Disclaimer : i own nothing but the plot and several OC.
Gringgots, Ollivanders and...
Fiona sempat mengira gang sempit dan gelap inilah Diagon Alley yang dia dengar dari Lily atau dia baca dari buku pemberian Lily dan Hermione. Tapi ketika Lily tertawa dan berkata ini bukan Diagon Alley, Fiona mendesah lega dan nyengir.
Ternyata mereka berada di sebuah tempat yang Ron sebut Knockturn Alley, sisi lain dari Diagon Alley. "Jarang sekali ada orang kemari, apalagi setelah perang. Karena itulah, kita ber-Apparate ke sini," ujarnya.
Mereka pun segera keluar dari tempat itu dan sampai di sebuah jalanan yang ramai, dipenuhi orang-orang yang terlihat memakai jubah panjang atau topi kerucut atau membawa tongkat. Untuk pertama kalinya Fiona melihat satu jalanan penuh penyihir dan toko-toko aneh.
"Selamat datang di Diagon Alley," ujar James memamerkan cengiran khasnya.
Hal pertama yang Fiona lihat di Diagon Alley adalah sebuah bangunan besar yang cukup megah dimana banyak sekali orang keluar masuk darinya, beberapa sambil menghitung koin-koin emas. Fiona menyadari itu adalah Gringgots Wizarding Bank.
"Aku akan ke Flourish and Blotts, kalian akan ke Gringgots dulu kan?" tanya Hermione.
Harry mengangguk, "Tentu, aku tidak yakin uang di kantongku cukup untuk membeli tongkat James. Kau pergilah Hermione, aku akan menyusulmu,"
"Aku ikut denganmu Mum!" sahut Lily dengan semangat.
Ron memutar mata, "Dia benar-benar anak Hermione," gumamnya pelan.
Zach dan James tertawa, Harry menggeleng-geleng sambil nyengir sedangkan Lily dan Hermione mendelik Ron tajam.
"Jangan hiraukan dia. Apa kau ikut dengan kami Fiona?" tanya Hermione pada Fiona, menghiraukan cengiran lebar Ron dan Harry.
"Sebaiknya Fiona ikut denganku dulu. Dudley memberiku uang jadi aku ingin menukarkannya dengan Galleon untuknya," Harry tersenyum pada Fiona.
"Oh, baiklah kalau begitu,"
"Sampai nanti Fiona," kata Lily lalu berbisik, "Kalau James melakukan sesuatu padamu bilang saja padaku,"
Fiona terkikik, "Aku yakin itu tidak akan terjadi. Sampai nanti, aku akan menyusulmu setelah ini,"
Sementara Lily dan Hermione pergi ke Flourish and Blotts untuk memenuhi 'Lapar-Buku' mereka (istilah Ron), Harry, Ron, James, Zach dan Fiona masuk ke dalam Gringgots setelah Ron dan James menegur James dan Zach yang hendak berlari ke arah sebuah toko yang berada di ujung Diagon Alley.
"Kita bisa pergi ke toko Paman George nanti!" kata Harry. James dan Zach cemberut.
Fiona sedikit terkejut melihat para goblin yang berlalu lalang atau yang sedang bekerja di balik meja mereka. Fiona memang sudah membaca tentang goblin, tapi dia tidak pernah menyangka ternyata goblin terlihat cukup mengerikan. Tanpa sadar Fiona menempel kepada Harry.
Harry tersenyum melihatnya dan merangkul Fiona lalu berbisik padanya, "Aku juga sedikit takut ketika aku pertama kali datang ke sini,"
Fiona mendongak menatap Harry yang tersenyum padanya dan menempel semakin erat padanya. Ron terkekeh melihatnya. Dan mereka pun berhenti di depan meja seorang goblin.
"Kau pergilah duluan Ron, aku harus mengurus beberapa hal," kata Harry, mempersilahkan Ron untuk mendahuluinya.
Ron mengangguk, "Tentu, kita bertemu setelah ini di toko George. Ayo Zach,"
Zach mengedip pada James yang balas nyengir, mata keduanya berkilat jahil, membuat Ron, Harry dan Fiona menatap mereka bedua curiga. "Apa?" tanya James dengan nada polos.
