Rizuka: Update lagiii~! xD

Ririn: Tiga... Puluh... Delapan... Sigh, banyak banget yang mesti dimuat-muatin di nih fic -w-

Ame: Yosh! Yang penting bisa di-update! Yuk, mulai!

.

.

.

Merodine V Presented,

"Vocaloid Story II"

Warning: OOC TT (tingkat tinggi), SeeU yang kikuk abis, Big Al *ehm* yaoi, Yuma galak, dan sederet chara dengan sifat aneh, typo(s) maybe?, don't like don't read.

Disclaimer: Vocaloid itu milik Yamaha dan Crypton Media Future. Ingat itu ya, anak-anak ;3

.

.

.

Keitarou P.O.V.

Phew. Sibuk sekali aku hari ini. Aku beserta Vocaloid yang tinggal di rumahku sedang merapikan tempat untuk pesta penyambutan para Vocaloid baru itu di kebun. Miku yang menyarankan aku untuk membuat pesta kebun dibanding indoor.

"Soalnya, sekalian kita pamerin kebun kita yang keren ini!" Begitu kata Miku. Hahaha, ada-ada saja Miku itu.

"Kei! Si kepala jeruk mana?" Tanya Neru tiba-tiba.

"I don't know," jawabku. Neru tampak sangat kesal. Terlihat dari wajahnya yang merah padam. "Ada apa?" Tanyaku.

"Si kepala jeruk ngumpetin handphone milikku! Argh!" Neru kembali kabur kedalam rumah untuk mencari Rin. Aku yakin mereka berdua bukannya membantu malah membuat tambah berantakan. Sigh...

"Kei-kun, masakan sudah siap," ucap Luka dari dalam rumah. Hm, pantas saja sudah mulai tercium bau sedap di sini. Aku jadi lapar.

"Sebentar, Gakupo dan Kaito sedang memindahkan mejanya ke halaman," jawabku. Luka mengangguk dan kembali masuk ke dapur.

"RIIIN!" Kali ini terdengar jeritan ... Len? Ada apa lagi ini? Ck.

"Keitarou! Keitarou! Len pingsan lagi!" Rin dan Neru tiba-tiba datang sambil menyeret tubuh Len yang pingsan dengan benjolan besar di kepalanya.

"Apa yang terjadi kali ini?" Aku sweatdrop melihatnya.

"Neru menjitak Len memakai katana miliknya!" Ucap Rin menyalahkan Neru.

"Apaan! Rin tuh yang mendorong Len sampai dia yang malah kena pukulanku!" Bantah Neru.

"Ya berarti yang idiot tuh kamu! Dasar cewek idiot, maniak hp, galak gak jelas!" Ucap Rin nyolot.

"Yeh, kamu yang idiot! Dasar cewek dada rata, sok imut, cempreng, kepala jeruk!" Neru lebih nyolot lagi. Baru saja mereka berniat berkelahi, Meiko datang dan menjewer mereka berdua.

"Kalian dari dulu paling nggak bisa diem deh," ucap Meiko. Rin dan Neru sama-sama mengaduh kesakitan. Aku hanya nyengir garing melihat mereka berdua. Tidak lama, Kaito dan Gakupo datang membawa meja hidangan ke halaman.

"Hai, Kaito," Sapa Meiko dengan lembut. Kaito menoleh ke Meiko dan langsung menoleh lagi ke arah lain. Tampak wajah Kaito memerah.

"Luka, meja hidangan sudah siap!" Aku memanggil Luka untuk segera menghidangkan masakannya di meja yang sudah disiapkan. Kali ini giliran Gakupo yang memalingkan wajah saat Luka dan Miku datang membawakan masakan. Wajah Luka juga dipenuhi dengan rona merah tanpa alasan jelas. Dengan cepat, Kaito dan Gakupo meletakan meja tersebut dan segera kabur. Ada apa ini sebenarnya?

"Kaito kelihatan aneh belakangan ini," gumam Miku dan Meiko disaat yang bersamaan. Mereka berdua pun saling tatap penuh kecurigaan.

