Rizuka: Vocaloid Story II updated! Gak pake lama! Camera roll and ... ACTION!

.

.

.

Merodine V Presented,

"Vocaloid Story II"

Warning : OOC, panjang (ke)banget(an), typo-potamus(?), OC, kebanyakan pair, gaje, don't like? Click back aja.

Disclaimer : Vocaloid, Engloid, dan Utauloid punya pemilik masing-masing. Cerita ini punya M.V.

.

.

.

(All in Normal P.O.V)

Hatsune Miku sudah tersadar dari tidurnya. Ia membuka matanya dan melihat lorong yang amaaat panjang dan tidak berujung. Dia langsung berdiri dan menyadari secarik kertas jatuh dari tubuhnya. Ia pun memungut kertas itu dan membukanya. Miku menemukan sebuah pesan di dalamnya. Ia pun membacanya.

"Hatsune Miku, dapatkah kau keluar hanya dengan satu kata?"

"Miku?" Miku agak heran membacanya, tapi kemudian ia tersadar makna dari pesan itu.

"MIKU! MIKU! MIKU!"

Miku sadar bahwa ia kembali seperti dulu lagi dimana ia tidak bisa bicara sama sekali dan cuma bisa berkata 'Miku Miku'. Ia bulak-balik, mencoba memahami situasinya saat ini. Ia menggumam dalam hatinya.

"Isi pesan itu menantangku untuk keluar dari tempat ini dengan satu kata. Kalau begitu, tujuanku adalah keluar dari sini. Kalau begitu, aku berada di sebuah teka-teki dan aku harus lolos. Baiklah!"

Miku langsung mengambil langkah maju tanpa memperhatikan langkahnya terlebih dahulu. Kakinya menarik sebuah benang dan membuat dinding di sampingnya berbalik sendiri. Dan bodohnya lagi, Leon -yang ternyata sedang bersandar di dinding tadi -jadi terjatuh gara-gara Miku.

"SIAPA YANG MEMBALIK DINDING INI? ! AKU NYARIS SAJA MATI KARENA KAGET!" Ucap Leon marah.

Miku nggak berani menatap Leon, jadi dia cuma merunduk dan menutup kepalanya dengan kedua lengannya sambil menangis dan bergetar. Miku paling nggak sanggup buat menghadapi Leon karena menurutnya, Leon itu Vocaloid paling galak.

"Miku?" Panggil Leon. Miku menengadah dan menatap wajah Leon yang datar itu. Nampaknya, Leon tidak terlalu marah, malahan ... Dia lega.

"Sigh. Untunglah." Ucap Leon dan terduduk di samping Miku.

"Miku?" Miku mencoba menanyakan Leon, kenapa Leon terlihat lega. Tapi, yah, Miku nggak bisa ngomong sama sekali.

"Hei, kau ngomong apa, hn?" Tanya Leon agak kesal.

"Miku Miku! Miku... Miku Miku!" Ucap Miku -mencoba menjelaskan kalau suaranya hilang.

"SUDAH KU BILANG, NGOMONG YANG JELAS!" Ucap Leon marah. Miku lagi-lagi menelungkupkan wajahnya dari Leon karena takut. Tapi, ia jadi dapat ide mengenai cara untuknya memberitahu Leon.

"Miku." Miku memanggil Leon. Leon menatapnya dengan tatapan kesal, seperti biasa. Miku menunjuk-nunjuk dirinya sendiri.

"Kau kenapa?" Tanya Leon. Miku mengangguk-angguk sambil tersenyum.

"Miku." Ucap Miku sambil memegang tenggorokannya. Leon mengernyitkan alisnya.

"Kau sakit tenggorokan?" Tanya Leon. Miku menggeleng. Ia membuka mulutnya dan mengumpamakan ia sedang berbicara.

"Suaramu?" Leon menebak. Miku mengangguk-angguk lagi. Kemudian, Miku menunjuk dirinya, memeragakan sedang bicara, lalu menggelengkan kepala.

"Nggak suaramu? Suaramu nggak? Ng..." Leon mencoba menebak-nebak maksud Miku.

"Miku!" Miku berseru. Leon pun mengerti ucapan Miku sekarang.

"Suaramu tidak keluar dan kau hanya bisa bilang Miku Miku, benar, 'kan?" Tebak Leon. Miku melompat-lompat kegirangan.

"Tapi, bagaimana mungkin bisa?" Tanya Leon bingung. Miku cuma mengangkat bahunya.

"Miku Miku?" Miku bertanya sambil menunjuk kertas yang digenggam erat oleh Leon.

"Oh, ini? Ini pesan yang kudapat. Bacalah sendiri." Leon memberikan kertas itu kepada Miku.

"Misi ini akan gagal jika kau tidak berhasil menyelamatkan Miku."

Miku berpikir, "Oh, pantas saja, Leon sangat lega begitu bertemu denganku. Ternyata, isi pesannya yang membuat dia khawatir. Tapi, eh? Misi ini akan gagal? Kalau begitu, kami memiliki misi tertentu di lorong ini! Tapi, apa, ya?"

"Hei, berdiam diri tak ada artinya. Ayo, kita jalan." Ucap Leon. Miku mengangguk dan jalan di belakang Leon.

.

.

.

