Rizuka: Updated~!

Ririn: Paling capek nulis fic ini, sumpah deh. Yang lain mah 'kan nulis sendiri-sendiri. Yang ini doang yang ngerjain barengan -w-

Ame: Btw, abis ini salah satu personil M.V. mau ngilang dulu buat konsen UN beberapa bulan lagi. Siapa dia? Yah, pasti udah pada tau lah.

Ririn: Ririn merdeka tanpa Andreee~! Yeiiiy~!

Sora: Kemarin ada yang bilang kangen sama Andre. Siapa ya?

Ririn: Kagaaaaak!

Rizuka: Yah cilok.

Ame: Cinlok -w-

Rizuka: Whatever, you perv. Cerita dimulai!

Ame: -w-

.

.

.

Merodine V Presented,

"Vocaloid Story II"

Warning: OOCness, abalness, slight incest, whatever, don't like don't read

Disclaimer: Vocaloid punya Yamaha dan Crypton Media Future. Inget tuh. Ye a em a ha a sama Ce er ye pe te o en, bukan Em e er o de i en e, apalagi Es u el e

.

.

.

Dibawah langit senja yang indah, seorang gadis berambut blonde dengan pita putih besar menggantung di atas kepalanya sedang duduk terpaku di ruang kelasnya yang telah kosong. Dia tidak sedang bersama siapa-siapa dan tidak melakukan apa-apa. Hanya saja pikirannya melayang tinggi tak tentu arah. Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.

"Apa aku menyukai... Len?" Gumamnya. Jarinya terus-menerus dimainkannya. Perasaan gelisah terus mempermainkan hatinya. Kagamine Rin merasa bahwa itu adalah sebuah kesalahan jika ia menyukai saudara kembarnya sendiri. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, dia tidak dapat berbohong.

"Sigh... Tidak biasanya aku seperti ini," gumam Rin kesal sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri, berusaha untuk menguatkan hatinya. Tiba-tiba pintu ruang kelas terbuka dan Kagamine Len masuk.

"Ngapain kamu masih disini, Rin? Yang lain udah di ruang klub loh," ucap Len. Rin berbalik badan dan tersenyum kepada Len.

"Well, sorry, hehehe..." ucap Rin dan lalu mengangkat tas miliknya.

"Yaudah, ayo ke ruang klub bersama-sama," ajak Len. Rin mengangguk riang.

"Sigh... Mungkin seperti ini dulu lebih baik," batin Rin. Baru saja Rin berpikir seperti itu, Akita Neru datang.

"Len, lama banget sih cuma manggil Rin doang?" Keluh Neru.

"Ehehe, sorry," ucap Len sambil tersenyum minta maaf. Neru ikut tersenyum juga pada Len.

Rin terdiam.

"Apakah mungkin... Aku masih bisa dekat dengan Len seperti dulu? Ataukah... Len nantinya malah akan dekat dengan perempuan lain?" Perasaan Rin kembali kacau.

"Hei, Rin! Lama banget ih!" Ucap Neru kesal. Rin pun tersadar dari lamunannya.

"Ok ok! Ehehe," ucap Rin sambil tertawa renyah. Tapi dalam hatinya, dia ragu kalau Len akan terus bersamanya sampai kapan pun.

.

.

.

Miku P.O.V.

Aw... Aw... Pipiku masih sakit banget gara-gara dicubit sama Mikuo-baka-nii. Kejadian yang pas di atap itu, sebenarnya aku sama Mikuo nggak ciuman. Aku cuma mau ngerjain Mikuo. Pas tadi Mikuo udah merem, aku langsung acak-acak mukanya. Nggak sampai satu menit, posisiku dibalikin sama dia terus pipiku abis dicubitin. Sial.

"Jangan dipegangin terus, ntar malah hilang sakitnya," ucap Mikuo dengan gaya 'nyebelinnya'. Ih!

"Mikuo-baka-nii," ledekku dan langsung kabur ke belakang tubuh Kaito. Tapi aku malah langsung didorong sama Kaiko.

"Jangan deket-deket," ucap Kaiko sok imut. Huah! Sama aja nyebelinnya sama Mikuo!

"Sekarang mau ngumpet dimana hayoo? Hahaha," ledek Mikuo. Huwaaa! Abis aku dikerjain nih sama Mikuo!

"Sorry lama,"

Aku menengok kearah pintu dan yang datang adalah Rin, Len, Neru, dan satu perempuan yang nggak aku kenal. Siapa dia?