"Sigh," Luka menghela nafasnya lega. Masakan yang ada di tangan Miku dan Luka langsung diletakan di meja saji. Setelah itu mereka berdua kembali masuk ke dapur, menyiapkan masakan lain.

"Kami datang!" Aku mendengar seseorang memanggil dari depan gerbang. Aku bergegas kesana dan bertemu Mikuo, Kaiko, Ted, Meito, dan Luki.

"Silahkan masuk," aku mempersilahkan mereka. Mikuo yang paling buru-buru menuju ke halaman belakang.

"Mikuuu!" Panggil Mikuo. Sementara aku lihat Kaiko menggembungkan pipinya. Sepertinya dia kesal?

"Ted, kau datang rupanya," Teto keluar dari pintu depan dan menyapa Ted. Darimana saja Teto? Dan ... Teto berdandan sangat cantik pagi ini. Aku menengok dan melihat wajah Ted terkagum-kagum dengan rona merah.

"Incest," ledek Meito. Ted langsung menjitak Meito sampai nyungsep di tanah. Pasti sakit tuh.

"Ayo, ayo, masuk!" Ajak Teto dengan riangnya. Ted mengangguk saja saat Teto membawanya ke halaman belakang dengan menggandeng lengannya. Wajah Ted merah padam dan tampak asap keluar dari kepala Ted. Aneh ya?

"Oh iya, dimana Dell dan Haku?" Aku bertanya pada Luki.

"Ayah bilang masih ada yang dia harus perbaiki dari program Haku-nee," jawab Luki. Apakah Haku rusak lagi?

"Tapi, kata Ayah sih Haku gapapa. Cuma ada yang perlu di-install ulang lagi aja," ucap Meito nimbrung. Install ulang? Kalau begitu berarti ... Program Haku yang sebelumnya akan hilang dong? Dan itu artinya Haku akan lupa dengan ingatannya yang sebelumnya.

"Well, aku berharap Haku-nee beneran gapapa," gumam Kaiko dan langsung nyelonong masuk. Kayaknya Kaiko lagi lesu banget hari ini. Meito dan Luki pun ikut menyusul Kaiko.

Baru saja aku ingin kembali ke halaman belakang, pintu gerbangku diketuk-ketuk. Aku menoleh dan melihat seorang perempuan dengan rambut wavy blonde dengan cat ears di kepalanya. Aku berpikir sejenak, 'apakah dia sedang cosplay?'.

"Kediaman Hatsune Miku?" Tanyanya dengan wajah datar.

"Miku memang tinggal disini, tapi ini rumahku. Namaku Keitarou," ucapku memperkenalkan diri. Wajah perempuan ini mirip orang Korea, menurutku. Imut dan wajahnya putih bersih.

"Ah, itu dia maksudku. Boleh aku masuk?" Tanyanya. Aku mengangguk sambil membukakan gerbang. Baru selangkah ia berjalan, kakinya tersandung kakinya sendiri dan ia pun terjatuh. Karena rok yang ia gunakan agak pendek, aku sempat melihat ... Ah, aku pura-pura nggak liat aja deh.

"Aduh," ucapnya. Aku melihat kakinya banyak luka lecet. Sudah berapa kali dia tersandung hari ini?

"Kakimu nampak banyak lecetnya," ucapku. Dia menutupi kakinya dan segera berdiri.

"Sedikit," ucapnya dan bergegas masuk. Tapi lagi-lagi tersandung dan jatuh. Aku lihat tampaknya dia tidak terbiasa dengan sepatu hak tinggi.

"Hei," panggilku. Dia menengok. Aku membawakan dia sepasang sandal milikku. "Pakai ini saja. Aku rasa kau tidak akan jatuh lagi," ucapku. Dia mengangguk dengan wajah tersipu dan mengganti sepatu hak tingginya dengan sandal.

"Terimakasih," ucapnya lugu. Dia pun berjalan menuju halaman belakang dengan lebih hati-hati sekarang. Nah, that's better.

