Disclaimer: i own nothing. Harry Potter belongs to JKR. oh, but i own Fiona Dursley here xD


Meet The Weasleys

James mengangkat kedua alisnya ketika mendengar bahwa anak dari sepupu ayahnya akan ikut ke Diagon Alley bersama keluarganya. Siapa itu namanya? Fiona Dursley? Yeah, Fiona Dursley. Putri dari pria yang waktu itu ikut makan malam bersama keluarganya. Kalau James tidak salah ingat nama pria itu Dudley Dursley, nama yang aneh menurut James.

"Dia anak yang manis sekali," ujar Lily pada kakak laki-lakinya itu pada saat mereka sarapan bersama di meja makan.

James menyendokkan sereal ke mulutnya, tampak tidak peduli dengan topik obrolan mereka pagi ini. "Benarkah?" tanyanya tidak acuh.

Lily mengangguk dengan semangat, tidak menyadari sikap tidak-ingin-peduli yang diperlihatkan James. "Benar! Kau juga pasti akan menyukainya," Lily bersenandung riang. Ia memang selalu ingin memiliki saudara perempuan.

James mengunyah sarapannya tanpa selera. Menyukainya? Hell no.

Hermione muncul dari balik pintu sembari menggendong Sirius kemudian mendudukkannya di sebuah kursi tinggi. "James, janji padaku kau tidak akan menjahili Fiona. Bagaimana pun juga dia sepupumu," kata Hermione tajam pada putra tertuanya itu.

"Yeah Mum, aku berjanji," toh aku tidak peduli padanya, lanjut James dalam hati.

Hermione menatap James tidak percaya, tapi tidak berkata apa pun lagi saat ia menyadari tidak ada kilatan jahil di mata James seperti biasanya. Hermione pun kembali sibuk menyuapi Sirius.

"Pagi," sapa Harry pada keluarganya, ia mengecup pipi Sirius sekilas lalu beralih pada Hermione. "Pagi wife," bisiknya sambil nyengir.

Hermione tersenyum, "Pagi husband," bisiknya.

Terdengar paduan suara 'iuhh' dan 'yuck' dari James dan Lily saat Harry menutup jarak di antara dirinya dan Hermione. "Aku kehilangan selera makanku," gerutu James sambil menjauhkan mangkuknya. Lily melakukan hal yang sama.

Harry dan Hermione tertawa melihat tingkah kedua anaknya. Harry mengacak-acak rambut James saat melewatinya, ia mengambil kursi tepat di samping James. "Kalau kalian berdua sudah selesai sarapan, sebaiknya kalian segera bersiap-siap. Kita akan menjemput Fiona kira-kira setengah jam lagi," kata Harry, meraih Daily Prophet yang masih tergulung rapi dan membukanya.

"Tentu!" sahut Lily yang dengan bersemangat langsung melompat turun dari kursinya dan berlari ke kamarnya.

James mengeluh pelan, "Haruskah aku ikut? Aku bisa pergi ke The Burrow dan berangkat bersama Zach dan Paman Ron," kata James.

"Tidak James, kau akan ikut dengan kita. Kau harus mengenal sepupumu ini," jawab Hermione.

"Dengarkan ibumu James dan segera bersiap-siap," tambah Harry tanpa mengalihkan matanya dari Daily Prophet.

James cemberut, ia turun dari kursi dan berjalan ogah-ogahan meninggalkan ruang makan. Harry melirik putra tertuanya lalu beralih menatap Hermione. "Ada apa dengannya?"

Hermione mengangkat bahu, "Entahlah, dia bersikap seperti itu sejak aku memberitaunya tentang Fiona. Mungkin dia tidak suka ada orang lain ikut dengan kita hari ini,"

Harry mengangkat sebelah alisnya, "Tapi Fiona itu sepupu James, bukan orang lain,"

"Bagi James, Fiona tetap orang asing kan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya,"

Harry menghela nafas, "Mungkin itu benar. Apa yang harus kita lakukan?"