"Semuanya, kenalin, namanya Lily. Dia juga salah satu Vocaloid," ucap Neru memperkenalkan.

"Minna-san, yoroshiku," ucap Lily lalu membungkukan badannya.

"Ngomong-ngomong, Lily ini hebat loh! Dia bisa tau semua Vocaloid di sekolah ini cuma dengan melihat iris matanya saja!" Ucap Neru heboh.

"Oh, jadi Vocaloid yang memiliki kemampuan sensorik Vocaloid itu kamu ya, Lily?" Tanya Ted. Lily mengangguk-angguk.

"Apakah kau sudah tau siapa saja Vocaloid di sekolah ini?" Tanyaku penasaran. Lily mengangguk.

"Jumlahnya tiga puluh delapan Vocaloid kalau tidak salah," ucap Lily.

"Banyak amat," gumam Meito.

"Iya, soalnya sisanya belum resmi diciptain sama Ayah dan kemungkinan dibatalkan. Yang tiga puluh enam itu sudah pilihan Ayah," ucap Lily.

"Oh," ucap Kaito singkat. Dari mukanya sih kayaknya Kaito nggak ngerti tuh maksudnya apaan.

"Besok aku akan bantu kalian mengumpulkan semua Vocaloid," ucap Lily sambil tersenyum. Akhirnya! Yeiy!

"Jangan senyum-senyum sendiri, ntar gila loh," ledek Mikuo.

"Ikutan aja ih!" Aku mencubit lengan Mikuo sekuat tenaga.

"Hoo, mulai berani," Mikuo malah langsung menggendongku, bukan! Ini mah namanya aku diculik!

"Ayo main ke atap lagiii!" Mikuo membawaku lari! Huwaaa!

.

.

.

Kaito P.O.V.

Perasaanku saja, atau memang Miku menghabiskan waktu lebih banyak bersama Mikuo ya? Kok aku jadi ngerasa kesepian gini ya?

"Kau kenapa, Kaito? Kalau kau merasa tidak nyaman melihatnya, kenapa tidak kau kejar saja Miku?" Tanya Meiko padaku.

"I don't know," jawabku sambil mengangkat bahu. Meiko tersenyum padaku.

"Betapa naifnya dirimu, Kaito. Dari dulu sampai sekarang kau masih tidak berubah," ucap Meiko. Sigh... Ucapannya aneh.

"Kaito-nii, aku mau bicara sebentar dong," ajak Kaiko. Aku nurut saja diajak keluar ruangan klub.

"Ada apa? Tumben banget kamu ngajak ngobrol berduaan doang," ucap Kaito.

"Ng... Aku dengar-dengar... Kaito-nii pernah ciuman ya sama Miku" tanya Kaiko. He? Tau dari mana Kaiko?

"Iya sih. Tau dari mana?"

"Mikuo pernah cerita padaku. Yang memberitahu Mikuo adalah Miku langsung," ucap Kaiko. Wew... Ternyata Miku sampai cerita sejauh itu ke Mikuo.

"Oh, seperti itu ternyata," gumamku. Kaiko menatapku dalam-dalam.

"Kaito-nii benar-benar mencintai Miku ya?" Tanya Kaiko dengan mata ingin tau. Aku mengangguk. Kaiko langsung mundur satu langkah.

"Sainganmu berat loh, Kaito-nii. Mikuo juga sayang pada Miku lebih daripada adik. Mikuo pernah cerita kalau Miku itu sangat lucu," ucap Kaiko pelan.

"What?" Aku agak nggak percaya mendengar ucapan Kaiko.

"Iya. Sementara itu..." Kaiko terdiam sesaat. Seperti ada yang dia sembunyikan. Tapi belum sempat aku bertanya lebih jauh pada Kaiko, Meiko keluar dari ruang klub.

"Yang lain mau pulang. Kalian berdua bagaimana?" Tanya Meiko. Keiko menggeleng manis. Meiko pun tersenyum dan lalu meninggalkanku. Kemudian Vocaloid yang lain juga berjalan meninggalkan aku dan Kaiko.

"Lanjutkan pembicaraan kita yang tadi. Mm... Sampai mana kita?" Tanyaku. Aku jadi lupa tadi sudah bicara sampai mana. Yang jelas, aku baru tau kalau Mikuo menyukai Miku. Twincest, ckckck.

"Meiko sebenarnya juga menyukaimu, Kaito-nii," ucap Kaiko tiba-tiba. Degh. Dadaku tiba-tiba berdetak sangat cepat. Me-Meiko suka padaku?