Harry menghela nafas dan memutuskan untuk mulai mengurus segala keperluannya segera setelah Ron dan Zach menghilang bersama seorang goblin. "Aku Harry Potter aku ingin mengambil uang dari lemari besi keluarga Potter dan menukar ini dengan Galleon,"
Sementara Harry dan si goblin mengobrol dan mengurus beberapa hal, Fiona asyik memperhatikan orang-orang di sekitarnya.
"Bagaimana kalau setelah ini kau menemaniku membeli tongkat? Aku yakin kau akan menyukainya," ajak James.
"Aku tidak tau, aku berjanji pada Lily akan menyusulnya setelah ini," ujar Fiona ragu. Tentu dia ingin ikut dengan James dan melihat bagaimana seorang penyihir memilih tongkat sihirnya, tapi di lain pihak dia juga sudah berjanji pada Lily.
"Aku akan mengantarkanmu ke Flourish and Blotts setelahnya, aku berjanji," usul James, "Jadi, bagaimana?"
Fiona menimbang-nimbang sejenak sebelum ia mengangguk semangat, "Ya, tentu,"
"Kita akan membeli tongkat di Ollivander's. Setelah itu, kita bisa ke toko Paman George lalu ke Florean Fortescues' untuk makan es krim dan Mum ingin membelikanku dan Lily jubah resmi di Madam Malkins," James menjelaskan rencana mereka hari ini panjang lebar. Dan ternyata, belum selesai sampai di situ.
"Dan aku ingin sekali mampir di Qudditch Quality Supplies, karena kudengar Firebolt-S sudah dipasarkan. Oh ya, Firebolt itu merk sapu terbang dan Firebolt adalah salah satu yang terbaik di dunia. Setelah itu mungkin aku akan mampir untuk membeli serum untuk Padfoot, burung hantuku. Ah ya, Dad memberimu burung hantu kan? Kau sudah memberinya nama?"
Fiona mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, "Yeah, itu burung hantu yang sangat cantik. aku menamainya Rowena,"
"Rowena? Dari Rowena Ravenclaw?"
Fiona mengangguk, "Aku pikir itu nama yang cantik dan Rowena menyukainya,"
Harry berbalik, tersenyum melihat James dan Fiona bisa mengobrol dengan akrab. Ternyata kekhawatirannya tentang James yang mungkin akan menjahili Fiona terus menerus tidak terjadi, syukurlah.
Harry menghampiri keponakannya itu dan menyerahkan sebuah kunci emas serta kantung kecil yang berisi beberapa Galleon, Sickle dan Knut. Setelah itu, Harry, James dan Fiona serta seorang goblin menaiki sebuah kereta (yang mengingatkan Fiona pada Roller Coaster di taman bermain) untuk memasuki sebuah lemari besi.
Fiona menganga tidak percaya ketika melihat isi dari lemari besi itu. Gunungan emas terlihat memenuhi lemari besi itu. "Ini—ini semua—milikmu?"
"Sebenarnya," James menghela nafas, "Ini adalah gabungan dari harta keluarga Potter, keluarga Black dan hadiah-hadiah yang Mum dan Dad terima setelah perang,"
"Perang?"
James tersenyum kecil, "Kau akan tau nanti,"
Segera setelah Harry selesai mengambil apa yang ia butuhkan di lemari besi tersebut, mereka kembali ke permukaan dan keluar dari Gringgots.
Harry menyerahkan sejumlah uang pada James, "Aku akan menyusul ibumu, tidak apa-apa kan?"
James mengangguk semangat, "Tentu Dad, aku bukan anak kecil lagi," James menoleh pada Fiona, "Kau ikut denganku kan?"
"Tentu," sahut Fiona, tidak kalah semangat.
"Kau yakin akan ikut James Fio? Tidak ingin menemui Lily dulu?" tanya Harry.
Fiona mengangguk, "James berjanji akan mengantarku ke tempat Lily setelahnya,"
Harry melirik James setengah tidak percaya. James nyengir polos. "Baiklah," Harry menghela nafas pelan, "Tepati janjimu James,"
"Pasti Dad," jawab James.