Sementara itu, di lorong lain Gakupo sedang berjalan bersama Vocaloid yang ukuran tubuhnya jauh lebih kecil daripada dirinya. Kaai Yuki.

"Yuki mau ketemu Kiyooo~! Huwaaa~!" Jerit Yuki.

"Berisik. Diamlah dulu, bocah kecil." Geram Gakupo yang daritadi sudah sangat benci terhadap semua celotehan Yuki.

"Yuki dan Kiyo janji akan menikah~! Masa sih, Yuki harus terjebak disini~? N-Nanti kalau Kiyo suka sama perempuan lain, gimana~? ! Huwaaa~!" Jerit Yuki lagi.

"Kiyo, terkutuklah kau, jika aku tak menemukanmu dalam lima menit. Aku sudah tak tahan dengan celotehan anak ini." Geram Gakupo lagi.

Btw, semua Vocaloid tetap dapat pesan dan masing-masing pesan juga berisi tantangan. Gakupo harus bisa bertahan di lorong tanpa katana-nya. Sementara, Yuki harus menemukan Kiyoteru segera, karena isi pesan Yuki adalah, "Temukan Kiyoteru segera, atau cintamu hilang."

Dan setelah berjalan cukup lama, Gakupo mulai melihat dua Vocaloid sedang jalan bersama. Tanpa disangka, itu adalah Gumi dan Kiyoteru, tapi ... Mereka seling berangkulan. Melihat itu, tentu saja emosi Yuki meluap-luap.

"KIYOTERUUU!" Yuki berlari, tapi kakinya menyentuh sebuah benang dan mengaktifkan sebuah jebakan. Yuki pun jatuh ke sebuah lubang.

"Kaai Yuki!" Reflek, Kiyoteru yang sedang kehilangan kacamatanya, melepaskan Gumi dan melompat ke lubang tempat tadi Yuki terjatuh. Kemudian, lubang itu pun menutup.

"Waw, cinta mereka sangat kuat, ya?" Gumam Gakupo dan Gumi bersamaan. Begitu mereka sadar bahwa kini mereka cuma berduaan, wajah mereka langsung memerah. Jantung mereka pun mulai berdegup kencang tak beraturan.

"J-Jadi, b-bagaimana caranya kau bisa b-bertemu dengan Kiyoteru?" Tanya Gakupo berbasa-basi.

"T-Tadi cuma k-kebetulan ketemu doang. Kiyoteru k-kehilangan kacamatanya. E-Ehehe..." Jawab Gumi malu-malu.

Gruduk. Gruduk.

Gakupo mendengar sebuah suara aneh datang dan makin mendekat. Karena takut, Gumi merapatkan tubuhnya di samping Gakupo. Dan Gakupo pun melihat sebuah batu besar datang dan menggelinding kepadanya. Bukannya lari, Gakupo malah memasang kuda-kuda.

"Dikiranya aku cuma bisa dengan katana milikku? Huh," Gumam Gakupo. Saat batu itu bersisa beberapa centi dari Gakupo, batu itu dipukul oleh Gakupo hingga hancur berkeping-keping. Gumi yang menyaksikannya menjadi kagum, tapi, ...

"ADUH ADUUUH!" Jerit Gakupo sambil memegangi tangannya yang bengkak. Gumi pun langsung memeriksa keadaan tangan Gakupo.

"Kau tidak apa-apa, 'kan?" Tanya Gumi sambil memegang tangan Gakupo yang memar. Sesaat kemudian, mereka baru sadar bahwa jarak di antara mereka sangat sempit dan ruangan ini pun gelap serta sepi. Dan tanpa sadar ...

Chu~.

Gumi mencium pipi kanan Gakupo. Kini, wajah mereka berdua terselimuti oleh kehangatan yang menjalar dari dalam hati mereka dan membuat merah wajah mereka. Atmosfer seakan berubah dan membuat ruang khusus bagi mereka berdua. Gakupo menatap wajah manis Gumi dan ia yakin ia bisa saja mencium bibir Gumi sekarang juga. Gumi sendiri mulai memejamkan matanya dan mendekatkan wajahnya kepada Gakupo.

"Tidak. Maaf." Gakupo menahan pundak Gumi.

"G-Gakupo-sama..." Gumam Gumi lirih serta kecewa. Airmata mulai menggenangi matanya.

"Maaf." Gakupo memalingkan wajahnya dari Gumi.

"Ahaha... Aku yang harusnya minta maaf." Ucap Gumi sambil tersenyum dan menghapus airmatanya. Gakupo ingat sesuatu.

"Oh iya, Gumi. Ada sesuatu yang mau ku tanyakan. Kenapa waktu itu kau bilang, aku tercipta terlalu cepat?" Tanya Gakupo. Gumi menggeleng.

"Menjawab itu hanya membuat kita berdua lebih sedih. Tidak perlu dibicarakan, Gakupo." Ucap Gumi yang menolak untuk menjawab pertanyaan itu.

"Tapi, aku benar-benar mau tau." Paksa Gakupo sambil menggenggam erat jemari Gumi.

"Ini bukan waktu yang tepat!" Gumi menendang wajah Gakupo seenaknya lalu berdiri.

"Aduh..." Gakupo mengaduh sambil memegangi wajahnya yang ada bekas tendangan Gumi.

"Hahaha! Makanya, jangan coba-coba paksa aku! Yeee!" Ledek Gumi. Gakupo pun berdiri.

