Disclaimer : Naruto milik bang Kishi

.

.

.

.

Terima kasih buat yg udh mau review.

Chapter 5:

"Hinata, bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?"

Hinata memandang sekilas ke wajah istri almarhum sepupunya yang terlihat khawatir. Sakura benar-benar terlihat tulus peduli padanya, dan itu jarang terjadi.

"Aku baik-baik saja," jawab Hinata lembut. "Aku senang sekali sudah berada di rumah..."

Teringat ia akan lelaki yang dari tadi diam disampingnya, cepat-cepat Hinata bergerak mengisyaratkan. "Ini Tuan Sabaku, bodyguardku. Tuan Sabaku, ini iparku, Haruno Sakura."

"Senang bertemu anda, Tuan Sabaku." kata Sakura, matanya menyelusuri sosok di depannya dengan apresiasi nyaris tersembunyi.

"Saya juga, Miss Haruno." gumamnya, sambil melepas sunglasses-nya dan menyelipkannya di saku. "Saya akan berkeliling disekitar rumah ini dan memeriksa lantainya. Saya perlu melihat alat-alat keamanan apa saja yang perlu dipasang."

Sakura mengangguk, menyibakkan rambut pinknya melewati bahu. "Tentu saja...apa anda mau saya antarkan berkeliling?"

Gaara menggeleng. "Lebih baik jika saya sendiri yang melakukannya, jika anda tidak keberatan."

"Oh, tentu saja," kata Sakura, melemparkan senyum simpul kearahnya. "Silahkan cari saya jika anda berubah pikiran."

Hinata menggertakkan gigi, merasa amarahnya menyeruak. Bodyguardnya baru dua menit berada di rumah ini dan Sakura sudah sibuk flirting dengannya.

"Jadi katakan padaku," gumam Sakura begitu Gaara telah pergi. "Apa lagi yang terjadi selama kau berada di Paris?"

"Aku tidak ingin membahasnya," sahut Hinata datar. "Mana Hanabi?"

"Di loteng," jawab Sakura, sambil menatapnya tajam. "Kenapa kau tidak mau membahasnya?"

"Aku hanya ingin segera bertemu adikku," gumam Hinata. "Aku akan menemuimu nanti..."

.

.

.

"Hinata!" teriak Hanabi saat kakaknya memasuki kamarnya. "Kukira kamu baru akan pulang besok?"

Hinata duduk dipinggir tempat tidur dan mengacak rambut adiknya. "Kami memutuskan untuk mempercepat syuting dan pulang lebih awal. Bagaimana kabarmu?"

Hanabi mengangkat bahu, meletakkan majalah yang tadi sedang dibacanya. "Baik. Kadang-kadang bosan ga ketulungan."

Hinata tertawa. "Kenapa kau tidak keluar bersama teman-temanmu?"

"Aku mencemaskanmu," jawab Hanabi. "Sakura bilang sesuatu yang buruk terjadi di Paris..."

"Ah, bukan apa-apa kok," kata Hinata sambil mengibaskan tangannya. "Sama sekali bukan hal yang perlu kau cemaskan..."

"Kamu yakin?" tanya Hanabi, matanya penuh selidik ke wajah pucat kakaknya. "Kau tidak terlihat seperti biasanya..."

"Aku baik-baik saja," Hinata meyakinkannya, lalu berdiri. "Ada seorang pria bernama Tuan Sabaku di luar. Dia bodyguardku yang baru."

"Bodyguard?" kata Hanabi tertarik. "Sejak kapan kau punya bodyguard?"

"Hampir seminggu yang lalu," jawab Hinata. "Hanya untuk jaga-jaga."

Hanabi dengan cepat bangun dari tempat tidurnya. "Jadi, apakah dia hebat? Apakah dia bisa berkelahi?"

"Dia saaaaangat direkomendasikan," goda Hinata. "Tapi aku tidak tahu seberapa bagus atau hebat dia saat bertarung."

