Merodine V Presented,

Vocaloid Story II

Warning: OOCness, slight incest, don't like don't read

Disclaimer: Vocaloid bukan milik kami :)

.

.

.

Malam yang sunyi. Ribuan orang mungkin sedang tidur saat ini. Terlelap memandangi mimpi mereka yang teramat luas dan beragam keindahan didalamnya. Berbeda dari salahsatu Vocaloid yang tiba-tiba terbangun ditengah sunyinya malam. Rambut putihnya tergerai tanpa pita yang biasa dia kenakan. Dia sadar, tidak seharusnya dia terbangun tengah malam seperti ini.

"Ada apa dengan diriku...?" Gumamnya heran.

Dilewatinya sesosok gadis berambut coklat yang tengah tertidur pulas di ranjang sebelahnya. Yowane Haku memasuki balkon yang ada didepan kamarnya. Dia dapat melihat jelas bulan bersinar di hadapannya. Dia merenung sendirian.

"Apa yang tengah terjadi kepadaku...?" Haku kembali bergumam. Seketika itu juga, Haku pingsan.

.

.

.

Haku P.O.V.

Sigh... D-Dimana aku sekarang...? S-Silau sekali...

"Haku!" Aku mendengar suara yang tidak asing lagi bagiku. Perlahan aku membuka mata dan benar saja... Dell Honne berada di hadapanku sekarang ini.

"Aku d-dimana...?" Tanyaku. Dell menoleh ke belakangnya, kemudian ayah datang kepadaku.

"Meiko menemukan dirimu tergeletak pingsan di balkon tadi pagi. Ayah langsung menjemputmu dan membawamu kesini. Sepertinya, ada kesalahan di programmu," ucap Ayah. Kesalahan...? Apakah... Aku masih rusak seperti yang dulu...?

"A-Aku rusak ya, Yah?" Tanyaku ragu-ragu. Ayah menggeleng.

"Bukan masalah yang serius, hanya saja, sedikit kompleks," ucap Ayah dengan mimik serius.

"Lalu... Dimana saudara-saudaraku?" Tanyaku lagi.

"Maaf, Haku. Tapi, mereka tetap harus berangkat sekolah untuk mencari Vocaloid yang lain," jawab Dell. Aku hanya mengangguk mengerti. Sigh... Apa yang terjadi sebenarnya...?

"Ngomong-ngomong, Ayah mau minta waktu untuk bicara dengan Dell sebentar. Kau tidak apa-apa kan sendirian dulu?" Tanya Ayah kepadaku. Aku kembali menjawab dengan anggukan kecil. Setelah itu pun, Ayah dan Dell keluar dari ruangan perawatanku.

Sigh... Apa yang terjadi sebenarnya...? Aku benar-benar bingung. Entah kenapa, sejak pertama kali aku bertemu dengan para Vocaloid baru, aku merasa energi dalam tubuhku jadi tidak teratur... Atau, mungkin, karena...

Dell?

.

.

.

Dell P.O.V.

"Dell, Ayah mau beritahu kepada dirimu. Kondisi Haku seperti ini... Adalah sebenarnya karena dirimu, Dell Honne," ucap Ayah.

A-Apa? Sulit sekali dipercaya! Ternyata kondisi Haku-nee jadi seperti ini adalah sebab... Aku. T-Tapi, bagaimana bisa!

"K-Kenapa, Yah?" Tanyaku.

"Belakangan ini, kondisi Haku jadi meluap-luap dan tidak terkontrol. Tubuhnya yang lemah tidak mampu mengontrol semua emosinya," ucap Ayah.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar Haku-nee dapat kembali normal?" Tanyaku. Apapun akan ku lakukan demi Haku-nee.

"Kondisi ini sebenarnya serius. Ayah bisa saja membuat kapasitas emosinya bertambah. Tapi, untuk melakukan itu..."