James dan Fiona mengamati Harry menjauh, sebelum James menarik tangan Fiona ke arah berlawanan, melewati Magical Menagerie, Gambol & Japes, Second-Hand Robe Shop dan akhirnya sampai di depan sebuah toko.
Fiona membaca papan toko itu lambat-lambat Ollivanders: Makers of Fine Wands since 382 BC.
"Dad bilang dulu toko ini terlihat lebih tua dan aneh," James memiringkan kepalanya, "Kurasa masih begitu sampai sekarang. Walau Dad bilang toko ini terlihat lebih baik dari dulu,"
"Hmm," tanggap Fiona ringan.
James mengangkat bahu, "Well, ayo masuk,"
James mendorong pintu itu dan suara bel pun terdengar. Fiona melihat seorang pria tua di balik meja mendongak dari perkamennya dan tersenyum pada kedua anak di hadapannya.
"Oh, halo Mr Potter. Kukira aku baru akan melihatmu beberapa minggu lagi," kata pria tua itu sambil bangkit dari kursinya.
James tersenyum, "Aku meminta Dad untuk membelikanku tongkat lebih awal, Mr Ollivanders,"
"Aku bisa melihat ayahmu mengabulkan permintaanmu itu Mr Potter dan bolehkah aku tau siapa gadis kecil di sampingmu itu Mr Potter?" Mr Ollivanders mengambil beberapa kotak dari salah satu rak dan menyimpannya di meja. Ia membuka salah satu kotak dan mengeluarkan sebuah tongkat lalu menyerahkannya pada James.
James menerima tongkat itu dan mengayunkannya pelan, "Ini sepupuku, Fiona Dursley, Kelahiran-Muggle," ia menyimpan lagi tongkat itu di ke dalam kotaknya. "Itu bukan tongkat untukku," jelas James pada Fiona yang terlihat bingung.
"Bagaimana kau tau?" tanya Fiona.
"Tongkat itu tidak memilih Mr Potter sebagai pemiliknya Miss Dursley," jawab Ollivander sambil menyerahkan tongkat yang lain pada James. "Kau tentu tau kan kalau tongkat yang memilih pemiliknya?"
Fiona mengangguk.
"Sebuah tongkat tidak akan berfungsi sempurna jika dipakai oleh seseorang yang bukan pemiliknya," Ollivander kembali menyerahkan sebuah tongkat pada James setelah tongkat sebelumnya tidak bereaksi apa-apa. "Walaupun begitu, aku menemukan kasus khusus pada Mr Potter dan Miss Granger,"
"Sekarang lebih dikenal dengan Mrs Potter," sahut James, terkekeh sambil menyerahkan tongkat yang dipegangnya dan menerima tongkat yang lain.
"Orangtuamu?" tanya Fiona lagi.
James mengangguk, "Aku mendengar dari Paman Ron kalau sewaktu mereka bertiga tinggal di tenda sebelum perang, tongkat Dad patah dan tidak bisa diperbaiki lagi, jadi Mum meminjamkan tongkatnya pada Dad. Dan anehnya, tongkat itu bekerja penuh di tangan Dad,"
"Wow, apa itu benar-benar kejadian langka?" Fiona terkagum-kagum.
"Itu kejadian yang sangat langka Miss Dursley. Aku sendiri tidak pernah percaya hal seperti itu bisa terjadi sampai aku melihatnya sendiri," sahut Ollivander lagi.
Setelah lebih dari setengah jam James dan Fiona berada di dalam toko Ollivander. Akhirnya James bisa menemukan tongkat yang sesuai dengannya.
"Dua belas inci, Mahogany dengan sehelai bulu Hippogrif. Tongkat yang bagus," gumam Ollivander.
James menyerahkan keping-keping emas pada Ollivanders, mengambil tongkatnya dan segera menarik Fiona keluar dari Ollivander's. "Ayo, kita ke Flourish and Blotts," ajak James.