Hermione tersenyum, "Aku yakin semuanya akan segera berubah seiring waktu. Mungkin mereka akan menjadi teman akrab saat Fiona mulai bersekolah,"

"Aku harap itu benar,"


Fiona mematut-matut dirinya di depan kaca. T-shirt berwarna putih dengan sedikit manik-manik di bagian dadanya dan rok bermotif bunga berwarna abu-abu melekat di badannya, rambut pirang sebahunya dibiarkannya terurai. Ia memakai sebuah sepatu flat berwarna pink dengan garis-garis putih yang manis. Fiona terlihat puas dengan penampilannya sendiri.

"Fiona! Mereka di sini!" teriak Dudley dari bawah.

"Sebentar Dad!" Fiona meraih tas selempangnya yang berada di atas meja dan segera berlari ke bawah. Ia tersenyum melihat Lily yang melambai penuh semangat padanya. Lalu matanya bertemu dengan mata seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua darinya. Anak itu memiliki rambut cokelat yang berantakan sedangkan matanya—nafas Fiona sedikit tertahan melihat mata hijau anak itu. Mata yang sama dengan mata Lily.

Akhirnya James bisa bertemu dengan Fiona yang terus Lily ceritakan padanya selama dua puluh empat jam terakhir. Awalnya James tidak terlalu peduli, tapi ketika Lily menyikutnya dan menunjuk pada seorang anak perempuan yang sedang menuruni tangga, gestur tubuhnya langsung berubah. Rambut pirangnya terurai sempurna membingkai wajahnya dan terlihat agak kontras dengan mata biru-kehijauan yang dimilikinya. James terpesona.

Lily dan Fiona saling berpelukan. Lily menarik Fiona mendekati keluarganya yang sudah menunggunya. "Fiona, kenalkan ini—"

Sebelum Lily menyelesaikan kalimatnya, James sudah berdiri tepat di depan Fiona sambil memamerkan senyuman lebarnya. James mengulurkan tangannya, "James Potter," ujarnya.

Harry, Hermione dan Lily melongo melihat perubahan mood James yang drastis. Fiona mengulum senyum, ia membalas uluran tangan James. "Fiona,"

"Jadi, kau Kelahiran-Muggle ya?" tanya James dengan nada bicara—yang menurut Lily—sok ramah.

Fiona mengangguk tidak yakin, "Yeah. Kau tau kan orangtuaku bukan penyihir,"

"Jangan khawatir, ibuku juga Kelahiran-Muggle dan salah satu penyihir terbaik di generasinya," ujar James, masih dengan senyuman dan nada sok-ramah.

Adegan ini sukses membuat dagu Harry, Hermione dan Lily jatuh berguling-guling di lantai. Dudley memandang keluarga Potter ini dengan khawatir, apa ada yang salah dengan putriku? Batinnya. "Emm—Harry?"

Harry mengatupkan rahangnya dengan suara 'klak' yang cukup keras. "Umm—maaf Dud," gumamnya pelan, lalu berjalan menuju perapian dan menyalakan apinya.

Dudley menatap perapian itu, "Kau—berencana menggunakan—itu?"

Harry mengangguk, "Floo lebih baik daripada Apparate, hanya sedikit berdebu saja," ia nyengir pada Dudley lalu menatap Hermione. "Bagaimana kalau kau dan Sirius dulu?"

"Langsung ke Diagon Alley atau ke The Burrow?"

James langsung menoleh, "The Burrow! Please Mum, Dad,"

Harry menghela nafas, tersenyum pada James, "Okay, The Burrow. Mungkin lebih baik kita titipkan Sirius pada Molly,"

Hermione mengangguk mengerti lalu melangkah masuk ke perapian. Hermione mengambil bubuk Floo yang disodorkan Harry lalu berkata dengan jelas dan keras, "The Burrow!"

"Apa itu The Burrow?" tanya Dudley.

"Rumah keluarga Weasley. Tentu kau ingat Ron kan?"

"Oh, tidak mungkin aku melupakannya. Dan kedua kakak kembarnya," gumam Dudley setengah menggerutu. Harry terkekeh.