"Aku akan menemuinya!" sahut Hanabi semangat sambil mengenakan sweater putihnya.

"Mau ngapain?" tanya Hinata terkejut. "Mungkin dia tidak mau diganggu..."

Hanabi tersenyum jahil. "Memangnya pernah alasan seperti itu menghentikanku?"

Hinata tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkekeh geli. Adiknya itu bisa menjadi anak manis yang sangat menyenangkan kadang-kadang, seperti hari ini, tapi lebih sering menjadi pengganggu yang mucil.

"Naruto juga datang lho," Hinata memberitahunya, lalu berjalan menuju pintu. "Dia ada di kolam renang."

Hanabi nyengir lebar mendengarnya. Salah satu hobinya adalah mengganggu supir kakaknya itu. Naruto, yang kadang-kadang bisa bertingkah seperti anak kecil, sering sekali berdebat dengannya untuk hal-hal yang gak penting.

Hinata tersenyum sendiri saat menenggelamkan dirinya mandi busa yang hangat. Ia selalu merasa lebih baik kalau sudah pulang dan bertemu dengan adiknya. Cuma adiknyalah satu-satunya miliknya yang benar-benar peduli padanya.

.

.

.

"Kau sedang apa?"

Gaara mendongak dari kabel-kabel yang sedang diperiksanya, ke arah suara yang ternyata milik seorang anak perempuan berambut panjang warna hitam dan berkulit putih, sedang berdiri beberapa meter darinya.

"Memeriksa kabel," jawabnya tenang, matanya kembali ke pekerjaannya.

"Supaya apa?"

Gaara tersenyum singkat, lalu berdiri meluruskan tubuhnya. "Apa ada yang kau inginkan?"

Anak itu menggelengkan kepalanya. "Kau yang melindungi kakakku."

"Ahh," gumam Gaara. "Jadi kau Hanabi. Sudah kukira."

Anak itu mengangguk padanya. "Benar aku Hanabi. Kamu siapa?"

"Sabaku Gaara," jawab Gaara cepat.

"Apa kau jago berkelahi?" tanya anak itu, melangkah lebih dekat. "Itukah sebabnya kau melindungi Hinata?"

"Bisa dibilang begitu," respon Gaara singkat.

"Kenapa tiba-tiba dia butuh kamu untuk melindunginya?" tanya Hanabi. "Sebelumnya dia tidak pernah membutuhkan siapapun."

"Mungkin sebaiknya kau tanya saja hal itu padanya," saran Gaara sopan. "Aku harus menyelesaikan pekerjaan memeriksa lantai-lantai ini."

"Bolehkah aku ikut denganmu?"

Gaara ragu-ragu. "Kalau itu maumu..."

"Jadi, senjata apa yang kau pakai bila sedang bertarung?" tanya Hanabi begitu dia berjalan di samping Gaara, saat mata hijau bodyguard itu tidak melewatkan satu hal pun dari pengawasannya.

"Pedang, pisau, senjata api," jawab Gaara, matanya menyipit pada pagar, seolah-olah benda itu perlu beberapa perbaikan. "Dan, tentu saja, tubuhku..."

"Tubuhmu?" anak itu mengerutkan alis.

"Tangan, kaki," jawab Gaara tenang, berjongkok untuk memeriksa pagar tersebut. "Senjata yang paling penting, adalah pikiranmu sendiri."

"Pikiranmu?" tanya Hanabi, terdengar ragu.

"Pikiran adalah senjata yang sangat kuat," respon Gaara. "Ia memperbolehkanmu melihat apa yang hatimu tidak bisa...pikiran memperbolehkanmu untuk memprediksi gerakan-gerakan orang lain...memperbolehkanmu untuk belajar keahlian dan mempergunakan mereka..."

"Aku paham," kata Hanabi dengan sebuah angggukkan. "Seberapa hebat dirimu?"