"Permisi~! Pasangan baru mau masuuuk~!" Jeritan Kaai Yuki mulai terdengar. Aku melihat Kaai Yuki sedang digendong oleh Kiyo-sensei. Piko dan Miki ikut di belakangnya. Hahaha... Pemandangan yang lucu.

"Silahkan, silahkan," ucapku sambil membukakan gerbang.

"Aku sudah mengantarkanmu sampai depan gerbang. Sekarang lekaslah turun," ucap Kiyo-sensei memohon pada Yuki.

"Tangguuung~" Yuki merengek pada Kiyo-sensei. Yang menggendong hanya bisa sweatdrop dan mengikuti ucapan Yuki.

"Miki, mau Piko gendong?" Piko menawarkan pada Miki. Wajah Miki bersemu merah.

"Nggak, makasih," jawab Miki ketus dan lalu meninggalkan Piko.

"Aww... Penolakan yang menyakitkan," ucap Piko sambil menepuk-nepuk dadanya sendiri dan berjalan di belakang Miki.

Setelah cukup lama menunggu, barulah datang lagi beberapa Vocaloid lainnya. Kali ini gadis berambut hijau pendek, Megpoid Gumi. Gadis berambut kuning panjang, Lily. Cowok berambut pink pendek lurus, Yuma. Cewek berambut hitam sebahu dengan yukata, Mizki. Gadis pendek dengan topi mirip kucing dan berambut cokelat dikuncir satu kebelakang, Nekomura Iroha. Dan terakhir dua kakak beradik bermata sebelah biru sebelah merah, Yokune Rook dan Yokune Ruko. Tidak lama kemudian, seorang gadis datang seorang diri dengan seragam maid dan rambut hijau dengan jepit rambut mirip bawang. Dia menangis padaku dan memohon maaf karena datang telat. Padahal, belum telat-telat banget. Dan yang terakhir datang adalah sekelompok Vocaloid Inggris yang aku singkat jadi Engloid. Diantaranya adalah Leon, Lola, Prima, Sonika, Miriam, Sweet Ann, Tonio, dan Big Al. Setelah itu tidak ada lagi yang datang. Aku kira, Kiku Juon, Yowane Haku, dan Dell Honne tidak dapat hadir hari ini, tapi yah segini aja udah ramai banget kok. Hehehe...

.

.

.

Normal P.O.V.

Kini halaman belakang rumah Keitarou tampak ramai dengan hadirnya semua Vocaloid itu. Miku yang paling bersemangat menyapa semua Vocaloid baru itu, kecuali saat menyapa Leon tentunya. Tampak dua orang yang tidak ikut nimbrung dengan Vocaloid yang lainnya. Mereka berdua adalah Yuma dan Miriam. Yuma tengah asyik mendengarkan musik melalui mp4 miliknya. Sementara Miriam sedang meminum teh dengan anggunnya.

Teto tampak penasaran dengan seragam maid yang dikenakan oleh Iku Acne. Teto mencoba merayu Iku agar mau meminjamkan bajunya sebentar, tapi Iku menolak sambil menangis. Teto pun nggak jadi meminjamnya. Tapi Teto malah nanya dan nyuruh Ted bayangin saat Teto pakai seragam maid. Bukannya ngejawab, Ted pingsan di tempat dengan darah mengalir dari hidungnya dan wajahnya merah padam.

Rin, Kaai Yuki, dan Nekomura Iroha nampaknya akan jadi trio yang sempurna. Terlihat dari bagaimana mereka daritadi main kejar-kejaran di tengah pesta dan membuat Leon marah-marah karena kuenya jatuh. Yang nggak diduganya lagi, Ruko sama Prima malah ikutan main kejar-kejaran. Lola senyum-senyum aja ngeliatinnya, sementara Gumi mengabadikannya dalam kamera yang ia bawa. Gumi memang hobi fotografi.