"M-Mana mungkin?" Tanyaku. Kaiko menghela nafasnya.

"Kau benar-benar naif, Kaito-nii. Persis dengan apa yang diucapkan Meiko," ucap Kaiko.

"Aku baru tau," gumamku.

"Ya terserah deh. Aku mau pulang dulu deh ya, Kaito-nii. Satu pesanku, jangan salah pilih ok? Pilih kakak ipar yang baik untukku, hehehe," ucap Kaiko dan ikut meninggalkan aku. Wew... Perasaanku campur aduk sekarang ini. Siapa yang aku suka sebenarnya?

Aku terduduk sebentar dan mengingat apa yang pernah terjadi. Dulu aku pertama bertemu dengan Meiko di kota judi. Meiko sangat menginginkan aku ikut tinggal bersamanya. Saat aku hampir ciuman dengan Kiku Juon, dia yang pertama menangis dan cemburu. Meiko tampaknya sangat menyayangiku. Sementara Miku. Dia manis dan lucu. Tapi, aku pernah berkelahi dengan Miku. Miku gadis yang keras kepala pula. Tapi, kalau mengingat ciumanku dengannya dan senyumannya waktu di pentas saat itu... Membuatku bahagia. Ck, aku mesti pilih yang mana ya? Huah, aku bingung.

"MIKUO-BAKA-NII!"

Aku mendengar jeritan Miku dari atas atap. Dengan segera, aku berlari ke atap. Apa yang Mikuo lakukan pada Miku!

"Miku!"

What the-...?

"K-Kaito, s-sorry..." Ucap Miku yang dalam posisi dipojokan oleh Mikuo di tembok. Seragam Miku agak terangkat dan Mikuo menatapku dengan tatapan tajam.

"BaKaito Shion," geramnya. Dia berjalan mendekat kepadaku.

"Namaku Kaito Shion, dasar kau Mikuo-baka," balasku. Mikuo berjalan mengitari diriku. Aku bersiap-siap saja.

"Oke, fine. Duduk sebentar dan kita akan bicara baik-baik. Miku, agak menjauh dan jangan dengarkan pembicaraan kami," ucap Mikuo. Miku mengangguk takut. Aku dan Mikuo duduk.

"Apa yang mau kau bicarakan?" Tanyaku. Mikuo malah tiduran.

"Sebelumnya, aku mau tanya padamu. Apa kau menyukai Miku?" Tanya Mikuo.

"Iya," jawabku.

"Apa kau menyukai Meiko?"

"Iya," jawabku lagi. Mikuo langsung bangun dengan tatapan kesal.

"Konsisten dong, baka," geram Mikuo.

"Tapi itu jujur," jawabku. Mikuo menghela nafasnya.

"Jangan bodoh. Kau pasti mengira aku suka pada Miku 'kan? Nggak," ucap Mikuo blak-blakan.

"Terus tadi Miku lagi diapain coba?" Tanyaku. Wajah Mikuo tersipu.

"Bohong deh. Aku suka sama Miku," ucap Mikuo. Gubrak!

"Kalian 'kan saudara!" Ucapku.

"Ya bodo! Suka-suka dong!" Balas Mikuo. Gila duluan deh nih kalau ngobrol lama-lama sama Mikuo.

"Gini deh. Kita ambil jalan gampangnya aja," ucap Mikuo.

"Gimana?"

"Kau ajak Miku nge-date. Jika kau berhasil mendapatkan hati Miku, Kaiko untukku. Tapi kalau gagal, Miku punyaku," ucap Mikuo sambil nyengir.

"Lah?" Tanyaku heran.

"Abis adikmu cute juga sih. Hehehe," ucap Mikuo. Bego dah nih orang.

"Tapi 'kan aku masih suka sama Meiko?" Tanyaku.

"Ya kalau nggak mau ngikutin, Miku sama Kaiko langsung jadi milikku," ucap Mikuo. Tambah ancur aja!

"Yaudah deh, aku akan ajak Miku nge-date. Tapi nggak dalam waktu dekat ini ya? Soalnya 'kan kita masih sibuk nyari Vocaloid lain," ucapku. Mikuo mengangguk-angguk.

"Ku beritahu padamu. Kau tidak akan menyesal mendapatkan Miku. Bibirnya halus, dadanya lumayan lah, dan-...!"

"MIKUO-BAKA-NII! AKU DENGAR ITU!" Miku langsung melempari Mikuo dengan batu-bata yang nggak tau darimana asalnya. Haduh, nih adik-kakak paling abnormal menurut aku. Salut deh.