"Awas kau, Gumi!" Ucap Gakupo kesal. Gumi kabur sambil tertawa-tawa.

.

.

.

Dari seluruh Vocaloid itu, SeeU yang paling banyak bertemu dengan Vocaloid lain. Tapi, kini ia malah terpisah dengan Miki, Lily, Neru, Rook, Tonio, dan Len. Di mana SeeU saat ini?

"Kiyoteru! Kaai Yuki!" Panggil SeeU begitu melihat dua pasangan itu berada di kurungan di samping SeeU.

"Kau terjebak juga, SeeU?" Tanya Kiyoteru. SeeU cuma mengangguk-angguk.

"Kacamatamu?" Tanya SeeU.

"Aku ditantang untuk keluar dari lorong ini tanpa mata. Ternyata, kacamataku dicuri oleh orang yang tadi menangkap kita." Ucap Kiyoteru.

"Yuki siap kok menjadi mata untuk Kiyo~!" Celetuk Kaai Yuki.

"Phew. Tapi, bagaimana cara kita keluar dari kurungan ini, ya?" Gumam SeeU.

"SeeU, itu kertas pesan juga, 'kan? Kok bisa banyak banget, sih?" Tanya Yuki yang melihat SeeU memegang banyak lembaran kertas.

"Oh, ini milik Miki, Tonio, Len, Lily, Neru, dan Rook. Aku penasaran dengan isi pesan mereka." Ucap SeeU.

"Coba, tolong bacakan padaku." Pinta Kiyoteru.

"Milik Len. 'Bisakah kau keluar dari labyrinth ini dengan tubuh terbalik?' Maksudnya, apa, ya?" Tanya SeeU.

"Itu pesan milik Rin. Len yang kau temui itu sebenarnya Rin. Tubuh mereka pasti tertukar." Ucap Kiyoteru.

"Oh iya, dari pesan ini juga aku baru sadar kalau kita sedang berada dalam suatu labyrinth. Tertulis di pesan ini." Ucap SeeU.

"Astaga. Aku kira ini mal." Gumam Kiyoteru dan sukses membuat SeeU dan Yuki sweatdrop.

"Tolong bacakan milik Neru." Pinta Kiyoteru.

"Milik Neru. 'Kau terobsesi dengan angka 1, iya 'kan?' Cuma begitu isi pesannya." Ucap SeeU.

"Bisa jadi, itu sebuah sandi. Tapi, apa, ya?" Gumam Kiyoteru.

"Entahlah." Jawab SeeU.

"Baiklah. Sekarang tolong bacakan yang milik Miki."

"Milik Miki. 'Utatane Piko menyimpan salah satu yang kau cari'. Begitu isi pesan ini."

"Piko, huh? Apa yang kira-kira tersimpan padanya?" Gumam Kiyoteru bingung.

"Aaa!" Tiba-tiba, masuk lagi seseorang di kurungan yang sama dengan SeeU.

"Piko? !" Ucap SeeU kaget. Piko mengaduh-aduh kesakitan.

"Kok, aku bisa ada disini, yah?" Gumam Piko bingung.

"Nah, kebetulan! Piko, isi pesanmu mana!" Pinta SeeU. Piko menggeleng.

"Aku nggak dapet pesan apa-apa. Serius, deh. Aku cuma dapet chip kayak gini pas aku sadar." Ucap Piko dan menunjukan sebuah chip dengan tulisan nama Yowane Haku.

"Chip apa itu?" Tanya Kiyoteru. Padangan matanya terlalu buram untuk melihatnya.

"Entahlah. Hanya saja, ada nama Yowane Haku tertulis di chip ini." Ucap SeeU.

"Hei, makin lama, makin aneh. Tolong bacakan isi pesan Lily, lalu Rook, kemudian Tonio." Pinta Kiyoteru. Piko dan SeeU berbagi kertas.

"Milik Lily. 'Bisakah kau mengenali mana Vocaloid asli dan Vocaloid palsu?'. Begitu," Ucap Piko.

"Milik Rook.'Petunjuk terbesar ada di Piko, penentu keberhasilan ada di Miku, dan semua ini berhubungan dengan Haku'. Pantas saja." Ucap SeeU.

"Milik Tonio. 'Para Engloid memiliki masing-masing satu chip, kecuali kau, Leon, dan Miriam'. Chip itu?" Ucap Piko.

"Ok, aku sudah cukup mengerti sekarang. Ini adalah teka-teki. Kita disuruh untuk menemukan semua chip di labyrinth ini dan chip itu berkaitan dengan Haku. Yang bisa menyelesaikan teka-teki ini cuma Miku. Dan beberapa Engloid memiliki chip yang sama dengan milik Piko." Ucap Kiyoteru.

"Aaa~! Kau cerdas, Kiyoteru~!" Jerit Yuki senang sambil memeluk Kiyoteru.

"Tapi, bagaimana caranya kita keluar dari kurungan ini?" Gumam Piko.

"Oh, disini rupanya." Ucap Kaito yang baru saja datang bersama Miriam. Kaito juga datang bersama beberapa- ... Ehm, ralat. Banyak sekali kunci!

"Inilah yang dinamakan teka-teki." Gumam Miriam yang datang bersama Kaito.

.

.

.

