Disclaimer: Naruto masih miliknya Masashi sensei.

.

.

.

.

.

Chapter 3 : Pertemuan Pertama

.

.

.

.

"Berapa banyak surat seperti ini yang sudah dia terima?" tanya Gaara, memandang surat ditangannya.

"Sama yang ini totalnya tujuh." jawab Ino.

"Apa sebelum ini dia tidak pernah menerima surat-surat ancaman?" Gaara meletakkan kembali surat tersebut di atas meja dan memandang gadis berambut pirang didepannya.

"Tentu saja pernah," balas Ino. "Dia punya fans club. Semua surat dari fans masuk lewat sana... Dan kantor pos juga sudah dibayar untuk meneruskan apapun yang dikirim para fans bahkan dari luar negeri sekalipun, harus ditampung terlebih dahulu di club baru bisa masuk ke kotak surat Hinata. Belum pernah ada kejadian dimana surat fan langsung terkirim kerumahnya sebelum ini. Enam surat yang lain langsung dimasukkan ke kotak surat oleh si pelaku. Sedangkan yang ini lewat temanku, salah satu back up singer Hinata."

"Jadi, fan club pernah menerima surat ancaman?"

Ino mengangguk. "Ya, tapi tidak ada yang seperti ini. Yang lain dengan mudah bisa kami abaikan, tapi... yang ini lebih serius, apalagi sekarang..."

"Siapa yang menemukan gadis itu?"

"Aku." sebuah suara agak dalam menyahut dari pintu masuk di belakang Gaara.

Gaara berbalik dan melihat seorang pemuda berambut pirang dengan mata berwarna biru terang.

"Kamu siapa?" tanya Gaara.

"Naruto," pemuda itu menjawab, bersandar di pintu. Wajahnya terlihat murung. "Aku supirnya Hinata dan juga penjaganya..."

"Dimana kau saat gadis itu diserang?" tanya Gaara dingin sebelum beralih ke Ino.

"Ap-apaan kau ini. Kau pikir kau itu siapa?" tuntut Naruto dengan suara nyaring. Kemarahan tampak jelas diwajahnya yang memerah.

Gaara tidak memperdulikannya. "Bagaimana kamu menemukan gadis itu?"

Naruto mendatanginya hingga berhadapan dengannya. "Aku menemukannya pingsan di lantai. Aku mendengar teriakan dan bergegas memeriksanya."

"Dia tidak terluka?" tanya Gaara, menatap laki-laki didepannya ketika laki-laki itu tidak segera menjawab.

"Tidak terluka? Dia gemetaran hebat ketika sadar, jika kau mau tau..."

"Tapi dari segi fisik, dia tidak terluka?" tanya Gaara lagi.

"Tidak," Ino menjawab. "Dia sangat ketakutan...tapi dia tidak terluka...bagaimana menurutmu kalau begitu?"

Gaara mengangkat bahu. "Sudah jelas. Orang itu bermain-main dengannya."

"Bermain-main dengannya?" tanya Naruto dengan alis terangkat.

"Seperti seekor kucing yang mempermainkan seekor tikus sebelum kemudian memangsanya." jawab Gaara datar.

Mata biru Naruto melebar sedikit.

"Dia ingin gadis itu tau kalau dia bisa membawanya kapanpun dia mau," Gaara melanjutkan. "Itu, kalau dia memilih untuk membawanya hari ini, maka tidak seorangpun yang bisa menghentikannya."

"Ja-jadi, dia cuma ingin menakut-nakutiku?" suara lembut terdengar dari pintu diseberang ruangan tempat mereka berada.

Mata hijau Gaara seketika melirik ke arah suara. Gadis itu berdiri di sana, pucat, terbalut oleh wardrobe tebal. Dia terlihat cantik dan innocent dengan rambutnya yang terurai sebahu. Tatapan matanya dalam, berwarna perak dengan bulumata tebal.

Wajahnya terlihat sangat muda, namun tubuhnya mendustakan umurnya. Meski terbungkus jubah, Gaara bisa melihat lekukan-lekukannya.

"Ya," responnya, memalingkan muka dengan cepat dari gadis itu.

"Kalau begitu dia berhasil," Hinata berbisik pelan, berjalan keruangan mereka dan berdiri disamping Ino. "Apakah anda tuan Sabaku?"

Gaara mengangguk singkat, kemudian nenunjuk ke arah Shikamaru, yang berdiri diam disebelahnya. "Ini Nara Shikamaru."

"Ap-apa anda sudah memutuskan untuk mengambil pekerjaan ini atau tidak?" tanya Hinata, menatapnya. "Aku..aku tidak merasa nyaman lagi..aku merasa butuh perlindungan..."

Semua mata menatap Gaara, menunggu jawabannya. "Ya, aku akan menerimanya, tapi dengan beberapa syarat..."

"Apa syaratnya?" tanya Ino.

"Pertama-tama kita harus merubah rutinitas Miss Hyuuga," sahut Gaara pelan. "Si pelaku jangan sampai bisa memprediksi kegiatannya. Kedua, aku harus mengecek rumah Miss Hyuuga. Ada beberapa sistem keamanan yang yang harus diijinkan kupasang di beberapa tempat..."

Ino mengangguk. "Baiklah. Apa ada lagi?"

"Jika aku yang bertanggung jawab atas keselamatan Miss Hyuuga, aku ingin setiap orang bisa bekerja sama denganku," jawab Gaara. "Tidak ada yang boleh mengesampingkan keputusan-keputusanku...karena itu akan mengganggu tujuan dari tanggung jawabku untuk melindunginya."

