Fiona, menatap matanya dalam-dalam. "Kau tidak jahat! Kau memang penyihir tapi kau tidak jahat!"

"Tapi—aku membuat—guru—terluka—"

"Itu kecelakaan Fiona. Kecelakaan. Dan itu bisa terjadi pada siapa saja termasuk denganku," Lily berusaha meyakinkan Fiona. "Jadi jangan pikirkan apa yang mereka katakana. Mereka seperti itu karena mereka tidak mengerti,"

Fiona mengangguk.

"Jika kau berhenti menangis aku akan mengajakmu ke Diagon Alley bersama Dad dan James untuk berbelanja seluruh kebutuhan sekolah James," ujar Lily riang, "James masuk Hogwarts tahun ini," tambah Lily.

Mata Fiona membulat dan senyum pun kembali mengembang di wajahnya.

Caroline sudah kembali lagi ke dapur untuk memasak makan malam, meninggalkan Jason dan Dudley bermain di ruang tengah.

Dudley membiarkan Jason bermain dengan mainannya di dalam boks, sementara ia membaca beberapa berkas yang ia bawa dari kantor.

Kretek.

Dudley memutar mata sebelum menoleh ke arah perapian. Kali ini wajah Harry Potter yang terlihat di sana. Harry menoleh dan mendapati Dudley menatapnya tanpa ekspresi, dia nyengir. "Hey Big D! Apa Lily di sini? Aku tidak menemukannya di mana-mana. Tidak di rumah, tidak di The Burrow, tidak di rumah Ron atau Bill atau Percy atau George atau—"

"Ya, dia di sini Harry," potong Dudley sebelum Harry menyebutkan daftar seluruh orang yang ia kunjungi demi mencari putrinya yang menghilang.

Wajah Harry mencerah mendengar itu, "Oh, aku akan segera ke sana," ujar Harry sebelum wajahnya menghilang bersamaan dengan padamnya perapian.

Crack!

Kali ini Harry muncul di hadapannya, tersenyum lebar pada Dudley yang terlonjak kaget karena suara Apparate yang cukup keras. "Jadi mana anak itu? Hermione sudah panik sekali di rumah," ujar Harry, terdengar mengeluh.

"Dia ada di kamar Fiona dan apa itu tadi?" tanya Dudley heran.

Kedua alis Harry terangkat, "Itu tadi Apparate. Artinya—hmm—artinya aku bisa muncul dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap. Kira-kira seperti itulah," Harry nyengir.

"Lalu ada apa dengan perapianku?"

"Itu namanya Floo. Cara lain untuk bepergian antar perapian. Aku sudah membuat jaringan Floo di rumah ini, jadi kalau terjadi sesuatu kalian bisa langsung pergi ke rumahku. Tinggal sebarkan bubuk Floo sambil berkata 'Potter Manor' dengan jelas dan dalam beberapa detik kalian akan mendarat di perapian rumahku," jelas Harry panjang lebar.

Dudley mengangguk-angguk walau ia sendiri sebenarnya masih tidak begitu mengerti apa yang Harry jelaskan padanya.

Terdengar langkah kaki menuruni tangga, suaranya bergema sampai ke ruang tengah. Bersamaan dengan suara kikikan yang semakin lama semakin mendekat dan terdengar jelas.

Lily memekik kaget begitu melihat Harry berdiri di ruang tenga dengan kedua tangan terlipat di dada dan bibir menipis. Ini tidak akan bagus.

"Apa yang aku dan ibumu katakan tentang pergi tanpa pamit Lily Potter?" tanya Harry pelan namun tajam.

Kring!

Harry mengangkat jarinya, meminta Lily untuk menahan jawabannya dulu sementara ia merogoh bagian dalam sakunya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Hermione meminta Harry dan Ron untuk membeli ponsel agar lebih mudah dan cepat untuk dihubungi. Harry tentu dapat belajar menggunakan ponsel dengan cepat, tapi Ron lain lagi ceritanya. Butuh lebih dari seminggu bagi Hermione dan Luna untuk mengajari Ron cara menggunakan ponsel.

"Halo? Oh, Hermione,"

Wajah Lily langsung memucat begitu mendengar nama ibunya tersayang.

"Ya aku menemukan Lily...bukan, bukan di rumah Ginny atau Ron...Hermione, tenanglah dulu..."