"Mungkin suatu hari kau akan melihatnya sendiri," kata Gaara lembut. "Apa kau mau menunjukkan padaku isi rumah ini?"

Hanabi tahu Gaara sengaja mengubah topik pembicaraan, tapi memutuskan untuk membiarkannya. Setidaknya, untuk sekarang, dia akan berhenti terus-terusan mengganggunya.

.

.

.

"Ada kamera dimana-mana dan bahkan dia memasangnya juga di lantai-lantai," kata Hinata, menghela nafas tidak senang. "Aku merasa seperti seorang tahanan dirumahku sendiri."

"Dia cuma ingin memastikan keamananmu, dear," bisik Ino. "Situasi ini melibatkan kita semua."

"Aku mengerti apa yang sedang dia lakukan," ucap Hinata pelan. "Tapi aku tak mau adikku merasa seolah-olah dia terus-menerus berada di bawah pengawasan. Dia baru tiga belas tahun...aku tak mau melibatkannya dengan semua ini..."

"Bagaimana jika psycho ini masuk ke dalam rumah dan mencoba melukai adikmu?" tanya Ino, tersenyum pada pramugari yang sedang berjalan menyusuri lorong dengan membawa baki minuman. "Tidakkah kamu merasa lebih aman karena Tuan Sabaku telah memasang sistem keamanan yang baru ini..."

"Psycho itu tidak punya alasan untuk melukai Hanabi," protes Hinata. "Hanabi sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini..."

"Well, laki-laki ini sepertinya tahu banyak tentang kamu," kata Ino pelan. "Tidak akan terlalu susah baginya mengetahui betapa kau sangat menyayangi adikmu. Adikmu itu kelemahan terbesarmu...kau takut kehilangannya seperti kau kehilangan orang tuamu..."

Hinata mengalihkan pandangannya untuk menatap keluar jendela, kesedihan terpancar di wajahnya. "Aku tidak bisa kehilangan dia..."

"Dan itu tidak akan terjadi," sahut Ino, menepuk-nepuk pundak Hinata. "Karena ada Tuan Sabaku disini, semuanya akan baik-baik saja..."

"Hey, Hinata," panggil Naruto dari kursi belakang, mengulurkan tangan untuk menarik rambut Hinata yang dikuncir ekor kuda. "Cobalah pikirkan hal-hal yang menyenangkan...kita sedang dalam perjalanan ke pulau tropical..duduk dan nikmatilah!"

"Setuju!" declare Temari dari kursi sebelahnya Naruto. "Kita akan mengunjungi beberapa club malam, Naruto. Pasti menyenangkan! Bagaimana menurutmu, Sabaku? Apa kau mau ikut kami ke club?"

Gaara, yang sedari tadi diam saja dikursinya dekat lorong pesawat, menoleh ke arah Temari singkat. "Jika Miss Hyuuga pergi, tentu saja aku ikut dengan kalian..."

Temari geleng-geleng kepala. "Maksudku bukan sebagai bodyguard. Kau terlalu tegang...kau butuh relax sedikit!"

Gaara tersenyum sekilas. "Ini pekerjaan dua puluh empat jam, aku tidak punya waktu untuk santai..."

"Tidak menyenangkan," kata Temari cekikikan. "Seandainya saja temanmu bisa ikut bersama kita..."

"Shikamaru sedang mengawal seseorang selama beberapa bulan kedepan," respon Gaara pelan, bersandar di kursinya. "Dia cuma punya waktu seminggu untuk liburan. Sudah digunakannya untuk menemaniku ke Perancis waktu itu."

Temari menghela nafas. "Dia itu cakep sekali...juga tidak banyak ngomong..."

"Tidak semua orang bisa seribut dan suka mengganggu seperti kamu, Temari," timpal Naruto dari sampingnya.

Temari menoleh ke arah Naruto dan melotot sewot. "Apa maksudmu itu?"

