Disclaimer : as usual I own nothing but several OC's and the plot.
a/n : berikut ini adalah sedikit epilog dari saya. ihihi. ngomong-ngomong, HAPPY NEW YEAR 2012 :D
Epilog
Lily Emma Potter yang kini berusia tujuhbelas tahun, melompat turun dari Hogwarts Express untuk mengucapkan 'Sampai jumpa' pada kedua orangtuanya sebelum ia menjalani tahun terakhirnya di Hogwarts. Seperti biasa, Lily sudah memakai jubah sekolahnya lengkap dengan lencana Ketua Murid yang berkilau dengan bangga di jubahnya.
Lily menemukan kedua orangtuanya sedang mengobrol bersama Paman Dudley dan Bibi Caroline, Sirius dan Jason yang akan memasuki tahun pertama mereka di Hogwarts juga terlihat sedang mengobrol dengan riang dan sesekali terkikik geli. Tapi Lily tidak bisa sahabat sekaligus sepupunya, Fiona Dursley ataupun kakak laki-lakinya, James yang sebenarnya sudah lulus beberapa tahun yang lalu (sekarang James sudah bekerja di Kementerian).
"Hey Lily, mana Fiona?" tanya Caroline, celingukan mencari sosok putri sulungnya.
Lily mengangkat bahu, "Aku tidak tau. Tadi aku pergi meninggalkannya di kompartemen, ada yang harus aku bicarakan dengan Orlando,"
Sirius nyengir jahil, "Bicara atau bicara?"
Wajah Lily bersemu, ia menggerutu dan mencubit pipi Sirius dengan gemas.
Harry juga nyengir pada putrinya, "Orlando? Orlando Charmichael dari Ravenclaw? Dia juga Ketua Murid?"
Masih dengan wajah memerah Lily mengangguk, "Yeah Dad. Orlando yang itu dan ya, dia juga Ketua Murid,"
"Oh begitu. Mana dia? Ada sedikit hal yang harus kusampaikan pada anak itu," kata Harry, masih dengan cengiran lebar di wajahnya dan kilatan jahil di matanya. Hermione menyadari itu dan memukul bahunya. "Ow! Geez Hermione! Untuk apa itu?"
Hermione berbisik tepat di telinga Harry agar tidak ada seorang pun yang mendengarnya mengatakan, "Jika kamu berbuat hal yang tidak-tidak pada pacar Lily, aku akan membiarkanmu tidur di sofa selama sisa hidupmu Potter," dan itu cukup untuk membuat wajah Harry memucat.
Dudley terkekeh, "Oh. Ngomong-ngomong, mana James?"
.
Fiona terkikik geli sembari bertanya-tanya dalam hati. Apa pendapat Lily jika mendapati dirinya—sahabat sekaligus sepupu plus Prefek Ravenclaw—berada di dalam kompartemen, berdua saja dengan seorang lelaki yang tidak lain adalah James Potter, kakak Lily.
"Kenapa kamu tertawa? Ada yang lucu?" bisik James, dia tidak perlu berbicara keras-keras, berhubung jarak antara dirinya dan Fiona sangat dekat.
Fiona terkikik lagi, "Aku hanya berpikir. Apa pendapat Lily jika dia melihat kita di sini?"
James tersenyum lebar, "Aku percaya dia akan berkata, 'Fiona Caroline Dursley, kau seorang Prefek! Seharusnya kau memberi contoh yang baik pada yang lain! Bukan menghabiskan waktu bermesraan dengan kakakku di kompartemen kereta!'"
"Tepat sekali,"
James dan Fiona melompat menjauh dari satu sama lain, keduanya menoleh ke arah pintu kompartemen untuk melihat Lily berdiri di mulut pintu dengan kedua alis terangkat dan tangan terlipat di dada.
"Lily! Adikku tersayang!" James mengulurkan kedua tangannya dan memeluk Lily erat-erat. Fiona tidak bisa menahan tawanya ketika melihat tangan Lily mencuat dan menggapai-gapai ke udara, sepertinya James memeluknya terlalu erat.
"Blimey James! Kau bisa membunuhku!" keluh Lily.
"Oops. Maaf sissy tapi sepertinya aku terlalu sayang padamu," kata James, tangannya terulur dan mengacak-acak rambut Lily. "Lagipula Lilykins, kenapa kamu tidak membiarkanku bermesraan sedikit lagi dengan Fiona. Toh aku tidak akan mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Fio setidaknya sampai natal," kedua ujung bibir James tertarik hampir mencapai telinga, "Tidak sepertimu dan si bocah Ravenclaw itu, kalian kan berbagi menara tahun ini,"
Wajah Lily memerah, hampir menyaingi warna rambut para Weasley. "Namanya Orlando Charmichael, bukan Bocah Ravenclaw! Sampai kapan kau akan memanggilnya seperti itu?"
James memasang tampang serius, "Sepertinya sampai kalian menikah dan memiliki sepuluh anak pun aku akan tetap memanggilnya Bocah Ravenclaw Perebut Hati Lilykins-ku,"
"Great! Sekarang namanya bertambah panjang,"
Fiona memeluk James dari belakang dan menatap Lily dari balik punggung James. "Ayolah Lily, beri kami sepuluh menit,"
Lily menghela nafas, "Baiklah! Kita akan berangkat dalam—" Lily mengecek jam tangannya, "—lima belas menit. Jadi aku akan memberi kalian waktu lima menit, tidak lebih!" dengan itu, Lily memutar tubuhnya dan meninggalkan Fiona serta James.