Di lain tempat, Megurine Luka terdiam melihat apa yang ada di hadapannya. Lorong yang penuh dengan cermin dan berpecah-pecah jalanannya. Luka pun membaca kembali apa yang tertulis pada kertas yang ia dapatkan.

"Mirror, mirror, can you show me how to get out from here?"

"Ck, mungkin aku memang harus masuk ke lorong cermin ini." Gumam Luka dan memantapkan dirinya untuk melangkah masuk. Tapi, ...

Prang! Prang! Prang!

Bunyi aneh terdengar dari ujung lorong yang gelap itu. Spontan, Luka berteriak histeris karena takut. Tapi, ternyata itu hanya suara Mikuo yang sedang memecahkan kaca-kaca itu dengan tendangannya. Saat Mikuo mendengar jeritan Luka, ia langsung berlari menuju Luka.

"Megurine Luka." Panggil Mikuo.

"Mikuo! Bagaimana bisa kau ada di sini? !" Tanya Luka kaget.

"Well, kau harusnya bertanya pada adik bodohmu. Kami berpencar di ujung lorong tadi dan aku masuk ke sini. Jujur, aku benci dunia cermin. Terlalu ... Err... Membuatku ingat kepada Miku." Ucap Mikuo dengan wajah merah.

"Jangan bilang kau menyukai adikmu sendiri." Ucap Luka.

"Sayangnya, aku harus mengakuinya." Ucap Mikuo malu-malu.

"That's great. Seorang Miku kini juga disukai oleh kakaknya sendiri yang keren ini," Ejek Luka. Mikuo diam sebentar untuk mencerna kata-kata Luka.

'Luka barusan bilang gue ... Keren? Wew, kok gue deg-degan gini, ya? Mana Luka memang cewek yang cantik pula!' Ucap Mikuo dalam hatinya.

"Btw, nih caranya keluar dari sini gimana, ya?" Tanya Mikuo yang mencoba untuk tidak salah tingkah setelah mendengar pujian Luka.

"Boleh aku lihat pesan yang kau dapatkan?" Tanya Luka. Mikuo pun memberikan Luka secarik kertas yang ia simpan.

"Yang ada di belakang cermin yang datar akan membantumu mencari yang lain."

"Di balik cermin, hn?" Gumam Luka dan berpikir sejenak.

"Makanya, daritadi tuh aku mecahin kaca-kaca yang ada disini. Tapi, ternyata cuma ada dinding tebal di belakang cermin itu." Ucap Mikuo.

"Kau salah, Mikuo. Yang harus kau pecahkan adalah cermin datar." Ucap Luka menarik kesimpulan.

"Semua cermin 'kan emang datar, Luka?" Tanya Mikuo. Luka cuma bisa sweatdrop. Ternyata, IQ Mikuo sama Miku gak jauh beda.

"Maksudnya cermin datar adalah cermin di mana bayanganmu bersitegak dengan cermin itu. Sudahlah, ayo ikut aku!" Luka mengajak Mikuo masuk ke lorong cermin itu.

Bayangan di dalam lorong itu bermacam-macam. Ada yang membuat bayangan mereka jadi kecil, seperti kurcaci, melebar, dan lain-lain. Sampai akhirnya, Luka menemukan cermin yang memantulkan bayangan asli tubuhnya, tapi berada di langit-langit.

"Mikuo, apa kau bisa pecahkan yang satu itu?" Tanya Luka sambil menunjuk cermin yang dimaksud.

"Of course. Jangan panggil aku Mikuo kalau kayak gini aja gak bisa. Minggir dikit, Luka." Ucap Mikuo. Setelah Luka minggir, Mikuo langsung handstand sambil meluncurkan kakinya kuat-kuat. Cermin itu pun pecah karena tendangan Mikuo.

"That's it!" Jerit Luka senang. Ia melihat sebuah mik jatuh dan menggantung di langit-langit. Ia mencoba mengecek mik itu dan ternyata mik itu aktif. Tak buang waktu, Luka langsung berteriak.

"Semuanya, aku dan Mikuo ada di ruang cermin! Segera datang ke sini! Sekali lagi, segera datang ke ruang cermin! Kita berkumpul terlebih dahulu!"

Luka mengira, ia akan berhasil mengumpulkan teman-temannya. Salah. Yang ia lakukan sebenarnya adalah ... Mengaktifkan seluruh jebakan mengerikan yang ada di seluruh lorong.

.

.

.

Setelah mendengar teriakan Luka, Miki beserta Neru, Lily, Rook, Tonio, dan Len (yang sebenarnya adalah Rin) pun segera berlari mencari lorong cermin. Tapi, mereka berhenti di sebuah lorong. Di lorong itu, terdapat banyak baju perang besi beserta pedangnya dan ... Semua benda-benda itu bergerak sendiri dan mengejar mereka!

"Huwaaa! Bagaimana bisa mereka bergerak? !" Jerit Neru.

"Aku juga tidak tau! Yang jelas, lari saja dulu!" Jerit Miki.

Percuma saja. Lari para Vocaloid itu mulai terkejar dan para patung besi itu sudah hampir berhasil menebas Neru. Untungnya, Rook masih sempat menarik dan menggendong Neru.

"Kita tidak bisa lari terus!" Jerit Tonio panik.