"Jam berapa besok pengambilan gambarnya dilakukan?" tanya Gaara, sebelum kedua orang tadi siap untuk beradu mulut.

"Jam lima pagi, tapi kita sudah harus berada disana jam tiga untuk make up," jawab Temari sambil mengerang. "Dia mau mengambil gambar di pantai saat matahari terbit. Dan selebihnya di rain forrest besok lusa."

"Kita masih bisa pergi ke kasino nanti malam," sambung Naruto, menyeringai lebar. "Aku lagi mood untuk berjudi..."

.

.

.

"Gintonic, please," kata Hinata lembut ke arah bartender, duduk di bangku sambil mendesah.

Naruto, Temari, dan Ino sudah ngacir ke kasino disamping hotel, meninggalkannya sendiri dengan Gaara. Gaara mengawasinya dari balik bayang-bayang. Tidak pernah terlalu dekat, tapi juga tidak pernah hilang dari pandangan. Hinata harus mengakui kalau kehadiran Gaara membuatnya merasa nyaman. Meski laki-laki itu pendiam, Hinata tahu bahwa dia akan mempertaruhkan apa saja untuk melindunginya. Satu hal yang langsung dipahaminya, Gaara serius dalam menjalankan pekerjaannya, bahkan mungkin terlalu serius.

Hinata memberi anggukan terima kasih saat Bartender meletakkan minuman di depannya. Diteguknya minuman itu sedikit dengan perlahan, lalu memutar kursinya dan menghadap Gaara, yang sedang bersandar pada pilar dengan santai, berpakaian hitam-hitam, dengan kerah leher berbentuk V. Rambut merahnya tidak terlihat mencolok di bawah lampu remang-remang. Dia sedang melihat ke arah seorang wanita yang sedang berbicara tak henti-hentinya, tanpa peduli bahwa pria yang diajaknya ngobrol tidak memperdulikannya, yang hanya menjawab seperlunya.

Seolah-olah merasa bahwa Hinata sedang memandangnya, tatapan intens Gaara beralih kearahnya. Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat mereka saling berpandangan, Gaara melemparkan senyuman singkat kearahnya sebelum berpaling ke arah wanita tadi, yang sekarang sedang menarik-narik bajunya untuk mendapatkan perhatiannya.

"Baju yang cantik."

Hinata menoleh ke arah suara yang berbicara padanya saat ia merasa jari-jari mengelus lengan atasnya dengan lembut.

Gadis itu bersandar menjauh dari pria tinggi yang tiba-tiba muncul disampingnya, tampak jelas keterkejutan di raut wajahnya.

"Apa kau mau berdansa denganku?" tanya laki-laki itu, lalu mendekatinya sambil bermain-main dengan strap baju hitam Hinata.

"Tidak, terima kasih," jawab Hinata sambil menjauhkan tangan pria itu dan turun dari kursinya dengan cepat.

"Aww, ayolah," bisik pria itu, menjulurkan tangan dan menangkap pergelangan tangannya. "Tidak usah malu."

"Lepaskan aku!" teriak Hinata, tiba-tiba merasa panik saat laki-laki itu mencengkeram tangannya lebih erat. "Singkirkan tanganmu dariku!"

"Jangan begitu," bisiknya sambil mendekatkan wajahnya ke Hinata. "Ayo-"

"Kurasa kau mendengarnya," sahut sebuah suara dingin dibelakang pria itu.

"Tuan Sabaku," Hinata menarik nafas lega, menarik tangannya lepas dari cengkraman pria tersebut dan bergegas berdiri di samping Gaara.

"Siapa kamu, little man?" tanya laki-laki itu, menyipitkan mata. Laki-laki itu lebih tinggi sekitar enam inchi dari Gaara, tapi ekspresi dingin Gaara tidak berubah sedikitpun meski pria itu mencoba mengintimidasinya.

"Cewek ini bersamaku," kata Gaara datar.