Saat Gumi tengah asik mengambil gambar, dia menyorot pemandangan yang membuat hatinya agak terluka. Pemandangan itu adalah saat ... Gakupo ... Lagi digodain sama Big Al. Awalnya Gumi istighfar, tapi ternyata naluri fujoshi-nya ngalahin imannya. Gakupo sendiri nyoba memberontak, apalagi saat Luka berdecak dan mengatakan Gakupo yaoi. Tapi Big Al terus mendekapnya erat. Tubuh mereka berdua memang tidak jauh berbeda dengan tubuh Big Al lebih besar sedikit dari tubuh Gakupo. Gumi hanya tertawa-tawa melihatnya.

Kiyoteru berusaha untuk jaga image dan tidak terpancing untuk melakukan hal-hal yang konyol, tapi Kaai Yuki memaksa Kiyoteru masuk dalam masalah. Yuki merebut kacamata Kiyo dan dibawa kabur. Alhasil, Kiyo yang matanya ngawur(?) gara-gara nggak pakai kacamata bikin suasana pesta makin meriah. SeeU aja hampir ketabrak, Yuma nyaris nakol Kiyo pakai pot bunga yang untungnya ditenangin sama Mizki, Miki kesenggol sampai mau jatuh tapi ditangkep Piko dan *piip*, Tonio yang repot nyapu-nyapu karena banyak kue yang berjatuhan, sampai akhirnya Yuki ditangkep sama Meiko.

"Wah wah, jadi sekarang ini yang akan jadi biang rusuh?" Gumam Meiko sambil menarik kerah baju Yuki dan membuatnya menggantung di tangan Meiko. Yuki kesal dan menendang perut Meiko.

"Bodo! Bodo! Bodooo!" Yuki kembali kabur, dan Meiko mengelus-elus perutnya yang sakit setelah ditendang Yuki. Hampir Meiko mengamuk dan berniat merebus Yuki, tapi Kaito datang.

"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Kaito. Meiko mengengadah dengan wajah tersipu.

"Ng... A-Aku ok," jawab Meiko malu. Jujur, baru kali ini Kaito terlihat sangat peduli padanya. Tapi dimana ada kebahagiaan, pasti ada kesedihan di sisi lain.

"Apa aku terlalu sering bersama Mikuo-nii ya, sampai-sampai Kaito pun jadi mulai dekat dengan Meiko?" Miku berpikir.

"Cemburu, hn?" Mikuo meletakan tangannya di pundak Miku. Miku yang melihatnya langsung menggeser tangan Mikuo.

"Jangan dekat-dekat," ucap Miku kesal. Mikuo pun melepaskan tangannya.

"Oh, jadi begitu ya? Yaudah," Mikuo pun berjalan menuju Kaiko dan tidak mempedulikan Miku. Miku pun jadi merasa lebih kesepian lagi.

"Cinta itu menyebalkan, ya?"

Miku menoleh pada orang yang berada di sampingnya. Ternyata suara itu adalah suara Leon. Miku mengangguk.

"Aku bingung," ucap Miku.

"Aku pun benci memilih," ucap Lola. Miku menatap wajah Lola.

"Kau sendiri kenapa?" Tanya Miku. Lola menggeleng.

"Entahlah, aku hanya tidak yakin." Gumam Lola sambil menghela nafasnya. Miku juga ikut menghelas nafas, kemudian tersenyum.

"Tapi, cinta juga menyenangkan, kau tau? Orang yang pintar sekalipun akan terlihat bodoh saat jatuh cinta," ucap Miku. Lola ikut tersenyum.

Sementara itu, Gakupo yang sudah lepas dari ke-homo-an Big Al kini mendekat kearah Luka. Memang hati Gakupo deg-degan nggak jelas dari tadi, tapi dia harus memberanikan dirinya untuk memastikan hubungannya dengan Luka.

"Mm... Luka, boleh aku duduk di sampingmu?" Tanya Gakupo basa-basi.

"No," jawab Luka singkat. Gakupo sweatdrop.

"Kau bodoh, Gakupo. Duduk ya tinggal duduk, pakai izin segala. Hihihi," gumam Luka dengan wajah bersemu. Gakupo tambah deg-degan melihat Luka seperti itu. Cantik sekali bagi Gakupo.