Rin yang berada di tubuh Len terus berpikir bagaimana caranya untuk berhasil lolos dari patung-patung besi itu. Matanya tersorot pada sebuah tongkat besi di ujung lorong. Ia pun mendapatkan ide untuk melawan patung-patung besi itu, tapi ia butuh bantuan Neru, dan ia sangat benci itu.

"Neru, aku dapat ide!" Ucap Rin pada Neru. Neru yang menganggap bahwa itu adalah Len tidak keberatan menyahut.

"Apaan, Len?" Tanya Neru.

"Kau ambil tongkat besi itu! Nanti, aku akan melemparmu ke bawah kaki patung-patung besi itu dan kau serang mereka dari belakang!" Ucap Rin.

"Ok! Tapi, kau akan kena serangan mereka setelah melemparku, bukan?" Tanya Neru.

"Aku akan menangkis serangan mereka." Ucap Rook.

"Ok, kalau begitu! Mulai!" Ucap Rin.

Neru dan Len mempercepat lari mereka dan Neru mengambil tongkat besi yang terpasang di dinding. Miki, Tonio, dan Rook memberikan jarak untuk Neru merosot ke bawah kaki patung besi itu. Rin pun menggenggam tangan Neru dan melemparkan Neru, sementara Neru mengambil posisi merunduk dan merosot ke bawah patung besi itu. Tapi, itu membuat Len jadi sasaran empuk bagi tebasan pedang patung besi itu.

Jlep!

Rook menendang lengan patung besi yang hampir menebas Len dan pedang yang tadinya mengarah pada Len jadi tertancap di dinding. Sementara itu, Neru sudah berada di belakang patung-patung itu dan langsung memukul kepala patung itu menyamping. Kepala patung itu pun lepas dan patung itu langsung tergeletak jatuh. Mereka pun selamat.

"Wah, Len, kau sangat hebat." Ucap Neru kagum.

"Aku pun nggak percaya bisa berpikir seperti Len juga." Ucap Rin yang terkejut karena idenya ternyata berhasil. Padahal, yang biasanya bisa membuat rencana dengan baik dan cepat hanya Len. Dan karena itu, Rin merasa bangga pada dirinya sendiri.

"Hei, Neru. Mungkin, lain kali kita harus bekerjasama lagi. Hehe," Ucap Rin.

.

.

.

Yuma, Nekomura, dan Sweet Ann berada di dalam ruangan aneh saat ini. Di hadapan mereka terdapat sebuah mesin dengan port chip yang banyak sekali. Mereka bertiga bingung dengan mesin yang berada di hadapannya itu. Yuma mendekati mesin itu.

"Hei, Ann. Bukankah kau menemukan chip dengan tulisan nama SF-A2 Miki?" Tanya Yuma sambil menoleh pada Ann.

"Kau berpikir bahwa port itu pasti untuk chip yang aku temukan, benar 'kan?" Tebak Ann.

"Ck, pembaca pikiran. Ya, aku mau mencobanya dulu." Jawab Yuma.

"Nyuu. Kau tidak bisa mencapai mesin itu." Ucap Iroha.

"Maksudmu?" Tanya Yuma.

"Ada yang menghalangi. Merah. Ng... Garis. Ah, itu sinar laser!" Ucap Iroha dengan mata menyipit.

Yuma menarik sebuah tongkat besi yang terdapat di dinding dan melemparkannya ke mesin itu. Benar saja, tongkat itu terbelah-belah karena sinar laser yang tak tampak itu.

"Pintar sekali kau." Ucap Yuma. Iroha cuma tersenyum malu-malu.

"Tapi, lihat itu." Ucap Ann dan menunjuk sebuah mesin yang lain. Terdapat speaker di mesin itu dan di sampingnya ada seperti garis-garis yang diselingi dengan angka yang berurutan dari nol sampai seratus.

"Sepertinya, aku tau cara kerjanya." Gumam Iroha.

"Aku juga. Kau harus menyanyi sampai terdengar speaker itu." Ucap Yuma.

"Dan sinar laser ini hanya akan lenyap jika kita berhasil mencapai angka seratus di mesin yang satunya." Sambung Iroha.

"Hei, aku mulai menyukai anak sepertimu." Ucap Yuma sambil mengusap-usap topi kucing Iroha. Yang dielus-elus cuma bisa tersipu.

"Kalau begitu, ayo, kita mulai bernyanyi." Ucap Ann. Iroha dan Yuma menganggukan kepalanya, kemudian bernyanyi, tapi ...

"Aku bingung, sumpah." Gumam Yuma. Jelas saja, lagu yang mereka bertiga nyanyikan beda semua.

"Kalau begitu, pesan ini ada benarnya juga." Ucap Iroha. Yuma dan Ann membaca pesan yang didapatkan Iroha.

"Vocaloid dengan tangan ajaib yang bisa membuat pensil menari di atas kertas hanyalah Kasane Teto."

"Ck, di mana lagi sekarang si Teto itu?" Gumam Yuma kesal.

"Nyuu. Jauh sekali jaraknya dari kita. Sepertinya, Vocaloid lain menuju ke lorong cermin, deh." Ucap Iroha.

"Kalau kita pergi dari sini, maka kita akan lupa lagi lokasi mesin ini." Gumam Ann.

"Nggak perlu khawatir, aku ada di sini juga, kok." Ucap seorang Vocaloid lain berambut merah. Itu adalah Kiku Juon.