Fiona memekik ketika melihat api itu menjilat tubuh Hermione kemudian menghilang. "Dia terbakar!" serunya panik.

Lily terkekeh, "Tidak Fiona. Itu—"

"Mum hanya berpindah tempat menggunakan bubuk Floo. Sama sekali tidak berbahaya, hanya sedikit kotor," potong James sambil nyengir. Lily menoleh pada James yang sudah menurutnya sudah mencuri kesempatannya untuk menjawab keingintahuan Fiona dengan tatapan tidak percaya dan terlihat sedikit terganggu.

"Seperti kata James tadi, ini sama sekali tidak berbahaya. Bagaimana kalau kau berikutnya?" tanya Harry berusaha menyembunyikan rasa takjubnya pada sikap James yang mengingatkan Harry pada cerita Remus dan Sirius saat mereka masih hidup. Cerita tentang James Potter dan Lily Evans saat mereka masih di Hogwarts.

Fiona terlihat ragu untuk melangkah masuk ke perapian.

Dudley berbisik pada Harry, "Kau yakin ini aman?"

"Percayalah padaku Dudley, ini aman. Kalau tidak, aku tidak akan membiarkan istri dan anakku masuk ke dalam perapian," jawab Harry. Dudley hanya mengangguk-angguk.

James berjalan melewati Fiona dan masuk ke perapian. "Lihat? Sama sekali tidak panas atau pun sakit," kata James pada Fiona.

Fiona menatap James dan api yang masih menyala-nyala di bawahnya bergantian. "Tapi—aku—"

James mengalihkan pandangannya pada Harry, "Dia terlihat takut Dad, bagaimana kalau aku dan Fiona pergi bersamaan?" tanya James.

Harry dan Lily melongo melihat ekspresi serius James. Harry mengangguk, "Yeah, kurasa itu ide bagus," lalu ia menoleh pada Fiona, "Masuklah, ini aman dan aku janji kau tidak akan merasakan apapun. Well, mungkin akan terasa seperti digelitik tapi ini aman,"

Fiona menatap Harry ragu, tapi ia mengambil langkah demi langkah hingga akhirnya berada di perapian bersama James. James tersenyum, ia meraih bubuk Floo dari Harry lalu meraih tangan Fiona dan menggenggamnya erat. Fiona balas menggenggamnya. Senyum James berkembang semakin lebar sebelum ia menebarkan bubuknya dan berkata dengan jelas dan lantang, "The Burrow!"

Lily masih menatap perapian tidak percaya. Cara James memperlakukan Fiona tadi terlalu—terlalu aneh bagi Lily. "Dad?"

"Hmm?"

"Sepertinya James menyukai Fiona,"

"Kupikir juga begitu," Harry menoleh pada Dudley lalu menepuk bahunya pelan, "Walaupun jahil, James anak yang baik. Dia pasti bisa menjaga Fiona," ujarnya dengan tampang serius.

Wajah Dudley memucat, "Apa maksudmu?"

Harry hanya nyengir.


James dan Fiona mendarat di perapian The Burrow dengan selamat. Fiona masih terlihat shock, ia meraba tubuhnya dan menghela nafas lega ketika menyadari tidak ada satu bagian dari tubuhnya yang tertinggal. James tidak bisa menahan tawa melihat tingkah Fiona.

"Ah bajuku kotor!" keluh Fiona.

"Tenang, Mum akan membersihkan baju kita," James menarik Fiona keluar dari perapian.

Fiona melihat ke sekeliling. The Burrow ternyata adalah sebuah rumah yang terlihat sudah tua dan yang jelas sangat ramai. Fiona melihat Hermione duduk di salah satu sofa bersama seorang wanita berambut pirang dan seorang wanita berambut merah terang.

James meminta Hermione membersihkan bajunya dan baju Fiona.

"Biar aku," kata wanita dengan rambut merah terang sambil mengeluarkan tongkatnya dan dalam beberapa ayunan, baju James dan Fiona kembali bersih. Fiona takjub melihatnya.