"Jadi- ...?"

"Silahkan duduk, Kamui-kun," jawab Luka dengan wajah tersenyum. Gakupo pun bernafas lega dan duduk di samping Luka.

"Tentang yang kemarin- ..."

"Ah, kau mau kue yang itu? Tadi aku coba, ternyata enak lho! Miku yang membuat," ucap Luka dan mengambilkan sepiring kue untuk Gakupo. Gakupo hanya memegangnya dan tak memakannya.

"Mm... Jadi- ..."

"Apa kau haus? Akan ku ambilkan minum!" Luka kembali kabur. Gakupo hanya memegang gelasnya.

"Luka, aku mau bicara- ..."

"Ah, mungkin kau mau- ..."

"Luka," Gakupo menahan lengan Luka saat Luka hendak kabur lagi dari Gakupo. Terhentilah suasana di antara mereka dan seakan detik berhenti. Kegaduhan yang tercipta bagaikan distorsi tak bersuara bagi mereka. Wajah mereka berdua bersemu merah bagai bunga mawar.

"M-Maafkan aku, Kamui-kun," ucap Luka pelan sambil menunduk.

"Duduklah," ucap Gakupo dan menyuruh Luka duduk. Luka pun duduk dengan gemetar di samping Gakupo.

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan?" Tanya Luka.

"Ini soal yang sebelumnya. Apa kau benar-benar suka padaku?" Tanya Gakupo. Luka terdiam tanpa jawaban.

"A-Aku..." Luka tidak dapat melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba, Luki datang.

"Dan kau lagi-lagi mencoba menekan Luka-nee, hn?" Tanya Luki dengan sinis kepada Gakupo. Gakupo berdiri, bersiap menghajar Luki jika Luki berkata yang macam-macam. Tiba-tiba Gumi datang juga.

"Lukiii! Main yuuuk!" Gumi langsung menyeret Luki pergi. Meskipun Luki menolak, tapi akhirnya Luki terseret oleh Gumi setelah kepalanya dibenturkan ke dinding. Gakupo dan Luka pun melanjutkan pemnicaraan mereka.

"Aku kira ini terlalu cepat, Kamui-kun," ucap Luka.

"Maksudmu?" Tanya Gakupo.

"Maksudku... Aku... B-Belum siap," jawab Luka. Gakupo mulai berpikir, 'Apakah ini berarti penolakan?'.

"Tapi tidak. Aku akan coba maju. Aku... Juga menyukaimu, Kamui-kun," ucap Luka. Gakupo menatap wajah Luka yang kini tengah tersenyum dengan wajah merona yang membuatnya jadi malaikat di hati Gakupo.

"Benarkah itu?" Tanya Gakupo tidak percaya.

"Ya. Aku serius," jawab Luka. Dan akhirnya, Gakupo pun mengecup tangan Luka dengan romantis dan Luka membalasnya dengan senyum manis.

Seperti tadi. Dimana ada kebahagiaan, pasti ada sisi kesedihannya. Gumi menatap pemandangan itu dengan hati miris. Sementara Luki yang ada bersamanya sadar perasaan Gumi.

"Kau memaksakan diri," gumam Luki. Gumi menoleh dan menghapus airmatanya.

"Tidak apa-apa. Mereka pasangan yang cocok, kok!" Gumi berusaha menghibur dirinya sendiri.

"Cih. Omong kosong," Luki mengatakannya dengan pedas dan lalu meninggalkan Gumi sendirian. Gumi terdiam.

"Butuh teman bicara?" Tiba-tiba Rook datang kepadanya.

"Hn," Gumi mengangguk. Rook pun mengajak Gumi duduk.

"Ada masalah?" Tanya Rook. Gumi mengangguk lagi.

"Aku cemburu, tapi ... Aku juga bahagia," ucap Gumi. Rook ber-oh-ria.