"Kiku Juon? Bagaimana bisa kau ada di sini?" Tanya Yuma.

"Surprise!" Ucap Kiku asal.

"Serius." Geram Yuma dengan emoticon marah di atas kepalanya(?).

"Gak tau, aku tiba-tiba ada di sini." Jawab Kiku sambil nyengir.

"Bukankah, tubuhmu itu tidak bisa terlihat, kecuali pada saat malam?" Tanya Iroha.

"Aku juga nggak tau soal itu. Yang jelas, aku dapet kertas ini dan isinya bilang, aku bisa muncul kapan aja sekarang." Kiku menyerahkan secarik kertas kepada Iroha.

"Kau bukan lagi Vocaloid hantu, tapi kau masih punya kemampuan itu."

"Berarti, kau tetap bisa menembus dinding, 'kan?" Tanya Rook. Kiku mengangguk-angguk dan mempraktekannya. Kiku Juon masih bisa terbang melayang dan menembus dinding seperti hantu.

"Kalau begitu, kenapa tidak kau tembus sinar laser ini dan meletakkan chip ini di dalam port di mesin itu?" Yuma memberikan chip milik Ann tadi.

Kiku Juon mengambil chip itu dan membuat tubuhnya transparan lagi. Ia pun terbang dan mengarah ke sinar laser itu, tapi ...

Jduk!

Ternyata, di balik sinar laser itu ada dinding yang mencegah tubuh transparan Kiku untuk masuk. Alhasil, Kiku pun kejedot dan lalu jatuh duduk. Iroha, Yuma, dan Ann mencoba menahan tawanya sebisa mungkin, tapi akhirnya kelepasan juga.

"Hahaha!"

"Jangan diketawain! Sakit, tau!" Ucap Kiku kesal.

"Hhh... Ternyata tidak semudah yang aku kira." Gumam Yuma.

"Berarti, satu-satunya cara agar kita bisa menuju mesin itu adalah dengan menyanyikan lagu, ya?" Ucap Iroha.

"Aku dapat ide!" Ucap Ann.

"Gimana? Gimana?" Tanya Kiku penasaran.

"Kalau memang Kiku bisa nembus dinding, 'kan jadi gampang tuh nyari lorong cermin. Yaudah, Kiku aja yang ngasihtau Luka buat ke tempat ini sekarang juga." Usul Ann.

"Tapi, ntar aku susah lagi nyari tempat ini sambil membawa Vocaloid lain." Ucap Kiku.

"Nyuu. Aku dapat ide kalau buat yang itu. Kami bertiga akan berdiri dengan jarak beberapa meter masing-masingnya. Ann akan menunggu di sini. Jadi, pertama kau akan mencari suaraku, setelah itu suara Yuma, barulah kita semua bisa berkumpul di sini." Ucap Iroha.

"Got it!" Kiku langsung terbang menembus dinding setelah dapat komando dari Iroha.

.

.

.

Kini, Miku dan Leon sudah hampir dekat dengan dunia cermin. Saat mereka berdua sedang asik berjalan, tiba-tiba muncul Kaito. Miku merasa senang bisa bertemu dengan Kaito. Ia pun berlari menuju Kaito -berniat memeluknya, tapi ...

Brak!

Kaito mendorong Miku kuat-kuat sampai terjatuh di lantai. Leon pun segera berlari dan membantu Miku berdiri. Sorot matanya menatap tajam kepada Kaito.

"Hei, bodoh, apa yang kau lakukan, huh?" Geram Leon. Kaito cuma diam saja dengan wajah datar.

Lily, Miki, Neru, Tonio, dan Rook kini juga sudah tiba di lorong yang sama dengan Miku. Mereka melihat Leon dan Kaito yang akan bertengkar. Neru malah menggumam, "Waw, Miku direbutin sama dua cowok."

Tonio buru-buru berlari dan mencoba melerai perkelahian antara Kaito dan Leon. Ia sangat benci perkelahian. Kaito mencoba untuk mendorong Tonio juga, tapi, tanpa disangka Tonio kuat untuk menahan dorongan dari Kaito. Leon marah karena perkelahiannya malah dilerai oleh Tonio.

"Tonio, kau apa-apaan, sih? !" Ucap Leon dengan nada marah.

"Kaito juga 'kan saudara kita! Lagipula, kalau mau berkelahi, jangan di depanku! Aku benci perkelahian!" Ucap Tonio. Leon mencoba menahan amarahnya sejenak.

Sementara itu, Lily menatap dengan baik-baik seluruh tubuh Kaito. Ia menemukan sebuah file palsu di dalam tubuh Kaito yang ada di hadapannya ini. Lily pun sadar, Kaito yang ada di hadapannya kini bukanlah Kaito yang asli, melainkan hanya tiruan.

"Tonio, biarkan Leon menghajar Kaito palsu itu! Minggir dari situ!" Ucap Lily. Tonio dan Miku menoleh dan menatap bingung, sementara Leon mengambil kesempatan. Langsung saja Leon memukul dengan keras wajah Kaito palsu itu hingga kepalanya putus. Ternyata, memang itu hanyalah robot tiruan, bukan Kaito asli.

"Phew. Hampir saja." Gumam Leon lega. Tonio malah menjitaknya.

"Sudah ku bilang, jangan memukul orang lain di hadapanku!" Ucap Tonio.