"Terima kasih Bibi Ginny," ujar James riang.

Ginny tersenyum, "Sama-sama James," lalu ia menoleh pada Fiona dan kembali menatap James, tersenyum penuh arti. "Siapa ini James? Pacarmu?"

Wajah James dan Fiona langsung berubah merah. Ginny tertawa terbahak-bahak, "Tidak perlu serius sepert itu James,"

"Aku tidak tau kenapa kau senang sekali menggoda James, Ginny," kata wanita berambut pirang sambil menggeleng-geleng.

"Oh ayolah Luna, lihat ekspresinya. Lucu sekali bukan!"

Luna memutar matanya lalu tersenyum pada Fiona, "Kau pasti Fiona. Hermione sudah bercerita banyak tentangmu. Aku Luna Weasley, senang bertemu denganmu,"

Fiona mengangguk, "Senang bertemu denganmu," wajahnya masih terasa panas.

"Kau menyukainya kan Jamie?" Ginny nyengir, masih asyik menggoda James.

Hermione dan Luna memutar matanya, tapi tetap menatap James penuh arti. Wajah James semakin memerah, membuat ketiganya langsung tertawa.

"Diamlah kalian!" James menarik Fiona menjauh, "Ayo Fiona, aku kenalkan pada sepupu-sepupuku,"

Tawa ketihanya malah semakin keras. "Hei James! Ngomong-ngomong, itu pilihan yang bagus!"

James melirik Fiona, "Maaf soal itu," wajah James masih memerah.

Fiona tersenyum, "Tidak apa, dia hanya bercanda kan,"

James menghela nafas, "Yang benar saja," gerutunya, "Itu tadi adalah Ginny Malfoy, adik perempuan dari suami Bibi Luna yang tadi kau temui," jelas James. Lalu mereka sampai di halaman The Burrow yang ternyata sangat luas. James menyikut Fiona pelan lalu menunjuk ke atas.

Mata Fiona membulat melihat orang-orang yang terbang di atas sapu. "Itu adalah sepupu-sepupuku," kata James. Lalu ia melambai dan berteriak, "Hoii! Aku ikut!"

"Hey James!"

"Hoi Jamie!"

Semua pengendara sapu itu turun dengan kecepatan yang membuat Fiona langsung bersembunyi di balik James. "Tenang Fio, mereka tidak akan menabrakmu," ujar James, berusaha menyembunyikan cengirannya.

James menyambut orang-orang yang segera melompat turun dari sapunya dan berlari mendekati James serta Fiona, masih menenteng sapunya masing-masing.

"Well, well, aku tidak tau kau sudah punya pacar James," pria tinggi berambut merah itu melirik Fiona, matanya berkilat jahil.

James memutar mata, "Please Paman George, ini sepupuku, Fiona. Dia seorang Kelahiran-Muggle,"

"Kelahiran Muggle? Ah, kau dan ayahmu punya selera yang sama Jamie," sebelum James sempat protes, George sudah menoleh pada Fiona, "Hai, aku George Weasley. Senang bertemu denganmu,"

Fiona terlihat bingung, "Aku—emm—aku Fiona Dursley,"

"Jangan hiraukan adikku ini, dia memang jahil," kata seorang pria yang juga berambut merah, di wajahnya terdapat bekas luka. "Aku Bill Weasley. Senang bertemu denganmu Fiona,"

James memperkenalkan Fiona pada seluruh orang yang berada di sana. "Mari kita mulai dari yang berambut merah. Kau sudah tau Paman George dan Paman Bill. Nah, yang rambutnya dikuncir itu Paman Charlie lalu ada Paman Ron, Paman Percy dan Paman Draco. Lalu ada Zach, Louis dan Scorpius Malfoy,"

"Hey James, ambil sapumu kita main Quidditch! Lima lawan lima," ujar Zach dengan semangat sambil kembali menaiki sapunya dan menyusul saudara-saudaranya yang sudah melayang dengan sapu mereka masing-masing.

"Tentu!" James menoleh pada Fiona, "Kau ikut?"

