Disclaimer : siapapun pasti tau kalau Naruto miliknya mas Khishimoto...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Temari dan Gaara bukan saudara di cerita ini.

Chapter 2: Jeritan

"Benar-benar penampilan yang memukau, Hinata!"

"Thanks, Ino," kata Hinata kepada managernya, sembari mengelap keringat di dahinya. "Oh, capeknya."

Yamanaka Ino, yang juga teman akrab Hinata, menyerahkan sebotol air untuknya. "Balada Hati yang Kesepian tidak terdengar sepowerfull biasanya malam ini."

Hinata mengangkat bahu. "Tadi aku tiba-tiba merasa lelah di akhir konser. Maaf. Lain kali aku akan berusaha tampil lebih baik lagi."

Ino meletakkan tangannya di bahu Hinata, memandangnya dengan mata birunya yang hangat. "Jangan terlalu dipikirkan. Penampilanmu tadi masih hebat kok."

"Kuharap begitu," gumam Hinata, lalu meneguk airnya.

"Aku bicara jujur," sahut Ino tajam. "Oh ya, ada bingkisan di kamarmu."

"Dari siapa?"

"Tidak tahu," jawab Ino. "Kayaknya seseorang yang menyerahkannya ke Temari."

Temari yang juga teman baik Hinata, adalah back up singer yang kuat.

"Temari!" panggil Hinata.

"Ya?" jawab gadis yang dipanggil itu.

"Siapa yang memberimu bingkisan untukku?"

"Seorang pria. Aku tidak ingat tampangnya, kejadiannya begitu cepat. Aku meletakkannya di ruang gantimu."

"Trims," Hinata bergumam. Perasaan gugup mulai terbangun di dalam perutnya.

"Tidak masalah!" sahut Temari riang. "Aku mo ganti baju dulu. Sampai nanti!"

"Kenapa kau juga tidak ganti baju aja dulu?" saran Ino. "Kau terlihat sangat lelah."

Hinata mengangguk. "Ya.. Kurasa aku tidak ikut ke pesta malam ini. Aku mo langsung tidur saja."

"Ide bagus," gumam Ino. "Kau tau, Temari akan pergi, jadi biar dia saja yang cari alasan kau tidak bisa hadir."

"Gadis itu banyak sekali energinya," kata Hinata lembut. "Aku penasaran dari mana dia mendapatkannya."

Ino mengangkat bahu.

Hinata terkekeh. "Sampai nanti, Ino."

"Bye, dear."

Hinata berjalan melalui kerumunan di belakang panggung menuju kamar gantinya. Didorongnya pintu agar terbuka, dan perasaan gentar menyelimuti dadanya.

Bingkisan itu, panjang, namun sempit, tergeletak di atas meja kecil. Dia mengambil dan membukanya dengan jari-jari gemetar. Saat dilihatnya isi dari bingkisan itu, tak sadar dia menghembuskan nafas lega. **,bunga kesukaanku.**

Diangkatnya buket mawar tersebut dari dalam kotak, bersenandung senang, kemudian membeku, Digenggamnya mawar itu erat, saat dilihatnya amplop tak bernama tergeletak di atas tisu putih didalam kotak itu.

Perlahan diletakkannya buket yang dipegangnya, kemudian diambilnya amplop tersebut, dibuka dan Hinata membaca isinya.

Hyuuga Hinata,

Kau pikir kau bisa lari dariku? Aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi. Kau akan menjadi milikku. Segera kau akan mati dan aku akan memelukmu selamanya.

Hinata terkesiap dan membiarkan surat itu jatuh dari tangannya. Orang itu mengikutinya. Dia ada disini, dan dia sudah berbicara pada Temari. Hinata meletakkan tangan di dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak kencang.

**Jangan panik.**

Hinata jatuh terduduk, tiba-tiba pusing. Kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terisak lembut.

**Aku harus telpon Sakura, kemudian memberitahu Ino.**

Dengan gemetar Hinata meraih telpon genggamnya dan men-dial nomor Sakura.

Saat itu jam empat pagi di Konoha, tapi sepertinya Sakura masih terjaga di jam segitu. Dia mengangkat telponnya pada dering ketiga, "Halo?"

"Sakura? Ini Hinata."

"Apa ada masalah?"

Hinata mengangguk, tapi kemudian ingat kalau istri sepupunya ini tidak mungkin bisa melihat, kemudian berkata, "Ya."

"Ada masalah apa?"

"Aku dapat surat lagi," suara Hinata terdengar panik. "Orang itu memberikan bingkisan pada Temari, tapi Temari tidak ingat seperti apa orangnya."

"Orang itu ada disana?" tanya Sakura, terdengar kaget. "Ya ampun. Apa yang akan kau lakukan?"

"A-aku tidak tahu," Hinata menggelengkan kepalanya. "Kurasa aku akan bilang ke Ino, tapi..."

"Tapi?"

"Mungkin sebaiknya kau telpon Sasuke."

"Sasuke?" ulang Sakura. "Tapi apa yang bisa dia lakukan dari sini?"