Ayah menghentikan ucapannya sebentar. Aku pun bertanya karena ragu dengan ucapan Ayah berikutnya,

"Tapi apa, Yah?"

"... Haku... Harus kehilangan semua yang ada dalam memorinya,"

.

.

.

Mikuo P.O.V.

Capek aku melihat seharian wajah Miku dipenuhi dengan raut cemas, khawatir, dan lainnya. Wajahnya yang biasanya... Ehm, imut... Sekarang malah jadi kusut banget. Aku sih juga sudah dapat kabar kalau program Haku kembali rusak, tapi kalau Miku jadi terbawa cemas, aku pun jadi ikutan cemas. Mau mengganggunya saja, aku tidak tega.

"Ehm, Miku, masih merasa cemas, hn?" Tanyaku.

"Yaiyalah!" Jawab Miku cemas. Biasanya aku kesal dan langsung menjitak kepala adikku ini. Tapi, entah kenapa, sekarang malah aku meletakan tanganku di rambut Miku dan mengelusnya. Miku tersentak kaget.

"Jangan terlalu terbawa khawatir, Miku. Masih banyak yang harus kita kerjakan," ucapku. Miku menatapku heran.

"Hatsune-san! Jangan berpacaran didalam kelas!" Tegur guru kami. Ck, pantes aja Miku kaget. Aku lupa kalau aku masih didalam kelas.

"Ih, Bapak cemburu aja," ledekku. Aku malah meletakan kepala Miku dipelukanku. Dapat aku lihat wajah Miku memerah. Sekelas menonton kemesraan kami berdua, tapi,

PLAK!

"Mikuo BAKA!" Jerit Miku. Sekelas menutup telinganya. Sementara aku memegangi pipiku yang merah dengan ceplakan tangan Miku.

"HATSUNE-SAN! KELUAR DARI KELAS SAYA SEKARANG JUGA!" Tegur gurunya. Yaudah, aku keluar duluan.

"T-Tapi, Pak-..."

"Tidak ada tapi-tapi, KELUAR!" Miku pun ikut keluar dari kelas. Hehehe, berhasil.

Diluar kelas, wajah Miku kelihatan makin kusut. Tapi begitu aku mendekatkan wajahku, rona merah kembali muncul di pipinya. Bulir-bulir airmata pun dapat ku lihat jelas. Hahaha... Miku ternyata cengeng.

"Hei hei, jangan menangis, dong. Kita ke atap aja, yuk?" Ajakku.

"Ng-Ngapain?" Tanya Miku tanpa menatap wajahku.

"Ngapain kek, daripada disini. Yuk?" Aku menggenggam tangannya.

"Yaudah deh," Miku pun ikut bersamaku ke atap. Sampai disana, langit terlihat sangat cerah. Tapi, ada orang lain yang ternyata sedang tiduran disana.

"Siapa?" Orang itu bertanya.

"Kau sendiri?" Tanyaku balik. Miku bersembunyi dibelakangku karena tampaknya dia merasa takut. Orang itu pun berdiri. Aku dapat melihat tubuh kekarnya yang tinggi dan rambut pirangnya.

"Leon," jawabnya singkat. Yeh, kirain nantangin berantem nih orang.

"Hatsune Mikuo," ucapku. Dia tersentak kaget mendengar namaku. Aku terkenal ya?

"Dan yang dibelakangmu itu... Hatsune Miku 'kan?" Eh? Dia juga kenal Miku?

"Yep. Ada urusan?" Tanyaku. Dia hanya tersenyum.

"Ternyata yang dibilang Vocaloid pertama itu seperti ini? Hehe," suaranya terdengar mengejek.

"Apa pedulimu?" Geramku. Miku keluar dari belakang tubuhku.

"S-Siapa kau sebenarnya?" Tanya Miku dengan ragu. Sepertinya Miku takut.

"Akulah Vocaloid yang lebih dulu diciptakan sebelum kau, Hatsune Miku," ucapnya. Eh?