.

.

.

Gakupo P.O.V.

Sore ini aku sengaja tidak datang ke ruang klub karena tidak sanggup bicara dengan Luka. Aku lebih memilih didalam kelasku sendirian sampai pulang nanti. Tadi waktu di kelas, aku terus diam. Aku kira kami sudah pacaran, tapi aku tidak tau mesti berbuat apa. Makanya seharian ini aku malah jadi diam kepada Luka. Si bodoh Luki itu juga malah sempat-sempatnya bertanya pada Luka mengenai perasaan Luka padaku, tepat di depanku. Tapi Luka malah diam dengan wajah merah. Aku nggak ngerti dengan semua ini. Sigh...

"Ciluk ba!"

"Huwa!"

"Hahahaha! Kau kagetan ternyata, hahaha," ternyata yang mengangetkan aku adalah perempuan yang tadi.

"Sudah berapa kali kau mengacaukan aku hari ini. Sebenarnya siapa dirimu?" Tanyaku heran. Perempuan itu duduk di sampingku sambil tersenyum.

"Megpoid Gumi," ucapnya.

"Meg.. Poid?" Aku sepertinya mengenali nama itu.

"Hm mm... Aku juga salahsatu Vocaloid yang ayah ciptakan," ucapnya. Hah?

"Jadi kau Vocaloid juga?" Tanyaku kaget. Dia mengangguk sambil tersenyum. Sesaat kemudian, kami saling terdiam.

"Hei, yang tadi... Maafkan aku ya," ucapnya.

"Bukan masalah besar," jawabku. Gumi menggeleng.

"Luka pasti sangat marah ya padamu? Kalian berdua saling diam 'kan seharian ini?" Tanya Gumi. Aku menghela nafasku.

"Itu kesalahanku, bukan kau," ucapku. Gumi menunduk bersalah.

"Sebenarnya... Tadi itu aku hanya berencana bermain denganmu, Gakupo. Tapi tampaknya aku sudah keterlaluan ya?" Tanya Gumi.

"Tidak juga sih," jawabku. Gumi menggenggam tanganku.

"Habis... Yang sebenarnya suka padamu itu... Aku," ucapnya. Aku terkejut. Saat ku tatap wajahnya, dia tampak sedang menahan tawa.

"Hahahaha! Kau terjebak lagi, hahaha," ledek Gumi.

"Baka!" Ucapku kesal. Dia menghentikan tawanya. Tatapan matanya menuju ke langit senja. Ketika ku lihat wajahnya, hatiku berdegup kencang. Wajah Gumi ternyata sangat menggemaskan dan imut. Hanya saja, sifat isengnya itu yang keterlaluan. Tapi ...

"Hayoo. Ngeliatin apa coba?" Tanya Gumi tiba-tiba. Aku langsung salah tingkah.

"B-Bukan apa-apa," jawabku. Gumi tersenyum lagi. Dan baru ku sadari, ternyata tangan kami masih bergenggaman erat. Jantungku terus berdegup lebih kencang. Aku menatap wajah Gumi lagi. Wajahnya tersipu sambil tersenyum manis.

"Aku rasa aku sudah cukup senang hari ini. Terimakasih, Gakupo," ucap Gumi senang. Dia berdiri dan melepaskan tanganku.

"Kau mau pulang, eh?" Tanyaku.

"Yup," jawabnya riang. Sigh... Dia perempuan yang lucu juga ternyata.

"Oh iya. Aku sudah tau hubunganmu dengan Luka sekarang. Kalau kau bingung mau melakukan apa, ajak saja dia ngobrol berdua seperti kita tadi. Got it? Hehehe," ucapnya.

"Terimakasih sarannya, Gumi," ucapku. Dia tersenyum kembali.

Saat tubuhnya berbalik, aku mendengar dia membisikan sesuatu, tapi masih jelas aku dengar. Dia bilang, "Kau tercipta terlalu cepat, Gakupo,"

Eh? Apa yang barusan dia katakan? Apa maksudnya?

"Gumi!" Aku memanggil kembali namanya. Tapi Gumi sudah pergi berlari meninggalkan aku sendirian lagi di ruang kelas ini. Sigh... Gumi.

.

.

.

Normal P.O.V.

Keesokan harinya, Lily memberitau Miku dan yang lainnya, siapa saja Vocaloid di sekolah mereka. Mereka semua pun berpencar dan meminta untuk semuanya datang ke ruang musik sore nanti. Kebetulan, Miku mendapat jatah memanggil Vocaloid yang kemarin dia temui. Leon.