Dan tepat ketika mereka berdua melewati Florean Fortescue's, mereka mendengar seseorang (atau dua orang) memanggil mereka. James dan Fiona melihat ke sekeliling, mencari-cari sumber suara. Sampai mereka melihat, Draco dan Ginny Malfoy melambai dari dalam Florean Fortescue's.
"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya James dan Ginny bersamaan.
Draco terkekeh, "Hanya menikmati waktu libur kami dengan berduaan," Draco merangkul Ginny yang terkikik, membuat James dan Fiona berjengit melihanya. Draco nyengir jahil pada James, "Kau juga begitu kan?"
Pipi James dan Fiona memerah.
"Kami sepupu Paman Draco," keluh James.
"Ya, kami sepupu. Jadi itu—err—tidak mungkin," sambung Fiona.
Ginny melambaikan tangannya ringan, "Omong kosong. ngomong-ngomong, mana orangtuamu James?"
"Flourish and Blotts, seperti biasa," jawab James, terlihat ogah-ogahan.
Draco mengangguk-angguk, "Hermione dan Lily?"
"Pastinya," James dan Ginny berkata bersamaan lagi.
"Dan Harry ada di sana?" tanya Draco lagi.
"Yap," James dan Ginny mengangguk, keduanya menatap Draco aneh.
Draco menoleh pada Ginny, "Ketika kita melewati Flourish and Blotts tadi..."
Mata Ginny membulat, "Kerumunan orang..."
"Merlin!" keluh James dan Ginny.
"Huh?" Fiona memandang Ginny dan James bergantian.
"Kau akan mengerti setelah melihatnya sendiri Fiona," kata Draco, membaca kebingungan di wajah Fiona.
Fiona mengangguk ragu.
James, Draco dan Ginny mengeluh keras-keras melihat kerumunan di depan Flourish and Blott's. Fiona terlihat penasaran, apa yang membuat orang-orang itu berkerumun di depan Flourish and Blott's? Dan apa yang membuat mereka ingin sekali masuk ke sana?
"Sepertinya petugas Flourish and Blott's sudah mengunci pintu mereka," kata Ginny.
Draco mengangguk, "Sepertinya begitu. Tindakan yang cerdas,"
James menggerutu, "Tentu saja, ini bukan pertama kalinya kan,"
Draco nyengir, "Kau benar Jamie. Ayo, bantu aku melewati orang-orang ini. Ginny, sebaiknya kau tinggal di sini bersama Fiona," Ginny mengangguk setuju.
Fiona mengamati James dan Draco yang berusaha melewati kerumunan, lalu menoleh pada Ginny. "Ada apa?"
Ginny menghela nafas, "Orang-orang itu ingin sekali melihat dan berbicara pada Harry dan Hermione,"
"Apa mereka terkenal?"
Ginny terlihat terkejut, tapi melihat ekspresi Fiona, ia tau kalau Fiona tidak bercanda. "Tentu saja. Mereka berdua dan Ron, kau tau Ron kan?"
Fiona mengangguk.
"Well, mereka bertiga bisa dibilang pahlawan besar di dunia sihir kau tau? Bahkan patung mereka bertiga diabadikan di Hogwarts,"
"Wow," gumam Fiona, "Apa mereka benar-benar seterkenal itu? apa yang membuat mereka terkenal?"
"Mereka mengalahkan Pangeran Kegelapan, Harry mengalahkannya. Dan ya, mereka memang se-terkenal itu," jawab Ginny, "Ah itu mereka,"
Fiona kembali menoleh ke Flourish and Blott's, dimana Harry, Hermione dan Draco keluar diikuti James dan Lily yang cemberut. Kerumunan orang-orang itu masih berusaha mengikuti mereka, berusaha menarik perhatian mereka.
"Mr Potter! Mrs Potter!" "Miss Granger!" "Dia bukan Miss Granger lagi tolol! Mrs Potter!"
Draco mengangkat kedua tangannya, membuat kerumunan itu berhenti bergerak sementara keluarga Potter terus melangkah mendekati Fiona dan Ginny. "Kami menghargai perhatian kalian semua, tapi harap mengerti kalau keluarga Potter di sini untuk urusan pribadi. Jadi tolong, beri mereka ruang. Terima kasih,"
"Kuberitau padamu Fiona, Keluarga Potter ini, sangat tidak menyukai perhatian," bisik Ginny. Fiona terkikik.