"A-Apa maksudmu?" Tanya Miku lagi. Leon menyeringai.

"Dasar tidak berguna. Seperti itu saja kau tidak tau," Leon pun pergi meninggalkan kami berdua. Siapa orang itu sebenarnya?

"Bukan hal yang mengejutkan bagiku. Kiyo-sensei dan Kiku diciptakan duluan juga kok, kata Ayah. Tapi, sok banget sih tuh orang," Miku sudah kembali dengan sense normalnya sekarang. Tadi takut tuh padahal.

"Tadi kamu kayaknya takut banget," ejekku. Miku menoleh padaku sambil menggembungkan pipinya.

"A-Aku cuma kaget dikit!" Elak Miku. Hehehe, Miku lucu kalau seperti ini. Miku pun maju selangkah, tapi kakinya langsung tersandung. Refleks, aku mengangkap tubuh Miku. Akhirnya aku pun terjatuh dibawah tubuh Miku.

"A-Aw..."

Aku merasakan tubuh Miku yang tidak terlalu berat. Dan ada sesuatu lain juga yang kurasakan. Yah, aku kira kalian semua tau lah... Dan satu hal lagi! Wajah kami begitu dekat, sampai aku dapat melihat jelas iris emerald Miku.

"Glek," aku menelan ludahku ketika menatap wajah Miku sangat dekat denganku.

"M-Mikuo... Nii... Ng... Mikuo-ku... Kun," panggil Miku ragu. Sial! Otakku mulai tidak bisa berpikir jernih. Apalagi aku dapat mencium tubuh Miku yang amat harum. Argh!

"A-Aku..." Miku pun menutup matanya sendiri. Damn, aku seharusnya nggak melakukan ini, tapi...

Yah, sekali ini aja lah...

.

.

.

Miki P.O.V.

Kriiiing...! Bel istirahat telah berbunyi. Waktunya berangkat mencari saudara-saudaraku yang lain. Tapi, aku tidak punya petunjuk apa-apa mengenai saudara-saudaraku itu, kecuali mereka juga Vocaloid. Hm... Gimana ya?

"Yo, Miki! Mau kemana?" Tanya Piko yang memang sekelas denganku, tapi tidak sebangku denganku. Aku duduk dengan teman baruku yang bernama Yokune Ruko. Dia gadis dengan mata berbeda warna. Cukup nyentrik, tapi teman yang baik menurutku.

"Ya, mau nyari saudara kita yang belum ketahuan itu lah. Ngomong-ngomong, mana Yuki?" Tanyaku.

"Yuki lagi nganterin bekal makan siang buat Kiyo-sensei. Yah, kau tau sendiri lah. Hehehe," ucap Piko. Aku hanya ber-oh-ria.

"Btw, kayaknya pacaran kayak Yuki dan Kiyo-sensei asik deh. Kamu mau juga gak coba pacaran sama aku?"

Degh! P-Piko bodoh... A-Aku 'kan paling nggak bisa di beginiin!

"Pacaran kok coba-coba? B-Baka," aku langsung pergi saja meninggalkan Piko yang kelihatannya masih cengar-cengir sendiri. Dasar, Piko bodoh.

Sekarang... Mau kemana aku? Hm...

"Miki, aku ikut!" Piko menyusulku. Aku menoleh, tapi hatiku masih deg-deg-an karena ucapannya tadi. Langsung aja aku kabur dari Piko, tapi malah langsung nabrak orang lain.

"A-Ah, ma-maaf," ucapku. Aku menatap seorang laki-laki yang berada didepanku saat ini. Ah, aku kenal! Dia adalah Yokune Rook, kalau tidak salah, dia adalah keluarganya Ruko juga.

"It's okay," ucapnya dan berlalu setelah membantuku berdiri. Dia tidak banyak bicara, sepertinya.

"Nah 'kan, kamu sih nggak hati-hati," ucap Piko yang ternyata sudah berdiri disampingku.