"Bisa minta waktumu sebentar?" Tanya Miku gugup begitu berhadapan dengan Leon. Leon yang tengah membaca buku berpaling pada Miku.

"Ada apa lagi? Tidak terima dengan ucapanku kemarin, hn?" Tanya Leon dengan tatapan tajam. Miku bertambah gemetaran.

"B-Bukan," jawab Miku pelan. Hampir-hampir Miku menangis. Tapi, tiba-tiba datang seorang gadis berambut hitam pendek kepada Miku.

"Hatsune Miku?" Tanyanya. Miku menoleh dan melihat perempuan itu. "Hahaha, benar! Namaku Lola, salam kenal,"

"Lola?" Tanya Miku.

"Hei, hei! Kau sedang bicara denganku 'kan? Tatap mataku!" Bentak Leon. Miku tambah takut lagi. Tapi Lola malah menjitak Leon.

"Kalau kasar pilih-pilih dong! Sama cewek kok ngebentak gitu! Nggak tau malu banget!" Bentak Lola.

"Emang dianya aja yang nggak sopan! Katanya Vocaloid pertama, kok nggak tau sopan santun banget sih!" Balas Leon. Berakhirlah Miku bengong menatapi adik-kakak yang malah jadi bertengkar.

"Maaf... Aku kapan bicaranya kalau begini?" Tanya Miku. Lola dan Leon pun menghentikan perkelahian mereka. Itu pun setelah Leon dipukul kursi oleh Lola.

"Jadi kau mau ngomong apa, Miku-chan?" Tanya Lola. Miku tersenyum lega.

"Kalian 'kan Vocaloid juga. Aku minta kesediaan kalian berdua untuk datang ke ruang musik nanti sore. Bisa 'kan?" Ucap Miku.

"Of course!" Jawab Lola. Miku cengo.

"Apaan maksudnya?" Tanya Miku. Lola sweatdrop. Leon kembali bangkit lagi.

"Katanya Vocaloid pertama! Bahasa Inggris aja nggak becus! Apaan tuh!" ucap Leon.

"Leon, diam kenapa! Kau sendiri masih sering remedial kok di pelajaran Bahasa Inggris!" Balas Lola. Dan kembali terjadilah perang mulut adik-kakak itu. Miku pun kabur diam-diam.

"Kacau deh kalau Vocaloid yang lain juga kayak gitu," gumam Miku.

Dan akhirnya sekolah pun berakhir. Seluruh Vocaloid hadir di ruang musik dan membuat ruangan tersebut sangat ramai. Banyak yang Miku belum kenal sebelumnya dan banyak pula yang dikenali tapi baru sadar kalau ternyata dia Vocaloid juga. Memang benar, ada tiga puluh delapan Vocaloid seluruhnya, tapi Haku dan Dell tidak dapat hadir. Keitarou sudah mengabsen semuanya.

Hatsune Miku, Kagamine Rin, Kagamine Len, Megurine Luka, Kamui Gakupo, Kaito Shion, Meiko Sakine, Akita Neru, Kasane Teto, Yowane Haku, Kiku Juon, dan Hiyama Kiyoteru adalah Vocaloid yang pertama sudah diciptakan. Selanjutnya masih ada Hatsune Mikuo, Megurine Luki, Meito Sakine, Kaiko Shion, Kasane Ted, Dell Honne, Furukawa Miki, Utatane Piko, Kaai Yuki, Lily, Megpoid Gumi, Leon, Lola, Sweet Ann, Miriam, Prima, Sonika, Tonio, Big Al, Iku Acne, Mizki, Yuma, Yokune Rook, Yokune Ruko, Nekomura Iroha, SeeU.

"Terimakasih buat semuanya yang udah datang! Uwaaah, nggak nyangka banget ternyata keluarga Vocaloid sebanyak ini! Hehehe," ucap Miku senang.

"Hatsune Miku idiot! Ini juga masih bakalan nambah tau!" Ucap Leon nyolot. Lola langsung menjitak Leon dengan kursi (lagi).

"Nggak nyangka ada banyak banget gini," gumam Luka.

"Btw, Miku," Piko memanggil Miku. Miku menoleh. Piko menunjukan pesan di ponselnya dari Ayah mereka.

"Ayah sudah melihat dari kejauhan. Kau berhasil menemukan semua saudaramu, Miku. Ayah akan menunggumu di Yamaha Crypton Company lusa. Selamat berjuang."