"TAPI YANG TADI ITU ROBOT PALSU!" Leon mengeluarkan seluruh amarahnya di depan wajah Tonio persis.

"Whatever lah." Tonio gak mau kalah dan malah mengelak. Leon langsung dipegangi oleh Rook agar tidak menghajar Tonio.

"Ngomong-ngomong, yang lain di mana, ya?" Tanya Leon.

"Kami juga nggak tau tuh." Jawab Miki.

"Miku Miku Miku?" Tanya Miku yang artinya ... Err, gak tau deh Miku ngomong apa.

"Miku balik lagi ke versi dulunya, ya? Hahaha..." Ejek Neru. Miku menggembungkan pipinya karena kesal tak bisa membalas ejekan Neru saat ini.

"Akhirnya sampai!" Ucap Ted yang datang bersama Teto. Sesuatu hal yang aneh terjadi pada mereka berdua. Teto dan Ted sama-sama memiliki sayap hitam dan ekor seperti iblis.

"K-Kalian jadi monster? !" Jerit Lily dengan lebay.

"Lebih tepatnya chimera. Entah bagaimana, tapi kami tiba-tiba bisa memunculkan sayap dan ekor ini." Jawab Ted.

"Ahaha... Terbang menyenangkan, lho!" Ucap Teto dengan riangnya. Neru mendekat pada Teto dan menarik sayap Teto.

"Pinjem!" Paksa Neru. Tentunya, sayap itu nggak mau lepas karena menyatu sama tubuh Teto.

"Aaa! Neru, lepasin! Sakit!" Jerit Teto.

Bletak.

Rin dan Miku ternyata sehati untuk menjitak Neru bersama-sama.

"Graaaa!" Neru menggeram nggak jelas dan ngamuk. Untung aja, Rook sama Tonio megangin Neru yang ngamuk itu.

Sttt... Sttt... Sttt... Terdengar suara sesuatu yang mendesis. Para Vocaloid diam dan mencari-cari asal suara tersebut dan ternyata ...

"Ulaaar!" Jerit Teto.

Seekor ular raksasa berwarna hitam sedang mendekat ke arah mereka. Matanya menatap tajam dan desisannya membuat bergidik. Para Vocaloid pun bahkan terlalu takut untuk lari.

"Yihaaa!" Tiba-tiba seorang gadis menaiki ular tersebut. Dan ternyata Prima yang sedang menaiki ular tersebut.

"Prima? ! Hati-hati!" Ucap Tonio panik.

"Calm down. Aku sudah sering lihat atraksi menjinakkan binatang dan ini waktunya aku mempraktekannya. Hihihi..." Prima memecut kepala ular tersebut. Memang, Prima bisa dibilang ahli dalam pertunjukan sirkus binatang, tapi yang ia lawan bukan ular biasa. Prima pun terpental oleh berontakan dari ular itu.

"Kyaaa!" Jerit Prima.

"I gotcha!" Meito yang datang tiba-tiba langsung menangkap tubuh Prima. Tapi, ular itu masih memberontak dan mencoba menabrakan dirinya kepada Meito.

"Stop right there, hehe..." Big Al muncul secara tiba-tiba dari belakang ular itu dan menghentikan ular tersebut hanya dengan satu tangannya. Ular itu berbalik dan kini mencoba menghantam Big Al.

"Lemparkan dalam hitungan satu... Dua... Tiga! Sekarang!"

"Oke!"

Lola melemparkan sebuah tongkat besi sesuai dengan aba-aba dari Luki dan akhirnya mampu menembus kepala ular tersebut. Ular itu pun tumbang.

"Right timing," gumam Luki sambil membenarkan kacamatanya.

"Wow, kombinasi serangan yang hebat." Gumam Leon kagum.

"Sebenarnya, ini juga rencana bukan kami yang bikin. Tapi, Rin yang menyusun semua rencana ini." Lola menjawab sambil menunjuk gadis berpita putih besar yang sebenarnya adalah Len.

"Leeen~!" Rin langsung menangis dan memeluk sosok tubuhnya sendiri.

"Rin, kau baik-baik saja?" Tanya Len sambil membelai rambutnya itu.

"Tertukar lagi, huh?" Gumam Neru yang agak jengkel karena tau persis akan sesuatu yang bisa membuat mereka kembali ke tubuh semula. Ciuman. Ya, Neru cemburu melihat Rin ciuman dengan Len.

"Kalau dipikir-pikir, ini jadi kayak adegan yuri, deh. Aku nyium Len yang sekarang ada di dalam tubuhku. Dengan kata lain, aku mencium aku?" Ucap Rin bingung.

"Sudah, diam saja." Len pun langsung ... Mm... Longkap aja, ya? Hehehe...

"So sweet~!" Jerit Lily dan Prima. Sementara, Neru malah mencibir sendiri.

"Sudah, sudah. Kita harus ke lorong cermin sekarang. Tempatnya sudah dekat, kok." Ucap Luki.

"Ok!"

.

.

.

Di luar labyrinth, Dell sedang memegangi jemari Haku yang dingin. Ia sengaja mengirimkan saudara-saudaranya di labyrinth tersebut untuk menghapus virus-virus di file Haku dan mengembalikan semua memori Haku. Tapi, kini waktunya sudah sangat sempit dan hampir tidak mungkin jika ia harus mempercayakan segalanya pada saudaranya, tapi ia hanya berpangku tangan. Ia pun berdiri dari kursinya dan menatap Ayahnya yang menemani di sisinya.