"Kau berada di posisi yang berat. Mengejar, kau akan merasa dirimu egois. Menahan, kau akan terus sakit hati. Bagaimana kalau hanya sekedar menyatakan?" Ucap Rook.

"Kemarin sudah," jawab Gumi.

"Dan?"

"Gakupo tampaknya lebih menyayangi Luka. That's a bad relief," gumam Gumi sedih, tapi tetap mencoba tersenyum.

"Kalau begitu, ada batas dimana kau tidak akan tahan berdiam diri. Sulit," gumam Rook. Gumi memukul lengan Rook pelan.

"Aku akan baik-baik saja. Dan ... Baru kali ini ku tau kau banyak bicara juga," ucap Gumi.

"Aku hanya tidak suka bicara yang tidak penting," ucap Rook. Gumi tersenyum kepada Rook.

Dan sementara itu, Miku mencoba untuk mencari tempat yang agak sepi. Dia sepertinya memang butuh waktu sendirian. Dia duduk di ruang tamu sendirian, sementara Vocaloid lainnya ada di halaman belakang. Tiba-tiba muncul Sweet Ann yang baru saja dari toilet.

"Kau tidak gabung dengan yang lain, Hatsune-san?" Tanya Ann.

"Aku hanya sedikit pusing. Lebih baik, aku disini dulu," jawab Miku ramah. Ann tersenyum.

"Jangan memaksakan dirimu, Hatsune-san. Kau coba tanya langsung saja pada Kaito mengenai perasaannya padamu," ucap Ann. Miku heran. Sweet Ann seakan-akan dapat menebak isi pikiran Miku.

"Darimana kau tau?" Tanya Miku. Ann tertawa pelan.

"Siapa yang tidak tau, Hatsune-san? Hihihi," Ann pun berlalu meninggalkan Miku. Miku masih terus memikirkan Ann. Bukan karena Ann seperti dapat menebak pikiran Miku, tapi mengenai makna ucapan Ann. 'Kenapa tidak aku tanya langsung saja pada Kaito? Dengan begitu, aku tau jelas perasaannya padaku', pikir Miku.

Miku masih mencoba memikirkan bagaimana caranya menanyakan pada Kaito, tapi tiba-tiba Meito datang mengganggu pikiran Miku.

"Hiyaa! Ngapain kau, negi bodoh?" Ledek Meito. Miku tidak menghiraukan Meito.

"Hei, songong!" Ucap Meito dan melempar Miku menggunakan bantal yang ada di sofa. Miku dengan mudah menangkapnya dan melempar balik ke wajah Meito.

"Astaga! Hei!" Meito membentak Miku. Barulah Miku menengok.

"Apaan sih?" Tanya Miku.

"Cemburu yaaa, ngeliat Meiko-nee dengan Kaito-nii? Hehehe," ledek Meito. Emosi Miku makin meluap, dan ...

"Jangan terpancing emosi," Mikuo menangkap tangan Miku yang hendak memukul wajah Meito.

"Lepaskan," pinta Miku kesal kepada Mikuo. Miku masih nggak mau disentuh-sentuh lagi sama Mikuo. Mikuo pun melepaskan tangan Miku.

"Kalau kau marah, jangan diluapkan melalui kekerasan, tapi kelembutan. Kau cemburu, tapi jangan jadi buta. Dulu, Meiko juga pernah berada dalam posisi seperti dirimu sekarang, dan dia mencoba berubah dan jadi peduli pada Kaito. Harusnya kau dapat meniru Meiko," ucap Mikuo. Miku terdiam.

"Meito! Kau sendiri, jangan rusuh pada Miku, atau kau ku hajar," gertak Mikuo. Meito mengangguk dan kemudian kabur.

"Kau kenapa baik sekali padaku, Mikuo-nii?" Tanya Miku.

"Aku hanya ingin yang terbaik bagi adikku sendiri," ucap Mikuo dan berlalu pergi. Miku tersenyum pada Mikuo.

"Mikuo... Nii-san..." Gumam Miku bahagia.