"Aku mengerti." gumam Ino. "Tidak masalah. Yang kupedulikan hanya menjaga Hinata tetap aman. Jika kami harus berkorban, kami bersedia. Selama kau tidak keberatan Hinata...keputusannya ada padamu..."

Untuk sesaat Hinata tampak ragu, namun kemudian mengangguk pelan. "Aku setuju."

"Kalau begitu tuan Sabaku," kata Ino. "Kita semua sudah sepakat. Kapan kau akan memulainya?"

"Sekarang."

.

.

.

"Oh, wow," bisik Temari, mengintip dari celah pintu yang terbuka ke arah dua bodyguard, yang sedang berbicara dengan ino. Matanya terpaku pada sosok yang tinggi, rambut dikuncir kaku keatas, sebelum pandangannya beralih ke Hinata, yang sekarang sedang duduk di atas tempat tidur. "Yang rambut hitam keren sekali...dan yang rambut merah lumayan cakep juga."

Hinata tidak merespon, sedikit menggigil.

Temari duduk disampingnya dan melingkarkan tangannya di bahu Hinata. "Kau ok?"

Hinata mulai mengangguk, tapi kemudian menggeleng tiba-tiba. "Ti-tidak..."

"Oh, honey!" Temari memeluknya erat. "Aku sungguh menyesal semua ini terjadi padamu..."

"Aku juga," gumam Hinata, balas memeluk Temari.

"Keadaannnya tidak akan terlalu buruk sekarang," kata Temari, tersenyum jahil kearahnya. "Tidak terlalu buruk kalau ada pria secakep itu yang melindungimu..."

Hinata tertawa kecil. "Kau gila, Temari."

Temari cekikikan. "Meskipun, harus kuakui kalau aku lebih suka yang rambut hitam itu yang tinggal disini dan menjagamu."

"Yang rambutnya dikuncir? Aku belum mendengarnya bicara sepatah katapun sejak mereka tiba disini."

Temari mendesah, menjatuhkan tubuhnya keatas tempat tidur. "Kuat, tipe pendiam."

Hinata geleng-geleng, tersenyum.

"Semuanya akan baik-baik aja sekarang," lanjut Temari. "Polisi itu bilang laki-laki ini yang terbaik kan? Dia akan melindungimu. Tidak akan terjadi apa-apa..."

Hinata mengangguk.

.

.

.

"Hinata..."

Hinata mendongak dari buku yang sedang dia baca untuk melihat Naruto, yang nongol ke balconi dan bersender di pintu.

"Maaf aku tidak ada disana untuk melindungimu kemarin," gerutunya, sambil menatap kebawah. "Aku merasa tak berguna sekali..."

"Naruto, itukan bukan salahmu," sahut Hinata pelan, berdiri dari kursinya. "Kamu kan tidak mungkin tahu bisa ada kejadian itu..."

Naruto meringis. "Iya juga sih, tapi coba saja aku tidak keluar terlalu lama kemarin, dan bisa datang lebih cepat dan berada bersamamu saat orang itu menyerangmu..."

Hinata menggeleng, gemetar. "Jika orang itu ingin mendapatkanku, aku yakin dia akan menemukan cara..."

"Tidak jika aku bisa mencegahnya!" sahut Naruto tegas.

"Aku takut sekali," Hinata berbisik. "Pikiran tentang orang itu menakutiku..."

Naruto bejalan kesampingnya, memeluk Hinata dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya yang bidang. "Tak akan kubiarkan dia menyakitimu...lagi...kau tau itu kan?"

Hinata mangangguk, wajahnya menempel pada kaos t-shirt Naruto.

"Dan karena sekarang ada Sabaku itu disini..., kau jadi punya dobel perlindungan!"

Hinata bersandar menjauh dari Naruto. "Menurutmu dia bagaimana?"

Naruto mengangkat bahu. "Dia kelihatan sombong dan jaga jarak. Menurutmu bagaimana?"

"Dia sepertinya...kurasa, mungkin memang begitu pembawaannya..."

"Mungkin," Naruto menggerutu. "Pria yang satunya seperti bongkahan es batu saja. Kelihatan sok cool banget."

Hinata tertawa kecil. "Kulihat juga begitu..."

Naruto tertawa lebar. Suaranya menenangkan Hinata. Pemuda ini adalah salah satu teman dekatnya, yang keberadaanya selalu membuatnya nyaman. Dia selalu membuat Hinata tertawa.

"Naruto...Aku senang sekali kau ada disini..."

"Aku juga!" sahutnya antusias, Hinata dipeluknya singkat sebelum kemudian berdiri. "Dan aku akan menjagamu tetap aman apapun yang terjadi!"

.

.

.

To be continued.

Sepertinya fic ini kurang pembacanya :/ tapi tak apalah. Yang penting aku masih semangat nulisnya. Mungkin setelah chapter ke 5 aku akan tangguhkan dulu dan beralih ke proyek fic sasuhina.

Temari dan Shikamaru sangat OOC ya disini? Tp mudah2an dichapter selanjutnya mereka bisa kubuat kembali ke karakter aslinya.

Belum ada momen GaaHina, karena alurnya ga mungkin dibuat terburu-buru. Jadi harus sealami mungkin. Weleh, ngomong opo toh aku ini? Wong nih fic tinggal nyalin doank xD hahaha

Duh, mana belum ijin ma pengarang aslinya... Mudah2an ga ada yang protes. Abis aku suka banget ceritanyaaaa... Walau aku ga terlalu bisa menyampaikan isi ceritanya dengan baik pake bahasa Indonesia, makanya ga ada yang tertarik tuk baca :

sampai jumpa di chap selanjutnya! **tiga chapter pertama ini kilat banget gw updatenya**