"Ayah..." Miku terharu membacanya. Dengan semangat, Miku naik keatas kursi.

"Semuanya, dengarkan aku!" Ucap Miku. Semuanya yang tadinya sibuk sendiri, sekarang menghadap ke Miku. Miku tersenyum.

"Besok kita akan adakan pesta dirumah Keitarou! Kita akan saling berkenalan dan memulai persaudaraan kita sebagai Vocaloid! Dan lusa, kita akan datang kepada Ayah untuk menerima misi baru kita! Semuanya setuju?" Sorak Miku dengan semangat.

"SETUJU!"

To Be Continued...

.

.

.

Rizuka: Sebelumnya kami mohon maaf banget karena ada kesalahan di beberapa chapter sebelumnya. Nama 'Akaito' itu harusnya 'Kaiko'. Kami semua keliru. Hehehe... Mohon dimaafkan.

Ame: Terus juga nggak semuanya muat dimasukin kedalam cerita. Kenapa? Kami pusing ngapalinnya satu-satu. Hehehe...

Ririn: Btw, Mizki sama Yuma kayak gimana ya wujudnya?

Yamigawa: Gaib.

Mizki & Yuma: Emangnya kami kayak kamu!

Yamigawa: Ah, I don't care :P

Rizuka: Oke deh. Mohon maaf yang kedua adalah, kami mohon maaf banget kalau ada chara favorit readers yang nggak masuk di cerita ini. Ini juga kami sebenernya nggak masukin Vocaloid semua, tapi digabung-gabung aja sesuka hati #plak.

Ame: Ted sama Teto 'kan Utauloid. Rook sama Ruko juga kalo nggak salah. Sweet Ann, Tonio, Big Al, Leon, Lola, Miriam, Sonika, sama Prima bingung saya. Dell Honne... Saya nggak tau tuh Voyakiloid apaan, hehehe... Dan SeeU jadi satu-satunya Vocaloid III yang masuk di cerita ini! Conglaturation!

Ririn: Ririn langsung dapet nih gambar Yuma, Mizki, SeeU, Sweet Ann, Prima, Sonika, Miriam, Big Al, sama Tonio di Google. #dengan polosnya.

Rizuka: Eh, buat pertama kalinya, Merodine V bikin sesi jawab review yuk?

Yamigawa: Gue aja yang bales!

Kanari Hoshi-chan (chp.3)

Request anda dikabulkan. Berterimakasihlah pada saya #plak. Lain kali nggak usah takut kepanjangan review. Kolom review adalah milik anda sepenuhnya #ngomong paan sih gue? Jangan kapok review ok?

Uchibella-Kagaminetwins (chp.3)

Sesuai saran dari anda, mulai sekarang di setiap akhir fic M.V. mau dibikin sesi jawab review. Arigatou sarannya #nunduk. Btw, kapan-kapan log-in dong kalo ngereview biar kami bisa lebih kenal. Jangan kapok review ya.

Fakkufakku (chp.3)

#nengok kiri-kanan. Di M.V. nggak ada yang fujo deh kayaknya. Tapi diusahain deh buat yaAllah-nya #yaoi, dodol! Sinyal anda belum beruntung. Btw, lain kali ajarin saya menjelma kayak gitu, kayaknya seru. Well, jangan kapok review ya.

Authorjelek (chp.2)

Udah fujo, loli pula. Insyaflah nak #sendirinya ngaco. Demi dah, kami nggak ada yang tau Voyakiloid apaan. Wawasan kami cetek, hahaha! #diinjek Merodine laen. Jangan kapok review!

Kaisar Rikudo (chp.2)

Iya, di skrip sih tulisannya gitu. Vocaloid disuruh konser ke luar negeri, tapi Miku nggak tega ninggalin Kei- ...#mulutnya disumpel. Nggak boleh spoiler, hehehe... Chp.3 update! Nih chp.4 juga update! Review lagi ya?

Haruhi tya (chp.2)

Ehm. Kalo penasaran, review bisa kali? Makin banyak review, makin cepet update. Janji deh saya!

Dwi93Jun Takahashi Chan (chp.1)

Saya jadi pengen bikin KaitoxMikuoxMiku threesome-an aja deh #digaplok negi dan ditembak meriam es krim. Jangan lupa reviewnya dong, hehehe...

Yamigawa: Hm... Abis.

Ame: Kayaknya rada nggak enak gimana gitu ngebaca balesannya -w-

Rizuka: Yaudah, akhir kata arigatou ya buat semuanyaaaaa! :D