"Well, bagaimana jika dia mau pergi bersamaku?" tanya laki-laki itu lagi sambil meletakkan minuman yang dari tadi dipegangnya ke atas meja bar.

"Kami tidak mau ada keributan di sini," kata si Bartender dengan suara berbisik. "Jika kalian tetap ingin berkelahi, tolong lakukan di tempat lain."

"Tidak akan ada keributan di sini," jawab Gaara dengan tenang. "Cewek ini dan aku memang baru saja akan pergi..."

"The hell you are!" teriak laki-laki itu, menerjang maju.

Laki-laki itu terbaring di atas meja bar dengan linglung sebelum tahu apa yang sedang terjadi.

"Ayo kita jalan-jalan, Miss Hyuuga," gumam Gaara, meletakkan tangannya di pinggang Hinata dan mendesak gadis itu untuk berjalan menjauh dari laki-laki tersebut, yang sekarang sedang mengerang kesakitan dengan grogi.

Hinata mengangguk dan membiarkan Gaara menuntunnya keluar dari hotel menuju malam yang gerah. Udara hangat berhembus perlahan dan Hinata menghirupnya dalam-dalam, menikmati kelembaban udara laut.

"Mau turun ke pantai?" tanya Hinata tiba-tiba, terkejut dengan pertanyaannya sendiri.

"Jika kau mau," gumam Gaara, melepaskan tangannya dari pinggang Hinata.

"Lewat sini," kata gadis itu, berbelok ke jalan sempit menurun dan berjalan menjauh dari sinar-sinar terang lampu hotel.

"Kau sudah pernah kesini sebelumnya?" Gaara bertanya dibelakangnya.

"Iya," jawab Hinata. "Beberapa kali. Aku suka sekali di sini."

Gadis itu berhenti di ujung pasir, berjongkok untuk melepas sandalnya sebelum membiarkan telapak kakinya tenggelam dalam kelembutan pasirnya. Gembira, ia bergerak ke arah air, dan membiarkan air laut membasuh kedua kakinya dengan lembut.

"Lepas sepatumu dan bergabunglah denganku!" panggil Hinata riang.

Nafas Gaara tertahan ditenggorokkannya. Saat gadis itu sedang serius, dia terlihat mempesona, tetapi saat tersenyum gembira seperti sekarang, dia adalah hal paling terindah yang pernah dilihat Gaara.

Gaara melepas sepatu hitamnya dengan segera dan menaruhnya agak jauh dari pasir pantai.

Dia berhenti tepat sebelum air laut bisa menyentuh jari-jari kakinya, matanya mempelajari cakrawala di kejauhan.

"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Hinata, suaranya tenang dan serius.

Gaara menoleh kearahnya, bingung. "Melakukan apa?"

"Memukul pria tadi," kata Hinata, menatap Gaara. "Aku tidak melihatmu bergerak sama sekali."

"Aku tidak memukulnya," jawab Gaara lembut. "Aku memanfaatkan tekanan pada saat dia menerjang untuk memutarnya jatuh terlentang..."

"Seandainya saja aku bisa melakukan itu," bisik gadis itu, matanya kembali menatap air laut yang gelap. "Apa menurutmu..."

"Apa?" tanya Gaara saat gadis bermata perak itu tidak meneruskan kata-katanya.

"Maksudku... Apakah menurutmu kau bisa mengajariku cara bertarung?" tanya Hinata penuh harap.

"Kenapa?"

"Aku merasa tidak berdaya karena tidak bisa membela diriku sendiri," jawabnya pelan. "Jika orang itu mendapatiku sedang sendirian lagi, aku ingin bisa melindungi diriku sendiri..."

Sesaat Gara ragu-ragu, namun kemudian berkata, "Kurasa aku bisa mengajarimu sedikit gerakan-gerakan bela diri begitu kita tiba di Konoha sepulang dari USA..."