"Y-Ya, aku 'kan nggak sengaja," ucapku malu. Aku kembali kabur dari Piko setelah itu, tapi,

Bruk!

Untuk kedua kalinya, aku menabrak seorang laki-laki. Ternyata, kali ini aku menabrak Gakupo. Ngapain dia? Kayaknya lagi buru-buru banget deh.

"Kamu kenapa kelihatan buru-buru banget gitu, Gakupo?" Tanyaku. Dia mengelap peluhnya sebentar.

"Seorang gadis, berambut hijau," ucapnya.

"Miku-nee?" Tanyaku. Gakupo menggeleng.

"Si bodoh itu mengambil fotoku saat aku, ehm! Sudahlah tidak penting," ucapnya tiba-tiba berganti topik. Aneh...

"Yaudah, terus kamu sekarang mau kemana?" Tanyaku lagi.

"Ya nyari tuh cewek lah. Bahaya kalau foto itu malah dijadiin bahan fitnah," ucap Gakupo dan kembali ngacir. Ck, aneh saja.

"Udah dua kali lho, kamu nabrak cowok mulu. Yuk, bareng aku aja?" Ajak Piko yang lagi-lagi nongol tiba-tiba di sampingku. Hhh... Daripada aku nabrak cowok lain lagi, mending aku setuju aja deh buat pergi bareng Piko.

.

.

.

Gakupo P.O.V.

Sial! Tuh cewek kemana sih? Orang aku lagi cemburu sama Luki, trus mojokin Luki di tembok, tuh cewek seenaknya ngambil foto terus teriak ngatain aku homosek**al. Bisa hancur image-ku didepan Luka kalau begini! Argh!

Setelah cukup lama mencari, akhirnya aku menemukan cewek itu kabur kedalam ruang olahraga. Kesempatan nih!

"Hei, hapus foto yang tadi!" Ucapku sambil mendobrak pintu ruang olahraga. Cewek tadi berada tepat dihadapanku saat ini.

"Wah, ternyata aku dikejar beneran toh sama si maho ini, hehehe..." Ucap cewek itu. Rambutnya hijau, tapi beda sama Miku, dia cuma sebahu. Wajahnya sih rada cute juga, tapi songong nih cewek!

"Stop ngatain aku homo!" Ucapku lantang. Cewek itu menyeringai.

"Buktiin kalau begitu," ucapnya dan berjalan perlahan menuju diriku. Gawat! Gawat! Gawat! Apa yang harus aku lakukan!

"E-Eh..?"

"Hayoo, katanya bukan homo. Kalau kamu cowok normal, pasti kamu tau dong maksud aku apa? Kita cuma berduaan lho di ruangan ini," ucapnya lagi. Gawat!

"NGGAK! CINTAKU CUMA BUAT LUKA!" Aku menjerit sekencang-kencangnya sambil menahan tubuh cewek itu maju lebih dekat lagi.

"He? Ternyata nama cowok berambut pink tadi itu Luka, ya? Hehehe!" Cewek itu langsung kabur lagi. Sial!

"Heiii!" Aku kembali mengejar cewek itu. Larinya cepat sekali, dan dia menuju ke kelasku.

"Lukaaa~ Gakupo suka sama kamu~!" Cewek itu berteriak dengan lantangnya didalam kelasku.

Aku melihat seisi kelas hening. Aku memang sering melakukan pdkt kepada Luka, tapi tidak pernah sekalipun menyatakan cinta padanya secara langsung. Kalau blak-blak-an kayak gini, aku mesti gimana!

"A-Anu... Apa tadi kau bilang?" Tanya Luka.

"Kamu... Luka?" Tanya cewek hijau itu. Luka mengangguk. Aku siap-siap aja ditampar sama Luka.

"G-Gakupo!" Luka memanggil namaku. Aku menundukan kepalaku, bingung mau bilang apa.

"M-Maaf, Luka..." ucapku malu. Gara-gara cewek itu nih. Haduh...