"Tanya dia siapa nama Bodyguard yang direkomendasikannya kemarin." jawab Hinata. "Katakan saja padanya kalau aku menerima surat lagi, dan orang itu mengikutiku dan aku merasa tidak aman."

"Baiklah." jawab Sakura. "Telpon aku lagi sekitar jam 12. Mungkin aku bisa menghubunginya jam segitu."

"Terima kasih, Sakura."

"Aku punya firasat buruk, Hinata," bisik Sakura. "Kau harus menjaga dirimu baik-baik."

"Iya, Sakura," ucap Hinata lembut. "Pasti."

.

.

.

.

"Bagaimana? Apa kau tertarik dengan pekerjaan itu?"

Gaara Sabaku meletakkan tongkat kayu yang digunakannya untuk berlatih disampingnya dan melap keringat di keningnya.

"Sudah kubilang aku tidak melayani selebriti, Shikamaru." ucapnya sambil meneguk sebotol air yang diletakkan di sudut ruangan saat dia datang tadi.

Nara Shikamaru, sesama bodyguard, kadang teman akrabnya, mengawasinya dengan seksama. "Ini bukan seperti pekerjaan mengawal selebriti yang biasanya. Cobalah kau lihat dulu dan temui gadis ini, oke?"

"Siapa sih yang menghubungimu?" tanya Gaara, sambil bersandar di dinding belakangnya dan memejamkan mata.

"Sasuke."

"Sasuke?" mata hijau Gaara terbuka seketika. "Kau tahu aku tidak tahan sama orang itu."

"Kau bukan bekerja untuk dia." sahut Shikamaru datar. "Kau akan bekerja untuk gadis itu. Mereka bersedia membayar tiga ribu dolar seminggu. Itu jumlah uang yang banyak."

"Aku baru saja mengawal seorang Senator selama tujuh bulan. Dan sekarang kau berharap aku mau mengasuh seorang gadis kecil?"

"Dia bukan gadis kecil," jawab Shikamaru tenang. "Umurnya sembilan belas, jalan dua puluh, dan dia ketakutan. Mereka mencari yang terbaik. Dan kita berdua adalah yang terbaik. Tapi aku akan sibuk untuk dua bulan kedepan."

"Memangnya kau bersedia mengambil pekerjaan ini?" tanya Gaara tak percaya.

"Ada sesuatu tentang gadis itu yang samar-samar terasa familiar. Kurasa aku akan mengambilnya."

"Familiar? Tentu saja. Wajahnya mungkin muncul di semua stasiun televisi."

"Memangnya kau sudah pernah lihat?" tanya shikamaru. Dia mendekat ke arah Gaara sambil menarik keluar sebuah amplop dari balik jaketnya.

"Aku tidak pernah nonton TV."

Shikamaru menyerahkan amplop itu ketangannya. "Coba kau lihat dulu fotonya."

Gaara menerima amplop itu dan membukanya dalam diam. Dia menatap foto ditangannya untuk sesaat, dan perasaan kaget seolah menjalar ke seluruh tubuhnya.

Gadis itu memiliki rambut hitam yang panjang, kulit sewarna gading, dan sepasang mata perak yang dalam terbingkai di wajah cantiknya. **Dia memang terlihat familiar.. Mata perak?**

"Bagaimana?" tuntut Shikamaru, yang sepertinya mulai terdengar tidak sabar.

"Empat ribu dolar." Hanya itu respon dari Gaara.

"Aku yakin mereka tidak akan keberatan." kata Shikamaru. "Tetapi mereka ingin kau menemui gadis itu di Paris, karena dia sedang syuting video klip disana. Kita berdua akan terbang kesana malam ini."

.

.

.

"Baiklah, semuanya! Kita break dulu untuk makan siang. Setengah jam!"

Hinata mengambil botol minuman yang disodorkan Ino, nafasnya memburu.

"Kerja bagus, Hinata!" ucap Ino riang. "Hanya tinggal beberapa scene lagi yang perlu di ambil sebelum kita bisa kembali pulang ke Konoha, dan kau bisa beristirahat selama beberapa hari."

Hinata mengangguk. "Kedengarannya bagus. Aku ingin berada di rumah selama beberapa hari."

"Kalian mau pergi ke kafe di seberang jalan?" ajak Temari, yang tiba-tiba muncul.

"Tentu saja." jawab Ino sementara Hinata menggelengkan kepala.

"Kau yakin, Hinata?" Temari bertanya.

"Ya, aku mau disini saja. Aku ingin lihat-lihat sekitar bangunan ini. Kudengar sedang ada syuting film yang mengambil lokasi di atas bangunan ini. Aku mo lihat."

"Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa setengah jam lagi!" kata Temari bersemangat.

Hinata memandang mereka menjauh sebelum melangkahkan kaki menuju tangga untuk naik ke tingkat lantai selanjutnya. Dia mendorong pintu terbuka, dan tangannya meraba dinding, mencari-cari tombol lampu di ruangan yang gelap itu. Dinyalakannya semua tombol yang ditemukannya kemudian berbalik dan terkesiap.