"Apa yang kalian tertawakan?" tanya Lily dan James bersamaan, keduanya terlihat tidak senang.
Ginny dan Fiona nyengir polos, "Tidak ada apa-apa,"
"Kalian berhutang padaku karena membuatku kerja di hari libur seperti ini," gurau Draco.
Harry terkekeh, Hermione nyengir.
"Ayo, sebaiknya kita ke toko George sekarang," kata Ginny.
Ron nyengir lebar begitu melihat keluarga Potter plus Draco dan Ginny serta Fiona memasuki kantor George yang berada di lantai paling atas Sihir Sakti Weasley. Ia bisa menebak apa yang baru saja mereka alami begitu melihat ekspresi James dan Lily. "Lagi?" gurau Ron, mengangkat sebelah alisnya.
James mendengus dan menggerutu.
"Yap," jawab Lily ogah-ogahan, melempar dirinya ke atas sofa dan menghela nafas lelah. Fiona duduk di sampingnya, menatap Lily khawatir.
Lily tersenyum kecil pada Fiona, "Oh!" Lily menepuk dahinya ringan sebelum membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa buku. "Aku membelikan ini untukmu. Umm—Mum yang membelinya, aku hanya memilih,"
Fiona memandang buku-buku itu dan Lily bergantian, "Ini—uangnya akan aku ganti," ujar Fiona sambil membuka tas-nya.
"Tidak!" sahut Lily cepat, "Tidak perlu, Mum tidak akan menerimanya, begitu juga aku,"
"Tapi—"
"Tidak ada tapi Fio. Anggap saja ini hadiah kecil dariku dan Mum," tambah Lily, "Dan di buku ini," Lily menunjuk buku Sejarah Sihir Modern: Edisi Revisi, "Kau akan menemukan semua cerita kenapa Mum dan Dad bisa terjebak di Flourish and Blott's,"
"Dan kau akan menemukan namaku di sana!" sahut Ron dari seberang ruangan.
"Jangan pedulikan kakakku yang bodoh itu," kata Ginny sambil melambaikan tangannya ringan.
"Hei!" seru Ron, menatap Ginny kesal. "Hentikan itu!"
"Ayolah Weasley, Ginny hanya mengatakan kebenaran," gurau Draco, disusul tawa Harry, James dan Zach, serta gelengan kepala dari Hermione dan Lily.
Sementara Ron, Draco dan Ginny berdebat. James dan Zach mengajak Fiona serta Lily untuk turun ke bawah, menemui 'Profesor' mereka, George Weasley. Lily menolak, "Aku tidak ingin terlibat tindakan bodoh kalian!" itu alasan Lily. Dan ia terlihat sangat terkejut ketika Fiona justru menyetujui ajakan James dan Zach.
"Apa? aku hanya penasaran," kata Fiona.
Lily memutar mata dan akhirnya memutuskan untuk ikut dengan alasan 'melindungi Fiona'.
"Wah wah, ternyata para keponakan favoritku!" sambut George ketika mereka berempat turun dari kantor ke toko. George memeluk James dan Zach dengan gestur yang agak berlebihan, seakan mereka belum bertemu selama bertahun-tahun. Lalu George beralih memeluk Lily, "Dan keponakanku yang terlalu baik,"
Lily memutar mata, "Aku anggap itu pujian, Paman George,"
George melepas pelukannya, "Kau terlalu mirip Hermione, Lilykins. Sesekali tirulah kakakmu dan ledakkan toilet," kata George serius sambil menepk-nepuk pundak Lily. James dan Zach terbahak.
Lily menghela nafas keras, ia mengangkat kedua tangannya, membalikkan badannya dan berjalan menjauhi George sambil menggumam tidak jelas.