"Kamu kenapa nggak bilang langsung aja sih...? A-Aku... Juga suka sama kamu, tau," jawab Luka.

"Eh?"

.

.

.

Neru P.O.V.

Nggak seru. Sekarang Len lebih sering sama Rin. Teto pun lebih sering sama Ted. Aku jadi nggak punya temen buat main sekarang. Sigh... Bosan. Aku ke kantin aja deh, kali aja ketemu teman baru.

"Kyaa~! Tolooong~!" Aku mendengar jeritan seorang perempuan. Aku harus segera menolongnya!

"Ada apa!" Aku menemukan asal suara tersebut dari dalam gudang belakang sekolah. Ngapain dia didalam sini?

"T-Tikus! K-Kecoa! S-Semut!" Ucapnya dengan wajah pucat. Sigh... Aku kira apa. Tinggal aja deh.

"HEI!" Perempuan tadi kembali menjerit padaku, "Tolong aku, please~!" Dia merengek kepadaku. Okay... Okay... Dasar, manja.

"Sini turun, kalau ada tikus, kecoa, atau apalah, aku akan pukul keras-keras. Biar aku bantu kau," ucapku dan membantunya turun dari atas meja didalam gudang tersebut. Baru kakinya melangkah turun, seekor tikus lewat. Perempuan itu pun lompat dan lalu terjatuh menindihku. Aduh...

"H-Hei, lekaslah berdiri! Berat, tau!" Ucapku kesal. Dianya asik aja duduk diatas tubuhku. Matanya menatapku dengan tatapan aneh.

"Kau mirip aku," ucapnya. Eh?

"Apanya yang mirip? Jelas-jelas aku lebih cute," ucapku. Eh? Aku masih diduduki olehnya. "Hei, minggir!" Ucapku lagi.

"Sebentar..." Wajahnya terus mendekat padaku dan... E-Eh... Nafasnya sangat terasa diwajahku, dan...

"Kau... Vocaloid 'kan?"

"What the-...! Dari mana kau tau?" Tanyaku heran. Akhirnya dia berdiri dari tubuhku.

"Sebelumnya, perkenalkan, namaku Lily. Aku Vocaloid yang bisa mendeteksi Vocaloid yang lain," ucapnya. Maksudnya paan sih?

"Maksudnya apa, ya?"

"Aku dapat tau kau Vocaloid atau bukan hanya dengan menatap iris matamu saja," ucap Lily lagi. Wew... Hebat banget.

Eh, wait a minute... Kalau dia bisa ngeliat Vocaloid lain, berarti... Dia bisa bantuin kami ketemu saudara-saudara kami yang lainnya nih!

"Aku Akita Neru! Pulang sekolah, ikut aku ke ruang klub musik!" Ajakku.

"O-Okay,"

To be continued...

.

.

.

Gakupo: Demi apa aku jadian sama Luka?

Luka: Sigh... Nih skripnya nggak salah apa?

Rizuka: Nggak :3

Luka: W-Well... Aku tetap harus profesional. *blushing*

Miku: Aaaa~ Aku ngapain tuh sama Mikuo-nii? No kissing, pleaseee~

Mikuo: Kamu sendiri yang mulai, adik bodoh =w=

Miku: *blushing*

Kaito: Aku tidak terima! Rasakan ini, Aisu Bazzoka!

DGER!

.

.

.

Rizuka: Untung laptop saya selamet. =w=

Gakupo: Eh, author, nih beneran aku jadian sama Luka?

Rizuka: Iya. Nggak percayaan banget deh. =w=

Kaito: Miku milikku!

Mikuo: Bodo amat! :P

Kaito: UAARGH! AISU BAZOOKA!

Rizuka: #kabur duluan.

Rizuka: Ternyata hidup bareng para Vocaloid nggak selamanya bahagia loh. Banyak masalahnya =w=

Rizuka: Btw, tetep review dan dukung Vocaloid Story II ya? Arigatou :)