Fiona menggeleng, "Kurasa aku akan disini saja," katanya singkat sambil bertanya-tanya dalam hati, apa itu Quidditch.

James mengangguk singkat lalu berlari ke dalam, tidak lama kemudian ia sudah kembali keluar dengan sapu di tangan kanannya dan Lily yang mengikuti tidak jauh di belakangnya.

"Kakakku tidak berbuat bodoh kali ini?" tanya Lily saat ia sudah berdiri di samping Fiona.

Fiona tertawa, "Tidak, dia malah mengenalkanku pada sepupu-sepupumu,"

"Semua?"

"Hanya yang sedang bermain sapu," jawab Fiona. "Hey Lily, apa itu Quidditch?"

"Olahraga, seperti—umm—seperti sepakbola. Hanya saja menggunakan sapu dan dimainkan oleh tuhuj orang. Satu Keeper, satu Seeker, dua Beater dan tiga Chaser. Keeper, tentu saja, menjaga ketiga gawang sementara Chaser berusaha memasukkan Quaffle—bola berwarna merah besar yang dipegang Scorpius di sana—ke dalam salah satu lingkaran, setiap Quaffle yang dimasukkan ke salah satu lingkaran itu bernilai sepuluh poin. Beater bertugas untuk menjaga anggota timnya dari dua bola Bludger, bola gila berwarna hitam yang sangat senang menghantam pemain. Dan Seeker bertugas untuk menangkap Golden Snitch, bola kecil berwarna emas yang bernilai seratus lima puluh poin. Saat Snitch ditangkap, otomatis pertandingan langsung berakhir," jelas Lily panjang lebar.

Fiona mengangguk-angguk, "Jadi selama Snitch belum ditangkap berarti pertandingan tetap berlangsung?"

Lily mengangguk sambil menjentikkan jarinya, "Tepat sekali,"

Mereka berdua duduk di atas rerumputan sambil menonton para lelaki itu bemain Quidditch sampai Hermione memanggil mereka berdua untuk kembali ke dalam. Fiona melihat Sirius kecil bermain bersama beberapa anak lain. "Aku akan mengenalkanmu pada sepupu-sepupuku yang lain," kata Lily sambil bersenandung riang.

Langkah Fiona berhenti, "Masih ada lagi?"

Lily nyengir, "Masih banyak yang belum kau kenal dari keluarga Weasley,"


Satu jam berada di The Burrow membuat kepala Fiona terasa agak pening. Bagaimana tidak? Anggota keluarga Weasley itu sangat banyak. Tapi yeah, Fiona sudah bisa mengenali mereka. Terutama yang tidak berambut merah seperti Paman Draco, Bibi Fleur, Bibi Audrey, Bibi Angelina, Bibi Luna, Dominique, Scorpius, Molly dan Rae. Tentunya Fiona bisa membedakan Mr dan Mrs Weasley—yang bersikeras meminta Fiona untuk memanggil mereka Grandad dan Granma—karena mereka yang tertua, Bill dengan bekas lukanya dan Charlie dengan rambut panjangnya.

Fiona melihat foto keluarga Weasley saat mereka masih jauh lebih muda. Ia melihat seorang yang sangat mirip dengan George. Saat Fiona menanyakan itu pada Dominique, ekspresi wajahnya langsung berubah drastis. "Itu Paman Fred, saudara kembar Paman George. Dia meninggal saat perang," itu jawaban dari Dominique dan Fiona tidak pernah lagi menyinggung tentang George.

Harry memutuskan untuk pergi ke Diagon Alley menggunakan Apparate. "Aku tidak ingin terlihat," katanya sambil mengambil sebuah jubah yang memiliki tudung kepala, begitu pula dengan Hermione dan Ron. Fiona tidak tau kenapa, tapi sepertinya mereka akan segera mengetahuinya.

Hermione tersenyum pada Fiona, "Jangan pernah melepaskan tanganku sampai kita sampai di Diagon Alley," ujarnya lembut. Fiona mengangguk.

Crack!


Thanks for reading (and review) xD