George beralih pada Fiona, "Dan kau keponakan terbaruku, aku berharap bisa menemukan sisi keonaranmu,"
"Kurasa itu tidak akan mungkin," sahut Fiona, "Tapi sesekali meledakkan toilet sepertinya tidak akan masalah,"
James, Zach dan George tersenyum lebar. "Itu baru semangat," ketiganya menepuk punggung Fiona pelan. Fiona terkekeh.
"Kurasa kita bisa menemukan sesuatu yang lebih asyik dari meledakkan toilet di sini. James, Zach, bagaimana kalau kalian menunjukkan seluruh isi toko ini pada Fiona? Dan kita akan lihat apakah mungkin Fiona memiliki jiwa Marauder tersembunyi dalam dirinya," jelas George panjang lebar, matanya berkilat semangat.
"Marauder?"
"Kakekku, ayah baptis Dad, ayah Teddy dan seorang lagi bernama Peter Pettigrew memiliki sebuah grup pembuat keonaran yang paling terkenal sepanjang sejarah Hogwarts—"
"Mereka adalah legenda. Hanya si kembar Weasley yang bisa menandingi mereka," potong Zach.
"—hush Zach, aku sedang menjelaskan sesuatu!"
"Ups, sorry Jamie,"
James menghela nafas, "Anyway, mereka menyebut diri mereka Marauder. Dan benar kata Zach, mereka adalah legenda,"
"Kami semua mengagumi mereka," sambung Zach.
James dan Zach ternyata benar-benar mengenal Sihir Sakti Weasley, mereka bahkan hafal seluruh produk yang ada di dalamnya beserta fungsi, akibat hingga penawar yang sebagainya di gunakan. Ketika Fiona bertanya mengapa mereka bisa mengetahui tentang itu sebegitu banyak. James dan Zach menjawab dengan bangga, "Kami tumbuh bersamanya,"
Fiona memutar mata, namun ia tetap tertawa.
Ketika mereka berada di bagian permen, George menghampiri mereka dan menunjukkan sebuah permen pada Fiona. "Ini adalah Permen Lidah-Liar. Permen yang pernah membuat kakek-nenekmu heboh karena ayahmu memakannya," jelas George pada Fiona.
"Dad memakannya? Bagaimana bisa?"
"Well, aku dan Fred 'menjatuhkannya secara tidak sengaja,'" George mengedip sekali pada Fiona sebelum kembali meninggalkan mereka sambil terkekeh-kekeh. Fiona memutuskan untuk membeli beberapa permen itu untuk Dudley.
"Mana Lily?" tanya James.
"Tadi aku melihatnya kembali ke atas, sepertinya Fiona sudah tidak butuh perlindungan lagi," jawab Zach, nyengir.
"Hei James! Zach!" Fiona berlari menghampiri James dan Zach, lalu menunjukkan sesuatu yang ada di tangannya.
"Bom ketawa? Untuk—" James menatap Fiona tidak percaya. Tapi ketika Fiona nyengir dan mengangguk-angguk dengan semangat, James dan Zach ikut nyengir lebar.
"Ayo!" ajak Zach semangat.
"Kalian mau kemana?" tanya George, heran melihat James, Zach dan Fiona melewatinya dengan terburu-buru. Ketika ketiga anak itu menjawab pertanyaan George hanya dengan cengiran lebar. George langsung berseru, "Aku ikut!"
Mereka mengendap-endap ke kantor George, membuka pintunya pelan hingga menyisakan celah kecil. Lalu Fiona menggelindingkan bom tertawa ke dalam ruangan dan James menutup pintu itu hingga rapat kembali.
DUAR!
"HAHAHAHAHA!"
James, Zach, Fiona dan George terkekeh geli. Mereka segera berlari ke arah toko ketika terdengar suara langkah kaki dari dalam ruangan.
"Hahaha! James! Hahaha!"
"Zachary! Hahaha! Weasley! Hahaha!"
"Aku tidak...Hahaha...percaya...hahaha...Fiona...HAHAHAHA!"
George menepuk-nepuk bahu Fiona dengan gestur bangga, bahkan matanya berkaca-kaca bahagia. "Akhirnya Marauder cewek pertama dalam sejarah,"
Thank you for reading.