Settingan untuk film yang kabarnya di ambil disini ternyata sebuah taman yang mempesona. Hinata jadi bertanya-tanya kenapa mereka tidak bekerja hari ini.

Membuang pikirannya jauh-jauh, Hinata berjalan menuju tempat settingan itu dan menyentuh bunga yang terlihat sangat indah. **cantiknya..**

Tersenyum sendiri, Hinata mulai kesana kemari disekitar taman buatan, penasaran dengan benda-benda yang ada di tempat tersebut. Saat dia melihat jam tangannya, dia kaget karena tidak sadar sudah dua puluh lima menit berlalu.

Gadis itupun berbalik menuju pintu yang menghubungkannya dengan tangga turun, tapi kemudian membeku ditempat saat semua lampunya tiba-tiba mati. Hinata menjulurkan tangannya kedepan mencari saklar lampu dalam kegelapan.

"Hey, ada orang di sini!" teriaknya. "Tolong nyalakan lampunya!"

Tidak ada jawaban.

**Pasti petugas maintenance atau apa**

Hinata tersandung, hampir jatuh menubruk suatu benda tak terlihat yang ada di kakinya.

"Hey kembali!" dia berteriak. "Aku tidak bisa lihat apa-apa!"

Hening.

Sambil menyumpahi dirinya sendiri, Hinata mencoba berjalan satu langkah lagi.

"Hinata."

Sebuah bisikan. Dimana? Dibelakangnya?

"Hinata."

Hinata mulai bernafas dengan cepat. "Si-siapa disana?"

"Hinata."

di-depannya?

"Jawab!" tuntut Hinata. "Naruto, jika ini salah satu leluconmu, akan kubunuh kau nanti!"

Hinata mundur selangkah. "Naruto?"

"Bukan."

Hinata bergidik. Sekarang suara itu terdengar dari samping kirinya.

"S-siapa disitu? Berhentilah bermain-main."

**Tidakkah tiba-tiba sunyi sekali disini?**

"Aku serius!" Hinata ingin menangis. "Ini bukan permainan!"

Hinata menggigit bibirnya, dia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang berdebar-debar kencang.

"Kau bukan permainan, my love."

Mengabaikan kenyataan bahwa dirinya diselimuti kegelapan yang buta, Hinata mulai berlari, mengikuti petunjuk umum yang bisa diingatnya untuk ke arah pintu-pintu.

"Kau tak bisa lari dariku," suara itu mendesis tepat dibelakangnya.

Hinata menelan ludah, memaksa kakinya untuk berlari lebih cepat. Dia tersandung sekali lagi, kali ini benar-benar terjatuh, menubruk lantai dengan hentakan kuat.

Rasa panik membengkak di dadanya, Hinata meraba-raba kaki dan tangannya.

**Dimana dia? Dimana dia? Dimana dia? DIMANA DIA?**

Hinata memaksakan kakinya untuk berdiri, dan mulai melangkah maju, tapi bergidik kaget saat merasakan rambutnya dibelai lembut dari belakang.

"Me-menjauh dariku!" suaranya bergetar, memutar dan mundur beberapa langkah.

"Kau akan segera menjadi milikku."

Kali ini dia tidak tau dari arah mana suara itu datangnya, terdengar seperti mengelilinginya.

Hinata berusaha tetap diam sambil mundur perlahan. **Jika aku tidak bersuara, mungkin dia tidak akan bisa menemukanku.**

Setelah beberapa saat, kesunyian mulai mengganggu pikirannya dan dia berbalik, berlari sekali lagi.

**Pintu-pintu pasti ada disekitar sini di suatu tempat!**

Perasaan terkejut melandanya saat tubuhnya menubruk suatu benda yang keras.

**Dinding! Yang perlu kulakukan sekarang hanyalah berjalan munyusuri dinding ini dan aku akan menemukan pintunya.**

Tapi ternyata yang ditubruknya bukanlah dinding. Melainkan sesuatu yang hangat.

Lengan-lengan yang kuat tiba-tiba memeluknya. "Milikku."

Suara terakhir yang Hinata dengar adalah jeritannya sendiri.

To be continued.

.

.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya slesei juga ngetik chapter 2 ini. Pegel bo ngetik pake hp. Maklum ga punya komputer boro-boro laptop.

Aku suka sekali cerita ini. Mungkin susunan kata2 dicerita ini amatir banget. Tapi gpp lah. Cukup puas kok.

Yup, udh bisa ketebak siapa si stalker?

Gaara dan Hinata baru akan bertemu di chapter 3.

Mungkin ratingnya akan kuganti jadi M. Tapi tidak akan ada adegan yang eksplisit kecuali para readers memintanya.

Tuk Moochi-san, terima kasih banget udah diingetin. Saya memang terlalu terburu-buru sangking semangatnya garap fic ini sampe ga periksa ulang. Langsung main posting aja. Hehe.. Terima kasih yaaa..

oke deh. Sampai jumpa di chapter selanjutnya!