"Jadi, bagaimana kalau kita lanjutkan apapun yang tadi sempat tertunda Miss Dursley?"
Fiona terkikik, "Tentu saja, Mr Potter,"
.
"Lily!"
Lily menoleh, melihat kepala Orlando melongok dari salah satu kompartemen yang tadi dilewatinya. Seulas senyum lembut mengembang di wajahnya saat ia menghampiri Orlando. "Ada apa Orla?" tanya Lily.
Orlando tidak menjawab, ia malah menarik Lily masuk ke dalam kompartemennya dan memeluk pinggangnya. Sepertinya yang terjadi selanjutnya sudah jelas.
.
"Jangan terlibat masalah Jason. Aku sudah cukup pusing dengan Fiona dan—dan apa itu? Marauder?" Caroline menoleh pada Dudley yang hanya mengangkat bahu. "Apapun itu, okay Jason?"
Jason tersenyum dan memeluk erat ibunya, "Okay Mum. Aku usahakan," Jason mengedip pada Sirius.
Sirius nyengir. Hermione menatap Sirius dan Jason bergantian. "Sepertinya kepalaku sakit," kata Hermione. Harry hanya tertawa dan mengalungkan lengannya di bahu Hermione yang menyandarkan kepalanya di dada Harry. "Lily, sepertinya tugasmu akan lebih berat tahun ini,"
Lily menghela nafas, "Aku tau. Dua lagi Marauders yang masuk tahun ini. Untung ini tahun terakhirku!"
James terkekeh, "Ayolah, kita tidak seburuk itu. Iya kan Fiona?"
"Jamie benar Lils, kita tidak seburuk itu,"
Lily menggerutu.
"Sebaiknya kalian naik ke atas kereta, aku tidak akan mau mengantar kalian ke Hogwarts. Dimana pun itu," kata Dudley.
Fiona dan Jason memeluk Dudley dan Caroline, berjanji untuk menulis surat secepatnya setelah seleksi. Lily dan Sirius melakukan hal yang sama pada Harry dan Hermione.
Lily, Sirius dan Jason segera melompat masuk ke dalam kereta, di lain pihak, Fiona malah melompat memeluk James dan memberinya ciuman penuh di bibirnya. Membuat Lily menggeleng-geleng dengan senyuman lebar, Sirius dan Jason bersiul keras mengalahkan suara bising Platform 9 ¾, Caroline dan Hermione tertawa pelan ("Remaja,"), Harry nyengir lebar dan Dudley melongo.
Senyuman lebar menghiasi wajah James dan Fiona. "Well tadi itu sama sekali tidak terduga Miss Dursley," bisik James.
Fiona terkikik, "Kau mengenalku Mr Potter. Aku memang penuh kejutan," goda Fiona, memberi James sebuah kecupan.
Dudley menggerutu, "Okay, kalian sukses membuatku buta,"
Fiona melepas James dan naik ke kereta menghampiri Lily yang tampak tersenyum lebar. "Tidak bisa menahan diri eh Fiona?" goda Lily.
Fiona mengangkat bahu, "Yah, kakakmu tampan," sahutnya, mengedip pada Lily.
.
Fiona, Lucy, Anna, Andrew dan Orlando duduk di meja Ravenclaw sembari mengobrol. Seperti biasanya, Fiona menggoda Orlando tentang Lily dan bagaimana mereka akan menghabiskan waktu bersama di menara Ketua Murid. Berdua saja. Tentu, itu membuat wajah Orlando memerah seperti rambut Louis Weasley yang duduk tidak jauh dari mereka.
"Aku masih tidak mengerti kenapa kau senang sekali menggoda Orla, Fiona," kata Lucy yang duduk di antara Fiona dan Orlando. Sementara Anna dan Andrew yang duduk di seberang mereka tampak tidak peduli dengan keadaan sekitar mereka dan terus saling berbicara dengan suara rendah yang kadang di selingi dengan kikikan Anna.
Fiona mengangkat bahu, "Entahlah. Karena dia berkencan dengan sepupuku?"
Orlando mendengus, "Bagaimana denganmu? Kau berkencan dengan sepupumu," balas Orlando.
"James dan aku adalah sepupu jauh, kurasa tidak ada masalah soal itu. Setauku, dulu para Darah-Murni sering menikah dengan sepupu mereka demi kemurnian darah mereka. Bukan begitu?" Fiona memasang cengiran khasnya, cengiran yang membuat James meleleh.
"Hmm, Fiona ada benarnya juga," gumam Lucy.
Merasa tidak ada seorang pun yang membelanya, Orlando mengangkat kedua tangannya dan kembali memperhatikan seleksi. Fiona tertawa dan kembali mengobrol dengan Lucy. Sampai Orlando mengalihkan perhatiannya, "Oi Fiona. Adikmu," kata Orlando.
Punggung Fiona menegak ketika mendengar Professor Longbottom membaca nama selanjutnya, "Dursley, Jason,"
Jason berjalan dengan riang ke arah Professor Longbottom, tidak terlihat sedikit pun perasaan gugup di wajahnya ketika topi tua itu menempel di kepalanya. Setelah beberapa saat, topi itu berteriak "GRYFFINDOR!" dan seketika membuat meja Gryffindor bersorak menyambut Jason.