"Kenapa tidak sekarang saja?"

"Miss Hyuuga," mulai Gaara dengan senyum kecil. "Sekarang sudah gelap dan tak seorangpun dari kita berdua yang berpakaian la-"

"Hinata," Hinata menginterupsi.

"Apa?" tanya Gaara.

"Kau bisa memanggilku Hinata," jawab gadis itu, menyelipkan sehelai rambut dibelakang telinganya. "Jika kau akan menjadi bodyguardku, kurasa pantas jika kau memanggil nama depanku saja..."

"Jika itu yang kau mau," jawab Gaara pelan.

"Ya," sambung Hinata, tersenyum pada lelaki didepannya. "Jadi aku juga bisa memanggilmu Gaara..."

Gaara mengangguk. "Tentu saja."

"Anyway," gumam Hinata, melangkah maju mendekati Gaara. "Setidaknya kau bisa menunjukkan padaku satu gerakan... Aku tidak peduli kalau gaunku nanti kotor..."

"Bagaimana itu?" tanya gadis itu, tiga puluh menit kemudian. Gaara sudah mencoba menunjukkan pada Hinata gerakannya, tapi sepertinya gadis itu belum bisa menguasai gerakan tersebut sepenuhnya. "Ini akan sia-sia saja... Kau harus mebalikku... Aku ingin merasakannya... Mungkin dengan begitu aku bisa lebih mengerti..."

"Kurasa itu ti-"

"Oh, ayolah, aku bisa menerimanya," Hinata menginterupsi lagi. "Aku akan lari dan menerjang ke arahmu, ok?"

Gaara cuma bisa mengangguk, walau ia sangat ragu.

"Baiklah," bisik Hinata, menarik nafas dalam-dalam sambil mundur jauh beberapa meter dari Gaara.

Gadis itu berlari sekuatnya ke arah pria yang akan diterjangnya, namun tiba-tiba kakinya menyandung sesuatu dan dia terjatuh...nafasnya serasa meninggalkan dadanya saat ia menubruk keras pria berambut merah tersebut dan jatuh di atasnya. Gaara telah melempar tubuhnya sendiri di bawah Hinata secara refleks, meskipun hal terparah yang mungkin akan dialami Hinata seandainya dia jatuh adalah mulutnya terisi pasir.

Hinata menatap Gaara dibawahnya, berusaha menghimpun nafasnya kembali, sementara rambut indigonya yang panjang terurai ke bawah, menyelubungi mereka dalam kegelapan.

Jari-jari Gaara masih dengan lembut memegangi pinggang Hinata. Dengan jarak sedekat ini, tatapan bodyguard itu sungguh menghipnotisnya. Hinata merasakan pipinya merona saat dia menyadari posisinya yang berada diantara kaki Gaara yang terbuka, serta dadanya yang menekan kuat ke dada Gaara yang keras.

"Hinata," gumamnya, tangannya terjulur untuk menyibakkan rambut Hinata dari wajah gadis itu.

Mata Hinata bertatapan dengan mata Gaara bersamaan dengan pipinya yang semakin merona merah. **Oh ya Tuhan,** gadis itu termenung sesaat, menyadarinya untuk pertama kali. **He is so beautiful...**

.

.

.

To Be Continue..

Rasanya chapter ini kaku banget bahasanya ._o

Apa kalian masih tertarik membaca kelanjutannya? Jujur semangat nulis dah agak kendur.. padahal momen2 Hinata Gaara dah akan bermunculan.. Penyakit malas mulai menggerogoti lagi nih.. Jika masih ada yang setia mo baca, walaupun cuma satu reader, apapun yg terjadi pasti fic ini akan kuseleiin sampe tamat. Asal aku ga tamat duluan aja hehe ^-^ Tapi yah itu tadi... susunan kalimatnya kaku dan kurang nyaman tuk dibaca.

Gimme some reviews and you'll get the next chapter coming up soon!