Di halaman belakang, semua Vocaloid sedang berpesta dengan bahagia dan saling tertawa. Sampai tiba-tiba sebuah helikopter datang dan turun beberapa pasukan yang menggunakan baju lindung dan membuat para Vocaloid panik.

"Siapa kalian!" Gakupo menyiapkan katana-nya. Selain Gakupo, Neru juga menyiapkan katana. Kaito, Len, Piko, Ted, Mikuo, Rook, Kiyoteru, Big Al, dan Tonio siap di garis depan. Tapi, mereka semua kalah jumlah karena pasukan tersebut terus menerus bertambah.

"Kalian semua harus ditangkap,"

Miku pun keluar dari rumahnya dan melihat pasukan bersenjata sudah mengepung saudara-saudaranya. Miku pun jadi panik.

"Miku, tetap di tempatmu!" Ucap Kaito memperingatkan. Miku cuma mengangguk.

"Terlambat," Sebuah bom dikeluarkan oleh salah satu pasukan tersebut. Ternyata bom tersebut berisi gas tidur. Para Vocaloid pun tidak sadarkan diri. Salah satu dari pasukan tersebut membuka maskernya setelah semua Vocaloid terlelap. Ternyata itu adalah Dell Honne.

"Kalian cukup sudah berkenalannya. Kita semua harus menjalani tes dari Ayah besok," ucap Dell.

To be continued...

.

.

.

Rizuka: Kyaa! Capek banget nulis nih fic, tapi fuuun bangeeet! :D

Ririn: Tanpa Yamigawa...

Ame: Ciee kesepian! Hehehe...

Ririn: Apa sih? #sinis terus kabur

Rizuka: Berusaha buat masukin semua Vocaloid kedalam chapter ini, tapi nampaknya gagal -w-

Ame: Next chapter ... What the- ...! Skripnya kok parah banget sih?

Miku: Kenapa? Kenapa?

Ame: Secret :P tapi ... Kok parah ya nih skrip?

Rizuka: Kerja ekstra buat nih fic~! Huwaaa! Rizuka harus kuat! Hehehe...

Ame: Dibutuhkan review lagi nih biar makin semangat dan chapter depan bisa di-update. Karena ... Nih skrip sumpah parah banget -w-

Ririn: Parah karena panjaaaang banget chapter depan~

Ame: Ngapa dikasihtau dah? -w-"

Ririn: Ups!

Rizuka: Udah, udah. Ririn, sebagai hukumannya, kamu bales review!

Ririn: Itu bukan hukuman kaliii! Hadiah, hahaha... xD

Dane-chan

Uwaah! Double arigatouuu~! Pertama buat pujiannya, kedua buat informasinya~! xD Jangan kapok review yaaa :3

Kaisar Rikudo

Request anda sedang dalam proses kok~ Sabar ya~? Mikuo mau di-pairing sama Kaiko aja ah :3 Miku dan Kaito, berbahagialah kalian :D Jangan kapok review :3

Dwi93Jun Takahashi Chan

Jangan ketinggalan lagi dong~ :D Mikuo playboy? Baru tauuu? Nyaaa x3 #digaplok negi

Authorjelek

Mm... Jangan apa-apain Ririn ya? Ririn masih dibawah umur nih~ Kami nyoba bikin Big Al jadi rada *ehm. Request anda sedang dalam proses kok :3 Mau bikin collab juga? G'luck yaaa xD dan tetep ... Jangan apa-apain Ririn! xP #ditendang

UchiBella-kagamineTwins

Sabar ya, kami juga masih pemula kok. Kamu pasti bisa belajar jadi lebih baik lagi! Ganbatte~! xD Andre lagi gak ada sih, dia yang paling penasaran sama kamu padahal #diterkam kelelawar nyasar(?). Uchi, aku bisa tebak! Kamu abis UAS! (uchi: semua juga kaliii!). Jangan kapok review fic-fic M.V. yaaa?

Ririn: Aaa~ Seneng :)

Rizuka: Oke, kalau begitu, akhir kata tetep ya, REVIEW~! :)