Lily berdiri terpaku di tempatnya, dia tau dia dalam masalah besar kini. Fiona memandang sepupunya khawatir.

"...di rumah Dudley...yeah...oh, tunggu," Harry menjauhkan ponselnya lalu menoleh lagi pada Lily, "Ibumu ingin bicara denganmu,"

Lily mengeluh, "Kenapa tidak di rumah saja?"

Harry mengangkat bahu, "Ibumu bilang sekarang," Harry menyodorkan ponselnya yang Lily terima dengan ragu-ragu. Takut lebih tepatnya.

"Hei Mum," cicit Lily pelan, sangat pelan. Ia terdiam sejenak, sambil sesekali melirik Harry, meminta bantuan. Sepertinya Hermione menceramahinya.

"Maaf Mum. Aku—lupa," gumam Lily.

"LUPA? LUPA? LILY EMMA POTTER! TAUKAH KAU IBUMU INI HAMPIR SAJA JANTUNGAN?" jeritan Hermione terdengar jelas dan membuat semua orang melonjak. Lily sampai menjauhkan ponsel Harry dari telinganya, Harry meringis, Dudley dan Fiona melotot.

Harry menggeleng-geleng, ia yakin ceramah Hermione pasti akan tetap berlanjut saat Lily menginjakan kaki di rumah. Ia memilih untuk mengalihkan perhatiannya pada Dudley.

"Dudley, besok aku dan James akan pergi ke Diagon Alley untuk berbelanja kebutuhan sekolah. Kau dan Fiona mau ikut?" tanya Harry.

Dudley segera mengalihkan perhatiannya dari Lily ke Harry. "Besok? Bukankah ini masih terlalu cepat untuk membeli kebutuhan sekolah?"

"Yeah, James memang akan pergi bulan september nanti dan daftar bukunya pun belum datang, tapi aku berjanji padanya untuk membelikannya tongkat untuk hadiah ulangtahunnya yang kesebelas," jelas Harry.

Dudley melirik Fiona yang kini menatapnya penuh harap. Ia menghela nafas, "Sepertinya Fiona ingin pergi. Tapi aku tidak bisa mengantar, Caroline juga ada janji dengan orangtuanya,"

"Oh ayolah Daddy! Aku ingin pergi," rengek Fiona.

Harry tersenyum, "Tidak apa-apa, aku bisa menjemput Fiona kemari lalu mengantarnya kembali ke sini,"

Dudley menggeleng, "Aku tidak ingin merepotkanmu," ujarnya jujur.

Harry melambaikan tangan, "Omong kosong Dudley, itu tidak apa-apa. Lagipula aku tidak sendiri, Hermione dan beberapa temanku akan ikut serta, jadi Fiona bisa mengetahui lebih banyak tentang dunia barunya," Harry mengedipkan matanya pada Fiona yang langsung nyengir lebar. Dengan ini Harry telah masuk dalam daftar orang terfavorit Fiona.

"Baiklah," Dudley menghle nafas, "Jangan nakal Fiona,"

"YIPPIIEE!" Fiona berseru senang lalu memeluk Dudley erat-erat. "Aku menyayangimu!"

Lily menghela nafas setelah menutup ponselnya, cemberut. Ia menyerahkan ponsel itu kembali pada Harry. "Mum bilang kita harus segera pulang," gumamnya pelan.

"Dan?"

"Dan aku tidak boleh mengunjungi perpustakaan keluarga Black dan Potter selama dua minggu. Ini penyiksaan!" keluh Lily.

Harry terkekeh, "Itu kan karena kesalahanmu sendiri Lily,"

"Aku tau," gerutu Lily.

"Sebaiknya kami pulang sekarang. Maaf sudah mengganggu Dud," ujar Harry, Lily sudah berdiri di sisinya.

Dudley mengangguk, "Tidak apa-apa. Jadi jam berapa kau akan menjemput Fio besok?"

Lily bertukar pandangan dengan Fiona, keduanya nyengir lebar. Sama-sama terlihat senang dan tidak sabar menanti hari esok.

Harry melirik putrinya itu, "Jam 10 mungkin," jawabnya pada Dudley.

"Tentu, terima kasih sebelumnya Harry,"

"Sama-sama Big D," Harry nyengir.


a/n : ahhh terima kasih banyak untuk semua reviewnya! Author benar-benar terharu nih hihihihi. sekali lagi, makasih banget buat semua reviewnya xD