"Ayah, izinkan aku masuk juga di dalam file Haku." Pinta Dell.

"Tidak, Dell. Kau harus tetap di sini bersama Haku. Jika kau masuk, kau akan terserang virus yang sama dalam waktu satu jam." Ucap Ayahnya. Dell terdiam sejenak sambil menggenggam erat jemari Haku.

"Kalau begitu, aku akan selesaikan semuanya dalam waktu kuran dari satu jam." Ucap Dell dengan tatapan pasti.

Ayahnya terdiam bersama keheningan dan detak jam dinding yang beraturan. Dell menunggu sebuah kepastian dari Ayahnya. Ayahnya pun mengambil nafas dan lalu berkata,

"Pergilah. Waktumu satu jam." Ucap .

Dell mengangguk dan lalu mengambil senapan otomatis yang berada di sampingnya. Ia pun menuju ruang pengaturan file bersama Ayahnya dan masuk ke dalam ruangan yang menuju ke memori Haku. Sebelum pergi, Dell memberikan hormat kepada Ayahnya.

"Aku akan kembali lagi, Ayah. Satu jam terakhir ini ... Aku harus memanfaatkan sebaik-baiknya!"

To Be Continued...

.

.

.

Rizuka: Seneeeng banget bisa update fic ini lagiii~! Yeiiiy~! xD

Sora: File sebelumnya kena virus dan akhirnya harus ketik ulang. Maaf, update telat.

Rizuka: Sempet bad mood malah dan jadi males buat ngelanjutin fic ini lagi, tapi ...

Ame: Fic ini di-update sebagai ganti Vocaloid Showtime yang nggak bisa tayang dulu minggu ini. Hehehe...

Ririn: Alesannya adalah, host-nya nggak lengkap. Andre sibuk banget. Bintang tamu pun masih bingung mau mengundang siapa. Mohon dimaklumi, minna-san #membungkuk.

Ame: E-mail terakhir yang dikirim sama Andre adalah, dia bilang, dia kayaknya vakum dari FFn sampai UN. Waw, lama banget, ya?

Rizuka: UN 'kan masih lama, udah minta cuti aja tuh anak. Ckckck. Oh, iya! M.V. kalo misalnya mau nambah anggota lagi gimana, ya? Kira-kira bagus gak?

Sora: Katanya, mau nambah dua anggota lagi biar jadi Merodine Vii.

Ame: *gubrak!* Ber-5 aja udah ribet, apalagi ber-7!

Rizuka: Tapi, seru, Ameee!

Ame: Tanya readers sana, gue no comment.

Rizuka: Gimana, readers? Yang punya saran, please kirim di review, ya? Beneran pengen nambah anggota nih soalnya!

Ririn: Oh, iya! Bales review!

Sora: Biar aku yang bales.

Rizuka: Yakin?

Sora: Hn.

UchiBella-kagamineTwins

Kami udah dapet sepasang anak stres pengidap fujoshi, tapi masih level rendah. Mereka masih jadi back-stage author M.V. dan kalo diizinin readers, mereka akan jadi anggota resmi M.V. So ... Gak usah khawatir gak ada adegan yaoi-nya di chapter depan kalau ada mereka. Akhir kata, arigatou dan keep review, M.V. best friend.

ichibaku hikarin

Memang, SeeU itu cool, tapi kikuk. Iku tipe maid yang cengeng. Beberapa Vocaloid belum nongol di chapter ini, tapi beberapa udah jelas 'kan, ya karakternya masing-masing? Maaf update telat dan makasih udah di-fave. Can we have your review again?

Miki Yuiki Vessalius

Maaf update telat dikarenakan file kemakan virus. Ame malah udah maksa-maksa mau bikin fic ini full diksi. Tapi, Rizuka nggak bolehin. Akhirnya, Ame cuma bisa nulis fic oneshoot yang full diksi. Btw, makasih review-nya.

Fakkufakku

*ehm* Maaf, Andre vakum sampai UN selesai, jadi kami malah niat ngundang author baru di M.V. Btw, apa yang ditunggu dari Yamigawa? Yaudah, intinya makasih buat review-nya.

Kaisar Rikudo

Review anda menginspirasi kami untuk membuat banyak pair baru di fic ini. Ada MikuxLeon, LenxNeru, YumaxIroha, LukaxMikuo, dll. Maaf, update telat dan ... Boleh minta review-nya lagi?

hatsunemiku

~('. '~) (^' o')^ \(' O ')/ ^('o '^) (~' .')~

Makasih review-nya yang sampai 3x itu, ya. Dan makasih juga buat tariannya. Review lagi, ya?

Hikari Shourai

Yup, makasih ya buat ucapannya. Teknik kami berubah? Nggak, kok. Kami tetep ngetik pakai jari tangan, nggak ganti (Rizuka: Ih, ih! Sora ngelawak oi! Hahaha!). *ehm* Ya, intinya, makasih buat review-nya, ya.

Sora: Sekian.

Rizuka: Udahan, ah. Nih cerita udah panjang bangeeet! Akhir kata, makasih ya, yang udah sabar nungguin ini fic update lama banget. See you in the next chaper, all~! Dadaaah~!